Minggu, 12 Mei 2019

TAKJILAN

TAKJILAN

Aku baru bangun tidur ketika anakku memberitahu bahwa ada Pakdhe Sasa nunggu di kursi depan. Entah ada isu apa puasa-puasa begini sahabatku datang. Mudah-mudahan tidak ngajak ngobrol politik. Tapi biarlah dia nunggu dulu. Aku mau mandi dan siap-siap ke mesjid ikut buka puasa bersama, takjilan bersama seluruh jamaah.

"Pangapunten, Om, aku mau ikut buka di sini," kata Sasa setelah aku duduk di sampingnya.

"Kita takjilan di mesjid ya, Sa."

"Ya itu maksudku, Om. Kudengar di sini setiap sore ada takjilan. Aku ingin ikut sekali-sekali. Katanya nikmat banget."

Memang, sejak puluhan tahun lalu di masjid-masjid kampungku ada tradisi takjilan setiap bulan Ramadhan. Semua orang, besar-kecil tua-muda, ikut buka bersama di masjid. Setiap keluarga mendapatkan giliran menyiapkan makanan dan minuman, minimal sekali dalam sebulan. Menu dan kualitas masakannya juga beda-beda tergantung kemampuan keluarga itu. Kadang ada yang masak sambal-goreng dan lauk ayam, ada yang masak sop ayam dan tempe goreng, ada yang masak pecel, dan ada juga yang tidak mau repot masak dan milih ngundang warung soto. Tapi apapun menunya, semua orang tampak gembira mengikuti takjilan.

"Agak aneh juga ya, Om," kata Sasa sepulang dari masjid tadi.

"Apa yang aneh?"

"Begitu terdengar azan, semua langsung makan nasi. Kelas berat. Lauknya sambal-goreng dan ayam lagi...."

Sasa pun menceritakan kebiasaannya buka puasa di rumahnya hanya dengan segelas teh dan kue-kue ringan seadanya, makan nasi setelah sholat maghrib. Tadi sempat kaget ketika ikut ke masjid dan duduk menghadap piring-piring nasi dan segelas teh.

"Wah ternyata memang nikmat banget ya, Om. Kubayangkan orang di sini jadi ngirit di bulan puasa."

"Ngirit piye, Sa?"

"Pasti ibu-ibu gak perlu masak tiap sore dan nyiapke makanan neko-neko di rumahnya, Om. Kalau sudah buka di masjid dengan nasi, perut sudah tenang, tak perlu lagi makan di rumah. Anak-anak kecil pun tampak menikmati menu takjilan."

"Ya memang, Sa. Ibu-ibu tinggal masak yang untuk sahur besok pagi."

"Makanya pasti jadi ngirit, Om. Beda dengan di kampungku yang justru boros di bulan puasa. Macam-macam makanan disiapkan untuk buka di rumah, padahal perut ini cuma butuh sepiring nasi dan segelas teh."

"Asyiknya itu di makan bersama itu kok, Sa. Jadi gak penting lagi menunya apa. Kita belajar saling menghargai sedekah tiap penyedia takjilan."

"Akan kucoba ngajak jamaah di kampungku bikin takjilan model di sini, Om."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar