Kamis, 15 Mei 2025

PAMITAN HAJI

PAMITAN HAJI

Namanya Rarmi. Orang-orang biasa memanggilnya Mbah Ratmi. Nama yang cukup pendek. Nama Ratmi biasanya ada 'Su' di depannya, jadi Suratmi. Tapi tidak, namanya memang hanya Ratmi. Umurnya mendekati 70 tahun. Rumahnya satu kampung dengan Pak Bei.  Mbah Ratmi dulu sempat bersuami, tapi tidak punya anak. Suaminya meninggal waktu Pak Bei masih tinggal di Jogja. Sejak itu, Mbah Ratmi hidup ditemani dua cucu keponakan yang dirawatnya sejak kecil. Konon, keponakan Mbah Ratmi meninggal ketika anak-anaknya masih kecil. Lalu suaminya kawin lagi dan tinggal dengan istri sambungnya. Lalu, anak-anaknya diasuh oleh Mbah Tarmi. Sekarang keduanya sudah gadis. Yang sulung sudah kuliah di UIN semester 4, sedang adiknya baru lulus MAN tahun ini.

Beberapa kali ketika Pak Bei sedang jalan pagi bersama Bu Bei, dilihatnya Mbah Ratmi sedang asyik kerja di sawah merawat tananam sayuran sawi, kangkung darat, atau bayam cabut. Tanaman itu diberinya pupuk, disiangi rumputnya, dan disemprot obat bila tampak ada hama. Bila tiba saatnya dipanen, para penebas pun datang membeli dan memanennya sesuai harga pasaran. Memang begitulah ekosistem pertanian di desa. Petani suntuk berbudidaya, proses pasca-panennya sudah ada penebas yang ngurusi.

Pernah suatu ketika Pak Bei mendekati dan mengajaknya ngobrol.

"Ya begini ini pekerjaan saya setiap pagi dan sore, Pak Bei. Bisanya ya cuma begini," kata Mbah Ratmi merendah sambil tangannya terus menyiangi rumput dengan cengkrong.

Lalu Mbah Ratmi cerita bahwa beberapa puluh tahun lalu sepeninggal suaminya, masih agak muda dan kuat tenaganya, pernah ikut jadi TKW di Arab Saudi. Beberapa tahun tinggal di sana sebagai pembantu rumah tangga. Ketika kontraknya habis, dia memilih pulang dan tidak melanjutnya kontraknya. Uang tabungannya dipakai untuk modal jualan daging ayam di pasar Totogan. 

"Lumayan dulu sudah punya beberapa pelanggan, Pak Bei. Tapi karena pasar dibangun oleh Pemerintah, saya jadi tidak punya tempat jualan lagi. Terus saya ikut ponakan kerja di Jakarta, ikut kerja di catering bantu jadi tukang masak."

"Kenapa gak dilanjut, Mbah? Kan enak kerja di Jakarta?"

"Sudah tua, Pak Bei, badan saya sudah tidak kuat mengikuti cara kerja usaha catering di Jakarta. Ya sudah, saya pilih jadi petani begini."

Betapa suprize kemarin bakda ashar, Mbah Ratmi datang ke nDalem Pak Bei. 

"Badhe matur sekedhik, Pak Bei," kata Mbah Ratmi setelah dipersilakan duduk. 

"Wonten dhawuh menapa, Mbah Ratmi?," tanya Pak Bei.

"Sepindah silaturahmi saha tuwe kasugengan lan kesarasan Pak Bei." 

"Ooh njih, Mbah, matur nuwun. Alhamdulillah kula sekeluarga pinaringan sehat."

"Yang kedua, saya mau minta tolong Pak Bei."

"Apa yang bisa saya bantu, Mbah Ratmi?"

"Begini, Pak Bei. Insya Allah saya akan berangkat haji besok Jumat minggu depan."

"Alhamdulillaah....Mbah Ratmi mau berangkat haji?"

"Iya, Pak Bei. Makanya saya sowan kesini mau minta tolong."

"Pripun, Mbah?"

 "Besok bakda sholat Jumat, tolong Pak Bei aturke ke jamaah bahwa saya minta pamit dan doa restu seluruh jamaah agar perjalanan haji saya lancar, aman, dan mendapat haji mabrur."

"Ooh njih, Mbah."

"Juga mohon maaf kepada seluruh jamaah kalau selama ini saya ada kesalahan baik yang saya sengaja maupun tidak."

"Masya Allah....njih, Mbah Ratmi. Insya Allah besok saya sampaikan ke jamaah Jumat."

"Sekalian saya titip diawat-awati rumah dan dua cucu saya, Pak Bei."

"Ooh njih, Mbah. Insya Allah semua masyarakat akan mendoakan Mbah Ratmi dan bantu mengawasi anak-anak."

"Matur nuwun sanget, Pak Bei."

Mbah Ratmi pun berpamitan, pulang jalan kaki ke rumahnya. Pak Bei mengantar Mbah Ratmi sampai ke pintu gerbang. Orang tua yang bersahaja. Ternyata diam-diam Mbah Ratmi sudah ikut antri 13 tahun untuk bisa haji ke Baitullah. Mbah Ratmi juga paham, bila mau bepergian jauh apalagi lama, sebaiknya berwasiat pada keluarga, kerabat, dan tetangga. 

Pamitan haji cara Mbah Ratmi ini cukup menarik. Mungkin karena keterbatasannya, dia tidak mengadakan acara pamitan haji di rumah, pakai masak-masak atau ngundang catering untuk menyuguh tamu. Tidak. Mbah Ratmi cukup hadir sholat Jumat di mesjid, lalu berpamitan kepada jamaah.
Selamat jalan, semoga Allah SWT meridhoi perjalanan haji Mbah Ratmi....aamiin.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah











Tidak ada komentar:

Posting Komentar