PULANG KAMPUNG
Akhirnya Bu Bei bisa tersenyum lega setelah Pak Bei menunjukkan bookingan 3 tiket pesawat Solo-Palembang atas nama Bu Bei dan kedua anak gadisnya, Zika dan Alya, untuk hari Rabu, serta 2 tiket atas nama Pak Bei dan Cahya untuk hari Minggu. Ya, keluarga Pak Bei-Bu Bei harus mudik ke Palembang, pulang kampung selama beberapa hari.
Sudah semingguan Bu Bei tampak murung dan sesekali air matanya berhamburan sejak mendengar kabar dari adiknya, si Heni, bahwa Ibunya yang sudah uzur itu diopname di rumah sakit dan kondisinya semakin menurun. Banjir air mata semakin tak terbendung ketika Jumat pagi bakda shubuh tanggal 10 April adiknya mengabarkan bahwa Ibu yang sangat dicintainya itu telah kembali ke haribaan Allah SWT dengan tenang.
Seharian Bu Bei tampak murung dengan matanya yang sembab. Sesekali Pak Bei memeluk dan berusaha menenangkannya, mengajaknya untuk ikhlas dannridho menerima takdirNya. Sholat ghaib, sholat jenazah dari jauh, alias tanpa menghadap jenazah di depannya, telah dilakukan tadi pagi bersama seluruh karyawannya.
"Anak-anakku, sahabat-sahabatku, bakda shubuh tadi ibu kami di Palembang telah kembali ke hadirat Allah SWT setelah sakit selama seminggu," kata Pak Bei memberi pengantar sebelum sholat ghaib dimulai. "Sebagai anak sulung, seharusnya kami sudah pulang ke Palembang sejak kemarin-kemarin agar bisa menemani dan merawat beliau di Rumah Sakit. Tapi tidak bisa. Situasinya tidak memungkinkan kami pulang kampung, mudik. Tidak mungkin," suara Pak Bei terdengar parau dan matanya tampak berkaca-kaca.
Bu Bei mengusap air matanya. Semua karyawan menundukkan kepala. Terharu. Semua orang paham kalau pun kemarin Pak Bei dan Bu Bei ke Palembang, kemungkinan juga tak akan bisa masuk ke Rumah Sakit untuk menunggui Ibu. Bisa jadi, mereka justru harus ikut karantina selama 14 hari di ruang isolasi milik Pemprov Sumsel di Jakabaring, atau setidaknya harus melakukan isolasi mandiri di rumah dengan status Orang Dalam Pengawasan (ODP). Maka tidak ada pilihan lain, keluarga Pak Bei harus ikhlas mendoakan Ibu dan nenek tercinta dari jauh, bahkan hingga beliau meninggal dunia pagi itu.
"Anak-anakku dan sahabat-sahabatku, kami minta kalian membantu berdoa dengan bersama-sama melakukan sholat ghaib, semoga Ibu kami mendapatkan husnul-khotimah, diampuni semua dosanya, dilapangkan kuburnya, dan mendapatkan tempat terbaik di sisiNya. Marilah kita mulai sholat ghaib, semoga Allah SWT meridhoi...aamiin."
Lima hari kemudian, Bu Bei bersama Zika dan Alya pun terbang ke Palembang dengan keyakinan akan dimudahkan segala urusan selama perjalanan. Pak Bei dan Cahya anak lelakinya akan menyusul lima hari kemudian setelah menuntaskan dulu ratusan order baju APD dari dokter dan Rumah Sakit di berbagai daerah. Maklumlah, semua dokter dan tenaga medis menunggu-nunggu datangnya APD yang sudah dipesannya sejak beberapa hari lalu. Tentu Pak Bei pun harus menjaga komitmennya meski dalam situasi yang serba sulit itu.
Agenda terpenting kepulangan keluarga Pak Bei-Bu Bei tentu menziarahi makam almarhumah Ibu Hodimah binti Ahmad Rifa'i di kompels pemakaman umum Puncak Sekuning. Misi berikutnya adalah memimpin adik-adiknya untuk berembuk tentang berbagai hal sepeninggal Ibu. Maklumlah, ayahnya, yakni Bapak Ali Kusmen, sudah meninggal 15 tahun yang lalu ketika menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Ma'la di luar kota Mekah. Sepeninggal Ibu, maka Bu Bei sebagai anak sulung harus tampil memimpin ketiga adiknya agar selalu rukun dan tetap akrab satu sama lain.
Bu Bei menyadari bahwa ketiga adiknya punya kesibukan dengan keluarganya masing-masing. Ketiganya tinggal di kota Palembang, dan hanya Bu Bei yang tinggal di Jawa sejak lulus SMA dan kuliah di Bulak Sumur Jogjakarta lalu mendapat suami Pak Bei yang orang Jawa. Selama ini, si-Heni anak nomor dualah yang total menemani dan merawat Ibu, hingga rela melepaskan pekerjaannya sebagai insinyur sipil. Si-Deni anak ketiga punya kesibukan menemani dan merawat ibu mertuanya yang juga sudah uzur. Si bungsu Aisyah masih rempong dengan kedua anaknya yang masih balita. Begitulah, kepulangan Bu Bei sungguh sangat berarti bagi keutuhan keluarga alm. Pak Ali Kusmen.
"Selamat datang, Pak Bei sekeluarga. Semoga selama perjalanan ke Palembang hingga pulang ini tidak mengalami hambatan apapun," kata Pak Kades yang langsung datang bersama Pak RT begitu keluarga Pak Bei tiba di rumah.
"Njih, Pak Kades. Matur nuwun kerawuhanipun. Alhamdulillah perjalanan kami sangat lancar, tidak semenakutkan kabar atau berita yang setiap hari kita baca di medsos," jawab Pak Bei.
"Apa gak ada pemeriksaan ketat ketika sampai di sana, Pak Bei?," tanya Pak RT."
"Blas gak ada, Pak RT. Sama sekali tidak ada, selain di bandara semua penumpang yang datang wajib mengisi Formulir Kewaspadaan," jawab Pak Bei.
"Apa Palembang belum termasuk zona merah ya, Pak Bei?," tanya Pak Kades.
"Entahlah. Dengar-dengar mulai tanggal 25 akan berlaku PSBB. Tapi gak apa-apa, toh kami sudah keluar dari sana."
"Untung Pak Bei sudah kembali. Kalau belum bisa repot," kata Pak RT.
"Repot bagaimana, Pak RT?"
"Looh...Pak Bei belum dengar, ya? Kemarin Pak Presiden melarang seluruh rakyat mudik lebaran. Besok tidak boleh ada orang mudik, Pak Bei."
"Yang dilarang kan mudik, Pak RT? Kalau pulang kampung kan boleh. Iya to, Pak Kades?"
Pak Kades hanya senyum-senyum tidak menjawab sepatah kata pun. Hari sudah menjelang maghrib. Pak Kades dan Pak RT pun berpamitan. Pak Bei masuk rumah dengan senyum-senyum mengingat kabar Pak RT tentang larangan mudik.
"Yang dilarang kan mudik, bukan pulang kampung," kata Pak Bei dalam hati dengan geli.
#serialpakbeibubei
Tidak ada komentar:
Posting Komentar