Sabtu, 20 Mei 2023

ORONG-ORONG BERBUNYI

ORONG-ORONG BERBUNYI

"Pak Bei ingat gak cerita seputar pembangunan Masjid Demak jaman Walisanga dulu?," tanya Narjo tadi pagi sambil nglesot duduk di lantai. 

Pak Bei sudah hafal, sahabatnya itu pasti ingin ngajak ngobrol sambil istirahat sebentar. Maklum saja, sebagai loper koran, Narjo sudah keluar rumah sejak bakda shubuh setiap hari mengambil koran ke agen di kota Klaten lalu mengantar ke rumah pelanggannya satu-persatu. Sampai di nDalem Pak Bei sekitar jam 07.00, kadang sudah tampak capek, butuh istirahat, butuh minum kopi atau teh nasgithel. Pak Bei paham itu.

"Cerita soal apa tadi, Kang?," tanya Pak Bei sambil menyugukan segelas kopi robusta Semendo.

"Itu lho, Pak Bei, satu kejadian ketika para Wali dan umat Islam di Demak Bintoro sedang kerja bakti membangun masjid. Waktu itu Sunan Kalijaga sedang mengerjakan salah satu saka, tiang utama dari kayu jati, dengan menggunakan kapaknya. Betapa terkejut Kanjeng Sunan, ternyata pukulan kapaknya mengenai seekor orong-orong, binatang kecil yang biasa hidup di comberan dan berbunyi nyaring setelah turun hujan. Kepala orong-orong itu terputus dari tubuhnya."

"Ooh itu? Iya, aku ingat, Kang."

"Terus Kanjeng Sunan berupaya menyelamatkan orong-orong itu. Tubuh dan kepalanya disambungnya kembali dengan lidi dari tatal kayu jati."

"Iya betul, Kang. Memang begitu ceritanya. Kepala dan badannya disambung pakai kayu jati."

"Sebenarnya cerita itu cuma perlambang lho, Pak Bei. Bukan kejadian sungguhan. Jadi jangan dipahami mentah-mentah."

"Ada maknanya, maksudmu?"

"Ya jelas, Pak Bei. Itu ilmu hikmah. Perlu pemaknaan."

"Kira-kira apa maknanya, Kang?"

"Kanjeng Sunan mengajari kita bahwa antara kepala dengan badan itu harus tersambung dengan kayu jati."

"Wah jero iki. Terus, Kang..."

"Isi kepala, pikiran, dan omongan kita harus jumbuh, harus sesuai dengan isi hati, juga harus sesuai dengan tindakan, perilaku, amal perbuatan. Tidak boleh jarkoni, isoh ujar ning ora isoh nglakoni,  bisa berujar,  suka ngomong berbusa-busa tapi tidak bisa mengamalkan, suka berjanji tapi tidak bisa menepati, tidak bisa membuktikan apa yang diomongkan. Alias berbohong. Dan, sambungannya pun harus pakai kayu jati, bukan sembarang kayu."

"Artinya apa, Kang?"

"Artinya, keselarasan antara pikiran dan omongan dengan hati itu bisa terjadi bila ada kesadaran kesejatian dan akal sehat. Bukan dituntun nafsu,  ambisi, atau gengsi.

"Sebentar, Kang, ada apa kok tiba-tiba Kang Narjo ngomong soal ajaran kesejatian Kanjeng Sunan Kalijaga? Mimpi apa tadi malam?"

"Hehehe...ini bukan soal mimpi, Pak Bei."

"Terus....?"

"Saya prihatin saja."

"Soal apa?"

"Ini kan tahun politik. Orang-orang politik sudah gayeng kampanye untuk Pemilu dan Pilpres 2024."

"Lalu apa masalahnya?"

"Pak Bei perhatikan saja, semua Tim Sukses dan Tim Hore-hore  sudah mulai jualan janji-janji."

"Namanya kampanye kan memang jualan janji to, Kang?"

"Makanya itu, Pak Bei..."

"Apa?"

"Rakyat selalu kecelik, kecewa karena terbuai janji-janji."

"Kok gitu?"

"Walah Pak Bei ini mbok jangan gampang lupa, to. Banyak janji-janji waktu kampanye, tapi mana yang sudah terbukti setelah dia berkuasa? Janji tidak nambah utang Luar Negeri? Janji mau mensejahterakan petani? Janji mau merampas uang koruptor yang ribuan trilyun? Janji tidak ada rangkap jabatan? Semua tidak terbukti, Pak Bei."

"Pemerintah kan punya skala prioritas, Kang."

"Seharusnya yang jadi prioritas ya yang sudah dijanjikan waktu kampanye, Pak Bei. Biar rakyat tidak kepusan, tidak merasa tertipu."

"Kang, hati-hati lho ngomong seperti ini. Kamu bisa dianggap menyebar kebencian dan menebar kabar bohong, kabar hoax, lho."

"Walah, Pak Bei. Aku ngomong ini kan cuma dengan Pak Bei. Cuma ngudarasa, ngomong dari hati ke hati. Aku ini juga rakyat yang punya hak bicara, hak memilih, dan hak dipilih. Hak dipilih tidak pernah kugunakan. Hak memilih kugunakan dengan baik setiap Pemilu, Pilpres, Pilgub, Pilbup, dan Pilkades. Hak bicara? Apa rakyat ini harus mingkem diam saja meskipun merasa teraniaya?"

"Memang Kang Narjo merasa teraniaya?"

"Aku ini juga manusia, Pak Bei. Punya hati dan punya pikiran. Tidak bisa pura-pura senang sedangkan hati terasa miris melihat keadaan, melihat ketimpangan, melihat ketidakadilan. Ya sekali-kali butuh curhatlah. Dan aku suka curhat di sini, ke Pak Bei. Ya mohon maaf kalau Pak Bei kurang berkenan."

"Bukannya kurang berkenan, Kang. Aku paham kok kegelisahanmu. Itu sama dengan kegelisahan banyak orang yang sering kudengar. Cuma aku mengingatkanmu agar hati-hati kalau ngomong politik. Harus empan-papan, lihat-lihat tempat dan situasi."

"Ya sudah, Pak Bei. Aku mau lanjut kerja. Makasih ya kopinya."

"Oke, Kang. Jaga kesehatan, ya."

Narjo si loper koran senior itu meninggalkan nDalem Pak Bei dengan Supra-X tuanya, dengan koran-koran yang masih setumpuk dibawanya, dan entah masih ada kegelisahan apalagi di hatinya. Ada saatnya orong-orong memang harus berbunyi nyaring agar orang tahu ada kehidupan di tanah becek di kala musim hujan dan di comberan di persawahan.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#orong-orong
#220523
 












TELAH LAHIR: JATAM KLATEN

TELAH LAHIR: JATAM KLATEN

Setelah melalui proses dua kali  pertemuan, para petani dan pegiat pertanian di Kabupaten Klaten secara aklamasi telah menyepakati terbentuknya Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Kab. Klaten. Acara pertemuan di nDalem Pak Bei Kwaon, Jemawan, Jatinom itu berlangsung pada Kamis, 19 Mei 2023 dari pukul 20.00 hingga 01.00 dini hari, dihadiri oleh 15 orang dari berbagai kecamatan, di antaranya Jatinom, Karanganom, Wonosari, Pedan, Cawas, Ceper, Gantiwarno, Klaten Utara, dan Klaten Selatan.

Dalam sambutan dan pengantar diskusinya, Wahyudi Nasution selaku inisiator dan wakil dari Pengurus Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan bahwa JATAM adalah wadah pengorganisasian petani yang dibangun secara resmi oleh MPM PP Muhammadiyah. Dijelaskannya bahwa sesungguhnya JATAM telah dideklarasikan sejak 18 Maret 2018 di markas Gapoktan Gempol, Karanganom, Klaten, dalam satu rangkaian acara Rakornas MPM periode ke-47 di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Deklarasi Jatam itu juga dihadiri oleh utusan MPM PWM seluruh Indonesia.
Namun, belum sempat MPM PP menggerakkan Jatam secara masif ke setiap wilayah dan daerah, negeri kita dilanda pandemi covid-19 hingga melumpuhkan hampir seluruh kegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan, tak terkecuali kegiatan MPM.

Alhamdulillah pandemi telah berlalu, Muhammadiyah pun telah berhasil melaksanakan Muktamar ke-48 di Solo dengan sukses pada November 2022 setelah tertunda selama 2 tahun dari jadwal. Pengurus MPM periode Muktamar ke-48 saat ini kembali melihat betapa penting melakukan revitalisasi Jatam guna merespon amanat tanfidz Muktamar ke-48 tentang gerakan pembebasan dhuafa dan mustadh'afin, kaum lemah dan dilemahkan. 

"Kita tahu, selama ini perserikatan petani hanya di tingkat Kelompok Tani yang terdiri dari 30-40 orang. Lalu, 3-4 Kelompok Tani tergabung dalam satu Gapoktan di tingkat Desa. Perserikatan yang hanya beranggotakan sekitar 200 orang itu tentu tidak memiliki kekuatan apa-apa menghadapi ganasnya pasar bebas. Itulah makanya para petani perlu kita ajak berjamaah dalam skala besar, skala Nasional, agar punya posisi tawar yang kuat, bukan hanya terhadap pabrik benih, pupuk, obat-obatan, dan pelaku pasar, tapi juga terhadap pengambil kebijakan. Jatam inilah wadah terbaik yang MPM tawarkan," kata Wahyudi dengan semangat.

Banyak tanggapan yang mengemuka atas ajakan Wahyudi. Zubaidi, petani padi organik dan aktivis Komunitas Rise-Mill Klaten menyampaikan betapa posisi petani memang sangat lemah dan dilemahkan. Di on-farm, petani selalu dihadapkan pada masalah kelangkaan pupuk dan hama yang datang silih-berganti. 

"Cerita tentang kelangkaan pupuk subsidi sudah biasa kita dengar sehari-hari. Di off-farm pun lebih ngeri lagi. Harga jual hasil panen selalu dibatasi sehingga petani tidak bisa untung," kata Zubaidi.  "Para pelaku usaha rise-mill di desa-desa lebih gawat lagi. Saat ini kita  menghadapi ancaman serius munculnya pabrik-pabrik beras skala besar milik para oligarki dengan kapasitas serapan 100 truk alias 1.000 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hari. Cepat atau lambat, usaha-usaha rise-mill skala kecil milik rakyat akan gulung tikar karena tidak kebagian pekerjaan. Jadi, saya setuju sekali bila ada kepedulian dari Muhammadiyah melalui Jatam ini," lanjut Zubaidi.

Akbar Mahali, pelaku dan penggerak usaha ternak kambing bridding dan susu di Wonosari, mengemukakan betapa sektor peternakan juga sangat memprihatinkan. Peternak unggas sangat tergantung permainan pabrik-pabrik DOC, pakan, dan obat-obatan. Pabrik-pabrik itu juga punya kandang skala besar sehingga mereka bisa mengatur harga telor dan daging di pasaran. Peternak sapi juga sulit berkembang karena para pemilik modal lebih memilih impor sapi dari Australia dan New Zeland untuk menuhi kebutuhan daging di pasaran.

"Belum lagi soal virus PMK dan Lato-Lato yang terbaru. Pemerintah sangat terlambat mengantisipasi," kata Akbar. "Kalau mau aman, petani anggota Jatam nanti mending kita ajak beralih ke ternak kambing atau domba. Terserah mau kambing susu atau pedaging. Itu lebih aman. Kebutuhan pasar pun sangat tinggi sehingga harganya relatif bagus," Akbar menambahkan.

Kabul Subahid, mantan aktivis HKTI Klaten yang sekarang aktif mengembangkan budidaya atsiri dan hortikultura di berbagai daerah, menyambut baik bila dibentuk Jatam Klaten. "Dengan kekuatan jaringan organisasi yang rapi dan amal usaha yang luar biasa banyaknya, Muhammadiyah pasti bisa menolong nasib petani," kata Kabul optimis.

Yuwono Haris, alumni Teknik Geodesi UGM yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Kecamatan Gantiwarno, menyambut gembira atas undangan yang diterimanya. 

"Dulu saya yang memprovokasi Pak Nusanto dan kawan-kawan agar melakukan pemuliaan varietas Rojolele. Kita gandeng BATAN untuk itu. Dengan teknologi nuklir, varietas khas Klaten ini bisa kita perpendek usia tanamnya, dari 155 hari menjadi 108 hari, dengan rasa dan wanginya tetap sama," Haris mengenang sejarah 10 tahun lalu. "Jadi, saya sangat mendukung bila Muhammadiyah, persyarikatan yang usianya lebih tua dari Indonesia, sebagai organisasi yang kaya SDM dan amal usaha ini, mengajak para petani untuk bersama-sama berjamaah di Jatam dan berjuang mencapai kesejahteraan bersama," imbuh Haris.

Penanggap yang lain menyampaikan hal yang kurang-lebih sama. Semua mendukung gerakan berjamaah melalui Jatam. Giliran terakhir Nusanto Herlambang, peneliti pemuliaan varietas Rojolele dari Gempol Karanganom yang sejak 2018 telah bekerjasama dengan Lazismu Pusat, MEK PDM Klaten, dan MPM PP dalam program Tani Bangkit,  mengingatkan bahwa bekerjasama di Muhammadiyah ini sangat menyenangkan. 

"Anggota Kelompok Tani kami heterogen. Banyak anggota kami yang warga Muhammadiyah, tapi juga ada yang NU, ada LDII, ada MTA, bahkan ada Nasrani, dan ada juga yang masih Abangan. Tidak masalah," kata Nusanto. "Semua kita layani dengan sama baiknya. Tidak kita beda-bedakan. Islam dan Muhammadiyah itu rahmatan-lil'alamin, menjadi rahmat untuk semua orang, untuk seluruh alam,"  imbuh Nusanto seperti sedang tausiah.

Sebelum mengakhiri pertemuan, Wahyudi membacakan naskah Piagam Pembentukan Jatam Klaten.

"Ini dokumen penting dan bersejarah," kata Wahyudi setelah membacakan naskah. Lalu, semua yang hadir diminta membubuhkan tanda tangan dan nama terang, satu persatu.
 "Tugas kita selanjutnya mengabarkan dan mengajak teman2 petani di Klaten untuk bergabung di Jatam. Teman-Teman siap?," tanya Wahyudi.

"Siapp....," jawab hadirin kompak.

Acara pun ditutup secara resmi tepat pukul 00.00 WIB. Dan seperti biasa, usai acara ditutup masih dilanjutkan ngobrol santai ngalor-ngidul sambil menikmati kopi dan klethikan hingga pukul 01.00 WIB.

#serialpakbei
#mpmppmuhammadiyah
#telahlahirjatamklaten



Senin, 15 Mei 2023

LATO-LATO DAN SAPI KURBAN

LATO-LATO DAN SAPI KURBAN

Baru beberapa hari kemarin Pak Bei ngudarasa tentang trend permainan anak-anak yang cepat sekali habisnya. Lato-Lato, begitu orang sekarang menyebutnya. Permainan itu di masa kecil Pak Bei dulu disebut Thek-Thek, penyebutan sesuai dengan suara yang dihasilkan dari dua bola kecil dan keras yang diikat tali dan diadu pakai satu tangan. Meski tanpa irama selain hanya suara thek-thek-thek, tapi permainan itu sangat digemari anak-anak.

Tapi entahlah, sejak awal Ramadhan bulan lalu, tidak ada lagi anak-anak bermain Lato-Lato di halaman nDalem Pak Bei. Biasanya mereka tiap sore --sambil menunggu waktu takjilan di mesjid-- berlomba betah-betahan bermain thek-thek dengan tingkahnya yang lucu khas anak-anak. Misalnya, sambil sama-sama berdiri satu kaki dan tangan kirinya  berkacak pinggang, atau sambil memejamkan mata, atau dengan gaya yang lain lagi. Yang terhenti duluan mainnya akan malu karena diolok-olok lawannya. Biasanya yang kalah pun akan minta lomba diulangi lagi dengan harapan bisa menang, meski ternyata kalah lagi. Dan seterusnya. 

Tidak jarang Pak Bei memberi memberi hadiah bagi semua peserta meski hanya berupa jajanan anak-anak yang tak seberapa nilainya untuk dimakan di mesjid nanti. Bagi Pak Bei, yang penting anak-anak bisa gembira bermain bersama teman sebaya di luar rumah, tidak hanya tercogok di depan tivi di rumahnya atau asyik melototi gadget entah apa yang ditontonnya. 

Kini tak terdengar lagi suara thek-thek itu. Anak-anak kembali bermain bola plastik seperti dulu. Mereka bukan hanya belajar menendang dan berebut bola dengan kakinya, sambil teriak kegirangan bila bisa masukkan bola ke gawang lawan, tapi juga belajar jauh-jauhan melempar bola. Pengin bisa seperti Arhan Pratama, katanya. Pemain PSSI U-22 itu ternyata cukup populer di kalangan anak-anak, setidaknya di kampung Pak Bei.

"Musim Lato-Lato datang lagi ini, Pak Bei," kata Narjo setelah melempar koran ke lantai kamrin pagi. "Tapi kali ini beda," lanjutnya.

"Beda apanya, Kang? Kan memang sudah habis musimnya."

"Sapi-sapi tetangga saya banyak yang mati. Sakit beberapa hari, lalu mati. Padahal sudah siap dijual untuk hewan kurban," lanjutnya.

"Sakit apa, Kang?"

"Katanya virus Lato-Lato," jawab Narjo. "Kalau kemarin Lato-Lato itu nama permainan anak-anak, sekarang nama virus sapi, Pak Bei."

"Weeh ada penyakit sapi baru lagi to, Kang? Tahun lalu kan ada PMK, Penyakit Mulut dan Kuku?"

"Kali ini namanya Lato-Lato. Entah apa nama ilmiahnya, saya belum tahu. Di sekujur tubuh sapi banyak benjolan seperti bola-bola kecil dan bermanah. Pating prentul, kata orang Jawa. Makanya petani menyebutnya Lato-Lato."

"Petugas dari Puskeswan sudah turun tangan to, Kang?"

"Ya sudah. Sudah disuntik juga sapi-sapi itu, tapi tidak tertolong. Banyak yang mati."

"Wah kasihan sekali, ya. Peternak sapi jadi gagal panen."

"Benar, Pak Bei. Padahal bagi petani, mati satu ekor sapi sama dengan kehilangan tabungan senilai satu sepeda motor. Sudah hasil panen sawahnya tidak seberapa, eeh masih ditambah kehilangan tabungannya. Kasihan banget petani."

Pak Bei jadi teringat si Arya, anak muda yang menekuni peternakan dan bengkel sapi di kawasan Sleman, dan sekarang ikut aktif jadi pengurus Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) di MPM PP Muhammadiyah.
Pada beberapa kali pertemuan, Arya mengingatkan tentang datangnya wabah baru yang bikin heboh di kalangan peternak sapi. Tahun lalu ada wabah PMK, penyakit sapi pada mulut dan kukunya. Bila sempat disembelih sebelum keburu mati, daging sapi yang terkena PMK masih bisa dikonsumsi karena masih sehat. Wabah yang sekarang ini lebih berbahaya lagi. Namanya LSD (Lumpy Skin Desease) atau Lato-Lato, kata orang desa.

"Daging sapi yang terkena Lato-Lato ternyata rusak sehingga tidak layak dikomsumsi," kata Arya. "Tentu ini bukan hanya berdampak serius bagi ekonomi petani, Pak Bei, tapi juga akan berdampak pada penyelenggaraan ibadah kurban pada Idul Adha nanti," lanjutnya.

"Bisa-bisa akan terjadi krisis sapi kurban ya, Mas?," tanya Pak Bei.

"Sangat mungkin, Pak Bei. Saat ini banyak petani-peternak yang takut memelihara sapi. Banyak kandang yang kosong di petani."

"Wah ini bisa bahaya, Mas Arya," Hadi yang jadi Koordinator Jatam Nasional ikut merespon.

"Bagaimana menurut, Mas Hadi?," tanya Arya.

"Berarti ada dua dampak serius yang perlu kita cari solusi dan antisipasi bersama. Pertama, menyangkut nasib petani-peternak sapi yang terancam gagal panen. Kedua, terkait keabsahan berkurban. Ini sudah masalah fikih, masalah syariat."

"Kenapa jadi masalah fikih, Mas Hadi?," tanya Adib yang dari tadi diam memperhatikan pembicaraan.

"Begini lho, Mas Adib," jawab Hadi. "Kurban itu kan termasuk ibadah mahdhah yang sudah jelas tuntunannya. Syarat dan tata cara pelaksanaannya sudah ada, dan sudah disepakati oleh para ulama. Salah satu syaratnya adalah hewan kurban harus dewasa dan sehat," sambungnya.

Mendengar jawaban Hadi yang tampak cukup memahami fikih kurban itu, Pak Bei pun maklum. Hadi ini memang alumni Pondok Gontor Ponorogo. Wajar bila ngaji dan referensi kitabnya agak lumayan. Jadi dia cukup berhati-hati dalam soal ibadah.

"Terus kira-kira apa yang bisa kita lakukan tekait fikih kurban itu, Mas Hadi?," tanya Arya.

"Mungkin bagus kalau kita mengajak Bapak-Bapak di Majelis Tarjih mengkaji masalah ini."

"Wah bagus juga itu," kata Adib. "Saya pikir para fuqaha juga perlu memahami realitas sosial-ekonomi yang tengah terjadi agar bisa merespon dan memberi guiding secara tepat pada umat. Bahkan, mungkin saja nanti perlu ada keputusan resmi Majelis Tarjih terkait kurban di masa wabah sapi seperti saat ini," tambah Adib dengan bersemangat.

"Mungkin begini, Mas Hadi," Pak Bei menyela, "Tampaknya bagus kalau kita adakan sarasehan dengan menghadirkan pakar-pakar peternakan dan kesehatan sapi, para peternak sapi, dan Bapak-Bapak dari Majelis Tarjih."

"Bagus itu, Pak Bei. Bila perlu, forum itu kita selenggarakan secara blanded, luring dan daring, agak masyarakat dari berbagai daerah bisa mengikuti secara daring," kata Arya.

"Ya baiklah, saya setuju. Besok kita lanjutkan obrolan ini. Kita ketemu lagi bikin perencanaan yang baik. Siap?" tanya Hadi sambil memandangi koleganya satu-persatu.

"Insya Allah siap," jawab Pak Bei, Adib, dan Arya kompak.

Obrolan di warung kopi pun bubar sebelum maghrib. Hadi pulang ke Banyuraden, Adib ke Godean, Arya ke Sleman, dan Pak Bei ke Klaten.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatam
#latolatodansapikurban

 






Rabu, 03 Mei 2023

KABAR BAIK DAN PERLU DIKABARKAN

KABAR BAIK DAN PERLU DIKABARKAN

Subhanallah, setelah sekian puluh purnama, setelah genap 3 tahun, terhitung sejak awal pandemi covid-19 pada Maret 2020 hingga hari ini, April 2023, lockdown total Pondok Gontor sudah dibuka kembali.
Puluhan ribu santri dan walisantri tentu menyambutnya dengan gembira, dengan suka-cita.

Selama ini walisantri hanya bisa mendoakan putra-putrinya dari rumah. Para santri-santriwati yang sekarang naik ke kelas 4, bahkan belum pernah merasakan indah dan senangnya dijenguk ayah, ibu dan kakak/adiknya. Mereka masuk ke pondok di saat negeri ini sedang dilanda pandemi. 

Selama ini, apapun yang terjadi pada buah hatinya di pondok, entah sakit, entah kehabisan uang saku, entah lagi ada masalah dengan temannya, atau sedang kangen berat pada bapak-ibu-kakak-adiknya, orang tua dan siapapun tidak diperkenankan masuk ke area pondok. Tidak ada mudif/mudifah. Meski banyak juga yang diam-diam gemes dengan kebijakan lockdown pondok yang super ketat, tapi semua menyadari bahwa kebijakan itu demi kebaikan bersama. Pandemi Covid-19 memang ganas dan nggegirisi, dan Pondok Gontor telah mengambil kebijakan yang tepat: lockdown total.

Alhamdulillah, mulai hari ini para walisantri sudah bisa merencanakan kapan akan mudif/mudifah alias menjenguk putra/putri tercintanya di pondok Gontor, baik yang di Pusat maupun di Cabang-Cabangnya. Selamat bergembira buat semua walisantri pondok Gontor.

Boleh juga kalau ada yang mau sekalian ketemu dan kenalan dengan kami (ciee...). Anak bungsu kami sekarang klas 5H di Gontor Putri 1 Mantingan, Ngawi, Jatim. Tapi harus janjian dulu lho, ya....

#serialpakbei
#wahyudinasution
#kabarbaikdanperludikabarkan
#pondokmoderndarussalamgontor

Selasa, 02 Mei 2023

ELNINO

ELNINO

Bukan Narjo kalau tidak terkesan kementhus, gemblung, dan keminter alias sok tahu. Seperti malam ini, tanpa janjian dan tanpa ngabari sebelumnya, tiba-tiba mak-gruduk datang ke nDalem Pak Bei bersama teman-teman jamaah masjidnya. Pak Bei sebenarnya mau keluar untuk silaturahmi ke salah satu tokoh penggerak pertanian organik di kampung sebelah, tapi terpaksa batal karena kedatangan sahabatnya bersama rombongan.

Pak Bei menduga, kedatangannya ini hanya akal-akalan Narjo yang pengin menunjukkan ke teman-temannya bahwa dia berteman baik dengan Pak Bei, biasa ngobrol dan diskusinya apa saja. Bahkan bukan hanya itu. Narjo tampaknya ingin menunjukkan kelasnya, betapa omongan tentang berbagai hal bukan hanya kaleng-kaleng alias omong kosong, terbukti Pak Bei saja mau mendengarkannya dengan saksama. Ahh dasar Narjo.

"Kami tadi usai sholat isya' ngobrol tentang ancaman Elnino, Pak Bei, tapi teman-teman ini pada gak paham, gak mudheng, makanya kuajak ke sini," kata Narjo.

"Ada apa dengan Elnino, Kang?"

"Pak Bei pasti mengikuti konferensi pers Menteri Pertanian dua hari lalu, kan?"

"Iya, Kang. Kebetulan kemarin aku mengikuti." 

"Bahwa saat ini kita sedang menghadapi ancaman serius bencana Elnino, pemanasan permukaan laut di Samudera Pasifik yang sudah mulai bergeser ke negeri kita. Ini akan berdampak serius pada cuaca kita, musim kemarau akan sangat panas dan kering, bahkan akan terjadi krisis air di sebagian besar wilayah negeri kita."

"Iya katanya memang begitu." 

"Bahwa puncak kekeringan diperkirakan akan terjadi pada bulan Agustus nanti. Ribuan hektar lahan pertanian akan memgalami kekeringan, tanaman pun mati, puso, sehingga dikhawatirkan akan terjadi krisis pangan."

"Iya benar, Kang. Memang sangat mengkhawatirkan. Makanya Presiden instruksi ke Menteri Pertanian agar melakukan berbagai upaya antisipasi."

"Nah benar kan teman-teman, apa kubilang tadi? Pak Bei pasti paham soal ini," kata Narjo pada Mas Tomo, Mas Marno, dan Mas Mardi. "Kalian saja yang kurang piknik. Makanya kalau nyetel tivi jangan cuma lihat sinetron dan iklan, tapi lihatlah berita atau talkshow. Ada info dan ilmu di sana," Narjo menasehati teman-temannya dengan gayanya yang keminter, sok tahu.

"Aku sukanya nonton bola atau badminton saja," kata Mas Tomo.

"Kalau aku suka nonton tinju atau duel UFC. Seru," kata Mas Mardi.

"Kalau aku suka acara pengajian. Gak suka nonton sinetron," kata Mas Marno.

"Sudah, sudah. Nonton apa saja boleh, tapi jangan lupa ikuti juga berita-berita terkini, biar tahu keadaan yang sedang terjadi seputar negeri kita. Biar tidak kegetan."

"Njih, Mas Narjo," Tomo dengan nada bercanda disambut gelak tawa teman-temannya.

"Nuwun sewu, Pak Bei kan termasuk aktivis Muhammadiyah yang peduli pada nasib petani, ketahanan pangan, kedaulatan pangan?"

"Saya ini cuma bagian kecil dalam gerakan itu kok, Kang. Bersama teman-teman, kami berusaha menemani petani, sebisanya."

"Iya tahu. Memang sangat kompleks permasalahan petani dan soal pangan. Maka tidak mungkin ada orang berjuang sendirian. Harus bersama-sama, teorganisir, terprogram dan terencana dengan baik. Sudah benar bila Muhammadiyah sebagai organisasi besar, kaya, dan punya banyak pakar, bisa lebih serius masuk ke sektor ini."

"Iya, Kang. Insya Allah memang begitu."

"Lalu, guna menghadapi ancaman Elnino ini, kira-kira apa saja yang akan dilakukan Muhammadiyah, Pak Bei?"

"Ya banyak, Kang. Banyak program sedang kami siapkan untuk membantu petani."

"Maaf, Pak Bei," Mas Tomo menyahut, "Kalau Muhammadiyah juga masuk ke sektor pertanian, apa nanti tidak tabrakan dengan Pemerintah, dengan program-program Kementerian Pertanian, misalnya?"

"Insya Allah tidak, Mas Tomo. Justru Pemerintah akan sangat terbantu."

"Iya, tentu Pemerintah malah senang mendapatkan mitra dan support dari Muhammadiyah," kata Narjo.

"Selama ini kami bergerak di sektor sosial, dakwah, pendidikan, dan kesehatan juga baik-baik saja, kok. Kami ikut mencerdaskan kehidupan bangsa melalui ribuan sekolah dan Perguruan Tinggi, ikut melayani kesehatkan masyarakat melalui ratusan Rumah Sakit dan Klinik. Kami membangun ribuan masjid dan madrasah agar masyarakat rajin beribadah, taat pada Tuhan Yang Maha Esa. Gak ada masalah, Mas Tomo."

"Iya, Pak Bei, kami percaya itu. Muhammadiyah sudah menjadi bagian terpenting dan tak terbantahkan dalam mengisi kemerdekaan, dalam pengelolaan NKRI," Mas Mardi menyahut.

"Kembali ke soal Elnino tadi, Pak Bei. Apa saja yang akan dilakukan Muhammadiyah?," Narjo mengajak kembali ke tema awal.

"Begini, Kang Narjo. Seperti Mas Tomo, Mas Marno, dan Mas Mardi ini, pada umumya rakyat belum paham soal Elnino. Pernah dengar saja mungkin belum. Maklum saja, ini termasuk hal baru, maka rakyat belum ngeh, belum merasa penting memahaminya."

"Iya benar. Terus bagaimana?"

"Kami akan membantu Pemerintah melakukan sosialisasi tentang ancaman Elnino ini, Kang, dan menawarkan  solusi atau cara praktis yang bisa dilakukan petani agar tidak terjadi gagal panen."

"Caranya?"

"Kami akan mengawali program dengan bikin acara Webinar, seminar online, mengundang para petani, pemerhati pertanian, akademisi, dan Pemerintah sebagai peserta. Menteri Pertanian akan kami minta jadi narasumber utama karena beliau yang paling bertanggung jawab soal ancaman krisis pangan."

"Wah bagus itu. Lalu siapa lagi narasumbernya?"

"Beberapa teman di Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah yang termasuk pakar soal klimatologi dan pertanian organik juga akan kami minta jadi narasumber."

"Wah tepat itu, Pak Bei," kata Narjo.

"Maksudnya?"

"Soal partanian organik itu tadi klop dengan arahan Presiden pada Menteri Pertanian kemarin."

"Klop bagaimana?"

"Ancaman krisis pangan ini kan juga akibat dari kurang produktifnya petani kita. Lahan pertanian semakin berkurang karena sudah banyak berubah jadi property dan jalan tol. Lahan pertanian tidak subur lagi akibat penggunanan pupuk kimia sejak puluhan tahun yang lalu. Sudah tidak subur, banyak penyakit lagi. Jadi perlu ada upaya sungguh-sungguh guna memulihkan kesuburan lahan pertanian. Solusinya adalah kembali pada penggunaan pupuk organik. Syukurlah kalau Muhammadiyah juga ada arah gerakan ke sana dan sudah ada pakarnya."

"Iya, Kang. Insya Allah kami serius, tidak main-main."

"Kami percaya, Pak Bei," Mas Mardi menyahut, "Setahu kami, Muhammadiyah memang tidak pernah tidak bersungguh-sungguh dalam melayani masyarakat."

"Dan satu lagi, Pak Bei," Mas Tomo menimpali, "Muhammadiyah melayani semua orang, tidak membeda-bedakan. Orang dari suku apapun dilayani. Dari agama apapun dilayani. Dari ormas Islam manapun dilayani. Semua dilayani dengan sama baiknya. Itu yang kami tahu, Pak Bei."

"Ya memang Muhammadiyah untuk semua, for all. Makanya soal pertanian dan nasib petani juga menjadi perhatian Muhammadiyah. Begitu kan, Pak Bei?," Narjo kembali keminter

"Sudah larut malam, Mas. Sebaiknya kita istirahat. Besok Kang Narjo harus kerja pagi, kan?"

"Kami juga harus ke sawah bakda shuhuh, Pak Bei," kata Mas Marno.

"Baiklah mari kita pulang, Lur. Terima kasih atas waktunya ya, Pak Bei. Kami pamit dulu."

"Terima kasih juga atas karawuhan Kang Narjo dan teman2. Hati-hati di jalan, ya."

Pak Bei nguntapke, melepas kepulangan tamunya hingga ke gerbang. Orang-orang desa, wong cilik, tapi mau belajar dan rajin silaturahmi. Memang hebat Kang Narjo.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#elnino
#mpmppmuhammadiyah