PAK BEI NAIK HAJI
Pak Bei sedang menikmati suasana 'pasar krempyeng' alias 'pasar tiban' di depan Hotel Shafwat Al-Sharouq kawasan Raudhah, Mekah. Pasar Krempyeng alias pasar tiban ini buka setiap pagi bakda shubuh hingga sekitar pukul 07.00 Waktu Saudi. Namanya pasar tiban, tentu hanya buka di musim-musim tertentu, seperti di musim haji tahun ini. Pembelinya pun hanya jamaah haji, bukan penduduk Arab pada umumnya. Dan, mayoritas pembelinya hanya jamaah haji Indonesia. Mereka, terutama ibu-ibu, seolah histeris melihat barang-barang bagus seperti abaya, kerudung, kopiah, aneka kacang Arab, dan buah-buahan. Konon harganya pun cukup murah.
Di antara para penjual yang orang-orang Arab dan Afrika itu, ada beberapa penjual masakan Indonesia seperti pecel, gudhangan atawa urap, sayur lodeh, sayur asem, sate lontong, kue lupis, ketan, dan lain-lain. Mereka perempuan-perempuan Indonesia, para TKW yang sudah habis kontrak kerja dan izin tinggalnya di Arab Saudi, namun tidak bisa pulang karena tidak punya paspor dan visa. Demi bertahan hidup, mereka tinggal secara komunal di rumah kontrakan, lalu membuka usaha jualan makanan di musim haji.
Itulah makanya sering terlihat mereka berlarian menyelamatkan diri bila terdengar sirine mobil askar lewat. Secepat kilat mereka menghilang di gang-gang sempit menuju belakang hotel.
Para TKW ilegal itu jeli melihat peluang usaha. Mereka tahu semua jamaah haji perlu variasi makanan. Siapapun akan merasa bosan bila setiap hari makan makanan catering garingan yang disediakan pihak Syarikah. Jamaah haji butuh variasi makan yang seger-seger, berkuah, makanan khas Indonesia.
HP di saku celana Pak Bei bergetar. Ada panggilan masuk. Segera dilihatnya nomor panggilan. Ternyata sama dengan 5 nomor yang misscall tadi pagi.
"Assalaamu'alaikum, Pak Bei, apa kabar?," suara dari seberang terdengar sok akrab.
"Wa'alaikumsalam. Ini siapa, ya?," tanya Pak Bei.
"Ini Narjo."
"Looh Kang Narjo?"
"Iya betul. Aku pinjam hp anakku ini."
"Apa kabar, Kang?"
"Baik, alhamdulillaah. Pak Bei bagaimana di sana?"
"Aku juga sehat, Kang."
"Ternyata Pak Bei tindak haji lagi, to? Saya baru tahu kemarin."
"Wah aku minta maaf gak pernah cerita ke Kang Narjo, juga gak sempat pamitan sebelum berangkat."
"Kalau tahu sebelumnya kan aku bisa titip doa."
"Titip sekarang juga boleh kok, Kang. Punya hajat apa untuk kubantu doa pas wukuf di Arafah?"
"Wah malu mau ngomong."
"Ngomong aja gak papa, Kang. Slow wae. Nanti kucatat biar gak lupa."
"Bukan hajat pribadi kok, Pak Bei."
"Lha terus? Pengin kudoakan apa?"
"Tolong Pak Bei ajak jamaah, minimal di rombongan Pak Bei, mendoakan negara kita ini."
"Mendoakan negara kita? Memang ada masalah apa di negara kita?"
"Remuk-remukan."
"Remuk-remukan bagaimana? Adem-ayem gitu kok, Kang."
"Tampaknya saja adem-ayem, Pak Bei. Tapi panggraitaku beda. Ini sebenarnya menyimpan bom waktu, sewaktu-waktu bisa meledak hingga hancur-hancuran."
"Wah panggraita Kang Narjo saja yang berlebihan. Gak perlu berpikir sejauh itu, Kang. Mbokya tetap husnudhon to."
"Ya justru karena aku husnudhon, maka aku minta tolong Pak Bei dan jamaah haji mendoakan agar bangsa dan negara ini tetap dirahmati dan diberkahi Allah SWT. Jangan sampai Dia menghukum bangsa kita ini hanya karena kesalahan para petinggi, sementara rakyat tetap berupaya taat pada perintahNya dan patuh menjauhi laranganNya."
Kang Narjo memang kalau lagi ngomyang sulit dihentikan. Entah salah makan apa dia tadi malam. Kukira minta didoakan agar keluarganya selalu sehat dan dilancarkan rejeki. Atau permintaan lain yang terkait langsung dengan kondisinya sendiri.
"Baiklah, Kang. Aku pamit dulu, ya, mau nemani jamaah ke masjid. Insya Allah permintaanmu akan kulaksanakan."
"Njih, Pak Bei. Sehat selalu, ya. Wassalam..."
Telepon ditutup. Pak Bei langsung bergabung dengan jamaah yang bersiap naik bus shalawat menuju terminal Shib Amir. Dari terminal bus ini, jamaah akan berjalan sekitar 1,5 km untuk sampai di area Masjidil-Haram mengikuti sholat Jumat.
#serialpakbei
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#kbihuarafahpdmklaten
Tidak ada komentar:
Posting Komentar