Jumat, 26 Juli 2019

NASI GORENG

NASI GORENG

Sudah lama aku tidak ngajak dolan sahabatku Sasa. Dulu sering kuajak dia keluar malam meski sekadar cari wedangan di warung hik dan ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman sesama penggemar sego kucing. Beberapa bulan terakhir ini, pertemuan kami paling hanya di tempat kerja Sasa, warung Soto Kartongali, atau di rumahku bila kebetulan Sasa mampir setelah mijat pelanggan. Malam ini tetiba aku ingin ngajak Sasa menikmati kuliner malam di kota Klaten. Ada warung bakmi jowo favoritku yang pasti Sasa belum pernah merasakannya.

Sasa lagi ngesis di halaman rumahnya ketika aku datang, lalu tergopoh-gopoh mengajakku duduk di amben di teras.

"Ngunjuk teh ya, Om?, Sasa menawariku minum teh.

"Gak usah, Sa. Ayo kita keluar saja jalan-jalan."

"Siap, Om."

Rabu, 10 Juli 2019

MUKENA TRAVELING

MUKENA TRAVELING

Sering teman-temanku bertanya tentang Bunda Collection, usaha konveksi kami di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Sejumlah pertanyaan yang mengemuka antara lain: Sejak kapan kami punya usaha konveksi? Produksi apa saja? Ada berapa karyawan saat ini? Tokonya di mana? Dikirim ke mana saja? Dan sebagainya.

Baiklah, Nda, akan kuceritakan sepintas-kilas. Kami merintis usaha konveksi yang kemudian kami beri nama Bunda Collection ini sejak akhir 2004. Waktu itu kami baru pindahan dari Jogja, pulang kampung alias hijrah atau boyongan pindah rumah ke Jatinom, Klaten untuk nemani ibuku yang sedang sakit. Sambil ngancani ibuku, tentu kami pun harus krekel-krekel berusaha mencari kesibukan dan rejeki. Malumlah, semua pekerjaan di Jogja kami tinggalkan dan kami sudah mantap jiwa untuk memulai hidup dari nol di Klaten. Modal kami hanya sedikit kemampuan menjahit istriku, Erwina Ali, yang sempat ikut kursus dasar di BLK Kotagede.  Diawali dari istriku menjahit baju seragam sekolah anakku, lalu menjahit baju lebaran. Ternyata beberapa tetangga dan kerabat ikut menjahitkan baju lebaran. Nah, dalam proses inilah ada ide dan peluang usaha memproduksi jilbab, khususnya jilbab pesta, model jilbab yang dibutuhkan ibu-ibu bila ada kondangan dan acara-acara resmi. Makumlah, setiap habis lebaran memang musim kondangan, dan umumnya ibu-ibu suka tampil matching dan tampak cantik. Kebetulan ada teman yang punya toko busana dan komitmen akan membantu memasarkan jilbab buatan kami. Maka dari sinilah usaha konveksi kami bermula dan masih tanpa nama. Dengan sebuah mesin jahit, dengan modal pas-pasan, dan selebihnya hanya nekad karena hidup harus terus bergerak, kami pun membuat beberapa buah jilbab yang modelnya kami dapatkan secara ATM (amati, tiru, modifikasi) dari gambar di sebuah majalah wanita. Alhamdulillah, jilbab-jilbab kami laku keras di toko temanku.

Usaha konveksi ini betul-betul hal baru bagi kami waktu itu, Nda, bahkan bisa dikatakan ahistoris. Maklumlah, selama di Jogja kegiatanku lebih banyak di dunia kesenian dakwah, sejak di Sanggar Shalahuddin UGM hingga di komunitas Maiyah Cak Nun - Kiai Kanjeng. Ijazahku dan istriku juga sama-sama dari Sastra UGM, tidak ada hubungannya dengan ilmu manajemen bisnis apalagi desain dan jahit-menjahit. Tapi mungkin historisitas atau benang merahnya justru dengan masa awal kegiatanku di Sanggar Shalahuddin UGM yang getol mengkampanyekan pemakaian jilbab melalui pementasan Teaterikalisasi Puisi Lautan Jilbab karya Cak Nun di Jogja dan beberapa kota lain yang sempat menggemparkan jagad perteateran Indonesia pada 1988-1990. Waktu itu masih sangat sedikit wanita memakai jilbab, dan para pemakai jilbab sering diintimidasi bahkan dipecat dari sekolah, kampus, dan tempat kerjanya. Diakui sejarah atau tidak, sejak pementasan Lautan Jilbab yang ditonton ribuan orang di setiap event itu, semakin banyak kaum muslimah berani terang-terangan mengganti penampilannya dengan berbusana muslimah dan berjilbab tanpa rasa takut. Jilbab seakan menjadi simbol keberanian dan pernyataan, "Aku ini seorang muslimah."

Nama Bunda Collection baru kami temukan menjelang pameran Otonomi Daerah di JEC Jogja pada Mei 2005 atas sponsor dari Dinperindakop Pemkab Klaten. Alhamdulillaah, pada pameran pertama itu produk kami laku keras, semua barang terjual habis. Maka kami pun semakin percaya diri dan tuman mengikuti pameran-pameran di berbagai kota.  Tanpa ragu-ragu, kami usung aneka jilbab cantik dengan bendera Bunda Collection ke berbagai event pameran di Semarang, Jakarta, Bandung, Solo, Batam, hingga ke Jordania dan kota-kota besar di Rusia. Di sinilah pengalamanku dulu sebagai Pimpro pentas-pentas Sanggar Shalahuddin dan kemudian sebagai manajer kegiatan Cak Nun-Kiai Kanjeng sangat terasa manfaatnya.

Lalu apa saja produk Bunda Collection? Pada lima tahun pertama, produk kami masih berupa aneka jilbab  dan bandana cantik. Memasuki tahun keenam, kami mulai membuat busana secara limited edition  alias tergantung pesanan atawa by order. Memasuki tahun ketujuh, kami mulai memproduksi aneka mukena. Dan memasuki tahun ke sepuluh, 2015, kami mulai konsentrasi memproduksi aneka mukena traveling, yaitu jenis mukena yang simpel dan cocok dibawa bepergian ke mana saja, baik ke sekolah, ke kampus, ke tempat kerja, atau ke mana pun tujuan bepergian. Betapa wagunya seorang muslimah bepergian tanpa membawa peralatan sholat di tasnya, bukan? Apa tidak malu setiap kali mau sholat harus cari pinjaman mukena atau pakai mukena di lemari mesjid dan mushola pom bensin? Sudah tidak jamannya lagi, Sis. Makanya siapkan mukena traveling di tas Anda.

Ada berapa karyawan Bunda Collection saat ini?
Dulu, kami mengawali usaha ini hanya berdua. Istriku yang merancang produk, memilih kain, warna, dan menjahitnya, sedangkan aku sebatas nemani belanja, bantu motong kain, melipat/mengemas produk jadi dan memasarkannya. Di samping itu, aku kabagian tugas melayani ngobrol tamu-tamu serta lobi-lobi untuk membuka peluang pasar dan pengembangan usaha. Mulai bulan keempat, ketika kami sudah merasa keteteran, kami mulai merekrut karyawan. Alhamdulillah, sejak itu hampir setiap hari banyak gadis dan ibu-ibu muda datang melamar kerja. Karena kami memang berniat membuka lapangan kerja di desa, maka hampir setiap pelamar kami terima, bahkan yang belum punya ketrampilan apa pun. Yang sudah bisa menjahit kami beri tugas menjahit, sedangkan yang belum bisa apa-apa kami ajari memotong kain, packing, atau ketrampilan memberi aksen produk dengan handmade sulam pita dan payet.

Pada 2009 hingga awal 2011, karyawan kami ada 150 orang. Seiring perkembangan jaman, pada awal 2012 ketika  produk-produk impor dari China mulai masuk di pasaran secara masif ditambah lesunya daya beli masyarakat, kami pun harus merasionalisasi karyawan dari 150 orang menjadi 70 orang. Berat, tapi harus kami lakukan. Waktu pun terus berjalan dan kami harus terus produksi dengan manajemen yang lebih ketat. 

Tetapi apa boleh buat. Sejak 2012 itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berhasil menggaet banyak investor untuk merelokasi pabrik-pabrik TPT (Tekstil dan produk Tekstil) dari Jabodetabek dan Jabar ke Jateng khususnya di wilayah Semarang dan eks-Karesidenan Surakarta. Konsekuensinya, Pemprov Jateng harus memfasilitasi rekrutmen ribuan tenaga kerja lulusan SMA/SMK se-Jateng. Imbas dari itu, UMKM/IMKM di Klaten mulai kesulitan mencari tenaga kerja, bahkan tidak sedikit yang terpaksa menutup usahanya. Demikian juga Bunda Collection, hingga saat ini kami juga kesulitan mencari tenaga kerja baru, sementara beberapa naker lama secara alamiah harus resign setelah menikah karena harus mengurus bayinya. Alhamdulillah  saat ini karyawan kami masih ada 30 orang. Mereka sangat loyal dan produktif bekerja dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Tokonya di mana? Produk Bundaco dikirim ke mana saja?
Begini, Nda, sejak awal kami memang sudah memilih dunia produksi, bukan trading. Makanya kami tidak harus punya toko sendiri. Cukuplah bagi kami menjual produk ke toko-toko di Jatinom, Klaten, Jogja, Semarang, Bandung, Jakarta, dan sebagainya. Dulu ketika peradaban kita masih off-line, maka kami harus aktif ikut pameran atau menawarkan produk ke toko-toko busana. Sekarang jamannya sudah berubah, kita masuk ke peradaban digital dan on-line. Pola pemasaran kami pun harus berubah, tidak lagi mengandalkan toko-toko pelanggan, tapi bermitra dengan anak-anak muda yang menekuni marketing on-line. Mereka pandai menjual, tapi tidak pintar memproduksi karena membangun tim produksi sungguh tidak mudah. Makanya, sejak tiga tahun terakhir produk kami lebih banyak terjual melalui mitra-mitra kami para pemain on-line dan mereka bisa memasarkannya ke seluruh penjuru dunia. 

Anda pemain on-line dan berminat untuk bergabung memasarkan produk Bunda Collection sebagai reseller? Boleh. Boleh banget.

Selakan intip dulu IG bundaco.klaten atau langsung buka Web www.bundaco.com//reseller. Anda akan dipandu oleh admin reseller, dan bisa bertanya-tanya atau diskusi seputar fasilitas yang kami berikan untuk reseller beserta profitabilitas ya.

Selamat Bergabung. Semoga berlimpah keberkahan...aamiin.


#mukenatraveling
#produsenbusanamuslim

#produsenmukenatravelling

#jilbabcantik

#jilbabpesta

#jilbabsyar'i

Selasa, 02 Juli 2019

SAPI KURBAN

SAPI KURBAN

Seperti tahun-tahun yang lalu, seusai lebaran di antara kesibukan ngurusi sekolah anak-anak, aku menemani Ghofur keponakanku mengurus sapi-sapi di kandang ternaknya, peternakan sapi Al-Kautsar Klaten. Namanya juga menemani, sesungguhnya aku tidak pernah terlibat dalam hal perawatan sapi seperti meracik dan memberi pakan, memvaksin, memandikan, apalagi ngguyang atau memandikan dan nimpal lethong atau kotorannya sapi. Tidak sama sekali. Aku hanya nemani ngobrol sambil ngopi di gerobak yang terparkir di depan kandang di sore hari. Jangan bayangkan aroma bau lethong. sapi, tapi nikmati saja asyiknya suasana di antara suara ceriricit burung-burung sriti yang beterbangan di atas kandang, begitu pesan Ghofur.

Ghofur ini anak mbakyu sepupuku. Usianya hanya 2 tahun di bawahku, dan sejak masih anak-anak dulu, dia sudah sangat akrab denganku hingga seperti adikku sendiri.  Setamat kuliah ekonomi di Malang, dia memilih pulang menekuni dunia peternakan sapi yang sudah dirintis bapaknya. Mungkin karena ilmu manajemen yang diperolehnya dari kampus dia terapkan sungguh-sungguh, peternakan Al-Kautsar dapat berkembang pesat. Saat ini ada 3 kandang permanen kapasitas 200an ekor sapi dan siap melayani kebutuhan kurban.

Bila menjelang musim kurban tiba seperti saat ini, Ghofur luar biasa sibuknya. Setiap saat terutama di sore hari banyak tamu berdatangan dari berbagai desa dan kota. Ada yang masih sekadar survey atau melihat-lihat sapi, dan banyak juga yang langsung menawar harga. Bila sudah deal,  mereka membayar uang muka 1/7 dari harga. Sapi-sapi akan kami rawat dengan baik, dan pada hari H-1 kami antar ke alamat pemesan. Begitu aturan mainnya. Di sinilah peranku, membantu Ghofur menemani tamu-tamu yang pada umumnya panitia kurban atau takmir masjid mewakili jamaahnya.

Sore ini sungguh surprize. Ada serombongan tamu datang naik sepeda motor. Di antara enam orang yang datang itu ternyata ada sahabatku Sasa. Ya, Sasa, si juru parkir Soto Kartongali Jolotundo yang legendaris itu.

"Loh Om, kok di sini?," Sasa bertanya kepadaku sambil pringas-pringis menyodorkan tangan mengajak salaman.

"Lah...Sasa kok juga ke sini?," kubalas bertanya.

"Iya, Om. Mau pesen sapi kurban untuk jamaah masjid kami," jawab Sasa.

"Wah hebat. Jadi kamu dan teman-temanmu ini panitia kurban, to?"

"Iya, Om. Alhamdulillah calon peserta kurban di mesjid kami tahun ini lumayan banyak. Yang sudah mendaftar ada 30 orang. Mudah-mudahan masih nambah hungga 35 orang agar bisa genap 5 sapi," jawab Sasa.

"Monggo dilihat-lihat sapinya dulu, Bapak-Bapak," ajak Ghofur pada tamu-tamunya.

Mereka pun masuk ke kandang melihat sapi satu-persatu. Ghofur menerangkan bahwa semua sapinya sudah divaksin agar sehat dan tidak kena penyakit cacing hati, juga menjelaskan harganya dari yang terendah sampai yang tertinggi.

"Harga ini sudah termasuk bea perawatan, Pak, termasuk free bea pengiriman khusus untuk wilayah Klaten, Jogja, Solo," kata Ghofur meyakinkan tamunya.

Sasa sahabatku hanya ikut masuk sebentar lalu keluar dan kembali duduk denganku.

"Hebat kamu, Sa."

"Hebat pripun, Om?"

"Bisa jadi panitia kurban."

"Ya biasa saja, Om. Ini kan untuk kepentingan bersama, kepentingan jamaah. Kebetulan aku termasuk yang diamanahi, Om."

"Lha ya itu hebatnya. Kamu termasuk orang yang diamanahi. Berarti kamu dipandang amanah."

"Iya ya, Om? Padahal aku sama sekali tidak kampanye minta dipilih, apalagi pakai amplopan....hahahaa."

Dasar Sasa, omongannya suka nyindir-nyindir politisi. Ngomong apapun bisa terkoneksi dengan peristiwa politik. Wong edyan.

"Aneh ya, Om."

"Apa yang aneh, Sa?"

"Orang sekarang banyak yang tega mengorbankan rakyatnya."

"Maksudnya?"

"Orang berebut kuasa dengan tega mengorbankan 700an petugas KPPS."

"Wah ya jangan gitulah, Sa. Rausan petugas KPPS itu meninggal karena kecapekan sehingga penyakitnya kambuh dan tidak tertolong. Jadi bukan dikorbankan, Sa. Hati-hati kamu."

"Kalau rakyat seperti kita ini soal kurban kan karena dherek dhawuh Kanjeng Nabi, Om. Kita kurban kambing atau sapi dengan cara urunan dengan ikhlas mengharap ridlo Allah SWT. Lha kalau orang rebutan kekuasaan sampai tega mengorbankan paseduluran bahkan nyawa orang lain, itu ndherek dhawuh siapa ya, Om?"

"Iya ya, Sa. Mungkin mencontoh Qabil yang tega membunuh Habil. Atau jangan-jangan orang sekarang ini memang lebih banyak yang keturunan Qabil ya, Sa? Sedangkan keturunan Habil cuma sedikit dan kalah terus."

Teman-teman Sasa dan Ghofur keluar dari kandang, rupanya sudah cukup urusan mereka. Kulihat teman Sasa yang tertua, mungkin ketua panitia atau bendaharanya, menyerahkan uang tanda jadi kepada Ghofur.

Hebat, takmir masjid desa itu langsung memesan 5 ekor sapi.
Lantas kami pun bersalam-salaman sebagai tanda sudah akad.
Sasa dan rombongannya pun langsung pamit pulang. Aku dan Ghofur masih melanjutkan ngobrol di gerobak, menghabiskan kopi sambil menunggu saat azan maghrib berkumandang dari masjid sebelah.






Senin, 01 Juli 2019

MEROKET, PRODUK UNGGULAN AGRIBISNIS MUHAMMADIYAH ROJOLELE ORGANIK

MEROKET, PRODUK UNGGULAN AGRIBISNIS MUHAMMADYAH: ROJOLELE ORGANIK

Oleh: Among Kurnia Ebo

Seharian kemarin saya menemani teman-teman Lazizmu dan MPM PC Muhammadyah Babad Lamongan, Jatim, di bawah pimpinan mas Eko Hijrahyanto Erkasi dan Edy Syahputro, yang lagi studi banding model pemberdayaan agribisnis jamaah Muhammadyah khususnya yang berprofesi sebagai petani di desa Gempol, Karangaanom, Klaten. Selaku tuan rumah yang dikunjungi untuk studi banding ini adalah Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PD Muhammadyah Klaten.

Model pemberdayaan petani versi Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadyah adalah concern yang sudah lama dirintis semenjak jaman Pak Said Tuhuleley (alm). Bahkan concern Pak Said pada gerakan pemberdayakan masyarakat di tingkat terbawah khususnya para petani melalui MPM inilah yang telah mengantarkannya memperoleh anugerah Doktor Honoris Causa dari UMM Malang. Slogan "Selama Rakyat Masih Menderita Tidak Ada Kata Istirahat" yang beliau canangkan seakan telah menjadi ruh gerakan MPM PP Muhammadiyah hingga kini. Tujuan dari 'Jihad Kedaulatan Pangan' adalah mewujudkan kedaulatan pangan. Dalam hal ini, kesejahteraan petani sebagai produsen pangan dapat meningkat dengan menghasilkan produk yang berkualitas (halalan-thoyiban) dan diterima oleh pasar. Sejauh ini realitas kehidupan para petani selama ini masih sangat memprihatinkan. Mereka berada pada struktur sosial-ekonomi terbawah. Kondisi ini meniscayakan kehadiran para aktivis Muhammadiyah untuk terjun ke sektor pertanian dan memberikan pendampingan agar petani dapat berdaulat di negeri sendiri.

Salah satu pilot proyek yang sudah dipandang berhasil (sebagai percontohan) adalah gerakan Tani Bangkit di Gempol, Karanganom, Klaten. Gerakan yang diinisiasi oleh MEK PDM Klaten dan Lazismu PP ini jumbuh dengan visi MPM PP yang telah mendeklarasikan pembentukan JATAM (Jamaah Tani Muhammadyah) pada Maret 2018 guna masifikasi gerakan pemberdayaan petani. Para petani Gempol sudah sejak beberapa tahun sebelumnya, atas inisiatif sendiri, telah membentuk kelompok Tani Organik dalam wadah Kelompok Tani yang dibentuk oleh Pemerintah Desa. Mereka fokus mengembangkan pertanian organik, dengan varietas padi Rojolele.

Rojolele adalah varietas padi unggulan dan khas Klaten yang konon dulunya adalah beras yang paling disukai raja-raja Mataram. Varietas ini sangat istimewa terutama dalam hal rasa yang pulen dan wangi. 

"Dulu usia tanamnya saja sampai 5 bulan lebih 20 hari. Oleh karena itu, varietas istimewa ini sudah lama langka di pasaran karena para petani enggan menanamnya," terang Pak Rahmadi pengurus Gapoktan. "Melihat potensi lokal ini, Pemkab Klaten bekerjasama dengan BATAN telah melakukan upaya pemuliaan Rojolele. Dengan sentuhan teknologi dari para ahli nuklir, usia tanam Rojolele dapat diperpendek menjadi 108 hari dengan tinggi tanaman yang normal, sama denganntanaman padi pada umumnya," lanjutnya.

Gerakan Tani Bangkit Muhammadiyah hadir di Gempol guna membantu pengembangan budidaya Rojolele Organik. Bila sebelumnya di Gempol baru ada lahan padi organik seluas 5 hektar, maka dengan program yang dibiayai oleh Lazismu PP ini akan terjadi penambahan  luas lahan 16 hektar. "Saat ini penambahan baru berjalan efektif 7 hektar," kata Pak Rahmadi.

"Full 100% organik, ya. Bukan hanya hasilnya. Tapi dari prosesnya hingga perlakuan akhirnya. Kita juga sudah mendapat sertifikasi dari Lesos (Lembaga Sertifikasi Organik). Prosesnya dulu sangat rumit. Monitoring dari Lesos juga rutin dilakukan. Tidak boleh ada SOP yang salah, meski hanya satu." jelas Wahyudi Nasution, Ketua MEK (Majelis Ekonomi Kewirausahaan) PDM Klaten yang juga anggota MPP (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) PP Muhammadyah, yang memandu dan menjamu para tamu ini, baik saat rapat, makan siang, maupun di lahan dan gudang pengemasan.

Padi Rojolele yang dihasilkan para petani JATAM di Klaten dikelola dengan manajemen yang rapi dan terpadu sehingga standar kualitasnya dapat selalu dijaga. Pengemasannya pun sudah memakai plastik dan mesin vacum sehingga beras akan awet sampai dua tahun.

"Padi organik Rajalele ini kami jual dalam kemasan  kardus berisi 20 kg. Hargai mulai Rp 450.000 per kardus, dan ada rabat/potongan harga untuk pembelian dalam jumlah banyak. Sementara ini masih beredar di kalangan warga Muhammadyah. Kami berikan apresiasi yang tinggi kepada Universitas Muhammadyah Yogyakarta yang sejak 8 bulan lalu telah membeli 5 ton per bulan untuk dosen dan karyawan di UMY. Sinergi ini jelas sangat penting guna memberi semangat kepada para Petani JATAM Gempol. Pembeli yang lain masih skala kecil, baik lewat koperasi maupun personal," jelas Wahyudi, yang juga Direktur Utama pabrik konveksi jilbab dan mukena travelling  BUNDA Collection Klaten.

Pada pertemuan kemarin, terjadi tanya-jawab menarik antara tamu dari Babat dengan para Pengurus Gapoktan. Salah satunya adalah pertanyaan, "Bagaimana cara menanam padi organik di lahan tadah hujan seperti di Babat?" Pak Dadi, salah satu Pengurus Gapoktan, menjawab dengan yakin karena pernah mencobanya. Dia menanam padi di lahan tadah hujan dengan trik khusus, dan ternyata berhasil.

"Ternyata padi justru bagus dikembangkan di lahan yang tak terlalu melimpah airnya," kata Pak Dadi. 

Pertanyaan lain yang mengemuka adalah," Dari mana kita harus memulai pertanian organik?"

Pak Satibi, pengurus senior Gapoktan pun menjawab, "Yang penting ada niat dulu dari beberapa orang yang siap memulai sebagai pelopor. Tidak harus banyak. Beberapa orang itu membentuk lembaga, ada oengurus dan ada pembagian kerja. Lalu mau mempelajari SOP Organik dan mempraktekkan dengan sungguh-sungguh."

"Model ini sudah mulai merambah beberapa daerah. Kalau yang melakukan studi banding dan magang di Gempol sudah ada ratusan orang. Tapi yang mempraktekkan langsung baru beberapa daerah," imbuh Pak Rahmadi.

Capek tapi seneng. Itu yang saya rasakan. Entahlah, kalau ada program-program Muhammadyah yang positif, produktif, dan bervisi pemberdayaan jamaah, saya berasa antusias, bersemangat sekali menjalaninya. Saya sendiri berharap keberadaan JATAM ini akan menjadi salah satu amal usaha Muhammadyah unggulan di masa depan, yang langsung menyentuh lapis kehidupan masyarakat terbawah.

"Kita ingin kesejahteraannya meningkat. Cara budidayanya juga terukur dan benar. Sehingga pasar akan dengan senang hati menerima dengan harga yang pantas. Selama ini petani cenderung asal dalam budidaya dan hasilnya pun bakbuk, impas. Ini yang ingin kita terobos. Dengan sinergi bersama Lazizmu dan pihak kampus, saya optimis program idealis ini akan berhasil," jelas Wahyudi saat menjamu tamunya di warung tengkleng Pak Kamto Jatinom yang legendaris itu.

Islam Agamaku
Muhammadyah Gerakanku
Aku Bangga Jadi Warga Muhammadyah