Jumat, 13 Juni 2025

MUHAMMADIYAH & REFORMASI HAJI


Muhammadiyah dan Tanggung Jawab Reformasi Haji

Oleh: Wahyudi Nasution

Anggota MPM PP Muhammadiyah, Karom KBIHU Arafah PDM Klaten 2025, tinggal di Klaten, Jawa Tengah


Penyelenggaraan haji tahun 2025 kembali memperlihatkan tantangan kronis yang terus berulang dari tahun ke tahun: persoalan katering, pemondokan, transportasi, minimnya fasilitas Armuzna, serta lemahnya pembinaan dan pendampingan jamaah. Meskipun Pemerintah telah berupaya memperbaiki sistem, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa problem haji tidak cukup diatasi dengan pendekatan birokratis semata.

Dalam konteks inilah, Muhammadiyah dipanggil kembali untuk memainkan peran lebih besar. Tidak hanya sebagai penyelenggara bimbingan manasik atau KBIHU, tetapi sebagai pelopor reformasi tata kelola haji yang lebih manusiawi, transparan, dan berbasis nilai keumatan.


Dari Yogyakarta ke Hijaz: Sejarah Kepeloporan Muhammadiyah


Peran Muhammadiyah dalam urusan haji bukan hal baru. Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah telah menunjukkan visi tajdid dalam pelayanan ibadah ini. Pada tahun 1921, KH Ahmad Dahlan membentuk Bagian Penolong Haji. Unit ini tidak hanya membina jamaah di tanah air, tetapi juga mengutus delegasi resmi ke Tanah Suci.

Delegasi tersebut dipimpin oleh HM Sudja, tokoh Muhammadiyah dari Yogyakarta, dengan misi melakukan negosiasi kepada otoritas Hijaz (sekarang Arab Saudi) untuk memperjuangkan pelayanan dan perlindungan jamaah haji asal Hindia Belanda. Ini menjadi tonggak awal diplomasi sipil dalam dunia perhajian yang lahir dari rahim gerakan Islam modern.

Langkah tersebut dilanjutkan oleh tokoh-tokoh setelahnya, seperti KH Mas Mansyur, KH Fahruddin, dan lainnya, yang aktif membangun sistem bimbingan dan advokasi jamaah. Pada masa pendudukan Jepang, bahkan Muhammadiyah sempat berinisiatif membeli kapal Jepang untuk mengangkut jamaah haji secara mandiri. Gagasan itu gagal karena meletusnya Perang Dunia II, tetapi menunjukkan keberanian strategis Muhammadiyah sejak dini.


Syarikah Saudi dan Ketidaksiapan Indonesia


Transformasi besar sedang terjadi di Arab Saudi. Pemerintah Kerajaan kini mengimplementasikan sistem Syarikah, yaitu privatisasi layanan haji kepada perusahaan-perusahaan swasta lokal. Mereka mengelola hampir seluruh aspek operasional haji: hotel, katering, transportasi, bahkan manasik.

Tentu sistem ini menuntut adaptasi cepat dari negara-negara pengirim, termasuk Indonesia. Namun sayangnya, pemerintah Indonesia tampak belum sepenuhnya siap berhadapan dengan sistem yang berbasis korporasi itu. Mulai dari kurangnya pengawasan terhadap kontrak layanan, minimnya komunikasi langsung dengan pihak Syarikah, hingga rendahnya transparansi informasi yang diterima oleh jamaah.

Dampaknya adalah kebingungan, kekecewaan, dan bahkan ketidaknyamanan jamaah—yang seharusnya mendapat pelayanan optimal sebagai tamu Allah. Di titik inilah, kekuatan masyarakat sipil perlu masuk sebagai kekuatan korektif dan solutif.


Muhammadiyah: Mitra Strategis dan Solusi Keumatan


Muhammadiyah memiliki tiga keunggulan strategis yang menjadikannya aktor kunci dalam perbaikan tata kelola haji:

  1. Infrastruktur organisasi dan KBIHU yang tersebar di seluruh Indonesia dan telah teruji dalam mendampingi jamaah secara profesional.
  2. Tradisi reformis dan inovatif, yang mampu merespons tantangan baru secara adaptif, modern, dan berorientasi solusi.
  3. Modal sejarah dan kepercayaan umat, yang membuatnya diterima luas sebagai pelayan umat, bukan pencari keuntungan.

Sudah saatnya Muhammadiyah naik kelas menjadi mitra strategis pemerintah, bukan sekadar pelengkap. Muhammadiyah bisa membentuk lembaga advokasi dan diplomasi haji, membangun komunikasi langsung dengan otoritas Arab Saudi dan pihak Syarikah, serta mendorong pembentukan model pelayanan haji berbasis komunitas—yang adil, transparan, dan akuntabel.


Seruan dari Tanah Suci


Kamis, 12 Juni 2025, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi menyelenggarakan acara Silaturahmi dan Temu Haji Muhammadiyah di Hotel Safwat Al Sharooq (502), Raudhah, Mekah. Hampir seribuan jamaah haji Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia hadir dengan antusias. Mereka datang bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk memperkuat jejaring pembinaan haji berbasis nilai dan ukhuwah.

Acara itu menyuarakan bahwa Muhammadiyah tidak hanya hadir di tanah air, tetapi juga di jantung dunia Islam. Sudah waktunya Muhammadiyah mengonsolidasikan seluruh kekuatan dan jaringannya, tidak hanya untuk membina jamaahnya, tetapi untuk membantu negara ini memperbaiki manajemen ibadah terbesar umat Islam sepanjang sejarah.


Penutup: Peradaban Haji, Tanggung Jawab Bersama


Ibadah haji bukan hanya urusan ritual, tetapi panggung peradaban. Ia menunjukkan wajah bangsa, akhlak umat, dan kualitas kepemimpinan. Jika negara terus kewalahan menghadapi kompleksitas manajemen haji modern, maka masyarakat sipil yang kuat seperti Muhammadiyah harus mengambil peran.

“Haji adalah panggilan Allah, tetapi pelayanan haji adalah tanggung jawab manusia.”

Sudah waktunya Muhammadiyah tidak lagi hanya mengawal, tetapi juga memimpin perbaikan sistemik. Dan sejarah telah menegaskan bahwa Muhammadiyah selalu hadir saat umat membutuhkan. Kini saatnya kembali hadir, lebih strategis, lebih profesional, dan lebih berkeadaban.


Hotel Safwat Al Sharooq (502) Raudhah, Makkah, 14 Juni 2025

Kamis, 12 Juni 2025

OPINI HAJI & PELAYANAN


Haji dan Pelayanan: Antara Keikhlasan Jamaah dan Kewajiban Perbaikan Manajerial

Oleh: Wahyudi Nasution, Karom Jamaah Haji 2025, KBIHU Arafah PD Muhammadiyah Klaten


Puncak ibadah haji 2025 telah usai. Sebagian besar jamaah telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah, termasuk thawaf ifadhah, kecuali beberapa yang masih tertunda karena kondisi kesehatan atau masih dalam masa haid. Seperti tahun-tahun sebelumnya, haji menyisakan begitu banyak kisah spiritual dan pelajaran kemanusiaan. Setiap jamaah membawa pulang kesan dan pengalaman yang unik, mulai dari yang penuh kenikmatan ruhani hingga yang getir dan penuh tantangan fisik. Semuanya diterima dengan lapang dada dan keikhlasan sebagai bagian dari takdir ilahi.

Namun, keikhlasan jamaah seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menafikan realitas buruk yang masih terjadi dalam aspek penyelenggaraan haji. Ada wilayah yang harus dilihat secara jernih dan kritis, terutama dalam aspek hablumminannas – hubungan antarmanusia – serta tanggung jawab manajerial yang melekat dalam penyelenggaraan pelayanan terhadap tamu-tamu Allah.

Sebagai karom (ketua rombongan), saya mencatat beberapa hal krusial yang patut dievaluasi secara serius agar perbaikan tidak hanya menjadi jargon tahunan.

Transportasi Armuzna yang Kacau-Balau

Salah satu masalah paling menonjol adalah kekacauan sistem transportasi saat prosesi Arafah – Muzdalifah – Mina (Armuzna). Bus yang semestinya mengantar jamaah sering datang terlambat, tak sesuai jadwal, bahkan tidak sesuai kloter. Banyak jamaah, termasuk lansia dan yang sakit, terpaksa berjalan jauh dengan kondisi fisik yang sudah sangat lelah setelah wukuf di Arafah. Beberapa di antaranya jatuh sakit, syok, bahkan nyaris terpisah dari rombongan.

Prosesi Jamarat: Berat dan Minim Fasilitas

Setelah mabit di Muzdalifah, jamaah kembali diuji dengan prosesi melontar jumrah di Jamarat. Ini adalah fase paling berat secara fisik. Jamaah harus berjalan berdesakan berkilo-kilometer dari tenda-tenda Mina menuju lokasi jamarat. Ironisnya, tidak ada satu pun rest area atau tempat istirahat yang layak di sepanjang jalur tersebut. Lebih miris lagi, tidak tersedia pos kesehatan atau ambulans yang siaga untuk menangani potensi darurat.

Kendala Bahasa: Jamaah Terlantar dalam Kebingungan

Satu catatan penting yang tidak boleh diabaikan adalah kendala bahasa. Mayoritas petugas lapangan dari Syarikah hanya menggunakan bahasa Arab. Ini menyulitkan komunikasi dengan jamaah dari luar negeri, termasuk dari Indonesia. Banyak jamaah bingung, tersesat, dan tak tahu harus bertanya kepada siapa. Dalam kondisi seperti itu, jamaah benar-benar merasa sendirian di tengah lautan manusia. Sementara petugas dari Indonesia pun kewalahan dan kehilangan daya intervensi.

Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia semestinya menawarkan solusi konkret. Salah satunya adalah dengan memberdayakan ribuan mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh studi di Arab Saudi, Mesir, Yaman, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Mereka memiliki modal bahasa Arab dan pemahaman konteks sosial lokal yang memadai. Pemerintah bisa menjalin kerja sama dengan Syarikah agar para mahasiswa ini direkrut sebagai pemandu haji atau interpreter temporer, terutama di titik-titik rawan seperti Armuzna dan Jamarat. Ini solusi yang murah, realistis, dan cepat diimplementasikan.

Evaluasi dan Harapan

Semua masalah di atas tentu tidak boleh dianggap sebagai “risiko ibadah”. Ini adalah kelalaian manajerial yang bisa dan harus diperbaiki. Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Saudi harus duduk bersama dan menyusun langkah konkret:

  1. Perbaikan sistem transportasi yang terjadwal rapi dan sesuai kloter.
  2. Penyediaan rest area dan pos kesehatan di rute Mina–Jamarat.
  3. Perekrutan petugas multibahasa, termasuk Bahasa Indonesia.
  4. Pelibatan mahasiswa Indonesia di luar negeri sebagai interpreter dan pendamping lapangan.
  5. Pemanfaatan teknologi navigasi dan pelaporan insiden berbasis digital.

Akhirnya, haji memang adalah panggilan spiritual, tetapi penyelenggaraannya adalah tanggung jawab duniawi yang tak boleh sembrono. Keikhlasan jamaah jangan menjadi tameng untuk menutupi kegagalan pelayanan. Justru atas nama keikhlasan itulah, kita wajib melakukan perbaikan agar mereka benar-benar menjadi tamu Allah yang dimuliakan, bukan yang dibiarkan berjuang sendiri di tanah suci.


Safwat Al-Sharouq Hotel 502 Ruadhah, Mekah, 12 Juni 2025

Senin, 09 Juni 2025

Swasta Mengatur, Negara Menghilang: Catatan dari Armuzna

Swasta Mengatur, Negara Menghilang: Catatan dari Armuzna

Oleh: Wahyudi Nasution
Karom KBIHU Arafah PD Muhammadiyah Klaten, Kloter SOC-76

Perjalanan ibadah haji dari Arafah ke Muzdalifah hingga Mina—yang sering disebut Armuzna—kembali menjadi titik paling genting dari seluruh rangkaian manasik. Setiap tahun, jutaan jamaah dari seluruh dunia bergerak dalam waktu hampir bersamaan, dengan moda transportasi yang terbatas, dalam kondisi fisik dan emosional yang tidak ringan. Sayangnya, di tahun 2025 ini, kekacauan Armuzna terulang lagi, bahkan dengan wajah baru yang lebih membingungkan.

Pemerintah Arab Saudi telah mengadopsi sistem layanan berbasis perusahaan swasta, Syarikah, menggantikan sistem muassasah lama. Secara prinsip, pendekatan ini bertujuan lebih profesional dan efisien. Namun transisi besar ini tidak dibarengi kesiapan para pihak. Jamaah haji Indonesia, yang jumlahnya terbesar, terlihat belum sepenuhnya siap—baik dari segi informasi, adaptasi teknis, maupun kesiapan petugas lapangan.

Akibat keterlambatan adaptasi, pola pelayanan Syarikah malah menjadi sumber kebingungan. Mekanisme baru, titik kumpul yang berubah, hingga jalur evakuasi yang tidak familiar membuat banyak kloter mengalami keterlambatan serius. Banyak jamaah tertahan di Muzdalifah hingga dini hari, bahkan baru tiba di Mina saat mentari meninggi. Padahal mereka butuh istirahat sebelum melanjutkan prosesi lontar jumrah di Jamarat.

Salah satu kebijakan yang sebenarnya progresif adalah program murur, yaitu mabit di Muzdalifah dengan cara melintas (tanpa turun dari bus), khusus bagi jamaah lansia, disabilitas, dan risiko tinggi. Namun, tidak tersedia infrastruktur khusus maupun armada yang memadai untuk mendukung program ini. Akibatnya, peserta murur justru terjebak lebih lama karena kalah berebut bus yang kedatangannya sangat jarang.

Keterlambatan armada membuat ribuan jamaah—termasuk kelompok rentan—terpaksa berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina, menempuh jarak panjang di tengah malam hingga pagi hari. Banyak di antara mereka yang baru sampai tenda Mina ketika matahari sudah tinggi dan suhu mulai panas menyengat. Mereka kelelahan, kehausan, dan kehilangan waktu istirahat yang amat penting sebelum melontar jumrah.

Di tengah krisis ini, satu hal yang paling mencolok adalah ketiadaan polisi lalu lintas. Event sebesar haji yang melibatkan jutaan penumpang dan ribuan armada semestinya tidak bisa diserahkan begitu saja kepada vendor transportasi atau sopir-sopir dari pihak ketiga. Ketertiban lalu lintas adalah domain negara, dan dalam hal ini, seharusnya menjadi tanggung jawab Polisi Lalu Lintas Arab Saudi untuk mengatur, mengawal, dan mengarahkan pergerakan secara sistemik. Tanpa komando tegas di lapangan, semua menjadi chaos.

Ketika negara menyerahkan seluruhnya pada swasta dan menghilang dari tanggung jawab dasar seperti lalu lintas, maka bukan hanya pelayanan yang hilang, ta tidak heran jika di tengah kekacauan, muncul kembali keyakinan spiritual bahwa semua ini adalah ujian kesabaran. Namun, tidak adil jika kekacauan yang bisa dicegah oleh manajemen justru dibebankan sepenuhnya pada takdir dan kesabaran jamaah.

Sebagai negara dengan kuota jamaah terbesar di dunia, Indonesia semestinya menjadi pelopor adaptasi sistem ini, serta bersuara lantang di forum internasional jika pelayanan tidak sesuai janji. Pemerintah harus aktif menuntut jaminan sistemik dari negara penyelenggara haji. Sebab haji bukan hanya ibadah personal, melainkan juga ujian kolektif negara dalam melayani warganya sebagai tamu Allah.

Safwat Al-Shorouq Hotel 502 Raodhoh, Mekah, 9 Juni 2025


Selasa, 03 Juni 2025

Karom, KBIHU, dan Masa Depan Layanan Haji Indonesia


Karom, KBIHU, dan Masa Depan Layanan Haji Indonesia

Oleh: Wahyudi Nasution

Pegiat pemberdayaan masyarakat dan perubahan sosial-budaya, Karom KBIHU Arafah PD Muhammadiyah Kab. Klaten


Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) selama ini memegang peranan penting dalam mendampingi jamaah haji Indonesia. Sebagai mitra strategis Pemerintah, KBIHU bukan hanya memberikan pembinaan manasik di tanah air, tetapi juga mendampingi jamaah saat menjalankan ibadah haji di tanah suci. Peran ini menjadi krusial dalam menjaga kualitas dan kelancaran pelaksanaan rukun-rukun haji.

Salah satu kunci keberhasilan layanan KBIHU di lapangan adalah kehadiran Karom (Ketua Rombongan) yang  mendampingi setiap 40 jamaah. Karom menjadi ujung tombak dalam membimbing, mengatur pergerakan, serta memastikan kebutuhan ibadah dan logistik jamaah terpenuhi. Tanpa Karom yang mumpuni, jamaah berisiko mengalami kebingungan, kelelahan, hingga kesalahan dalam menjalankan ibadah.

Namun, belakangan ini muncul ancaman serius yang dapat melumpuhkan sistem pendampingan haji: krisis Karom. Sistem pendaftaran dan antrean haji yang semakin panjang menyebabkan berkurangnya jumlah SDM yang memenuhi syarat untuk menjadi Karom. Jika tidak ada regulasi khusus yang menjamin keberadaan dan rekrutmen Karom dari unsur KBIHU, maka mulai tahun depan, krisis Karom akan melanda hampir seluruh KBIHU di Indonesia. Ini bukan sekadar kekosongan peran teknis, melainkan potensi kegagalan sistemik dalam pelayanan jamaah.

Di sisi lain, Pemerintah Arab Saudi sebagai Khādim al-Ḥaramayn asy-Syarīfayn (Pelayan Dua Tanah Suci) terus melakukan transformasi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Salah satu langkah penting adalah penerapan sistem Syarikah, yakni pengelolaan layanan haji berbasis korporasi yang lebih profesional dan akuntabel. Model ini menempatkan jamaah sebagai pusat layanan dan mendorong peningkatan standar kualitas secara menyeluruh.

Maka, sudah sewajarnya Pemerintah Indonesia juga terus berinovasi dalam manajemen haji. Salah satunya dengan menata ulang relasi antara Pemerintah, KBIHU, dan Karom, agar lebih terintegrasi, profesional, dan berorientasi pada kualitas layanan. Dibutuhkan regulasi khusus yang menjamin kuota Karom bagi setiap KBIHU, serta mekanisme rekrutmen dan pelatihan yang sistematis. Negara harus hadir, tidak hanya sebagai regulator administratif, tetapi juga sebagai penjamin mutu layanan ibadah haji.

Perlu diingat, keberhasilan ibadah haji jamaah Indonesia tidak cukup hanya dengan fasilitas fisik dan sistem transportasi. Pendampingan spiritual dan teknis di lapangan adalah faktor kunci, dan inilah peran vital yang dimainkan oleh KBIHU dan Karom. Tanpa keduanya, pelayanan haji akan kehilangan ruh dan arah.

Kini, tantangan ada di depan mata. Bila Pemerintah tidak segera mengambil langkah, krisis Karom akan menjadi bom waktu yang merugikan tidak hanya jamaah, tetapi juga reputasi negara dalam penyelenggaraan haji. Saatnya Pemerintah meneguhkan posisi KBIHU dan Karom sebagai mitra strategis, bukan sekadar pelengkap.

Karom, KBIHU, dan masa depan layanan haji Indonesia harus dilihat sebagai satu kesatuan. Menjamin keberlangsungan dan keberdayaan mereka, berarti menjamin kemabruran jamaah dan kehormatan bangsa.


Safwat Al-Shorouk Hotel Raudhah Mekah, 31 Mei 2025

Minggu, 01 Juni 2025

TARWIYAH

TARWIYAH

Suasana lobi hotel Safwat Al Shorouk Roudhoh Mekah malam ini tampak lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena ini jadwal kedatangan calon jamaah haji kloter terakhir dari Jawa Tengah, SOC-94 dari Kabupaten Kebumen. Mereka datang menggenapi isi hotel berkapasitas 6.000an jamaah haji ini. 

Pada beberapa malam sebelumnya, Pak Bei dan teman-teman masih bisa agak leluasa memilih tempat duduk untuk ngobrol, diskusi, dan berkoordinasi sesama Karom. Tapi malam ini, jangankan untuk duduk, untuk bisa sekedar jalan mau keluar-masuk hotel saja harus bersabar mencari celah. Ratusan jamaah yang baru datang dalam keadaan lelah tumplek blek memenuhi ruang lobi. Mereka antri mengambil kartu nusuk, sambil menunggu kedatangan kopernya masing-masing yang baru loading dari truk boks pengangkut dari bandara Jedah.

"Assalaamu'alaikum, Pak Karom," seseorang mengucapkan salam sambil menepuk pundak Pak Bei dari belakang. 

Pak Bei langsung menoleh ke belakang dan meresponnya, "Wa'alaikumsalam. Eeh Mas Parjo. Mau ke mana, Mas?"

"Biasa, Pak Bei. Cari angin di luar sambil sak udutan," jawab Mas Parjo. "Kalau Pak Bei longgar dan berkenan, kita ngobrol di luar yook," sambungnya.

"Oke siap, Mas Parjo," jawab Pak Bei.

Suasana di luar hotel ternyata tak kalah hiruk-pikuknya. Puluhan tenaga bongkar tampak sangat sibuk menurunkan koper-koper besar milik jamaah, lalu mendorongnya satu per satu ke ruang lobi. Di kiri kanan teras hotel, puluhan jamaah asal Indonesia tampak duduk-duduk sambil asyik ngobrol, dan tentu juga sambil klepas-klepus memikmati rokok kretek yang dibawanya dari rumah. Praktis tidak ada lagi tempat untuk Pak Bei dan Mas Parjo ikut duduk-duduk di sana.

"Ayo kita ke seberang saja, Pak Bei.  Ada bangku-bangku yang nyaman buat ngobrol santai di sana," Mas Parjo mengajak Pak Bei menyeberang jalan.

"Pak Bei, tadi kami ngobrol tentang Tarwiyah, dan saya diminta konfirmasi ke Pak Bei," Mas Parjo mengawali obrolan setelah menyulut kreteknya.

"Soal Tarwiyah?"

"Benar, Pak Bei. Dari berbagai informasi yang kami baca, Pemerintah kita maupun pihak Pemerintah Arab Saudi konon tidak memprogramkan Tarwiyah. Tapi kenapa kita mau melakukan Tarwiyah? Kenapa kita tidak ikut saja program resmi dari Pemerintah?"

"Terus apa lagi, Mas?"

"Sementara itu dulu, Pak Bei."

"Mas Parjo sejak beberapa bulan lalu sudah aktif ikut manasik, kan?"

"Lumayan, Pak Bei. Tapi ada satu-dua pertemuan yang saya tidak bisa hadir."

"Berarti ada materi yang Mas Parjo tidak sempat mengikuti, ya?"

"Benar, Pak Bei."

"Tapi sempat baca buku-buku yang kami bagikan, kan?"

"Ya cuma sebagian, Pak Bei, terutama yang hafalan doa-doa."

"Mestinya dibaca semua, Mas. Biar paham ilmunya." 

"Maklumlah, Pak Bei, kami ini tidak biasa membaca dan belajar sendiri. Sudah terbiasa mendengarkan ceramah, tausiyah, atau pengajian."

"Jadi gak paham kan kenapa kita ada Tarwiyah."

"Teman-teman yang rajin ikut manasik saja juga bingung kok, Pak Bei."

"Begini lho, Mas Parjo. Sebagai KBIHU, kami telah berusaha maksimal membantu jamaah agar dapat melakukan ibadah haji dengan baik melalui manasik yang kami selenggarakan selama hampir 6 bulan. Ini agar semua jamaah dapat melakukan ibadah secara mandiri."

"Iya, Pak Bei. Saya tahu itu. Pematerinya juga bagus-bagus, sangat menguasai ilmu manasik dan berpengalaman sebagai karom dan pembimbing."

"Semua kami ajarkan, bahkan dari yang paling elementer seperti cara berwudhu, tayamum, bacaan dan gerakan shalat, shalat di atas kendaraan, doa-doa harian, dan bacaan-bacaan manasik, hingga praktik simulasi haji dan umrah."

"Iya benar, Pak Bei."

"Termasuk soal Tarwiyah, itu juga sudah kami sampaikan.  Jamaah tentu sudah paham bila dari dulu pun Tarwiyah  tidak termasuk paket resmi dari Pemerintah kita dan Pemerintah Arab Saudi. Tapi mereka juga tidak melarang bila ada jamaah yang ingin melakukan Tarwiyah."

"Kenapa begitu, Pak Bei?"

"Karena Pemerintah juga tahu, bahwa Tarwiyah itu termasuk sunnah muakkadah, sangat dianjurkan, bahwa dulu Rasulullah SAW juga melakukan Tarwiyah."

"Kenapa tidak dijadikan saja satu paket resmi dengan Armuzna ya, Pak Bei?"

"Mungkin pertimbangannya lebih ke teknis saja, Mas Parjo. Jadi yang diformalkan hanya yang termasuk rukun dan wajib haji. Yang sunnah diserahkan kepada jamaah mau melakukannya atau tidak."

"Jadi besok kita akan tetap melakukan Tarwiyah, Pak Bei.?"

"Insya Allah, Mas Parjo. Itulah makanya kemarin jamaah sudah kita himbau untuk mengumpulkan uang Real ke Karomnya masing-masing untuk biaya Dam, Tarwiyah, dan lain-lain. Untuk Dam sudah kita bayarkan melalui mitra terpercaya di sini. Untuk Tarwiyah juga sudah kita bayarkan melalui Syarikah, mitra resmi Pemerintah Arab Saudi. Jadi Insya Allah semua akan berjalan dengan baik."

"Ini iformasi penting untuk saya sampaikan ke teman-teman agar tidak ragu lagi dan tidak salah paham."

"Tolong Mas Parjo juga bantu greteh mengingatkan jamaah agar menjaga kesehatan dan menyimpan tenaga untuk puncak haji yang tinggal tiga hari lagi."

"Pak Bei, apa saja agenda kita di puncak haji nanti? Lupa saya."

"Tanggal 7 Dzulhijjah sore atau malam, kita sudah memakai ihram, lalu berangkat ke Mina untuk Tarwiyah. Kita menginap di Mina hingga tanggal 9 pagi. Tanggal 9 pagi kita berangkat ke Arafah untuk Wukuf. Di Arafah, jamaah akan mengikuti Khotbah Wukuf, Shalat jamak-qashar dhuhur dan ashar serta maghrib dan isya'. Lalu, kita bergeser ke Muzdalifah untuk Mabid hingga shubuh. Paginya, kita kembali ke tenda Mina untuk bersiap-melakukan Jamarat, melempar Jumrah Aqabah. Setelah itu kita Tahalul Awal, memotong rambut dan berganti pakaian biasa."

"Sudah selesai ya, Pak Bei?"

"Ya belum, Mas. Kita masih akan tinggal di Mina hingga tanggal 13. Nafar Tsani. Setiap hari di tanggal 11, 12, dan 13 kita akan melempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Setelah itu, kita kembali ke Mekah untuk Thawaf Ifadah dan Sa'i. Nah, selesai sudah seluruh rangkaian ibadah haji kita.

"Jadinya Tarwiyah kita nanti dari tanggal 7 sampai 9 ya, Pak Bei?"

"Sebenarnya dulu Rasulullah SAW melakukan Tarwiyah mulai dhuhur tanggal 8 hingga shubuh tanggal 9, Mas. Tapi mengingat teknis, Insya Allah kita akan berangkat tanggal 7 malam, Mas."

"Baiklah, Pak Bei. Terima kasih atas penjelasannya. Sudah plong saya."

Aktivitas di depan Hotel Raudhah 502 sudah agak sepi. Tampaknya jamaah sudah masuk ke kamarnya masing-masing untuk istirahat. Aktivitas bongkar koper pun sudah selesai. Pak Bei dan Mas Parjo mengakhiri obrolan dan kembali masuk ke kamarnya di lantai 10.

#serialpakbeinaikhaji
#wahyudinasution
























Jumat, 30 Mei 2025

PAK BEI NAIK HAJI

PAK BEI NAIK HAJI

Pak Bei sedang menikmati suasana 'pasar krempyeng' alias 'pasar tiban' di depan Hotel Shafwat Al-Sharouq kawasan Raudhah, Mekah. Pasar Krempyeng alias pasar tiban ini buka setiap pagi bakda shubuh hingga sekitar pukul 07.00 Waktu Saudi. Namanya pasar tiban, tentu hanya buka di musim-musim tertentu, seperti di musim haji tahun ini. Pembelinya pun hanya jamaah haji, bukan penduduk Arab pada umumnya. Dan, mayoritas pembelinya hanya jamaah haji Indonesia. Mereka, terutama ibu-ibu, seolah histeris melihat barang-barang bagus seperti abaya, kerudung, kopiah, aneka kacang Arab, dan buah-buahan. Konon harganya pun cukup murah. 

Di antara para penjual yang orang-orang Arab dan Afrika itu, ada beberapa penjual masakan Indonesia seperti pecel, gudhangan atawa urap, sayur lodeh, sayur asem, sate lontong, kue lupis, ketan, dan lain-lain. Mereka perempuan-perempuan Indonesia, para TKW yang sudah habis kontrak kerja dan izin tinggalnya di Arab Saudi, namun tidak bisa pulang karena tidak punya paspor dan visa. Demi bertahan hidup, mereka tinggal secara komunal di rumah kontrakan, lalu membuka usaha jualan makanan di musim haji.
Itulah makanya sering terlihat mereka berlarian menyelamatkan diri bila terdengar sirine mobil askar lewat. Secepat kilat mereka menghilang di gang-gang sempit menuju belakang hotel.

Para TKW ilegal itu jeli melihat peluang usaha. Mereka tahu semua jamaah haji perlu variasi makanan. Siapapun akan merasa bosan bila setiap hari makan makanan catering garingan yang disediakan pihak Syarikah. Jamaah haji butuh variasi makan yang seger-seger, berkuah, makanan khas Indonesia. 

HP di saku celana Pak Bei bergetar. Ada panggilan masuk. Segera dilihatnya nomor panggilan. Ternyata sama dengan 5 nomor yang misscall tadi pagi.

"Assalaamu'alaikum, Pak Bei, apa kabar?," suara dari seberang terdengar sok akrab.

"Wa'alaikumsalam. Ini siapa, ya?," tanya Pak Bei.

"Ini Narjo."

"Looh Kang Narjo?"

"Iya betul. Aku pinjam hp anakku ini."

"Apa kabar, Kang?"

"Baik, alhamdulillaah. Pak Bei bagaimana di sana?"

"Aku juga sehat, Kang."

"Ternyata Pak Bei tindak haji lagi, to? Saya baru tahu kemarin."

"Wah aku minta maaf gak pernah cerita ke Kang Narjo, juga gak sempat pamitan sebelum berangkat."

"Kalau tahu sebelumnya kan aku bisa titip doa."

"Titip sekarang juga boleh kok, Kang. Punya hajat apa untuk kubantu doa pas wukuf di Arafah?"

"Wah malu mau ngomong."

"Ngomong aja gak papa, Kang. Slow wae. Nanti kucatat biar gak lupa."

"Bukan hajat pribadi kok, Pak Bei."

"Lha terus? Pengin kudoakan apa?"

"Tolong Pak Bei ajak jamaah, minimal di rombongan Pak Bei, mendoakan negara kita ini."

"Mendoakan negara kita? Memang ada masalah apa di negara kita?"

"Remuk-remukan."

"Remuk-remukan bagaimana? Adem-ayem gitu kok, Kang."

"Tampaknya saja adem-ayem, Pak Bei. Tapi panggraitaku beda. Ini sebenarnya menyimpan bom waktu, sewaktu-waktu bisa meledak hingga hancur-hancuran."

"Wah panggraita Kang Narjo saja yang berlebihan. Gak perlu berpikir sejauh itu, Kang. Mbokya tetap husnudhon to."

"Ya justru karena aku husnudhon, maka aku minta tolong Pak Bei dan jamaah haji mendoakan agar bangsa dan negara ini tetap dirahmati dan diberkahi Allah SWT. Jangan sampai Dia menghukum bangsa kita ini hanya karena kesalahan para petinggi, sementara rakyat tetap berupaya taat pada perintahNya dan patuh menjauhi laranganNya."

Kang Narjo memang kalau lagi ngomyang sulit dihentikan. Entah salah makan apa dia tadi malam. Kukira minta didoakan agar keluarganya selalu sehat dan dilancarkan rejeki. Atau permintaan lain yang terkait langsung dengan kondisinya sendiri. 

"Baiklah, Kang. Aku pamit dulu, ya, mau nemani jamaah ke masjid. Insya Allah permintaanmu akan kulaksanakan."

"Njih, Pak Bei. Sehat selalu, ya. Wassalam..."

Telepon ditutup. Pak Bei langsung bergabung dengan jamaah yang bersiap naik bus shalawat menuju terminal Shib Amir. Dari terminal bus ini, jamaah akan berjalan sekitar 1,5 km untuk sampai di area Masjidil-Haram mengikuti sholat Jumat.

#serialpakbei
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#kbihuarafahpdmklaten

Kamis, 29 Mei 2025

TAMU ALLAH DAN SISTEM PELAYANAN BERBASIS SYARIKAH


Tamu Allah dan Sistem Pelayanan Berbasis Syarikah: Jangan Hanya Pegang Buntut Gajah


Oleh: Wahyudi Nasution
Karom KBIHU Arafah PDM Klaten Kloter SOC-76

Ketika seseorang diundang menjadi tamu, apalagi oleh pemilik rumah yang jauh lebih besar, lebih kaya, dan lebih berpengalaman, maka ia sejatinya sedang berada dalam wilayah pelayanan yang tidak bisa serta-merta ia pahami. Ia harus bertanya, melihat, dan belajar terlebih dahulu sebelum menilai.

Hal inilah yang juga berlaku bagi jamaah haji di Tanah Suci. Sebagai tamu Allah, setiap jamaah sejatinya datang dalam posisi istimewa sekaligus sensitif. Mereka diposisikan sebagai orang yang dilayani — bukan oleh sembarang orang — tetapi oleh sistem yang sudah disiapkan negara penerima tamu, yakni Kerajaan Arab Saudi.

Sayangnya, sebagian jamaah belum benar-benar memahami bagaimana pola pelayanan itu bekerja. Akibatnya, banyak salah paham, keluhan, hingga tuduhan miring yang bersumber dari ketidaktahuan dan informasi tidak utuh. Maka dari itu, penting bagi jamaah — dan siapa pun yang terlibat dalam penyelenggaraan haji — untuk mengenali sistem pelayanan haji berbasis syarikah secara menyeluruh.


Adh-DhoifukalMayyit: Menjadi Tamu yang Tunduk dan Tawadhu'

Dalam Islam, ada sebuah filosofi yang kuat tentang tamu:

"Adh-dhoifukalmayyit"tamu itu seperti mayit.

Ungkapan ini bukan dalam arti merendahkan, tapi menggambarkan posisi penuh tawadhu’ dan pasrah dari seorang tamu kepada tuan rumahnya. Tamu tidak bisa memaksakan kehendak, apalagi di rumah orang lain. Apalagi ketika menjadi Tamu Allah di dua tanah haram, Makkah dan Madinah — tunduk dan pasrah adalah sikap terbaik yang bisa ditunjukkan.


Syarikah, Maktab, dan Kafilah: Sistem Tuan Rumah di Dua Tanah Suci

Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi mengubah pola pelayanan haji menjadi lebih terstruktur dan profesional melalui sistem yang dikenal sebagai Pelayanan Berbasis Syarikah. Tujuannya adalah efisiensi, akuntabilitas, dan standarisasi layanan kepada jutaan jamaah dari seluruh dunia.

Agar jamaah tidak bingung, berikut tiga entitas penting dalam sistem ini:

1. Syarikah

Perusahaan resmi yang mendapat izin dari pemerintah Saudi untuk menyediakan layanan-layanan haji utama:

  • Makanan (katering)
  • Transportasi
  • Tenda dan fasilitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
  • Toilet dan sarana umum lainnya

2. Maktab

Adalah unit kerja atau kantor yang bernaung di bawah Syarikah. Maktab bertugas menangani jamaah dari negara tertentu secara administratif dan teknis, termasuk Indonesia.

3. Kafilah

Tim teknis di lapangan. Merekalah yang menangani makanan, pengaturan tenda, transportasi, dan keperluan harian jamaah secara langsung.

Sederhananya, Syarikah merancang sistem, Maktab mengatur wilayah kerja, dan Kafilah melaksanakan teknisnya di lapangan.

Dengan sistem ini, jamaah tidak lagi direpotkan oleh urusan logistik, rute perjalanan, atau keperluan domestik lainnya. Semua sudah diatur oleh tuan rumah.


Mengapa Banyak Keluhan di Media Sosial?

Berbagai keluhan yang muncul — makanan basi, AC mati, bus datang terlambat — adalah kasus-kasus parsial yang sebetulnya wajar dalam skala pelayanan jutaan orang dari berbagai negara. Tapi jika tidak dipahami dengan utuh, maka akan timbul generalisasi negatif yang tidak adil: seolah-olah sistem ini buruk seluruhnya.

Untuk menjelaskan hal ini, Dr. dr. M. Husen Prabowo, Ketua Lembaga Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (LBIHU) Muhammadiyah Klaten, menggunakan analogi bijak:

“Orang yang hanya memegang buntut gajah, akan bilang gajah itu seperti tali. Yang memegang telinga akan bilang seperti kipas. Yang pegang kaki bilang seperti tiang. Semua tidak salah, tapi semua tidak utuh. Maka jangan nilai sistem syarikah hanya dari satu sisi saja.”


Peran Petugas Haji Indonesia: Mitra Strategis, Bukan Tukang Komplain

Pemerintah Indonesia mengirim ribuan petugas untuk mendampingi jamaah selama haji. Mulai dari Ketua Kloter, pembimbing ibadah, tenaga medis, hingga petugas non-kloter yang tergabung dalam Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Mereka bukan pelayan utama, karena itu adalah peran Syarikah. Tapi mereka menjadi mitra strategis, penghubung, sekaligus pelindung psikologis dan spiritual bagi jamaah. Ketika terjadi masalah, mereka-lah yang membantu menjembatani antara jamaah dan tuan rumah.


Kesimpulan: Jangan Pegang Buntut Gajah, Lihat Keseluruhannya

Ibadah haji bukan sekadar ritual. Ini perjalanan spiritual sekaligus sosial. Jamaah perlu mempersiapkan kesabaran dan keikhlasan sebanyak mungkin. Sistem pelayanan haji bukan sistem sempurna, tapi dibangun untuk melayani jutaan tamu Allah dengan cara yang tertib, bermartabat, dan manusiawi.

Alih-alih menyalahkan sistem karena satu kekeliruan, mari belajar memahami, bersyukur, dan menjaga prasangka baik — bahwa tuan rumah sedang berusaha sebaik mungkin untuk memuliakan tamu-tamu Allah.