“Adh-Dhoifukalmayyit”: Tamu Itu Ibarat Mayit
Reportase Rapat Koordinasi Ketua Rombongan Kloter 74, 75, dan 76 KBIHU Arafah Klaten
Mekah, 29 Mei 2025 – Bertempat di lobi Hotel Shafwat Al-Shorouq (592) Raudhah, Mekah, telah berlangsung rapat koordinasi yang dipimpin oleh Dr. dr. M. Husen Prabowo, Ketua Lembaga Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (LBIHU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Klaten. Rapat ini dihadiri oleh para Ketua Rombongan Kloter 74, 75, dan 76 KBIHU Arafah.
Tema yang dibahas dalam rakor kali ini adalah:
“Memahami Pola Pelayanan Jamaah Haji Berbasis Syarikah Secara Sederhana.”
Jamaah Perlu Memahami Pola Kerja Tuan Rumah
Dalam arahannya, Dr. Husen menekankan bahwa jamaah haji Indonesia adalah tamu Allah sekaligus tamu Kerajaan Arab Saudi. Karena itu, penting bagi jamaah untuk memahami pola pelayanan yang digunakan tuan rumah.
"Siapa pun tamunya, pasti akan bingung bila belum paham pola pelayanan dari tuan rumah. Jika bingung, bisa jadi muncul kekecewaan. Apalagi jika mendengar berita-berita kasuistik, lalu digeneralisasi seakan-akan semua pelayanan buruk," ujarnya.
Filosofi Adh-Dhoifukalmayyit: Tamu Ibarat Mayit
Dr. Husen mengingatkan kembali filosofi penting yang berlaku dalam bimbingan haji:
“Adh-dhoifukalmayyit – tamu itu ibarat mayit.”
Filosofi ini mengajarkan bahwa jamaah sebaiknya bersikap pasrah dan percaya pada para pelayan yang membimbing dan melayani mereka, seperti halnya mayit yang mengikuti kehendak orang yang memandikannya.
Analogi Gajah: Jangan Hanya Lihat Sebagian
Untuk menjelaskan pentingnya memahami sistem secara utuh, Dr. Husen menggunakan analogi gajah:
"Ada orang buta pegang gajah. Satu pegang buntut, bilang gajah seperti tali. Satu pegang telinga, bilang seperti kipas. Satu lagi pegang kaki, bilang seperti tiang. Semua benar, tapi itu hanya bagian, bukan keseluruhan."
"Demikian pula dengan sistem pelayanan haji berbasis Syarikah. Jangan hanya menilai dari satu kejadian atau satu berita. Harus dipotret secara utuh," tambahnya.
Mengenal Sistem Pelayanan Berbasis Syarikah
Dalam sistem ini, Kerajaan Arab Saudi menyerahkan layanan teknis kepada perusahaan-perusahaan resmi yang disebut Syarikah. Sistem ini memiliki tiga entitas utama:
1. SYARIKAH
Adalah Perusahaan resmi yang memiliki izin dari Pemerintah Arab Saudi. Mereka menyediakan berbagai layanan teknis haji: katering, transportasi, tenda, toilet, pengelolaan logistik, dll.
2. MAKTAB
Adalah Kantor atau unit kerja di bawah naungan Syarikah. Maktab bertanggung jawab terhadap jamaah dari negara tertentu. Mereka berkoordinasi langsung dengan petugas kloter dan pemerintah Indonesia.
3. KAFILAH
Adalah Tim Teknis Lapangan yang bekerja langsung di lokasi. Mereka menangani kebutuhan harian jamaah seperti menyajikan makanan, mengatur bus, mengurus tenda dan toilet, serta mendampingi jamaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Dengan sistem ini, jamaah tidak perlu lagi mengurus sendiri urusan tenda, logistik, rute perjalanan, atau fasilitas. Semua sudah disiapkan oleh tuan rumah.
Berita Kasuistik Bukan Cerminan Utuh
Rakor juga membahas fenomena di media sosial. Banyak jamaah atau netizen yang menyebarkan keluhan tanpa memahami konteks atau struktur sistem secara menyeluruh.
“Kalau ada toilet macet, makanan telat, atau bus terlambat, jangan langsung simpulkan sistemnya gagal. Itu kejadian kasuistik, bukan gambaran utuh,” ungkap salah satu ketua rombongan.
Peran Penting Petugas Haji Indonesia
Rapat menegaskan bahwa para petugas haji dari Indonesia tetap berperan penting, antara lain:
- Ketua Kloter: Menjadi jembatan antara jamaah dan Maktab/Syarikah. Dia memastikan seluruh jamaahnya mendapatkan pelayanan dan haknya sebagai tamu.
- Petugas Pembimbing Ibadah: Menenangkan jamaah dan membimbing ibadah.
- Petugas Kesehatan: Menangani kesehatan jamaah di semua fase perjalanan.
- PPIH Arab Saudi (Non-Kloter): Menangani kebutuhan darurat, advokasi, dan layanan luar kloter. “Petugas kita adalah penyambung komunikasi dan penguat psikologis jamaah. Keberadaan mereka tetap krusial walau pelayanan teknis ditangani Syarikah,” jelas Dr. Husen.
Penutup: Tetap Sabar dan Fokus
Rapat ditutup dengan ajakan agar seluruh ketua rombongan menjadi peneduh dan pelurus informasi di antara jamaah. Jangan ikut menyebarkan kabar negatif, tapi justru membantu jamaah memahami tujuan utama haji: beribadah dengan khusyuk, sabar, dan ridha.
“Kita di sini bukan sedang berwisata. Kita sedang melayani tamu-tamu Allah. Maka kita pun harus menjaga adab, kesabaran, dan keikhlasan,” pungkas Dr. Husen.
#wahyudinasution
Tidak ada komentar:
Posting Komentar