Selasa, 02 Juli 2019

SAPI KURBAN

SAPI KURBAN

Seperti tahun-tahun yang lalu, seusai lebaran di antara kesibukan ngurusi sekolah anak-anak, aku menemani Ghofur keponakanku mengurus sapi-sapi di kandang ternaknya, peternakan sapi Al-Kautsar Klaten. Namanya juga menemani, sesungguhnya aku tidak pernah terlibat dalam hal perawatan sapi seperti meracik dan memberi pakan, memvaksin, memandikan, apalagi ngguyang atau memandikan dan nimpal lethong atau kotorannya sapi. Tidak sama sekali. Aku hanya nemani ngobrol sambil ngopi di gerobak yang terparkir di depan kandang di sore hari. Jangan bayangkan aroma bau lethong. sapi, tapi nikmati saja asyiknya suasana di antara suara ceriricit burung-burung sriti yang beterbangan di atas kandang, begitu pesan Ghofur.

Ghofur ini anak mbakyu sepupuku. Usianya hanya 2 tahun di bawahku, dan sejak masih anak-anak dulu, dia sudah sangat akrab denganku hingga seperti adikku sendiri.  Setamat kuliah ekonomi di Malang, dia memilih pulang menekuni dunia peternakan sapi yang sudah dirintis bapaknya. Mungkin karena ilmu manajemen yang diperolehnya dari kampus dia terapkan sungguh-sungguh, peternakan Al-Kautsar dapat berkembang pesat. Saat ini ada 3 kandang permanen kapasitas 200an ekor sapi dan siap melayani kebutuhan kurban.

Bila menjelang musim kurban tiba seperti saat ini, Ghofur luar biasa sibuknya. Setiap saat terutama di sore hari banyak tamu berdatangan dari berbagai desa dan kota. Ada yang masih sekadar survey atau melihat-lihat sapi, dan banyak juga yang langsung menawar harga. Bila sudah deal,  mereka membayar uang muka 1/7 dari harga. Sapi-sapi akan kami rawat dengan baik, dan pada hari H-1 kami antar ke alamat pemesan. Begitu aturan mainnya. Di sinilah peranku, membantu Ghofur menemani tamu-tamu yang pada umumnya panitia kurban atau takmir masjid mewakili jamaahnya.

Sore ini sungguh surprize. Ada serombongan tamu datang naik sepeda motor. Di antara enam orang yang datang itu ternyata ada sahabatku Sasa. Ya, Sasa, si juru parkir Soto Kartongali Jolotundo yang legendaris itu.

"Loh Om, kok di sini?," Sasa bertanya kepadaku sambil pringas-pringis menyodorkan tangan mengajak salaman.

"Lah...Sasa kok juga ke sini?," kubalas bertanya.

"Iya, Om. Mau pesen sapi kurban untuk jamaah masjid kami," jawab Sasa.

"Wah hebat. Jadi kamu dan teman-temanmu ini panitia kurban, to?"

"Iya, Om. Alhamdulillah calon peserta kurban di mesjid kami tahun ini lumayan banyak. Yang sudah mendaftar ada 30 orang. Mudah-mudahan masih nambah hungga 35 orang agar bisa genap 5 sapi," jawab Sasa.

"Monggo dilihat-lihat sapinya dulu, Bapak-Bapak," ajak Ghofur pada tamu-tamunya.

Mereka pun masuk ke kandang melihat sapi satu-persatu. Ghofur menerangkan bahwa semua sapinya sudah divaksin agar sehat dan tidak kena penyakit cacing hati, juga menjelaskan harganya dari yang terendah sampai yang tertinggi.

"Harga ini sudah termasuk bea perawatan, Pak, termasuk free bea pengiriman khusus untuk wilayah Klaten, Jogja, Solo," kata Ghofur meyakinkan tamunya.

Sasa sahabatku hanya ikut masuk sebentar lalu keluar dan kembali duduk denganku.

"Hebat kamu, Sa."

"Hebat pripun, Om?"

"Bisa jadi panitia kurban."

"Ya biasa saja, Om. Ini kan untuk kepentingan bersama, kepentingan jamaah. Kebetulan aku termasuk yang diamanahi, Om."

"Lha ya itu hebatnya. Kamu termasuk orang yang diamanahi. Berarti kamu dipandang amanah."

"Iya ya, Om? Padahal aku sama sekali tidak kampanye minta dipilih, apalagi pakai amplopan....hahahaa."

Dasar Sasa, omongannya suka nyindir-nyindir politisi. Ngomong apapun bisa terkoneksi dengan peristiwa politik. Wong edyan.

"Aneh ya, Om."

"Apa yang aneh, Sa?"

"Orang sekarang banyak yang tega mengorbankan rakyatnya."

"Maksudnya?"

"Orang berebut kuasa dengan tega mengorbankan 700an petugas KPPS."

"Wah ya jangan gitulah, Sa. Rausan petugas KPPS itu meninggal karena kecapekan sehingga penyakitnya kambuh dan tidak tertolong. Jadi bukan dikorbankan, Sa. Hati-hati kamu."

"Kalau rakyat seperti kita ini soal kurban kan karena dherek dhawuh Kanjeng Nabi, Om. Kita kurban kambing atau sapi dengan cara urunan dengan ikhlas mengharap ridlo Allah SWT. Lha kalau orang rebutan kekuasaan sampai tega mengorbankan paseduluran bahkan nyawa orang lain, itu ndherek dhawuh siapa ya, Om?"

"Iya ya, Sa. Mungkin mencontoh Qabil yang tega membunuh Habil. Atau jangan-jangan orang sekarang ini memang lebih banyak yang keturunan Qabil ya, Sa? Sedangkan keturunan Habil cuma sedikit dan kalah terus."

Teman-teman Sasa dan Ghofur keluar dari kandang, rupanya sudah cukup urusan mereka. Kulihat teman Sasa yang tertua, mungkin ketua panitia atau bendaharanya, menyerahkan uang tanda jadi kepada Ghofur.

Hebat, takmir masjid desa itu langsung memesan 5 ekor sapi.
Lantas kami pun bersalam-salaman sebagai tanda sudah akad.
Sasa dan rombongannya pun langsung pamit pulang. Aku dan Ghofur masih melanjutkan ngobrol di gerobak, menghabiskan kopi sambil menunggu saat azan maghrib berkumandang dari masjid sebelah.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar