Senin, 29 April 2019

SUSU TETANGGA

SUSU TETANGGA

Jinguk tenan Sasa. Kali ini guyonannya ekstrem banget. Radikal. Jorok. Guyonan semacam ini perlu diwaspadai, karena bisa dianggap mengancam persatuan dan kesatuan, tidak pro-NKRI. Bisa kena pasal menyebarkan kebencian. Wah gawat. Aku harus hati-hati ngobrol dengannya. Tidak boleh terpancing biar selamat.

"Jaman sekarang memang aneh ya, Om," kata Sasa menyambutku di parkiran tadi pagi.

"Aneh bagaimana? Ayo kita duduk dulu di dalam. Sekali-sekali kita nyoto bareng, Sa," Sasa pun nurut, mengikutiku masuk ke ruang dekat dapur yang lebih sepi. Dalam tempo singkat, dua mengkok soto dan dua gelas teh nasgithel telah tersaji di meja kami. Harus kuakui, meski warung ini tradisional, tapi pelayanannya cepat dan profesional. Sayang sekali, dalam kategori bisnis kuliner, istilah fast-food hanya untuk jenis makanan impor. Sasa menyebutnya 'panganan Londo'. Soto Kartongali tidak termasuk.

Sambil menyantap soto, kuulang lagi pertnyaanku tadi, "Sing aneh opo, Sa?"

"Begini, Om. Kita ini dari dulu kok cuma diiming-imingi, dipameri, disuguhi susu tetangga, ya."

"Apa? Susu tetangga? Wahh...tenane, Sa? Asyik itu...."

"Asyik apanya? Lha wong cuma dipameri thok, je....."

"Maksudnya?"

"Ya namanya susu tetangga, Om, meski tampaknya montok, ranum-ranum, empuk, menthul-menthul, tapi gak bisa kita pegang. Cuma bisa nyawang thok."

"Gak boleh dipegang-pegang ya, Sa?"

"Jelas gak boleh, Om. Edan, po?"

"Ya sudah gak usah disawang, Sa. Biar saja dibuka-buka, digleh-glehke, diumbar-umbar di depan mata. Nanti dia juga capek sendiri kalau kita cuekin...."

"Eman-eman, Om. Lumayan masih bisa nyawang..."

"Nyawang sambil ngeleg ludah? Mesakke....."

" Tapi masih mending susu tetangga daripada....."

"Daripada apa?"

"Daripada janji-janji para politisi yang empuk-eyup setiap musim kampanye, yang akan nurunkan harga-harga sembako, akan nurunkan biaya pendidikan, pajak listrik, bbm, biaya kesehatan, dan sebagainya."

"Sik to, Sa, kamu ini ngomong susu tetangga kok tekan janji politisi?"

"Lah apa bedanya, Om?"

"Ya beda...."

"Sama saja."

"Kok sama?"

"Ya kan sama-sama gak bisa dipegang to, Om? Apa Sampeyan berani pegang susu tetangga? Tidak, kan? Takut kena pasal pelecehan seksual, kan?"

"Ya jelas, Sa. Ngapain lihat-lihat punyanya tetangga? Tiwas ngelu ndase, Sa. Makanya haram, Sa."

"Janji politik juga begitu."

"Begitu, piye?"

"Ada sekian banyak janji waktu kampanye dulu. Coba mana yang sudah dilaksanakan? Gak bisa dipegang, Om."

"Aku juga gak hafal janji-janji kampanye, Sa. Sudah lupa semua. Jadi gak ngeh juga apa yang sudah dilaksanakan dan yang belum."

"Ya itu masalahnya."

"Maksudmu?"

"Karena orang gampang lupa, makanya negara gak maju-maju. Dipameri susu tetangga saja wis dho mbanyaki, kesenengen. Apalagi ditambahi amplop nyeket ewu,  langsung semrinthil, klepek-klepek. Terus lupa segalannya. Diapusi terus kok dho seneng. Jiaannn....."

Soto di mangkok sudah tandas. Teh nasgithel juga sudah habis. Rokok sebatang pun hampir tuntas. Saatnya Sasa harus kembali ke tepi jalan melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara Soto Karto Ngali. Tak perlu lagi kulayani omongannya yang mulai ngkantur seperti orang ngomyang.

"Wis yho, Sa, kapan-kapan dilanjut ngobrolnya. Aku mau pulang dulu."

"Nggih, Om. Matur nuwun sudah ditraktir sarapan...."

"Aku sing matur nuwun, kali ini Sasa mau nemani makan. Sudah sana kerja lagi."

"Siap, Ndan," jawab Sasa dan langsung berlari sambil masang sempritan di bibirnya.

Aku pun menuju kasir, antri. Lagi-lagi kunikmati cara hitung quick-count ala Kang Panut dan respon pembeli yang beda-beda.

#serialsasa

Selasa, 23 April 2019

QUICK COUNT

QUICK COUNT

Jam 6.30 pagi, warung masih sepi, baru ada dua mobil plat H dan AB di parkiran. Sasa pun belum tampak bertugas. Aku langsung duduk di meja favoritku, meja yang berada tepat di depan meja tempat Kang Panut meracik soto sekaligus sebagai kasir pelayanan pembayaran. Memang dari dulu aku suka duduk di sana karena sangat strategis bisa melihat semua pengunjung. Mana tahu ada tetangga, teman, atau kenalan yang bisa kutraktir, atau bila sedang beruntung justru aku yang ditraktir. Dari tempat itu juga, aku suka memperhatikan cara Kang Panut menghitung pembayaran tanpa menggunakan kalkulator, alias mencongak, teknik hitung cepat yang diajarkan waktu SD. Kadang Kang Panut tampak pakai menulis di buku tulis, seolah-olah menulis angka-angka dan menjumlahnya, tapi sesungguhnya cuma akting. Lha wong belum menjumlah kok sudah bisa menyebut angka yang harus dibayar konsumen. Pasti hanya kasir cerdas yang melakukannya.

"Soto dua, teh dua, kepala satu, dada-menthok satu, perkedel dua, tempe empat," kata pembeli sambil membuka dompetnya.

"Seket, Mas."

"Eh, tambah karak 6, Pak " kata pembeli lagi.

"Nggih, Mas, seket mawon," jawab Kang Panut tanpa memandang pelanggannya sambil tangannya tetap asyik mengisi mangkok-mangkok di depannya.

Di waktu yang lain, salah satu dari rombongan gowes menuju kasir, "Sampun, Pak."

"Nggih, Mas. Tambah apa saja?" tanya Kang Panut.

" Soto enam belas, teh panas enam, es-teh sepuluh, tahu sepuluh, tempe dua belas, karak tiga puluh lima," kata pegowes mewakili teman-temannya.

"Nggih, Mas, dua ratus mawon."

Sering kulihat orang senyum-senyum setelah mambayar makanan, mungkin merasa murah sekali. Kadang juga ada ibu-ibu yang cemberut, mungkin merasa kemahalan dan menganggap mencongak Kang Panut asal-asalan.

Aku jadi teringat, Sasa pernah cerita tentang Kang Panut yang dalam bisnisnya menganut prinsip tuna sathak bathi sanak. Laba sedikit atau bahkan rugi pun gak masalah, yang penting teman dan pelanggannya banyak. "Jangan sampai ada pelanggan kapok makan di sini," begitu pesan Kang Panut pada semua karyawannya, termasuk Sasa yang bertugas mengatur parkir. Logika Kang Panut sederhana, tetapi cukup jitu sebagai kiat bisnis. Bila pelanggannya banyak, orang jualan apapun pasti tidak akan rugi. "Dan jangan pelit pada pelanggan agar pelanggan tidak pelit pada kita," pesan Kang Panut di waktu lain.

Dengan naluri dan prinsip bisnis yang diterapkannya itulah soto Kartongali bisa berkembang pesat dan banyak pelanggannya hingga kini. Mereka tuman karena memang sotonya bukan hanya enak di lidah dan nyaman di perut, tapi juga bikin gobyos dan gedhek-gedhek karena murah harganya.

"Tapi itu kan cuma urusan jualan soto, Om. Punya Kang Panut sendiri. Kalau salah hitungan, yang rugi juga cuma Kang Panut atau hanya satu-dua pembeli yang merasa dirugikan," kata Sasa.

"Maksudmu?," tanyaku.

"Lha kalau hitungan ratusan juta suara hasil Pilpres dan Pemilu, lha kok cuma ngandalkan mencongak, ya pasti awur-awuran to, Om? Beresiko tinggi. Bisa kacau, bisa bikin rakyat protes, atau malah gegeran."

Jindul tenan. Ternyata Sasa menghubungkan mencongak ala Kang Panut tadi dengan    quick-count lembaga-lembaga survey Pemilu/Pilpres yang konon sangat ilmiah. "Tapi benar juga Sasa," pikirku, "Nyatanya memang hasil QC justru meresahkan masyarakat sehingga dilarang tayang di tivi."

"Menurut Sampeyan, kenapa lembaga-lembaga ahlul-mencongak itu seperti berlomba mengumumkan hasil hitungannya?"

"Apa ya, Sa? Gak tahu aku."

"Menggiring hati dan pikiran rakyat, Om."

"Maksudmu?"

"Inilah politik, bukan jualan soto."

"Lha iya. Tapi apa maksudmu menggiring hati dan pikiran rakyat tadi?"

"Ya ini cuma dugaanku lho, Om. Mungkin salah."

"Iya, tolong jelaskan apa maksudmu."

"Ada orang pintar, baik, dan jujur. Ada orang pintar, tapi tidak baik dan tidak jujur."

"Iya tahu...."

"Ada orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk berbuat kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya. Tapi juga banyak orang pintar yang menjual kepintarannya justru untuk membantu kejahatan."

"Wah kok jadi mbulet omonganmu, Sa."

"Makanya jangan mudah percaya pada orang yang kelihatan pintar, Om. Wah kalau omong di tivi koyo yak-yako, seakan-akan paling pintar agar penonton percaya. Padahal sesungguhnya hanya tukang sihir, Om."

"Tukang sihir piye?"

"Ya menyihir rakyat agar percaya siapa pemenangnya. Namanya juga sihir, Om, maunya pemenang sesuai maunya si tukang sihir atau para botoh pengguna jasanya."

Tak terasa pagi sudah beranjak siang, hampir pukul 8.00. Aku harus pulang membuka pintu rumah. Pasti karyawan Bunda Collection sudah pada datang dan belum bisa masuk ke workshop.

"Bali sik yho, Sa," aku pun beegegas pamit. Tanpa menunggu jawaban Sasa, langsung kutancap gas supaya cepat sampai di rumah.










Minggu, 21 April 2019

USREG

USREG

Ngobrol dengan Sasa selalu jadi asyik karena sering terlontar kosa kata lama yang sudah jarang terdengar. Kadang dia terkesan seperti seorang penyair, teliti memilih diksi untuk menyatakan pikiran dan perasaannya. Kadang juga seperti seorang lawyer yang pilihan diksinya tidak mengundang tafsir ganda.

Seperti malam ini, dia datang selepas isya' sesuai janjinya tadi pagi untuk ngopi-ngopi. Tapi bukan Sasa kalau obrolannya yang ngalor-ngidul tidak nyrempet-nyrempet situasi politik terkini, seputar Pemilu/Pilpres 2019 beberapa hari lalu, sejak masa kampanye yang berbulan-bulan hingga proses penghitungan suara yang terkesan tidak rofesional dan amburadul. Seperti biasa, aku pun lebih sering menjadi pendengar yang baik, yang hanya sesekali nyenggaki untuk sekedar menjaga agar omongannya tidak nggladrah ke mana-mana.

"Ibarat pertandingan sepakbola, Om, wasit kok tidak kunjung niup peluit panjang tanda permainan sudah usai, ya. Tim sukses, pemilik klub, para wasit, dan PSSI malah usreg sendiri. Rakyat yang jadi penonton ini jadi capek to, Om?"

"Ini politik kok, Sa. Bukan sepakbola."

"Aku cuma khawatir kalau penonton jadi gak sabar lalu ngamuk."

"Ngamuk piye?"

"Om, penonton juga tahu ada yang tidak beres dalam pertandingan ini? Kalau dalam sepakbola, para pemain dan pemilik klub bisa disogok supaya mau mengalah. Wasit juga disogok supaya mau kerjasama ngatur pertandingan agar pemenangnya sesuai maunya para mafioso sepakbola."

"Ini bukan sepakbola kok, Sa."

"Lha ya itulah masalahnya, Om. Ini memang bukan sepakbola yang penontonnya tidak terlibat. Tapi ini politik. Pemilu dan Pilpres. Semua rakyat dilibatkan dalam pertandingan untuk memilih penyelenggara negara. Kalau ada yang tidak beres, misalnya panitia Pemilu melakukan manipulasi suara, tentu rakyat bisa ngamuk karena diapusi."

"Sa, bagaimana kalau kita mencoba bersabar dan percaya saja pada panitia yang tentu juga mumet menghitung suara sampai selesai?"

"Rakyat ini kurang sabar apa to, Om? Sudah berbulan-bulan diberondong kampanye para Caleg dan Capres-Cawapres. Sudah berbulan-bulan kita diiming-imingi, bahkan ada yang diancam-ancam supaya milih ini milih itu. Berulang-ulang rakyat ikut pemilihan-pemilihan, tapi ternyata cuma kapusan terus. Meski begitu, Om, rakyat masih berharap akan ada perubahan, berharap akan ada perbaikan pengelolaan negara.  Makanya kita kemarin mau ikut Pemilu-Pilpres."

"Rakyat juga seneng disogok to, Sa? Ayo ngaku saja, kemarin kamu dapat amplop berapa, lalu milih siapa? Wkkk....."

"Weelha malah diece."

"Tentu Sasa ingin pemenangnya yang kemarin ngasih amplop, to? Hayo ngaku saja....."

"Jindul ik..."

"Ngene lho, Sa. Siapapun Calegnya, siapapun Capres-Cawapresnya, yang kemarin sudah mengeluarkan duit banyak tentu ingin terpilih dan menjadi pemenang. Apalagi yang sedang berkuasa, tentu akan menggunakan kekuasaannya agar bisa menang dan kembali berkuasa."

"Ya pasti, Om."

"Yang belum berkuasa dan ingin berkuasa tentu juga berjuang keras mengerahkan segala daya agar bisa memenangkan pertandingan. Bener gak, Sa?"

"Iya ya, Om. Makanya usreg. Mbokya ada yang mau mengalah saja biar segera rampung masalahnya, ya."

"Kalau mengalah dalam pertandingan, itu namanya tidak sportif, Sa. Ngapusi pendukung dan pemilihnya."

"Iya ya, Om. Jadi biarkan saja mereka usreg terus, ya?"

"Lha kan sudah ada jadwalnya kapan penghitungan suara ini harus selesai dan diumumkan siapa pemenangnya. Sabar sik to, Sa."

"Ah sudahlah, Om. Aku mau pulang dulu. Mudah-mudahan masalah tidak semakin ngombro-ombro sehingga rakyat bisa sabar dan tidak ngamuk. Kalau harus ngamuk, aku juga masih siap kok, Om. Sudah lama tidak ngantemi orang....hahahaa."

Sasa pun langsung pulang, nggenjot sepeda jengki andalannya. Malam sudah cukup larut, saatnya menuju peraduan.











Jumat, 19 April 2019

COBLOSAN

COBLOSAN

Jam 6 pagi, warung baru buka dan masih sepi. Sasa belum tampak batang hidungnya. Memang, bila pas hari libur, biasanya setelah jam 7 baru banyak pembeli. Dimulai para pegowes dari berbagai penjuru yang mampir untuk sekedar istirahat dan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan, lalu datang juga beberapa rombongan keluarga dari luar kota yang sengaja datang menikmati sarapan soto klangenan. Begitulah, warung Soto Kartongali biasa jadi jujukan bagi orang yang ingin sarapan pagi sambil istirahat, lalu mereka tuman kembali lagi di lain waktu karena rasa soto yang khas dan bikin gedhek-gedhek.

Karena masih sepi, kulihat Yu Semi yang biasa bertugas menggoreng tahu-tempe masih  bisa ngobrol dan gojegan dengan teman-temannya. Tanpa sangaja nguping, aku yang kebetulan duduk di ruangan dekat dapur bisa mendengar dengan jelas obrolan mereka. Walaah, ternyata emak-emak dapur sedang me-review Pemilu dan Pilpres dua hari lalu. Kudengarkan obrolan mereka sampil menikmati soto dan teh nasgithel.

"Kemarin kamu dapat amplop berapa, Mar?," tanya Yu Semi pada Yu Marni.

"Lumayan, Yu. Dapat lima," jawab Yu Marni.

"Isinya berapa?"

"Ada yang 20, 25, 30, dan ada yang 50. Lumayan bisa buat nyangoni sekolah anakku."

"Kalau kamu dapat berapa, Sri?,"  Yu Semi tanya pada si Sri yang biasa bertugas nyuci mangkok, sendok-garpu, dan gelas.

"Dapat tiga, Lek. Yang satu isi 30ribu, yang dua isi 50rb. Lumayan," jawab si Sri.

"Kalau kamu dapat berapa, Tin?" Yu Semi tanya lagi ke Tini pelayan yang paling muda usia.

"Di desaku semua cuma dapat satu amplop, Mbokde. Isinya 50ribu. Tapi mesjid kami sudah dibelikan karpet bagus sebelum coblosan," jawab Tini sambil tangannya ngelap sendok dan garpu.

"Lumayan itu, Tin. Bisa dipakai bersama-sama dan pasti awet."

"Iya, memang selama ini masjid kami masih anyep karena belum ada karpetnya. "Kalau di tempat Mbokdhe bagaimana?," Tini balas bertanya.

"Di tempatku gak ada amplop, Tin. Tapi ada satu caleg yang janji mau belikan tenda setangkep. Celag lainnya janji mau belikan kursi lipat 50 buah."

"Masih janji semua to, Mbokdhe?"

"Ya masih janji, tapi karena bapak-bapak pengurus RT sudah percaya dan mantap, ya semua warga mendukung."

"Kalau nanti calegnya gagal bagaimana, Mbokdhe? Kan gak jadi dapat tenda-kursi?"

"Ya gak apa-apa, Tin. Sebenarnya kami juga tidak minta kok. Kalau mereka tidak jadi, tidak terpilih, ya mending gak usah ngasih saja. Mesakke, Tin. Caleg-caleg itu pasti sudah habis banyak duitnya."

"Iya ya, Yu," Yu Marni menyahut, "Mesakke. Apalagi kita ini tiap bulan sudah dapat beras dan tekur PKH. Banyak juga yang masih dapat bantuan pendidikan dan kesehatan. Bantuan PKH yang biasanya dibagikan akhir bulan, kemarin sudah kita terima sebelum Pemilu."

"Lha iya, Mar. Makanya kita ini harus manut sama Pak Kades dan mas-mas pendamping PKH. Disuruh milih ini ya milih ini, disuruh milih itu ya milih itu.  Daripada nanti gak dapat PKH lagi, to?"

"Kalau di tempat Pakdheku malah lebih enak lagi, Mbokdhe."

"Lebih enak bagaimana, Tin?"

"Sebelum coblosan sudah dapat PKH dan dibagi amplop 50ribuan. Pas coblosan semua datang ke TPS hanya untuk duduk, makan-makan, dan ngobrol. Para petugas TPS yang bekerja nyobloske."

"Wah, itu namanya bukan Pemilu, Tin. Itu andrawina, resepsi, pesta." Terdengar gelak-tawa orang-orang dapur. 

"Lha katanya memang pesta, Mbokdhe? Pesta demokrasi. Semua diundang ke TPS. Kita pun meluangkan waktu untuk datang. Lumrah kalau ada makan-makan." Kembali terdengar gela-tawa emak-emak dapur Kartongali.

Kulihat di ruang sebelah sudah penuh pembeli. Aku pun teringat harus segera pulang karena ada kerjaan menunggu. Setelah bayar ke Kang Panut di ruang depan, aku langsung ambil sepeda dan siap pulang dalam kondisi perut hangat dan badan masih gobyos bersimbah keringat.

"Loh, Om, kok tumben mruput pagi-pagi ke sini? Kok naik sepeda?" Rupanya Sasa sudah bertugas di tempatnya sejak tadi. Untung dia gak tahu aku ada di dalam.

"Iya, Sa. Ethok-ethoke olah raga gowes sambil nyoto," jawabku sambil lalu.

"Nanti malam aku sowan ke rumah ya, Om. Tolong disiapkan kopinya...hahahaa."

"Siap, Sa. Tenan, lho, kutunggu bakda isya'," jawabku sambil mancal sepeda meninggalkan Sasa.







Minggu, 07 April 2019

TARGET

TARGET

"Pangapunten, Om, saya mau minta eguh-pertikel," kata Sasa setelah segelas kopi kusuguhkan di depannya.

"Tentang apa, Sa?" tanyaku sambil duduk.

"Sebenarnya malu mau cerita, Om. Malu banget. Tapi kali ini saya benar-benar butuh pertimbangan Sampeyan."

"Ceritakan saja. Mungkin aku bisa ikut bantu mengurai masalahmu."

"Begini lho, Om. Emmm....wah piye, yho....?"

Tidak seperti biasanya, kali ini Sasa tampak sedang ada masalah yang mungkin agak serius, tapi ragu mau bercerita. Sebagai sahabat, aku hanya bisa menduga-duga mungkin sedang ada masalah keluarga, mungkin anak atau isteri sedang butuh uang sehingga malu mau cerita. Tapi sepanjang persahabatan kami, belum pernah Sasa mengeluh soal ekonomi keluarga. Kesanku dia termasuk orang yang pandai bersyukur dan nrimo ing pandum. Sebagai tukang parkir,  tidak jarang dia menolak pemberian uang parkir terutama dari pengguna sepeda motor. Kadang orang harus memaksa menyelipkan uang di saku bajunya hingga Sasa cuma pringas-pringis dan bilang matur nuwun. Tapi entah kenapa kali ini Sasa tampak wagu dan tidak nggacor seperti biasanya? Entah apa masalahnya, aku tidak bisa memaksanya bercerita.

"Om, sudah beberapa bulan terakhir ini isteriku mendapat Bantuan Pangan Non-Tunai dari Pemerintah setiap bulan berupa beras 9 kg dan telur ayam 7 butir," kata Sasa setelah nyeruput kopi dan menyulut rokoknya.

"Looh, Sasa termasuk peserta PKH, to? Alhamdulillaah....itu rejekimu, Sa."

"Iya Om, alhamdulillaah. Rejekinya orang miskin."

"Penerima  PKH tampaknya banyak juga ya, Sa?"

"Wah banyak sekali, Om. Tapi ya aneh ..."

"Lha kok aneh?"

"Mosok orang-orang punya motor beberapa buah, bahkan ada yang punya mobil juga, lha kok ya dapat bantuan pangan gratis, dapat Kartu Indonsia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar? Lha kok gak malu ya, Om? Saya dapat BPNT saja rasanya pekewuh banget. Saya merasa itu bukan hak kami."

"Ya disyukuri saja, Sa. Namanya rejeki...."

"Wah tapi kali ini sangat tidak enak, Om. Bahkan saya merasa tersinggung berat."

"Looh....dapat rejeki kok tersinggung berat?"

"Begini lho, Om. Selama ini kami menerima bantuan itu tiap tanggal 22 atau 23, Om. Khusus bulan ini katanya mau dibagikan sebelum tanggal 17."

"Ya malah bagus to, Sa? Maju semingguan."

"Bagus pripun to, Om? Maju seminggu tapi disertai ancaman, kok."

"Loh... ancaman piye?"

"Biasalah, Om. Mau Pemilu dan Pilpres."

"Apa hubungannya?"

"Hubungan gelap, Om....hehehe..."

"Gelap piye?"

"Lha jebul semua yang nerima bantuan itu diharuskan memilih Capres tertentu, dan tidak bisa bebas milih sesuai hati nurani je, Om." 

"Ah tenane, Sa? Kata siapa?"

"Ya kata mas-mas pendamping PKH, Om. Kami juga disuruh milih Caleg tertentu. Katanya itu perintah dari atas yang harus kami taati."

"Ah gak mungkinlah, Sa."

"Sudah kuduga Sampeyan pasti gak akan percaya."

"Ya jelas gak percaya, Sa. Lha wong semua tahu bantuan yang disebut PKH alias Program Keluarga Harapan itu diambilkan dari APBN, kok, bukan duit pribadi Pendamping, juga bukan duit dari Camat, Bupati, Gubernur, Presiden, apalagi Caleg dan Capres. Bukan, Sa. Bahkan itu duit hutang dari luar negeri yang harus ditanggung oleh seluruh rakyat hingga anak-cuku kita nanti."

"Katanya kalau perolehan suara Caleg dan Capres itu di TPS kami nanti cuma sedikit, para penerima PKH akan dicoret dan tidak akan menerima bantuan lagi."

"Wah mosok begitu, Sa?"

"Dibilangi, kok. Makanya sore ini saya ke sini minta saran dan eguh-pertikel bagaimana sebaiknya sikap kami."

"Wah piye yho? Angel iki. Sasa yang lebih tahu harus bagaimana."
"Om, kalau menurut Sampeyan ancaman itu bener apa nggak, Om?"

"Bisa bener bisa juga tidak."

"Maksudnya?"

"Ya mungkin si Pendamping PKH juga terpaksa ngomong gitu karena ditarget dari Pak Camat. Kalau tidak mencapai target, dia bisa kehilangan pekerjaan. Pak Camat juga begitu, Sa. Dia ditarget dari Bupati. Lalu semua Perangkat Desa dan Pendamping PKH di wilayah kerjanya juga ditarget. Bupati juga sama saja, dia ditarget dari Gubernur. Mesakke, to?"
"Gubernur juga cuma ditarget dari atasannya ya, Om?"

"Belum tentu, Sa. Mungkin target-targetan itu hanya dari Gubernur ke bawah. Tapi entahlah. Memang setiap Pemilu, rakyat ini selalu jadi komoditas politik, kok."
"Iya ya, Om. Memang repot tenan. Tapi saya tidak mau ditarget. Katanya bebas dan rahasia. Jadi besok mau milih siapa, ya terserah kami. Kalau pun nanti tidak dikasih beras dan telor lagi, ya gak masalah. Ora patheken. Saya masih bisa kerja, kok. Iya to, Om?"

"Wah hebat Sasa."

"Bener to, Om? Kita kan harus bisa milih sesuai hati nurani, sesuai selera, sesuai keyakinan, dan tidak boleh ada paksaan."

"Betul sekali. Seratus nilaimu....hahahaa..."

"Om, sebenarnya yang kami butuhkan sederhana saja, ada lapangan pekerjaaan sebagai sumber nafkah, lalu harga-harga kebutuhan hidup bisa terjangkau dan jangan naik terus. Tidak butuh yang gratisan....."

Adzan maghrib terdengar bersahutan. Senja pun tampak mulai gelap. Kami pun mengkhiri obrolan dan bergegas menuju masjid.