Minggu, 07 April 2019

TARGET

TARGET

"Pangapunten, Om, saya mau minta eguh-pertikel," kata Sasa setelah segelas kopi kusuguhkan di depannya.

"Tentang apa, Sa?" tanyaku sambil duduk.

"Sebenarnya malu mau cerita, Om. Malu banget. Tapi kali ini saya benar-benar butuh pertimbangan Sampeyan."

"Ceritakan saja. Mungkin aku bisa ikut bantu mengurai masalahmu."

"Begini lho, Om. Emmm....wah piye, yho....?"

Tidak seperti biasanya, kali ini Sasa tampak sedang ada masalah yang mungkin agak serius, tapi ragu mau bercerita. Sebagai sahabat, aku hanya bisa menduga-duga mungkin sedang ada masalah keluarga, mungkin anak atau isteri sedang butuh uang sehingga malu mau cerita. Tapi sepanjang persahabatan kami, belum pernah Sasa mengeluh soal ekonomi keluarga. Kesanku dia termasuk orang yang pandai bersyukur dan nrimo ing pandum. Sebagai tukang parkir,  tidak jarang dia menolak pemberian uang parkir terutama dari pengguna sepeda motor. Kadang orang harus memaksa menyelipkan uang di saku bajunya hingga Sasa cuma pringas-pringis dan bilang matur nuwun. Tapi entah kenapa kali ini Sasa tampak wagu dan tidak nggacor seperti biasanya? Entah apa masalahnya, aku tidak bisa memaksanya bercerita.

"Om, sudah beberapa bulan terakhir ini isteriku mendapat Bantuan Pangan Non-Tunai dari Pemerintah setiap bulan berupa beras 9 kg dan telur ayam 7 butir," kata Sasa setelah nyeruput kopi dan menyulut rokoknya.

"Looh, Sasa termasuk peserta PKH, to? Alhamdulillaah....itu rejekimu, Sa."

"Iya Om, alhamdulillaah. Rejekinya orang miskin."

"Penerima  PKH tampaknya banyak juga ya, Sa?"

"Wah banyak sekali, Om. Tapi ya aneh ..."

"Lha kok aneh?"

"Mosok orang-orang punya motor beberapa buah, bahkan ada yang punya mobil juga, lha kok ya dapat bantuan pangan gratis, dapat Kartu Indonsia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar? Lha kok gak malu ya, Om? Saya dapat BPNT saja rasanya pekewuh banget. Saya merasa itu bukan hak kami."

"Ya disyukuri saja, Sa. Namanya rejeki...."

"Wah tapi kali ini sangat tidak enak, Om. Bahkan saya merasa tersinggung berat."

"Looh....dapat rejeki kok tersinggung berat?"

"Begini lho, Om. Selama ini kami menerima bantuan itu tiap tanggal 22 atau 23, Om. Khusus bulan ini katanya mau dibagikan sebelum tanggal 17."

"Ya malah bagus to, Sa? Maju semingguan."

"Bagus pripun to, Om? Maju seminggu tapi disertai ancaman, kok."

"Loh... ancaman piye?"

"Biasalah, Om. Mau Pemilu dan Pilpres."

"Apa hubungannya?"

"Hubungan gelap, Om....hehehe..."

"Gelap piye?"

"Lha jebul semua yang nerima bantuan itu diharuskan memilih Capres tertentu, dan tidak bisa bebas milih sesuai hati nurani je, Om." 

"Ah tenane, Sa? Kata siapa?"

"Ya kata mas-mas pendamping PKH, Om. Kami juga disuruh milih Caleg tertentu. Katanya itu perintah dari atas yang harus kami taati."

"Ah gak mungkinlah, Sa."

"Sudah kuduga Sampeyan pasti gak akan percaya."

"Ya jelas gak percaya, Sa. Lha wong semua tahu bantuan yang disebut PKH alias Program Keluarga Harapan itu diambilkan dari APBN, kok, bukan duit pribadi Pendamping, juga bukan duit dari Camat, Bupati, Gubernur, Presiden, apalagi Caleg dan Capres. Bukan, Sa. Bahkan itu duit hutang dari luar negeri yang harus ditanggung oleh seluruh rakyat hingga anak-cuku kita nanti."

"Katanya kalau perolehan suara Caleg dan Capres itu di TPS kami nanti cuma sedikit, para penerima PKH akan dicoret dan tidak akan menerima bantuan lagi."

"Wah mosok begitu, Sa?"

"Dibilangi, kok. Makanya sore ini saya ke sini minta saran dan eguh-pertikel bagaimana sebaiknya sikap kami."

"Wah piye yho? Angel iki. Sasa yang lebih tahu harus bagaimana."
"Om, kalau menurut Sampeyan ancaman itu bener apa nggak, Om?"

"Bisa bener bisa juga tidak."

"Maksudnya?"

"Ya mungkin si Pendamping PKH juga terpaksa ngomong gitu karena ditarget dari Pak Camat. Kalau tidak mencapai target, dia bisa kehilangan pekerjaan. Pak Camat juga begitu, Sa. Dia ditarget dari Bupati. Lalu semua Perangkat Desa dan Pendamping PKH di wilayah kerjanya juga ditarget. Bupati juga sama saja, dia ditarget dari Gubernur. Mesakke, to?"
"Gubernur juga cuma ditarget dari atasannya ya, Om?"

"Belum tentu, Sa. Mungkin target-targetan itu hanya dari Gubernur ke bawah. Tapi entahlah. Memang setiap Pemilu, rakyat ini selalu jadi komoditas politik, kok."
"Iya ya, Om. Memang repot tenan. Tapi saya tidak mau ditarget. Katanya bebas dan rahasia. Jadi besok mau milih siapa, ya terserah kami. Kalau pun nanti tidak dikasih beras dan telor lagi, ya gak masalah. Ora patheken. Saya masih bisa kerja, kok. Iya to, Om?"

"Wah hebat Sasa."

"Bener to, Om? Kita kan harus bisa milih sesuai hati nurani, sesuai selera, sesuai keyakinan, dan tidak boleh ada paksaan."

"Betul sekali. Seratus nilaimu....hahahaa..."

"Om, sebenarnya yang kami butuhkan sederhana saja, ada lapangan pekerjaaan sebagai sumber nafkah, lalu harga-harga kebutuhan hidup bisa terjangkau dan jangan naik terus. Tidak butuh yang gratisan....."

Adzan maghrib terdengar bersahutan. Senja pun tampak mulai gelap. Kami pun mengkhiri obrolan dan bergegas menuju masjid.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar