TARGET
"Pangapunten,
Om, saya mau minta eguh-pertikel," kata Sasa setelah segelas
kopi kusuguhkan di depannya.
"Tentang
apa, Sa?" tanyaku sambil duduk.
"Sebenarnya
malu mau cerita, Om. Malu banget. Tapi kali ini saya benar-benar butuh
pertimbangan Sampeyan."
"Ceritakan
saja. Mungkin aku bisa ikut bantu mengurai masalahmu."
"Begini
lho, Om. Emmm....wah piye, yho....?"
Tidak
seperti biasanya, kali ini Sasa tampak sedang ada masalah yang mungkin agak
serius, tapi ragu mau bercerita. Sebagai sahabat, aku hanya bisa menduga-duga
mungkin sedang ada masalah keluarga, mungkin anak atau isteri sedang butuh uang
sehingga malu mau cerita. Tapi sepanjang persahabatan kami, belum pernah Sasa
mengeluh soal ekonomi keluarga. Kesanku dia termasuk orang yang pandai
bersyukur dan nrimo ing pandum. Sebagai tukang
parkir, tidak jarang dia menolak pemberian uang parkir terutama dari
pengguna sepeda motor. Kadang orang harus memaksa menyelipkan uang di saku
bajunya hingga Sasa cuma pringas-pringis dan bilang matur
nuwun. Tapi entah kenapa kali ini Sasa tampak wagu dan
tidak nggacor seperti biasanya? Entah apa masalahnya, aku
tidak bisa memaksanya bercerita.
"Om,
sudah beberapa bulan terakhir ini isteriku mendapat Bantuan Pangan Non-Tunai
dari Pemerintah setiap bulan berupa beras 9 kg dan telur ayam 7 butir,"
kata Sasa setelah nyeruput kopi dan menyulut rokoknya.
"Looh,
Sasa termasuk peserta PKH, to? Alhamdulillaah....itu rejekimu, Sa."
"Iya
Om, alhamdulillaah. Rejekinya orang miskin."
"Penerima
PKH tampaknya banyak juga ya, Sa?"
"Wah
banyak sekali, Om. Tapi ya aneh ..."
"Lha
kok aneh?"
"Mosok
orang-orang punya motor beberapa buah, bahkan ada yang punya mobil juga, lha
kok ya dapat bantuan pangan gratis, dapat Kartu Indonsia Sehat dan Kartu
Indonesia Pintar? Lha kok gak malu ya, Om? Saya dapat BPNT saja rasanya pekewuh banget.
Saya merasa itu bukan hak kami."
"Ya
disyukuri saja, Sa. Namanya rejeki...."
"Wah
tapi kali ini sangat tidak enak, Om. Bahkan saya merasa tersinggung
berat."
"Looh....dapat
rejeki kok tersinggung berat?"
"Begini
lho, Om. Selama ini kami menerima bantuan itu tiap tanggal 22 atau 23, Om.
Khusus bulan ini katanya mau dibagikan sebelum tanggal 17."
"Ya
malah bagus to, Sa? Maju semingguan."
"Bagus pripun to,
Om? Maju seminggu tapi disertai ancaman, kok."
"Loh...
ancaman piye?"
"Biasalah,
Om. Mau Pemilu dan Pilpres."
"Apa
hubungannya?"
"Hubungan
gelap, Om....hehehe..."
"Gelap piye?"
"Lha
jebul semua yang nerima bantuan itu diharuskan memilih Capres tertentu, dan
tidak bisa bebas milih sesuai hati nurani je, Om."
"Ah tenane,
Sa? Kata siapa?"
"Ya
kata mas-mas pendamping PKH, Om. Kami juga disuruh milih Caleg tertentu.
Katanya itu perintah dari atas yang harus kami taati."
"Ah
gak mungkinlah, Sa."
"Sudah
kuduga Sampeyan pasti gak akan percaya."
"Ya
jelas gak percaya, Sa. Lha wong semua tahu bantuan yang
disebut PKH alias Program Keluarga Harapan itu diambilkan dari APBN, kok, bukan
duit pribadi Pendamping, juga bukan duit dari Camat, Bupati, Gubernur,
Presiden, apalagi Caleg dan Capres. Bukan, Sa. Bahkan itu duit hutang dari luar
negeri yang harus ditanggung oleh seluruh rakyat hingga anak-cuku kita nanti."
"Katanya
kalau perolehan suara Caleg dan Capres itu di TPS kami nanti cuma sedikit, para
penerima PKH akan dicoret dan tidak akan menerima bantuan lagi."
"Wah
mosok begitu, Sa?"
"Dibilangi,
kok. Makanya sore ini saya ke sini minta saran dan eguh-pertikel bagaimana
sebaiknya sikap kami."
"Wah
piye yho? Angel iki. Sasa yang lebih tahu harus bagaimana."
"Om,
kalau menurut Sampeyan ancaman itu bener apa nggak, Om?"
"Bisa
bener bisa juga tidak."
"Maksudnya?"
"Ya
mungkin si Pendamping PKH juga terpaksa ngomong gitu karena ditarget dari Pak
Camat. Kalau tidak mencapai target, dia bisa kehilangan pekerjaan. Pak Camat
juga begitu, Sa. Dia ditarget dari Bupati. Lalu semua Perangkat Desa dan
Pendamping PKH di wilayah kerjanya juga ditarget. Bupati juga sama saja, dia
ditarget dari Gubernur. Mesakke, to?"
"Gubernur
juga cuma ditarget dari atasannya ya, Om?"
"Belum
tentu, Sa. Mungkin target-targetan itu hanya dari Gubernur ke bawah. Tapi
entahlah. Memang setiap Pemilu, rakyat ini selalu jadi komoditas politik, kok."
"Iya
ya, Om. Memang repot tenan. Tapi saya tidak mau ditarget.
Katanya bebas dan rahasia. Jadi besok mau milih siapa, ya terserah kami. Kalau
pun nanti tidak dikasih beras dan telor lagi, ya gak masalah. Ora patheken. Saya
masih bisa kerja, kok. Iya to, Om?"
"Wah
hebat Sasa."
"Bener
to, Om? Kita kan harus bisa milih sesuai hati nurani, sesuai selera, sesuai
keyakinan, dan tidak boleh ada paksaan."
"Betul
sekali. Seratus nilaimu....hahahaa..."
"Om,
sebenarnya yang kami butuhkan sederhana saja, ada lapangan pekerjaaan sebagai
sumber nafkah, lalu harga-harga kebutuhan hidup bisa terjangkau dan jangan naik
terus. Tidak butuh yang gratisan....."
Adzan maghrib terdengar bersahutan. Senja pun tampak
mulai gelap. Kami pun mengkhiri obrolan dan bergegas menuju masjid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar