MUKENA TRAVELING
Sering teman-temanku bertanya tentang Bunda Collection, usaha konveksi kami di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Sejumlah pertanyaan yang mengemuka antara lain: Sejak kapan kami punya usaha konveksi? Produksi apa saja? Ada berapa karyawan saat ini? Tokonya di mana? Dikirim ke mana saja? Dan sebagainya.
Baiklah, Nda, akan kuceritakan sepintas-kilas. Kami merintis usaha konveksi yang kemudian kami beri nama Bunda Collection ini sejak akhir 2004. Waktu itu kami baru pindahan dari Jogja, pulang kampung alias hijrah atau boyongan pindah rumah ke Jatinom, Klaten untuk nemani ibuku yang sedang sakit. Sambil ngancani ibuku, tentu kami pun harus krekel-krekel berusaha mencari kesibukan dan rejeki. Malumlah, semua pekerjaan di Jogja kami tinggalkan dan kami sudah mantap jiwa untuk memulai hidup dari nol di Klaten. Modal kami hanya sedikit kemampuan menjahit istriku, Erwina Ali, yang sempat ikut kursus dasar di BLK Kotagede. Diawali dari istriku menjahit baju seragam sekolah anakku, lalu menjahit baju lebaran. Ternyata beberapa tetangga dan kerabat ikut menjahitkan baju lebaran. Nah, dalam proses inilah ada ide dan peluang usaha memproduksi jilbab, khususnya jilbab pesta, model jilbab yang dibutuhkan ibu-ibu bila ada kondangan dan acara-acara resmi. Makumlah, setiap habis lebaran memang musim kondangan, dan umumnya ibu-ibu suka tampil matching dan tampak cantik. Kebetulan ada teman yang punya toko busana dan komitmen akan membantu memasarkan jilbab buatan kami. Maka dari sinilah usaha konveksi kami bermula dan masih tanpa nama. Dengan sebuah mesin jahit, dengan modal pas-pasan, dan selebihnya hanya nekad karena hidup harus terus bergerak, kami pun membuat beberapa buah jilbab yang modelnya kami dapatkan secara ATM (amati, tiru, modifikasi) dari gambar di sebuah majalah wanita. Alhamdulillah, jilbab-jilbab kami laku keras di toko temanku.
Usaha konveksi ini betul-betul hal baru bagi kami waktu itu, Nda, bahkan bisa dikatakan ahistoris. Maklumlah, selama di Jogja kegiatanku lebih banyak di dunia kesenian dakwah, sejak di Sanggar Shalahuddin UGM hingga di komunitas Maiyah Cak Nun - Kiai Kanjeng. Ijazahku dan istriku juga sama-sama dari Sastra UGM, tidak ada hubungannya dengan ilmu manajemen bisnis apalagi desain dan jahit-menjahit. Tapi mungkin historisitas atau benang merahnya justru dengan masa awal kegiatanku di Sanggar Shalahuddin UGM yang getol mengkampanyekan pemakaian jilbab melalui pementasan Teaterikalisasi Puisi Lautan Jilbab karya Cak Nun di Jogja dan beberapa kota lain yang sempat menggemparkan jagad perteateran Indonesia pada 1988-1990. Waktu itu masih sangat sedikit wanita memakai jilbab, dan para pemakai jilbab sering diintimidasi bahkan dipecat dari sekolah, kampus, dan tempat kerjanya. Diakui sejarah atau tidak, sejak pementasan Lautan Jilbab yang ditonton ribuan orang di setiap event itu, semakin banyak kaum muslimah berani terang-terangan mengganti penampilannya dengan berbusana muslimah dan berjilbab tanpa rasa takut. Jilbab seakan menjadi simbol keberanian dan pernyataan, "Aku ini seorang muslimah."
Nama Bunda Collection baru kami temukan menjelang pameran Otonomi Daerah di JEC Jogja pada Mei 2005 atas sponsor dari Dinperindakop Pemkab Klaten. Alhamdulillaah, pada pameran pertama itu produk kami laku keras, semua barang terjual habis. Maka kami pun semakin percaya diri dan tuman mengikuti pameran-pameran di berbagai kota. Tanpa ragu-ragu, kami usung aneka jilbab cantik dengan bendera Bunda Collection ke berbagai event pameran di Semarang, Jakarta, Bandung, Solo, Batam, hingga ke Jordania dan kota-kota besar di Rusia. Di sinilah pengalamanku dulu sebagai Pimpro pentas-pentas Sanggar Shalahuddin dan kemudian sebagai manajer kegiatan Cak Nun-Kiai Kanjeng sangat terasa manfaatnya.
Lalu apa saja produk Bunda Collection? Pada lima tahun pertama, produk kami masih berupa aneka jilbab dan bandana cantik. Memasuki tahun keenam, kami mulai membuat busana secara limited edition alias tergantung pesanan atawa by order. Memasuki tahun ketujuh, kami mulai memproduksi aneka mukena. Dan memasuki tahun ke sepuluh, 2015, kami mulai konsentrasi memproduksi aneka mukena traveling, yaitu jenis mukena yang simpel dan cocok dibawa bepergian ke mana saja, baik ke sekolah, ke kampus, ke tempat kerja, atau ke mana pun tujuan bepergian. Betapa wagunya seorang muslimah bepergian tanpa membawa peralatan sholat di tasnya, bukan? Apa tidak malu setiap kali mau sholat harus cari pinjaman mukena atau pakai mukena di lemari mesjid dan mushola pom bensin? Sudah tidak jamannya lagi, Sis. Makanya siapkan mukena traveling di tas Anda.
Ada berapa karyawan Bunda Collection saat ini?
Dulu, kami mengawali usaha ini hanya berdua. Istriku yang merancang produk, memilih kain, warna, dan menjahitnya, sedangkan aku sebatas nemani belanja, bantu motong kain, melipat/mengemas produk jadi dan memasarkannya. Di samping itu, aku kabagian tugas melayani ngobrol tamu-tamu serta lobi-lobi untuk membuka peluang pasar dan pengembangan usaha. Mulai bulan keempat, ketika kami sudah merasa keteteran, kami mulai merekrut karyawan. Alhamdulillah, sejak itu hampir setiap hari banyak gadis dan ibu-ibu muda datang melamar kerja. Karena kami memang berniat membuka lapangan kerja di desa, maka hampir setiap pelamar kami terima, bahkan yang belum punya ketrampilan apa pun. Yang sudah bisa menjahit kami beri tugas menjahit, sedangkan yang belum bisa apa-apa kami ajari memotong kain, packing, atau ketrampilan memberi aksen produk dengan handmade sulam pita dan payet.
Pada 2009 hingga awal 2011, karyawan kami ada 150 orang. Seiring perkembangan jaman, pada awal 2012 ketika produk-produk impor dari China mulai masuk di pasaran secara masif ditambah lesunya daya beli masyarakat, kami pun harus merasionalisasi karyawan dari 150 orang menjadi 70 orang. Berat, tapi harus kami lakukan. Waktu pun terus berjalan dan kami harus terus produksi dengan manajemen yang lebih ketat.
Tetapi apa boleh buat. Sejak 2012 itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berhasil menggaet banyak investor untuk merelokasi pabrik-pabrik TPT (Tekstil dan produk Tekstil) dari Jabodetabek dan Jabar ke Jateng khususnya di wilayah Semarang dan eks-Karesidenan Surakarta. Konsekuensinya, Pemprov Jateng harus memfasilitasi rekrutmen ribuan tenaga kerja lulusan SMA/SMK se-Jateng. Imbas dari itu, UMKM/IMKM di Klaten mulai kesulitan mencari tenaga kerja, bahkan tidak sedikit yang terpaksa menutup usahanya. Demikian juga Bunda Collection, hingga saat ini kami juga kesulitan mencari tenaga kerja baru, sementara beberapa naker lama secara alamiah harus resign setelah menikah karena harus mengurus bayinya. Alhamdulillah saat ini karyawan kami masih ada 30 orang. Mereka sangat loyal dan produktif bekerja dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
Tokonya di mana? Produk Bundaco dikirim ke mana saja?
Begini, Nda, sejak awal kami memang sudah memilih dunia produksi, bukan trading. Makanya kami tidak harus punya toko sendiri. Cukuplah bagi kami menjual produk ke toko-toko di Jatinom, Klaten, Jogja, Semarang, Bandung, Jakarta, dan sebagainya. Dulu ketika peradaban kita masih off-line, maka kami harus aktif ikut pameran atau menawarkan produk ke toko-toko busana. Sekarang jamannya sudah berubah, kita masuk ke peradaban digital dan on-line. Pola pemasaran kami pun harus berubah, tidak lagi mengandalkan toko-toko pelanggan, tapi bermitra dengan anak-anak muda yang menekuni marketing on-line. Mereka pandai menjual, tapi tidak pintar memproduksi karena membangun tim produksi sungguh tidak mudah. Makanya, sejak tiga tahun terakhir produk kami lebih banyak terjual melalui mitra-mitra kami para pemain on-line dan mereka bisa memasarkannya ke seluruh penjuru dunia.
Anda pemain on-line dan berminat untuk bergabung memasarkan produk Bunda Collection sebagai reseller? Boleh. Boleh banget.
Selakan intip dulu IG bundaco.klaten atau langsung buka Web www.bundaco.com//reseller. Anda akan dipandu oleh admin reseller, dan bisa bertanya-tanya atau diskusi seputar fasilitas yang kami berikan untuk reseller beserta profitabilitas ya.
Selamat Bergabung. Semoga berlimpah keberkahan...aamiin.
#mukenatraveling
#produsenbusanamuslim
#produsenmukenatravelling
#jilbabcantik
#jilbabpesta
#jilbabsyar'i