Jumat, 01 Mei 2020

KARANTINA MANDIRI

KARANTINA MANDIRI

Ini hari ke delapan keluarga Pak Bei menjalani karantina mandiri, tidak srawung dengan tetangga kiri-kanan dan tidak ikut sholat jamaah di masjid. Keputusan itu diambil setelah minggu lalu Bu Bei mendapat teguran keras dari tetangga gara-gara Pak Bei dan Cahya anak lakinya ikut sholat Jumat di masjid.

"Pak Bei sekeluarga kan baru pulang dari Palembang. Mbok isolasi dulu di rumah, gak usah ke masjid. Sebagai tokoh, mestinya Pak Bei bisa memberi contoh bagi masyarakat," begitu kalimat yang dikirim via WA.

Mak-jleb. Tusukan pisau itu terasa sangat tajam mengoyak ulu hati Bu Bei dan Pak Bei. Perih rasanya. Kepergian Pak Bei sekeluarga ke Palembang tempo hari seolah dalam rangka dolan atau kulakan virus corona di zona merah. Sungguh sadis. Boro-boro orang itu berbasa-basi dulu, tanya-tanya soal perjalanan, atau syukur mengucapkan bela-sungkawa atas meninggalnya ibu tercinta.
Tidak. Tidak penting mengetahui ke mana perginya keluarga Pak Bei. Tidak perlu tahu untuk apa orang bepergian. Tidak perlu juga tahu satus kota yang dituju itu termasuk zona hijau, kuning, atau merah. Orang-orang sudah gebyah uyah dengan kesimpulannya sendiri bahwa keluarga Pak Bei yang baru pulang dari bepergian pasti membawa virus corona sehingga haram ikut sholat jamaah di masjid.

"Gak apa-apa, Yah. Inilah resiko hujan informasi via medsos. Orang tidak lagi bisa berpikir rasional dan adil. Yang ada hanya ketakutan berlebihan terhadap covid-19. Kita maklumi saja. Gak usah dilawan," kata Cahya mencoba menenangkan Pak Bei dan Bu Bei. "Ini justru kesempatan kita menikmati ibadah Ramadhan di rumah saja, gak usah repot-repot ke masjid," sambungnya.

"Tapi orang itu sudah kebangetan, Le. Terlalu," kata Bu Bei.

"Namanya juga orang awam kok, Bun. Tahunya setiap orang yang pulang dari bepergian ya harus isolasi diri selama 14 hari," jawab Cahya.

"Le, kita ke Palembang bukan untuk piknik, lho. Nenekmu sakit keras di Rumah Sakit, kita gak bisa ke sana. Hingga nenekmu meninggal pun kita tak bisa langsung ke sana. Bunda ini anak mbarep, Le. Sedih sekali. Tapi ya sudahlah.....," Bu Bei menyeka air matanya.

"Baiklah, ayah setuju jalan pikiran Cahya," Pak Bei siap mengambil keputusan. "Kita sementara ini tidak akan ikut arus masyarakat yang tetap ingin mengadakan jamaah sholat Jumat dan sholat Tarawih di masjid. Biarkan saja mereka. Kita doakan semoga itu menjadi pilihan yang terbaik," lanjut Pak Bei.

"Mulai saat ini hingga setidaknya 14 hari ke depan, kita mengisolasi diri di rumah. Karantina mandiri. Kita nikmati Ramadhan tahun ini di rumah kita sendiri. Kita sholat jamaah rawatib, tarawih, dan tadarus di rumah."

Begitulah keputusan Pak Bei di awal Ramadhan yang disambut gembira oleh Bu Bei dan ketiga anaknya. Ruang gandhok yang biasa menjadi tempat berkumpul dan ngobrol telah disulap manjadi tempat sholat jamaah yang nyaman, dengan gelaran dua karpet tebal. Di salah satu tiang juga dipasang kipas angin tornado agar ketika sholat berjamaah tidak ada yang merasa gerah. Seusai berbuka dan sholat maghrib, Cahya biasa memimpin kedua adiknya, Zika dan Alya, membaca Al Quran. Tentu Zika dan Alya pun tidak keberatan karena tadarus itu sudah menjadi kebiasaan mereka di Pondok Gontor Putri.

Urusan menu buka puasa dan sahur, itu sepenuhnya menjadi kewenangan Bu Bei. Di samping masak sendiri, Bu Bei juga suka pesan kue atau lauk-pauk ke teman-temannya yang punya bisnis makanan. Nglarisi jualan teman, begitu komitmen Bu Bei yang selalu ditanamkan ke anak-anaknya.

Ramadhan yang indah, semua dilakoni dengan gembira.

#serialpakbeibubei

Tidak ada komentar:

Posting Komentar