Senin, 24 Juli 2023

MERDEKA...!!! BELUM....

MERDEKA...!!! BELUM....

"Sebentar lagi masuk bulan Agustus, Pak Bei," kata Kang Narjo setelah melemparkan koran ke lantai. 

"Iya, Kang. Seminggu lagi bulan Agustus," jawab Pak Bei sambil melepas kacarmata bacanya.

Melihat respon Pak Bei, Kang Narjo segera matikan motornya, lalu naik ke teras dan ikut duduk di kursi depan  Pak Bei. Pak Bei pun  hafal, itu tandanya Kang Narjo butuh istirahat, pengin ngopi dan ngobrol. Maka segera diorderkannya ke Cahya segelas kopi nDoro Bei, kopi robusta asli dari Semendo yang bikin banyak teman Pak Bei ketagihan.

"Kulihat sudah banyak panitia 17-an heboh, kerja bakti ramai-ramai, bikin  publikasi, dan nyiapkan perlombaan. Tampaknya peringatan 17-an tahun ini akan lebih meriah, Pak Bei."

"Ya wajarlah, Kang. Kebetulan pas tahun politik, banyak orang berusaha mencari simpati rakyat, ringan tangan ikut nyumbang dana panitia 17-an. Bagus itu."

"Kok bagus, Pak Bei? Bukannya malah akan bikin masyarakat terpecah-belah?"

Cahya keluar menyuguhkan segelas kopi untuk sahabat ayahnya. "Silakan diminum, Pakdhe Narjo," katanya.

"Iya, Mas. Pakdhe ini memang sudah kangen kopi buatanmu. Matur nuwun ya, Le."

"Kang, tentu rakyat sudah semakin dewasa dan tidak gampang diadu-domba lagi. Rakyat tentu sudah capek diadu-domba terus setiap pemilu, pilpres, pilgub, pilkada, dan pilkades." 

"Iya, Pak Bei. Semoga begitu."

"Kemerdekaan perlu dirayakan dan disyukuri, perlu terus diperingati guna memupuk nasionalisme generasi muda, anak-anak kita."

"Iya bener."

"Dan itu perlu biaya yang tidak sedikit, Kang. Maka biarlah para politisi dan caleg berlomba jadi sponsor."

"Tapi sudah terlanjur salah kaprah kok, Pak Bei."

"Maksudnya?"

"Tradisi peringatan kemerdekaan kita di mana-mana cuma ajang bersenang-senang. Guyonan. Tidak ada yang sungguh-sungguh. Aneka pertandingan olar raga dan permainan digelar hanya sekedar guyonan, bukan benar-benar olah raga untuk prestasi, misalnya. Juga tidak ada agenda memupuk nasionalisme agar generasi muda siap menjadi bangsa yang bermartabat. Ada juga sih malam tirakatan digelar, tapi ya cuma untuk pembagian hadiah lomba dolanan anak-anak, lalu orang-orang dewasa lanjut ngobrol atau main gaple sampai pagi."

"Mestinya bagaimana, Kang?"

"Mbokya masyarakat diajak mikir, merenungi keadaannya, nasibnya, apa benar kita ini sudah merdeka? Lha yang di atas saja malah memberi contoh tidak baik, kok."

"Yang mana, Kang?"

"Pak Bei pasti masih ingat peringatan 17 Agustus di Istana Negera tahun lalu."

"Yang mana?"

"Itu lho, upacara bendera yang diakhiri dengan penampilan penyanyi anak-anak menyanyikan lagu dangdut koplo, jenis musik dan lagu yang tidak pas untuk anak seusianya. Tapi semua pejabat tinggi negara malah ikut jogetan. Sungguh memalukan, Pak Bei."

"Bukannya malah bagus, Kang? Istana Negara jadi terkesan merakyat. Tidak sangar gitu loh."

"Saya malah kasihan perkembangan anak itu."

"Kenapa kasihan? Kan mendadak jadi artis terkenal, lalu dapat undangan pentas di mana-mana, dapat banyak duit."

"Mungkin secara materi keluarganya jadi mentereng, jadi kaya-raya. Tapi siapa yang tahu pertumbuhan kejiwaan anak itu sekarang? Inilah yang kumaksud kita ini salah kaprah memperingati kemerdekaan."

"Biasa sajah, Kang."

"Rakyat dininabobokkan dengan Bansos, PKH, BLT, dan amplop sogokan politik yang bertebaran setiap menjelang pemilu. Rakyat pun bangga mengaku miskin demi mendapatkan Bansos dan sebagainya itu. Padahal itu semua duit utangan, Pak Bai, Hutang Luar Negeri."

"Begitu ya, Kang?"

"Sebagian kecil dibagikan ke rakyat miskin agar tenang dan tidak protes. Padahal, sebagian besar untuk membiayai proyek-proyek raksasa milik mereka sendiri. Sebagiannya lagi dibagi-bagi untuk memuluskan dan mengamankan proyek. Rakyat dan anak turun kita yang harus di menanggung hutang itu, Pak Bei. Kayak gitu kok bisa-bisanya teriak Merdeka. Memangnya kita sudah merdeka?"

"Kemerdekaan kan perlu proses, Kang. Tidak datang tiba-tiba dari langit. Kemerdekaan bukan hadiah, tapi harus direbut dan diperjuangkan."

"Lah itu, Pak Bei. Ittuuh...."

"Ittuuh apanya?"

"Kemerdekaan harus direbut dan diperjuangkan. Saya setuju itu."

"Ya terus...."

"Rakyat harus disadarkan, Pak Bei. Rakyat ini masih terjajah, bahkan dijajah oleh bangsanya sendiri. Kita ini belum merdeka. Di sektor pangan saja belum berdaulat kok teriak merdeka."

"Belum berdaulat bagaimana to, Kang? Pangan kita kan hasil jerih payah petani kita sendiri?"

"Woalah Pak Bei, Pak Bei. Mbok nyebut. Eling. Kalau perlu kapan-kapan saya jelaskan agar lebih gamblang."

"Jigur tenan Kang Narjo," kata Pak Bei dalam hati. "Sudah dilayani ngobrol baik-baik kok malah ngece. Seolah aku ini goblok polKesambet apa orang ini tadi?"

"Ya sudahlah, Pak Bei. Silakan merenung. Saya mau melanjutkan tugas negara dulu, mengantar berita baik, bukan kabar Hoax. Wassalam....," kata Kang Narjo sambil meninggalkan Pak Bei yang masih dheleg-dheleg kena teror omongannya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#merdeka...!belum....



Sabtu, 08 Juli 2023

RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU

RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU

Namanya cukup singkat, Prawoto. Orang-orang biasa memanggilnya Woto, Kang Woto, atau Lek Woto. Laki-laki paroh baya itu kerjanya serabutan. Tidak punya pekerjaan tetap, tapi tetap bekerja. Dia rajin menawarkan tenaga dari rumah ke rumah untuk sekedar benerin genteng, nyapu halaman, nebang pohon, nyabuti rumput di halaman, bikin lubang pembuangan sampah, atau pekerjaan kasar apa pun yang penting dia bisa mendapatkan nafkah untuk istri dan 5 anaknya yang masih sekolah, bahkan ada yang masih balita.

Sudah beberapa tahun Bu Bei rutin setiap bulan memanggil Lek Woto untuk bersih-bersih halaman. Bila Bu Bei kebetulan lupa, istri Lek Woto yang kirim WA menanyakan ada pekerjaan apa untuk suaminya. Bila sudah ditanyai begitu, biasanya Bu Bei terus mencari-carikan pekerjaan untuk Lek Woto, meski kadang terkesan mengada-ada.

"Itu cara kita membantu keluarga Lek Woto. Anak-anaknya butuh makan dan sekolah," begitu Bu Bei ketika menjawab 'komplain' Pak Bei.

Seperti biasanya, pagi ini Lek Woto datang diantar istrinya naik motor sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Melihat kedatangannya, Bu Bei yang lagi ngobrol di teras dengan Pak Bei pun langsung turun ke halaman untuk mengarahkan pekerjaan yang perlu dilakukan Lek Woto dalam 2-3 hari ke depan.

"Bersihkan halaman ini dulu ya, Lek. Rumputnya kok cepat sekali tumbuhnya. Jadi kotor dan njembrung begini," kata Bu Bei.

"Injih, Bu Bei. Rumput teki  memang begitu. Akarnya sangat kuat dan bandel.
Gak cocok untuk hiasan halaman," jawab Lek Woto.

"Apa harus pakai obat rumput, Lek?"

"Diobati juga gak mempan kok, Bu Bei."

"Lha terus gimana solusinya?"

"Kalau rumah tetangga saya pakai rumput jepang, Bu Bei. Setelah rumput teki dibersihkan, sela-sela paving ditanami rumput jepang. Setelah tumbuh jadi bagus kelihatannya."

"Sebenarnya kalau sudah dipasangi paving yang gak perlu rumput lagi, Lek."

"Itu untuk menghambat suket teki kok, Bu Bei," jawab Lek Woto.

"Ah sudahlah, Lek. Yang penting hari ini bersihkan dulu rumput-rumput liar itu, ya."

"Baik, Bu Bei. Siap."

Kang Narjo si loper koran datang. Seperti biasanya, setelah melemparkan koran ke lantai, dia pun sok akrab dulu dengan Pak Bei atau Bu Bei, mengomentari apa saja yang mengganggu pikirannya, atau curhat tentang masalah yang terjadi di kampungnya. Pagi ini, melihat Bu Bei sedang memperhatikan Lek Woto mencabuti rumput teki, Kang Narjo pun seolah mendapatkan tema obrolan.

"Rumput teki memeng mengganggu ya, Bu Bei," kata Kang Narjo.

"Iya, Kang Narjo. Bandel banget. Cepat sekali tumbuhnya. Sudah dipaving pun tetap bisa nembus sela-selanya."

"Harus ganti rumput, Bu Bei."

"Maksudnya?"

"Pantesnya nDalem Pak Bei jangan dipaving, tapi pakai rumput yang standar stadion Internasional. Dilihat tampak bagus, dipakai bermain anak-anak pun nyaman."

"Harus impor, Kang? Pasti mahal harganya."

"Gak usah pakai yang impor, Bu Bei. Pakai yang 100% produk lokal juga ada."

"Memangnya ada rumput lokal yang standar Internasional?"

"Wah Bu Bei ini pasti gak pernah baca koran. Gak ngikuti berita panas seputar Jakarta International Stadium."

"Saya malas baca berita politik, Kang. Bikin hati gak tenang."

"Ya tapi soal rumput stadion ini menarik, Bu Bei."

"Apa menariknya?"

"Rumput lapangan bola itu dianggap tidak layak, tidak memenuhi standar FIFA, maka harus diganti total. Tiga menteri sudah turun memeriksa rumput itu. Tapi lucunya, pernyataan tidak layak itu ternyata berdasar informasi dan penilaian dari penjual rumput lapangan golf."

"Ah, orang bisnis memang sukanya begitu ya, Kang. Kecap saya yang nomor satu. Meninggikan mutu dagangannya dengan menjelekkan dagangan orang lain."

"Padahal, Bu Bei, stadion itu sudah pakai rumput hybrid, lho. Rumput syntetis Limonta dari Italy 5% dimix dengan rumput Zoisia Matrella dari Boyolali yang 95%. Dan itu sudah sesuai standar FIFA."

"Loh, 95% rumput dari Boyolali?"

"Iya, Bu Bei. Bener."

"Lha kok elok temen orang Boyolali."

"Itulah, Bu Bei, tapi kita ini terlanjut silau dengan apa saja yang diimpor dari luar negeri. Ada rumput jepang, ayam bangkok, perkutut bangkok, jambu bangkok, pepaya thailand atau california, dan sebagainya. Padahal produk lokal kita tidak kalah bagusnya."

"Ya sudah, tolong Kang Narjo carikan alamat pembudidaya rumput di Boyolali itu. Kapan-kapan akan kuajak Pak Bei melihat ke sana. Kalau memang bagus dan harganya terjangkau, bisa saja paving ini nanti kita bongkar dan diganti rumput Boyolali."

"Siap, Bu Bei. Saya pamit dulu, ya. Melanjutkan tugas negara...," Kang Narjo berpamitan dengan gayanya yang khas, sambil pringas-pringis.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#rumputtetanggalebihhijau







 Atau kalau tidak, Bu Bei beli saja rumput sintetis, digelar di atas paving ini pasti bagus.