Minggu, 26 Mei 2019

WINGIT

WINGIT

Upayaku menghindari ketemu Sasa di bulan puasa ini akhirnya gagal total. Sebenarnya kami sudah janji untuk tidak ketemu dulu selama sebulan. Kami sepakat akan menjalani puasa tanpa terganggu pikiran-pikiran politik yang bisa bikin hati tidak nyaman. Tapi dasar Sasa, tanpa ekspresi bersalah, tiba-tiba dia datang tadi sore menjelang waktu buka.

"Loh, Sa, belum lebaran kok sudah ke sini?," tanyaku setelah mempersilakannya duduk.

"Iya, Om, mau ikut buka di sini," jawab Sasa dengan santainya.

"Ya mari kita ikut takjilan di masjid," jawabku.

Kami pun menuju masjid bergabung dengan semua tetangga yang sudah duduk di teras masjid menghadap piring-piring nasi dan teh nasgithel yang sudah terjajar rapi. Begitulah masyarakat di kampungku setiap sore di bulan Ramadhan, semua  berkumpul di masjid untuk takjilan, buka bersama, dengan menu berbeda-beda tergantung jadwal penyedia buka. Kadang menu sate ayam, kadang menung lodeh terong dan tempe goreng,  kadang soto ayam, kadang sambal goreng tahu kentang dan ayam bakar, dan kadang juga sekadar ayam goreng dan sambal tomat. Saat-saat seperti ini sungguh sangat ngangeni, makan bersama dilanjut sholat maghrib berjamaah. Pulang dari masjid perut sudah kenyang, tinggal nyantai dengan keluarga sambil ngopi dan makan camilan seadanya.

Sore ini jadi agak beda karena ada Sasa. Seperti biasanya, kami ngobrol di depan sambil menunggu Zika, anak gadisku  yang baru lulus dari Gontor Putri dan menunggu waktu mulai setahun pengabdian setelah lebaran nanti, menyuguhkan dua gelas kopi pesananku.

"Monggo diunjuk, Pakdhe," kata Zika sambil meletakkan kopi di meja.

"Njih, Mbak, matur nuwun," jawab Sasa. "Itu tadi anak nomor dua, Om?," tanya Sasa sambil menuang kopi di lepek.

"Iya, Sa. Biasanya di pondok, tapi ini lagi libur Ramadhan dan Idul Fitri."

"Om, situasainya kok jadi soyo wingit, ya?, Sasa membuka obrolan setelah minum kopi dan menyalakan rokok.

"Wingit bagaimana?"

"Pemilu dan Pilpres sudah usai, tapi kok usreg tidak rampung-rampung."

Sudah kuduga, pasti Sasa sudah gatel pengin ngobrol tentang situasi politik, tema yang sebenarnya ingin kuhindari karena bisa bikin mules di perut. Tapi bagaimana mungkin kularang Sasa ngomong soal itu? Lha wong dia juga rakyat yang telah menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara. Apapun pilihannya,  dia berhak tahu perkembangan informasi, juga berhak komentar sesuai kapasitasnya. Tapi yang pasti aku harus hati-hati meladeni obrolan Sasa. Toh dia juga tahu situasinya memang lagi wingit. Meminjam istilah Sasa, kriwikan isoh dadi grojogan, salah omong sedikit saja bisa jadi masalah besar."

"Aku tidak habis pikir tenan, Om."

"Soal apa?"

"Orang sudah lupa cita-cita reformasi dulu."

"Lha piye, to?"

"Tentu Sampeyan juga masih ingat semua kejadian di tahun 90an, ketika di mana-mana Pak Amien Rais meneriakkan pentingnya suksesi, mengganti Presiden Soeharto yang sudah lama berkuasa."

"Ya masih ingat banget, Sa. Waktu itu aku masih di Jogja, juga ikut hingar-bingar reformasi."

"Lha iya ya, Om. Dulu orang pada takut-takut mendukung Pak Amien, tapi mahasiswa di mana-mana mengelu-elukan Pak Amien yang berani kritis pada Pemerintah dan lantang menyuarakan reformasi. Lalu terjadi demonstrasi di mana-mana, terjadi gegeran di berbagai kota. Obong-obongan. Lalu Pak Harto pun jatuh."

"Jangan lupa, dulu juga terjadi krisis moneter, Sa. Itu yang membuat Pak Harto jadi lemah."

"Iya, Om, aku masih ingat itu. Ada beberapa menteri mundur dan berbalik mendukung reformasi. Itu yang semakin melemahkan Pak Harto."

"Mereka pintar membaca situasi kok, Sa. Cepat-cepat menyelamatkan diri, mendadak jadi pro-reformasi."

"Dulu kan banyak mahasiswa yang meninggal karena ditembak tentara ya, Om. Itu terus bagaimana jluntrungannya?"

"Sudah gak jelas, Sa."

"Aneh, ya?"

"Apanya yang aneh?"

"Orang-orang yang harusnya tersingkir karena reformasi itu kok malah jadi aman sentosa,  bisa kembali berkuasa, ya? Lha kok Pak Amien sekarang malah seperti dikuyo-kuyo?"

"Dikuyo-kuyo piye, Sa?"

"Sekarang kok jadi semua orang seperti memusuhi Pak Amien, Om? Jasmerah- nya mana coba? Lha kok dho ora nitik? Berkat reformasi kan banyak orang yang jadi panen, tiba-tiba jadi politisi, jadi pejabat, jadi bupati, gubernur, presiden. Hiya to, Om? Lha kok sekarang mereka jadi memusuhi Pak Amien. Mestinya mereka matur nuwun."

"Mungkin memang Pak Amien yang salah kok, Sa?"

"Salah pripun?"

"Beliau terlalu jujur. Dulu setelah Pak Harto jatuh lalu diganti Pak Habibie sampai Pemilu dan Sidang Umum MPR 1999. Nah, di SU MPR itu beliau cuma memilih jadi Ketua MPR, tidak mau dipilih jadi Calon Presiden. Namanya Ketua MPR ya tidak bisa mengatur jalannya reformasi, Sa, sampai hari ini."

"Iya ya, Om. Ibarat bus disopiri orang lain, dan beliau hanya jadi pengurusnya."

"Wislah, Sa. Namanya juga politik. Wis bejane Pak Amien dimusuhi para penguasa."

"Wah tapi kok ya kebangetan to, Om?

"Kebangetan piye?"

"Orang-orang itu, lho. Kok tega-teganya pada Pak Amien, difitnah terus, bahkan beliau dituduh makar lalu diperiksa polisi. Mosok Pak Amien makar ya, Om? Dan amehnya, kok ya belum tampak ada gerakan membela Pak Amien?"

Azan isya' terdengar bersahutan dari masjid-masjid sekitar. "Slamet-slamet," batinku.

"Sasa mau ikut tarawih di sini atau mau pulang?"

"Pulang saja, Om. Pangapunten sudah ganggu waktinya."

"Slow wae, Sa. Kapan-kapan kita lanjut lagi obrolannya, ya."

Sasa pun pamit pulang naik sepeda jengkinya. Aku pun langsung bersiap ke masjid.























Minggu, 12 Mei 2019

TAKJILAN

TAKJILAN

Aku baru bangun tidur ketika anakku memberitahu bahwa ada Pakdhe Sasa nunggu di kursi depan. Entah ada isu apa puasa-puasa begini sahabatku datang. Mudah-mudahan tidak ngajak ngobrol politik. Tapi biarlah dia nunggu dulu. Aku mau mandi dan siap-siap ke mesjid ikut buka puasa bersama, takjilan bersama seluruh jamaah.

"Pangapunten, Om, aku mau ikut buka di sini," kata Sasa setelah aku duduk di sampingnya.

"Kita takjilan di mesjid ya, Sa."

"Ya itu maksudku, Om. Kudengar di sini setiap sore ada takjilan. Aku ingin ikut sekali-sekali. Katanya nikmat banget."

Memang, sejak puluhan tahun lalu di masjid-masjid kampungku ada tradisi takjilan setiap bulan Ramadhan. Semua orang, besar-kecil tua-muda, ikut buka bersama di masjid. Setiap keluarga mendapatkan giliran menyiapkan makanan dan minuman, minimal sekali dalam sebulan. Menu dan kualitas masakannya juga beda-beda tergantung kemampuan keluarga itu. Kadang ada yang masak sambal-goreng dan lauk ayam, ada yang masak sop ayam dan tempe goreng, ada yang masak pecel, dan ada juga yang tidak mau repot masak dan milih ngundang warung soto. Tapi apapun menunya, semua orang tampak gembira mengikuti takjilan.

"Agak aneh juga ya, Om," kata Sasa sepulang dari masjid tadi.

"Apa yang aneh?"

"Begitu terdengar azan, semua langsung makan nasi. Kelas berat. Lauknya sambal-goreng dan ayam lagi...."

Sasa pun menceritakan kebiasaannya buka puasa di rumahnya hanya dengan segelas teh dan kue-kue ringan seadanya, makan nasi setelah sholat maghrib. Tadi sempat kaget ketika ikut ke masjid dan duduk menghadap piring-piring nasi dan segelas teh.

"Wah ternyata memang nikmat banget ya, Om. Kubayangkan orang di sini jadi ngirit di bulan puasa."

"Ngirit piye, Sa?"

"Pasti ibu-ibu gak perlu masak tiap sore dan nyiapke makanan neko-neko di rumahnya, Om. Kalau sudah buka di masjid dengan nasi, perut sudah tenang, tak perlu lagi makan di rumah. Anak-anak kecil pun tampak menikmati menu takjilan."

"Ya memang, Sa. Ibu-ibu tinggal masak yang untuk sahur besok pagi."

"Makanya pasti jadi ngirit, Om. Beda dengan di kampungku yang justru boros di bulan puasa. Macam-macam makanan disiapkan untuk buka di rumah, padahal perut ini cuma butuh sepiring nasi dan segelas teh."

"Asyiknya itu di makan bersama itu kok, Sa. Jadi gak penting lagi menunya apa. Kita belajar saling menghargai sedekah tiap penyedia takjilan."

"Akan kucoba ngajak jamaah di kampungku bikin takjilan model di sini, Om."



Jumat, 03 Mei 2019

BERAS FITRAH

BERAS FITRAH

Aku lagi asyik melihat-lihat desain kemasan beras di google ketika sahabatku Sasa mak-bedunduk sudah berada di depanku.

"Assalaamu'alaikum.....," ucapnya sambil menyodorkan tangan ngajak salaman. Langsung kujawab salamnya dan kuraih tangannya. Kami bersalaman.

"Lagi sibuk apa, Om?"

"Ini lagi cari-cari inspirasi desain kemasan beras, Sa. Mau kopi?"

"Siap, Om. Memang ke sini aku mau ngopi....hahahaa."

Anakku lanang yang kebetulan lagi di rumah sudah tahu tugasnya. Tak berapa lama, dua gelas kopi sudah dibuatnya dan diantar ke meja tempat kami biasa ngobrol.

"Monggo diunjuk, Pakdhe," anakku mempersilkan.

"Yho, Cah bagus. Ini lagi libur to, Le?"

"Njih, Pakdhe. Mulai libur awal Ramadhan. Monggo disekecakke, Pakdhe," kata anakku lalu pamit undur diri.

Seperti biasanya, kami minum kopi yang masih panas dengan manfaatkan piring kecil yang disebut lepek. Kopi dituang ke lepek sedikit-sedikit, ditunggu beberapa detik, lalu dimimun dengan penuh penghayatan. "Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?," begitu pertanyaan Gusti Allah dengan gaya repetitif

"Mau buat kemasan beras lagi to, Om? Buat apa?," Sasa mulai membuka obrolan.

"Tadi aku dihubungi Pengurus Lazismu Pusat supaya nyiapkan beras fitrah untuk para muzakki."

"Berapa ton, Om?"

"Ya belum tahu, Sa. Mestinya banyak. Kalau ngirim ke Jakarta kan minimal 1 truk, bisa muat 7,5 ton. Kalau kurang dari itu jadi mahal di ongkos kirim."

"Sudah mulai nyiapkan berasnya, Om?"

"Belum, Sa. Perlu buat desain kemasannya dulu untuk ditawarkan ke para muzakki dan masyarakat umum."

"Beras dari mana itu nanti?"

"Ya dari petani-petani dampingan kita. Kalau masih kurang bisa kita minta tambahan dari dampingan teman-teman di Sragen atau Karanganyar."

"Berarti bukan hanya beras Rojolele, Om?"

"Beras C4 super, Sa. Tapi yang Rojolele juga kita siapkan."

"Harusnya memang begitu, Om."

"Maksudnya?"

"Beras untuk fitrah kan mesti sama dengan yang dimakan sehari-hari. Yang biasa makan beras medium, zakat fitrahnya cukup dengan beras medium seperti C4. Kalau orang biasa makan beras premium seperti Rojolele, zakat fitrahnya juga beras Rojolele. Jangan C4. Malu sama Gusti Allah, kan?"

"Iya ya, Sa. Harusnya malu, ya?

"Tapi, Om, kita kan baru besok lusa akan mulai puasa. Kok Sampeyan ini sudah mikir zakat fitrah? Kok jadi seperti bakul beras, to?"

"Hahaha.....iya ya, Sa?  Aku kadang juga bertanya seperti itu."

"Lha iya, saat-saat seperti ini Sampeyan kan lagi prepegan. Pasti Bunda Collection lagi banyak pesanan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.  Lha kok malah suntuk ngutusi beras...."

Mak-jleb rasanya mendengar omongan Sasa. Bukan salah. Masuk akal. Memang sejak dulu di mana-mana semua pelaku usaha konveksi pasti sangat sibuk tiap menjelang Ramadhan. Kami pun begitu.

"Alhamdulillah bisa jalan semua kok, Sa. Usaha kami kan sudah berjalan bertahun-tahun, jadi sudah bisa menemukan iramanya. Jadi gak masalah kusambil ngurusi petani dan  beras fitrah ini. Kalau mau, kusambi mancing atau jalan-jalan pun tidak masalah."

"Nah itu, aku gumun dengan Sampeyan ini."

"Gumun apa? Jangan gumunan, to."

"Lha kok mau-maunya Sampeyan ngurusi petani? Mestinya kan bisa jalan-jalan sambil ngembangkan bisnisnya sendiri."

"Iya ya, Sa."

"Seharusnya yang ngurusi petani itu Pemerintah, Om. Mereka kan digaji negara untuk ngurusi kepentingan rakyat. Lah Sampeyan ini pejabat bukan, politisi juga bukan. Nuwun sewu, Sampeyan ini hanya rakyat biasa seperti saya. Lha mbok sudah, urusan pertanian dan perberasan itu biar diurusi Pemerintah dan orang-orang politik yang suka umbar janji itu."

"Seharusnya juga begitu, Sa. Wislah, gak usah ngomong politik. Bikin mumet dhewe."

"Ya memang, Om. Bagaimana tidak mumet melihat Pemerintah nyambi jadi makelar."

"Makelar piye, maksudmu?"

"Kalau ngurusi petani kan gak dapat apa-apa, kan mending impor beras bisa dapat persenan, Om."

"Persenan dari mana?"

"Ya dari pelaku impornya to, Om. Mosok dari Sasa....hahahaa..."

"Wislah, Sa. Kita ini rakyat biasa yanv butuh sesrawungan, butuh kekancan, butuh berbuat baik, butuh tolong-menolong. Makanya kita mau srawung dengan siapa saja, termasuk dengan para petani. Biarkan saja kalau ada orang masih kadonyan, hanya ngejar urusan dunia. Kita doakan saja mereka segera bertobat sehingga husnul-khotimah."

"Aamiin.... Ya sudah, Om. Aku pamit dulu, ya. Mau mampir mandi di umbul Gedaren biar seger," Sasa pun pamit pulang, nyengklak sepeda jengki tuanya yang tampak jarang dirawat.