Minggu, 04 Mei 2025

BUKU PUTIH

BUKU PUTIH

Surprize. Begitulah perasaan Pak Bei menyambut kedatangan Kang Narjo pagi ini. Bakda shubuh, matahari pun belum terbit. Tumben Kang Narjo datang sepagi ini di saat Pak Bei sedang menikmati kopi di teras sambil membuka-buka dan membalas pesan WA di hpnya. Biasanya setelah ngopi dilanjut menyapu halaman. Tapi tidak kali ini. Kang Narjo sahabatnya yang mak-bedunduk datang itu harus dilayani dengan baik. Katanya memang sengaja berangkat lebih pagi karena ingin mampir dulu sebelum ke agen koran di kota Klaten tempatnya biasa mengambil koran dan majalah untuk para pelangganannya.

"Pengin ngopi mumpung masih pagi, Pak Bei. Pasti nikmat," katanya sambil pringas-pingis khas Kang Narjo.

Setelah mempersilakan sahabatnya duduk, Pak Bei pun langsung ke dapur menyalakan kompor. Pak Bei maklum, sejak lebaran kemarin, baru kali ini Kang Narjo mampir. Biasanya sahabat satu ini hanya mampir kalau ada hal penting untuk diobrolkan. 

"Ada berita penting apa, Kang?," tanya Pak Bei sambil menyuguhkan segelas kopi semendo untuk sahabatnya.

"Dengar-dengar Pak Bei mau berangkat haji lagi, ya? Saya ikut senang dan ikut mendoakan semoga perjalanan Pak Bei sekalian lancar, aman, dan mabrur...aamiin. "

"Insya Allah, Kang. Aamiin. Matur nuwun doanya. Tapi saya cuma sendiri, Kok Kang, bertugas nemani jamaah."

"Nemani jamaah, bagaimana maksudnya?"

"Kali ini saya menjalankan amanahi dari KBIHU Arafah PDM Klaten menjadi ketua rombongan dan membimbing jamaah haji, Kang."

"Ooh kukira naik haji sekalian lagi."

"Ibadah haji sudah cukup sekali, Kang. Alhamdulillah kami sudah tahun 2011."

"Rencana berangkat kapan, Pak Bei?"

"Kalau tidak ada perubahan, kami ikut kloter 76-SOC, berangkat dari Klaten besok tanggal 23 Mei, Kang."

"Tumben pagi-pagi, Pak Narjo?" Bu Bei yang tiba-tiba datang menyuguhkan sepiring pisang kepok rebus yang masih panas kemebul.

"Iya, Bunda. Sengaja mangayubagyo, ikut berbahagia Pak Bei mau berangkat haji lagi."

"Alhamdulillah. Matur nuwun, Pak Narjo," jawab Bu Bei. "Tolong dibantu doa semoga Pak Bei dapat menjalankan amanah sebagai karom dengan sebaik-baiknya, nggih," sambung Bu Bei sambil beranjak kembali ke dapur.

"Injih, Bunda. Aamiin."

Matahari tampak mulai memancarkan sinarnya.  Jalan di depan nDalem Pak Bei pun tampak mulai ramai. Beberapa petani menuju sawahnya, anak-anak muda berseragam pabrik bersepeda motor menuju tempat kerjanya di Boyolali, beberapa ibu-ibu menuju pasar Kebonan untuk belanja sayur, dan sebagainya. Tapi Kang Narjo tampak masih nyaman ngobrol dengan Pak Bei.

"Saya mau tanya, Pak Bei."

"Tanya apa, Kang"

"Kemarin saya bacara press realease Buku Putih dari tokoh-tokoh UGM. Sebenarnya apa yang terjadi di almamater Pak Bei?"

Edan, ternyata Kang Narjo baca juga berita itu. Tapi memang loper koran satu ini istimewa. Semua headline dan berita penting koran pagi dibacanya dulu sebelum diantar ke rumah-rumah pelanggan. Jadi dia selalu update berita. Tak jarang Pak Bei dibuat gelagapan ketika disodori tema obrolan yang luput dari perhatiannya.

"Pesan apa yang Kang Narjo tangkap dari press release Buku Butih itu?"

"Kesan saya, ada hal serius sedang terjadi di kampus UGM kebanggaan Pak Bei."

"Hal serius bagaimana, Kang?"

"Itu kan terkait dengan serangkaian berita sejak sebelum lebaran kemarin, tentang kasus dugaan kekerasan seksual oleh seorang Guru Besar. Sebagai orang awam, bukan alumni, saya bertanya-tanya, Pak Bei. Apa iya ada Guru Besar UGM tak senonoh pada belasan mahasiswinya? Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena tidak ada info yang berimbang. Tapi kok segitu cepatnya UGM menjatuhkan vonis pemecatan? Ada apa? Jangan-jangan ada permainan atau persaingan politik di internal kampus? Ada upaya pembunuhan karakter pada lawan politiknya?"

"Kang Narjo yang orang awam dan bukan alumni UGM saja punya pikiran begitu, apalagi saya dan ribuan anggota Kagama yang hebat-hebat itu. Semua juga bertanya-tanya begitu, Kang. Ada kekhawatiran almamater kami sudah kehilangan etika akademik, independensi, dan integritas sehingga tidak mampu menjaga rasa keadilan bagi semua pihak."

"Tampaknya si terlapor tidak diberi raung untuk membela diri dan menjelaskan duduk perkaranya ya, Pak Bei. Tapi Rektor langsung menjatuhi sangsi terberat, pemecatan."

"Ya begitulah, Kang. Ada kesan media massa sudah terlalu jauh membangun opini publik sehingga memaksa rektor menjatuhkan sangsi terberat, tanpa melalui prosesur dan mekanisme yang benar. Itu bahaya kalau tidak dihentikan."

"Kampus pun bisa berlaku dzalim ya, Pak Bei."

"Itulah yang memprihatinkan, Kang. Seharusnya tidak terjadi kalau pihak rektorat sungguh-sungguh menjaga etik dan marwah universitas."

"Meski saya baru membaca press realease-nya, belum membaca Buku Putih yang disusun oleh tokoh-tokoh lintas kampus itu, saya percaya Rektor UGM dan kampus-kampus lainnya akan berpikir ulang,  setidaknya ke depan akan lebih hati-hati bila menghadapi kasus seperti itu. Tidak boleh gegabah lagi."

"Begitu juga harapanku, Kang."

"Syukur bila vonis terberat yang sudah dijatuhkan pada Guru Besar itu bisa ditinjau ulang ya, Pak Bei. Biar adil, tidak dzalim," kata Kang Narjo sambil berdiri pamitan.

Pak Bei mengantar sahabatnya hingga ke pintu gerbang. Kang Narjo, loper koran senior yang istimewa dan masih setia melayani pelanggan. Sehat selalu ya, Kang.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#alumnifaksastraugm
#mantanaktivisgelanggang
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar