Sabtu, 25 November 2023

MEMILIH PEMIMPIN

MEMILIH PEMIMPIN

Ronda di Poskamling malam Minggu kali ini tampak lebih gayeng dari biasanya. Bukan hanya karena tiap malam Minggu memang jadwal rondanya mayoritas pemuda-remaja yang masih sekolah atau kuliah, tapi ndelalah ada Lek Nardi yang mampir dari kondangan dan membawa banyak makanan. Suasana pun jadi hidup dan meriah. 

Tetangga Pak Bei yang satu ini agak istimewa. Kehadirannya di manapun selalu membawa suasana segar.  Pekerjaannya sebagai pengrajin lanjaran, bilah bambu untuk tanaman merambat, rupanya membawanya banyak bergaulan dengan berbagai kalangan. Banyak omong. Kadang terkesan sok tahu segala hal.  Suaranya pun keras, khas orang desa. Saking sok tahu dan kerasnya, kadang terkesan kurang subasita, kurang sopan. Tapi justru itu yang bikin suasana jadi hidup, gayeng, dan anak-anak muda pun menyukainya. 


"Anak-anak, ini mumpung ada Pak Bei, ayo kita keroyok ramai-ramai agar berbagi ilmu ke kita," Lek Nardi memprovokasi para pemuda. 

"Ya monggo, Lek Nardi dulu yang memulai," sahut Teguh yang duduk di pojok.

"Mestinya kalian dulu yang punya banyak informasi. Ayu Sul, ajukan pertanyaan ke Pak Bei," Lek Nardi menyuruh Samsul yang lagi asyik makan rengginang. "Kalau saya ini kan cuma wong bodo, hanya tahu informasi dari tivi. Atau monggo Pak Bei saja yang cerita. Pasti punya info yang layak kita dengar," sambungnya.

"Cerita apa to, Lek? Aku lebih suka mendengarkan cerita-ceritamu," jawab Pak Bei.

"Ya cerita tentang politik, misalnya. Beberapa hari lagi kita akan memasuki masa kampanye Pemilu. Pasangan  capres-cawapres ada tiga dan sudah jelas nomor urutnya. Dari ketiga pasangan itu, mana yang layak kita pilih?" 

"Wah berat itu, Lek."

"Kok berat? Sampeyan kan tokoh masyarakat. Pasti bisa memberi pencerahan pada orang bodoh seperti saya ini."

"Iya, Pak Bei. Lek Nardi benar. Kami ini butuh pengarahan menghadapi Pemilu nanti," kata Slamet.

"Begini... Pertama, kalian tahu saya ini bukan tokoh politik, bukan politisi. Jadi kurang cukup paham peta politik yang sebenarnya. Kedua, saya sudah punya pilihan yang mungkin berbeda dari pilihan teman-teman. Mari kita saling menghormati perbedaan dan saling menjaga perasaan."

"Tolong Pak Bei juga menghargai permintaan kami. Kami cuma ingin diajari membaca dan membedakan mana calon pemimpin yang baik dan mana yang kurang baik. Pak Bei tentu lebih tahu dari kami," Lek Nardi menyanggah.

"Baiklah kalau begitu," Pak Bei pun mengalah. "Aku punya cerita."

"Nah gitu, Pak Bei."

"Jumat kemarin, di perjalanan ke Semarang untuk suatu urusan, aku berhenti di sebuah masjid untuk Jumatan."

Semua petugas ronda tampak siap mendengarkan cerita Pak Bei. Ada yang sambil klepas-klepus rokokan, ada yang sambil menikmati kacang oven bawaan Lek Nardi.

"Muazin mengumandangkan azan tepat setelah aku selesai sholat tahiyatul-masjid. Jamaahnya belum seberapa banyak, masih beberapa shaf belum terisi, alias masih kosong. Beberapa jamaah yang baru datang tampak berdiri menunggu muazin menyelesaikan azan, baru kemudian mereka akan melakukan shalat dua rakaat, shalat tahiyatul-masjid." 

"Rupanya masyarakat di sana tidak jauh beda dengan di kampung kita ya, Pak Bei? Baru bergegas ke masjid ketika azan sudah mulai berkumandang," kata Arif sambil tertawa. 

"Iya. Kebiasaan yang kurang afdhol, tetapi umum terjadi di mana-mana," jawab Pak Bei.

Pak Bei melanjutkan ceritanya. Khotib Jumat mengangkat tema aktual dan sangat kontekstual, yakni seputar memilih pemimpin. Diawali cerita sejarah Madinah sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin dari Mekah. Konon ada banyak suku di Madinah, yang paling dominan adalah suku Aus dan Khazrat. Suku-suku kecil bangsa Yahudi suka memperkeruh keadaan, menyebar fitnah, dan mengadu domba mereka. Maka, kedua suku Arab yang seakan partai politik di jaman kita itu terus bermusuhan dan tak jarang terjadi peperangan antara keduanya.

"Di jaman itu sudah ada provokator yang suka adu-domba ya, Pak Bei?"

"Benar. Saking seringnya berperang antar-mereka, akhirnya mereka pun merasa capek sendiri. Mereka sadar dan ingin hidup damai dan tenteram, ingin bebas dari rasa takut, ingin bisa bekerja dengan tenang, dan ingin membangun negerinya agar makmur sentosa. Mereka butuh pemimpin yang adil dan tidak menindas."

"Terus, Pak Bei...."

"Menurut cerita khatib kemarin, ada seorang tokoh dari suku Khazrat bernama Abdullah bin Ubay yang sangat berambisi menjadi pemimpin Madinah. Tentu saja suku Aus menolaknya karena mereka tahu watak Abdullah bin Ubay yang culas, suka berbohong, tidak jujur, dan kejam. Tapi Abdulllah bin Ubay tetap berusaha tampil sebagai pemimpin Madinah. Orang-orang pun takut dan terpaksa taat pada Abdullah bin Ubay."

"Terus, Pak Bei..."

"Ketika Nabi Muhammad dan para sahabatnya datang berhijrah dari Mekah, masyarakat Madinah menyambut dengan suka cita. Maklumlah, memang sudah lama mereka mendengar kabar dari orang-orang Yahudi bahwa Allah akan mengutus Nabi terakhir, entah kapan datang, untuk menjadi panutan bagi manusia agar selamat dunia-akhirat. Ciri-ciri Nabi terakhir itu persis yang mereka saksikan pada diri Muhammad. Orangnya jujur, dapat dipercaya, turur katanya bagus, dan cerdas. Masyarakat Madinah pun yakin bahwa beliaulah Nabi terakhir itu. Maka mereka ramai-ramai berbaiat kepada Muhammad dan mengikuti ajaran Islam yang dibawanya."

"Terus bagaimana reaksi Abdullah bin Ubay, Pak Bei?"

"Abdullah bin Ubay pun terpaksa pura-pura ikut berbaiat, meski
 sebenarnya dia sangat benci pada Rasulullah SAW."

"Mbok jangan panjang-panjang ceritanya, Pak Bei," rupanya Lek Nardi tidak sabar mendengar cerita sejarah. "Kesimpulannya saja apa?," tanyanya.

"Menurut khotib, Pemilu nanti kita akan memilih pemimpin untuk masa depan Indonesia, Lek Nardi. Apakah kita mau memilih pemimpin tipe Abdullah bin Ubay yang munafiq dan ambisius, atau memilih pemimpin tipe Muhammad SAW yang memiliki sifat sidiq/jujur, amanah/dapat dipercaya, tabligh/komunikatif, dan fathonah/cerdas. Semua terserah jamaah. Khotib cuma mewanti-wanti supaya jamaah menggunakan akal sehat dalam menentukan pilihan agar tidak menyesal kemudian."

"Terima kasih, Pak Bei. Jelas aku akan milih yang tipe Nabi Muhammad SAW. Kalau kalian mau pilih tipe Abdullah bin Ubay, ya silakan saja, tapi rasakan akibatnya. Akan semakin remuk dan hanya dibohongi terus," kata Lek Nardi kepada anak-muda.

"Ya enggaklah, Lek. Aku bala-mu," sahut Teguh.

"Iya, Lek. Aku juga bala-mu," kata Samsul.

Obrolan di cakruk pun bubar setelah Teguh melaporkan hasil jimpitan malam ini, terkumpul Rp 35.500. Alhamdulillaah.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten





 

Minggu, 19 November 2023

BERPRASANGKA BAIK

BERPRASANGKA BAIK

Bakda isya', Pak Bei sebenarnya mau langsung siap-siap berangkat ke Yasinan sepulang dari masjid. Maklumlah ini malam Jumat. Di kampung Pak Bei ada tradisi sejak tahun 1952/53 yang masih berjalan dan terawat baik hingga sekarang, yaitu Pengajian Tilawatil-Qur'an khusus untuk Bapak-bapak dan pemuda atau remaja putra. Tempatnya berpindah-pindah, bergilir dari rumah-rumah jamaah. Konon, pada pengajian tiap malam Jumat itu awalnya yang dibaca hanya surah Yasin dilanjut Tahlilan. Dalam perkembangannya, jamaah membaca Al Quran secara tartil  dipandu oleh salah seorang yang termasuk bagus bacaannya sesuai jadwal yang sudah dibuat. 

Untunglah malam ini bukan giliran Pak Bei yang memandu mengaji. Jadi Pak Bei merasa tidak wajib berangkat. Ada yang lebih wajib dilakukannya,  yakni menemani tamu-tamunya. Ndelalah juga tamunya kali ini Kang Narjo. Dia datang lagi bersama tiga pemuda kampungnya. 

"Pangapunten tidak ngabari dulu, Pak Bei. Adik-adik ini tadi selesai jamaah isya' langsung minta diantar ke sini. Katanya pengin meguru ke Pak Bei," kata Kang Narjo.

"Halaah meguru apa? Ngobrol sajalah. Saya kan bukan guru," kata Pak Bei.

"Pak Bei kan termasuk pengurus di PP Muhammadiyah," kata pemuda yang Pak Bei masih ingat namanya Aji. "Jadi wajar kalau kami-kami yang masih muda ini datang meguru ke sini," lanjutnya.

Cahya putra Pak Bei keluar menyuguhkan 5 gelas kopi, sekalian pamit ke Pak Bei mau berangkat Yasinan. 

"Pamitkan ayah ya, Le. Ada tamu," kata Pak Bei.

"Siap, Yah," kata Cahya sambil mempersilakan tamu-tamu ayahnya menikmati kopinya.

"Baiklah. Teman-teman pengin ngobrol soal apa malam ini?" tanya Pak Bei.

"Anu, Pak Bei, soal warga Muhammadiyah menghadapi situasi politik terkini," kata Marwan.

"Waoow...kok berattt. Mbok ngobrol yang ringan-ringan saja to, Mas."

"Kalau obrolan yang ringan kan sudah biasa kami lakukan di angkringan hampir tiap malam, Pak Bei," kata Azis.

"Terus apa yang mau kita bahas?"

"Begini lho, Pak Bei, besok Rabu kan ada acara Dialog Terbuka Muhammadiyah Bersama Calon Pemimpin Bangsa di Edutorium UMS," kata Azis.

"Iya benar."

"Tapi kenapa yang dihadirkan cuma Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar? Kenapa tidak diundang sekalian Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud,?" lanjut Azis seolah memprotes.

"Iya, Pak Bei. Kenapa mereka harus dipisah tempat dan audiensnya? Padahal kalau ketiganya diadu di even yang sama, di tempat dan audiens yang sama, kan seru. Setidaknya, rakyat ini jadi tahu kualitas setiap pasangan," kata Marwan.

"Benar, Pak Bei. Kenapa yang dihadirkan di UM Surabaya hanya Prabowo-Gibran? Apa orang Jawa Timur tidak butuh mengenal Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud?  Demikian juga yang dihadirkan di UMS kok hanya AMIN, dan yang di UM Jakarta hanya Ganjar-Mahfud. Kenapa, Pak Bei?" kata Aji dengan nada protes juga.

"Begini, Teman-teman. Pertama, saya ini bukan panitia acara itu. Jadi saya tidak ikut merencanakannya. Kedua, tolong dipahami bahwa segala hal yang dilakukan oleh PP Muhammadiyah itu hasil keputusan kolektif-kolegial, sudah melalui proses diskusi dan kajian  komprehensif yang dilakukan oleh para Ketua. Kita harus ingat, para Ketua itu sudah kita pilih bersama di Muktamar sebagai Pimpinan Pusat dan kita warga Persyarikatan Muhammadiyah harus mentaatinya."

"Iya, Pak Bei, kami juga paham itu."

"Lha terus, kenapa seolah kalian menggugat ke saya? 

"Sebenarnya kami bukan bermaksud menggugat Pak Bei. Sama sekali bukan. Kami cuma ingin dibantu memahami kenapa besok yang di UMS itu hanya AMIN yang dihadirkan?" Jangan-jangan PP Muhammadiyah memang sengaja membantu kampanye AMIN di Solo yang konon kandangnya Ganjar dan Gibran?"

"Masya Allah...janganlah shu'udzon begitu, Mas. Itu tidak baik. Kalian kemarin menyaksikan pengundian nomor urut pasangan Capres-Cawapres, kan?"

"Iya, Pak Bei. Kami melihat di televisi."

"Hasilnya pasangan AMIN no 1, pasangan PRAGI no 2, pasangan GAFUD no 3."

"Iya benar, Pak Bei.

"Menurut kalian, hasil itu by desain alias rekayasa atau proses alamiah?"

"Menurut saya alamiah, Pak Bei," jawab Aji.

"Bagus. Good. Bagaimana kalau kita juga husnudzon saja bahwa penjadwalan acara Dialog Terbuka yang diadakan oleh PP Muhamamdiyah itu hasil proses alamiah? Kebetulan saja PRAGI dapatnya di UM Surabaya, AMIN di UM Surakarta, dan GAFUD di UM Jakarta. Gak usah berprasangka neko-neko, jangan menduga yang enggak-enggak."

"Ya maklum saja, Pak Bei, mereka ini anak-anak muda," Kang Narjo yang sejak tadi diam saja, kini ikut bicara. "Mungkin mereka ini penginnya seperti nonton pertandingan tinju atau UFC. Senang melihat antar-pasangan itu saling pukul, saling tendang, saling banting, saling pithing. Senang melihat ada yang roboh dan KO di octagon," lanjut Kang Narjo.

"Ya kan jadi gayeng, Pakdhe. Jadi seru kalau ada yg kena uper-cut terus ngglethak, KO," kata Aji disambut gelak-tawa teman-temannya.

"Justru itu yang harus kita hindari, Mas. Marilah pesta demokrasi ini kita hadapi dengan gembira. PP Muhammadiyah mengundang dan menguji ketiga pasangan capres-cawapres. Silakan publik menilai dengan jernih. Slow wae, gak usah kenceng-kenceng. Kita nilai ketiga pasangan dengan kaca mata objektif dan rasional."

"Halaah, Pak Bei ini masa lupa. Setiap memasuki masa kampanye, di mana-mana terjadi polusi pemandangan dan pendengaran. Gambar-gambar caleg dan capres-cawapres ditempel di mana-mana. Bikin mata sepet. Suara deru sepeda motor tanpa knalpot merusak ketenangan masyarakat. Bising luar biasa. Bagaimana kita mau slow wae melihat permainan amplop dari para makelar,.menjelang hari-H menyerbu rumah-rumah pemilih di desa-desa?"

"Nah itu. Itulah tugas kalian generasi muda. Kalau memang kalian melihat permainan amplop itu, difoto saja, lalu disebar ke medsos. Viralkan. Itu baru gayeng. Kita harus jadi pengawas perilaku politik para peserta Pemilu. Ayo kita ramaikan."

"Siap, Pak Bei," kafa Aji.

"Kami siap jadi pengawas mandiri, Pak Bei," kata Marwan.

"Siap gas pol, Pak Bei, kata Azis.

"Sudah malam. Cukup ya nyobrolnya. Ayo kita pamitan. Pak Bei biar istirahat."

"Baiklah, Kang Narjo. Terima kasih Teman-teman sudah datang ke sini. Kapan-kapan kita sambung lagi, ya."

Kang Narjo dan rombongan meninggalkan nDalem Pak Bei dengan lega. Sudah dua kali rombongan itu datang dan dilayani Pak Bei dengan baik. Anak-anak muda yang belajar peka dan peduli dengan problem masyarakatnya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuadiyah
#lpumkmpdmklaten





 











Jumat, 03 November 2023

PALESTINA MAKIN MERANA

PALESTINA MAKIN MERANA

"Pak Bei, kenapa kita harus bersimpati pada Palestina?," tanya Kang Narjo. "Sampai-sampai pas Jumatan di mesjid kami kemarin, khotib mengajak jamaah untuk menunjukkan keberpihakan, setidaknya membantu berdoa untuk bangsa Palestina," lanjutnya.

"Apa yang disampaikan khotib kemarin, Kang?"

"Katanya, kita memang tidak bisa membantu angkat senjata membebaskan rakyat Palestina dari penjahahan dan gempuran kaum zionis yang kejam sebagaimana dilakukan oleh Kelompok Hamas di Gaza, Hizbullah di Libanon, dan Hauthi di Yaman. Tapi minimal kita bisa berdoa mengetuk pintu langit agar rakyat Palestina dan Masjidil Aqsha ditolong oleh Allah SWT."

"Khotib gak ngajak jamaah untuk saweran dana solodaritas,?"

"Iya, khotib juga mengajak kita siap partisispasi bila sewaktu-waktu ada penggalangan dana solidaritas."

"Ya bagus itu."

"Katanya dulu ada saudagar Palestina yang kaya-raya menghibahkan seluruh saldo tabungannya di Bank Arabia untuk membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Apa benar itu, Pak Bei?"

"Iya benar, Kang. Saudagar itu namanya Muhammad Ali Thahir. Dia juga yang memfasilitasi Mufti Besar Palestina, Syech Muhammad Amin Al-Husaini, pada tanggal 6 dan 7 September 1944   pidato berbahasa Arab di radio Berlin menggalang solidaritas dunia Arab agar mendukung dan menyambut gembira kemerdekaan Indonesia. Di samping itu,  beliau juga mendesak Perdana Menteri Jepang agar segera menarik tentaranya agar Indonesia bisa benar-benar merdeka."

"Berarti itu setahun sebelum proklamasi kemerdekaan kita 17 Agustus 1945, Pak Bei?"

"Iya, Kang. Itulah makanya setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, negera-negara Arab pun dengan cepat memberikan dukungan defacto dan dejure, diawali oleh Mesir. Itu berkat seruan dari Mufti Besar Palestina tadi."

"Wah berarti kita sangat berhutang budi pada Palestina ya, Pak Bei."

"Kang Narjo tahu kan, dulu setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2, Belanda ingin kembali menjajah Indonesia? Belanda tidak rela kita merdeka. Mereka memobilisasi tentaranya ke Indonesia dengan menumpang pasukan Sekutu. Lalu terjadilah perlawanan sengit dari bangsa Indonesia di berbagai kota yang kita kenal dengan perang kemerdekaan."

"Iya, Pak Bei. Jakarta jatuh, lalu Ibukota Pindah ke Yogyakarta. Semarang dan kota-kota lain juga dikusai Belanda. Surabaya bisa dipertahankam oleh arek-arek Suroboyo pada pertempuran 10 November."

"Nah, Kang Narjo masih ingat gitu kok."

"Yogyakarta akhirnya jatuh juga. Presiden Soekarno ditangkap dan diasingkan. Untung Panglima Besar Jenderal Soedirman dan tentara BKR tidak mau menyerah dan melakukan perlawanan dengan perang gerilya."

"Kang, kalau saja dulu negara-negara Arab tidak memberikan dukungan secara defacto dan dejure, maka PBB pun tidak bisa melegalkan Indonesia sebagai negara merdeka. Pasti negara-negara Sekutu mendukung Belanda untuk kembali menguasai Indonesia."

"Kasihan bangsa Palestina ya, Pak Bei. Sampai sekarang negerinya masih terjajah. Sudah jutaan nyawa melayang akibat kekejaman kaum zionis Israel."

"Ya itulah, Kang. UUD 45 mengamanatkan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Kasus di Palestina itu jelas, Israel yang didukung negara2 Barat merebut tanah Palestina sejak akhir Perang Dunia pertama. Tanah dan segenap kekayaannya dikuasai Israel. Orang-orang Palestina yang melawan dianggap teroris yang harus dibasmi. Padahal  mereka berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah-airnya sendiri."

"Ya sudah, Pak Bei. Ngeri sekali kalau cerita soal Palestina. Saya mau melanjutkan tugas dulu. Sudah wijang, sudah paham saya, kenapa kita harus berpihak pada bangsa Palestina, bangsa yang dijajah dan dholimi oleh bangsa Israel zionis."

"Oke, Kang. Hati-hati di jalan."

Kang Narjo melanjutkan tugasnya mengantar koran ke rumah-rumah pelanggan yang tinggal tersisa beberapa. Selebihnya orang-orang sudah beralih baca berita online dari gadgetnya masing-masing. Zaman sudah berubah sedemikian cepatnya, tetapi bangsa Palestina masih hidup dalam ancaman moncong meriam, roket, dan bom foshfore. Tak kunjung merdeka. Semoga Allah melindungi bangsa Palestina.. Aamiin.

#serialpakbei
#wahyudinasution