Rabu, 06 Maret 2024

SERTIFIKAT HALAL

SERTIFIKAT HALAL

"Pak Bei pernah naik haji atau umroh?," tanya Narjo sambil mematikan mesin motornya, lalu turun dan duduk nglesot di lantai.

"Pernah, Kang. Alhamdulillaah."

Pak Bei paham betul, loper koran sahabatnya itu pasti ingin ngobrol sambil istirahat dan ngopi. Maka tanpa ba-bi-bu, Pak Bei pun langsung ke dapur menyalakan kompor, dan tak lama kemudian sudah kembali ke teras menyodorkan segelas Kopi Semendo kesukaan Narjo.

"Jadi Pak Bei pernah merasakan hidup di negara lain yang penduduknya mayoritas muslim, ya?," tanya Narjo sambil menuangkan kopi panas ke lepek, piring tak-takan gelas.

"Iya, Kang. Tinggal di Mekah 30 hari, di Madinah 8 hari. Pernah juga ke Mesir."

"Wah, pernah ke negerinya Raja Firaun juga?"

"Pernah, Kang. Tapi cuma 10 hari di sana."

"Kalau ke negara yang mayoritas non-Muslim pernah belum, Pak Bei?"

"Pernah juga ke Beijing dan Sanghai."

"China?"

"Iya, Kang."

"Berapa hari di sana?"

"Di Beijing 4 hari, di Shanghai 3 hari. Kenapa to, Kang?"

"Pengin tanya saja. Menurut pengalaman Pak Bei, apa bedanya tinggal di negara yang penduduknya mayoritas Muslim dengan yang mayoritas non-Muslim?"

"Ya banyak, Kang?"

"Contohnya?"

"Waktu di China, saya merasa repot kalau mau sholat. Pertama, karena tidak pernah terdengar suara azan. Kedua, di kamar hotel tidak ada tanda arah  kiblat."

"Terus gak pernah sholat?"

"Ya tetap sholat, Kang. Soal waktu dan arah kiblatnya menggunakan feeling."

"Cuma kira-kira?"

"Iya. Dengan teman sekamar saja kami berbeda arah kiblat kok. Masing-masing sesuai kemantapan hatinya."

"Soal makan bagaimana, Pak Bei?"

"Alhamdulillaah tour-guide-nya paham tamunya mayoritas muslim. Jadi setiap jam makan kami selalu diantar ke restoran Muslim yang jelas Halal."

"Ada juga, ya?"

"Ada, Kang. Coba kalau gak ada, betapa repotnya kita di sana. Gak paham peta, gak paham bahasa, gak paham tulisan. Betul-betul merasa gelap-gulita selama di sana."

"Kalau di Arab Saudi dan Mesir bagaimana, Pak Bei?"

"Aman, Kang. Ada banyak mesjid dan suara azan. Mau makan di sembarang tempat, kita juga tidak ada rasa was-was."

"Yakin semua makanan pasti halal, ya?"

"Iya, Kang. Seperti hidup di negeri kita sendiri."

"Lha itu lho yang ingin kutanyakan, Pak Bei."

"Apa, Kang?"

"Pemerintah kok nganeh-anehi."

"Maksudnya?"

"Lha sudah jelas Indonesia ini mayoritas penduduknya Muslim. Konon ada 85%. Tapi kenapa bikin kebijakan semua pengusaha makanan-minuman harus mengurus sertifikat halal?"

"Itu untuk menjamin bahwa semua makanan dan minuman yang beredar di pasaran halal dan baik, Kang." 

"Apakah selama ini masyarakat ragu dengan kehalalan makanan dan minuman yang dijual saudaranya sendiri?"

"Sebenarnya gak juga, Kang. Tapi kan Pemerintah harus menjamin kehalalannya."

"Itu cacat logika namanya."

"Cacat logika bagaimana?"

"Di negeri kita yang mayoritas Muslim ini, sebenarnya yang dibutuhkan justru Sertifikat Haram, Pak Bei. Bukan Sertifikat Halal."

"Kok gitu, Kang?"

"Iyalah. Pertama, di negeri kita ini, makanan-minuman halal itu sudah menjadi darah-daging dan irama hidup masyarakat. Sudah otomatis. Orang jualan sate kambing, ayam goreng, soto ayam, mie ayam, dsb tidak akan menggunakan daging busuk atau bangkai. Mereka pasti pakai daging segar yang diyakini baik. Orang jualan makanan haram juga tahu diri, kok. Yang jualan makanan berbahan daging anjing, misalnya, mereka biasa pasang tulisan "Sate dan Rica-Rica Jamu" atau "Sate Guk-Guk" dan dikasih gambar kepala anjing. Orang jualan ciu, minuman keras, pasti juga sembunyi-sembuyi. Hanya orang tertentu yang jadi konsumennya. Itulah yang kumaksud Pemerintah nganeh-anehi. Begitu juga yang jualan berbahan mengandung babi."

"Maksud Pemerintah itu baik lho, Kang, ingin menjadikan Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia."

"Saya setuju, Pak Bei. Bagus itu. Indonesia menjadi Pusat Halal Dunia. Tapi karena cacat logika, jadi cara eksekusinya agak kurang objektif-rasional."

Edan tenan Narjo. Pagi-pagi sudah ngomyang, ngomong di luar kendali. Kerasukan dari mana tadi? 

"Memang, Kang, sebenarnya aku juga merasa aneh dengan kebijakan Pemerintah terkait Sertifikat Halal ini. Sosialisasinya sangat minim. Padahal, semua pelaku usaha makanan-minuman diwajibkan mengurus Sertifikat Halal paling lambat tanggal 17 Oktober 2024. Tinggal beberapa bulam lagi. Bila tidak, ada tiga jenis sanksi yang sudah disiapkan, sejak sanksi teguran, sanksi administratif/denda, hingga larangan edar atau penutupan usaha."

"Itu ngoyo-woro namanya. Kebijakan yang tidak realistis dan berlebihan."

"Masalahnya itu sudah jadi Peraturan Pemerintah, turunan dari Undang-Undang, yang mesti dijalankan, Kang. Jadi mau tidak mau para pelaku usaha harus menyesuaikan, mengikuti. Kalau tidak, bisa kena sanksi."

"Itu yang bahaya, Pak Bei."

"Bahayanya di mana?"

"Lihat saja. Nanti setelah 17 Oktober 2024, akan sering ada Operasi Halal. Semua perajin makanan-minuman dan warung makan, termasuk warteg, warung Angkringan, warung Lamongan, sate Madura, bahkan mbok-mbok pembuat gorengan di pinggir japan akan disasar."

"Peraturan memang harus ditegakkan, Kang. Hukum harus ditaati."

"Nanti akan banyak orang mengaku Petugas melakuka noperasi, mendatangi usaha-usaha makanan-minuman menanyakan Sertifikat Halal sambil menakut-nakuti, mengancam. Akhirnya, para pelaku usaha hanya dijadikan ATM oleh Petugas. Ngeri, kan?"

Jinguk tenan Narjo. Pikirannya sudah jauh ke depan dengan segudang kekhawatiran. Berawal dari cacat logika dan lemah konsep, eksekusinya akan rusak-rusakan, katanya.
Narjo-Narjo, untung Kamu cuma jadi loper koran. Kalau jadi anggota Dewan, bisah-bisa jadi bintang Senayan karena sering bikin heboh persidangan. Lalu jadi langganan wawancara wartawan, bahkan sering diundang di acara ILC atau potcast Refly Harun, Abraham Samad, Kick Andy, dll. Untunglah Narjo cuma loper koran dan hidup di desa.

#serialpakbei
#lpumkmpdmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat












 





"


Kamis, 22 Februari 2024

Press Release: LP-UMKM PDM KLATEN KEMBALI MENGINISASI PROGRAM KOLABORASI

Press Release

LP-UMKM PDM KLATEN KEMBALI MENGINISIASI PROGRAM KOLABORASI

Masih segar dalam ingatan publik, Lembaga Pengembangan UMKM PDM Klaten telah sukses menginiasi kerja kolaboratif bersama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PDM Klaten dalam program Pelatihan Budidaya Pepaya Hawai bagi Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Kab. Klaten pada Selasa, 6 Februari 2024. Pelatihan di Gedung Dakwah PRM Gading dan diikuti tidak kurang dari 165 petani itu menghadirkan dua narasumber yang kompetan di bidangnya. Para peserta pun sangat antusias mengikuti paparan dari narasumber pertama, Cipto Legowo dari PT Tunas Agro Persada, yang expert di bidang perbenihan dan budidaya hortikultura. Narasumber kedua Edi Suyitno dari Somok Fruits menyampaikan paparan terkait potensi pasar pepaya hawai yang prospektif bagi peningkatan kesejahteraan petani. Pada kesempatan itu sekaligus dilakukan penandatangan MoU antara Koperasi Jatam Klaten yang akan melakukan pendampingan budidaya papaya hawai dengan Somok Fruit yang akan bertindak sebagai off-taker/buyer pepaya hawai hasil panen Jatam Klaten.

Seminggu usai Pemilu, tepatnya 22 Februari 2024, Wahyudi Nasution selaku Ketua LPUMKM PDM Klaten kembali menginiasi program kolaboratif, kali ini dengan Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) PD Aisyiyah Klaten. Program kolaboratif ini berupa pendampingan Sertifikasi Halal bagi pelaku usaha kuliner se-Kab. Klaten. Program akan dimulai pada 25 Februari 2024, diawali dengan sosialisasi program Sertifikasi Halal kepada perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Acara tersebut akan digelar di Aula Gedung PD 'Aisyiyah dan akan diikuti oleh sekitar 150 peserta perwakilan dari 26 PCM dan 26 PCA se-Kab. Klaten, masing-masing mengirimkan 2 peserta.

Mengawali diskusi pada rapat koordinasi LPUMKM PDM Klaten dan MEK PDA Klaten, Wahyudi Nasution memaparkan urgensi Muhammadiyah hadir dan turun tangan membantu UMKM kuliner dalam menghadapi kebijakan Pemerintah. Sebagaimana diketahui, Peraturan Pemerintah No. 39/2021 telah menetapkan tanggal 17 Oktober 2024 sebagai batas terakhir UMKM Kuliner mengurus sertifikat halal. Bagi yang belum bersertifikat halal hingga batas waktu tersebut akan dikenakan sangsi, dari berupa teguran, sangsi administratif, hingga penarikan produk dari peredaran.

"Kita tahu, ada ribuan warga Muhammadiyah menjadi pelaku usaha kuliner skala mikro-kecil. Pada umumnya, mereka belum tahu adanya peraturan Pemerintah tersebut. Kalau pun sudah tahu, mereka tidak tahu bagaimana cara mengurusnya," kata Wahyudi Nasution. "Di sinilah urgensi Muhammadiyah turun tangan, memanfaatkan waktu yang tinggal beberapa bulan ini. Maka, mari kita bantu saudara-saudara kita pelaku usaha kuliner mengurus sertifikat halal," imbuhnya memberi semangat kolaganya.

Dijelaskannya juga bahwa LPUMKM telah membangun komunikasi dengan Pusat Studi Halal (PSH) Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pada acara di PD 'Aisyiyah besok Ahad, PSH UMS dihadir sebagai narasumber. Pada kesempatan itu juga akan dilakukan penandatangan MoU Kerjasama LPUMKM PDM Klaten dengan PSH UMS terkait sertifikasi halal, pelatihan calon Pendamping Halal, hingga pelatihan Juru Sembelih Halal (JULEHA).

Slamet Jubaedi, Ketua Bidang Legalitas Usaha LPUMKM PDM Klaten, menambahkan bahwa sebenarnya di Kab. Klaten ini sudah banyak Pendamping Halal yang bersertifikat. Tidak kurang dari 300 orang. 

"Tetapi masalahnya, kita belum tahu ada berapa dan siapa saja yang warga Muhammadiyah," kata Jubaidi. "Maka, kita akan mendata dan mengajak teman-teman Pendamping Halal yang warga Muhammadiyah untuk bergabung di program sertifikasi halal bersama LPUMKM dan MEK PDA ini. Di samping itu, kita juga akan merekrut calon Pendamping Halal untuk mengikuti pelatihan bersama PSH UMS. Ini karena sedemikian banyaknya pelaku usaha dan luasnya wilayah kerja kita," imbuh Jubaidi.

Hj. Fatimah, Ketua MEK PD 'Aisyiyah Klaten, menyambut gembira adanya kolaborasi program ini. Disadarinya bahwa mayoritas pelaku usaha kuliner skala mikro-kecil adalah kaum perempuan. 'Aisyiyah sangat berkepentingan dengan program sertifikasi halal ini.

"Insya Allah kami akan memobilisir teman-teman MEK Cabang untuk berpartisipasi aktif, baik menjadi calon Pendamping Halal maupun mencari pelaku-pelaku usaha kuliner di Ranting untuk kita dampingi," kata Hj. Fatimah.

Rapat koordinasi di RM Ayam & Bebek Brontak milik Wakil Ketua LPUMKM Klaten pun dikhiri dengan menyantap menu pilihan masing-masing.

#pakbei
#ketualpumkmpdmklaten


Minggu, 18 Februari 2024

CINTA NKRI

CINTA NKRI

"Sebenarnya gak papa jagoku kalah, Pak Bei, asal pertandingannya fair, panitia dan jurinya adil," kata Kang Narjo usai nyeruput kopi panas. "Ndelalah berkali-kali nyoblos Pilpres jagoku selalu kalah, berkali-kali nyoblos DPR, DPD, dan DPRD juga sering gak lolos. Sudah biasa," lanjutnya dengan nada terdengar nggrantes.

"Karena Kang Narjo gak titis milih jago, kan?"

"Ya mungkin, Pak Bei. Tapi yang pasti aku punya kriteria jago yang layak kupilih."

"Yang kelihatan alim, shalih, dan pinter, ya?"

"Itu salah satunya."

"Kang, masyarakat tidak butuh orang alim, shalih, dan pinter. Yang dibutuhkan hanya orang yang mau memberi amplop atau sembako menjelang pemilihan."

"Maaf saja, Pak Bei, aku bukan seperti itu. Meski ekonomiku tergolong pas-pasan, aku tidak mau kok didaftar sebagai penerima Bansos, PKH, atau BLT. Sampai aku dibilang sombong oleh Pak RT dan Pak Kadus. Apalagi cuma amplop 50ribuan. Sorry yee....."

"Tapi kemarin nerima amplop juga, kan?"

"Ndelalah gak ada yang nawari aku, Pak Bei. Sorry yee...."

"Makanya jagomu kalah terus, Kang."

"Gak papa. Itulah caraku mencintai NKRI."

"Maksudmu?"

"Aku memilih Caleg dan Capres-Cawapres bukan karena nerima amplop atau sembako."

"Memangnya yang kemarin nerima amplop dan sembako tidak mencintai NKRI, Kang?"

"Jelas, Pak Bei. Itu sama saja merusak NKRI."

"Kok bisa, Kang?"

"Pak Bei, aku masih ingat dulu ustad  dalam satu pengajian yang kuikuti pernah mengingatkan satu ayat dari Allah SWT."

"Apa pesannya?"

"Beliau membacakan satu ayat Al-Quran, tapi aku lupa surah apa ayat berapa, yang artinya "Janganlah kalian seperti perempuan yang mengurai benang yang sudah dipintal dengan kuat menjadi tercerai-berai kembali. Kalian menjadikan janji dan sumpah hanya sebagai alat menipu di antara kalian, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain." Ayat itu jelas sekali kan, Pak Bei?"

"Maksudnya bagaimana itu, Kang?"

"NKRI kita ini terdiri dari 1.240 suku bangsa dan 780 bahasa daerah. Iya, kan?"

"Iya benar."

"Ribuan pulau, suku bangsa, dan ratusan bahasa itu ibarat kapas, lalu oleh para pahlawan pendiri bangsa dipintal menjadi benang yang kuat dan dianyam menjadi lembaran kain yang indah bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia."

"Wah benar juga itu, Kang. Terus..."

"Sayang sekali bila ternyata kita justru menjadi seperti perempuan yang merusak kain indah dengan benang yang telah dipintal kuat hingga kembali menjadi kapas yang tercerai-berai. Dan, itu hanya karena kita terperdaya oleh janji-janji manis para politisi yang disponsori para cukong dan oligarki."

"Edan. Elok tenan, Kang Narjo," Pak Bei diam-diam mengagumi kemampuan Kang Narjo menafsirkan ayat Al-Quran dan menghubungkannya dengan situasi nyata. Dia bukan mufasir, bukan ahli tafsir, hanya seorang loper koran. Tapi mungkin karena rajin menghadiri pengajian dan budaya literasinya cukup bagus dengan membaca berita setiap pagi, dia jadi bisa menafsirkan satu ayat Al-Quran secara kontekstual. Edan Kang Narjo, pagi-pagi sudah nguliahi aku," Pak Bei tak habis pikir, tapi juga bersyukur punya sahabat loper koran satu ini.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten










Selasa, 06 Februari 2024

JATAM Klaten dan Komisi VI DPR RI Kolaborasi Budidaya Pepaya Hawai

JATAM KLATEN dan Komisi VI DPR RI Kolaborasi Budidaya Pepaya Hawai

Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Kabupaten Klaten berhasil menyelenggarakan Pelatihan Budidaya Pepaya Hawai  pada Selasa, 6 Februari 2024, bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah PRM Gading, Klaten Utara.  Acara yang diiniasi oleh Lembaga Pengembangan UMKM (LPUMKM) dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PDM Klaten ini diikuti oleh 165 petani yang berasal dari 26 Kecamatan se-Kabupaten Klaten. 

Dalam sambutannya, Ketua MPM PDM Klaten, Agung Zulianto, memaparkan bahwa MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah membentuk JATAM sebagai wadah pengorganisasian dan pemberdayaan petani, pelaku utama produksi pangan yang sangat dibutuhkan manusia. Jatam Klaten yang sudah terbentuk pada Juli 2023 pun terus mengajak para petani untuk bergabung. 

"Agar petani punya posisi tawar yang kuat, baik terhadap pelaku ekonomi pasar bebas maupun para pengambil kebijakan, maka tidak ada pilihan lain kecuali para petani harus mau berjamaah, berjuang bersama-sama mencapai kesejahteraan," kata Agung membakar semangat peserta.

Tak lupa Agung menyampaikan terimakasih kepada dua mitra yang akan menyampaikan materi pelatihan, Ir. Cipto Legowo dari PT Tunas Agro penyedia aneka benih buah-buahan dan Edi Suyitno dari Lamongan yang akan menjadi off-taker hasil budidaya Pepaya Hawai dan buah lainnya. Agung juga menyampaikan terima kasih kepada Bp. Singgih Januratmoko, Anggota Komisi VI DPR RI, yang telah mensponsori pelaksanaan pelatihan bagi anggota Jatam.

Wahyudi Nasution, Ketua LPUMKM PDM Klaten yang juga Wakil Ketua Jatam Pusat, dalam sambutannya menyampaikan tentang perlunya kolaborasi kegiatan antar-Majelis, Lembaga, Ortom, dan Amal Usaha Muhammdiyah. Di samping itu, Muhammadiyah juga harus siap bersinergi-kolaborasi dengan pihak eksternal seperti Pemerintah, DPR, Ormas lain, LSM, dan sebagainya guna memaksimalkan peran dakwahnya.

"Pelatihan Budidaya Pepaya Hawai pagi ini adalah contoh konkrit sinergi-kolaborasi antara LPUMKM dan MPM PDM Klaten, Bapak Singgih Januratmoko selaku Anggota Komisi VI DPR RI, PT Tunas Agro perusahaan Nasional di bidang Hortikultura, dan Bapak Edi Suyitno anggota MPM PDM Lamongan yang menekuni bisnis buah-buahan premium," kata Wahyudi Nasution. 

Singgih Januratmoko dalam sambutannya menyampaikan bahwa sesungguhnya banyak program kementerian yang dapat diakses untuk pemberdayaan masyarakat.  Terkait Koperasi Jatam, misalnya, Singgih siap membantu akses ke Kementerian Koperasi dan UMKM, salah satu mitra kerjanya di Komisi VI DPR RI, yang punya banyak program bagus.

"Demikian juga Kementerian BUMN. Setiap BUMN punya program CSR yang dapat diakses untuk pengembangan Jamaah Tani Muhammadiyah dan UMKM," imbuh Singgih.

Acara pelatihan dibuka secara resmi oleh Drs. H. Mochtar Anshori, M.Pd.I. selaku Wakil Ketua PDM Klaten. Dalam sambutannya, Mochtar Anshori menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program kolaborasi untuk pemberdayaan petani. Mochtar mengharapkan program kolaborasi seperti ini akan diikuti oleh semua Majelis, Lembaga, Ortom, dan AUM di lingkungan PDM Klaten.

Sebelum memasuki sessi Pelatihan, dilakukan penyerahan bantuan benih Pepaya Hawai dari Singgih Januratmoko kepada peserta pelatihan yang diwakili oleh Ketua Jatam Klaten, Nusanta Herlambang. Selanjutnya, dilakukan Penandatangan Naskah Kerjasama antara Ketua Koperasi Jatam, Kabul Subahid, dengan Edi Suyitno pemilik Somok Fruits. Pepaya Hawai hasil panen petani Jatam Klaten nanti akan dibeli oleh Somok Fruits melalui Koperasi Jatam Klaten.

Setelah sessi Pembukaan usai, acara berikutnya adalah acara Inti, Pelatihan Budidaya Hawai. Tampak semua peserta antusias mengikuti pelatihan. Sessi pelatihan yang dipandu oleh Kabul Subahid itu diawali pemaparan tentang seluk-beluk budidaya Pepaya Hawai oleh Cipto Legowo, sejak pembenihan, penyiapan lahan, penanaman, perawatan, penanganan hama, hingga teknik memanen buah pepaya. Ketika dibuka sessi tanya-jawab, peserta pun berebut mangajukan pertanyaan, dan semua dijawab dengan baik oleh Cipto Legowo.

Giliran terakhir, Edi Suyitno menjelaskan alasan kenapa berbisnis Pepaya Hawai dan bukan jenis pepaya lainnya. Pepaya Hawai ini sesuai dengan target marketnya, yaitu pasar modern dan konsumen klas menengah-atas. Mereka sangat peka terhadap kualitas dan kemasan, harga dan pembayarannya juga bagus.

"Itulah makanya saya menyambut gembira tawaran kerjasama dari teman-teman Jatam Klaten," kata Edi. "Jatam Klaten yang akan mendamping Bapak-Ibu dalam budidaya, Koperasi Jatam yang akan menangani pasca-panen, dan kami yang akan membelinya dengan harga dan pola pembayaran sesuai perjanjian kerjasama. Inilah yang disebut contract farming. Petani melakukan budidaya dengan sebaik-baiknya, sudah ada jaminan hasil panennya pasti dibeli dengan harga yang bagus dan menguntungkan," sambung Edi.

Acara pun ditutup tepat pukul 12.30 WIB. Semua peserta yang berseragam T-Shirt Jatam warna hijau dengan tag-line PETANI BERDAYA INDONESIA JAYA itu pulang dengan membawa bantuan benih serta media tanam dan cendera mata dari dari Singgih Januratmoko.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah

Senin, 22 Januari 2024

OMON-OMON FOOD ESTATE

OMON-OMON FOOD ESTATE

Lagi-lagi sikap usil Kang Narjo kumat alias kambuh. Bila sudah seperti itu, kadang Pak Bei terpikir segera mengusirnya. Sebab kalau dilayani, omongannya bisa ngelantur kemana-mana dan sulit dikendalikan. Tapi tidak mungkin juga Pak Bei mengusir Kang Narjo. Pak Bei paham betul sahabatnya yang loper koran senior itu butuh tempat curhat, butuh teman berbagi pikiran yang kadang terasa sumpeg, butuh teman yang mau menjadi ember buat membuang limbah perasaan dan pikirannya yang galau. Di antara keusilannya, tidak jarang justru muncul ide atau gagasan cemerlang dari Kang Narjo.

"Ada apa, Kang?," tanya Pak Bei melihat Kang Narjo memarkir motornya lalu duduk nglesot sambil meletakkan koran pagi di lantai.

"Pengin omon-omon, Pak Bei," jawab Kang Narjo sambil pringas-pringis.

"Apa, Kang?." 

"Pengin omon-omon."

"Wah kok kaya capres saja. Gak bahaya tah?"

"Enggaklah, Pak Bei. Ini omon-omon tingkat tinggi, tidak mungkin kusampaikan ke sembarang orang."

"Tunggu sebentar ya, kubuatkan kopi dulu."

"Siap. Pak Bei selalu tahu yang kumau," jawab Kang Narjo.

Tak sampai lima menit, Pak Bei sudah kembali ke teras sambil membawa segelas kopi robusta kesukaan sahabatnya. Kang Narjo pun sudah hafal caranya agar kopi panas kicat-kicat itu bisa segera diminum. Ditungkannya pelan-pelan kopi ke lepek alias piring kecil,  ditunggu beberapa detik, lalu diseruput sedikit demi sedikit. Hayati dan rasakan kehangatan kopi mengalir membasahi kerongkongan hingga terasa hangat saat bersamayam di usus yang masih kosong dan kedinginan. Mata yang semula terasa agak ngantuk pun sepontan langsung kemepyar terang-benderang.

"Alhamdulillah....seger," kata Kang Narjo sambil meraih rokok kretek dan korek di depan Pak Bei. Ambil sebatang, dinyalakan, dihisap pelan-pelan, dan bulll....gumpalan asap putih pun keluar dari mulut Kang Narjo.

"Mau omon-omon apa, Kang?"

"Soal food estate, Pak Bei."

"Wah berat itu, Kang?"

"Kalau dilihat dari kaca mata dan pamrih politik ya pasti berat. Tapi kalau kita bicara objektif dari sisi pentingnya membangun kedaulatan pangan, food estate itu sebenarnya ya biasa-biasa saja, tidak perlu diperdebatkan."

"Kok gitu, Kang?"

"Ya jelas, Pak Bei. Ekstensifikasi pertanian memang kita perlukan untuk menjaga ketersediaan pangan bagi hampir 300 juta perut penduduk RI. Lahan yang ada sudah semakin sempit, terus berkurang, terus beralih fungsi menjadi perumahan, real estate, dan jalan tol. Produktivitas pertanian juga semakin menurun, baik karena faktor kesuburan tanah yang rusak karena penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia yan sudah berlangsung puluhan tahun, karena faktor tenaga petani yang menurun karena rata-rata sudah uzur dan tidak terjadi regenerasi, maupun karena faktor cuaca yang tidak menentu. Belum lagi faktor aneka hama yang datang silih-berganti." Kang Narjo kembali nyeruput kopi dan menikmati kretek di tangannya.

"Iya juga ya, Kang. Padahal yang butuh makan semakin bertambah dari tahun ke tahun."

"Sayangnya motivasi program food estate itu tampak lebih karena faktor politik."

"Kok bisa, Kang?"

"Lha kan yang digandeng sebagai mitra di program itu para konglomerat atau korporasi. Bukan para petani yang pekerjaan dan habitatnya memang bertani. "

"Ya memang mereka yang punya modal dan teknologi kok, Kang?"

"Iyaak siapa bilang?"

"Ya aku."

"Itu konsesi politik, Pak Bei. Masa gak tahu sih. Anggarannya kan jelas dari APBN, dibagi-bagi untuk konsesi politik."

"Konsesi bagaimana to, Kang?" 

"Balas budi, Pak Bei. Lihat saja, siapa-siapa yang ngerjakan proyek bernilai triliunan rupiah itu? Pasti para pengusaha dan orang dalam yang telah berjasa besar mendukung terpilihnya Presiden. Bagi-bagi proyeklah, Pak Bei."

"Kang,  mbok jangan gitu ah. Itu shu'udzon namanya. Gak baik."

"Pak Bei, sebenarnya food estate itu menurutku gampang diwujudkan, Insya Allah pasti berhasil dan tidak perlu ribut. Itu pun kalau Pemerintah mau mendengarkan suara saya."

"Wah elok. Memang Kang Narjo punya saran bagaimana?"

"Pertama, lepaskan Proyek Strategis Nasional yang dibiayai dengan dana APBN itu dari urusan politik."

"Terus..."

"Ajaklah PP Muhammadiyah dan PBNU duduk bersama mencari solusi soal kedaulatan pangan. Pasti beres."

"Kenapa perlu ngajak PP Muhammadiyah dan PBNU, Kang? Apa relevansinya?"

"PP Muhammadiyah punya banyak ahli di kampus-kampus, baik yang di Universitas Muhammadiyah dan Aisyiyah, maupun di Universitas Negeri. Muhammadiyah dan NU juga sama-sama concern berdakwah di bidang pertanian, melalui MPM dan Lakpesdam."

"Terus, Kan?"

"Kasih saja Muhammadiyah dan NU kuota masing-masing berapa juta atau berapa ratus ribu hektar dengan target produksi beras, jagung, ketela, kedelai, dan sebagainya."

"Terus, Kang?"

"Coba bayangkan, Pak Bei. Misalnya PP Muhammadiyah diberi kuota dan anggaran untuk satu juta hektar, tersebar di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTT, dan Papua. Kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh Muhammadiyah?"

"Apa ya, Kang?"

"Aku punya ide. Gerakkan saja program transmigrasi, kolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi, Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan, Kementerian PURR, Kemenag, BUMN, dsb."

"Terus, Kang?" 

"Mari kita coba berhitung. Kalau misalnya ada lahan yang disediakan 1.000 hektar di satu daerah dan diharapkan akan efektif menghasilkan pangan. Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan bertugas menyediakan lahan, Kemen PURR membangunkan perumahan, PLN mengaliri listriknya, Kominfo memasang jaringan Wifi, Kemenag membangunkan masjid dan madrasah, Kementerian Pertanian menggandeng MPM Muhammadiyah melakukan pendampingan bagi petani. Bulog dan Bapanas menyiapkan off-taker hasil pertanian."

"Bagus itu, Kang. Terus..."

"Seperti jaman Pak Harto dulu, bila setiap KK mendapatkan jatah lahan pertanian 2 Ha serta 1 kapling rumah dan subsidi biaya hidup 1-2 tahun, maka terjadi penambahan 1.000 hektar lahan pertanian yang langsung dikelola oleh para petani, bukan oleh korporasi. Dengan cara itu, program food estate Insya Allah akan berhasil."

"Iya ya, Kang. Bagus itu."

"Di lokasi trans itu nanti, Muhammadiyah bisa mendirikan sekolah-sekolah dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, masjid dan mushola, TPA dan Pondok Pesantren. Untuk Perguruan Tinggi, Muhammadiyah sudah punya di beberapa kota di luar Jawa."

"Iya juga, Kang."

"Kalau ada transmigran sejumlah 500 KK atau sekitar 1.500 jiwa, itu sudah bisa menjadi satu ekosistem sosial-ekonomi yang luar biasa. Sementara para suami bertempur di lahan pertanian, para istri bisa buka usaha warung bakso, mie ayam, tahu kupat, toko sembako, toko seluler, toko bangunan, toko obat, toko pertanian, dsb di rumah masing-masing. Pasarnya sudah ada, sudah ada pembelinya. Sambil bertani, para suami bisa juga buka bengkel servis sepeda atau sepeda motor, misalnya. Bisa juga ibu-ibu buka usaha jasa jahit atau modiste. Jadi,  sambil menunggu saat panen tiba, di sana sudah ada perputaran ekonomi yang cukup tinggi, antar-mereka sendiri. Aktivitas pendidikan dan peribadatan pun berjalan baik dengan guru-guru dan da'i dari Muhammadiyah."

"Bagus idemu, Kang."

"NU juga dikasih kesempatan yang sama, tapi di lokasi yang berbeda. Jadi nanti akan ada penambahan Cabang dan Ranting Muhammdiyah dan NU di berbagai daerah. Asyik kan, Pak Bei?"

"Iya aja, deh. Asyik itu."

"Sudah ya, Pak Bei. Cukup sekian dulu omon-omon kita pagi ini. Aku harus melanjutkan tugas negara."

"Oke, Kang. Terima kasih omon-omonnya. Luar biasya."

Dua sahabat pun berpisah. Kang Narjo melanjutkan tugasnya mengantar koran pagi ke pelanggan, Pak Bei mengerjakan tugas yang perlu diseleksaikan.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten.

















Minggu, 14 Januari 2024

BUDAYA SYURAABAINAHUM

BUDAYA SYURAABAINAHUM

Suana pertemuan RT 08 terasa hening. Semua peserta tampak serius memperhatikan tausiyah dari Pak Hisyam, salah satu warga RT 08 yang juga dikenal sebagai ustadz. Memang begitulah tradisi di kampung Pak Bei. Tausiyah seakan menjadi menu wajib setiap kumpul warga, menjadi acara pertama setelah Pembukaan sebelum memasuki acara utama. 

Tapi malam itu terasa beda. Bila biasanya orang-orang mendengarkan tausiyah dengan santai, ada yang sambil rokokan atau main HP, malam itu semua tampak khusyuk memperhatikan dengan seksama. Pak Hisyam yang biasanya suka ndagel melontarkan joke-joke lucu pun malam itu tausiyahnya tampak serius. Lek Nardi dan Sriyono yang biasanya cengengesan pun seolah tak berani guyonan.

"Bapak-Bapak dan Saudara sekalian," Pak Hisyam menyapa hadirin. "Bulan depan kita akan mengikuti Pemilu. Sebagai warga negara, kita harus menggunakan hak pilih kita, datang ke TPS, mencoblos 5 nama yang akan kita serahi mengurus negara dan daerah kita," lanjut Pak Hisyam sambil memandangi wajah-wajah hadirin satu-persatu.

"Orang menyebut Pemilu sebagai Pesta Demokrasi. Kenapa? Karena hajatan lima tahunan ini memang melibatkan seluruh warga negara, menyangkut arah dan nasib masa depan bangsa, juga memerlukan biaya sangat besar baik yang dikeluarkan dari APBN maupun kelompok atau pribadi-pribadi peserta Pemilu."

Tampak Lek Nardi gelisah ingin bicara, mau mengangkat tangannya. Sriyono bestinya yang melihat gelagat itu langsung nyablek paha Lek Nardi supaya diam.

"Seperti kita tahu, di Pemilu inilah orang-orang politik berkompetisi, berlomba memperebutkan simpati dan suara rakyat agar nanti kita pilih di bilik-bilik TPS. Itulah makanya gambar-gambar caleg bertaburan di mana-mana. Sayangnya, kita hanya disuguhi gambar caleg tanpa keterangan apapun dan tanpa catatan rekam jejaknya sehingga kita tidak tahu mana yang layak kita beri amanah. Hanya pasangan Capres-Cawapres yang relatif bisa kita baca dan ikuti reputasinya sehingga kita bisa memilih mana yang terbaik bagi kita," Pak Hisyam agak panjang-lebar menyampaikan prolognya. 

"Tadi Lek Nardi mau ngomong apa? Monggo silakan," ternyata tadi Pak Hisyam juga melihat gelagat Lek Nardi. Semua mata memandang Lek Nardi. "Ayo silakan ngomong," Pak Hisyam mempersilakan Lek Nardi bicara.

"Saya mau usul saja, mbokya Pak Hisyam ini gak usah menjelaskan panjang kali lebar. Kita sudah tahu Pemilu ya gitu-gitu saja hasilnya. Hidup kita ya gini-gini saja, tetap rekoso. Kalau memang Pak Hisyam sudah punya jago, tolong sampaikan saja di sini, ditawarkan siapa yang layak kita pilih nanti. Syukur bila semua warga RT 08 setuju dengan jago Pak Hisyam. Kalau ternyata ada yang beda pilihan, ya tidak masalah...," kata Lek Nardi dengan ekspresinya yang khas celelekan. 

"Mbok didengarkan dulu to, Lek, Pak Hisyam kan baru menyampaikan pengantarnya," kata Sriyono.
 
"Sabar, Lek Nardi, Ojo kesusu, to," sahut Pak RT.

"Sudah..sudah. Gak papa, Mas Sriyono dan Pak RT. Lek Nardi memang sudah biasa begitu, kan? Dimaklumi saja," Pak Hisyam seolah membela Lek Nardi. Dua jempol tangan pun diacungkan Lek Nardi ke Pak Hisyam.

"Bapak-Bapak semua tentu tahu saya ini bukan orang politik, bukan pengurus partai apapun, juga bukan tim sukses Capres atau Caleg siapapun. Saya ini hanya gelisah setiap kali musim Pemilu tiba."

"Ustadz kok gelisah to, Pak. Ora ilok," Lek Nardi membantah lagi.

"Sistem Pemilu kita ini kan liberal to, Lek Nardi. Seperti pasar bebas, setiap menjelang Pemilu masyarakat dijadikan rebutan oleh para pedagang dan makelar. Biasanya yang punya modal besar yang akan memenangkan persaingan, meski kualitasnya pas-pasan, bahkan perilaku politiknya bisa membahayakan negara."

"Lha terus bagaimana, Pak Hisyam? Kita ini mau milih siapa," lagi-lagi Lek Nardi mendesak.

"Lek Nardi, dalam setiap urusan kemasyarakatan, kita ini kan selalu bermusyawarah. Mau membangun masjid, madrasah, saluran air dan gorong-gorong, mau hajatan, ada kematian, mau besuk tetangga yang sakit, semua kita musyawarahkan dulu. Iya kan, Lek Nardi?"

"Ya betul, namanya hidup bermasyarakat, kok." 

"Tapi kenapa untuk urusan yang satu ini, urusan Pemilu, kita tidak pernah bermusyawarah? Semua mau milih siapa diserahkan pada selera pribadi masing-masing. Padahal kita tidak tahu kualitasnya  Mestinya bisa kita musyawarahkan to, Lek Nardi?"

"Lha katanya demokrasi, Pak Hisyam? Katanya bebas dan rahasia...."

"Lek Nardi dan Bapak-Bapak yang saya berbahagia... Dulu sebelum hijrah Rasulullah SAW, kota Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah itu multy-etnis, kira-kira seperti di negeri kita ini. Ada banyak suku dan agama atau kepercayaan. Ada dua suku besar, yakni suku Aus dan Khazrat, yang selalu bersaing memperebutkan dominasi dan pengaruh di sana. Itu turun-temurun. Orang-orang Yahudi bermain di antara keduanya, berusaha terus mengadu-domba. Tidak jarang terjadi pertengkaran dan peperangan antar suku karena rebutan penguasaan lahan ekonomi dan pasar. Sampai-sampai orang-orang Yastrib merasa jenuh dan capek dengan kondisi itu."

Semua mata mendengarkan cerita Pak Hisyam. Lek Nardi pun tampak tidak berkedip mendengarkan cerita sejarah Yastrib.

"Ketika Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin dari Mekah datang, orang-orang Yastrib menerima dengan lapang dada dan bersuka cita. Mereka percaya bahwa Nabi Muhammad SAW yang lembut namun berwibawa itulah yang akan mampu membawa kedamaikan di negeri mereka. Dan ternyata benar. Dalam tempo yang tidak terlalu lama, kehidupan di kota Yastrib berubah menjadi adem-ayem, damai, kegiatan ekonomi seperti perkebunan, peternakan, dan perdagangan semakin maju. Tidak ada lagi perang antar-suku. Kenapa bisa begitu? Karena Rasulullah SAW selalu mengajak mereka untuk bermusyawarah dalam segala hal, termasuk urusan politik dan keamanan menghadapi ancaman dari kaum Quraisy Mekah. Budaya syuraabainahum, dialog dan bermusyawarah di antara mereka, betul-betul dijalankan."

"Sebentar, Pak Hisyam," lagi-lagi Lek Nardi memotong tausiyah Pak Hisyam. "Itu kan jaman Kanjeng Nabi. Lha kalau jaman kita sekarang ini kan tidak semua hal bisa kita musyawarahkan? Untuk urusan pilih-memilih dalam Pemilu ini apalagi, bisa-bisa kita dianggap melanggar hak azasi. Iya kan, Sedulur-Sedulu?," Lek Nardi berusaha minta dukungan hadirin.

"Iya benar, Lek Nardi," jawab Pak Hisyam. "Memang begitu yang terjadi selama ini. Kita sudah terjebak pada demokrasi liberal yang serba bebas. Tahu apa akibatnya? Pemilu nyatanya tidak menghasilkan pemimpin yang benar-benar punya kemampuan mengelola negara sehingga menjadi lebih baik, adil, dan makmur untuk seluruh rakyat. Korupsi terjadi di mana-mana, di semua lini. Hukum hanya dijadikan alat melanggengkan dominasi dan kekuasaan. Orang berani mengkritik pengusa akan dicarikan pasal untuk membungkamnya. Bahkan, nyawa seakan tidak ada harganya bagi lawan politik. Kemaksiatan merebak di mana-mana dan berlindung atas nama hak azasi manusia. Sungguh memprihatinkan."

"Terus bagaimana jalan keluarnya, Pak Hisyam?"

"Jalan keluarnya? Mari kita bermusyawarah dengan pikiran jernih untuk memilih pemimpin yang terbaik. Caleg-Caleg dan Capres-Cawapres mana, mari kita bandingkan satu-persatu. Bila kita sudah sepakat, mari kita amankan bersama-sama, kita ajak keluarga kita untuk memilih yang sudah kita sepakati di Pemilu nanti. Lalu kita tawakkal'alallahi, kita serahkan pada Allah SWT hasilnya. Bila pilihan kita menang, alhamdulillah kita syukuri. Bila ternyata kalah, kita terima dengan lapang dada. Bukankah takdir ada dintangan Allah SWT?"

Pak Hisyam pun mengakhiri tausiyahnya, membiarkan semua warga RT 08 berpikir.dulu. Sekretaris yang memandu acara tidak membuka sesi tanya-jawab karena waktu sudah semakin larut. Masih ada beberapa acara seperti yakni laporan keuangan dari Bandahara dan musyawarah rencana kerja bakti besok hari Minggu.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten



















Rabu, 10 Januari 2024

MEMANG REPOT JADI PENGAREP

MEMANG REPOT JADI PENGAREP

Kemarin Pak Bei didatangi tiga orang ibu-ibu kampung, katanya mewakili ibu-ibu se-RT. Ceritanya, mereka masih bingung menghadapi Pemilu 14 Februari nanti.

"Kenapa bingung?" tanya Pak Bei.

"Ya bingung to, Pak Bei. Katanya kita nanti harus nyoblos 5 nama: caleg DPRD Kabupaten, caleg DPRD Provinsi, caleg DPR RI, calon DPD, dan Capres-Cawapres," jawab Bu Siti.

"Ya memang, Bu Siti," jawab Pak Bei.

"Kami ini sama sekali belum tahu mana caleg DPRD 2, DPRD 1, DPR Senayan, dan calon DPD yang layak dipilih. Pengalaman selama ini, kita juga tidak pernah tahu kerjaan mereka di gedung dewan itu apa saja. Rasanya gak ada pengaruhnya untuk kebaikan hidup negeri kita," Bu Sri nimpali.

"Benar, Pak Bei. Mosok kita mau disuruh milih lagi orang-orang yang gak jelas, yang hanya majang foto-foto di pinggir jalan, di tiang-tiang lampu, dan tembok pagar makam," Bu Nanik menambahi.

"Lha terus apa yang bisa saya bantu, Ibu-Ibu?"

"Pak Bei ini kan Ketua BPD? Mbokya kami ini dikasih tahu siapa2 yang layak kami coblos di Pemilu nanti," kata Bu Siti. 

"Tunjukilah kami caleg-caleg yang berkualitas dan amanah, yang sekiranya bisa membawa kebaikan, minimal untuk kampung dan Desa kita," kata Bu Sri.

"Juga Capres-Cawapres, Pak Bei, kita mau milih yang mana? Kami masih bingung."

"Kalau untuk Capres-Cawapres kan Ibu-ibu bisa nyimak Debat Capres di TV? Asyik lho..."

"Walah, Pak Bei. Mana sempat emak-emak macam kami ini nonton orang debat di tivi."

"Pak Bei dan anggota BPD yang lain mbokya ikhtiar mencarikan yang terbaik untuk kami pilih. Ini penting agar suara kita tidak muspro, Pak Bei," kata Bu Nanik.

Mak jleb rasa di ulu hati. Pak Bei tidak pernah terpikir betapa masyarakat di desa masih mengalami kebingungan dan kesulitan menghadapi Pemilu yang tinggal sebulan lagi. Pak Bei baru menyadari betapa tim-tim sukses caleg yang sudah hilir-mudik gerilya ke kampung-kampung itu hanya jualan calegnya sendiri. Tidak lebih. Tidak mengajari rakyat agar cerdas memilih, memilih kelima-limanya, memilih yang terbaik.

"Baiklah, Ibu-Ibu. Saya baru memahami kesulitan Panjenengan."

"Terus bagaimana, Pak Bei?"

"Saya minta waktu untuk mencari informasi, mencari wangsit, supaya bisa menjawab pertanyaan Ibu-Ibu. Begitu, ya. Saya minta waktu 1-2 minggu."

"Baiklah, Pak Bei. Kami nyuwun pamit dulu."

"Njih, Bu. Matur nuwun sanget awit karawuhan Panjenengan sami."

#serialpakbei
#wahyudinasution
#fkbpdkabklaten
#mpmmmmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpukmkmpdmklaten