MUSIM KOCLOK
"Musim Koclok sudah mulai lagi
ya, Om," kata Sasa sambil membersihkan meja di depanku. Mangkok dan
gelas-gelas kotor dibawanya ke dapur, lalu meja dilap pakai serbet hingga
bersih. Itu akting Sasa bila ingin ngajak ngobrol atau curhat tentang apa saja
yang sedang digelisahkannya.
"Yang koclok siapa, Sa?"
"Banyak, Om. Politisi dan pejabat, lalu semua rakyat
kecuali yang masih waras jadi ikut koclok kabeh."
"Kok sinis to, Sa?"
"Bukan sinis, Om. Ini fakta."
"Fakta apa fiktif?"
"Ah mosok Sampeyan gak merasa terganggu tiap hari
melihat wewe gombel di sepanjang jalan?"
"Memangnya sekarang masih ada wewe gombel?"
Aku belum paham ke mana arah bicara Sasa.
Seingatku, wewe gombel adalah nama satu jenis hantu yang
tinggal di dahan pohon-pohon besar. Hantu itu sukanya menculik anak-anak yang
tidak mau ke mesjid atau masuk rumah di waktu surup/maghrib. Ciri
pohon yang ada wewe gombel-nya itu bila ada gombal atau
pakaian bekas tercantel di dahan. Konon itulah pakaian wewe gombel.
"Wewe gombel jaman
sekarang cantik-cantik dan cakep-cakep ya, Om."
"Maksudmu?"
"Kalau dulu tinggalnya di dahan-dahan pohon
besar, sekarang berani nempel di batang pepohonan, 1-2 meter di atas
tanah."
"Sa, mbok kalau ngomong yang
jelas, to."
"Ada banyak cara orang menjajakan diri, Om. Ada
yang dengan cara sering tampil di tivi atau koran, tapi itu mahal biayanya.
Kalau pas musim koclok seperti sekarang ini, orang cari cara
yang lebih murah. Mereka cukup memajang foto-fotonya di pinggir jalan memakai
tiang dari bambu, tapi banyak juga yang memakunya di batang-batang
pohon."
"Walaah... jebul maksudmu dari
tadi ngomongkan poster caleg dan capres, to? Jindul ik...."
"Lha iya, Om. Lha wong mau minta
dipilih jadi wakil rakyat dan jadi penguasa kok malah merusak
dan mengotori lingkungan. Awur-awuran. Pohon-pohon mahoni
ditanam biar jalan jadi teduh kok dianiaya, dipakoni. Koclok tenan."
"Iya ya, Sa."
"Rakyat yang mau milih juga banyak yang ikut
jadi koclok."
"Ikut koclok bagaimana?"
Sasa pun menceritakan kejadian sepanjang hari tadi.
Ratusan anak muda berkaos pasangan capres atau parpol naik motor blong-blongan,
saringan knalpotnya dibuka bahkan ada yang diganti kaleng biskuit bekas
sehingga suaranya sangat memekakkan telinga. Mereka wira-wiri sejak
pagi hingga petang, tampak sengaja minta perhatian. Naifnya lagi, telinganya
sendiri ditutup dengan kapas supaya tidak bising. "Koclok kabeh,"
kata Sasa tampak kesal. Lanjutnya, "Kampanye kok nggilani. Apa
gak punya cara yang lebih simpatik ya, Om?"
"Halaah.... Sasa dulu juga seperti itu, to?"
"Hahahaa....itu dulu, Om. Sekarang sudah
tobat. Wis kapok."
"Lha terus bagaimana, Sa? Mereka tahunya kampanye
ya seperti itu, persis seperti yang sejak dulu dilakukan orang setiap musim
kampanye."
"Jadi musim koclok. Tidak cerdas.
Padahal mereka cuma dikasih uang bensin oleh para caleg, Om. Ada juga yang
dikasih minum ciu sebelum berangkat."
"Ah mosok to, Sa?"
"Dibilangi kok gak percaya. Supaya mereka lebih
berani, lebih cong, dan tidak cepat capek, Om."
"Calegnya ikut ngawal gak ya, Sa?"
"Ya tidak, Om. Beda maqom. Biasanya
caleg naik mobil langsung ke lokasi acara untuk gabung sesama caleg dan ketemu
tokoh atau jurkam Nasional yang datang."
"Ngono yho, Sa?"
"Sebenarnya kasihan caleg-caleg itu, Om."
"Kok kasihan?"
"Baiya kampanyenya mahal. Berbulan-bulan mereka
gerilya dari kampung ke kampung dan desa ke desa, menemui masyarakat, tentu
saja tidak dengan tangan kosong."
"Maksudnya?"
"Biasanya caleg yang membiayai makan-minum dan
membagikan amplop nyeket ewu untuk semua nyang datang Om.
Belum lagi di rumahnya harus nyiapkan makanan, minuman, dan rokok untuk para
kader yang bergantian datang setiap saat, selama berbulan-bulan."
"Wah begitu ya, Sa? Mesakke, yho...."
"Yang lebih berat lagi, Om, caleg-caleg itu masih
harus nyiapkan amplop lagi sejumlah calon pemilihnya di hari-H nanti. Kalau mau
cari suara 5 ribu, misalnya, amplop yang disipkan bisa sampai 10 ribu."
"Berapa isinya, Sa?"
"Ada yang 20 ribu dan ada yang 50 ribu, Om?"
"Wah berat. Berat. Ternyata untuk jadi caleg
harus nyiapkan uang ratusan juta, bahkan milyaran ya, Sa."
"Makanya kemarin ada koruptor ditangkap KPK
barang buktinya 400 ribu amplop berisi uang 20 ribu dan 50 ribu to, Om."
"Yang katanya mau buat serangan fajar itu ya, Sa?.
Koclok tenaan...."
Ngobrol
dengan Sasa membuatku masih pesimis dengan hasil Pemilu kali ini. Tampaknya
masih akan seperti yang sudah-sudah, masih akan melahirkan pemain-pemain
politik dan pejabat yang korup di Pusat hingga Daerah. Mayoritas rakyat pun
tampak belum kapok juga, masih bisa dibeli suaranya dengan harga yang sangat
murah. Bertahun-tahun kesulitan hidup mendadak lupa melihat amplop di depan
mata dan janji-janji yang mungkin juga tidak akan bisa ditepati. Astaghfirullaahal'adziim....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar