PENGANGGURAN MILENIAL
Lagi-lagi Sasa membuatku mumet-mumet geli. Baru saja kutuntaskan semangkok soto Kartongali, lalu kusruput teh nasgithel dan kusulut rokok sebatang, makbedunduk Sasa nongol dan duduk di depanku sambil pringas-pringis menampakkan gigi-ginya yang tak seberapa putih.
"Sudah sarapannya, Om?," tanyanya basa-basi.
"Alhamdulillah, Sa, wis kemepyar..."
"Om, tadi malam ada ponakanku datang ke rumah. Dia kelas 3 SMK, katanya sebentar lagi ujian. Dia minta doa-pangestu supaya lancar dan bisa lulus."
"Apik, Sa. Itu namanya ponakan yang beradab, punya tata-krama. Mau ujian menyempatkan sowan ke Pakdhenya minta doa. Semoga cepat dapat pekerjaan, ya."
"Lha itu masalahnya, Om."
"Apa?"
"Kata ponakanku, anak sekarang setelah lulus sekolah tidak perlu repot-repot cari pekerjaan."
"Lah, kok bisa?"
"Katanya Pemerintah sudah nyiapkan gaji untuk pengangguran."
"Weeh....tenane?"
"Begitu kata ponakanku, Om."
"Itu kira-kira bener nggak to, Sa?"
"Ya mudah-mudahan bener, Om. Negara kita kan memang kaya. Generasi anak-kita dan juga orang seperti saya ini tidak perlu lagi berpanas-panas dan berhujan-hujan ngatur parkir."
"Maksudmu?"
"Lha kalau orang nganggur saja digaji negara, buat apa saya kerja keras jadi tukang parkir begini? Mending nganggur, bisa nyantai di rumah dan momong cucu, tapi setiap bulan dapat gaji."
"Menurutku itu tangeh lamun alias mustahal, Sa. Utang kita sudah banyak sekali, kok."
"Optimis saja, Om."
"Walah.... jangan-jangan ponakanmu itu hanya janji kemakan janji kampanye, Sa? Kamu masih percaya pada janji kampanye?"
"Jan-jane ya tidak percaya, Om. Tapi ini kan hal baik dan pasti asyik kalau sungguh-sungguh terjadi."
"Lha kok asyik?"
"Begini lho, Om. Negara kita ini sesungguhnya kaya-raya. Tapi masalahnya kekayaan kita hanya dimiliki dan dinikmati oleh beberapa gelintir orang."
"Terus...."
"Sampeyan pasti tahu ada banyak pejabat dari Pusat sampai Daerah yang korupsi, kan?"
"Lha iya, Sa. Sudah banyak yang kecokok KPK.
"Dan yang belum kecokok pasti lebih banyak lagi, Om. Coba kira-kira ada berapa trilyun uang yang sudah digarong para bandit?""
"Wah ya gak tahu berapa total uangnya, Sa. Pasti banyak sekali."
"Ya betul, Om. Pasti banyak sekali. Sekarang, seandainya uang trilyunan itu disita oleh negara lalu dipakai untuk mensejahterakan seluruh rakyat, kira-kira bisa gak, Om?"
"Ya seharusnya bisa, tapi pasti sulit sekali, Sa."
"Alangkah hebatnya kalau ada pemimpin negara ini yang berani melakukan itu ya, Om. Lalu semua pengangguran, orang miskin, dan anak-anak terlantar dijamin hidupnya oleh negara."
"Benar juga itu, Sa. Optimisme yang bagus."
"Belum lagi kalau berjuta-juta hektar tanah dan hutan yang dikuasai perorangan maupun perusahaan juga bisa diambil alih oleh negara, lalu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, pasti top tenan negara kita. Negeri yang gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem kerta raharja seperti dicita-citakan oleh para pendiri republik ini akan terwujud."
"Itu memang cita-cita mulia dan tertulis pada sila kelima Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Masih hafal Pancasila, kan?"
"Ya jelas masih to, Om."
"Tapi untuk mewujudkan keadilannsosial itu sungguh tidak mudah. Lha sila pertama sampai keempat saja masih sulit diwujudkan kok, Sa."
"Iya ya, Om. Kulihat orang sekarang banyak yang tidak benar-benar percaya pada Tuhan."
"Maksudmu?"
"Orang tidak lagi saling menghormati, Om. Yang sedang berkuasa semena-mena pada orang lain, apalagi lawan politiknya. Sebaliknya, yang tidak berkuasa selalu melihat kekurangan yang pihak sedang berkuasa. Jadi sama-sama tidak adil dan beradab, Om."
"Wah apik iki, Sa. Terus...."
"Akibatnya, setiap hari orang sibuk bermusuhan satu sama lain. Seperti tidak ada keinginan untuk bersatu sebagai sesama bangsa Indonesia."
"Ngono yho, Sa."
"Sebentar lagi kita mau Pemilu dan Pilpres, Om."
"Iya, Sa."
"Lihatlah yang akan terjadi, sila keempat sulit terwujud, Om."
"Kok bisa? Pemilu kan akan memilih wakil-wakil rakyat untuk duduk di kursi parlemen, Sa?"
"Lha iya, Om. Tapi kalau prosesnya saja tidak dipimpin oleh hikmah dan kebijaksanaan, tapi dipimpin amplop nyeket ewu, pasti hasilnya pun tidak hikmah dan tidak bijaksana."
Edan Sasa. Kali ini aku dikasih wejangan soal Pancasila, mengingatkanku jaman ikut Penataran P4 100 jam waktu jadi mahasiswa baru UGM dulu.
Jildul tenan. Kok masih ada orang kayak gini. Sayangnya Sasa cuma jadi tukang parkir.....
Jildul tenan. Kok masih ada orang kayak gini. Sayangnya Sasa cuma jadi tukang parkir.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar