"Pak Bei, kalau ada orang atau kelompok masyarakat sudah jelas-jelas anti kebhinekaan dan mengancam keutuhan NKRI, itu kan sudah selayaknya dibasmi saja dari negeri kita tercinta ini, to? Tapi kenapa justru terkesan banyak yang membela dan melindungi?," kata tamu Pak Bei setelah memperkenalkan namanya Bayu dari Sukoharjo. Kedatangannya pagi ini bersama satu bus rombongan studi banding dari sebuah Lembaga Kursus dan Pelatihan. Dilihat dari fisiknya, usia Bayu sekitar 35 tahun. Mungkin karena profesinya sebagai tour leader, Bayu tampak ramah dan pandai bergaul. Gaya bicaranya juga atraktif dan menggebu-gebu. Pemilik LKP dan crew bus yang ikut duduk lesehan di teras omah Limasan Pak Bei hanya senyum-senyum melihat gaya si Bayu.
"Sebagai seorang Nasionalis Sejati, terus terang saya sangat sedih melihat dan membaca kejadian akhir-akhir ini. Lha wong sudah jelas mereka melawan aparat, mengancam keselamatan petugas, ya wajar kalau mereka didor saja. Iya, to? Lha kok malah dibela-belain, dibilang aparat telah melakukan penggantian HAM berat. Atau bagaimana menurut, Pak Bei,? tanya Bayu.
Sebagai tuan rumah, tentu kurang bijak kalau Pak Bei langsung menjawab. Itu juga termasuk pertanyaan sensitif. Apalagi Pak Bei belum cukup mengenal siapa sebenarnya si Bayu. Pada situasi saat ini, ngomong harus sangat hati-hati. Menilik sekilas cara pandang Bayu, salah jawaban sedikit saja bisa dianggap menebarkan kebencian, anti kebhinekaan, anti NKRI, dan pro FPI. Lebih ngeri lagi kalau kemudian digoreng di medsos dengan sebutan kadrun, kadal gurun, sebutan yang sungguh sangat ngece bagi sesama anak bangsa.
"Monggo diunjuk dulu kopinya, Mas Bayu. Monggo, Bapak-Bapak. Kita ngobrol santai saja di sini. Masih banyak waktu. Biasanya anak-anak studi banding di workshop Bundaco ini sekitar dua-tiga jam. Monggo diunjuk," Pak Bei mempersilakan tamu-tamunya.
"Lha wong imamnya saja masih punya kasus memalukan yang perlu dilanjutkan lagi proses hukumnya, kok," Bayu seakan mengungkapkan kekesalannya.
"Maksud, Mas Bayu?," tanya Pak Bei.
"Loh, masak Pak Bei lupa. Dia dulu kan melarikan diri karena kasus chat mesum itu. Ingat, kan?"
"Lah kan sudah di SP3 sama Polisi. Kasusnya tidak terbukti."
"Pak Bei keliru. Penyelidikannya dihentikan karena dia melarikan diri. Sewaktu-waktu bisa dibuka lagi. Syukurlah sekarang sudah pulang sendiri, seperti kutuk marani sunduk."
"Mas Bayu, aku jadi teringat satu kisah dalam Al Qur'an."
"Kisah yang mana, Pak Bei?"
"Tapi sebelumnya tolong Mas Bayu pahami dulu bahwa saya bukan anggota atau simpatisan FPI. Sama seperti Mas Bayu, saya ini Nasionalis Sejati. Kita sama-sama peduli pada nasib bangsa dan negara. Oke?"
"Siap, Pak Bei. Saya paham."
"Alkisah, setelah 10 tahun menghabiskan masa pelariannya ke negeri Madyan, Musa kembali ke Mesir kampung halamannya," Pak Bei memulai kisahnya. Setiba di Mesir, Musa disambut dan dielu-elukan oleh ribuan kaum Bani Israil sebagai tokoh dan pahlawan yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya. Diceritakan, dulu sebelum pergi ke Madyan, Musa selalu mengajak mereka untuk saling tolong-menolong, saling menyayangi dan melindungi, dan selalu bertaqwa kepada Tuhan di mana pun berada. Hanya dengan cara itu, Bani Israil akan mampu menghadapi rejim Firaun yang kejam."
"Wah ini dongeng Nabi Musa, ya. Lanjut, Pak Bei," Bayu tampak antusias.
"Dengan cepat, kabar kedatangan Musa sampai ke istana Fir'aun. Dilihatnya kedatangan Musa berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban negeri Mesir. Maka harus dicari strategi untuk menghalangi pergerakan Musa agar pengikutnya tidak semakin banyak. Para hulubalang dan mata-mata disebar ke seluruh negeri untuk menakuti rakyatnya. Mungkin ini semacam operasi intelijen. Para menteri dan birokrat juga ditugasi membuat aturan-aturan yang bila Musa dan pengikutnya melanggar akan dikenai tindakan tegas."
Pak Bei menyulut lagi kretek sebatang, menghembuskan asap putih bergulung-gulung yang dengan cepat tersaput angin semilir dari arah sawah depan rumah. Bayu dan teman-temannya tampak menunggu Pak Bei melanjutkan ceritanya.
"Tapi rupanya gerakan Musa yang dibantu Harun saudaranya semakin tak terbendung. Pengikutnya semakin banyak, bukan hanya dari kaum Bani Israil, tapi juga hampir semua orang miskin di Mesir. Fir'aun semakin gusar, merasa terancam kewibawaannya. Atas usul para tukang sihir, maka diundanglah Musa ke istana untuk beradu kesaktian."
Tampak Yu Mur asisten Bu Bei datang menyuguhkan dua piring pisang goreng yang masih anget. Pak Bei mempersilakan tamu-tamu menikmatinya.
"Kalian tahu, siapa yang dimaksud tukang sihir dalam kisah Musa ini?," tanya Pak Bei.
"Dukun, Pak Bei.," jawab Hendra si sopir bus pariwisata.
"Ahli nujum," jawab Kusno kernet bus.
"Bukan. Mereka itu kaum intelektual dan rohaniawan yang mengabdikan hidupnya pada kekuasaan Raja Firaun. Mungkin seperti Profesor, Doktor, atau Kyai di jaman sekarang. Atau setidaknya para sarjana yang menjadi buzzer dan tugasnya mengelabui mata dan pikiran rakyat Mesir.dengan narasi-narasi penuh tipu-daya."
"Orang-orang hebat ya, Pak Bei?," tanya Kusno
"Hebat, tapi tukang ngapusi," sahut Hendra.
"Diceritakan bahwa tukang-tukang sihir itu ternyata semua takluk menghadapi kecerdasan Musa. Semua teori dan argumentasinya dapat dipatahkan. Ular-ular ganas dan menjijikkan bikinan para tukang sihir dilahap semua oleh tongkat Musa yang berubah jadi ular besar. Maka, saat itu juga para tukang sihir berubah hati dan pikiran. Mereka beriman pada Musa, mengakui bahwa yang disampaikan Musa selama ini benar."
Bayu masih diam dan tampak berpikir keras. Merokoknya sangat cepat, tampak tidak sempat menikmati tiap sedotan dan hembusannya.
"Fir'aun marah gak, Pak Bei?," tanya Kusno.
"Tentu saja Fir'aun marah besar melihat semua itu. Maka diusirlah Musa dan tukang-tukang sihir itu agar keluar dari istana."
"Kok gak langsung ditangkap dan dipenjara atau dibunuh ya, Pak Bei?," tanya Hendra.
"Entahlah. Sebenarnya gampang saja kalau Fir'aun mau melakukannya, tapi mungkin dia masih ngemong rasa Asiyah istrinya yang merawat Musa sejak bayi," jawab Pak Bei.
"Begitulah, Mas Bayu. Sepertiga Al Qur'an itu isinya kisah tentang Nabi/Rasul dan umat jaman dulu agar menjadi pelajaran bagi orang-orang jaman sekarang. Selalu ada perulangan sejarah dan kejadian. Tentu saja tidak persis sama, bisa hanya mirip-mirip."
"Pangapunten, Pak Bei, Njenengan suka merokok pakai pipa, gak?," tanya Bayu. Pak Bei belum tahu ke mana arah pertanyaan Bayu yang tiba-tiba di luar konteks.
"Maksud Mas Bayu bagaimana?"
"Saya senang sekali mendengar cerita Pak Bei tadi. Saya jadi sadar masih harus banyak belajar lagi. Dan dengan segala hormat, mohon Pak Bei mau nerima hadiah dari saya ini sebagai tanda paseduluran," kata Bayu sambil tangannya menyerahkan pipa rokok yang diambil dari saku bajunya.
"Ya Allah....matur nuwun, Mas Bayu. Pipa ini bagus sekali."
"Itu pipa dari tulang sapi purba, Pak Bei. Jangan tanya harganya. Tapi lihatlah niat dan kebahagiaan saya bisa ngobrol dengan Pak Bei. Kalau boleh kapan-kapan saya mau sowan ke sini lagi."
"Wah saya yang matur nuwun, Mas Bayu. Njenengan ke sini membawa rejeki untuk kami. Alhamdulillah. Akan saya pakai pipa ini tiap hari. Monggo kapan saja kami siap nerima kerawuhan Mas Bayu. Yang penting ngabari dulu, ya, biar gak kecelik."
Tampak anak-anak rombongan studi banding keluar dari workshop Bundaco. Rupanya mereka sudah selesai agendanya. Obrolan pun kami akhiri. Setelah foto-foto di depan nDalem Pak Bei, rombongan pun pamitan untuk meruskan perjalanan ke Jogja.
#serialsotopakbei4