Minggu, 08 Oktober 2023

ZAMAN YANG ABSURD

ZAMAN YANG ABSURD

"Pemerintah kok jadi wagu ya, Pak Bei," kata Bu Bei sambil tangannya meletakkan segelas kopi di meja untuk Pak Bei. 

"Siapa yang barusan telepon?" tanya Pak Bei yang lagi asyik baca koran yang diantar Kang Narjo tadi pagi namun baru sempat dibacanya sore hari.

"Ooh...itu tadi dari Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja. Lucu pol....."

"Lucu pol bagaimana?"

"Tahun lalu saya kan diminta jadi Ketua Kluster Konveksi, Pak Bei."

"Iya tahu. Terus..."

"Lha ini tadi saya ditelepon, diminta supaya mengajak teman-teman konveksi mau menampung dan mempekerjakan korban PHK dari Sritex. Ada banyak sekali tenaga terampil yang perlu dibantu, katanya."

Pak Bei jadi ingat berita beberapa minggu terakhir tentang puluhan perusahaan, termasuk perusahaan tekstil dan garment Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten yang terpaksa menutup usahanya karena bangkrut. Ada juga yang dinyatakan pailit oleh PTUN seperti PT Sritex di Sukoharjo yang konon pabrik tekstil terbesar se-Asia Tenggara itu. Puluhan ribu buruh dirumahkan alias kena PHK. Kemarin, Mas Cahya anak sulung Pak Bei-Bu Bei yang dikader meneruskan usaha Bundaco juga cerita bahwa toko-toko kain langganannya kulakan bahan di Solo, Jogja, Tengerang, Tanah Abang, dan Bandung juga mengeluh karena krisis stok barang. Gudang-gudang mereka kosong. Beberapa toko grosir bahan itu pun terpaksa menutup usahanya. Boleh jadi itu imbas dari tutupnya pabrik-pabrik tekstil.

"Terus maunya orang Dinas bagaimana, Nda?"

"UMKM konveksi seperti kita ini diminta menyelamatkan nasib buruh korban PHK itu. Lucu to, Pak Bei."

"Bukan lucu lagi, tapi lugu."

"Kok lugu?"

"Ya lugu: lucu tur guoblok."

"Hahaha....iya betul itu. Lucu tur guoblok. Setuju."

Pak Bei-Bu Bei sore itu bisa tertawa lepas. Sudah beberapa bulan terakhir keduanya jarang bisa tertawa lepas. Kalau pun sesekali kelihatan tertawa, tawanya tidak bisa lepas, bahkan terkesan agak kecut. Maklum saja, kondisi hampir semua pelaku UMKM konveksi sedang tidak baik-baik saja, tak kunjung membaik meski Pandemi Covid-19 telah berlalu. Bahkan, musim paceklik semakin dari hari ke hari semakin terasa. Permintaan pasar tak kunjung membaik. Untung, Mas Cahya dan Mbak Vika istrinya sebagai penerus usaha Bundaco mau berjibaku memasuki dunia digital marketing yang bagi generasi Pak Bei-Bu Bei masih diterasa ghoib.

"Tapi kujawab spontan begini. Pak, Njenengan ini kok lucu, to. Selama ini Pemerintah kan lebih menganak-emaskan pabrik-pabrik besar. Lha kok sekarang kami yang disuruh menolong mereka?"

"Ya betul itu. Terus..."

"Masuknya pabrik-pabrik tekstil dan garment ke Jawa Tengah selama ini sudah disubyo-subyo dan difasilitasi dengan berbagai kemudahan. Di sisi lain, usaha-usaha konveksi rumahan seperti kami dan sentra-sentra konveksi yang sudah jelas bisa menggerakkan ekonomi Daerah justru tidak pernah diaruhke keadaannya, ditanyai kesulitannya, juga tidak dibantu dengan berbagai kemudahan dan fasilitas. Kami dibiarkan berjuang sendiri, seakan keberadaan kami tidak penting bagi Pemerintah."

"Terus bagaimana respon orang Dinas tadi?"

"Cuma tertawa dia. Minta maaf pun tidak. Aneh."

"Iya, kok aneh. Selama ini pelaku UMKM harus legowo bertempur sendirian di pasar bebas melawan pemodal besar, tanpa perlindungan dari Pemerintah."

"Betul. Masuknya barang-barang impor dari China yang harganya sangat murah nyata-nyata telah membunuh UMKM kita.  Produk UMKM tidak mampu melawan produk China."

"Nah itu. Patut diduga, barang-barang impor itu masuk ke sini secara ilegal. Bahkan, kalau melihat intensitas dan kuantitynya, boleh jadi Pememrintah China memang melakukan dumping agar bisa menguasai pasar kita."

"Tapi kenapa yang disalahkan justru Tik-Tok, Pak Bei? Lalu ditutup. Anak-anak millenial jadi tidak bisa lagi berjualan lewat Tik-Tok. Katanya demi melindungi UMKM."

"Terlalu cepat mendiagnosa. Jadinya kurang tepat juga ngasih obat."

"Maksud Pak Bei?"

"Lah kan sudah jelas, banyaknya barang-barang ilegal telah menyebabkan banyak industri dalam negeri tutup karena bangkrut. Dengan politik dumping, barang-barang mereka masuk menyerbu pasar-pasar kita dengan harga sangat murah. Imbasnya, UMKM dan para pedagang kita jadi kopals semua. Tidak mampu bersaing. Barang ilegal dan dumping itulah yang seharusnya diatasi dan dilawan Pemerintah, bukan Tik-Toknya yang ditutup."

"Ah entahlah, Pak Bei. Jadi pusing kalau mikir soal ini."

"Memang, Nda. Jadi tidak jelas, itu sebenarnya soal bisnis/ekonomi atau soal politik. Penutupan Tik-Tok itu benar-benar demi melindungi kepentingan rakyat atau karena persaingan bisnis tingkat tinggi di kalangan politisi di atas sana. Absurd kan jadinya?"

Obrolan sore Pak Bei-Bu Bei pun berakhir. Azan maghrib terdengar bersahutan dari corong beberapa masjid di kampung sekitar nDalem Pak Bei. Keduanya bergegas berangkat ke masjid untuk memenuhi panggilanNya.

#wahyudinasution
#serialpakbeizamanyangabsurd
#lpumkmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah

















"

Minggu, 01 Oktober 2023

JANGAN LUPA SEJARAH

JANGAN LUPA SEJARAH

Pak Bei sedang bersiap  mau menyirami tanaman bunga dan sayuran di halaman rumah ketika mak-bedunduk, tiba-tiba, Kang Narjo datang dengan senyum mengembang, mengendarai motor Supra-X dengan setumpuk koran yang masih harus diantarnya ke rumah-rumah pelanggan. Loper koran senior itu benar-benar 'tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas'. Di usianya yang sudah di kepala 6 hampir 7, badannya masih sehat bugar, tetap open-face dan full-smile. Mungkin itu berkat dulu waktu sekolah ikut aktif di kegiatan Pramuka sehingga punya mental 'tak takut panas tak takut hujan', juga tertanam spirit lagu 'Di Sini Senang Di Sana Senang' yang legendaris itu. 

Memang, meskipun cah ndesa dan dari keluarga pas-pasan, Kang Narjo dulu termasuk anak yang rajin sekolah, bahkan  hingga lulus dari SMEA Negeri favorit di kota kami, satu hal yang cukup hebat bagi cah ndesa pada waktu itu. Sejak lulus SMEA tahun 1982, dia pun memilih pekerjaan sebagai loper koran, bukan merantau ke kota besar mencari pekerjaan.

Tiap pagi bakda shubuh, Kang Narjo naik sepeda ontel berangkat mengambil koran dan majalah di agen dekat terminal bus, lalu mengantarnya satu-persatu ke rumah-rumah pelanggan. Profesi itu terus dijalaninya dengan setia hingga zaman sudah terus berkembang. Kendaraan sepeda motornya pun sudah ganti entah berapa kali. Yang paling terasa, masa keemasan media cetak sudah digantikan oleh media online. Pelangannya semakin berkurang, tinggal sedikit. Tapi Kang Narjo tidak punya pilihan lain selain meneruskan profesi yang sudah dijalaninya selama 40 tahun itu.

"Pak Bei paham sejarah Nabi Syu'aib?," tanya Kang Narjo setelah melempar korannya ke lantai dan mematikan mesin motornya.

Pak Bei pun tanggap gelagat sahabatnya itu, pasti ingin ngobrol sambil istirahat.

"Turun dulu, Kang. Ngopi, ya. Biar dibuatkan anakku." 

"Wah Pak Bei ini tahu yang kumau," jawab Kang Narjo sambil turun dari motor dan ngesot lesehan di lantai.

"Kok tumben tanya sejarah Nabi Syu'aid, ada apa, Kang?," tanya Pak Bei sambil ikut ngesot di lantai.

Kang Narjo pun bercerita bahwa Jumat kemarin dia ikut Jumatan di Masjid An-Nur di kawasan kota. Entah siapa khotibnya, tapi materi khotbahnya cukup menarik hingga tidak ada satu pun jamaah tampak mengantuk. Karena kebetulan ini bulan Rabi'ul Awaal, Khotib itu pun mengangkat tema Maulid Nabi, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Setelah memaparkan sekilas kelahiran Rasulullah SAW dan pentingnya kita mencintai dan meneladani kehidupan Nabi pamungkas zaman, Khotib pun menyinggung beberapa tarikh Nabi dan Rasul-Rasul terdahulu

"Ada salah satu cerita yang saya masih terngiang, yaitu tarikh Nabi Syu'aib di negeri Madyan."

Cahya datang menyuguhkan segelas Kopi Semendo.

"Monggo diunjuk, Pakdhe."

"Iya, Mas. Matur nuwun, ya."

"Apa yang menarik dari Nabi Syu'aib yang diceritakan Khotib, Kang?"

"Nabi Syu'aib RA diutus oleh Allah SAW untuk mengingatkan kaumnya, masyarakat Madyan, agar menghentikan budaya manipulatif."

"Budaya manipulatif bagaimana maksudnya?"

"Kebiasaan mengurangi takaran dan timbangan dalam jual-beli, Pak Bei. Itu sudah membudaya, dilakukan semua orang, bahkan sudah dianggap lumrah. 

"Terus, Kang...."

"Nabi Syu'aib AS justru dimusuhi kaumnya, diintimadi, bahkan diusir dari Madyan. Padahal, negeri Madyan itu dulu yang membangun kakek buyut Nabi Syu'aib yang bernama Madyan bin Ibrahim AS. Tapi orang-orang Madyan sudah gelap mata, tidak mau diingatkan agar berlaku jujur."

"Terus, Kang..."

"Nabi Syu'aib pun berdoa agar Allah SWT menurunkan azab bagi kaum Madyan yang kafir. Allah SWT pun mengabulkan doa itu, lalu diturunkanNya azab berupa gempa bumi dan badai panas. Kaum Madyan yang kafir itu pun musnah terbakar dan terkubur di reruntuhan bumi, hanya Nabi Syu'aib dan beberapa pengikutnya saja yang selamat."

"Wah ngeri ya, Kang."

"Ngeri banget, Pak Bei. Lebih ngeri lagi kalau itu sampai terjadi di negeri kita saat ini."

"Loh kok gitu, Kang?"

"Ya bisa saja to? Pak Bei pasti tahu ketidakjujuran di negeri kita juga sudah sangat parah. Korupsi dan manipulasi sudah dianggap lumrah, bahkan dilakukan secara berjamaah."

"Contohnya, Kang?"

"Buanyak banget, Pak Bei. Sudah jamak lumrah orang korupsi, main suap, upeti, dan manipulasi di semua sektor."

"Sudah separah itukah negeri kita, Kang?" 

"Perhatian saja, Pak Bei. Orang mau naik pangkat harus nyogok atasan. Orang mencari keadilan di lembaga peradilan harus menyogok penegak hukum. Orang mau menang tender proyek harus nyogok pejabat. Orang mau jadi Kepala Desa, Wakil Rakyat, Bupati, Walikota, Gubernur, dan Presiden ya harus nyogok rakyat pemilik suara. Orang mau jadi Dirjen, Kabid, Kasi, dan Camat pun harus nyogok atasan. Pejabat belanja barang atau bikin proyek harga riilnya cuma 100 Miliar, tapi negara disuruh bayar 300 Miliar. Kuitansinya bisa direkayasa, lalu marginnya dibagi-bagi para pengambil keputusan dan pembuat anggaran. Itu dianggap sudah lumrah, Pak Bei. Itu kan bentuk lain 'mengurangi takaran dan timbangan' seperti dilakukan kaum Madyan. Orang tidak membayangkan bahwa azab Allah SWT yang dahsyat bisa datang kapan saja."

"Wislah, Kang. Jadi mules perutku pagi-pagi ngobrol soal ini."

"Ya sudah, Pak Bei. Kopiku juga sudah habis kok. Pamit dulu, ya."

Kang Narjo meninggalkan Pak Bei yang masih menahan perut mules dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kang Narjo tetaplah Kang Narjo yang plengah-plengeh, selalu full-smile di segala keadaan.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#janganlupasejarah
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmklaten