KADER SEJATI
"Selamat ya, Mas Tri. Sukses," kata Pak Bei sambil menyalami Trihatmo, sahabatnya yang jadi koordinator acara Tabligh Akbar pagi ini. Dia sedang duduk di kursi. Matanya tampak sembab -- mungkin karena habis menangis terharu-- memandangi ribuan orang yang beranjak dari tempat duduk menuju pintu keluar Edutorium. Di atas dan depan panggung, tampak ibu-ibu berseragam 'Aisyiyah dan bapak-bapak berbatik Muhammadiyah sedang antri bergiliran foto bersama dan selfie dengan backdrop panggung sebagai bagroundnya. Wajah-wajah panitia pun tampak cerah bahagia. Mereka bersalaman satu sama lain sambil mengucap selamat, hamdalah, dan entah apa lagi yang mereka perbincangkan.
Tapi dari semua itu, Trihatmolah yang paling menarik perhatian Pak Bei. Dia tentu yang paling merasa lega sekaligus terharu atas berlangsungnya acara Tabligh Akbar ini. Dia lega karena seluruh acara dapat berlangsung lancar dan bagus. Kursi-kursi VIP terisi semua oleh tokoh-tokoh Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah, Rektorat UMS, serta jajaran Forkompinda Solo Raya. Dia terharu karena acara juga dihadiri puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga persediaan konsumsi hampir 17.000 box tidak mencukupi. Memang sempat ada kekhawatiran jamaah yang hadir hanya sedikit karena publikasi yang tersebar seolah membatasi hanya yang pegang undangan yang boleh hadir mengikuti Tabligh Akbar bersama UAH. Maka, Atmo didukung semua panitia pun mengambil langkah-langkah strategis untuk penyelamatan. Dan berhasil, Alhamdulillah.
Pak Bei tahu betul totalitas Trihatmo, sahabatnya dari PDM Solo itu, sebagai koordinator acara. Sejak persiapan berbulan-bulan lalu hingga saat pelaksanaan di hari-H, dia menunjukkan kelasnya sebagai kader sejati Persyarikatan. Usianya tidak lagi muda. Kesahatannya juga tidak lagi prima. Tapi jangan tanyakan semangat dan dedikasinya. Luar biasa.
"Wah, beruntung sekali teman-teman Kokam bisa ikut mendapatkan berkah dari ngajinya Mas Wildan Zulfikar. Rejeki anak sholeh," kata Trihatmo.
"Iya, Mas. Alhamdulillah. Minhaitsulaayahtasib," jawab Pak Bei.
"Luar biasa. Tidak salah Pak Bei ngusulkan Mas Wildan sebagai Qori' acara ini. Saya ikut bangga, Pak Bei," kata Trihatmo.
"Iya, Mas. Alhamdulillaah. Mohon maaf kalau masih ada kekurangan," jawab Pak Bei pada sahabatnya.
"Hebat, Pak Bei. Kita telah membuktikan bahwa ada Qori' bagus dari Kokam, bahwa anak Kokam juga bisa ngaji bagus," kata Taufiq yang tiba-tiba datang dan langsung nerocos. "Kulihat tadi Ustadz Adi Hidayat juga terpesona. Makanya beliau menghadiahi umroh gratis untuk Mas Wildan dan 9 Kokam lainnya. Alhamdulillah," lanjut Taufiq.
"Kira-kira siapa saja 9 Kokam yang beruntung itu ya, Mas Taufiq?," tanya Pak Bei.
"Ya kalau itu biarkan para komandan Kokam sendiri yang memilih, Pak Bei. Kita gak usah cawe-cawe," jawab Taufiq.
"Tapi, Mas, sebenarnya ada yang jauh lebih penting dari hadiah umroh itu untuk masa depan Persyarikatan," kata Pak Bei.
"Apa itu?"
"Tawaran bea siswa tadi, Mas Taufiq."
"Iya benar itu, Pak Bei," sahut Trihatmo.
"Tadi UAH sudah mendeclared sebagai kader tulen Muhammadiyah. Iya, kan?," tanya Pak Bei.
"Betul. Beliau sangat bangga sebagai kader alumni Ponpes Darul Arqam Garut, Jawa Barat. Bahkan, Nomor Baku Muhammadiyah-nya pun beliau hafal di luar kepala. Itu luar biasa," respon Taufiq bersemangat.
"Tampaknya UAH sadar betul urgensi Muhammadiyah menyiapkan kader yang punya otoritas keilmuan untuk mengisi Majelis Tarjih dan Majelis Tabligh di masa depan."
"Iya benar, Pak Bei. Kader-kader harus dipersiapkan dari sekarang."
"Beliau yang punya reputasi sarta jaringan internasional sering mendapatkan peluang bea siswa bagi para mahasiswa yang mau serius mendalami ilmu-ilmu agama. Saat ini beliau mendapatkan kuota untuk 40 mahasiswa S1 hingga S3, dan yang 30 beliau tawarkan untuk kader Muhammadiyah. Ini peluang bagus. Dan beliau tunggu dalam waktu sepekan PP Muhammadiyah dapat mengirimkan datanya."
"Itu yang seharusnya disambut dengan sebaik-baiknya oleh para pimpinan Persyarikatan," Amir yang dari tadi hanya mendengarkan ikut merespon juga. "Tadi beliau juga menyinggung," lanjut Amir," bahwa selama ini peluang bea siswa yang ditawarkannya ke PP Muhammadiyah kurang mendapatkan respon menggembirakan sehingga paluang lepas begitu saja."
"Wah sayang sekali, ya. Eman-eman," Trihatmo merespon, "Padahal banyak anak-anak kita lulusan Pondok Pesantren, baik dari Ponpes Muhammadiyah maupun dari luar, yang pintar-pintar dan potensial mendapatkan peluang itu," lanjutnya.
"Kita doakan saja semoga Muktamar ke-48 kali ini akan membuahkan keputusan-keputusan strategis bagi masa depan Persyarikatan," kata Pak Bei
Obrolan para kader di tengah hiruk-pikuk usai acara Tabligh Akbar pun diakhiri. Pak Bei, Trihatmo, Taufiq, dan Amir harus pindah ke ruang rapat di lantai 2 untuk mengikuti rapat koordinasi bersama para pimpinan.
#serialoakbei
#wahyudinasution
#kadersejati
#tablighakbarbersamauah