Minggu, 22 Januari 2023

MUKENA RAMADHAN

MUKENA RAMADHAN

Dua buah mobil berbranding Pondok Pesantren Modern GONTOR PUTRI 2 Mantingan, Ngawi, Jawa Timur perlahan-lahan meninggalkan halaman nDalem Pak Bei. Para Ustadz-Ustadzah Gontor Putri 2 dipimpin Ustadz Zaki ditemani Ustadz Fuad dari IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) Cabang Solo itu akan melanjutkan silaturahmi ke pengusaha lainnya di sektor makanan. Tamu-tamu yang sopan. Mereka sengaja nemui Pak Bei-Bu Bei untuk minta ijin besok pertengahan Maret akan membawa santri-santri klas 6 Gontor Putri-2 berkunjung ke Bundaco dalam program Rihlah. 

Pak Bei paham, di Pondok Gontor memang ada program Rihlah bagi santri-santri kelas 6. Setelah mereka selesain ujian akhir, sebelum yudisium lalu melanjutkan program Pengabdian selama satu tahun, mereka diajak study tour guna mengenal dunia wirausaha di masyarakat. Mungkin ini salah satu cara Pondok Gontor menamamkan mental mandiri pada para santrinya. Sejak kelas 1, para santri sudah dididik untuk mandiri, bukan bermental 'anak mami'. Kelak mereka setelah lulus juga harus siap jadi pengusaha, bukan ikut antri daftar jadi pegawai atau karyawan. 

Bagi Bundaco, kunjungan Rihlah Pondok Gontor ini akan jadi yang kedua. Dulu sebelum pandemi covid-19, GP-5 Kediri juga pernah melakukan Rihlah. Sebanyak 3 bus santriwati berkunjung ke Bundaco, belajar tentang wirausaha beserta segala dinamikanya. Tahun sebelumnya, Ponpes Al-Huda Cepogo, Boyolali juga melakukan Wisata Industri ke Bundaco. Sebelumnya lagi, Kementerian Perindustrian Provinsi Kalimantan Selatan setiap tahun selama 3 tahun berturut-turut juga menitipkan pelaku-pelaku UKM Konveksi se-Kalsel untuk magang di Bundaco. Bagi Pak Bei-Bu Bei, itu semua disikapinya sebagai peluang untuk menebarkan virus wirausaha pada generasi muda dan kesempatan untukberbagi pengalaman berwirausaha.

Pak Bei dan Bu Bei masih asyik ngobrol tentang tamu-tamu dari Gontor tadi,  tetiba satu mobil Innova putih masuk ke halaman. Sepasang suami-istri turun dari mobil dan mengucap salam. Setelah menjawab salam, Pak Bei dan Bu Bei pun mempersilakan kedua tamunya itu duduk di kursi sedan lawasan, tempat Pak Bei biasa menerima tamu atau ngobrol malam-malam dengan teman-temannya sambil ngopi.

"Nuwun sewu, Bapak-Ibu ini dari mana, ya?," tanya Bu Bei membuka obrolan.

"Ooh njih, Bu, pekenalkan nama saya Budi dan ini istri saya Santi. Kami tinggal di Jogja, di kawasan Seturan," jawab Pak Budi. 

Melihat penampilannya, usia suami-istri ini masih cukup muda, agak jauh di bawah Pak Bei, kelihatan masih di kepala 4. Rumahnya di kawasan Seturan berarti ekonominya cukup mapan, begitu pikir Pak Bei. Menilik prejengan dan tutur bahasanya, patut diduga Pak Budi ini berprofesi dosen, entah di UGM, UNY, UIN, UII, UPN, YKPN, atau entah di mana. Sebagaimana teman-teman Pak Bei yang berprofesi dosen, pada usia itu rata-rata mereka sudah bergelar Doktor, bahkan ada yang Profesor. Dosen sekarang kelihatan keren-keren. Di samping gajinya besar, biasanya mereka juga masih nyambi jadi konsultan proyek-proyek Pemerintah atau Swasta.

"Oh ya, Pak Budi. Perkenalkan juga, ini Pak Bei suami saya, dan saya sendiri biasa dipanggil Bu Bei, tapi banyak juga yang suka manggil saya Bunda," Bu Bei ganti memperkenalkan diri.

"Apa yang bisa kami bantu, Mas Budi?," Pak Bei sengaja memanggilnya 'Mas' agar lebih akrab.

"Begini, Pak Bei. Kami mau cari mukena untuk kami bagikan menjelang Ramadhan," jawab Pak Budi.

"Wah mantap, Mas. Bagaimana ceritanya cari mukena kok bisa sampai ke sini? Di Jogja kan banyak toko mukena?," Pak Bei memancing.

"Begini, Pak Bei," Bu Santi menyahut, "Dua bulanan lagi kita kan memasuki bulan Ramadhan. Seperti umat Islam pada umumnya di setiap bulan suci, kami pun berupaya memperbanyak shadaqah dan amalan-amalan sunnah lainnya."

"Tahun-tahun lalu, disamping  mambantu pengadaan takjil di beberapa masjid,  kami juga membagikan sarung untuk jamaah bapak-bapak," kata Pak Budi menimpali.

"Wah bagus itu, Bu Santi" kata Bu Bei.

"Tapi tahun ini kami ingin beda," kata Bu Santi.

"Beda bagaimana, Mbak?," Bu Bei ganti menyapa dengan 'Mbak'.

"Sekarang giliran Ibu-Ibu. Kami ingin membagikan mukena untuk ibu-ibu dan remaja putri. Kalau bisa akhir Sya'ban sudah terlaksana," jawab Bu Santi.

"Wah alangkah senangnya jamaah masjid punya warga yang dermawan seperti Mas Budi dan Mbak Santi ini," kata Bu Bei.

"Alhamdulillah, Bu Bei. Prinsipnya kami ingin bergembira bersama menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Semoga jamaah masjid kami senang  bisa shalat tarawih dan shubuhan di mesjid selama sebulan penuh, memakai mukena baru," kata Pak Budi.

"Apalagi kalau mukenanya model baru dan warnanya bisa sama ya, Pah. Jadi seragam gitu loh," kata Bu Santi.

"Kemarin kami mencoba browsing mencari produsen mukena di sekitar Jogja-Solo, ternyata ketemunya BUNDACO, Produsen Mukena Travelling di Klaten. Cukup dekat. Makanya sore ini kami ke sini, Bu Bei. Pengin melihat langsung," kata Pak Budi.

"Kami juga sudah melihat foto-foto di IG bundaco.klaten. Masya Allah, cantik-cantik banget. Kami jadi penasaran, Bu," Bu Santi menambahi.

"Masya Allah, kami merasa tersanjung Mas Budi dan Mbak Santi mau keroyo-royo datang ke sini,  di rumah produksi Bundaco.  Nah biar afdhol, sebaiknya sekarang Mbak Santi diantar Bu Bei melihat-lihat koleksi produk di showroom. Mas Budi boleh juga kalau mau ikut, atau mau nunggu di sini saja sambil ngopi dengan saya," kata Pak Bei.

Ternyata Mas Budi memilih ikut melihat-lihat ke showroom. Pak Bei segera menuju dapur memasak air, membuat 2 gelas kopi dan segelas teh nasgithel. 

"Bagaimana, Mbak Santi, ada yang sesuai keinginan?," tanya Pak Bei setelah mereka kembali duduk di teras nDalem Pak Bei.

"Alhamdulillah ada, Pak Bei. Tadi kami langsung pesan 100 pcs ke Bu Bei," jawab Mbak Santi.

"Alhamdulillah, terima kasih, Mbak Santi."

"Oya, Bu Bei, DP 50% saya transfer sekarang saja njih, pakai M-Banking, lanjutnya.

"Ooh njih monggo, Mbak. Nomor rekening ada di nota pesanan tadi."

"Monggo diunjuk dulu kopinya, Mas Budi. Monggo, Mbak Santi, ngunjuk teh nasgithel ala ndeso dulu," Pak Bei mempersilakan tamu-tamunya.

Sebentar lagi waktu maghrib. Mas Budi dan Mbak Santi pamitan. "Nanti berhenti sholat di Pom Bensin saja," jawab Mas Budi ketika ditawari Pak Bei nunggu maghrib dulu saja.

Hari yang luar biasa. Tamu-tamu agung berdatangan ke Bundaco, di sebuah dusun di jalan raya Klaten-Jatinom-Boyolali. Indahnya berwirausaha di desa.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mukenaramadhan
#indahnyawirausaha









Jumat, 13 Januari 2023

CURHAT MILLENIAL

CURHAT MILLENIAL

Seperti biasanya, setiap sore bila cuaca sedang tidak hujan, krucil-krucil anak-anak tetangga, putra-putri, bermain riang di halaman nDalem Pak Bei. Macam-macam permainannya, tampaknya mereka terpengaruh tontonan yang lagi hit di televisi. Sejak ada Piala Dunia beberapa hari lalu, mereka bermain bola plastik sambil tangannya memegang thek-thek. Thek-thek dimainkan ketika timnya berhasil menyarangkan goal ke gawang lawan. Pak Bei dan Bu Bei suka sekali melihat tingkah krucil-krucil yang lucu itu sambil menikmati kopi dan teh panas di teras. Mungkin sudah naluriah, orang yang semakin bertambah usia jadi suka menikmati kelucuan anak-anak kecil yang lagi bermain.

Sayang sekali suasana ceria anak-anak sore ini harus terhenti karena kedatangan rombongan tamu Pak Bei yang tetiba datang gemruduk.  Ada 4 sepeda motor parkir di halaman sehingga krucil-krucil terpaksa menyingkir ke halaman tetangga.

"Assalaamu'alaikum...," seorang tamu mengucap salam. Ternyata Narjo si-loper koran yang datang setiap pagi itu yang datang berombongan. Tumben dia berpakain lebih rapi.

"Wa'alaikumsalam.... Kang Narjo to ini? Ayo silakan duduk. Monggo-monggo," Pak Bei mempersilakan tamu-tamunya duduk. 

"Kok tumben, Pak Narjo? Ada apa ini kok grudukan sore-sore?, tanya Bu Bei.

"Ngantar teman-teman pemuda ini, Bu Bei. Mereka pengin kenalan dan ngobrol dengan Pak Bei," jawab Narjo.

"Ooh ya monggo, Pak Narjo. Mas-Mas mau minum apa ini? Kop, teh, wedang uwuh?," tanya Bu Bei.

"Apa saja, Bu Bei. Jangan repot-repotlah," kata Narjo.

Bu Bei langsung beranjak ke dapur. Tak berapa lama kemudian, 8 gelas kopi dan sepiring pisang kepok rebus sudah tersaji di meja, siap menemani obrolan Pak Bei dengan tamu-tamunya. 

"Apa yang bisa saya bantu, Kang?, tanya Pak Bei setelah Narjo memperkenalkan teman-temannya satu per satu.

"Ayo siapa yang mau matur dulu ke Pak Bei, mumpung ketemu?" tanya Narjo pada teman-temannya. "Kamu dulu, Ji. Ngomonglah," Narjo menyuruh Aji, pemuda yang tampak paling bersih kulitnya dan rapi dandanannya.

"Begini, Pak Bei. Tapi saya mohon maaf dulu," Aji mulai bicara.

"Lha belum apa-apa kok minta maaf to, Ji. Mbokya ngomong dulu," kata Narjo.

"Tadi setelah sholat ashar, seperti biasa kami ngobrol-ngobrol di serambi masjid. Ndelalah tadi obrolan kami seputar politik. Ya maklum, Pak Bei, di tahun politik ini kita setiap hari dijejali berita dan obrolan politik di televisi dan di group-group WA. Biasalah, seputar capres, koalisi partai politik, partai baru, dan sebagainya. Yang bikin  miris, antar pendukung itu tampak saling menyerang, saling menguliti kekurangan lawan politik dan calon presidennya," Aji tampak menghela nafas sambil berpikir.

"Dan kami pun terbawa suasana itu, Pak Bei," Azis menimpali. "Kami jadi mikir juga, bagaimana sikap kami nanti pada Pemilu bulan Februari 2024? Kami mau ikut mendukung siapa?," lanjutnya.

"Yang pasti kami ingin ada perubahan, Pak Bei. Mosok negeri yang subur dan berlimpah kekayaan alam ini kehidupan rakyatnya justru semakin berat, semakin melarat. Ini jelas ada yang salah," kata Narwan.

"Benar, Pak Bei," Aji menyahut,  "Setiap bulan rakyat kita disogok dengan sembako PKH, BLT, dan Bansos agar diam dan tidak ribut, sementara kekayaan alam dirampok besar-besaran, harga-harga kebutuhan hidup semakin mahal, pajak PBB, tarif listrik, dan harga BBM dinaikkan terus. Kita saksikan para pejabat dan wakil rakyat justru ikut berpesta-pora menikmati hasil rampokan itu. Ini sangat menyakitkan, Pak Bei. Harus bagaimana kita ini? Diam saja atau perlu bersama-sama berjuang melakukan perbaikan?," sambungnya.

"Saya tadi tidak bisa menjawab, Pak Bei, makanya saya ajak pemuda-pemuda ini sowan ke sini," kata Narjo dengan gayanya yang plengah-plengeh. "Tolong Pak Bei bantu eguh-pertikel anak-anak ini. Bagaimana sebaiknya mereka harus bersikap?," sambung Narjo.

"Wah berat ini, Kang," kata Pak Bei.

"Ya memang berat. Makanya saya tidak bisa menjawab," kata Narjo.

"Saya tidak punya pengalaman jadi politisi, Kang."

"Tapi Pak Bei sudah menyaksikan kahanan politik sejak masa jaya-jayanya Orde Baru hingga gonta-ganti Presiden di era reformasi ini. Pasti sudah bisa niteni dan bisa ngajari anak-anak ini."

"Walah, Kang Narjo ini, lho. Tak kandhani yho, sesungguhnya anak-anak millenial ini lebih cerdas dari generasi kita, lebih kaya informasi, dan yang pasti mereka punya imajinasi sendiri tentang masa depannya."

"Tapi kami bingung juga memahami keadaan negara kita saat ini, Pak Bei," Narwan menyela, "Kami butuh tempat curhat. Tiap hari seakan kami digiring agar menjadi politisi. Padahal kalau mau jadi politisi kan harus kaya dulu. Harus punya modal besar dulu. Ya jelas, kami yang masih sekolah dan kuliah ini tidak mampu ikut ke sana," sambungnya.

"Begini saja, Dek," Pak Bei merespon Narwan, "Mbok kalian ini sekolah dan kuliah dulu saja yang bener. Jadilah generasi yang pintar agar tidak gampang dibodohi orang. Toh orang tua kalian masih mampu membiayai," lanjut Pak Bei.

"Ya tidak boleh begitu, Pak Bei," Azis menyahut, "Memang kami harus belajar sungguh-sungguh untuk masa depan kami. Tapi kami juga tidak mungkin diam saja setiap hari menyaksikan ketidakberesan pengelolaan negara yang ugal-ugalan ini," lanjutnya.

"Ugal-ugalan bagaimana maksudmu, Dek?" tanya Pak Bei.

"Pak Bei pasti juga tahulah bagaimana masa depan kami ini harus mewarisi hutang Pemerintah yang sangat besar, tidak kurang dari 7.000 Triliun, harus menerima kenyataan bahwa usaha-usaha strategis yang harusnya dikuasai negara sudah dijual ke korporasi asing, kontrak-kontrak jangka panjang sektor pertambangan oleh asing dan aseng, bahkan ada pulau-pulau yang mau dijual ke asing juga. Ini benar-benar edan kan, Pak Bei?" kata Aji dengan ekspresinya yang tampak geram.

"Adik-Adik, senang sekali saya mendengar obrolan kalian. Ini tema yang berat, sangat aktual,  dan sangat menarik. Tentu tema ini tidak akan habis kita obrolkan dalam waktu singkat. Mungkin perlu bermalam-malam untuk kita bisa memahaminya," kata Pak Bei.

"Benar, Pak Bei. Sayang sekali, sebentar lagi waktu maghrib akan tiba," jawab Narjo.

"Iya, Kang. Tanpa bermaksud mengusir, saya juga harus siap-siap ke mesjid. Tapi sekali lagi, saya sangat senang bisa ngobrol dengan adik-adik sore ini. Kapan-kapan kita lanjutkan, ya," Pak Bei mengakhiri obrolan. Narjo dan rombongan pun berpamitan.

#serialpakbei
#wahyudinasution














Senin, 02 Januari 2023

LOPER KORAN

LOPER KORAN

Edan tenan Kang Narjo. Omongannya mak-jleb di ulu hati. Sudah seminggu dia tak tampak batang hidungnya dan tugasnya ngantar koran sementara diganti si Azis anak bungsunya.

"Nengok  cucu di Jakarta, Pak Bei. Istri kakak melahirkan anak kedua bulan lalu," kata Azis ketika ditanya Pak Bei ke mana bapaknya. 

Pak Bei sedang merawat tanaman Bunga mawar marna-warni di halaman ketika Narjo mak-bedunduk datang dan melempar korankan ke teras. 

"Wah yang dari Jakarte. Mane nih oleh-olenye?," sapa Pak Bei pada Narjo dengan bercanda.

"Wah semakin kritis kok, Pak Bei," jawab Narjo.

"Looh...apanya yang kritis, Kang?"

"Pekerjaanku."

"Ada apa dengan pekerjaanmu?"

"Pak Bei kan tahu, aku sudah nekuni pekerjaan loper koran ini sejak baru lulus SMEA. Empat puluh tahun yang lalu."

"Iya aku tahu. Kenapa, Kang?"

"Sejak aku masih ngepit onthel, naik sepeda, sampai gonta-ganti motor dan punya 3 cucu saat ini, aku masih tetap setia mengantar berita ke para pelanggan setiap pagi."

"Iya, aku tahu Kang Narjo punya dedikasi tinggi sebagai loper koran."

"Tapi jaman sudah jauh berubah. Sekarang pelangganku tinggal sedikit, Pak Bei. Pembaca koran sudah beralih ke media online. Kemarin ada koran Nasional yang bahkan sudah memilih tutup, tidak terbit lagi. Mungkin juga karena pembacanya tinggal sedikit."

"Iya aku sudah baca berita itu, Kang."

"Loper koran tak lagi ditunggu-tunggu kedatangannya," kata Narjo dengan mata berkaca-kaca.

"Iya, Kang. Sabar, ya," Pak Bei mencoba menenangkan hati Narjo.

"Tapi orang sekarang juga aneh, Pak Bei."

"Aneh bagaimana?"

"Banyak orang justru memilih jadi loper koran."

"Maksudnya?"

"Padahal orang-orang cukup pintar, berpendidikan, punya banyak teman, banyak relasi, juga banyak mengikuti group WhatsApp, tapi ternyata....," Narjo tampak tidak tega meneruskan kalimatnya.

"Ternyata apa, Kang? Teruskan saja...."

"Ternyata sama saja dengan aku, hanya loper koran."

"Maksudnya?"

"Coba saja Pak Bei cermati. Banyak orang main gadget, bermedsos tiap saat, aktif di Facebook dan group-group WA, tapi ternyata hobynya cuma copy paste berita atau tulisan dan pendapat orang lain."

"Memangnya kenapa, Kang?"

"Lah itu kan sama saja dengan loper koran, Pak Bei. Mengantar tulisan atau pendapat orang ke teman-temannya. Iya, kan? "

"Iya juga ya, Kang. Memang begitu biasanya."

"Kenapa pada tidak belajar bikin tulisan sendiri saja, Pak Bei?"

"Wah ya gak segampang itu, Kang."

"Ya memang tidak gampang, Pak Bei. Tapi kan sekarang media informasi sudah ada di tangannya, di tangan setiap orang, bukan lagi milik pengusaha media cetak seperti dulu."

"Iya benar."

"Kalau dulu, tulisan wartawan atau para kolumnis koran dan majalah kan harus lolos seleksi dulu di dewan redaksi. Hanya tulisan yang bagus yang bisa dimuat.  Jaman medsos sekarang tidak ada dewan redaksi. Semua orang boleh menulis apa saja dan kapan saja. Bebas sebebas-bebasnya.."

"Iya benar."

"Kenapa kebebasan itu tidak dimanfaatkan untuk belajar menulis, Pak Bei? Syukur-syukur bisa bikin tulisan yang bagus, yang mengabarkan kebaikan, untuk kebaikan hidup bersama. Jangan justru bikin tulisan yang penuh sak-wasangka, caci-maki, shu'udhon, tentang aib dan keburukan seseorang atau golongan. Mbok ya belajar jadi penulis yang elegan, bukan jadi provokator yang suka adu-domba dan permusuhan. 
Ah sudahlah, Pak Bei. Aku pamit dulu ya...."

Narjo pun meninggalkan halaman Ndalem Pak Bei melanjutkan tugasnya. Entah mimpi apa Pak Bei tadi malam kok pagi ini tetiba diceramahi Narjo si loper koran? Entah ketemu siapa saja selama seminggu di Jakarta, kok tetiba Narjo bisa ngomong setajam itu? Apa dia juga sudah main medsos, ya? Wis embuhlah.
Edan tenan Kang Narjo.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#loperkoran