TIKUS-TIKUS
Ngobrol dengan Sasa jadi
mengasyikkan karena sering muncul kata atau istilah lama yang sudah lama tidak
terdengar. Kadang juga terlontar kata-kata yang tergolong kasar, bahkan
umpatan atau pisuhan yang diperhalus seperti jindul/bajindul dan jirut/bajirut. Dia
memang berusaha menahan diri untuk tidak lagi misuh-misuh seperti dulu, meski
dalam kondisi kepepet.
"Wis tuwo
kok, Om. Wis wayahe ngomong alusan," begitu Sasa pernah bilang.
Dari
ngobrol dengan Sasa aku juga teringat lagi nama aneka jajanan seperti sega megana, cothot, plengeh, gathot dan minuman cao warna
merah di warung belakang sekolah kami dulu. Aku juga jadi ingat ada
budaya nyadran dengan aneka makanan pada acara kenduri di
bangsal depan makam, budaya kumkum di umbul atau kedung oleh sebagian orang yang ingin
menggapai harapan, juga tentang lakon dan nama-nama tokoh wayang kulit yang
digelar sehari-semalam suntuk di Umbul Gedaren tiap bulan Sura, dan sebagainya.
Kali ini Sasa mengingatkanku
tentang gropyokan tikus, satu peristiwa ketika masyarakat
desa gugur-gunung beramai-ramai memburu tikus di sawah dengan
peralatan seadanya dan hanya didukung bebarapa buah alat yang bentuknya seperti
senapan untuk mengasapi lubang-lubang tikus dengan belerang. Tikus-tikus tidak
tahan bau belerang, lalu keluar dari lubang-lubang persembunyiannya. Itulah
saat-saat menggembirakan, tikus diburu dan pukuli hingga mati. Anak-anak pun
bersorak-sorai menyaksikannya. Bangkai-bangkai tikus kemudian direnteng dengan
tali debog. Katika istirahat minum di pematang, anak-anak suka
memperdebatkan regu mana yang rentengan bathang tikusnya
paling banyak. Seru, dan khas perdebatan anak-anak desa.
Hama tikus memang nggegirisi. Berpatok-patok
atau bahkan berhektar-hektar padi yang sudah menguning dan sebentar lagi siap
dipanen bisa habis ludes hanya dalam satu-dua malam. Hama tikus bisa memupus
harapan keluarga petani untuk dapat membeli sepeda dan baju baru, atau untuk
melunasi tunggakan SPP anak-anaknya. Bahkan, rencana mantu atau
hajatan lainnya pun bisa gagal total dan berubah jadi tangisan gara-gara tikus.
Begitulah, maka masyarakat desa dengan entheng bisa dikerahkan
untuk bergotong-royong membantu
petani, melakukan aksi solidaritas gropyokan tikus.
"Om, mbokya coba
diadakan gropyokan tikus, ya," Sasa mengawali obrolannya.
"Memangnya ada wabah
tikus, Sa? Di mana?"
"Ada, Om. Banyak. Di
mana-mana. Merata di seluruh penjuru negeri."
"Maksudmu di
sawah-sawah?"
"Ya di sawah-sawah, di
jalan-jalan, di pasar-pasar, di kantor-kantor....."
"Sik to, Sa...maksudmu ki piye
kuwi?"Aku belum ngeh ke mana arah omongan Sasa.
Mungkin memang sedang terjadi wabah tikus di sawah-sawah, entah di desa mana,
tapi aku belum dengar kabarnya. Mungkin juga sudah ada yang mengabarkannya di
medsos, tapi aku belum baca karena ketutup berita politik dan kampanye
Pemilu/Pilpres yang sangat masif, berbulan-bulan, hingga semakin
silang-sengkarut dan sering tidak masuk akal.
"Baru satu-dua tikus
ketangkap saja kok sudah gempar. Mbok diadakan gropyokan sampai
habis semua tikus."
"Jaman sekarang tangeh lamun, Sa.
Mustahil. Masyarakat tidak mau lagi diajak turun ke sawah hanya untuk memburu
tikus seperti dulu."
"Iyalah, Om. Aku juga
paham. Mana basa tikus diajak nangkap tikus. Sesama tikus ya harus saling
melindungi, kan?"
"Sa, mbok nek
ngomong yang jelas. Jan-jane maksudmu apa, to?"
Dengan gayanya yang nganyelke,
Sasa pun menjelaskan maksudnya. Ternyata dia sangat prihatin dengan banyaknya
kasus korupsi di semua lini kehidupan. Dia menyayangkan orang gampang terpesona
dengan berita penangkapan koruptor kelas teri oleh KPK. Padahal menurutnya,
koruptor teri itu hanya seperti maling sandal atau kotak infaq di masjid, atau
tukang ngutil di Pasar Legi dan Pasar Klewer. Tapi
ternyata tikus semakin hari justru semakin banyak dan mewabah sehingga perlu
dilakukan gropyokan ramai-ramai agar tidak semakin
berkembang-biak dan tidak menular. "Kalau koruptor kecil-kecil sudah
habis, Om, koruptor-koruptor kelas kakap pasti bisa kita rencak ramai-ramai,"
kata Sasa dengan mantap.
"Tapi apa bisa, Sa? Orang
sekarang bahkan cenderung bersiap-siap ikut jadi tikus, kok."
"Ya justru itu masalahnya,
Om. Tikus kecil semakin banyak. Tikus wero juga bertambah
banyak. Mereka menebarkan racun pes yang bisa menular dan
mematikan. Musang, luwak, dan garangan juga
semakin banyak, nekad, dan terang-terangan melakukan penggarongan."
"Lha iya ya, Sa. Njur
arep piye jal....?"
"Harus ada imunisasi anti
pes dan tikus, Om."
"Carane?"
"Ya jangan memelihara
tikus atau wero, musang, luwak, dan garangan."
"Sulit, Sa."
"Ya memang sulit. Tidak
gampang membedakan orang yang sudah bermental tikus dan yang belum.
Kelihatannya berbaju bersih dan rapi, dilihat nasab, pendidikan, dan
kedudukannya juga bagus, ke mana-mana pakai peci atau kopiah seperti kyai,
pinter ngaji, juga sudah Haji dan umroh berkali-kali, tapi jebul bermental tikus. Dengan percaya diri, mereka pasang baliho
dengan foto dirinya di pinggir-pinggir jalan agar orang terpesona dan mau memeliharanya."
"Wah mbok jangan
verbal begitu to, Sa."
"Loh....itu hanya contoh yang
kelas teri lho, Om. Tikus kecil. Masih banyak yang kelas kakap, yang kelas
musang dan garangan."
Kalau Sasa sudah mulai verbal
begini, aku jadi malas melayani. Harus segera kucari alasan yang tepat
untuk mengakhiri obrolan tanpa menyinggung perasaannya. Beruntung HPku
berbunyi, ada pesan WA masuk. Segera kubuka HP dan kubaca pesan masuk.
"Wah sori banget,
Sa. Ini aku disuruh pulang. Sudah ditunggu tamu di rumah."
"Ya, Om. Gak
apa-apa. Monggo. Hati-hati di jalan."
Aku pun meluncur pulang setelah membayar Soto Kartongali
edisi sore yang nikmatnya tak kalah dari yang edisi pagi. Tumben juga kali ini
ada Sasa. Biasanya sore hingga malam begini dia melayani panggilan sebagai juru
pijat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar