Minggu, 08 Desember 2019

AZIMAT

AZIMAT

"Om, pangapunten aku pagi-pagi sudah ke sini," kata Sasa mengawali obrolan. Memang, biasanya dia datang sore-sore atau bakda maghrib, tapi kali ini dia datang sebelum matahari terbit ketika aku sedang mulai bersih-bersih halaman. Entah ada apa. Kuajak sahabatku ini duduk di meja bawah pohon alpukat sambil menunggu istriku membuatkan kopi.

"Ada kabar pagi apa ini, Sa?"

"Soal keluargaku, Om."

"Ada masalah?"

"Begini, Om. Sudah beberapa bulan ini kangmasku yang nomor dua sakit komplikasi diabet, jantung, dan gagal ginjal?"

"Diopname?"

"Sekarang dirawat di rumah, Om. Kemarin sempat beberapa kali keluar-masuk opname di rumah sakit, dan sudah dua bulan ini rutin cuci darah dua kali semiggu."

"Wah kasihan ya, Sa. Pasti repot banget keluarganya." Aku pun jadi teringat betapa repotnya urusan kontrol di RS. Pagi-pagi harus antri ambil nomor pendaftaran untuk periksa nanti sore.  Sorenya antri lagi ambil nomor urut periksa. Lalu pasien menunggu panggilan sesuai omor urut untuk ukur tensi. Setelah itu duduk manis berjam-jam menunggu lagi panggilan untuk periksa dokter. Usai periksa dokter masih menunggu lagi panggilan di counter obat. Praktis waktu hampir seharian habis untuk urusan kontrol dokter di RS.

"Namanya juga setiyar, Om. Dinikmati saja proses yang bertele-tele itu."

Sudah lama aku tidak mendengar kata setiyar. Aku tahu itu maksudnya ikhtiar. Lidah orang Jawa memang tidak suka repot dalam pengucapan kata Arab. Seperti hari Ahad diucapkan Ngad, nama Bakhruddin dibaca Bakrodin, afwan jadi apem, dan sebagainya.

Dua gelas kopi disajikan istriku.

"Monggo diunjuk kopinya, Mas Sasa," kata istriku mempersilakan.

"Terus masalahnya apa, Sa? Gak punya BPJS?"

"Bukan, Om. Begini, lho. Adikku ragil yang tinggal di Jawa Timur kemarin ngirimi paket pengobatan untuk kangmasku."

"Ngirim obat?"

"Bukan obat, tapi paket pengobatan dari seorang Kyai pesantren, katanya metode penyembuhan dengan cara memindahkan penyakit ke kambing."

"Wah, bagus itu. Wujudnya apa?"

"Azimat, Om. Wujudnya kertas bertulisan Arab yang dilipat dan diberi tali.  Juga dua jerigen air putih untuk diminum pasien."

"Terus...."

"Azimat itu supaya dikalungkan di leher kambing. Di hari ketujuh, kambing itu disembelih dan dagingnya dimasak lalu bagikan ke tetangga. Jerohan atau organ kambing yang rusak harus dikubur bersama azimat yang sudah dibakar dulu."

"Wah apik kuwi, Sa."

"Tapi masalahnya kangmasku ragu, Om."

"Kenapa ragu?"

"Ada anaknya khawatir kok pakai azimat, jangan-jangan ayahnya jadi syirik. Lalu kangmasku jadi ragu juga. Makanya aku ke sini pengin ngobrol soal itu, Om. Apa iya setiyar semacam itu bisa syirik?"

"Ooh itu to masalahnya."

"Iya, Om.

"Sekarang aku tanya ya, Sa."

"Njih, Om."

"Yang menciptakan kita ini siapa"

"Gusti Allah, Om."

"Yang membuat penyakit?"

"Ya Gusti Allah."

"Yang menyembuhkan?"

"Ya Gusti Allah."

"Tapi kenapa orang sakit harus repot--repot ke dokter? Kok gak berdoa saja supaya disembuhkan?"

"Ya harus setiyar, Om. Minum obat dan berdoa agar Gusti Allah menyembuhkan."

"Betul, Sa. Kita wajib ikhtiar, berusaha supaya sembuh dari sakit lewat perantaraan dokter dan obat yang kita minum."

"Njih, Om."

"Allah memberi kesembuhan bisa lewat apa saja, Sa. Ada yang lewat dokter dan obat, ada yang lewat air yang dicelupi batu Ponari, ada yang lewat ruqyah, ada lewat jamu atau obat herbal, ada yang cukup lewat kerokan atau bekam, ada lewat air putih yangsudah didoakan kyai, dan sebagainya. Terserah Allah, Sa. Dia Yang Maha Kuasa. Manusia wajib ikhtiar."

"Njih leres, Om."

"Sa, kalau kita periksa ke dokter lalu diberi sesobek kertas yang ada tulisannya untuk nebus obat, itu namanya apa?"

"Resep, Om."

"Nah, kalau menurut ceritamu tadi, adikmu sudah ikhtiar untuk kangmasmu lewat perantara seorang kyai, lalu diberi secarik kertas bertulisan Arab. Namanya apa tadi?"

"Azimat, Om, untuk dikalungkan ke leher kambing."

"Menurutmu azimat itu sama gak fungsinya dengan resep dari dokter tadi?"

"Ya hampir sama, Om. Yang satu untuk dibelikan obat lalu diminum, yang satu untuk dikalungkan ke leher kambing lalu disembelih dan disedekahkan."

"Oke, Sa. Fungsinya hampir sama, ya. Sama-sama sebagai ikhtiar agar sembuh dari sakit. Tapi kenapa kalau ikhtiar dengan resep dokter, ponakan dan kangmas tidak ragu-ragu, sedangkan dengan azimat dari kyai jadi takut syirik?"

"Mungkin karena istilah azimat itu, Om."

"Kalau Sasa pakai azimat atau susuk untuk kesaktian, penglaris, atau pelet penakluk cewek, dsb, itu memang bisa jadi syirik. Mending dihindari. Tapi azimat untuk kangmasmu itu kan hanya media untuk memindahkan penyakit ke tubuh kambing. Iya, kan?"

"Leres, Om. Tapi itu termasuk penyiksaan terhadap kambing gak ya, Om?"

"Ya enggaklah, Sa. Kan kambingnya langsung disembelih dan disedekahkan dagingnya. Itulah kemuliaan kambing, bisa disembelih dan dimakan dagingnya. Kalau kambingnya dibiarkan sakit berkepanjangan, itu baru namanya penyiksaan."

"Wah saya jadi lega sekarang. Sudah plong. Matur nuwun ya, Om. Saya nyuwun pamit dulu, ya. Saatnya berangkat tugas...."

Matahari sudah hampir sapenggalah. Sahabatku langsung genjot supercup tuanya menuju warung Soto Karyongali Jolotundo, kembali ke rutinitas paginya.

#serialsasa


Selasa, 03 Desember 2019

GEBYAH UYAH

GEBYAH UYAH

"Om, kayaknya akan terjadi lagi situasi seperti jaman kita sekolah dulu, ya," kata Sasa sambil membantuku nyebrang jalan di depan Soto Kartongali yang padat.

"Situasi yang mana, Sa?"

"Pak Siroj guru kita dulu dan beberapa tema ngajinya ditangkap karena dituduh mau mendirikan Negara Islam. Masih ingat to, Om?"

"Ya masih ingatlah, Sa. Mereka kena pasal subversif, dituduh merongrong kewibawaan Pemerintah."

"Ya itu, Om. Guru kita divonis 7 tahun. Teman-tamannya ada yang 5 tahun dan 6 tahun," kenang Sasa sambil mengikutiku duduk di meja belakang. Sambil menunggu soto dan teh nasgithel terhidang, kulayani obrolan Sasa yang tampak gelisah pagi ini.

"Tapi itu kan dulu, Sa, waktu masih ada Undang-Undang Subversif. Sejak reformasi 1998, UU itu dicabut. Jadi sekarang beda situasinya, Sa. Jauh lebih kondusif."

"Awalnya memang kondusif, Om. Tapi belakangan mulai nyamari, mengkhawatirkan."

"Maksudmu?"

"Katanya masjid-masjid mau diawasi polisi, khotib dan ustad harus bersertifikat, majelis taklim harus legal dan terdaftar resmi, apa nanti gak jadi tegang situasinya?"

"Ya gak usah tegang, Sa. Slow wae," jawabku santai sambil mulai menyantap soto yang sudah tersaji.

"Jumatan dan pengajian di kampungku bisa bubar lho, Om."

"Kenapa bubar?"

"Ya bubar. Jadi sepi gak ada kegiatan."

"Kok bisa?"

"Ya bisa saja. Lha wong masyarakat kami dulu membangun mesjid secara swadaya kok, urunan sak mampune, tidak ada bantuan dari Pemerintah. Setelah masjid bisa digunakan, beberapa orang termasuk aku ditunjuk jadi khotib jumat dan giliran mengisi tausiyah setiap selapan sekali. Beberapa anak muda tiap sore juga ngajari anak-anak mengaji."

"Bagus itu, Sa. Di mana-mana juga begitu."

"Kalau kegiatan mesjid diaeasi, nanti para khotib, guru ngaji, dan anak-anak yang belajar mengaji jadi takut, Om. Bubar kabeh."

"Jangan apriori dulu, Sa. Maksud Pemerintah itu baik. Keutuhan dan keamanan negara ini harus dijaga dari segala bentuk gangguan radikalisme. Segala potensi gangguan harus dicegah sejak dini."

"Berarti semua kegiatan masjid dan majelis taklim dianggap bisa mengganggu kemanan negara, Om? Itu namanya gebyah uyah. Semua orang yang ke masjid dianggap radikal, lalu ditangkapi dan dijebloskan ke penjara seperti guru kita dulu? Terlalu."

"Ya tidak sejauh itu, Sa. Kalau itu terjadi namanya Pemerintah melakukan pelanggaran Hak Azasi Manusia. Bisa heboh seluruh dunia."

"Mudah-mudahan hanya isu dan tidak benar-benar terjadi ya, Om."

"Slow wae. Sasa tetap saja jadi khotib dan guru ngaji. Gak usah takut."

"Ya sudah, Om. Aku mau bertugas lagi. Matur nuwun obrolanipun, njih."

Sasa bergegas kembali ke parkiran. Aku pun langsang membayar makana di kasir dan langsung pulang.

#serialsasa