Senin, 03 Februari 2020

VIRUS

VIRUS

"Orang sekarang kok gampang kagetan ya, Om," Sasa mengawali obrolan di tengah suasana gerimis sore. Dua gelas kopi telah kusajikan di meja. Aku pun sudah duduk manis siap nemani glenak-glenik sahabatku ini. Setelah nyeruput kopi satu dua teguk dan menyalakan rokok, Sasa meneruskan grenengannya, "Orang sekarang jadi gumunan, gampang kagum. Nerima kabar sedikit saja heboh berhari-hari. Semua orang ikut komentar, pinter-pinteran ngomong. Jadi njelehi ya, Om."

"Sebentar, Sa. Kamu ini mau ngomong soal apa, to? Ngalangnya kok jauh. Mbok to the point saja."

"Gumun tenan aku, Om."

"Loh, tadi katanya orang sekarang gumunan. Jebul kamu sendiri to yang gumunan?"

"Wah jindul ik. Maksudku, aku ini gak habis pikir dengan kecenderungan orang sekarang yang dikit-dikit heboh, Om. Bukan gumun karena kagum."

"Makanya kalau ngomong gak usah muter-muter, dadi mumet dhewe ndhasmu. Apa yang membuatmu heran, Sa?"

"Soal virus corona, Om. Beritanya kok nggegirisi, seolah-olah hal paling penting dan semua rakyat harus tahu."

"Ya memang itu virus berbahaya kok, Sa. Konon belum ada vaksin penangkalnya. Cepat sekali menular. Hingga saat ini sudah 300an orang meninggal dan puluhan ribu orang terinveksi."

"Tapi itu kan di China sana to, Om?"

"Iya memang asalnya dari Wuhan, China, tapi sudah menular ke kota-kota lain dan beberapa negara, Sa.  Kita pun pantas khawatir virus itu masuk ke Indonesia melalui para pelancong dari sana. Makanya Pemerintah kita memulangkan WNI yang selama ini tinggal di sana, juga menutup sementara semua penerbangan dari dan ke China."

"Ya ini lho maksudku, Om."

"Yang mana, Sa?"

"Aku setuju-setuju saja Pemerintah kita melakukan itu. Memang sudah menjadi kewajibannya melindungi semua warga negara dari mara bahaya."

"Iya, terus....?"

"Memangnya virus berbahaya dan mematikan hanya corona?"

"Maksudmu?"

"Menurutku ada virus lebih berbahaya dan menular yang bisa membunuh orang dan jelas akan meruntuhkan negara, Om."

"Apa itu?"

"Korupsi, Om. ."

Jindul tenan Sasa. Ternyata ngomong mutar dari tadi ujung-ujungnya ke sana. Cerdas tenan sahabatku ini.

"Virus ini jelas sangat berbahaya dan belum ada obatnya sampai sekarang."

"Benar itu, Sa. Sudah mewabah di mana-mana. Semua instansi dari tingkat Desa sampai tingkat Pusat rawan korupsi. Dari Menteri, wakil rakyat, Direktur BUMN, penegak hukum, tokoh agama, petugas pajak,  pemungut retribusi di pasar-pasar, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa dan Perangkatnya, sudah terpapar korupsi."

"Edyan tenan. Semua orang korupsi ya, Om."

"Ya tapi jangan gebyah-uyah, Sa. Masih banyak pejabat dan petugas yang lurus, lho."

"Aku jadi curiga jangan-jangan semua pejabat sudah korupsi, Om, cuma ndelalah masih tampak bersih dan belum ketangkap KPK saja."

"Wah ya jangan terus pesimis gitu to, Sa. Jangan negative thinking. Percayalah bahwa fitrah semua manusia cenderung baik dan lurus."

"Ya saya percaya itu, Om. Tapi masalahnya virus korupsi ini sudah terlanjur mewabah di seantero Nusantara. Penegak hukum saja sudah terpapar. KPK pun tampaknya sedang sakit keras dan nyaris mati suri."

"Kita doakan saja semoga wabah korupsi segera berlalu, Sa."

"Aku jadi khawatir juga, Om."

"Khawatir apa?"

"Jangan-jangan berlalunya wabah korupsi ini menunggu turunnya azab. Terjadi bencana alam yang luar biasa, misalnya."

"Wah ya jangan gitu, Sa. Tuhan kan sudah sering nurunkan bencana alam, tapi bangsa kita juga tak kunjung tobat. Iya, to?"

"Iya ya, Om. Pas ada bencana alam semua orang jadi baik budi. Begitu bencana berlalu, para pejabat kembali andrawina kembul bujana."

"Mudah-mudahan ancaman virus corona ini bisa menyadarkan bangsa kita ya, Sa."

"Iya, Om. Kayaknya perlu ada tobat nasional ini, Om. Biar selamat semua."

Sebentar lagi maghrib tiba. Tapi Sasa tidak pamitan karena bakda maghrib nanti mau langsung ke rumah pasien pijatnya. Maklumlah, di samping pagi hari dia kerja sebagai juru parkir Soto Kartongali Jolotundo, di sore dan malam hari dia biasa melayani pijat panggilan dari rumah- ke rumah. Pijat capek, bukan pijat pengobatan seperti tabib.

#serialsasa