Senin, 22 Januari 2024

OMON-OMON FOOD ESTATE

OMON-OMON FOOD ESTATE

Lagi-lagi sikap usil Kang Narjo kumat alias kambuh. Bila sudah seperti itu, kadang Pak Bei terpikir segera mengusirnya. Sebab kalau dilayani, omongannya bisa ngelantur kemana-mana dan sulit dikendalikan. Tapi tidak mungkin juga Pak Bei mengusir Kang Narjo. Pak Bei paham betul sahabatnya yang loper koran senior itu butuh tempat curhat, butuh teman berbagi pikiran yang kadang terasa sumpeg, butuh teman yang mau menjadi ember buat membuang limbah perasaan dan pikirannya yang galau. Di antara keusilannya, tidak jarang justru muncul ide atau gagasan cemerlang dari Kang Narjo.

"Ada apa, Kang?," tanya Pak Bei melihat Kang Narjo memarkir motornya lalu duduk nglesot sambil meletakkan koran pagi di lantai.

"Pengin omon-omon, Pak Bei," jawab Kang Narjo sambil pringas-pringis.

"Apa, Kang?." 

"Pengin omon-omon."

"Wah kok kaya capres saja. Gak bahaya tah?"

"Enggaklah, Pak Bei. Ini omon-omon tingkat tinggi, tidak mungkin kusampaikan ke sembarang orang."

"Tunggu sebentar ya, kubuatkan kopi dulu."

"Siap. Pak Bei selalu tahu yang kumau," jawab Kang Narjo.

Tak sampai lima menit, Pak Bei sudah kembali ke teras sambil membawa segelas kopi robusta kesukaan sahabatnya. Kang Narjo pun sudah hafal caranya agar kopi panas kicat-kicat itu bisa segera diminum. Ditungkannya pelan-pelan kopi ke lepek alias piring kecil,  ditunggu beberapa detik, lalu diseruput sedikit demi sedikit. Hayati dan rasakan kehangatan kopi mengalir membasahi kerongkongan hingga terasa hangat saat bersamayam di usus yang masih kosong dan kedinginan. Mata yang semula terasa agak ngantuk pun sepontan langsung kemepyar terang-benderang.

"Alhamdulillah....seger," kata Kang Narjo sambil meraih rokok kretek dan korek di depan Pak Bei. Ambil sebatang, dinyalakan, dihisap pelan-pelan, dan bulll....gumpalan asap putih pun keluar dari mulut Kang Narjo.

"Mau omon-omon apa, Kang?"

"Soal food estate, Pak Bei."

"Wah berat itu, Kang?"

"Kalau dilihat dari kaca mata dan pamrih politik ya pasti berat. Tapi kalau kita bicara objektif dari sisi pentingnya membangun kedaulatan pangan, food estate itu sebenarnya ya biasa-biasa saja, tidak perlu diperdebatkan."

"Kok gitu, Kang?"

"Ya jelas, Pak Bei. Ekstensifikasi pertanian memang kita perlukan untuk menjaga ketersediaan pangan bagi hampir 300 juta perut penduduk RI. Lahan yang ada sudah semakin sempit, terus berkurang, terus beralih fungsi menjadi perumahan, real estate, dan jalan tol. Produktivitas pertanian juga semakin menurun, baik karena faktor kesuburan tanah yang rusak karena penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia yan sudah berlangsung puluhan tahun, karena faktor tenaga petani yang menurun karena rata-rata sudah uzur dan tidak terjadi regenerasi, maupun karena faktor cuaca yang tidak menentu. Belum lagi faktor aneka hama yang datang silih-berganti." Kang Narjo kembali nyeruput kopi dan menikmati kretek di tangannya.

"Iya juga ya, Kang. Padahal yang butuh makan semakin bertambah dari tahun ke tahun."

"Sayangnya motivasi program food estate itu tampak lebih karena faktor politik."

"Kok bisa, Kang?"

"Lha kan yang digandeng sebagai mitra di program itu para konglomerat atau korporasi. Bukan para petani yang pekerjaan dan habitatnya memang bertani. "

"Ya memang mereka yang punya modal dan teknologi kok, Kang?"

"Iyaak siapa bilang?"

"Ya aku."

"Itu konsesi politik, Pak Bei. Masa gak tahu sih. Anggarannya kan jelas dari APBN, dibagi-bagi untuk konsesi politik."

"Konsesi bagaimana to, Kang?" 

"Balas budi, Pak Bei. Lihat saja, siapa-siapa yang ngerjakan proyek bernilai triliunan rupiah itu? Pasti para pengusaha dan orang dalam yang telah berjasa besar mendukung terpilihnya Presiden. Bagi-bagi proyeklah, Pak Bei."

"Kang,  mbok jangan gitu ah. Itu shu'udzon namanya. Gak baik."

"Pak Bei, sebenarnya food estate itu menurutku gampang diwujudkan, Insya Allah pasti berhasil dan tidak perlu ribut. Itu pun kalau Pemerintah mau mendengarkan suara saya."

"Wah elok. Memang Kang Narjo punya saran bagaimana?"

"Pertama, lepaskan Proyek Strategis Nasional yang dibiayai dengan dana APBN itu dari urusan politik."

"Terus..."

"Ajaklah PP Muhammadiyah dan PBNU duduk bersama mencari solusi soal kedaulatan pangan. Pasti beres."

"Kenapa perlu ngajak PP Muhammadiyah dan PBNU, Kang? Apa relevansinya?"

"PP Muhammadiyah punya banyak ahli di kampus-kampus, baik yang di Universitas Muhammadiyah dan Aisyiyah, maupun di Universitas Negeri. Muhammadiyah dan NU juga sama-sama concern berdakwah di bidang pertanian, melalui MPM dan Lakpesdam."

"Terus, Kan?"

"Kasih saja Muhammadiyah dan NU kuota masing-masing berapa juta atau berapa ratus ribu hektar dengan target produksi beras, jagung, ketela, kedelai, dan sebagainya."

"Terus, Kang?"

"Coba bayangkan, Pak Bei. Misalnya PP Muhammadiyah diberi kuota dan anggaran untuk satu juta hektar, tersebar di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTT, dan Papua. Kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh Muhammadiyah?"

"Apa ya, Kang?"

"Aku punya ide. Gerakkan saja program transmigrasi, kolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi, Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan, Kementerian PURR, Kemenag, BUMN, dsb."

"Terus, Kang?" 

"Mari kita coba berhitung. Kalau misalnya ada lahan yang disediakan 1.000 hektar di satu daerah dan diharapkan akan efektif menghasilkan pangan. Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan bertugas menyediakan lahan, Kemen PURR membangunkan perumahan, PLN mengaliri listriknya, Kominfo memasang jaringan Wifi, Kemenag membangunkan masjid dan madrasah, Kementerian Pertanian menggandeng MPM Muhammadiyah melakukan pendampingan bagi petani. Bulog dan Bapanas menyiapkan off-taker hasil pertanian."

"Bagus itu, Kang. Terus..."

"Seperti jaman Pak Harto dulu, bila setiap KK mendapatkan jatah lahan pertanian 2 Ha serta 1 kapling rumah dan subsidi biaya hidup 1-2 tahun, maka terjadi penambahan 1.000 hektar lahan pertanian yang langsung dikelola oleh para petani, bukan oleh korporasi. Dengan cara itu, program food estate Insya Allah akan berhasil."

"Iya ya, Kang. Bagus itu."

"Di lokasi trans itu nanti, Muhammadiyah bisa mendirikan sekolah-sekolah dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, masjid dan mushola, TPA dan Pondok Pesantren. Untuk Perguruan Tinggi, Muhammadiyah sudah punya di beberapa kota di luar Jawa."

"Iya juga, Kang."

"Kalau ada transmigran sejumlah 500 KK atau sekitar 1.500 jiwa, itu sudah bisa menjadi satu ekosistem sosial-ekonomi yang luar biasa. Sementara para suami bertempur di lahan pertanian, para istri bisa buka usaha warung bakso, mie ayam, tahu kupat, toko sembako, toko seluler, toko bangunan, toko obat, toko pertanian, dsb di rumah masing-masing. Pasarnya sudah ada, sudah ada pembelinya. Sambil bertani, para suami bisa juga buka bengkel servis sepeda atau sepeda motor, misalnya. Bisa juga ibu-ibu buka usaha jasa jahit atau modiste. Jadi,  sambil menunggu saat panen tiba, di sana sudah ada perputaran ekonomi yang cukup tinggi, antar-mereka sendiri. Aktivitas pendidikan dan peribadatan pun berjalan baik dengan guru-guru dan da'i dari Muhammadiyah."

"Bagus idemu, Kang."

"NU juga dikasih kesempatan yang sama, tapi di lokasi yang berbeda. Jadi nanti akan ada penambahan Cabang dan Ranting Muhammdiyah dan NU di berbagai daerah. Asyik kan, Pak Bei?"

"Iya aja, deh. Asyik itu."

"Sudah ya, Pak Bei. Cukup sekian dulu omon-omon kita pagi ini. Aku harus melanjutkan tugas negara."

"Oke, Kang. Terima kasih omon-omonnya. Luar biasya."

Dua sahabat pun berpisah. Kang Narjo melanjutkan tugasnya mengantar koran pagi ke pelanggan, Pak Bei mengerjakan tugas yang perlu diseleksaikan.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten.

















Minggu, 14 Januari 2024

BUDAYA SYURAABAINAHUM

BUDAYA SYURAABAINAHUM

Suana pertemuan RT 08 terasa hening. Semua peserta tampak serius memperhatikan tausiyah dari Pak Hisyam, salah satu warga RT 08 yang juga dikenal sebagai ustadz. Memang begitulah tradisi di kampung Pak Bei. Tausiyah seakan menjadi menu wajib setiap kumpul warga, menjadi acara pertama setelah Pembukaan sebelum memasuki acara utama. 

Tapi malam itu terasa beda. Bila biasanya orang-orang mendengarkan tausiyah dengan santai, ada yang sambil rokokan atau main HP, malam itu semua tampak khusyuk memperhatikan dengan seksama. Pak Hisyam yang biasanya suka ndagel melontarkan joke-joke lucu pun malam itu tausiyahnya tampak serius. Lek Nardi dan Sriyono yang biasanya cengengesan pun seolah tak berani guyonan.

"Bapak-Bapak dan Saudara sekalian," Pak Hisyam menyapa hadirin. "Bulan depan kita akan mengikuti Pemilu. Sebagai warga negara, kita harus menggunakan hak pilih kita, datang ke TPS, mencoblos 5 nama yang akan kita serahi mengurus negara dan daerah kita," lanjut Pak Hisyam sambil memandangi wajah-wajah hadirin satu-persatu.

"Orang menyebut Pemilu sebagai Pesta Demokrasi. Kenapa? Karena hajatan lima tahunan ini memang melibatkan seluruh warga negara, menyangkut arah dan nasib masa depan bangsa, juga memerlukan biaya sangat besar baik yang dikeluarkan dari APBN maupun kelompok atau pribadi-pribadi peserta Pemilu."

Tampak Lek Nardi gelisah ingin bicara, mau mengangkat tangannya. Sriyono bestinya yang melihat gelagat itu langsung nyablek paha Lek Nardi supaya diam.

"Seperti kita tahu, di Pemilu inilah orang-orang politik berkompetisi, berlomba memperebutkan simpati dan suara rakyat agar nanti kita pilih di bilik-bilik TPS. Itulah makanya gambar-gambar caleg bertaburan di mana-mana. Sayangnya, kita hanya disuguhi gambar caleg tanpa keterangan apapun dan tanpa catatan rekam jejaknya sehingga kita tidak tahu mana yang layak kita beri amanah. Hanya pasangan Capres-Cawapres yang relatif bisa kita baca dan ikuti reputasinya sehingga kita bisa memilih mana yang terbaik bagi kita," Pak Hisyam agak panjang-lebar menyampaikan prolognya. 

"Tadi Lek Nardi mau ngomong apa? Monggo silakan," ternyata tadi Pak Hisyam juga melihat gelagat Lek Nardi. Semua mata memandang Lek Nardi. "Ayo silakan ngomong," Pak Hisyam mempersilakan Lek Nardi bicara.

"Saya mau usul saja, mbokya Pak Hisyam ini gak usah menjelaskan panjang kali lebar. Kita sudah tahu Pemilu ya gitu-gitu saja hasilnya. Hidup kita ya gini-gini saja, tetap rekoso. Kalau memang Pak Hisyam sudah punya jago, tolong sampaikan saja di sini, ditawarkan siapa yang layak kita pilih nanti. Syukur bila semua warga RT 08 setuju dengan jago Pak Hisyam. Kalau ternyata ada yang beda pilihan, ya tidak masalah...," kata Lek Nardi dengan ekspresinya yang khas celelekan. 

"Mbok didengarkan dulu to, Lek, Pak Hisyam kan baru menyampaikan pengantarnya," kata Sriyono.
 
"Sabar, Lek Nardi, Ojo kesusu, to," sahut Pak RT.

"Sudah..sudah. Gak papa, Mas Sriyono dan Pak RT. Lek Nardi memang sudah biasa begitu, kan? Dimaklumi saja," Pak Hisyam seolah membela Lek Nardi. Dua jempol tangan pun diacungkan Lek Nardi ke Pak Hisyam.

"Bapak-Bapak semua tentu tahu saya ini bukan orang politik, bukan pengurus partai apapun, juga bukan tim sukses Capres atau Caleg siapapun. Saya ini hanya gelisah setiap kali musim Pemilu tiba."

"Ustadz kok gelisah to, Pak. Ora ilok," Lek Nardi membantah lagi.

"Sistem Pemilu kita ini kan liberal to, Lek Nardi. Seperti pasar bebas, setiap menjelang Pemilu masyarakat dijadikan rebutan oleh para pedagang dan makelar. Biasanya yang punya modal besar yang akan memenangkan persaingan, meski kualitasnya pas-pasan, bahkan perilaku politiknya bisa membahayakan negara."

"Lha terus bagaimana, Pak Hisyam? Kita ini mau milih siapa," lagi-lagi Lek Nardi mendesak.

"Lek Nardi, dalam setiap urusan kemasyarakatan, kita ini kan selalu bermusyawarah. Mau membangun masjid, madrasah, saluran air dan gorong-gorong, mau hajatan, ada kematian, mau besuk tetangga yang sakit, semua kita musyawarahkan dulu. Iya kan, Lek Nardi?"

"Ya betul, namanya hidup bermasyarakat, kok." 

"Tapi kenapa untuk urusan yang satu ini, urusan Pemilu, kita tidak pernah bermusyawarah? Semua mau milih siapa diserahkan pada selera pribadi masing-masing. Padahal kita tidak tahu kualitasnya  Mestinya bisa kita musyawarahkan to, Lek Nardi?"

"Lha katanya demokrasi, Pak Hisyam? Katanya bebas dan rahasia...."

"Lek Nardi dan Bapak-Bapak yang saya berbahagia... Dulu sebelum hijrah Rasulullah SAW, kota Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah itu multy-etnis, kira-kira seperti di negeri kita ini. Ada banyak suku dan agama atau kepercayaan. Ada dua suku besar, yakni suku Aus dan Khazrat, yang selalu bersaing memperebutkan dominasi dan pengaruh di sana. Itu turun-temurun. Orang-orang Yahudi bermain di antara keduanya, berusaha terus mengadu-domba. Tidak jarang terjadi pertengkaran dan peperangan antar suku karena rebutan penguasaan lahan ekonomi dan pasar. Sampai-sampai orang-orang Yastrib merasa jenuh dan capek dengan kondisi itu."

Semua mata mendengarkan cerita Pak Hisyam. Lek Nardi pun tampak tidak berkedip mendengarkan cerita sejarah Yastrib.

"Ketika Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin dari Mekah datang, orang-orang Yastrib menerima dengan lapang dada dan bersuka cita. Mereka percaya bahwa Nabi Muhammad SAW yang lembut namun berwibawa itulah yang akan mampu membawa kedamaikan di negeri mereka. Dan ternyata benar. Dalam tempo yang tidak terlalu lama, kehidupan di kota Yastrib berubah menjadi adem-ayem, damai, kegiatan ekonomi seperti perkebunan, peternakan, dan perdagangan semakin maju. Tidak ada lagi perang antar-suku. Kenapa bisa begitu? Karena Rasulullah SAW selalu mengajak mereka untuk bermusyawarah dalam segala hal, termasuk urusan politik dan keamanan menghadapi ancaman dari kaum Quraisy Mekah. Budaya syuraabainahum, dialog dan bermusyawarah di antara mereka, betul-betul dijalankan."

"Sebentar, Pak Hisyam," lagi-lagi Lek Nardi memotong tausiyah Pak Hisyam. "Itu kan jaman Kanjeng Nabi. Lha kalau jaman kita sekarang ini kan tidak semua hal bisa kita musyawarahkan? Untuk urusan pilih-memilih dalam Pemilu ini apalagi, bisa-bisa kita dianggap melanggar hak azasi. Iya kan, Sedulur-Sedulu?," Lek Nardi berusaha minta dukungan hadirin.

"Iya benar, Lek Nardi," jawab Pak Hisyam. "Memang begitu yang terjadi selama ini. Kita sudah terjebak pada demokrasi liberal yang serba bebas. Tahu apa akibatnya? Pemilu nyatanya tidak menghasilkan pemimpin yang benar-benar punya kemampuan mengelola negara sehingga menjadi lebih baik, adil, dan makmur untuk seluruh rakyat. Korupsi terjadi di mana-mana, di semua lini. Hukum hanya dijadikan alat melanggengkan dominasi dan kekuasaan. Orang berani mengkritik pengusa akan dicarikan pasal untuk membungkamnya. Bahkan, nyawa seakan tidak ada harganya bagi lawan politik. Kemaksiatan merebak di mana-mana dan berlindung atas nama hak azasi manusia. Sungguh memprihatinkan."

"Terus bagaimana jalan keluarnya, Pak Hisyam?"

"Jalan keluarnya? Mari kita bermusyawarah dengan pikiran jernih untuk memilih pemimpin yang terbaik. Caleg-Caleg dan Capres-Cawapres mana, mari kita bandingkan satu-persatu. Bila kita sudah sepakat, mari kita amankan bersama-sama, kita ajak keluarga kita untuk memilih yang sudah kita sepakati di Pemilu nanti. Lalu kita tawakkal'alallahi, kita serahkan pada Allah SWT hasilnya. Bila pilihan kita menang, alhamdulillah kita syukuri. Bila ternyata kalah, kita terima dengan lapang dada. Bukankah takdir ada dintangan Allah SWT?"

Pak Hisyam pun mengakhiri tausiyahnya, membiarkan semua warga RT 08 berpikir.dulu. Sekretaris yang memandu acara tidak membuka sesi tanya-jawab karena waktu sudah semakin larut. Masih ada beberapa acara seperti yakni laporan keuangan dari Bandahara dan musyawarah rencana kerja bakti besok hari Minggu.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten



















Rabu, 10 Januari 2024

MEMANG REPOT JADI PENGAREP

MEMANG REPOT JADI PENGAREP

Kemarin Pak Bei didatangi tiga orang ibu-ibu kampung, katanya mewakili ibu-ibu se-RT. Ceritanya, mereka masih bingung menghadapi Pemilu 14 Februari nanti.

"Kenapa bingung?" tanya Pak Bei.

"Ya bingung to, Pak Bei. Katanya kita nanti harus nyoblos 5 nama: caleg DPRD Kabupaten, caleg DPRD Provinsi, caleg DPR RI, calon DPD, dan Capres-Cawapres," jawab Bu Siti.

"Ya memang, Bu Siti," jawab Pak Bei.

"Kami ini sama sekali belum tahu mana caleg DPRD 2, DPRD 1, DPR Senayan, dan calon DPD yang layak dipilih. Pengalaman selama ini, kita juga tidak pernah tahu kerjaan mereka di gedung dewan itu apa saja. Rasanya gak ada pengaruhnya untuk kebaikan hidup negeri kita," Bu Sri nimpali.

"Benar, Pak Bei. Mosok kita mau disuruh milih lagi orang-orang yang gak jelas, yang hanya majang foto-foto di pinggir jalan, di tiang-tiang lampu, dan tembok pagar makam," Bu Nanik menambahi.

"Lha terus apa yang bisa saya bantu, Ibu-Ibu?"

"Pak Bei ini kan Ketua BPD? Mbokya kami ini dikasih tahu siapa2 yang layak kami coblos di Pemilu nanti," kata Bu Siti. 

"Tunjukilah kami caleg-caleg yang berkualitas dan amanah, yang sekiranya bisa membawa kebaikan, minimal untuk kampung dan Desa kita," kata Bu Sri.

"Juga Capres-Cawapres, Pak Bei, kita mau milih yang mana? Kami masih bingung."

"Kalau untuk Capres-Cawapres kan Ibu-ibu bisa nyimak Debat Capres di TV? Asyik lho..."

"Walah, Pak Bei. Mana sempat emak-emak macam kami ini nonton orang debat di tivi."

"Pak Bei dan anggota BPD yang lain mbokya ikhtiar mencarikan yang terbaik untuk kami pilih. Ini penting agar suara kita tidak muspro, Pak Bei," kata Bu Nanik.

Mak jleb rasa di ulu hati. Pak Bei tidak pernah terpikir betapa masyarakat di desa masih mengalami kebingungan dan kesulitan menghadapi Pemilu yang tinggal sebulan lagi. Pak Bei baru menyadari betapa tim-tim sukses caleg yang sudah hilir-mudik gerilya ke kampung-kampung itu hanya jualan calegnya sendiri. Tidak lebih. Tidak mengajari rakyat agar cerdas memilih, memilih kelima-limanya, memilih yang terbaik.

"Baiklah, Ibu-Ibu. Saya baru memahami kesulitan Panjenengan."

"Terus bagaimana, Pak Bei?"

"Saya minta waktu untuk mencari informasi, mencari wangsit, supaya bisa menjawab pertanyaan Ibu-Ibu. Begitu, ya. Saya minta waktu 1-2 minggu."

"Baiklah, Pak Bei. Kami nyuwun pamit dulu."

"Njih, Bu. Matur nuwun sanget awit karawuhan Panjenengan sami."

#serialpakbei
#wahyudinasution
#fkbpdkabklaten
#mpmmmmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpukmkmpdmklaten