Sabtu, 04 April 2020

GLOBAL DETOX

GLOBAL DETOX

Sudah sepuluh hari terakhir ini Pak Bei dan Bu Bei tampak sangat sibuk melayani pesanan baju Alat Pelindung Diri (APD) dari berbagai penjuru Tanah Air. Para dokter, dokter gigi, perawat, bidan, ormas, dan kelompok masyarakat peduli, setiap hari sejak pagi hingga tengah malam tanpa henti menelpon atau kirim pesan WA, dari bertanya-tanya hingga memesan (PO), lalu mendesak minta APD segera dikirim. Maklum, di mana-mana terjadi krisis APD. Mereka pun terpaksa saweran untuk mencari APD. Sayangnya, Pemerintah baik Pusat maupun Daerah tampak tidak cukup siap menghadapi wabah pendemi ini. Sebagai kepala urusan PR dan CS, Pak Bei harus sabar merespon satu-persatu karena paham betapa para tenaga medislah yang paling beresiko dalam perang melawan corona.

Sebagai kepala urusan produksi, Bu Bei pun tak kalah sibuk dan tegangnya. Menjelang tidur, Bu Bei harus merekap semua order yang masuk lewat Pak Bei, lalu menghitung berapa bahan baku dan bahan penunjang yang dibutuhkan dan diorder ke suplayer, serta membagi pekerjaan untuk karyawan dan mitranya di luar. Bu Bei juga harus terus menggalang mitra kerja produksi, baik penjahit perorangan maupun koleganya sesama pengusaha konveksi yang saat ini terpaksa berhenti produksi karena pasar-pasar langganannya di kota besar  terkena kebijakan lockdown. Untuk urusan mencari mitra, baik mitra produksi maupun suplayer, tidak jarang Bu Bei mengajak Pak Bei untuk bantu meyakinkan. Upase mandi, begitu istilah Bu Bei agar Pak Bei mau membantunya meyakinkan calon mitra.

Ada hal menarik dari obrolan bakda sarapan pagi ini. Sambil mengupas pepaya kesukaannya, Bu Bei seperti ngundamana, berbicara sendiri mereview kahanan yang sedang terjadi.

"Tampaknya kali ini Gusti Allah sungguh-sungguh mendetox alam ciptaanNya ya, Pak Bei."

"Mendetox bagaimana maksud Bu Bei?"

"Tentu Pak Bei masih ingat kejadian Tsunami di Aceh dn Padang, gempa bumi di Jogja dan Klaten, gunung Merapi meletus, gunung Kelud, gunung Agung, gempa Lombok dan likuifaksi di Palu?"

"Ya masih ingat."

"Itu bencana cuma lokal. Memang sangat memilukan karena banyak jatuh korban nyawa dan benda.

"Iya, terus...."

"Setelah recovery, biasanya daerah-daerah yang dulu porak-poranda menjadi tampak maju dan lebih makmur."

"Iya ya. Betul itu, Bu Bei." Pak Bei jadi teringat, sejak letusan gunung Merapi hingga saat ini, setiap hari ada ribuan truk lalu lalang mengangkut material tambang galian-C. Masyarakat setempat menjadi makmur bahkan kaya-raya, baik yang hanya menjadi buruh maupun pengelola kegiatan penambangan. Para pejabat Daerah yang biasanya jadi investor alat-alat berat, truk, begho, atau pemecah batu, dan sekaligus pemilik ijin penambangan, seakan panen raya tiada henti swlama bertahun-tahun. Konon, hasilnya bisa milyaran per bulan.

"Jadi, memang setiap terjadi bencana pasti ada korban sekaligus kepiluan, Pak Bei. Tapi sesudahnya, ada Rahmat Tuhan yang berlimpah-ruah dan bermanfaat bagi manusia."

"Tapi kali ini beda sekali, Bu Bei."

"Ya memang beda. Wabah Covid-19 ini menyerang seluruh dunia."

"Ya itulah, Bu Bei. Pada bencana lokal, masih ada Pemerintah Pusat yang gagah-perkasa membantu Pemerintah Daerah. Juga ada solidaritas dari masyarakat di daerah-daerah aman, dari berbagai negara kaya, dan bahkan PBB. Semua memberi bantuan besar-besaran, baik yang sifatnya jangka pendek, maupun untuk recovery pasca-musibah selama berbulan-bulan atau bahkan tahunan. Kalau sekarang, siapa yang mau membantu? Semua dalam ketakutan yang sama."

"Lha ya itulah, Pak."

"Sayang sekali tiap hari rakyat justru disuguhi para pejabat dan cerdik pandai yang masih saja eker-ekeran, bertengkar tiada habisnya, saling menyalahkan, sementara teman-teman tenaga medis harus di garda terdepan pertempuran tanpa dibekali peralatan memadai."

Azan dhuhur terdengar bersahutan. Obrolan pun diakhiri. Pak Bei dan Bu Bei bersiap ke masjid ikut sholat berjamaan. Untung mushola di depan rumah tidak dilockdown.

#serialpakbeibubei



Tidak ada komentar:

Posting Komentar