Sabtu, 23 September 2023

ALAMIAH ATAU BY-DESAIN

ALAMIAH ATAU BY-DESAIN

Entah ketempelan apa dan dari mana, pagi itu setelah melemparkan koran di lantai,  tiba-tiba Kang Narjo seperti orang ngomyang, nerocos berbagai hal, ngalor-ngidul, tidak peduli apakah Pak Bei yang sedang momong Eza cucunya yang lucu itu siap mendengarkan atau tidak. Yang membuat Pak Bei agak risau terutama ketika omongan Kang Narjo sudah masuk ke tema dan ranah politik. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga Kang Narjo. Loper koran senior itu memang punya budaya baca yang lumayan bagus. Setiap pagi dibacanya dulu semua headline dan tajuk di koran-koran yang mau diantarkannya ke pelanggan. Prinsipnya cukup bagus. Dia hanya menyampaikan berita setelah dia sendiri membaca dan memahaminya.

"Saya ini bertanya-tanya, Pak Bei. Penasaran," kata Kang Narjo sambil tetap duduk di atas motornya.

"Tentang apa, Kang?"

"Semua kejadian dan kahanan yang terjadi akhir-akhir ini, itu alamiah apa by desain?"

"Kejadian apa, Kang? Kok serius banget mikirmu. Slow wae-lah," kata Pak Bei setelah menyerahkan Eza pada mamanya di dapur.

"Banyak kejadian yang kita pantas bertanya-tanya, Pak Bei. Ndelalah ini kan tahun politik. Kita lihat semua politisi, entah capres-cawapres atau caleg-caleg, seolah tiap hari mendemonstrasikan kehebatannya di mata rakyat."

"Ya iyalah, Kang. Ini memang saatnya semua politisi memoles diri, mem-branding dan menawarkan dirinya supaya tampak hebat dan menarik sehingga nanti dipilih oleh rakyat, diamanahi rakyat sebagai Dewan Perwakilan atau Presiden dan Wakil Presiden, Pemimpin tertinggi di negeri ini."

"Iya saya paham, Pak Bei. Tentu semua juga sudah menyiapkan dana dalam jumlah besar, bahkan sangat besar untuk ukuran kita, untuk membeli simpati calon pemilih. Namanya juga orang kampanye. Jer basuki mawa bea, kata orang Jawa. Untuk mendapatkan kekuasaan harus mengeluarkan biaya besar."

"Kang Narjo sudah paham gitu kok."

"Masih banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya, Pak Bei."

"Apa saja?"

"Misalnya tentang krisis beras beberapa bulan terakhir dan entah sampai kapan akan kelar."

"Loh kan sudah jelas soal krisis beras ini karena faktor elnino yang berdampak terjadinya gagal panen di mana-mana, Kang. Pemerintah juga sudah kerja keras mendatangkan 3 juta ton beras impor dari Vietnam, Kamboja, Thailand dan sebagainya, demi mencukupi ketersediaan pangan ratusan juta penduduk."

"Iya, Pak Bei. Memang begitu yang beredar di berita-berita koran maupun medsos."

"Lantas?"

"Nuwun sewu lho, Pak Bei. Mungkin saya termasuk orang yang tidak mudah percaya berita yang kita baca di media."

"Kang Narjo ini loper koran cap apa? Hampir setengah abad tiap pagi ngantar berita koran kok malah meragukan berita media."

"Ya justru karena saya sudah khatam logika pemberitaan, maka saya paham bahwa yang terjadi sebenarnya tidak pernah muncul di media."

"Terus, menurutmu apa yang sebenarnya terjadi di perberasan kita?"

"Ha ha haaa....gak enak, Pak Bei."

"Kenapa gak enak?"

"Boleh jadi impor beras yang jutaan ton itu terkait dengan biaya politik menjelang Pemilu yang sangat tinggi, Pak Bei."

"Maksudmu?"

"Itu kurang lebih sama saja dengan kasus Rempang yang bahkan sampai membahayakan keutuhah bangsa dan negara ini."

"Kok bisa, Kang?"

"Soal Rempang itu juga terkait kebutuhan biaya politik para politisi yang sangat tinggi. Ingat Pak Bei, itu terkait dengan investor yang konon siap investasi 300an Triliun di sana."

"Tapi kenapa sampai membahayakan keutuhan bangsa dan negara, Kang? Ngeri sekali membayangkan kalau sampai terjadi konflik antar-etnis, kan?"

"Memang ngeri, Pak Bei. Tapi itu kan sudah jadi pakem-nya orang di politik."

"Pakem bagaimana maksudmu, Kang?"

"Pak Bei pasti paham, politik itu soal berebut kekuasaan dan asset. Itu membutuhkan mental 3 T."

"Apa itu?"

"Tegel alias tega hati dan tidak berbelas kasihan. Teteg alias ndableg alias gak mau tahu akibatnya bagi orang lain. Tipu-tipu alias sanggup berbohong dan menipu."

"Ah masa begitu, Kang?"

"Makanya saya bertanya-tanya atas berbagai kejadian di negeri ini. Pak Bei bisa membayangkan berapa succes fee dari masuknya investasi itu?"

"Gak paham aku, Kang."

"Saya pun bertanya-tanya soal banyaknya pabrik tektil, garmen, dan manufaktur yang bangkrut, juga pedagang pasar Tanah Abang, Mangga Dua, Cipulir, PGS Solo, dan lain-lain yang bangkrut. Ada apa ini sebenarnya? Saya percaya, itu bukan semata-mata karena kebijakan Pemerintah yang salah, tapi bisa juga karena faktor perilaku para pengusaha yang lengah terhadap perubahan zaman."

"Wah kok berat sekali omonganmu pagi ini. Ketempelan dari mana, Kang? Sudahlah, ayo kita kerja sesuai kemampuan kita saja. Sana Kang Narjo lanjutkan ngantar koran, saya mau lanjut momong cucuku."  

Kali ini terpaksa Pak Bei mengakhiri obrolan sambil setengah mengusir sahabatnya. Perut masih kosong karena belum sarapan kok diberondong tema-tema kegelisahan Kang Narjo yang cukup berat. Kalau diterus-teruskan, bisa-bisa hilang selera makan Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmklaten















Rabu, 13 September 2023

TANPA KOMITMEN DAN KEBERPIHAKAN

TANPA KOMITMEN DAN KEBERPIHAKAN

Kali ini Pak Bei merasa kedatangan tamu istimewa. Tamu agung. Sanusi namanya, seniornya di dunia usaha konveksi. Tiba-tiba saja Sanusi datang tanpa ngabari sebelumnya. 

Sudah lama Pak Bei tidak ketemu dengan Sanusi, sekitar satu dasa warsa, sejak temannya ini meninggalkan dunia konveksi dan beralih ke usaha property. Mungkin karena kesibukan masing-masing di dunia usaha yang berbeda, mereka jadi jarang bertemu.

"Tiba-tiba habis 'ashar tadi aku teringat kopi Pak Bei. Sudah lama sekali gak ngopi di sini," kata Sanusi.

"Alhamdulillah, matur nuwun Mas Sanusi kangen kopiku," jawab Pak Bei. "Tunggu sebentar, ya," Pak Bei pun langsung ke dapur membuatkan kopi spesial untuk suhunya di usaha konveksi itu. Tak berapa lama, Pak Bei sudah kembali ke teras sambil membawa nampan dengan dua gelas kopi Semendo andalannya. 

"Gimana, masih jalan konveksimu?," tanya Mas Sanusi sambil menuangkan kopi panas di lepek.

"Alhamdulillah masih, Mas. Harus jalan terus."

"Ada berapa karyawanmu sekarang?"

"Masih ada 25, Mas."

"Masih lumayan itu. Sentra konveksi di kampungku sudah lama bubar. Tidak bisa bertahan. Bangkrut semua."

"Memang berat, Mas. Semakin berat. Tapi karena ini sudah menjadi penghidupan banyak orang, ya harus kami pertahankan, Mas."

"Ya pasti berat. Bagaimana mungkin usaha-usaha kecil dengan modal terbatas harus berhadapan dengan pabrik-pabrik besar bermodal besar dan didudukung Pemerintah?," kata Mas Sanusi lalu menceritakan alasannya dulu beralih usaha.

Dikenangnya dulu sekitar tahun 2011/2012, Pemerintah Provinsi sangat agresif menggaet pabrik-pabrik garment di Jabodetabek dan Bandung Raya agar berinvestasi di Jawa Tengah dengan  merelokasi pabriknya ke Kab. Semarang dan eks-Karesidenan Surakarta.
Berbagai kemudahan dan fasilitas disediakan untuk investor. Dari urusan pengadaan lahan, pembangunan pabrik, tetek-benget perizinan, hingga rekrutmen tenaga kerja pun difasilitasi penuh dengan biaya APBD Provinsi.

"Tentu Pak Bei masih ingat, waktu itu Dinas Perindustrian Provinsi mendirikan Balai Latihan Kerja sangat besar, lalu merekrut puluhan ribu lulusan SMA/SMK se-Jawa Tengah untuk dilatih menjadi calon operator mesin jahit dan ditempatkan di pabrik-pabrik garment relokasi itu."

"Iya, Mas. Saya masih ingat. Bahkan dulu sempat diminta nyarikan lulusan SMK untuk dikirim ke sana."

"Pemerintah seolah lupa peran penting usaha-usaha konveksi yang bertebaran di daerah-daerah. Usaha-usaha kecil itulah yang selama ini berjasa besar menghidupkan perekonomian daerah. Ribuan tenaga kerja terserap di usaha-usaha konveksi rumahan itu. Dulu, hampir semua barang di Pasar Klewer adalah produk konveksi rumahan, lho."

"Iya benar, Mas. Sekarang lebih banyak barang dari Tanah Abang dan produk impor dari China."

"Kita ini sebenarnya tidak anti-investor kan, Pak Bei?"

"Iya benar, Mas. Kita dukung setiap upaya untuk kebaikan masyarakat."

"Tapi sejak awal saya sudah melihat memang tidak ada komitmen dan iktikad pemihakan pada usaha kecil, Pak Bei. Investor disubyo-subyo, digelarkan karpet merah. Sebaliknya, usaha kecil justru digilas dan lemahkan. Itulah makanya dulu saya pilih langsung ganti usaha saja."

"Sebenarnya maksud Pemerintah baik lho, Mas. Menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya dan menambah devisa sebesar-besarnya."

"Maksud baik tapi tanpa regulasi yang bagus dan komprehensif, hasilnya cuma ketimpangan seperti sekarang ini, Pak Bei. Keberadaan UMKM tidak dilindungi. Mereka jadi kesulitan meregenerasi tenaga kerjanya. Anak-anak muda lulusan sekolah semua disedot ke pabrik. Yang tersisa di usaha rumahan tinggal yang tua-tua, yang sudah menurun produkstivitasnya."

"Iya benar sekali, Mas."

"Kesulitan cari tenaga kerja muda kulihat bukan hanya terjadi pada usaha konveksi, Pak Bei. Di sentra-sentra usaha furniture, pandai besi, apalagi di sektor pertanian, semua juga mengalami krisis tenaga kerja."

"Tapi UMKM yang justru disalahkan oleh Pemerintah lho, Mas. Dianggap kurang responsif pada perkembangan jaman. Tidak memodernisir peralatan dan manajemen usaha."

"Ya memang. Harus diakui, umumnya pelaku usaha terlambat mengantisipasi perubahan jaman. Tapi menurutku, seharusnya itu tugas Pemerintah, Pak Bei. UMKM harusnya didamping, bukannya dilepas agar bertempur head to head terhadap pabrik besar dengan kapital super besar dan peralatan modern. Ya pasti keok. Seharusnya UMKM diproteksi agar tetap hidup. Tapi masalahnya memang tidak ada komitmen ke sana. Ya sudah, jebol kabeh jadinya."

"Situasi ini sekarang juga dialami teman-teman pelaku usaha penggilingan padi, Mas. Mereka tergilas pabrik2 beras skala besar yang menguasai pembelian gabah dari petani. Taman-teman rice-mill banyak yang nutup usahanya."

"Iya saya juga mengikuti berita itu. Hancur-hancuran semua. Belum lagi kasus di Pulau Rempang Batam itu. Runyam betul. Ini ujian berat bagi Pemerintah, mau terus nyubyo-nyubyo investor atau mau melindungi segenap rakyat dan tumpah darah. Beraaat..."

Kumandang azan maghrib mulai terdengar bersahutan dari masjid-masjid sekitar kampung Pak Bei. Obrolan dua sahabat pun berakhir. Keduanya segera bergegas ke masjid depan nDalem Pak Bei untuk siap-siap ikut shalat berjamaah.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah











Jumat, 08 September 2023

GONJANG-GANJING DAULAT PANGAN

GONJANG-GANJING DAULAT PANGAN

"Pak Bei kok lama gak nongol di status FB, ada apa? Sehat, kan?" tanya Lek Sodiq via pesan WA. Ini penanya via WA yang ketiga, dan hanya dijawab sekenanya oleh Pak Bei 'Ya ditunggu saja' atau 'Masih nunggu si Ilham belum datang' atau 'Durung wayahe'. Pertanyaan pun tidak berlanjut. Pak Bei kembali asyik dengan aktivitas sebelumnya.

Tentu jawaban Pak Bei akan berbeda kalau pertanyaan itu disampaikan secara langsung, ketemu tatap muka sambil wedangan, misalnya. Biasanya Pak Bei melayani setiap obrolan dengan sabar, dijawabnya semua pertanyaan dengan baik, dan dijelaskannya panjang-lebar bila penanya perlu perjelasan. 

Tapi kadang-kadang Pak Bei juga lebih memilih mendengarkan saja, sambil sesekali nyenggaki atau memancing petanyaan agar temannya yang lebih banyak bicara. Seperti dengan Kang Narjo, misalnya. Pak Bei tahu Kang Narjo kadang butuh curhat, butuh tempat membuang limbah kegelisahan, butuh teman glenak-glenik. Jadi dia yang kadang justru lebih banyak bicara kalau ketemu Pak Bei, seakan sedang menyampaikan aspirasi.

"Soal beras kok jadi ewuh-aya begini ya, Pak Bei," kata Kang Narjo sambil turun dari motornya.

Pak Bei yang lagi asyik baca berita online pun langsung menutup HPnya, membuka dan melepas kacamatanya, lalu turun duduk lesehan bersama Kang Narjo.

"Bagaimana Pak Bei membaca situasi perberasan yang gonjang-ganjing tak kunjung selesai ini?" tanya Kang Narjo.

"Ya biasa saja, Kang. Produktivitas petani kita masih rendah, ditambah musim kemarau yang bikin banyak sawah kekeringan dan gagal panen."

"Ya itu, Pak Bei. Katanya dampak Elnino. Gabah jadi langka sehingga harga beras di pasaran jadi mahal dan naik terus." 

"Tapi petani justru senang lho, Kang. Baru kali ini harga gabah panenannya dihargai tinggi oleh para tengkulak, jauh lebih tinggi dari harga yang dipatok Pemerintah. Dibayar cash lagi."

Cahya putra sulung Pak Bei  datang membawa nampan dengan dua gelas kopi.

"Monggo ngopi dulu, Pakdhe Narjo," Cahya mempersilakan sahabat ayahnya.

"Ooh ya, Le. Terima kasih, ya. Sini ikut ngobrol dulu," Kang Narjo ngajak Cahya gabung ngobrol.

"Ngobrol apa, Pakdhe?" tanya Cahya.

"Ini lho, Le. Negeri kita ini kok semakin mengkhawatirkan."

"Yang mana, Pakdhe?"

"Kedaulatan pangan kita dalam bahaya, Le. Ini lagi gonjang-ganjing tak kunjung berakhir."

"Ooh soal harga beras yang mahal dan terus naik ini, maksudnya?"

"Ya itulah, Le. Kelihatannya cuma soal beras, tapi menurutku ini soal kedaulatan negara yang sedang dalam ancaman, dalam bahaya, Le."

"Kok jadi sejauh itu, Pakdhe?"

"Ya jelas to, Le. Kita jangan merasa merdeka lalu teriak-teriak 'merdeka' kalau ternyata soal pangan untuk rakyat tidak mampu berdaulat. Kalau pangan kita dikuasai hanya oleh segelintir orang, lalu jutaan rakyat berada dalam ancaman kesulitan mendapatkan makanan, apakah itu kemerdekaan? Kalau isi perut jutaan rakyat sehari-hari harus menunggu bantuan sedekah atau bantuan sosial dari Pemerintah, apa itu cita-cita proklamasi 45?," Kang Narjo seakan mahasiswa sedang pidato di mimbar bebas menjelang reformasi 1998.

"Omonganmu kok kadohan to, Kang. Ngelantur ke mana-mana. Mbok agak diremlah," Pak Bei mengingatkan sahabatnya.

"Gap papa, Yah. Biarkan saja. Cahya senang kok Pakdhe Narjo masih punya semangat '45 begini," kata Cahya.

"Masalahnya kan sudah jelas, Le. Sangat jelas, cetha wela-wela, kata orang Jawa."

"Jelas bagaimana, Pakdhe?"

"Negara pasti tahu dan punya data berapa luas lahan pertanian dan berapa hasil per musim tanam padi kita, juga tahu berapa produksi padi per tahun. Tentu punya hitungannya."

"Ya pasti, Pakdhe. Kan ada BPS yang selalu update data."

"Betul, Le. BPS pasti juga punya data berapa lahan pertanian kita berkurang setiap tahun karena berubah jadi properti dan jalan tol. Jadi BPS sudah tahu betul berapa total produksi beras kita setiap tahun."

"Pasti tahu, Pakdhe."

"BPS pasti juga punya data ada berapa ribu usaha rise mill atau penggilingan padi dan kapasitas produksinya di setiap daerah. Juga tahu apakah keberadaan rise mill itu sudah mencukupi untuk memproses pasca-panen dari seluruh lahan yang ada."

"Iya, Pakdhe. Pasti tahu."

"Tapi kenapa Pemerintah mengijinkan para konglomerat juga masuk di sektor usaha beras?"

"Apa masalahnya, Pakdhe? Ini kan jamannya perdagangan bebas. Semua orang punya hak yang sama untuk berdagang."

"Nalarku ini sederhana saja kok, Cah Bagus. Coba hitung-hitungan. Kita berasumsi saja, ya."

"Bagaimana, Pakdhe?"

"Seandainya produksi padi dari total luas lahan kita hanya 2 juta ton per musim tanam, dan sudah ada 200 unit rise mill dengan kapasitas produksi masing-masing 10 ton per unit. Itu artinya seluruh hasil panen dari petani kita sudah tertangani oleh 200 rise mill unit yang ada. Dan selama ini tidak terjadi gejolak harga beras di pasaran."

"Iya benar, Pakdhe."

"Lha kalau kemudian Pemerintah mengijinkan pendirian beras skala raksana dengan mesin canggih, dengan kapasitas produksi 1000 ton gabah kering panen per hari, itu kan sama seja membiarkan terjadi perampasan pekerjaan 200 penggilingan skala kecil yang sudah ada selama ini. Iya to, Le?"

"Iya ya, Pakdhe. Seharusnya pekerjaan bisa dibagi untuk 200 usaha milik rakyat, sekarang dimonopoli oleh satu pengusaha saja."

"Betul, Le. Itulah kenapa di mana-mana terjadi usaha penggilingan padi milik rakyat berehenti beroperasi, alias tutup. Tidak kebagian pekerjaan, Le."

"Kabarnya harga gabah di tingkat petani jadi mahal dan terus naik ya, Pakdhe?"

"Ya pasti, Le. Untuk memenuhi kapasitas produksinya, pabrik besar itu berani membeli mahal gabah panenan dari petani. Berapapun petani minta, pasti dibayar cash. Penggilingan kecil jelas tidak mampu bersaing, Le."

"Ooh jadi itu ya masalahnya,  kenapa kamarin ribuan usaha rise mill di Banten demonstrasi menuntut agar pabrik beras skala raksasa itu ditutup."

"Ya itulah, Le. Tapi ah sudahlah. Para pemangku kepentingan justru menyalahkan petani dan musim kok, Le. Mau apa kita?"

"Berdoa saja, Pakdhe."

"Doa apa kira-kira yang cocok, Le."

"Sapu jagad, Pakde....wkkkk."

Kang Narjo dan Pak Bei tertawa mendengar guyonan Cahya. Itu goyunan pari kena, candaan tapi mengena. Karena memang sesungguhnya sebagai rakyat biasa, Kang Narjo dan Pak Bei juga tidak berdaya melakukan perubahan. Hanya doa sapu jagat yang bisa dipanjatkan semoga ke depan menjadi lebih baik, negeri ini bisa bersaulat pangan.

#seriappakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah