Jumat, 15 Maret 2019

TIKUS-TIKUS

TIKUS-TIKUS

Ngobrol dengan Sasa jadi mengasyikkan karena sering muncul kata atau istilah lama yang sudah lama tidak terdengar.  Kadang juga terlontar kata-kata yang tergolong kasar, bahkan umpatan atau pisuhan yang diperhalus seperti jindul/bajindul dan jirut/bajirut. Dia memang berusaha menahan diri untuk tidak lagi misuh-misuh seperti dulu, meski dalam kondisi kepepet.
"Wis tuwo kok, Om. Wis wayahe ngomong alusan," begitu Sasa pernah bilang.

Dari ngobrol dengan Sasa aku juga teringat lagi nama aneka jajanan seperti sega megana, cothot, plengeh, gathot dan minuman cao warna merah di warung belakang sekolah kami dulu. Aku juga jadi ingat ada budaya nyadran dengan aneka makanan pada acara kenduri di bangsal depan makam, budaya kumkum di umbul atau kedung oleh sebagian orang yang ingin menggapai harapan, juga tentang lakon dan nama-nama tokoh wayang kulit yang digelar sehari-semalam suntuk di Umbul Gedaren tiap bulan Sura, dan sebagainya.

Kali ini Sasa mengingatkanku tentang gropyokan tikus, satu peristiwa ketika masyarakat desa gugur-gunung beramai-ramai memburu tikus di sawah dengan peralatan seadanya dan hanya didukung bebarapa buah alat yang bentuknya seperti senapan untuk mengasapi lubang-lubang tikus dengan belerang. Tikus-tikus tidak tahan bau belerang, lalu keluar dari lubang-lubang persembunyiannya. Itulah saat-saat menggembirakan, tikus diburu dan pukuli hingga mati. Anak-anak pun bersorak-sorai menyaksikannya. Bangkai-bangkai tikus kemudian direnteng dengan tali debog. Katika istirahat minum di pematang, anak-anak suka memperdebatkan regu mana yang rentengan bathang tikusnya paling banyak. Seru, dan khas perdebatan anak-anak desa.

Hama tikus memang nggegirisi. Berpatok-patok atau bahkan berhektar-hektar padi yang sudah menguning dan sebentar lagi siap dipanen bisa habis ludes hanya dalam satu-dua malam. Hama tikus bisa memupus harapan keluarga petani untuk dapat membeli sepeda dan baju baru, atau untuk melunasi tunggakan SPP anak-anaknya. Bahkan, rencana mantu atau hajatan lainnya pun bisa gagal total dan berubah jadi tangisan gara-gara tikus. Begitulah, maka masyarakat desa dengan entheng bisa dikerahkan untuk bergotong-royong membantu petani, melakukan aksi solidaritas gropyokan tikus.

"Om, mbokya coba diadakan gropyokan tikus, ya," Sasa mengawali obrolannya.

"Memangnya ada wabah tikus, Sa? Di mana?"

"Ada, Om. Banyak. Di mana-mana. Merata di seluruh penjuru negeri."

"Maksudmu di sawah-sawah?"

"Ya di sawah-sawah, di jalan-jalan, di pasar-pasar, di kantor-kantor....."

"Sik to, Sa...maksudmu ki piye kuwi?"Aku belum ngeh ke mana arah omongan Sasa. Mungkin memang sedang terjadi wabah tikus di sawah-sawah, entah di desa mana, tapi aku belum dengar kabarnya. Mungkin juga sudah ada yang mengabarkannya di medsos, tapi aku belum baca karena ketutup berita politik dan kampanye Pemilu/Pilpres yang sangat masif, berbulan-bulan, hingga semakin silang-sengkarut dan sering tidak masuk akal.

"Baru satu-dua tikus ketangkap saja kok sudah gempar. Mbok diadakan gropyokan sampai habis semua tikus."

"Jaman sekarang tangeh lamun, Sa. Mustahil. Masyarakat tidak mau lagi diajak turun ke sawah hanya untuk memburu tikus seperti dulu."

"Iyalah, Om. Aku juga paham. Mana basa tikus diajak nangkap tikus. Sesama tikus ya harus saling melindungi, kan?"

"Sa, mbok nek ngomong yang jelas. Jan-jane maksudmu apa, to?"

Dengan gayanya yang nganyelke, Sasa pun menjelaskan maksudnya. Ternyata dia sangat prihatin dengan banyaknya kasus korupsi di semua lini kehidupan. Dia menyayangkan orang gampang terpesona dengan berita penangkapan koruptor kelas teri oleh KPK. Padahal menurutnya, koruptor teri itu hanya seperti maling sandal atau kotak infaq di masjid, atau tukang ngutil di Pasar Legi dan Pasar Klewer. Tapi ternyata tikus semakin hari justru semakin banyak dan mewabah sehingga perlu dilakukan gropyokan ramai-ramai agar tidak semakin berkembang-biak dan tidak menular. "Kalau koruptor kecil-kecil sudah habis, Om, koruptor-koruptor kelas kakap pasti bisa kita rencak ramai-ramai," kata Sasa dengan mantap.

"Tapi apa bisa, Sa? Orang sekarang bahkan cenderung bersiap-siap ikut jadi tikus, kok."

"Ya justru itu masalahnya, Om. Tikus kecil semakin banyak. Tikus wero juga bertambah banyak. Mereka menebarkan racun pes yang bisa menular dan mematikan. Musang, luwak, dan garangan juga semakin banyak, nekad, dan terang-terangan melakukan penggarongan."

"Lha iya ya, Sa. Njur arep piye jal....?"

"Harus ada imunisasi anti pes dan tikus, Om."

"Carane?"

"Ya jangan memelihara tikus atau wero, musang, luwak, dan garangan."

"Sulit, Sa."

"Ya memang sulit. Tidak gampang membedakan orang yang sudah bermental tikus dan yang belum. Kelihatannya berbaju bersih dan rapi, dilihat nasab, pendidikan, dan kedudukannya juga bagus, ke mana-mana pakai peci atau kopiah seperti kyai, pinter ngaji, juga sudah Haji dan umroh berkali-kali, tapi jebul bermental tikus. Dengan percaya diri, mereka pasang baliho dengan foto dirinya di pinggir-pinggir jalan agar orang terpesona dan mau memeliharanya."

"Wah mbok jangan verbal begitu to, Sa."

"Loh....itu hanya contoh yang kelas teri lho, Om. Tikus kecil. Masih banyak yang kelas kakap, yang kelas musang dan garangan."

Kalau Sasa sudah mulai verbal begini, aku jadi malas melayani.  Harus segera kucari alasan yang tepat untuk mengakhiri obrolan tanpa menyinggung perasaannya. Beruntung HPku berbunyi, ada pesan WA masuk. Segera kubuka HP dan kubaca pesan masuk.

"Wah sori banget, Sa. Ini aku disuruh pulang. Sudah ditunggu tamu di rumah."

"Ya, Om. Gak apa-apa. Monggo. Hati-hati di jalan."

Aku pun meluncur pulang setelah membayar Soto  Kartongali edisi sore yang nikmatnya tak kalah dari yang edisi pagi. Tumben juga kali ini ada Sasa. Biasanya sore hingga malam begini dia melayani panggilan sebagai juru pijat.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar