Jumat, 28 April 2023

JURUS 3-T

JURUS 3-T

Kembali omongan Narjo bikin hati Pak Bei jadi gundah. Bagi Pak Bei, suara Narjo itu bagaimana pun suara jamaah, suara rakyat, suara akar rumput yang perlu didengar dan disikapi dengan bijak. Bila tidak, rumput bisa jadi kering dan mudah tersulut api, lalu mubal dan membakar apa saja di sekitarnya. Maka yang harus dilakukan adalah menyiramnya dengan air, biar dingin, agar tetap hijau dan tidak mudah terbakar.

"Menjelang 2024 ini Muhammadiyah harus waspada lho, Pak Bei," kata Narjo setelah melemparkan koran ke lantai teras.

"Memangnya ada apa, Kang?"

"Ini cuma panggraito saya lho, Pak Bei. Belum tentu benar."

"Iya, soal apa?"

"Upaya memecah-belah umat ini masih terus berlanjut. Muhammadiyah harus waspada," kata Narjo sambil duduk nglesot di lantai setelah mematikan mesin motornya.

"Ada apa, Kang?"

Kang Narjo mulai ngoceh tentang adanya upaya memecah-belah umat sejak dulu hingga sekarang. Umat Islam diadu-domba terus, katanya. Yang bersuara kritis dibungkam, organisasinya dibekukan sebagai orpol atau ormas terlarang. 

Sayangnya, gaya bahasa Narjo kali ini agak sasar-susur, diksinya kurang tertata. Mungkin karena terbawa emosi, atau karena mulutnya masih terasa pahit. Maklum, dia sudah keluar rumah sejak bakda shubuh dalam kondisi perut masih kosong. Menyadari kondisi sahabatnya itu, Pak Bei pun tanggap sasmita, lalu beranjak ke dalam menyuruh anaknya membuatkan minum panas. 

Tak berapa lama, Zika anak gadis Pak Bei sudah keluar membawa nampan dengan dua gelas kopi dan sepiring pisang kepok rebus yang masih hangat.

"Monggo minum dulu, Pak Narjo," kata Zika mempersilakan.

Narjo pun langsung menuangkan kopi panas ke lepek, ditunggu beberapa detik agar panasnya berkurang, lalu diseruputnya kopi hangat itu pelan-pelan dengan nikmatnya. 

"Saya khawatir visi berkemajuan malah berubah jadi berkemunduran, Pak Bei"

"Kok bisa, Kang?"

"Lihat saja. Nanti idiom 'berkemajuan' akan dipakai orang-orang politik untuk menyihir warga Muhammadiyah agar memilih calon presidennya."

"Caranya bagaimana, Kang?"

"Nanti akan ada politisi yang kebetulan juga elit di persyarikatan Muhammadiyah  bikin kelompok relawan atau tim sukses untuk menggiring warga Muhammadiyah memilih capresnya. Idiom Muhammadiyah seperti Berkemajuan dan Bersinar, misalnya, akan diambil sebagai nama timses. Akan ada nama timses seperti GP-Berkemajuan atau ABW-Bersinar, atau apapun yang bikin warga Muhammadiyah kesengsem, terpesona."

"Ah mosok sampai begitu, Kang?'

"Pak Bei lihat saja nanti. Ingat, orang politik punya jurus andalan 3-T."

"Apa itu?"

"Tegel atau tega, Teteg atau gak malu-malu, dan Tipu-tipu alias suka bohong."

"Gitu ya, Kang."

"Saya cuma khawatir, Pak Bei. Selama ini Muhammadiyah dicoba terus dibenturkan dengan tetangga sebelah dan pemerintah. Dibangun kesan seolah Muhammadiyah tidak taat pada pemerintah hanya karena beda tanggal Idul Fitri. Lalu sebentar lagi kita akan memasuki masa kampanye Pemilu dan Pilpres. Bila tidak hati-hati, nanti antar-aktivis Muhammadiyah akan berantem karena beda pilihan partai dan capres."

"Wah matur nuwun, Kang. Panggraitamu layak menjadi perhatian."

"Saya cuma berharap Muhammadiyah bisa tetap menjadi perekat persatuan umat dan bangsa, Pak Bei. Orang-orang pintar jangan mau dibodohi. Jangan ikut berpecah-belah hanya untuk hal-hal sepele, sesaat, dan kadonyan seperti Pemilu dan Pilpres. Harus diingatkan agar orang-orang Muhammadiyah yang aktif di parpol jangan ikut awur-awuran dalam berpolitik. Tetaplah pakai akhlaq, pakai etika. Jangan asal menang partai dan jagonya."

"Ya, Kang. Matur nuwun banget. Insya Allah teman-temanku paham soal itu."

"Kecuali yang ndableg ya, Pak Bei?"

"Ya mungkin tetap ada yang ndableg, tapi sedikit. Tenang wae, Kang. Matur nuwun, ya."

"Ya sudah, Pak Bei. Aku lanjut bertugas dulu, ya. Terima kasih kopi dan pisang godhoknya."

Narjo tampak lega meninggalkan nDalem Pak Bei dengan beban pikiran yang sudah agak berkurang. Semoga Narjo selalu sehat dan tetap setia melayani pelanggannya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#jurus3-t





 



Selasa, 25 April 2023

LEBARAN

LEBARAN

Pak Bei baru saja selesai menyapu halaman. Daun-daun kering dari pohon alpukat yang berserakan sudah berpindah tempat di jogangan, lubang di tanah yang digali khusus untuk membuang sampah organik. Bungkus jajanan anak-anak yang semula bertebaran juga sudah terkumpul di bak sampah dan siap diambil tukang sampah yang datang dua kali seminggu. Saatnya Pak Bei kembali nyeruput kopi di kursi sedan tua sambil menikmati indahnya matahari pagi yang belum lama terbit. Dan tak lupa, sebatang kretek diselipkan di pipa gadingnya, lalu disulut, dihisap, dan dihembuskan hingga kepulan asap putih bergumpal-gumpal berhamburan dari mulutnya.

Beberapa kendaraan sudah lalu-lalang di jalan depan rumah sejak tadi. Ada ibu-ibu yang menuju pasar Kebonan untuk belanja sayuran, ada beberapa petani membawa cangkul dan sabit menuju sawahnya, dan entah ke mana lagi pengensara lainnya akan menuju. Suasana pagi hari di desa Pak Bei tampak sudah normal setelah 3-4 hari terasa berbeda karena Lebaran. 

Satu sepeda motor masuk ke halaman. Pak Bei sudah hafal, itu Narjo si loper koran. Rupanya sahabatnya itu sudah mulai menjalani rutinitasnya.

"Pak Bei mau badan sama saya, gak?" kata Narjo dengan senyumnya yang khas setelah melemparkan koran ke lantai.

"Loh iyalah, Kang. Sini turun dulu. Duduklah. Tunggu sebentar, ya," jawab Pak Bei sambil beranjak ke dapur membuatkan kopi.

Memang, usia Narjo lebih tua beberapa tahun dari Pak Bei. Sesuai adat-istiadat Jawa, maka Pak Bei yang harus badan (mengucapkan permohonan maaf) terlebih dahulu, baru kemudian Narjo yang lebih tua akan membalas, sama-sama meminta maaf atas segala kekhilafan. Itu berbeda bagi yang masih ada hubungan kekerabatan. Dalam budaya Jawa, tua-muda tidak didasarkan pada usia, tapi awu atau nasab. Meskipun usianya lebih tua, tapi kalau awu-nya lebih muda, maka dia yang harus badan lebih dulu. Negitulah yang sering dialami Pak Bei yang kebetulan secara awu terhitung tua di kampungnya. Banyak orang yang usianya lebib tua sowan ke Pak Bei untuk badan dengan bahasa yang sopan, bahasa khas Lebaran.  

"Ngopi dulu, Kang," kata Pak Bei sambil meletakkan lepek dan segelas kopi di atasnya.

"Siap, Pak Bei. Terima kasih," jawab Narjo sambil menuangkan kopi panas di lepek.

"Badan dulu ya, Kang," kata Pak Bei mengajak salaman Narjo. "Kang, Sugeng Riyadi, sedaya lepat kula nyuwun pangapunten," lanjut Pak Bei dengan takdzim.

"Podho-podho, Pak Bei," jawab Narjo. "Semono uga aku dadi wong tuwa akeh klera-kleruku. Mula ing dina riyadi iki aku uga njaluk pangapuramu. Muga-muga dosaku lan dosamu dilebur dening Gusti Allah Dzat Kang Akarya Jagad," Narjo melanjutkan jawabannya.

"Ayo diminum dulu kopinya, Kang," Pak Bei mempersilakan sambil kembali duduk di kursinya. Narjo sahabatnya itu pun langsung nyeruput kopi di lepek yang sudah hangat.

"Alhamdulillah...kemepyar. Seger tenan."

"Dicicip kuenya, Kang."

"Siap," jawab Narjo sambil membuka toples kacang bawang. "Begitu Ramadhan usai, kehidupan langsung usreg lagi ya, Pak Bei." 

"Usreg gamaimana?"

"Soal penetapan 1 Syawal yang beda metode antara Muhammadiyah dan Pemerintah yang hasilnya juga berbeda kemarin. Muhammadiyah sudah jauh hari mengumumkan Idul Fitri tanggal 21 April, sedangkan Sidang Isbat Pemerintah tanggal 20 April memutuskan Idul Fitri tanggal 22 April. Beda satu hari."

"Iya, Kang. Begitulah yang terjadi."

"Sebenarnya itu kan sudah biasa terjadi dari dulu, dan tidak pernah ada masalah. Semua bisa saling memaklumi, saling menghormati."

"Ya harus saling menghormati, Kang. Tidak perlu ada yang merasa paling benar dan yang berbeda dianggap salah, bahkan dianggap musuh."

"Tapi kenapa tahun ini kok jadi ribut gak karuan, Pak Bei? Bahkan ada orang yang konon pakar dan peneliti astronomi sampai berani mengancam mau membunuh semua warga Muhammadiyah karena dianggap tidak taat pada Pemerintah? Kok sampai segitunya ya, Pak Bei."

"Ada beberapa kemungkinan, Kang. Boleh jadi orang itu lagi punya masalah kejiwaan. Atau, mungkin dia pengin dianggap loyal pada atasannya sehingga melakukan pembelaan secara membabi-buta. Atau, mungkin juga, dan ini sangat berbahaya, dia dibayar orang untuk sangaja bikin keributan di kalangan umat Islam agar umat Islam terpecah-belah. Ingat, Kang, ini tahun politik."

"Iya mungkin juga ya, Pak Bei. Masuk."

"Masuk bagaimana maksudmu?"

"Loh, pas kita lagi lebaran kemarin kan ada partai berkuasa mendeklarasikan bakal calon presidennya. Bahkan presiden yang seharusnya netral pun terang-terangan ikut jadi tim suksesnya."

"Mosok tim sukses, Kang? Kayaknya bukan."

"Jelas sekali gitu kok."

"Jangan-jangan bukan timses, Kang?"

"Lha apa?"

"Bisa promotor, bisa sponsor, bisa mentor, bisa apa saja, Kang. Namanya juga presiden yang lagi berkuasa. Kalau bisa kan tetap berkuasa selamanya."

"Tapi itu tidak elok, Pak Bei."

"Namanya juga politik kok, Kang. Apa saja bisa dilakukan untuk memenangkan pemilihan, agar tetap berkuasa."

"Presiden, penyelenggara negara, penyelenggara dan pengawas pemilu seharusnya netral, Pak Bei. Tidak boleh ikut jadi pemain. Bisa rusak demokrasi dan pemilu kita kalau presiden ikut bermain."

"Wis embuhlah, Kang. Entahlah. Orang politik memang angel kandhanane, susah dibilangi. Akhirnya nanti rakyat juga yang jadi korban."

"Ya sudah, Pak Bei. Saya pamit dulu. Melanjutkan tugas."

"Oke, Kang. Jaga kesehatan, ya."

"Siap, Pak Bei. Wassalam...."

Narjo meninggalkan nDalem Pak Bei menuju rumah-rumah pelanggan berikutnya. Meski tinggal sedikit pelanggan korannya, tapi Narjo tetap setia meladeni setiap pagi dengan senyumnya yang khas itu, plengah-plengeh.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#lebaran1444/2023


















Minggu, 16 April 2023

LAUTAN JILBAB

LAUTAN JILBAB

"Pak Bei, saya mau nggenahke, klarifikasi," kata Adib sahabat Pak Bei.

"Soal apa, Nda?" tanya Pak Bei.

"Soal acara SASTRA EMHA kemarin."

Pak Bei tahu sahabatnya itu hadir dan ikut duduk lesehan bersama ratusan penggemar puisi. Dia tampak asyik ngobrol dan klapas-klepus sambil menikmati minuman SYINI KOPI.

"Sesuai dengan judul acaranya, semua seniman yang tampil ke panggung kemarin membaca puisi Cak Nun tahun 70an, kecuali Pak Bei."

"Iya benar," jawab Pak Bei.

"Kenapa Pak Bei memilih baca Lautan Jilbab? Itu kan puisi Cak Nun tahun 80an."

"Iya benar."  

Pak Bei maklum, sahabatnya ini memang cukup familiar dengan dunia sastra. Mungkin hanya karena keblasuk saja dia dulu tidak kuliah di Fakultas Sastra, tapi di IKIP Negeri  yang sekarang jadi UNY, itu pun bukan di jurusan Sastra. Mungkin juga salah pergaulan sehingga dia tidak sempat ikut bergaul di komunitas sastra dan kesenian, padahal tampak minatnya di kesastraan cukup tinggi.

"Puisi-puisi Cak Nun di kumpulan Nyanyian Gelandangan dan M Frustrasi itu kan bagus-bagus, Pak Bei. Syarat kritik sosial. Sangat menggelitik dan kontemplatif. Di puisi-puisi itu Cak Nun seperti memprotes dan mengkritisi keadaan yang terjadi."

"Iya benar."

"Kukira kemarin Pak Bei mau membaca puisi Klembak Menyan. Eeh ternyata malah baca Lautan Jilbab."

"Begini lho, Nda. Harap dimaklumi, aku ini baru kenal Cak Nun tahun 80an, tepatnya pada 1987 ketika Cak Nun tampil di acara Pentas Seni Ramadhan di Kampus UGM. Waktu itu beliau membacakan satu puisi panjang berjudul LAUTAN JILBAB. Seperti ribuan jamaah yang hadir tumplek-bleg di Boulevard UGM waktu itu, aku benar-benar terpesona mendengar puisi itu. Pembacaan Cak Nun sangat indah. Semua penonton seperti tersihir. Luar biasa."

"Apanya yang luar biasa, Pak Bei?"

"Waktu itu mungkin Sampeyan masih kecil, belum tahu kondisi sosial-politik-budaya-ekonomi yang terjadi di bawah Pemerintah Orde Baru."

"Iya benar, Pak Bei. Tahun 87 itu saya masih balita."

"Awal tahun 80an itu masa-masa yang cukup mencekam."

"Mencekam bagaimana, Pak Bei?"

"Itu awal pemberlakuan sterilisasi kampus dari kegiatan politik, yang dikenal dengan NKK-BKK. Kampus hanya boleh untuk kegiatan belajar. Mahasiswa tidak boleh ngomong politik." 

"Terus, Pak Bei."

"Tahun 1982 mulai program wajib Penataran P4 bagi seluruh Pegawai Negeri dan Mahasiswa baru. Yang berani-berani mengkritisi akan ditangkap dan dikenakan pasal subversif, dianggap merongrong kewibawaan Pemerintah. Ada yang dituduh antek komunis, dan banyak juga yang dituduh mau mendirikan Negara Islam."

"Waaah...terus, Pak Bei."

"Demi stabilitas Pembangunan, tahun 1985 mulai diberlakukan Azas Tunggal. Seluruh organisasi harus berazaskan Pancasila. Yang menolak akan dibekukan, dilarang berkegiatan."

"Terus..."

"Di tengah situasi pemerintahan militeristik dan  represif waktu itu, ternyata justru lahir kesadaran baru di kalangan pelajar dan mahasiswa untuk lebih bersungguh-sungguh mempelajari ajaran Islam. Di Yogyakarta ada Jamaah Shalahuddin sebagai motor dan pusat kegiatan kreatif mahasiswa Islam, sedangkan di Bandung ada Masjid Salman ITB. Dari kedua pusat kegiatan mahasiswa Islam itulah virus-virus kesadaran kembali ke ajaran Islam menyebar ke seluruh kampus di Tanah Air."

"Terus apa hubungannya dengan Lautan Jilbab, Pak Bei?"

"Dari kajian-kajian di kedua lembaga itu, lahirlah kesadaran di kalangan pelajar putri dan mahasiswi tentang wajibnya perempuan berjilbab. Satu-dua pelajar dan mahasiswi mulai berani memakai jilbab di sekolah dan kampus."

"Terus, Pak Bei."

"Tapi mereka diintimidasi di sekolah atau kampusnya, disuruh melepas jilbab atau kalau tidak mau, mereka akan dikeluarkan. Maka, dulu hampir setiap hari kita baca di koran ada siswa, mahasiswi, dan karyawati kantor dipecat gara-gara berjilbab."

"Wah sampe segitunya, ya."

"Iya, Nda. Tapi, meski dalam suasana terintimidasi, ternyata semakin hari justru samakin banyak wanita memakai jilbab. Namanya juga keyakinan, semakin dilarang, orang justru semakin berani menunjukkan keyakinannya, meski dengan segala resiko yang terjadi."

"Terus, Pak Bei."

"Nah, situasi itu berhasil direkam dengan baik oleh Cak Nun. Spirit jaman itulah yang dituangkannya pada puisi panjang LAUTAN JILBAB dengan perspektif beliau yang sangat luas dan dalam sehingga mampu menggetarkan jiwa pendengarnya."

"Bisa kubayangkan, dampak dari pembacaan Lautan Jilbab di UGM waktu itu, yang sudah berjilbab jadi semakin mantap berjilbab, dan yang belum berjilbab jadi mikir-mikir tentang perlunya berjilbab."

"Dampaknya waktu itu belum seberapa, Nda. Yang lebih dahsyat baru tahun-tahun kemudian, terutama setelah Lautan Jilbab dipentaskan dalam format drama kolosal oleh Sanggar Shalahuddin UGM di Gelanggang Mahasiswa dengan judul Teaterikalisasi Puisi Lautan Jilbab. Pementasan dua malam itu ditonton oleh tidak kurang dari 5.000 orang. Koran-koran pun menulis bahwa pementasan Lautan Jilbab itu telah memecahkan rekor penonton teater di Yogyakarta."

"Siapa saja tokoh yang terlibat waktu itu, Pak Bei?"

"Ada banyak tokoh yang terlibat. Yang terpenting adalah Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun sebagai penulis naskah. Lalu, ada Agung Waskito (alm.) sebagai sutradara, ilustrasi musik oleh Sapto Raharjo (alm.), dan supervisor Kuntowijoyo (alm.)."

"Pemainnya siapa saja, Pak Bei?"

"Waktu itu ada 30an pemain. Mereka mahasiswa/i UGM, IAIN Suka, UII, STIPER, UPN, dan ada juga beberapa yang pegawai dan karyawan toko."

"Jadi bukan hanya dari UGM, ya?"

"Ya bukan. Jamaah Shalahuddin dulu memang terbuka bagi siapa saja yang berminat belajar keislaman dan dakwah."

"Terus , Pak Bei..."

"Pementasan yang  jadi 'viral' itu rupanya bikin banyak orang jadi penasaran."

"Maksudnya?"

"Tiga bulan kemudian, Sanggar Shalahuddin diundang mementaskan Lautan Jilbab itu di IKIP Malang, 5-6 bulan kemudian diundang pentas di Makassar, lalu berturut-turut pentas di Madiun dan Surabaya. Ahamdulillah, di setiap pementasan itu dihadiri olah puluhan ribu penonton. Itu pementasan teater yang betul-betul luar biasa dari segi estetika, tapi juga dari segi penonton dan dampak ikutannya."

"Dari nonton pementasan itu orang semakin yakin dan berani berjilbab begitu maksud Pak Bei?"

"Menurut kesaksianku iya, Nda. Itulah makanya, ada ribuan karya puisi Can Nun, tapi menurutku yang paling dahsyat adalah Lautan Jilbab. Puisi ini bukan hanya indah dan enak dibaca, tapi juga telah terbukti mengubah dunia."

"Mengubah dunia bagaimana maksud Pak Bei?"

"Sebelumnya orang masih takut-takut memakai jilbab, lalu punya keberanian memakai jilbab secara terang-terangan di mana saja dan kapan saja, tanpa ada lagi intimidasi dan larangan dari atasan. Semakin hari semakin banyak wanita berjilbab. Lihat saja sekarang, hampir semua muslimah di negeri ini memakai jilbab. Siswi-siswi di sekolah dan mahasiswi di kampus negeri pun mayoritas memakai jilbab. Di kantor-kantor, muslimah berjibab. Bahkan, di kepolisian dan tentara pun, hampir semua muslimah juga berjilbab. Ini luar biasa, kan?"

"Iya juga, ya. Hebat betul puisi Lautan Jilbab."

"Nah, jadi sudah paham kan kenapa kemarin aku memilih baca puisi itu?"

"Iya, Pak Bei. Paham. Apalagi Pak Bei waktu itu terlibat langsung di pementasan teater Lautan Jilbab itu, ya."

"Iya, Nda. Itulah bagian dari sejarah hidupku yang sangat penting. Alhamdulillah."

"Ya sudah, Pak Bei. Sudah wijang. Sudah jelas semuanya. Saya pamit pulang dulu, ya. Nanti sampai rumah langsung sahur ini."

"Terima kasih, Nda. Hati-hati di jalan, ya. Jangan ngantuk."

Adib langsung meninggalkan nDalem Pak Bei menuju rumahnya di Godean, kota kecil 10 km di sebelah barat kota Yogyakarta. Semoga aman di jalan.


#serialpakbei
#wahyudinasution
#lautanjilbab
#mpmppmuhammadiyah









Senin, 03 April 2023

JATAM

JATAM

Sebenarnya Pak Bei mau langsung istirahat begitu masuk rumah. Tidur. Sholat tarawih tadi terasa berat di mata. Maklum kurang tidur. Acara Rakerpim Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah di Jogja sejak kemarin siang baru berakhir dini hari, pukul 02.00 WIB. Karena sebelum shubuh harus bangun sahur, maka Pak Bei dan banyak teman lainnya pun memilih tidak tidur, tapi lanjut ngobrol hingga sahur. Beruntung bakda shubuh sempat tidur hingga pukul 07.00, lalu lanjut kegiatan lagi, survey beberapa lokasi tanah wakaf di Sleman yang mungkin bisa digunakan untuk kegiatan MPM.

Baru saja ganti pakaian dan bersiap mau ngglethak, berbaring, terdengar deru mesin sepeda motor masuk ke halaman nDalem Pak Bei, lalu terdengar salam. Ada tamu. Sarung yang sudah dilipat pun dipakainya kembali, dan Pak Bei langsung keluar menemui tamunya.

Ternyata Narjo si loper koran bersama 3 orang temannya. Meski berat, tapi tidak mungkin Pak Bei menolak tamunya. Apalagi ini Narjo, sahabatnya, si loper koran senior itu.

"Pangapunten, Pak Bei, saya tidak ngabari dulu. Usai tarawih langsung ke sini," kata Narjo minta permakluman.  

"Iya kok tumben malam-malam, Kang. Ada apa?"

Terdengar dari speaker masjid-masjid di sekitar nDalem Pak Bei, anak-anak usia TK-SD mulai membaca Al Quran, tadarus. Ada yang sudah bagus bacaannya, tapi ada juga yang masih terbata-bata dan tampak masih hafalan. Dan nanti setelah anak-anak capek, giliran para remaja melanjutkan tadarus hingga pukul 22.00 WIB. Suasana khas kampung Pak Bei setiap malam di bulan Ramadhan.

Narjo memperkenalkan temannya satu-persatu, namanya Tomo, Marno, dan Mardi. Ketiganya tetangga Narjo, teman satu jamaah di mesjid kampungnya. Usianya juga sepantaran Narjo, di kisaran 60 tahun.

"Kami biasa ngobrol berempat di teras masjid usai sholat, Pak Bei. Ngobrol apa saja. Namanya juga wong ndesa," jawab Narjo.

"Ya bagus itu, Kang. Di banyak masjid, budaya jagongan di serambi bakda sholat sudah lama hilang. Perlu dihidupkan lagi."

 "Benar, Pak Bei. Ndelalah obrolan menjelang buka tadi agak serius."

"Soal apa, Kang?"

"Soal nasib petani, seperti obrolan kita di sini beberapa hari lalu. Makanya lebih baik teman-teman kuajak ke sini saja, biar kenal sekalian dengan Pak Bei. Hitung-hitung tadarus," lanjutnya.

"Wonten dhawuh apa, Mas?," tanya Pak Bei pada tiga teman Narjo. Ketiganya hanya clingak-clinguk, lalu menunduk, tak ada yang berani ngomong. Maklum baru pertama ketemu Pak Bei.

Cahya, anak sulung Pak Bei, datang menyuguhkan 5 gelas kopi di nampan dan klethikan, alias adu wedang. "Monggo diunjuk, Bapak-Bapak," kata Cahya mempersilakan tamu ayahnya.

"Njih, Mas. Matur nuwun," jawab Narjo. "Ayo dho maturo dhewe. Mumpung bisa ketemu Pak Bei.  Kita minta pencerahan," kata Narjo ke temannya.

"Anu, Pak Bei, emm...cuma pengin ngobrol soal wong ndesa," Tomo mencoba bicara.

"Ada apa, Mas Tomo? Saya juga wong ndesa, lho."

"Soal tetanen, Pak Bei."

"Pertanian, maksudnya?"

"Inggih."

"Kenapa, Mas?"

"Nasib petani seperti kami ini benar-benar ngenes, Pak Bei. Berat. Makanya anak-anak kami jadi gak ada yang minat belajar bertani. Bantu-bantu bapaknya saja sudah gak mau."

"Begini, Pak Bei," Mas Mardi menimpali, "Dulu waktu masih ada Koperasi Unit Desa, KUD, kami masih bisa mendapatkan benih, pupuk, dan obat-obatan dengan gampang. Sekarang sulit. Memang sekarang ada program pupuk subsidi, tapi sering langka. Jatah pupuk subsidi juga sangat sedikit, tidak mencukupi. Jadi terpaksa kami harus beli pupuk non-subsidi yang mahal harganya. Jadi kami sering rugi, Pak Bei."

"Benar, Pak Bei, "sambung Marno. "Seperti harga-harga kebutuhan yang terus naik, biaya tanam padi pun semakin mahal, tapi harga jual panenan kami tetap rendah," lanjutnya.

"Harga gabah kering panen dibatasi dengan Harga Batas Atas," Tomo menyahut. "Namanya Harga Batas Atas, tapi ya tetap rendah, Pak Bei. Jadinya kami gak bisa untung," lanjutnya.

"Pak Bei," Narjo menyela, "Seperti yang kukatakan kemarin, memang sudah saatnya Muhammadiyah turun tangan bantu masalah pertanian ini."

"Loh kan sudah ada Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kang. Ada Bulog, ada Kementerian Pertanian. Mereka yang ngurusi dan bertanggungjawab soal itu, Kang. Juga sudah banyak LSM dan Asosiasi atau Perkumpulan yang berkomitmen membela nasib petani. Kenapa harus Muhammadiyah?"

"Begini lho, Pak Bei. Para petani ini tergolong wong cilik, posisinya sangat lemah, dhuafa' dan mustadz'afin. Sayangnya, orang-orang lemah itu hanya bisa berkumpul di tingkat Kelompok Tani dengan anggota 30-an orang. Lalu, 3-4 Kelompok Tani berkumpul di satu Gapoktan. Hanya itu perkumpulan mereka.  Tidak ada perkumpulan dalam skala yang lebih besar sehingga mereka tidak punya kekuatan, tidak punya daya tawar menghadapi para pengambil kebijakan dan pelaku pasar yang cenderung penindas."

"Piye maksudmu, Kang? Kok sangar temen bahasamu," Pak Bei sengaja memancing Narjo ngeluarkan aspirasinya. Memang, loper koran satu ini sering punya gagasan bagus, tapi selama ini dia hanya dipandang sebelah mata, tidak ada orang mau mendengarkannya.

"Pak Bei, aku yakin sebenarnya Muhammadiyah punya kemampuan mengorganisir petani dalam skala luas dan besar, skala Nasional. Ini penting agar petani punya daya tawar yang kuat terhadap pabrik benih, pupuk, obat-obatan, pedagang beras, dan para pengambil keputusan terkait pangan Nasional. Bahkan, dengan perkumpulan itu mereka bisa mandiri, tidak tergantung pada pabrik yang maunya untung sendiri.

"Caranya gimana, Kang? Ini persoalan besar dan tidak gampang. Bahkan rumit."

"Pak Bei termasuk Pengurus di PP Muhammadiyah, kan?"

"Iya, Kang."

"Muhammadiyah kan punya struktur organisasi  yang kuat dan rapi sampai ke tingkat ranting/desa, Pak Bei?"

"Iya benar, Kang."

"Nah, pasti PP Muhammadiyah bisa bikin kebijakan untuk dilaksanakan oleh semua pengurus hingga di tingkat Daerah, Cabang, dan Ranting."

"Kebijakan apa maksudmu, Kang?"

 "Kebijakan mengorganisir petani dalam satu wadah Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), misalnya. Dengan wadah itulah para aktivis Muhammadiyah menemani petani, memberi pelatihan-pelatihan guna meningkatkan kualitas panen sehingga harga jualnya bagus dan kompetitif menghadapi serbuan produk impor. Petani pasti senang bergabung di sana."

"Terus, Kang."

"Kita lihat Muhammadiyah juga punya potensi pasar yang sangat besar."

"Iya, Kang. Insya Allah."

"Jutaan warga Muhammadiyah setiap hari butuh pangan, butuh beras, butuh daging, telur, minyak goreng, dsb."

"Iya benar, Kang."

"Artinya, Muhammadiyah pasti bisa menyerap produk petani binaannya sendiri. Di sini berlaku prinsip ta'awun, tolong-menolong sesama warga Muhammadiyah, Pak Bei."

"Wah bagus idemu, Kang."

"Narjo gitu lho, Pak Bei," sahut Mardi disambut tawa Tomo dan Marno.

"Satu lagi, Pak Bei. Ini tidak kalah penting," kata Narjo.

"Apa, Kang?"

"Muhammadiyah perlu menghidupkan kembali semangat berkoperasi para petani."

"Gimana caranya?"

"Dibentuk saja koperasi JATAM di tingkat Kecamatan atau Kabupaten sebagai wadah usaha bersama yang melayani pengadaan benih, pupuk, obat, dan peralatan yang dibutuhkan anggota. Koperasi itu juga yang nanti membeli dan memasarkan produk anggotanya ke pasar yang lebih luas."

"Wah bagus idemu, Kang. Insya Allah akan kusampaikan ke teman-temanku di Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah. Semoga bisa diprogramkan."

"Ingat, Pak Bei. Wis wayahe. Sudah saatnya Muhammadiyah turun tangan."

Sudah tak terdengar lagi suara tadarus di mesjid-masjid. Pak Bei melihat jam di hp-nya, sudah pukul 22.10. Narjo dan teman-temannya tampak saling ngasih kode untuk pamitan.

"Pak Bei, malam sudah cukup larut. Kami pamit dulu, ya. Kita harus istirahat biar nanti bisa bangun sahur," kata Narjo.

"Baik, Kang. Terima kasih atas kerawuhan-nya. Senang bisa ngobrol dengan Mas Tomo, Mas Mardi, dan Mas Marno. Kapan-kapan kita sambung lagi, ya."

Tamu-tamu tampak lega meninggalkan nDalem Pak Bei. Tadarus bersama Narjo dan teman-temannya sangat mengesankan. Semoga menjadi mimpi indah di bulan Ramadhan. Terngiang-ngiang di kepala Pak Bei kata-kata terakhir Narjo tadi, "Wis Wayahe. Sudah saatnya." 
Ya, sudah saatnya gerakan JATAM lebih diperluas dan dipertajam.
Terima kasih, Kang Narjo.

#serialpalkbei
#wahyudinasution
#wiswayahe
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten














Senin, 20 Maret 2023

NASIB PETANI

NASIB PETANI

"Presiden kok kagetan ya, Pak Bei. Heran saya," kata Kang Narjo sambil melemparkan koran ke lantai.

Pak Bei yang sedang baca-baca berita online langsung meletakkan HP dan membuka kacamatanya melihat Kang Narjo mematikan motor lalu turun dan duduk nglesot di lantai. 

"Loper koran ini pasti pengin ngobrol," pikir Pak Bei sambil turun dari kursinya dan ikut duduk lesehan.

"Presiden mana yang kagetan, Kang?," Pak Bei merespon omongan Kang Narjo.

"Presiden Alengka Diraja," jawab Narjo dengan pringas-pringis. "Ya jelas Presiden kita, to," lanjut Narjo.

"Kaget soal apa?"

"Lha ini," Narjo menunjukkan headline di koran yang dilemparkannya.  Tampak foto Presiden bersama dua pembantunya sedang ngobrol di pinggir hamparan padi menguning siap dipanen. 

"Wah bagus banget ya fotonya. Angelnya bagus. Ini pasti jepretan fotogafer profesional, Kang," Pak Bei mengomentari foto yang ditunjukkan Narjo.

"Bukan soal fotonya, Pak Bei."

"Lha soal apa?"

"Musim panen raya padi, tapi ternyata kita masih impor beras berjuta-juta ton. Itu yang bikin Presiden kaget. Padahal kan sudah biasa. Lha kok masih kaget," lanjut Narjo.

Zika, anak gadis Pak Bei yang sedang  libur kuliahnya di UNIDA Gontor, datang menyuguhkan dua gelas teh nasgithel di nampan.

"Monggo minum dulu, Pak Narjo," kata Zika.

"Iya, Mbak. Trima kasih, ya," jawab Narjo sambil meraih gelas dan nyeruput teh panas.

"Kemepyar....alhamdulillaah, segerrr.....," wajah Narjo tampak berbinar.

"Itu tadi kan namanya kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu, Pak Bei."

"Mungkin memang tidak tahu kok, Kang."

"Ya gak mungkin. Presiden pasti tahu ketersediaan pangan bagi rakyatnya apakah aman atau tidak, perlu impor atau tidak. Beliau pasti tahu dari laporan para pembantunya."

"Ya mungkin saja pembantunya belum sempat lapor bahwa panen raya kali ini belum aman untuk stok menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri. Harga beras masih melambung tinggi. Maka solusinya harus mendatangkan impor agar harga beras di pasaran tetap stabil dan terkendali."

"Tetap di harga rendah, maksudnya?"

"Iya."

"Kok gak kasihan petani."

"Maksudnya?"

"Mbokya biarkan saja sesekali petani bisa menjual harga panenannya dengan harga bagus, biarkan petani mendapatkan untung dari kerja kerasnya setiap hari. Tidak rugi terus. Dari dulu kok dibatasi dengan Harga Eceran Tertinggi (HET)."

"Lha itu kan memang tugas Pemerintah, Kang. Menekan laju inflasi dengan menjaga agar harga pangan tetap stabil."

"Itu gak adil."

"Kok gak adil?"

"Kenapa yang dibatasi harganya dengan HET hanya beras, sementara harga-harga kebutuhan lainnya dibiarkan terus merangkak naik? Harga Tarif Dasar Listrik, BBM, PBB, biaya sekolah-kuliah, dan biaya seluruh kebutuhan hidup lainnya dibiarkan naik? Ini jelas gak adil, Pak Bei."

Loper koran satu ini kalau sudah mulai ngomyang memang sulit dibantah. Pak Bei tahu betul Narjo ini di generasinya termasuk anak sekolahan. Dia lulusan SMEA Negeri 1 di kota kami, salah satu sekolah favorit waktu itu. Hanya anak pintar yang bisa masuk sekolah di sana. Sebagai loper koran, Narjo pun punya kebiasaan membaca yang cukup baik. Bahkan, dia punya prinsip tidak mengantarkan berita ke pelanggan sebelum dia sendiri sudah membacanya.

"Pak Bei, Njenengan kan aktif di Muhammadiyah."

"Iya, Kang. Kenapa?"

"Menurutku, Muhammadiyah yang bisa menolong nasib petani."

"Kok bisa begitu?"

"Nuwun sewu lho, Pak Bei. Dulu jaman Orde Baru, Pemerintah betul-betul serius ngurusi petani melalui Repelita 1-2-3-dan seterusnya. Pada Repelita ke-4, kita bisa swasembada beras. Beras panenan kita bisa berlimpah, surplus. Tidak ada cerita impor beras dari Vietnam, Myanmar, atau Thailand. Komoditas pertanian yang lain termasuk peternakan juga melimpah. Pak Bei ingat kan?"

"Iya, Kang. Aku masih ingat."

"Tentu Pak Bei juga ingat dulu Pak Harto rajin menghadiri Klompencapir untuk ketemu dan dialog dengan para petani."

"Wah iya, Kang. Pak Harto tampak sangat fasih bicara tentang pertanian, soal bibit, soal hama, dan obat-obatan. Sangat fasih bicara tentang ternak kambing, domba, sapi, ayam, dan sebagainya. Hebat sekali."

"Nah itu maksudku."

"Piye, Kang?"

"Sudah saatnya dakwah Muhammadiyah masuk ke sektor itu," kata Narjo dengan wajah serius. "Saat ini kita tidak bisa mengandalkan Pemerintah dan para pejabat untuk mengurus nasib petani. Waktu, tenaga, dan pikiran mereka sangat terbatas, sudah habis untuk mengurus balik modal biaya politiknya. Padahal, sektor pertanian butuh keseriusan pananganannya kan, Pak Bei?"

"Ya tapi kenapa harus Muhammadiyah, Kang?"

"Pak Bei, Muhammadiyah sudah terbukti mampu membuat gerakan besar dan rapi di bidang pendidikan, kesehatan, dan dakwah dengan organisasinya yang rapi. Itu karena organisasi diurus oleh orang-orang jujur, pintar, dan  punya kesungguhan dalam berdakwah di berbagai bidang kehidupan."

"Iya, Kang. Alhamdulillah."

"Kubayangkan kalau Muhammadiyah mau mengorganisir petani dengan struktur organisasi yang rapi, dibuat koperasi-koperasi petani sejak Ranting, Cabang, Daerah, hingga Pusat, lalu para Pimpinan Muhammadiyah mengajak para pakar pertaniannya hadir dan berdialog dengan petani. Ini akan dahsyat sekali, Pak Bei."

"Tapi gak gampang itu, Kang."

"Waduh Pak Bei ini mbok gak usah sok lugu, to. Ya memang tidak gampang. Tapi Muhammadiyah pasti mampu melakukannya."

"Terus, Kang..."

"Pak Bei pasti tahu betapa posisi petani sebagai produsen pangan sangat lemah. Posisi tawarnya terhadap pabrik benih, pupuk, obat, dan para tengkulak sangat lemah. Harga jual panenannya sering tidak mampu menutupi biaya produksi yang terus naik."

"Iya benar itu, Kang."

"Petani jadi semakin miskin. Berat. Bahkan lama-lama mereka akan menjadi fakir, Pak Bei. Makanya anak-anak muda gak mau jadi petani."

"Ya makanya ada program Bansos, BLT, dan PKH dari Pemerintah, Kang."

"Itu program yang agak kurang cerdas, Pak Bei."

"Maksudnya?"

"Justru dengan program itu rakyat dibuat semakin miskin."

"Kok gitu, Kang?"

"Memang aneh. Saat ini rakyat justru bangga disebut miskin, lalu berebut jadi penerima Bansos, BLT, dan PKH setiap bulan. Sementara, kekayaan negara dipakai bancakan para koruptor dan politisi jahat, rakyat disogok program sosial melalui alokasi Dana Desa. Itu kan termasuk risywah, Pak Bei. Rakyat disogok ratusan ribu rupiah setiap bulan agar diam saja, padahal kekayaan negara dirampok besar-besaran setiap hari."

"Ayah sudah ditunggu Bunda di workshop," kata Zika mengingatan.

"Ya, Nduk. Sebentar," jawab Pak Bei. "Kang, sori aku harus nemani Bunda brieffing karyawan. Kapan-kapan kita lanjut ngobrolnya, ya," kata Pak Bei pada Narjo.

"Wah iya, ternyata sudah jam 8.00. Aku juga harus lanjutkan tugas. Pamit dulu ya, Pak Bei," jawab Narjo sambil bergegas meninggalkan nDalem Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#nasibpetani
#mpmppmuhammadiyah





























 

Selasa, 07 Februari 2023

REGENERASI ITU PENTING

REGENERASI ITU PENTING

Setelah genap satu minggu Narjo tidak menampakkan batang hidungnya, dan tugas mengantar koran digantikan Azis anak bungsunya, pagi ini mak bedunduk dia datang dengan wajahnya yang plengah-plengeh alias full-smile. 

Sebenarnya reputasi loper koran satu ini luar biasa, nyaris tanpa cacat, sangat setia dengan profesi yang telah dijalaninya selama hampir 40 tahun. Pak Bei ingat betul, dulu Narjo mengawali profesinya ketika masih muda, dari naik pit wedok glodhek-glodhek, lalu bisa beli Supercup dan gonta-ganti Astrea serta beranak 3. Bahkan kini cucunya sudah 2. Narjo yang senyumnya plengah-plengeh itu tak pernah ingkar janji. Tiap pagi bakda shubuh berangkat ke agen koran dan majalah di kota Klaten, lalu menyusuri jalanan kampung mencari alamat rumah pelanggan satu-satu di wilayah kecamatan Ngawen, Jatinom, Karanganom, Polanharjo, dan Tulung. Menjelang dhuhur sudah sampai di rumah, lalu mandi dan ke masjid di dekat rumah untuk azan dhuhur. 

Begitulah, Narjo bekerja tak peduli cuaca. Kekurangannya mungkin karena tidak membuat perencanaan yang baik terkait usahanya. 

"Hidup ini mengalir saja, Pak Bei," kata Narjo suatu pagi. "Rejeki sudah ada yang mengatur. Jatah rejeki sudah ditentukan sejak kita belum lahir ke dunia. Jadi gak usah ngoyo dan gak usah meri dengan rejeki tetangga," lanjut Narjo seakan memberi tausiah pagi.

"Tapi manusia kan wajib ikhtiar to, Kang. Ya memang jatah rejeki itu rahasia Tuhan, tapi manusia wajib ikhtiar maksimal, kerja keras, kerja cerdas. Itu bentuk rasa syukur kita telah dianugerahi hidup," Pak Bei mencoba menyanggah. "Mbok ya belajar pada Pak Harto, Kang."

"Walah lha kok Orde Baru. Itu kan rejim yang sudah kita tumbangkan melalui reformasi 1998. Itu masa lalu, Pak Bei."

"Kang, Orde Baru jangan hanya dilihat dari sisi kekurangannya saja. Cobalah lihat juga dengan objektif keberhasilannya. Itu baru adil."

Kedua sahabat itu pun asyik mengenang masa-masa kecil hingga sekolah dan dewasa. Mereka masih ingat betul betapa dulu Pemerintah Orde Baru yang dipimpin Pak Harto relatif berhasil membangun Indonesia. Dengan visi Pembangunan Manusia Seutuhnya, Pak Harto membuat perencanaan Pembangunan jangka pendek per 5 tahun dan jangka panjang per 25 tahun melalui Repelita 1-5. Repelita 1-3 dititikberatpan pada pembangunan sektor pangan, infrastruktur pertanian dan peningkatan kapasitas produksi pertanian. Di samping itu, sekolah-sekolah SD Inpres dibangun di pelosok-pelosok Desa, SMP Negeri dibangun di kota-kota Kecamatan, SMA, SMEA, SPG, PGA, dan SGO dibangun di kota Kabupaten. Kampus-kampus negeri juga dibangun, dan biaya kuliah pun sangat murah. Rakyat yang tidak punya lahan bertani atau lahan pertaniannya tergusur oleh Pemangunan diikutkan  program Transmigrasi. Ternyata banyak transmigran yang sukses bertani dan berkebun di Sumatra dan Kalimantan. Bila pada awal tahun 70an di Indonesia masih terjadi krisis pangan, mulai awal 80an sudah bisa swasembada pangan. Cita-cita gemah ripah loh ninawi relatif terwujud. Harga-harga pangan murah, BBM murah, sekolah murah. Bea siswa Supersemar disediakan bagi pelajar dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu namun pintar. 

"Iya ya, Pak Bei. Padahal dulu dipimpin Pak Harto, negara kita hampir tinggal landas menjadi negara maju. Tapi beliau malah kita jatuhkan ramai-ramai melalui reformasi," kata Narjo nyeruput teh nasgithel yang disuguhkan Bu Bei dari tadi.

"Sekarang bagaimana, Kang?"

"Wolak-waliking jaman, Pak Bei. Maunya reformasi, eh kalah repotnasi jadinya. Semua pejabat hanya mikir numpuk kekayaan untuk dirinya sendiri. Gak ada yang mikir rakyat. Salah kiblat."

"Kok salah kiblat?"

"Lha iya. Orang berebut jadi Presiden, DPR, DPRD, Gubernur, Bupati atau Walikota hingga Dirjen, Direktur, Kasi, dan sebagainya, itu semua demi menumpuk kekayaan untuk diri dan keluarganya. Semua cara dilakukan. Merampok dan korupsi berjaah pun dianggap lumrah. Tampaknya gak ada lagi yang berniat ibadah demi kemakmuran dan kesejahteraan bersama."

"Ngono yho, Kang."

"Semua aji mumpung."

"Aji mumpung bagaimana?"

"Mumpung bapaknya masih berkuasa, maka anak-anak dan menantunya atau ponakannya dicarikan jabatan yang bagus. Semua daya dikerahkan untuk melanggengkan kemuliaan keluarganya."

"Itu juga namanya regenerasi, Kang?"

"Ya jelas bukan, Pak Bei. Regenerasi pada pengelolaan negara mestinya berdasarkan kemampuan dan prestasi,  bukan berdasarkan anak keturunan yang sedang berkuasa, bukan berdasarkan banyaknya duit dari para botoh atau sponsor. Kalau pengelolaan usahanya sendiri, silakan saja dilakukan regenerasi ke anak-cucunya."

"Nah ini. Kang Narjo sendiri harus menyadari telah gagal regenerasi di usaha loper koran."

"Loh aku kan sedang melatih anakku sekarang."

"Telat banget itu, Kang. Harusnya anakmu sudah diajak terjun sejak orang masih mau baca koran. Lha sekarang sudah jamannya orang baca berita online kok baru regenerasi. Kasihan anakmu, Kang."

"Iya ya, Pak  Bei."

"Kang, kebanyakan masyarakat kita memang tidak nggagas pentingnya regenerasi. Tentu Kang Narjo masih ingat, dulu pergerakan merebut kemerdekaan negeri kita dipelopori oleh kaum padagang yang tergabung dalam Serikat Dagang Islam. Para saudagar itu yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga Perguruan Tinggi, dan kelak anak-anaknya yang terpelajar itulah yang berperan aktif sejak sebelum hingga setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945."

"Iya benar, Pak Bei."

"Sayang sekali bahwa setelah kita merdeka, saudagar-saudagar justru semakin melemah. Proses regenerasi tidak terjadi. Anak-anaknya diorientasikan menjadi pegawai, dosen, guru, karyawan, dan politisi. Tidak ada yang jadi saudagar sukses seperti dulu."

"Iya ya, Pak Bei. Jadinya ekonomi kita dikuasai orang lain. Sangat sedikit pengusaha kita yang sukses."

"Makanya, kenapa Kang Narjo tidak dari dulu mempersiapkan anak-anakmu jadi jurnalis atau pengusaha penerbitan dan media? Kan keren kalau ada anak loper koran bisa sukses jadi pengusaha penerbitan dan media papan atas."

"Wah iya, ya. Sudah terlambat. Selama ini aku tidak punya pikiran ke sana."

"Itu yang namanya gagal regenerasi, Kang."

"Ya sudah, besok anakku akan kusuruh nyoba pindah ke jalur politik saja. Siapa tahu bisa jadi anggota Dewan yang terhormat. Perbaikan nasib, Pak Bei."

"Begitu juga boleh, Kang."

"Saya pamit dulu, ya.
Terima kasih sudah dibuatkan teh nasgithel. Sudah hangat perutku."

Narjo melanjutkan tugasnya menuju rumah-rumah pelanggan koran yang masih tersisa. 

#serialpakbei
#wahyudinasution
#regenerasi
#lpumkmpdmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah



Minggu, 22 Januari 2023

MUKENA RAMADHAN

MUKENA RAMADHAN

Dua buah mobil berbranding Pondok Pesantren Modern GONTOR PUTRI 2 Mantingan, Ngawi, Jawa Timur perlahan-lahan meninggalkan halaman nDalem Pak Bei. Para Ustadz-Ustadzah Gontor Putri 2 dipimpin Ustadz Zaki ditemani Ustadz Fuad dari IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) Cabang Solo itu akan melanjutkan silaturahmi ke pengusaha lainnya di sektor makanan. Tamu-tamu yang sopan. Mereka sengaja nemui Pak Bei-Bu Bei untuk minta ijin besok pertengahan Maret akan membawa santri-santri klas 6 Gontor Putri-2 berkunjung ke Bundaco dalam program Rihlah. 

Pak Bei paham, di Pondok Gontor memang ada program Rihlah bagi santri-santri kelas 6. Setelah mereka selesain ujian akhir, sebelum yudisium lalu melanjutkan program Pengabdian selama satu tahun, mereka diajak study tour guna mengenal dunia wirausaha di masyarakat. Mungkin ini salah satu cara Pondok Gontor menamamkan mental mandiri pada para santrinya. Sejak kelas 1, para santri sudah dididik untuk mandiri, bukan bermental 'anak mami'. Kelak mereka setelah lulus juga harus siap jadi pengusaha, bukan ikut antri daftar jadi pegawai atau karyawan. 

Bagi Bundaco, kunjungan Rihlah Pondok Gontor ini akan jadi yang kedua. Dulu sebelum pandemi covid-19, GP-5 Kediri juga pernah melakukan Rihlah. Sebanyak 3 bus santriwati berkunjung ke Bundaco, belajar tentang wirausaha beserta segala dinamikanya. Tahun sebelumnya, Ponpes Al-Huda Cepogo, Boyolali juga melakukan Wisata Industri ke Bundaco. Sebelumnya lagi, Kementerian Perindustrian Provinsi Kalimantan Selatan setiap tahun selama 3 tahun berturut-turut juga menitipkan pelaku-pelaku UKM Konveksi se-Kalsel untuk magang di Bundaco. Bagi Pak Bei-Bu Bei, itu semua disikapinya sebagai peluang untuk menebarkan virus wirausaha pada generasi muda dan kesempatan untukberbagi pengalaman berwirausaha.

Pak Bei dan Bu Bei masih asyik ngobrol tentang tamu-tamu dari Gontor tadi,  tetiba satu mobil Innova putih masuk ke halaman. Sepasang suami-istri turun dari mobil dan mengucap salam. Setelah menjawab salam, Pak Bei dan Bu Bei pun mempersilakan kedua tamunya itu duduk di kursi sedan lawasan, tempat Pak Bei biasa menerima tamu atau ngobrol malam-malam dengan teman-temannya sambil ngopi.

"Nuwun sewu, Bapak-Ibu ini dari mana, ya?," tanya Bu Bei membuka obrolan.

"Ooh njih, Bu, pekenalkan nama saya Budi dan ini istri saya Santi. Kami tinggal di Jogja, di kawasan Seturan," jawab Pak Budi. 

Melihat penampilannya, usia suami-istri ini masih cukup muda, agak jauh di bawah Pak Bei, kelihatan masih di kepala 4. Rumahnya di kawasan Seturan berarti ekonominya cukup mapan, begitu pikir Pak Bei. Menilik prejengan dan tutur bahasanya, patut diduga Pak Budi ini berprofesi dosen, entah di UGM, UNY, UIN, UII, UPN, YKPN, atau entah di mana. Sebagaimana teman-teman Pak Bei yang berprofesi dosen, pada usia itu rata-rata mereka sudah bergelar Doktor, bahkan ada yang Profesor. Dosen sekarang kelihatan keren-keren. Di samping gajinya besar, biasanya mereka juga masih nyambi jadi konsultan proyek-proyek Pemerintah atau Swasta.

"Oh ya, Pak Budi. Perkenalkan juga, ini Pak Bei suami saya, dan saya sendiri biasa dipanggil Bu Bei, tapi banyak juga yang suka manggil saya Bunda," Bu Bei ganti memperkenalkan diri.

"Apa yang bisa kami bantu, Mas Budi?," Pak Bei sengaja memanggilnya 'Mas' agar lebih akrab.

"Begini, Pak Bei. Kami mau cari mukena untuk kami bagikan menjelang Ramadhan," jawab Pak Budi.

"Wah mantap, Mas. Bagaimana ceritanya cari mukena kok bisa sampai ke sini? Di Jogja kan banyak toko mukena?," Pak Bei memancing.

"Begini, Pak Bei," Bu Santi menyahut, "Dua bulanan lagi kita kan memasuki bulan Ramadhan. Seperti umat Islam pada umumnya di setiap bulan suci, kami pun berupaya memperbanyak shadaqah dan amalan-amalan sunnah lainnya."

"Tahun-tahun lalu, disamping  mambantu pengadaan takjil di beberapa masjid,  kami juga membagikan sarung untuk jamaah bapak-bapak," kata Pak Budi menimpali.

"Wah bagus itu, Bu Santi" kata Bu Bei.

"Tapi tahun ini kami ingin beda," kata Bu Santi.

"Beda bagaimana, Mbak?," Bu Bei ganti menyapa dengan 'Mbak'.

"Sekarang giliran Ibu-Ibu. Kami ingin membagikan mukena untuk ibu-ibu dan remaja putri. Kalau bisa akhir Sya'ban sudah terlaksana," jawab Bu Santi.

"Wah alangkah senangnya jamaah masjid punya warga yang dermawan seperti Mas Budi dan Mbak Santi ini," kata Bu Bei.

"Alhamdulillah, Bu Bei. Prinsipnya kami ingin bergembira bersama menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Semoga jamaah masjid kami senang  bisa shalat tarawih dan shubuhan di mesjid selama sebulan penuh, memakai mukena baru," kata Pak Budi.

"Apalagi kalau mukenanya model baru dan warnanya bisa sama ya, Pah. Jadi seragam gitu loh," kata Bu Santi.

"Kemarin kami mencoba browsing mencari produsen mukena di sekitar Jogja-Solo, ternyata ketemunya BUNDACO, Produsen Mukena Travelling di Klaten. Cukup dekat. Makanya sore ini kami ke sini, Bu Bei. Pengin melihat langsung," kata Pak Budi.

"Kami juga sudah melihat foto-foto di IG bundaco.klaten. Masya Allah, cantik-cantik banget. Kami jadi penasaran, Bu," Bu Santi menambahi.

"Masya Allah, kami merasa tersanjung Mas Budi dan Mbak Santi mau keroyo-royo datang ke sini,  di rumah produksi Bundaco.  Nah biar afdhol, sebaiknya sekarang Mbak Santi diantar Bu Bei melihat-lihat koleksi produk di showroom. Mas Budi boleh juga kalau mau ikut, atau mau nunggu di sini saja sambil ngopi dengan saya," kata Pak Bei.

Ternyata Mas Budi memilih ikut melihat-lihat ke showroom. Pak Bei segera menuju dapur memasak air, membuat 2 gelas kopi dan segelas teh nasgithel. 

"Bagaimana, Mbak Santi, ada yang sesuai keinginan?," tanya Pak Bei setelah mereka kembali duduk di teras nDalem Pak Bei.

"Alhamdulillah ada, Pak Bei. Tadi kami langsung pesan 100 pcs ke Bu Bei," jawab Mbak Santi.

"Alhamdulillah, terima kasih, Mbak Santi."

"Oya, Bu Bei, DP 50% saya transfer sekarang saja njih, pakai M-Banking, lanjutnya.

"Ooh njih monggo, Mbak. Nomor rekening ada di nota pesanan tadi."

"Monggo diunjuk dulu kopinya, Mas Budi. Monggo, Mbak Santi, ngunjuk teh nasgithel ala ndeso dulu," Pak Bei mempersilakan tamu-tamunya.

Sebentar lagi waktu maghrib. Mas Budi dan Mbak Santi pamitan. "Nanti berhenti sholat di Pom Bensin saja," jawab Mas Budi ketika ditawari Pak Bei nunggu maghrib dulu saja.

Hari yang luar biasa. Tamu-tamu agung berdatangan ke Bundaco, di sebuah dusun di jalan raya Klaten-Jatinom-Boyolali. Indahnya berwirausaha di desa.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mukenaramadhan
#indahnyawirausaha