Rabu, 27 Mei 2020

KUPAT DIGITAL

KUPAT DIGITAL

Tentu bukan hanya Pak Bei yang merasakan betapa Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini terasa sangat luar biasa. Bukan hanya umat Islam yang merasakan bedanya, bahkan yang non-muslim pun __terutama palaku bisnis__ pasti merasakan betapa tahun ini roda ekonomi betul-betul kempes dan loyo, bahkan mandhek. Tidak ada prepegan, kata orang Jawa. Pendemi Covid-19 telah memaksa semua lini kehidupan lockdown. Ribuan atau bahkan jutaan pekerja pabrik terkena PHK. Juga pekerja bangunan, tukang ojek online, pelaku UMKM, pedagang pasar tradisional, warung-warung makan, terpaksa tutup usaha dan  nganggur. Semua orang harus menjalani social and phisical distancing, menjaga jarak sosial dan fisik, sehingga tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang sangat penting. Masjid-masjid dan tempat ibadah lainnya, semua tempat berkumpul banyak orang termasuk sekolah dan kampus, harus ditutup. Sungguh, ini lelakon yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, tapi nyata-nyata terjadi dan dirasakan semua orang.

Pagi itu, sepulang dari sholat Ied bersama warga sekampung di jalan desa dekat rumah, seperti lebaran biasanya, Bu Bei dan anak-anak bergiliran ujung kepada Pak Bei, bersimpuh  memohon maaf atas segala kesalahan. Pak Bei pun membalasnya dengan permintaan maaf yang sama, mencium keningnya, dan khusus kepada anak-anak selalu disertai doa dan nasihat untuk kebaikannya. Setelah ujung kepada Pak Bei, anak-anak pun ujung satu-persatu kepada Bu Bei. Adegan sakral ini tidak jarang disertai sesenggukan dan  tetesan air mata Bu Bei dan anak-anak. Setelah itu, ketiga anak Pak Bei-Bu Bei pun saling bermaafan satu sama lain.

Biasanya tak lama setelah itu, ponakan-ponakan dan tetangga mulai berdatangan untuk ujung kepada Pak Bei-Bu Bei. Setelah ujung, mereka menyerbu aneka kue kering dan basah yang terjajar rapi di meja dan gelaran karpet. Ada yang betah berlama-lama ngobrol dengan Pak Bei-Bu Bei, banyak juga yang tergesa-gesa karena ingin segera pindah ujung ke rumah lainnya.

Tapi itu semua tidak terjadi pada lebaran kali ini. Sejak beberapa hari lalu, takmir masjid telah mengumumkan akan menyelenggarakan sholat Ied dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah. Setelah sholat Ied, tidak ada halal-bihalal dengan bersalam-salaman dan ujung dari rumah ke rumah. Itu semua diganti dengan pembacaan ikrar halal-bihalal seusai sholat Ied yang dipimpin oleh petugas dan diikuti seluruh jamaah. Usai sholat Ied, semua dihimbau pulang dan menutup pintu rumahnya masing-masing.
Begitulah lebaran kali ini semua orang menikmatinya bersama keluarga masing-masing. Tanpa tamu, tanpa persediaan kue dan aneka makanan seperti biasanya. Sungguh terasa sangat istimewa.

Pak Bei-Bu Bei dan anak-anak asyik dengan gadgetnya masing-masing, berlebaran dan bermaafan dengan keluarga dan kolega secara virtual. Ada yang cukup dengan pesan WA, tapi beberapa harus melalui video call. Semua orang bergembira dan saling memaklumi keadaan.

Pak Bei-Bu Bei duduk di meja makan dan sedang asyik berbalas ucapan Idul Fitri dengan teman-temannya, tiba-tiba terdengar ada orang mengucapkan salam dan mengetuk pintu depan. Cahya anak sulung Pak Bei pun segera beranjak membukakan pintu dan mempersilakan tamunya duduk di kursi depan.

"Yah, ada tamu teman Ayah," kata Cahya.

Pak Bei beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju ruang tamu di depan.

"Assalaamu'alaikum.....," seru tamunya begitu tampak Pak Bei di pintu.

"Wa'alaikumsalam.....alhamdulillaah ada tamu agung ini," jawab Pak Bei dengan gembira.

"Namaku masih Sasa, Pak Bei, bukan Agung," jawab tamunya disertai suara tawa terkekeh-kekeh.

Ternyata Sasa tamu agung Pak Bei hari ini, teman sekolah di SMP Muhammadiyah Jatinom dulu dan sahabat di usianya yang sama-sama tak lagi muda.

"Piye kabarmu, Sa?," tanya Pak Bei pada sahabatnya. "Sudah lama kita gak ketemu, ya," sambungnya.

"Alhamdulillaah waras-wiris, Pak Bei," jawab Sasa sambil menggeser duduknya mendekat ke Pak Bei dan menyodorkan tangan untuk salaman. Rupanya Sasa mau ujung pada Pak Bei.

"Ngaturaken sungkem pangabekti kula dateng Pak Bei, Sugeng Riyadi, sedaya kalepatan nyuwun agunging pangaksami," Sasa menyampaikan ucapan lebarannya dengan takdzim.

"Hiyo podho-podho, Sa, semono uga aku akeh klera-kleruku marang sliramu, aku njaluk lumunturing sih kawelasan lan pangapuramu. Mugo-mugo dosaku lan dosamu dingapura dening Gusti Allah ing dina riyaya iki....aamiin," Pak Bek pun menjawab dengan panjang dan tak kalah takdzimnya.

Bu Bei keluar dengan membawa nampan dan dua gelas kopi.

"Alhamdulillaah ada tamu agung yang lama tidak kelihatan, " kata Bu Bei sambil meletakkan nampan di meja." Ngaturaken Sugeng Riyadi nggih, Pak Sasa. Sedaya lepat kula nyuwun pangapunten," lanjutnya.

"Njih, Bu Bei, semanten ugi kula tiyang sepuh kathah klenta-klentu kula, nyuwun agunging pangaksami," jawab Sasa.

"Kok sendirian to, Pak Sasa? Mumpung lebaran mbokya Mbakyu diajak ke sini," kata Bu Bei.

"Walah Bu Bei ini, lho. Saya sowan ke sini ini kan nekad."

"Nekad bagaimana, Pak Sasa?"

"Di mana-mana tidak ada orang badan, berlebaran dari rumah ke rumah. Semua orang nutup pintu, asyik dengan keluarganya masing-masing. Tidak ada silaturahmi, bertatap muka, dan bermaafan, lalu makan kupat bersama sebagai tanda ngaku lepat, mengakui kesalahan dan meminta maaf," Sasa seakan mendapatkan ember untuk menumpahkan kegelisahannya.

"Ya memang, Pak Sasa."

"Katanya sekarang ini jamannya kupat digital, Bu Bei, ngaku lepat dan bermaafan tapi cuma lewat hp."

"Ya karena kahanan kok, Pak Sasa. Semua orang harus menjaga diri agar tidak terkena virus corona."

Sasa nyeruput kopi, menyulut rokok, lalu melanjutkan bicaranya, "Lha kalau saya ya gak bisa to, Bu Bei. Saya ini pegang hp saja cuma kadang-kadang, hanya kalau pas ada perlu, saya pinjam hp anak. Dan menurut saya, yang namanya badan itu ya harus sowan, bersalaman sambil ngucapkan Sugeng Riyadi dan minta maaf."

"Sebenarnya saya juga  merasa tidak lega, Sa, kurang marem. Lebaran kok jadi sepi nyenyet begini. Tapi mau gimana lagi, lha wong kahanan mengharuskan seperti ini.  Kita berdoa saja semoga kahanan segera membaik dan kita bisa hidup normal lagi."

"Leres, Pak Bei. Saya juga sudah kangen pengin kerja lagi seperti biasa di parkiran Soto Kartongali dan malamnya melayani pijet sedulur-sedulur yang ngersakke."

"Sudah lockdown berapa lama, Pak Sasa?"

"Wah lumayan lama, Bu Bei. Sejak sebelum puasa warung sudah sepi. Bulan puasa tutup total. Jadi saya nganggur ngethekur di rumah sudah sebulan lebih. Untung kemarin masih ada beberapa ekor jago bangkok bisa saya jual ke pasar buat makan. Tapi sekarang sudah habis. Belum tahu besok mau jual apa lagi."

Trenyuh hati Pak Bei mendengar cerita sahabatnya.Tapi Sasa bukanlah satu-satunya. Pak Bei jadi teringat sejak sebelum Ramadhan banyak tamu datang dan minta pekerjaan. Mereka para penjahit borongan yang selama ini bekerja pada beberapa juragan konveksi. Karena pasar Klewer, Beringharjo, dan Tanah Abang ditutup, maka para pelaku usaha konveksi pun ikut tutup sehingga ribuan tenaga jahit kehilangan pekerjaan.

Miris Pak Bei membayangkan kalau pendemi ini tidak segera berakhir, entah berapa banyak orang yang akan mati kelaparan karena kehilangan pekerjaan dan sumber penghidupan.
Wallahua'lambishawab....

#serialpakbeibubei

Jumat, 01 Mei 2020

KARANTINA MANDIRI

KARANTINA MANDIRI

Ini hari ke delapan keluarga Pak Bei menjalani karantina mandiri, tidak srawung dengan tetangga kiri-kanan dan tidak ikut sholat jamaah di masjid. Keputusan itu diambil setelah minggu lalu Bu Bei mendapat teguran keras dari tetangga gara-gara Pak Bei dan Cahya anak lakinya ikut sholat Jumat di masjid.

"Pak Bei sekeluarga kan baru pulang dari Palembang. Mbok isolasi dulu di rumah, gak usah ke masjid. Sebagai tokoh, mestinya Pak Bei bisa memberi contoh bagi masyarakat," begitu kalimat yang dikirim via WA.

Mak-jleb. Tusukan pisau itu terasa sangat tajam mengoyak ulu hati Bu Bei dan Pak Bei. Perih rasanya. Kepergian Pak Bei sekeluarga ke Palembang tempo hari seolah dalam rangka dolan atau kulakan virus corona di zona merah. Sungguh sadis. Boro-boro orang itu berbasa-basi dulu, tanya-tanya soal perjalanan, atau syukur mengucapkan bela-sungkawa atas meninggalnya ibu tercinta.
Tidak. Tidak penting mengetahui ke mana perginya keluarga Pak Bei. Tidak perlu tahu untuk apa orang bepergian. Tidak perlu juga tahu satus kota yang dituju itu termasuk zona hijau, kuning, atau merah. Orang-orang sudah gebyah uyah dengan kesimpulannya sendiri bahwa keluarga Pak Bei yang baru pulang dari bepergian pasti membawa virus corona sehingga haram ikut sholat jamaah di masjid.

"Gak apa-apa, Yah. Inilah resiko hujan informasi via medsos. Orang tidak lagi bisa berpikir rasional dan adil. Yang ada hanya ketakutan berlebihan terhadap covid-19. Kita maklumi saja. Gak usah dilawan," kata Cahya mencoba menenangkan Pak Bei dan Bu Bei. "Ini justru kesempatan kita menikmati ibadah Ramadhan di rumah saja, gak usah repot-repot ke masjid," sambungnya.

"Tapi orang itu sudah kebangetan, Le. Terlalu," kata Bu Bei.

"Namanya juga orang awam kok, Bun. Tahunya setiap orang yang pulang dari bepergian ya harus isolasi diri selama 14 hari," jawab Cahya.

"Le, kita ke Palembang bukan untuk piknik, lho. Nenekmu sakit keras di Rumah Sakit, kita gak bisa ke sana. Hingga nenekmu meninggal pun kita tak bisa langsung ke sana. Bunda ini anak mbarep, Le. Sedih sekali. Tapi ya sudahlah.....," Bu Bei menyeka air matanya.

"Baiklah, ayah setuju jalan pikiran Cahya," Pak Bei siap mengambil keputusan. "Kita sementara ini tidak akan ikut arus masyarakat yang tetap ingin mengadakan jamaah sholat Jumat dan sholat Tarawih di masjid. Biarkan saja mereka. Kita doakan semoga itu menjadi pilihan yang terbaik," lanjut Pak Bei.

"Mulai saat ini hingga setidaknya 14 hari ke depan, kita mengisolasi diri di rumah. Karantina mandiri. Kita nikmati Ramadhan tahun ini di rumah kita sendiri. Kita sholat jamaah rawatib, tarawih, dan tadarus di rumah."

Begitulah keputusan Pak Bei di awal Ramadhan yang disambut gembira oleh Bu Bei dan ketiga anaknya. Ruang gandhok yang biasa menjadi tempat berkumpul dan ngobrol telah disulap manjadi tempat sholat jamaah yang nyaman, dengan gelaran dua karpet tebal. Di salah satu tiang juga dipasang kipas angin tornado agar ketika sholat berjamaah tidak ada yang merasa gerah. Seusai berbuka dan sholat maghrib, Cahya biasa memimpin kedua adiknya, Zika dan Alya, membaca Al Quran. Tentu Zika dan Alya pun tidak keberatan karena tadarus itu sudah menjadi kebiasaan mereka di Pondok Gontor Putri.

Urusan menu buka puasa dan sahur, itu sepenuhnya menjadi kewenangan Bu Bei. Di samping masak sendiri, Bu Bei juga suka pesan kue atau lauk-pauk ke teman-temannya yang punya bisnis makanan. Nglarisi jualan teman, begitu komitmen Bu Bei yang selalu ditanamkan ke anak-anaknya.

Ramadhan yang indah, semua dilakoni dengan gembira.

#serialpakbeibubei