Senin, 30 Mei 2022

PII Dan KBPII

PII Dan KBPII

"Dua hari yang lalu saya ke sini, tapi nDalem Pak Bei ini suwung (kosong). Pak Bei ke mana? Saya sampai dua kali lho ke sini," kata Sasa sambil menghisap kreteknya.

"Kami ke Semarang, Sa. Rombongan dengan teman-teman," jawab Pak Bei.

"Rombongan apa? Piknik, lihat banjir rob yang tak kunjung surut?"

"Wah ya bukanlah, Sa. Masa piknik di tengah bencana. Banyak orang lagi kesusahan masa mau ditonton."

"Lah terus rombongan apa? Pas tanggal merah lho, Pak Bei. Hari libur."

"Kami menghadiri acara Pelantikan Pengurus Wilayah KBPII Jawa Tengah, sekaligus juga dilantik sebagai Pengurus Daerah KBPII Kab. Klaten."

"KBPII itu apa to, Pak Bei?"

"Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia, ini organisasi atau wadah alumni Pelajar Islam Indonesia, disingkat PII."

"Setahu saya PII itu wadahnya para insinyur."

"Sama tapi tak sama, Sa. Ndelalah saja singkatannya memang sama-sama PII. PII kami wadah pelajar Islam yang berdiri sejak awal-awal kemerdekaan. Sudah melahirkan banyak pemimpin bangsa."

"Tapi kenapa PII-nya Pak Bei tidak pernah terdengar kiprahnya? Atau karena saya yang kuper, ya..."

"Memang PII di Klaten sudah lama tidak ada aktivitas, Sa. Dulu, karena imbas pemberlakuan Azas Tunggal Pancasila dan situasi kurang kondusif, kami para pengurus PII Klaten sepakat membubarkan diri. Beberapa teman lalu memilih ikut aktif di Pemuda Muhammadiyah, sedangkan saya memilih aktif di Jamaah Shalahuddin UGM. Jadi sudah lama sekali PII di Klaten ini mati, Sa."

"Ooh jadi Pak Bei ini alumni PII, to?"

"Iya, Sa. Alhamdulillah dari klas 1 SMA hingga awal kuliah saya aktif di PII."

"Sekarang Pak Bei aktif di KBPII itu?"

"Iya, Sa. Insya Allah. Kami akan menghidupkan kembali PII sebagai wadah pelajar Islam, sebagai media kaderisasi pemimpin umat, masyarakat, dan bangsa."

"Apa itu penting, Pak Bei? Bukankah Pak Bei ini sudah cukup sibuk dengan kegiatan bisnis dan berbagai organisasi? Melihat Pak Bei dari kejauhan saja saya sudah mumet. Kok bisa nglakoni."

"Namanya juga panggilan jiwa, Sa. Gak bisa tinggal diam."

"Tapi anak-anak jaman sekarang sudah beda dengan jaman kita dulu lho, Pak Bei."

"Ya memang, Sa. Tapi selama negara kita ini masih ada dan umat Islam ini masih tinggal di negeri ini, maka harus terus ada upaya kaderisasi, upaya memproses lahirnya kader-kader pemimpin yang punya aqidah serta kepribadian kuat, memiliki jiwa nasionalisme tinggi serta rasa tanggung jawab bagi terwujudnya cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia."

"Wah kok serius banget, Pak Bei?"

"Looh piye to, Sa? Ini sangat serius. Seperti tafsir simbolik Sasa kemarin, bangsa kita saat ini kan terjebak pada kotak-kotak, dan antar-kotak itu saling bemusuhan, saling fitnah, bahkan saling menghancurkan. Karena kita menjadi lemah, maka negara kita pun dikangkangi oleh tikus-tikus dan ular berbisa. Begitu kan katamu kemarin?"

"Hehehe....iya, Pak Bei. Memang sangat memprihatinkan kondisi bangsa-negara kita saat ini. Tapi herannya, banyak orang malah asyik menikmati kue-kue dan tulang atau tengkleng sisa makanan para tikus. Kalau ada yang berani mengingatkan, berani mbengok, akan diserang ramai-ramai sebagai radikal, teroris, pro-khilafah, dsb."

"Sudah azan isya', Sa. Ayo kita ke mesjid dulu."

"Monggo, pak Bei."

Kami pun menuju mushola di depan rumah.