Sabtu, 25 November 2023

MEMILIH PEMIMPIN

MEMILIH PEMIMPIN

Ronda di Poskamling malam Minggu kali ini tampak lebih gayeng dari biasanya. Bukan hanya karena tiap malam Minggu memang jadwal rondanya mayoritas pemuda-remaja yang masih sekolah atau kuliah, tapi ndelalah ada Lek Nardi yang mampir dari kondangan dan membawa banyak makanan. Suasana pun jadi hidup dan meriah. 

Tetangga Pak Bei yang satu ini agak istimewa. Kehadirannya di manapun selalu membawa suasana segar.  Pekerjaannya sebagai pengrajin lanjaran, bilah bambu untuk tanaman merambat, rupanya membawanya banyak bergaulan dengan berbagai kalangan. Banyak omong. Kadang terkesan sok tahu segala hal.  Suaranya pun keras, khas orang desa. Saking sok tahu dan kerasnya, kadang terkesan kurang subasita, kurang sopan. Tapi justru itu yang bikin suasana jadi hidup, gayeng, dan anak-anak muda pun menyukainya. 


"Anak-anak, ini mumpung ada Pak Bei, ayo kita keroyok ramai-ramai agar berbagi ilmu ke kita," Lek Nardi memprovokasi para pemuda. 

"Ya monggo, Lek Nardi dulu yang memulai," sahut Teguh yang duduk di pojok.

"Mestinya kalian dulu yang punya banyak informasi. Ayu Sul, ajukan pertanyaan ke Pak Bei," Lek Nardi menyuruh Samsul yang lagi asyik makan rengginang. "Kalau saya ini kan cuma wong bodo, hanya tahu informasi dari tivi. Atau monggo Pak Bei saja yang cerita. Pasti punya info yang layak kita dengar," sambungnya.

"Cerita apa to, Lek? Aku lebih suka mendengarkan cerita-ceritamu," jawab Pak Bei.

"Ya cerita tentang politik, misalnya. Beberapa hari lagi kita akan memasuki masa kampanye Pemilu. Pasangan  capres-cawapres ada tiga dan sudah jelas nomor urutnya. Dari ketiga pasangan itu, mana yang layak kita pilih?" 

"Wah berat itu, Lek."

"Kok berat? Sampeyan kan tokoh masyarakat. Pasti bisa memberi pencerahan pada orang bodoh seperti saya ini."

"Iya, Pak Bei. Lek Nardi benar. Kami ini butuh pengarahan menghadapi Pemilu nanti," kata Slamet.

"Begini... Pertama, kalian tahu saya ini bukan tokoh politik, bukan politisi. Jadi kurang cukup paham peta politik yang sebenarnya. Kedua, saya sudah punya pilihan yang mungkin berbeda dari pilihan teman-teman. Mari kita saling menghormati perbedaan dan saling menjaga perasaan."

"Tolong Pak Bei juga menghargai permintaan kami. Kami cuma ingin diajari membaca dan membedakan mana calon pemimpin yang baik dan mana yang kurang baik. Pak Bei tentu lebih tahu dari kami," Lek Nardi menyanggah.

"Baiklah kalau begitu," Pak Bei pun mengalah. "Aku punya cerita."

"Nah gitu, Pak Bei."

"Jumat kemarin, di perjalanan ke Semarang untuk suatu urusan, aku berhenti di sebuah masjid untuk Jumatan."

Semua petugas ronda tampak siap mendengarkan cerita Pak Bei. Ada yang sambil klepas-klepus rokokan, ada yang sambil menikmati kacang oven bawaan Lek Nardi.

"Muazin mengumandangkan azan tepat setelah aku selesai sholat tahiyatul-masjid. Jamaahnya belum seberapa banyak, masih beberapa shaf belum terisi, alias masih kosong. Beberapa jamaah yang baru datang tampak berdiri menunggu muazin menyelesaikan azan, baru kemudian mereka akan melakukan shalat dua rakaat, shalat tahiyatul-masjid." 

"Rupanya masyarakat di sana tidak jauh beda dengan di kampung kita ya, Pak Bei? Baru bergegas ke masjid ketika azan sudah mulai berkumandang," kata Arif sambil tertawa. 

"Iya. Kebiasaan yang kurang afdhol, tetapi umum terjadi di mana-mana," jawab Pak Bei.

Pak Bei melanjutkan ceritanya. Khotib Jumat mengangkat tema aktual dan sangat kontekstual, yakni seputar memilih pemimpin. Diawali cerita sejarah Madinah sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin dari Mekah. Konon ada banyak suku di Madinah, yang paling dominan adalah suku Aus dan Khazrat. Suku-suku kecil bangsa Yahudi suka memperkeruh keadaan, menyebar fitnah, dan mengadu domba mereka. Maka, kedua suku Arab yang seakan partai politik di jaman kita itu terus bermusuhan dan tak jarang terjadi peperangan antara keduanya.

"Di jaman itu sudah ada provokator yang suka adu-domba ya, Pak Bei?"

"Benar. Saking seringnya berperang antar-mereka, akhirnya mereka pun merasa capek sendiri. Mereka sadar dan ingin hidup damai dan tenteram, ingin bebas dari rasa takut, ingin bisa bekerja dengan tenang, dan ingin membangun negerinya agar makmur sentosa. Mereka butuh pemimpin yang adil dan tidak menindas."

"Terus, Pak Bei...."

"Menurut cerita khatib kemarin, ada seorang tokoh dari suku Khazrat bernama Abdullah bin Ubay yang sangat berambisi menjadi pemimpin Madinah. Tentu saja suku Aus menolaknya karena mereka tahu watak Abdullah bin Ubay yang culas, suka berbohong, tidak jujur, dan kejam. Tapi Abdulllah bin Ubay tetap berusaha tampil sebagai pemimpin Madinah. Orang-orang pun takut dan terpaksa taat pada Abdullah bin Ubay."

"Terus, Pak Bei..."

"Ketika Nabi Muhammad dan para sahabatnya datang berhijrah dari Mekah, masyarakat Madinah menyambut dengan suka cita. Maklumlah, memang sudah lama mereka mendengar kabar dari orang-orang Yahudi bahwa Allah akan mengutus Nabi terakhir, entah kapan datang, untuk menjadi panutan bagi manusia agar selamat dunia-akhirat. Ciri-ciri Nabi terakhir itu persis yang mereka saksikan pada diri Muhammad. Orangnya jujur, dapat dipercaya, turur katanya bagus, dan cerdas. Masyarakat Madinah pun yakin bahwa beliaulah Nabi terakhir itu. Maka mereka ramai-ramai berbaiat kepada Muhammad dan mengikuti ajaran Islam yang dibawanya."

"Terus bagaimana reaksi Abdullah bin Ubay, Pak Bei?"

"Abdullah bin Ubay pun terpaksa pura-pura ikut berbaiat, meski
 sebenarnya dia sangat benci pada Rasulullah SAW."

"Mbok jangan panjang-panjang ceritanya, Pak Bei," rupanya Lek Nardi tidak sabar mendengar cerita sejarah. "Kesimpulannya saja apa?," tanyanya.

"Menurut khotib, Pemilu nanti kita akan memilih pemimpin untuk masa depan Indonesia, Lek Nardi. Apakah kita mau memilih pemimpin tipe Abdullah bin Ubay yang munafiq dan ambisius, atau memilih pemimpin tipe Muhammad SAW yang memiliki sifat sidiq/jujur, amanah/dapat dipercaya, tabligh/komunikatif, dan fathonah/cerdas. Semua terserah jamaah. Khotib cuma mewanti-wanti supaya jamaah menggunakan akal sehat dalam menentukan pilihan agar tidak menyesal kemudian."

"Terima kasih, Pak Bei. Jelas aku akan milih yang tipe Nabi Muhammad SAW. Kalau kalian mau pilih tipe Abdullah bin Ubay, ya silakan saja, tapi rasakan akibatnya. Akan semakin remuk dan hanya dibohongi terus," kata Lek Nardi kepada anak-muda.

"Ya enggaklah, Lek. Aku bala-mu," sahut Teguh.

"Iya, Lek. Aku juga bala-mu," kata Samsul.

Obrolan di cakruk pun bubar setelah Teguh melaporkan hasil jimpitan malam ini, terkumpul Rp 35.500. Alhamdulillaah.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten





 

Minggu, 19 November 2023

BERPRASANGKA BAIK

BERPRASANGKA BAIK

Bakda isya', Pak Bei sebenarnya mau langsung siap-siap berangkat ke Yasinan sepulang dari masjid. Maklumlah ini malam Jumat. Di kampung Pak Bei ada tradisi sejak tahun 1952/53 yang masih berjalan dan terawat baik hingga sekarang, yaitu Pengajian Tilawatil-Qur'an khusus untuk Bapak-bapak dan pemuda atau remaja putra. Tempatnya berpindah-pindah, bergilir dari rumah-rumah jamaah. Konon, pada pengajian tiap malam Jumat itu awalnya yang dibaca hanya surah Yasin dilanjut Tahlilan. Dalam perkembangannya, jamaah membaca Al Quran secara tartil  dipandu oleh salah seorang yang termasuk bagus bacaannya sesuai jadwal yang sudah dibuat. 

Untunglah malam ini bukan giliran Pak Bei yang memandu mengaji. Jadi Pak Bei merasa tidak wajib berangkat. Ada yang lebih wajib dilakukannya,  yakni menemani tamu-tamunya. Ndelalah juga tamunya kali ini Kang Narjo. Dia datang lagi bersama tiga pemuda kampungnya. 

"Pangapunten tidak ngabari dulu, Pak Bei. Adik-adik ini tadi selesai jamaah isya' langsung minta diantar ke sini. Katanya pengin meguru ke Pak Bei," kata Kang Narjo.

"Halaah meguru apa? Ngobrol sajalah. Saya kan bukan guru," kata Pak Bei.

"Pak Bei kan termasuk pengurus di PP Muhammadiyah," kata pemuda yang Pak Bei masih ingat namanya Aji. "Jadi wajar kalau kami-kami yang masih muda ini datang meguru ke sini," lanjutnya.

Cahya putra Pak Bei keluar menyuguhkan 5 gelas kopi, sekalian pamit ke Pak Bei mau berangkat Yasinan. 

"Pamitkan ayah ya, Le. Ada tamu," kata Pak Bei.

"Siap, Yah," kata Cahya sambil mempersilakan tamu-tamu ayahnya menikmati kopinya.

"Baiklah. Teman-teman pengin ngobrol soal apa malam ini?" tanya Pak Bei.

"Anu, Pak Bei, soal warga Muhammadiyah menghadapi situasi politik terkini," kata Marwan.

"Waoow...kok berattt. Mbok ngobrol yang ringan-ringan saja to, Mas."

"Kalau obrolan yang ringan kan sudah biasa kami lakukan di angkringan hampir tiap malam, Pak Bei," kata Azis.

"Terus apa yang mau kita bahas?"

"Begini lho, Pak Bei, besok Rabu kan ada acara Dialog Terbuka Muhammadiyah Bersama Calon Pemimpin Bangsa di Edutorium UMS," kata Azis.

"Iya benar."

"Tapi kenapa yang dihadirkan cuma Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar? Kenapa tidak diundang sekalian Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud,?" lanjut Azis seolah memprotes.

"Iya, Pak Bei. Kenapa mereka harus dipisah tempat dan audiensnya? Padahal kalau ketiganya diadu di even yang sama, di tempat dan audiens yang sama, kan seru. Setidaknya, rakyat ini jadi tahu kualitas setiap pasangan," kata Marwan.

"Benar, Pak Bei. Kenapa yang dihadirkan di UM Surabaya hanya Prabowo-Gibran? Apa orang Jawa Timur tidak butuh mengenal Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud?  Demikian juga yang dihadirkan di UMS kok hanya AMIN, dan yang di UM Jakarta hanya Ganjar-Mahfud. Kenapa, Pak Bei?" kata Aji dengan nada protes juga.

"Begini, Teman-teman. Pertama, saya ini bukan panitia acara itu. Jadi saya tidak ikut merencanakannya. Kedua, tolong dipahami bahwa segala hal yang dilakukan oleh PP Muhammadiyah itu hasil keputusan kolektif-kolegial, sudah melalui proses diskusi dan kajian  komprehensif yang dilakukan oleh para Ketua. Kita harus ingat, para Ketua itu sudah kita pilih bersama di Muktamar sebagai Pimpinan Pusat dan kita warga Persyarikatan Muhammadiyah harus mentaatinya."

"Iya, Pak Bei, kami juga paham itu."

"Lha terus, kenapa seolah kalian menggugat ke saya? 

"Sebenarnya kami bukan bermaksud menggugat Pak Bei. Sama sekali bukan. Kami cuma ingin dibantu memahami kenapa besok yang di UMS itu hanya AMIN yang dihadirkan?" Jangan-jangan PP Muhammadiyah memang sengaja membantu kampanye AMIN di Solo yang konon kandangnya Ganjar dan Gibran?"

"Masya Allah...janganlah shu'udzon begitu, Mas. Itu tidak baik. Kalian kemarin menyaksikan pengundian nomor urut pasangan Capres-Cawapres, kan?"

"Iya, Pak Bei. Kami melihat di televisi."

"Hasilnya pasangan AMIN no 1, pasangan PRAGI no 2, pasangan GAFUD no 3."

"Iya benar, Pak Bei.

"Menurut kalian, hasil itu by desain alias rekayasa atau proses alamiah?"

"Menurut saya alamiah, Pak Bei," jawab Aji.

"Bagus. Good. Bagaimana kalau kita juga husnudzon saja bahwa penjadwalan acara Dialog Terbuka yang diadakan oleh PP Muhamamdiyah itu hasil proses alamiah? Kebetulan saja PRAGI dapatnya di UM Surabaya, AMIN di UM Surakarta, dan GAFUD di UM Jakarta. Gak usah berprasangka neko-neko, jangan menduga yang enggak-enggak."

"Ya maklum saja, Pak Bei, mereka ini anak-anak muda," Kang Narjo yang sejak tadi diam saja, kini ikut bicara. "Mungkin mereka ini penginnya seperti nonton pertandingan tinju atau UFC. Senang melihat antar-pasangan itu saling pukul, saling tendang, saling banting, saling pithing. Senang melihat ada yang roboh dan KO di octagon," lanjut Kang Narjo.

"Ya kan jadi gayeng, Pakdhe. Jadi seru kalau ada yg kena uper-cut terus ngglethak, KO," kata Aji disambut gelak-tawa teman-temannya.

"Justru itu yang harus kita hindari, Mas. Marilah pesta demokrasi ini kita hadapi dengan gembira. PP Muhammadiyah mengundang dan menguji ketiga pasangan capres-cawapres. Silakan publik menilai dengan jernih. Slow wae, gak usah kenceng-kenceng. Kita nilai ketiga pasangan dengan kaca mata objektif dan rasional."

"Halaah, Pak Bei ini masa lupa. Setiap memasuki masa kampanye, di mana-mana terjadi polusi pemandangan dan pendengaran. Gambar-gambar caleg dan capres-cawapres ditempel di mana-mana. Bikin mata sepet. Suara deru sepeda motor tanpa knalpot merusak ketenangan masyarakat. Bising luar biasa. Bagaimana kita mau slow wae melihat permainan amplop dari para makelar,.menjelang hari-H menyerbu rumah-rumah pemilih di desa-desa?"

"Nah itu. Itulah tugas kalian generasi muda. Kalau memang kalian melihat permainan amplop itu, difoto saja, lalu disebar ke medsos. Viralkan. Itu baru gayeng. Kita harus jadi pengawas perilaku politik para peserta Pemilu. Ayo kita ramaikan."

"Siap, Pak Bei," kafa Aji.

"Kami siap jadi pengawas mandiri, Pak Bei," kata Marwan.

"Siap gas pol, Pak Bei, kata Azis.

"Sudah malam. Cukup ya nyobrolnya. Ayo kita pamitan. Pak Bei biar istirahat."

"Baiklah, Kang Narjo. Terima kasih Teman-teman sudah datang ke sini. Kapan-kapan kita sambung lagi, ya."

Kang Narjo dan rombongan meninggalkan nDalem Pak Bei dengan lega. Sudah dua kali rombongan itu datang dan dilayani Pak Bei dengan baik. Anak-anak muda yang belajar peka dan peduli dengan problem masyarakatnya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuadiyah
#lpumkmpdmklaten





 











Jumat, 03 November 2023

PALESTINA MAKIN MERANA

PALESTINA MAKIN MERANA

"Pak Bei, kenapa kita harus bersimpati pada Palestina?," tanya Kang Narjo. "Sampai-sampai pas Jumatan di mesjid kami kemarin, khotib mengajak jamaah untuk menunjukkan keberpihakan, setidaknya membantu berdoa untuk bangsa Palestina," lanjutnya.

"Apa yang disampaikan khotib kemarin, Kang?"

"Katanya, kita memang tidak bisa membantu angkat senjata membebaskan rakyat Palestina dari penjahahan dan gempuran kaum zionis yang kejam sebagaimana dilakukan oleh Kelompok Hamas di Gaza, Hizbullah di Libanon, dan Hauthi di Yaman. Tapi minimal kita bisa berdoa mengetuk pintu langit agar rakyat Palestina dan Masjidil Aqsha ditolong oleh Allah SWT."

"Khotib gak ngajak jamaah untuk saweran dana solodaritas,?"

"Iya, khotib juga mengajak kita siap partisispasi bila sewaktu-waktu ada penggalangan dana solidaritas."

"Ya bagus itu."

"Katanya dulu ada saudagar Palestina yang kaya-raya menghibahkan seluruh saldo tabungannya di Bank Arabia untuk membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Apa benar itu, Pak Bei?"

"Iya benar, Kang. Saudagar itu namanya Muhammad Ali Thahir. Dia juga yang memfasilitasi Mufti Besar Palestina, Syech Muhammad Amin Al-Husaini, pada tanggal 6 dan 7 September 1944   pidato berbahasa Arab di radio Berlin menggalang solidaritas dunia Arab agar mendukung dan menyambut gembira kemerdekaan Indonesia. Di samping itu,  beliau juga mendesak Perdana Menteri Jepang agar segera menarik tentaranya agar Indonesia bisa benar-benar merdeka."

"Berarti itu setahun sebelum proklamasi kemerdekaan kita 17 Agustus 1945, Pak Bei?"

"Iya, Kang. Itulah makanya setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, negera-negara Arab pun dengan cepat memberikan dukungan defacto dan dejure, diawali oleh Mesir. Itu berkat seruan dari Mufti Besar Palestina tadi."

"Wah berarti kita sangat berhutang budi pada Palestina ya, Pak Bei."

"Kang Narjo tahu kan, dulu setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2, Belanda ingin kembali menjajah Indonesia? Belanda tidak rela kita merdeka. Mereka memobilisasi tentaranya ke Indonesia dengan menumpang pasukan Sekutu. Lalu terjadilah perlawanan sengit dari bangsa Indonesia di berbagai kota yang kita kenal dengan perang kemerdekaan."

"Iya, Pak Bei. Jakarta jatuh, lalu Ibukota Pindah ke Yogyakarta. Semarang dan kota-kota lain juga dikusai Belanda. Surabaya bisa dipertahankam oleh arek-arek Suroboyo pada pertempuran 10 November."

"Nah, Kang Narjo masih ingat gitu kok."

"Yogyakarta akhirnya jatuh juga. Presiden Soekarno ditangkap dan diasingkan. Untung Panglima Besar Jenderal Soedirman dan tentara BKR tidak mau menyerah dan melakukan perlawanan dengan perang gerilya."

"Kang, kalau saja dulu negara-negara Arab tidak memberikan dukungan secara defacto dan dejure, maka PBB pun tidak bisa melegalkan Indonesia sebagai negara merdeka. Pasti negara-negara Sekutu mendukung Belanda untuk kembali menguasai Indonesia."

"Kasihan bangsa Palestina ya, Pak Bei. Sampai sekarang negerinya masih terjajah. Sudah jutaan nyawa melayang akibat kekejaman kaum zionis Israel."

"Ya itulah, Kang. UUD 45 mengamanatkan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Kasus di Palestina itu jelas, Israel yang didukung negara2 Barat merebut tanah Palestina sejak akhir Perang Dunia pertama. Tanah dan segenap kekayaannya dikuasai Israel. Orang-orang Palestina yang melawan dianggap teroris yang harus dibasmi. Padahal  mereka berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah-airnya sendiri."

"Ya sudah, Pak Bei. Ngeri sekali kalau cerita soal Palestina. Saya mau melanjutkan tugas dulu. Sudah wijang, sudah paham saya, kenapa kita harus berpihak pada bangsa Palestina, bangsa yang dijajah dan dholimi oleh bangsa Israel zionis."

"Oke, Kang. Hati-hati di jalan."

Kang Narjo melanjutkan tugasnya mengantar koran ke rumah-rumah pelanggan yang tinggal tersisa beberapa. Selebihnya orang-orang sudah beralih baca berita online dari gadgetnya masing-masing. Zaman sudah berubah sedemikian cepatnya, tetapi bangsa Palestina masih hidup dalam ancaman moncong meriam, roket, dan bom foshfore. Tak kunjung merdeka. Semoga Allah melindungi bangsa Palestina.. Aamiin.

#serialpakbei
#wahyudinasution






Minggu, 08 Oktober 2023

ZAMAN YANG ABSURD

ZAMAN YANG ABSURD

"Pemerintah kok jadi wagu ya, Pak Bei," kata Bu Bei sambil tangannya meletakkan segelas kopi di meja untuk Pak Bei. 

"Siapa yang barusan telepon?" tanya Pak Bei yang lagi asyik baca koran yang diantar Kang Narjo tadi pagi namun baru sempat dibacanya sore hari.

"Ooh...itu tadi dari Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja. Lucu pol....."

"Lucu pol bagaimana?"

"Tahun lalu saya kan diminta jadi Ketua Kluster Konveksi, Pak Bei."

"Iya tahu. Terus..."

"Lha ini tadi saya ditelepon, diminta supaya mengajak teman-teman konveksi mau menampung dan mempekerjakan korban PHK dari Sritex. Ada banyak sekali tenaga terampil yang perlu dibantu, katanya."

Pak Bei jadi ingat berita beberapa minggu terakhir tentang puluhan perusahaan, termasuk perusahaan tekstil dan garment Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten yang terpaksa menutup usahanya karena bangkrut. Ada juga yang dinyatakan pailit oleh PTUN seperti PT Sritex di Sukoharjo yang konon pabrik tekstil terbesar se-Asia Tenggara itu. Puluhan ribu buruh dirumahkan alias kena PHK. Kemarin, Mas Cahya anak sulung Pak Bei-Bu Bei yang dikader meneruskan usaha Bundaco juga cerita bahwa toko-toko kain langganannya kulakan bahan di Solo, Jogja, Tengerang, Tanah Abang, dan Bandung juga mengeluh karena krisis stok barang. Gudang-gudang mereka kosong. Beberapa toko grosir bahan itu pun terpaksa menutup usahanya. Boleh jadi itu imbas dari tutupnya pabrik-pabrik tekstil.

"Terus maunya orang Dinas bagaimana, Nda?"

"UMKM konveksi seperti kita ini diminta menyelamatkan nasib buruh korban PHK itu. Lucu to, Pak Bei."

"Bukan lucu lagi, tapi lugu."

"Kok lugu?"

"Ya lugu: lucu tur guoblok."

"Hahaha....iya betul itu. Lucu tur guoblok. Setuju."

Pak Bei-Bu Bei sore itu bisa tertawa lepas. Sudah beberapa bulan terakhir keduanya jarang bisa tertawa lepas. Kalau pun sesekali kelihatan tertawa, tawanya tidak bisa lepas, bahkan terkesan agak kecut. Maklum saja, kondisi hampir semua pelaku UMKM konveksi sedang tidak baik-baik saja, tak kunjung membaik meski Pandemi Covid-19 telah berlalu. Bahkan, musim paceklik semakin dari hari ke hari semakin terasa. Permintaan pasar tak kunjung membaik. Untung, Mas Cahya dan Mbak Vika istrinya sebagai penerus usaha Bundaco mau berjibaku memasuki dunia digital marketing yang bagi generasi Pak Bei-Bu Bei masih diterasa ghoib.

"Tapi kujawab spontan begini. Pak, Njenengan ini kok lucu, to. Selama ini Pemerintah kan lebih menganak-emaskan pabrik-pabrik besar. Lha kok sekarang kami yang disuruh menolong mereka?"

"Ya betul itu. Terus..."

"Masuknya pabrik-pabrik tekstil dan garment ke Jawa Tengah selama ini sudah disubyo-subyo dan difasilitasi dengan berbagai kemudahan. Di sisi lain, usaha-usaha konveksi rumahan seperti kami dan sentra-sentra konveksi yang sudah jelas bisa menggerakkan ekonomi Daerah justru tidak pernah diaruhke keadaannya, ditanyai kesulitannya, juga tidak dibantu dengan berbagai kemudahan dan fasilitas. Kami dibiarkan berjuang sendiri, seakan keberadaan kami tidak penting bagi Pemerintah."

"Terus bagaimana respon orang Dinas tadi?"

"Cuma tertawa dia. Minta maaf pun tidak. Aneh."

"Iya, kok aneh. Selama ini pelaku UMKM harus legowo bertempur sendirian di pasar bebas melawan pemodal besar, tanpa perlindungan dari Pemerintah."

"Betul. Masuknya barang-barang impor dari China yang harganya sangat murah nyata-nyata telah membunuh UMKM kita.  Produk UMKM tidak mampu melawan produk China."

"Nah itu. Patut diduga, barang-barang impor itu masuk ke sini secara ilegal. Bahkan, kalau melihat intensitas dan kuantitynya, boleh jadi Pememrintah China memang melakukan dumping agar bisa menguasai pasar kita."

"Tapi kenapa yang disalahkan justru Tik-Tok, Pak Bei? Lalu ditutup. Anak-anak millenial jadi tidak bisa lagi berjualan lewat Tik-Tok. Katanya demi melindungi UMKM."

"Terlalu cepat mendiagnosa. Jadinya kurang tepat juga ngasih obat."

"Maksud Pak Bei?"

"Lah kan sudah jelas, banyaknya barang-barang ilegal telah menyebabkan banyak industri dalam negeri tutup karena bangkrut. Dengan politik dumping, barang-barang mereka masuk menyerbu pasar-pasar kita dengan harga sangat murah. Imbasnya, UMKM dan para pedagang kita jadi kopals semua. Tidak mampu bersaing. Barang ilegal dan dumping itulah yang seharusnya diatasi dan dilawan Pemerintah, bukan Tik-Toknya yang ditutup."

"Ah entahlah, Pak Bei. Jadi pusing kalau mikir soal ini."

"Memang, Nda. Jadi tidak jelas, itu sebenarnya soal bisnis/ekonomi atau soal politik. Penutupan Tik-Tok itu benar-benar demi melindungi kepentingan rakyat atau karena persaingan bisnis tingkat tinggi di kalangan politisi di atas sana. Absurd kan jadinya?"

Obrolan sore Pak Bei-Bu Bei pun berakhir. Azan maghrib terdengar bersahutan dari corong beberapa masjid di kampung sekitar nDalem Pak Bei. Keduanya bergegas berangkat ke masjid untuk memenuhi panggilanNya.

#wahyudinasution
#serialpakbeizamanyangabsurd
#lpumkmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah

















"

Minggu, 01 Oktober 2023

JANGAN LUPA SEJARAH

JANGAN LUPA SEJARAH

Pak Bei sedang bersiap  mau menyirami tanaman bunga dan sayuran di halaman rumah ketika mak-bedunduk, tiba-tiba, Kang Narjo datang dengan senyum mengembang, mengendarai motor Supra-X dengan setumpuk koran yang masih harus diantarnya ke rumah-rumah pelanggan. Loper koran senior itu benar-benar 'tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas'. Di usianya yang sudah di kepala 6 hampir 7, badannya masih sehat bugar, tetap open-face dan full-smile. Mungkin itu berkat dulu waktu sekolah ikut aktif di kegiatan Pramuka sehingga punya mental 'tak takut panas tak takut hujan', juga tertanam spirit lagu 'Di Sini Senang Di Sana Senang' yang legendaris itu. 

Memang, meskipun cah ndesa dan dari keluarga pas-pasan, Kang Narjo dulu termasuk anak yang rajin sekolah, bahkan  hingga lulus dari SMEA Negeri favorit di kota kami, satu hal yang cukup hebat bagi cah ndesa pada waktu itu. Sejak lulus SMEA tahun 1982, dia pun memilih pekerjaan sebagai loper koran, bukan merantau ke kota besar mencari pekerjaan.

Tiap pagi bakda shubuh, Kang Narjo naik sepeda ontel berangkat mengambil koran dan majalah di agen dekat terminal bus, lalu mengantarnya satu-persatu ke rumah-rumah pelanggan. Profesi itu terus dijalaninya dengan setia hingga zaman sudah terus berkembang. Kendaraan sepeda motornya pun sudah ganti entah berapa kali. Yang paling terasa, masa keemasan media cetak sudah digantikan oleh media online. Pelangannya semakin berkurang, tinggal sedikit. Tapi Kang Narjo tidak punya pilihan lain selain meneruskan profesi yang sudah dijalaninya selama 40 tahun itu.

"Pak Bei paham sejarah Nabi Syu'aib?," tanya Kang Narjo setelah melempar korannya ke lantai dan mematikan mesin motornya.

Pak Bei pun tanggap gelagat sahabatnya itu, pasti ingin ngobrol sambil istirahat.

"Turun dulu, Kang. Ngopi, ya. Biar dibuatkan anakku." 

"Wah Pak Bei ini tahu yang kumau," jawab Kang Narjo sambil turun dari motor dan ngesot lesehan di lantai.

"Kok tumben tanya sejarah Nabi Syu'aid, ada apa, Kang?," tanya Pak Bei sambil ikut ngesot di lantai.

Kang Narjo pun bercerita bahwa Jumat kemarin dia ikut Jumatan di Masjid An-Nur di kawasan kota. Entah siapa khotibnya, tapi materi khotbahnya cukup menarik hingga tidak ada satu pun jamaah tampak mengantuk. Karena kebetulan ini bulan Rabi'ul Awaal, Khotib itu pun mengangkat tema Maulid Nabi, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Setelah memaparkan sekilas kelahiran Rasulullah SAW dan pentingnya kita mencintai dan meneladani kehidupan Nabi pamungkas zaman, Khotib pun menyinggung beberapa tarikh Nabi dan Rasul-Rasul terdahulu

"Ada salah satu cerita yang saya masih terngiang, yaitu tarikh Nabi Syu'aib di negeri Madyan."

Cahya datang menyuguhkan segelas Kopi Semendo.

"Monggo diunjuk, Pakdhe."

"Iya, Mas. Matur nuwun, ya."

"Apa yang menarik dari Nabi Syu'aib yang diceritakan Khotib, Kang?"

"Nabi Syu'aib RA diutus oleh Allah SAW untuk mengingatkan kaumnya, masyarakat Madyan, agar menghentikan budaya manipulatif."

"Budaya manipulatif bagaimana maksudnya?"

"Kebiasaan mengurangi takaran dan timbangan dalam jual-beli, Pak Bei. Itu sudah membudaya, dilakukan semua orang, bahkan sudah dianggap lumrah. 

"Terus, Kang...."

"Nabi Syu'aib AS justru dimusuhi kaumnya, diintimadi, bahkan diusir dari Madyan. Padahal, negeri Madyan itu dulu yang membangun kakek buyut Nabi Syu'aib yang bernama Madyan bin Ibrahim AS. Tapi orang-orang Madyan sudah gelap mata, tidak mau diingatkan agar berlaku jujur."

"Terus, Kang..."

"Nabi Syu'aib pun berdoa agar Allah SWT menurunkan azab bagi kaum Madyan yang kafir. Allah SWT pun mengabulkan doa itu, lalu diturunkanNya azab berupa gempa bumi dan badai panas. Kaum Madyan yang kafir itu pun musnah terbakar dan terkubur di reruntuhan bumi, hanya Nabi Syu'aib dan beberapa pengikutnya saja yang selamat."

"Wah ngeri ya, Kang."

"Ngeri banget, Pak Bei. Lebih ngeri lagi kalau itu sampai terjadi di negeri kita saat ini."

"Loh kok gitu, Kang?"

"Ya bisa saja to? Pak Bei pasti tahu ketidakjujuran di negeri kita juga sudah sangat parah. Korupsi dan manipulasi sudah dianggap lumrah, bahkan dilakukan secara berjamaah."

"Contohnya, Kang?"

"Buanyak banget, Pak Bei. Sudah jamak lumrah orang korupsi, main suap, upeti, dan manipulasi di semua sektor."

"Sudah separah itukah negeri kita, Kang?" 

"Perhatian saja, Pak Bei. Orang mau naik pangkat harus nyogok atasan. Orang mencari keadilan di lembaga peradilan harus menyogok penegak hukum. Orang mau menang tender proyek harus nyogok pejabat. Orang mau jadi Kepala Desa, Wakil Rakyat, Bupati, Walikota, Gubernur, dan Presiden ya harus nyogok rakyat pemilik suara. Orang mau jadi Dirjen, Kabid, Kasi, dan Camat pun harus nyogok atasan. Pejabat belanja barang atau bikin proyek harga riilnya cuma 100 Miliar, tapi negara disuruh bayar 300 Miliar. Kuitansinya bisa direkayasa, lalu marginnya dibagi-bagi para pengambil keputusan dan pembuat anggaran. Itu dianggap sudah lumrah, Pak Bei. Itu kan bentuk lain 'mengurangi takaran dan timbangan' seperti dilakukan kaum Madyan. Orang tidak membayangkan bahwa azab Allah SWT yang dahsyat bisa datang kapan saja."

"Wislah, Kang. Jadi mules perutku pagi-pagi ngobrol soal ini."

"Ya sudah, Pak Bei. Kopiku juga sudah habis kok. Pamit dulu, ya."

Kang Narjo meninggalkan Pak Bei yang masih menahan perut mules dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kang Narjo tetaplah Kang Narjo yang plengah-plengeh, selalu full-smile di segala keadaan.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#janganlupasejarah
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmklaten












Sabtu, 23 September 2023

ALAMIAH ATAU BY-DESAIN

ALAMIAH ATAU BY-DESAIN

Entah ketempelan apa dan dari mana, pagi itu setelah melemparkan koran di lantai,  tiba-tiba Kang Narjo seperti orang ngomyang, nerocos berbagai hal, ngalor-ngidul, tidak peduli apakah Pak Bei yang sedang momong Eza cucunya yang lucu itu siap mendengarkan atau tidak. Yang membuat Pak Bei agak risau terutama ketika omongan Kang Narjo sudah masuk ke tema dan ranah politik. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga Kang Narjo. Loper koran senior itu memang punya budaya baca yang lumayan bagus. Setiap pagi dibacanya dulu semua headline dan tajuk di koran-koran yang mau diantarkannya ke pelanggan. Prinsipnya cukup bagus. Dia hanya menyampaikan berita setelah dia sendiri membaca dan memahaminya.

"Saya ini bertanya-tanya, Pak Bei. Penasaran," kata Kang Narjo sambil tetap duduk di atas motornya.

"Tentang apa, Kang?"

"Semua kejadian dan kahanan yang terjadi akhir-akhir ini, itu alamiah apa by desain?"

"Kejadian apa, Kang? Kok serius banget mikirmu. Slow wae-lah," kata Pak Bei setelah menyerahkan Eza pada mamanya di dapur.

"Banyak kejadian yang kita pantas bertanya-tanya, Pak Bei. Ndelalah ini kan tahun politik. Kita lihat semua politisi, entah capres-cawapres atau caleg-caleg, seolah tiap hari mendemonstrasikan kehebatannya di mata rakyat."

"Ya iyalah, Kang. Ini memang saatnya semua politisi memoles diri, mem-branding dan menawarkan dirinya supaya tampak hebat dan menarik sehingga nanti dipilih oleh rakyat, diamanahi rakyat sebagai Dewan Perwakilan atau Presiden dan Wakil Presiden, Pemimpin tertinggi di negeri ini."

"Iya saya paham, Pak Bei. Tentu semua juga sudah menyiapkan dana dalam jumlah besar, bahkan sangat besar untuk ukuran kita, untuk membeli simpati calon pemilih. Namanya juga orang kampanye. Jer basuki mawa bea, kata orang Jawa. Untuk mendapatkan kekuasaan harus mengeluarkan biaya besar."

"Kang Narjo sudah paham gitu kok."

"Masih banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya, Pak Bei."

"Apa saja?"

"Misalnya tentang krisis beras beberapa bulan terakhir dan entah sampai kapan akan kelar."

"Loh kan sudah jelas soal krisis beras ini karena faktor elnino yang berdampak terjadinya gagal panen di mana-mana, Kang. Pemerintah juga sudah kerja keras mendatangkan 3 juta ton beras impor dari Vietnam, Kamboja, Thailand dan sebagainya, demi mencukupi ketersediaan pangan ratusan juta penduduk."

"Iya, Pak Bei. Memang begitu yang beredar di berita-berita koran maupun medsos."

"Lantas?"

"Nuwun sewu lho, Pak Bei. Mungkin saya termasuk orang yang tidak mudah percaya berita yang kita baca di media."

"Kang Narjo ini loper koran cap apa? Hampir setengah abad tiap pagi ngantar berita koran kok malah meragukan berita media."

"Ya justru karena saya sudah khatam logika pemberitaan, maka saya paham bahwa yang terjadi sebenarnya tidak pernah muncul di media."

"Terus, menurutmu apa yang sebenarnya terjadi di perberasan kita?"

"Ha ha haaa....gak enak, Pak Bei."

"Kenapa gak enak?"

"Boleh jadi impor beras yang jutaan ton itu terkait dengan biaya politik menjelang Pemilu yang sangat tinggi, Pak Bei."

"Maksudmu?"

"Itu kurang lebih sama saja dengan kasus Rempang yang bahkan sampai membahayakan keutuhah bangsa dan negara ini."

"Kok bisa, Kang?"

"Soal Rempang itu juga terkait kebutuhan biaya politik para politisi yang sangat tinggi. Ingat Pak Bei, itu terkait dengan investor yang konon siap investasi 300an Triliun di sana."

"Tapi kenapa sampai membahayakan keutuhan bangsa dan negara, Kang? Ngeri sekali membayangkan kalau sampai terjadi konflik antar-etnis, kan?"

"Memang ngeri, Pak Bei. Tapi itu kan sudah jadi pakem-nya orang di politik."

"Pakem bagaimana maksudmu, Kang?"

"Pak Bei pasti paham, politik itu soal berebut kekuasaan dan asset. Itu membutuhkan mental 3 T."

"Apa itu?"

"Tegel alias tega hati dan tidak berbelas kasihan. Teteg alias ndableg alias gak mau tahu akibatnya bagi orang lain. Tipu-tipu alias sanggup berbohong dan menipu."

"Ah masa begitu, Kang?"

"Makanya saya bertanya-tanya atas berbagai kejadian di negeri ini. Pak Bei bisa membayangkan berapa succes fee dari masuknya investasi itu?"

"Gak paham aku, Kang."

"Saya pun bertanya-tanya soal banyaknya pabrik tektil, garmen, dan manufaktur yang bangkrut, juga pedagang pasar Tanah Abang, Mangga Dua, Cipulir, PGS Solo, dan lain-lain yang bangkrut. Ada apa ini sebenarnya? Saya percaya, itu bukan semata-mata karena kebijakan Pemerintah yang salah, tapi bisa juga karena faktor perilaku para pengusaha yang lengah terhadap perubahan zaman."

"Wah kok berat sekali omonganmu pagi ini. Ketempelan dari mana, Kang? Sudahlah, ayo kita kerja sesuai kemampuan kita saja. Sana Kang Narjo lanjutkan ngantar koran, saya mau lanjut momong cucuku."  

Kali ini terpaksa Pak Bei mengakhiri obrolan sambil setengah mengusir sahabatnya. Perut masih kosong karena belum sarapan kok diberondong tema-tema kegelisahan Kang Narjo yang cukup berat. Kalau diterus-teruskan, bisa-bisa hilang selera makan Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmklaten















Rabu, 13 September 2023

TANPA KOMITMEN DAN KEBERPIHAKAN

TANPA KOMITMEN DAN KEBERPIHAKAN

Kali ini Pak Bei merasa kedatangan tamu istimewa. Tamu agung. Sanusi namanya, seniornya di dunia usaha konveksi. Tiba-tiba saja Sanusi datang tanpa ngabari sebelumnya. 

Sudah lama Pak Bei tidak ketemu dengan Sanusi, sekitar satu dasa warsa, sejak temannya ini meninggalkan dunia konveksi dan beralih ke usaha property. Mungkin karena kesibukan masing-masing di dunia usaha yang berbeda, mereka jadi jarang bertemu.

"Tiba-tiba habis 'ashar tadi aku teringat kopi Pak Bei. Sudah lama sekali gak ngopi di sini," kata Sanusi.

"Alhamdulillah, matur nuwun Mas Sanusi kangen kopiku," jawab Pak Bei. "Tunggu sebentar, ya," Pak Bei pun langsung ke dapur membuatkan kopi spesial untuk suhunya di usaha konveksi itu. Tak berapa lama, Pak Bei sudah kembali ke teras sambil membawa nampan dengan dua gelas kopi Semendo andalannya. 

"Gimana, masih jalan konveksimu?," tanya Mas Sanusi sambil menuangkan kopi panas di lepek.

"Alhamdulillah masih, Mas. Harus jalan terus."

"Ada berapa karyawanmu sekarang?"

"Masih ada 25, Mas."

"Masih lumayan itu. Sentra konveksi di kampungku sudah lama bubar. Tidak bisa bertahan. Bangkrut semua."

"Memang berat, Mas. Semakin berat. Tapi karena ini sudah menjadi penghidupan banyak orang, ya harus kami pertahankan, Mas."

"Ya pasti berat. Bagaimana mungkin usaha-usaha kecil dengan modal terbatas harus berhadapan dengan pabrik-pabrik besar bermodal besar dan didudukung Pemerintah?," kata Mas Sanusi lalu menceritakan alasannya dulu beralih usaha.

Dikenangnya dulu sekitar tahun 2011/2012, Pemerintah Provinsi sangat agresif menggaet pabrik-pabrik garment di Jabodetabek dan Bandung Raya agar berinvestasi di Jawa Tengah dengan  merelokasi pabriknya ke Kab. Semarang dan eks-Karesidenan Surakarta.
Berbagai kemudahan dan fasilitas disediakan untuk investor. Dari urusan pengadaan lahan, pembangunan pabrik, tetek-benget perizinan, hingga rekrutmen tenaga kerja pun difasilitasi penuh dengan biaya APBD Provinsi.

"Tentu Pak Bei masih ingat, waktu itu Dinas Perindustrian Provinsi mendirikan Balai Latihan Kerja sangat besar, lalu merekrut puluhan ribu lulusan SMA/SMK se-Jawa Tengah untuk dilatih menjadi calon operator mesin jahit dan ditempatkan di pabrik-pabrik garment relokasi itu."

"Iya, Mas. Saya masih ingat. Bahkan dulu sempat diminta nyarikan lulusan SMK untuk dikirim ke sana."

"Pemerintah seolah lupa peran penting usaha-usaha konveksi yang bertebaran di daerah-daerah. Usaha-usaha kecil itulah yang selama ini berjasa besar menghidupkan perekonomian daerah. Ribuan tenaga kerja terserap di usaha-usaha konveksi rumahan itu. Dulu, hampir semua barang di Pasar Klewer adalah produk konveksi rumahan, lho."

"Iya benar, Mas. Sekarang lebih banyak barang dari Tanah Abang dan produk impor dari China."

"Kita ini sebenarnya tidak anti-investor kan, Pak Bei?"

"Iya benar, Mas. Kita dukung setiap upaya untuk kebaikan masyarakat."

"Tapi sejak awal saya sudah melihat memang tidak ada komitmen dan iktikad pemihakan pada usaha kecil, Pak Bei. Investor disubyo-subyo, digelarkan karpet merah. Sebaliknya, usaha kecil justru digilas dan lemahkan. Itulah makanya dulu saya pilih langsung ganti usaha saja."

"Sebenarnya maksud Pemerintah baik lho, Mas. Menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya dan menambah devisa sebesar-besarnya."

"Maksud baik tapi tanpa regulasi yang bagus dan komprehensif, hasilnya cuma ketimpangan seperti sekarang ini, Pak Bei. Keberadaan UMKM tidak dilindungi. Mereka jadi kesulitan meregenerasi tenaga kerjanya. Anak-anak muda lulusan sekolah semua disedot ke pabrik. Yang tersisa di usaha rumahan tinggal yang tua-tua, yang sudah menurun produkstivitasnya."

"Iya benar sekali, Mas."

"Kesulitan cari tenaga kerja muda kulihat bukan hanya terjadi pada usaha konveksi, Pak Bei. Di sentra-sentra usaha furniture, pandai besi, apalagi di sektor pertanian, semua juga mengalami krisis tenaga kerja."

"Tapi UMKM yang justru disalahkan oleh Pemerintah lho, Mas. Dianggap kurang responsif pada perkembangan jaman. Tidak memodernisir peralatan dan manajemen usaha."

"Ya memang. Harus diakui, umumnya pelaku usaha terlambat mengantisipasi perubahan jaman. Tapi menurutku, seharusnya itu tugas Pemerintah, Pak Bei. UMKM harusnya didamping, bukannya dilepas agar bertempur head to head terhadap pabrik besar dengan kapital super besar dan peralatan modern. Ya pasti keok. Seharusnya UMKM diproteksi agar tetap hidup. Tapi masalahnya memang tidak ada komitmen ke sana. Ya sudah, jebol kabeh jadinya."

"Situasi ini sekarang juga dialami teman-teman pelaku usaha penggilingan padi, Mas. Mereka tergilas pabrik2 beras skala besar yang menguasai pembelian gabah dari petani. Taman-teman rice-mill banyak yang nutup usahanya."

"Iya saya juga mengikuti berita itu. Hancur-hancuran semua. Belum lagi kasus di Pulau Rempang Batam itu. Runyam betul. Ini ujian berat bagi Pemerintah, mau terus nyubyo-nyubyo investor atau mau melindungi segenap rakyat dan tumpah darah. Beraaat..."

Kumandang azan maghrib mulai terdengar bersahutan dari masjid-masjid sekitar kampung Pak Bei. Obrolan dua sahabat pun berakhir. Keduanya segera bergegas ke masjid depan nDalem Pak Bei untuk siap-siap ikut shalat berjamaah.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah