Rabu, 27 Maret 2019

KARTU GAPLE

KARTU GAPLE

Sore ini aku benar-benar pekewuh. Sangat pekewuh. Bagaimana tidak? Anak lanangku dan tiga teman kuliahnya yang lagi main ke rumah masih asyik main gaple ketika sahabatku Sasa datang. Buat refreshing, kata anakku.

Aku tahu sebenarnya mereka setelah renang di Umbul Jolotundo tadi pagi, siangnya mau ke Umbul Ponggok untuk mencoba snorkeling, tapi batal kerena gerimis. Memang sejak pagi cuaca sudah kremun-kremun, mendung seakan mau hujan tapi cuma sesekali turun gerimis tipis-tipis. Mereka pun memilih bikin acara di rumah, main gaple, satu budaya yang termasuk tabu di desaku. Maklumlah, bagi masyarakat kami yang tergolong sregep ngaji, main gaple dan semua permainan kartu apapun namanya hanya buang-buang waktu, tidak ada manfaat, bahkan bisa mengarah ke judi. Itu budaya yang mudharat. Makanya aku pun anyel melihat anakku dan teman-temannya main gaple sambil ketawa-ketiwi ece-ecanan seharian. Tapi mau melarang juga gak enak sama tamu.

"Gak apa-apa, Om. Biarkan saja. Main kartu itu model sekolah calon pemimpin dan politisi, lho," kata Sasa mencoba menghiburku.

"Halaah...calon pemimpin dan politisi kok main kartu."

"Loh, Sampeyan ini bagaimana? Mbok coba diperhatikan baik-baik, Om. Lihatlah, mereka belajar mengatur taktik dan strategi untuk mengalahkan lawannya, sambil tertawa-tawa. Mereka berjuang agar bisa menang tanpa ngasorake."

"Mahasiswa mestinya banyak-banyak baca buku, Sa, biar tambah pintar dan luas wawasannya. Bukan main kartu gaple."

"Lha kalau soal baca buku, mereka pasti sudah biasa to, Om. Tapi kalau main gaple pasti jarang. Mbok biarkan saja."

"Ya mudah-mudahan tidak jadi kebiasaan, Sa. Aku cuma khawatir mereka nanti jadi tuman main kartu."

"Hahahaa.....iya benar juga itu, Om. Memang bisa bahaya."

"Bahaya piye?"

"Kalau biasa main kartu, bisa-bisa mereka akan ketento, sedikit-sedikit kartu, lalu semua urusan hidup diganti kartu."

Aku jadi teringat ada bemacam-macam jenis kartu. Ada Kartu Tanpa Penduduk, Kartu Tanda Mahasiswa, Kartu ATM, Kartu Kredit, Kartu SIM, dan Kartu Tani, Kartu BPJS, dan Kartu E-Tol. Kalau jaman sekolah di SD dulu ada Kartu Pethuk  untuk membayar SPP tiap bulan. Ide penggunaan kartu-kartu itu pasti bukan karena biasa dolanan atau judi pakai kartu gaple, remi, atau ceki. Tentu saja tidak ada hubungannya.

"Sekarang memang lagi musim permainan kartu ya, Om."

"Maksudmu?"

"Sekarang apa-apa pakai kartu. Serba kartu. Aku di rumah juga nyimpan Kartu Indonesia Sehat. Katanya untuk anak sekolah juga ada Kartu Indonesia Pintar."

"Iya benar, Sa. Itu cara Pemerintah membantu rakyat yang tergolong miskin."

"Itu lho yang membuat rasa ini tidak enak."

"Yang mana?"

" Om, apa enaknya hidup dimiskin-miskinkan orang? Itu kan sama saja martabat kita direndahkan.”

"Lha terus piye, Sa?"

" Ini cuma menurutku lho, Om, mohon maaf kalau salah. Mestinya Pemerintah gak usah repot-repot bikin kartu untuk memiskinkan orang. Seharusnya Pemerintah berjuang keras agar harga-harga kebutuhan hidup rakyat bisa murah dan terjangkau, biaya berobat dan sekolah juga rendah. Jadi gak usah obral kartu miskin. Lha kok malah kabarnya masih mau bikin Kartu Pengangguran juga. Buat apa to, Om? Memangnya orang-orang yang nganggur mau digaji? Lha kok penuk...."

"Ah Sasa jangan salah paham, to. Jangan waton sulaya. Bukan kartu pengangguran, tapi Kartu pra-Kerja. Beda, Sa. Itu juga khusus untuk anak-anak yang  baru lulus sekolah atau kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan. Dan hanya berlaku sementara."

"Lha katanya nanti juga akan ada Kartu Parkir, Om? Tukang parkir seperti aku ini gak akan  dipakai lagi, semua akan diganti kartu dan mesin parkir? Lha terus mau disuruh kerja apa, coba?"

"Kartu Parkir itu kan hanya untuk parkir di gedung-gedung dan di kota-kota, Sa. Gak mungkin diterapkan di Soto Kartongali. Tenang saja, Sa. Aman....."

"Ini pasti gara-gara orang ketento main kartu ya, Om. Bikin keputusan politik pun yang terpikir kartu. Semua jadi serba kartu. Jamane jaman tukang gaple. Orang jadi ketento main kartu, main judi. Negara edyaan...."

Anakku dan teman-temannya tampak sudah mengakhiri permainannya. Sebentar lagi akan masuk waktu maghrib. Mereka bergiliran mau mandi. Sasa pun tampak sadar waktu juga, lalu pamitan mau pulang. Untung hujan gak jadi turun. Sing sabar yho, Sa.....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar