KARTU GAPLE
Sore
ini aku benar-benar pekewuh. Sangat pekewuh. Bagaimana
tidak? Anak lanangku dan tiga teman kuliahnya yang lagi main ke rumah masih
asyik main gaple ketika sahabatku Sasa datang. Buat refreshing,
kata anakku.
Aku
tahu sebenarnya mereka setelah renang di Umbul Jolotundo tadi pagi, siangnya
mau ke Umbul Ponggok untuk mencoba snorkeling, tapi batal kerena
gerimis. Memang sejak pagi cuaca sudah kremun-kremun, mendung
seakan mau hujan tapi cuma sesekali turun gerimis tipis-tipis. Mereka pun
memilih bikin acara di rumah, main gaple, satu budaya yang termasuk tabu di
desaku. Maklumlah, bagi masyarakat kami yang tergolong sregep ngaji,
main gaple dan semua permainan kartu apapun namanya hanya buang-buang waktu,
tidak ada manfaat, bahkan bisa mengarah ke judi. Itu budaya yang mudharat. Makanya
aku pun anyel melihat anakku dan teman-temannya main gaple
sambil ketawa-ketiwi ece-ecanan seharian. Tapi mau
melarang juga gak enak sama tamu.
"Gak
apa-apa, Om. Biarkan saja. Main kartu itu model sekolah calon pemimpin dan
politisi, lho," kata Sasa mencoba menghiburku.
"Halaah...calon
pemimpin dan politisi kok main kartu."
"Loh,
Sampeyan ini bagaimana? Mbok coba diperhatikan baik-baik, Om. Lihatlah, mereka
belajar mengatur taktik dan strategi untuk mengalahkan lawannya, sambil
tertawa-tawa. Mereka berjuang agar bisa menang tanpa ngasorake."
"Mahasiswa
mestinya banyak-banyak baca buku, Sa, biar tambah pintar dan luas wawasannya.
Bukan main kartu gaple."
"Lha
kalau soal baca buku, mereka pasti sudah biasa to, Om. Tapi kalau main gaple
pasti jarang. Mbok biarkan saja."
"Ya
mudah-mudahan tidak jadi kebiasaan, Sa. Aku cuma khawatir mereka nanti
jadi tuman main kartu."
"Hahahaa.....iya
benar juga itu, Om. Memang bisa bahaya."
"Bahaya piye?"
"Kalau
biasa main kartu, bisa-bisa mereka akan ketento, sedikit-sedikit
kartu, lalu semua urusan hidup diganti kartu."
Aku
jadi teringat ada bemacam-macam jenis kartu. Ada Kartu Tanpa Penduduk, Kartu
Tanda Mahasiswa, Kartu ATM, Kartu Kredit, Kartu SIM, dan Kartu Tani, Kartu
BPJS, dan Kartu E-Tol. Kalau jaman sekolah di SD dulu ada Kartu Pethuk
untuk membayar SPP tiap bulan. Ide penggunaan kartu-kartu itu pasti bukan
karena biasa dolanan atau judi pakai kartu gaple, remi, atau ceki. Tentu saja tidak
ada hubungannya.
"Sekarang
memang lagi musim permainan kartu ya, Om."
"Maksudmu?"
"Sekarang
apa-apa pakai kartu. Serba kartu. Aku di rumah juga nyimpan Kartu Indonesia
Sehat. Katanya untuk anak sekolah juga ada Kartu Indonesia Pintar."
"Iya
benar, Sa. Itu cara Pemerintah membantu rakyat yang tergolong miskin."
"Itu
lho yang membuat rasa ini tidak enak."
"Yang
mana?"
"
Om, apa enaknya hidup dimiskin-miskinkan orang? Itu kan sama saja martabat kita
direndahkan.”
"Lha terus piye, Sa?"
"
Ini cuma menurutku lho, Om, mohon maaf kalau salah. Mestinya Pemerintah gak
usah repot-repot bikin kartu untuk memiskinkan orang. Seharusnya Pemerintah
berjuang keras agar harga-harga kebutuhan hidup rakyat bisa murah dan
terjangkau, biaya berobat dan sekolah juga rendah. Jadi gak usah obral kartu
miskin. Lha kok malah kabarnya masih mau bikin Kartu Pengangguran juga. Buat
apa to, Om? Memangnya orang-orang yang nganggur mau digaji? Lha kok penuk...."
"Ah
Sasa jangan salah paham, to. Jangan waton sulaya. Bukan kartu
pengangguran, tapi Kartu pra-Kerja. Beda, Sa. Itu juga khusus untuk anak-anak
yang baru lulus sekolah atau kuliah dan
belum mendapatkan pekerjaan. Dan hanya berlaku sementara."
"Lha
katanya nanti juga akan ada Kartu Parkir, Om? Tukang parkir seperti aku ini gak
akan dipakai lagi, semua akan diganti kartu dan mesin parkir? Lha terus
mau disuruh kerja apa, coba?"
"Kartu
Parkir itu kan hanya untuk parkir di gedung-gedung dan di kota-kota, Sa. Gak
mungkin diterapkan di Soto Kartongali. Tenang saja, Sa. Aman....."
"Ini
pasti gara-gara orang ketento main kartu ya, Om. Bikin
keputusan politik pun yang terpikir kartu. Semua jadi serba kartu. Jamane jaman
tukang gaple. Orang jadi ketento main kartu, main
judi. Negara edyaan...."
Anakku
dan teman-temannya tampak sudah mengakhiri permainannya. Sebentar lagi akan
masuk waktu maghrib. Mereka bergiliran mau mandi. Sasa pun tampak sadar waktu
juga, lalu pamitan mau pulang. Untung hujan gak jadi turun. Sing sabar yho, Sa.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar