Jumat, 21 Februari 2025

OPINI


'Mbalela': Antara Loyalitas dan Pembangkangan Dalam Kepemimpinan

Oleh: Wahyudi Nasution/Pak Bei, pegiat pemberdayaan masyarakat, tinggal di Klaten


Dalam tradisi budaya Jawa, istilah mbalela memiliki makna yang cukup berat. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang membangkang, tidak patuh terhadap aturan, atau menentang perintah atasan. Namun, dalam konteks politik modern, makna mbalela tidak selalu sesederhana itu. Ada kalanya tindakan yang dianggap pembangkangan justru merupakan bentuk keberanian, strategi politik, atau bahkan sikap loyalitas yang lebih besar kepada kepentingan tertentu.

Salah satu contoh menarik adalah ketika seorang kepala daerah terpilih tidak mau mengikuti retret kepemimpinan di Akmil Magelang karena instruksi dari ketua partainya. Secara normatif, ketidakhadiran itu bisa dianggap sebagai bentuk mbalela terhadap kebijakan pemerintah pusat, yang ingin memberikan pembekalan kepada para pemimpin daerah. Namun, di sisi lain, kepala daerah tersebut bisa saja menganggap dirinya sedang menjalankan kewajiban kepada partai yang telah membawanya ke tampuk kekuasaan.

Fenomena ini menunjukkan adanya tarik menarik kepentingan antara pemerintah pusat dan partai politik. Seorang kepala daerah berada di persimpangan jalan: apakah ia harus mengikuti instruksi negara sebagai penyelenggara pemerintahan, ataukah ia lebih mengutamakan perintah partai sebagai kendaraan politiknya? Dilema ini semakin kompleks ketika partai politik memiliki kepentingan berbeda dengan pemerintah pusat, sehingga keputusan untuk mbalela atau tidak menjadi lebih dari sekadar urusan pribadi, melainkan strategi politik.

Dalam sistem demokrasi, loyalitas adalah mata uang utama yang menentukan stabilitas politik. Namun, loyalitas yang berlebihan kepada satu pihak sering kali mengorbankan kepentingan yang lebih besar. Jika seorang pemimpin hanya patuh kepada partai tanpa mempertimbangkan aspek kenegaraan, ia bisa kehilangan legitimasi di mata publik. Sebaliknya, jika terlalu tunduk pada pemerintah pusat, ia bisa kehilangan dukungan politik dari jaringan yang membantunya meraih kekuasaan.

Jadi, apakah seorang kepala daerah yang mbalela terhadap pemerintah pusat tetapi loyal kepada partainya bisa dikategorikan sebagai pemimpin yang salah arah? Jawabannya bergantung pada sudut pandang mana yang digunakan. Dalam politik, tidak ada yang hitam atau putih—semuanya adalah perpaduan kepentingan, strategi, dan kalkulasi kekuasaan.

Pada akhirnya, kepemimpinan yang baik adalah yang mampu menyeimbangkan kedua kutub ini: tetap menghormati kebijakan pemerintah pusat tanpa mengabaikan aspirasi partai dan rakyat yang memilihnya. Jika tidak, ia bisa kehilangan keduanya—dan sejarah menunjukkan bahwa mereka yang kehilangan pijakan dalam politik sering kali tidak bertahan lama.

Sikap Kita sebagai Rakyat

Sebagai rakyat, kita harus bersikap kritis terhadap fenomena ini. Jangan hanya menerima atau menolak keputusan pemimpin secara membabi buta, tetapi perlu memahami motif dan dampaknya. Kita harus aktif dalam mengawasi kebijakan yang diambil oleh kepala daerah dan menilai apakah keputusan tersebut benar-benar untuk kepentingan masyarakat atau hanya untuk kepentingan politik tertentu. Selain itu, rakyat harus berani menyuarakan pendapat melalui jalur demokratis, baik melalui media sosial, diskusi publik, atau mekanisme pemilu, agar pemimpin tetap bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Ketidakkompakan penyelenggara pemerintahan tentu hanya akan merugikan rakyat, terutama di saat negara dalam kondisi kurang baik saat ini. Oleh karena itu, penting bagi pemimpin untuk mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan politik dan memastikan bahwa keputusan yang diambil tetap berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Seharusnya semua pejabat berhidmat pada kepentingan rakyat, bangsa, dan negara, bukan pada kepentingan partai politik dan golongannya sendiri.

Klaten, 21 Februari 2025

Jumat, 07 Februari 2025

BELO MELU SETON

BELO MELU SETON

Ada banyak istilah dan ungkapan dalam bahasa Jawa yang sudah lama tidak terdengar diucapkan orang. Anak-anak Jawa sekarang, generasi millenial dan Z, tentu banyak yang tidak paham istilah 'belo melu seton', misalnya. Mendengar saja belum pernah. Beruntung dulu waktu kecil Pak Bei sering ikut nonton pementasan kethoprak melalui siaran TVRI Yogyakarta di TV milik tetangga setiap malam Rabu. Dari menonton teater tradisional berbahasa Jawa itulah anak-anak generasi Pak Bei mendapatkan banyak tambahan kosa kata bahasa Jawa, di samping juga mengenal sejarah dan para tokoh kerajaan masa lalu.

"Jaman sekarang kok masih ada 'belo melu seton' ya, Pak Bei," kata Kang Narjo yang pagi ini sengaja mampir minta kopi. Biasanya Kang Narjo hanya lewat saja sejak Pak Bei berhenti langganan koran. Tapi pagi ini dia tiba-tiba datang memarkir motor dengan muatan tumpukan koran yang tidak seberapa banyak. Mampir ngopi, begitu katanya.

'Belo melu seton' apa maksudmu, Kang?," tanya Pak Bei memancing Kang Narjo.

"Belo itu anak jaran, kuda. Ingat kan, Pak Bei?"

"Ya ingat, Kang."

"Melu artinya ikut."

"Iya paham."

"Seton dari kata Setu atau Sabtu, nama hari."

"Iya tahu. Terus apa maksudnya?"

"Dulu di jaman kerajaan, sejak Kediri, Daha, Majapahit, Demak, hingga Mataram, setiap hari Sabtu ada gladen, latihan berkuda yang diikuti oleh para pejabat dan semua prajurit. Mereka mengasah ketrampilan berperang, menunggang kuda sambil melempar tombak atau panah. Masyarakat pun tumplek-blek menonton pertunjukan gratis itu setiap hari Sabtu."

"Iya, sejarahnya memang begitu."

"Di antara kuda-kuda yang gagah dipakai gladen, tidak jarang ada beberapa belo, anak-anak kuda, yang ikut berlarian dan melompat-lompat lucu. Pemandangan itu menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak kecil yang ikut menonton."

"Bisa dibayangkan, Kang, tentu anak-anak kecil lebih suka melihat belo-belo yang lucu itu."

"Dari situlah maka ada ungkapan 'belo melu seton'. Itu ungkapan analogis, Pak Bei."

"Analogis bagaimana maksudmu?"

"Seorang raja kan biasanya punya anak laki-laki yang dipersiapkan untuk meneruskan tahtanya bila raja sudah mangkat, meninggal. Anak itu bisanya dipanggil Kanjeng Pangeran."

"Raja menyiapkan kader penerusnya ya, Kang."

"Si Pangeran itu sejak kecil sudah diikutkan gladen, latihan menunggang kuda dan mengunakan senjata. Di hari biasa juga dilatih ikut mengurusi berbagai kegiatan kerajaan. Semacam 'magang' kalau istilah jaman sekarang."

"Sejak kecil sudah ikut berlatih mengurus kerajaan ya, Kang."

"Iya, Pak Bei. Tapi semua orang bisa memaklumi. Salah pun dimaklumi. Namanya juga Pangeran, anak raja yang memang dipersiapkan akan menjadi raja."

"Tidak ada orang berani protes ya, Kang."

"Tidak ada yang protes, Pak Bei. Justru semua pejabat keraton seakan berebut untuk bisa membantu si Pangeran itu. Semua ingin menunjukkan loyalitasnya pada Raja junjungannya. Apapun akan mereka lakukan demi menyenangkan hati Raja dan Pangeran."

"Tapi itu kan sejarah jaman Kerajaan, Kang. Tentunya di jaman Republik tidak ada lagi."

"Seharusnya..."

"Seharusnya, bagaimana maksudmu?"

"Setahuku jaman sekarang ini juga masih ada, Pak Bei. Lucu, kan..."

"Di mana?"

"Iyak, Pak Bei ini lho..." kata Kang Narjo sambil senyum-senyum, berdiri, mengulurkan tangannya ngajak salaman, sambil berbisik "Belo melu seton tapi resmi, Pak Bei."

"Loh, mau ke mana, Kang?"

"Aku kan harus melanjutkan tugas negara."

"Ooh ya sudah sana. Hati-hati di jalan."

Kang Narjo langsung menunggang motornya keluar dari Ndalem Pak Bei, mengantar koran pagi ke rumah-rumah pelanggannya yang masih setia.

#serialpakbei
#wahyudinasution
















Kamis, 06 Februari 2025

RILIS: PANEN PADI SEHAT DI LEBONG, BENGKULU

PRESS RELEASE


Panen Padi Sehat di Lebong: Langkah Nyata Menuju Pusat Produksi Beras Sehat di Bengkulu

Lebong, 5 Februari 2025 – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Lebong sukses menggelar Panen Padi Sehat di Kampung Jawa, Lebong. Acara ini menjadi bukti nyata keberhasilan petani dalam menerapkan metode pertanian organik berbasis Jajar Legowo 2:1 dan penggunaan pupuk organik cair Jatam-Pro, yang terbukti meningkatkan hasil panen secara signifikan.

Acara ini dihadiri oleh Ketua MPM PP Muhammadiyah Dr. M. Nurul Yamin, Dewan Pakar MPM PP Ir. Syafii Latuconsina, Wakil Ketua JATAM Pusat Wahyudi Nasution, serta jajaran PWM Bengkulu, PDM Lebong, TNI-Polri, dan Calon Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Lebong. Ratusan petani dan buruh tani turut serta dalam panen ini, menjadi saksi keberhasilan metode pertanian sehat yang diterapkan di lahan seluas satu hektar.

Dukungan Pemerintah untuk Lebong sebagai Pusat Produksi Beras Sehat

Dalam sambutannya, Calon Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Lebong, Bambang Agus Suprabudi, mengapresiasi gerakan Muhammadiyah dalam sektor pertanian melalui MPM dan JATAM. Ia menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh upaya ini dengan berkoordinasi langsung dengan Bupati Terpilih Kabupaten Lebong.

"Saya sangat mengapresiasi inisiatif Muhammadiyah dalam mendukung petani dan mewujudkan Lebong sebagai pusat produksi beras sehat di Provinsi Bengkulu. InsyaAllah, saya bersama Bupati Terpilih akan berkoordinasi untuk mendukung penuh program ini," ujarnya.

Keunggulan Sistem Jajar Legowo 2:1 dan Jatam-Pro

Pemilik lahan, Bapak Zulfahmi, menjelaskan bahwa padi varietas Zizania yang ditanam menggunakan sistem Jajar Legowo 2:1—sesuai arahan Buya Syafi’i Latuconsina—berhasil menghasilkan 11 ton per hektar, naik 5 ton dibanding sistem tegel yang rata-rata hanya 6 ton per hektar.

"Kami menggunakan pupuk organik cair Jatam-Pro 100%, tanpa pupuk kimia dan pestisida sama sekali. Hasilnya di luar dugaan kami. Alhamdulillah, beras kami jadi sehat dan bebas dari bahan kimia," ujar Zulfahmi.

Sistem Jajar Legowo 2:1 memungkinkan jumlah tanaman mencapai 333.000 batang per hektar, dengan 10-12 anakan per rumpun, yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas secara alami.

Dewan Pakar MPM PP Muhammadiyah, Ir. Syafii Latuconsina, menegaskan bahwa Jatam-Pro tidak hanya cocok untuk tanaman padi, tetapi juga tanaman hortikultura dan perkebunan seperti kelapa sawit.

"Namun perlu dipahami bahwa Jatam-Pro ini hanya untuk kalangan sendiri, yakni anggota Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM). Tidak kita jual di luar anggota JATAM," tandasnya.

Lelang Panen: Beras Sehat Muhammadiyah Disambut Antusias

Dalam kesempatan ini, panitia juga menggelar pelelangan hasil panen padi, yang mendapat sambutan antusias dari para tamu undangan. Beberapa institusi dan tokoh yang langsung memesan beras sehat Muhammadiyah antara lain:

  • Universitas Muhammadiyah Bengkulu: 1 ton
  • PWM Bengkulu: 500 kg
  • Calon Wakil Bupati Terpilih: 500 kg
  • Beberapa tamu lainnya memesan dalam jumlah 100 kg, 200 kg, dan 50 kg

Antusiasme peserta lelang menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap beras sehat yang dihasilkan melalui metode organik dan tanpa bahan kimia.

Lebong Menuju Kemandirian Pangan Berkelanjutan

Ketua MPM PP Muhammadiyah, Dr. M. Nurul Yamin, menegaskan bahwa Muhammadiyah siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menjadikan Lebong sebagai pusat produksi beras sehat dan pembelajaran pertanian terpadu di Bengkulu.

"Saya mendorong MPM PDM dan Pengurus JATAM Kabupaten Lebong agar siap berkolaborasi, baik dengan jajaran internal Persyarikatan maupun dengan pihak luar, termasuk Pemerintah Kabupaten Lebong," tegasnya.

Keberhasilan panen ini menjadi titik awal dalam membangun ekosistem pertanian sehat yang berorientasi pada kemandirian petani dan ketahanan pangan nasional. Melalui Jama'ah Tani Muhammadiyah (JATAM), pendampingan akan terus dilakukan agar semakin banyak petani beralih ke metode pertanian organik yang lebih produktif dan ramah lingkungan.

#PanenPadiSehat #JajarLegowo 

#JatamPro #LebongPusatBerasSehat #MuhammadiyahUntukPetani

Kontak Media:

Shalahuddin Al-Khidhr, Ketua MPM PDM Lebong, HP: 0821-7701-1111