CUCI TANGAN
Anak-anak millenial menyebutnya 'makanan favorit'. Orang Jawa yang hidupnya sudah berorde-orde, sejak Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi alias sudah bisa disebut sepuh, menyebutnya kareman. Kalau lama tidak ketemu makan karemannya itu, rasanya ada yang kurang dalam hidupnya.
Semua orang punya kareman yang bisa berbeda satu-sama lain. Bahkan suami-istri yang sudah kaken-kaken ninen-ninen pun bisa berbeda karemannya. Seperti Pak Bei dan Bu Bei, misalnya. Pak Bei karemannya soto Kartongali. Meski hampir setiap pagi sarapan soto Kartongali, seolah tak ada bosannya bagi Pak Bei.
Berbeda dengan Pak Bei, Bu Bei punya kareman sarapan jenang lemu, bubur beras yang diberi sambel lethok, sayur sambel berbahan baku tempe besem atau setengah bosok. Aroma dan rasanya yang sedhep itu konon bagus untuk orang yang sering gangguan pencernakan yang perutnya sering kembung atau terasa senep atau sebah. Pada umumnya orang Jawa meyakini bahwa jenang lemu itu menu sarapan yang terbaik untuk pencernakan, terutama untuk bayi, anak-anak, dan manula.
Meski berbeda kareman, tapi Bu Bei lebih sering mengalah pada Pak Bei. Agaknya Bu Bei yang asli Pelambang itu sudah benar-benar Njawani, menjadi penganut prinsip 'wong ngalah dhuwur wekasane'. Lebih suka mengalah demi menjaga keharmonisan bebojoan. Seperti tadi pagi, misalnya, Bu Bei rela menemani Pak Bei sarapan soto Kartongali, dan sengaja tidak membeli jenang lemu pagi-pagi seperti biasanya.
Seusai membereskan pembagian pekerjaan untuk karyawannya, berangkatlah Pak Bei-Bu Bei menuju warung kareman Pak Bai di kawasan Jolotundo. Karena kebetulan pas hari pasaran Legi, jalanan menuju arah Jatinom sangatlah padatnya. Dengan sabar Pak Bei menyetir mobilnya pelan-pelan di belakang konvoi truk-truk pengangkut pasir Merapi yang akan menuju daerah Solo, Purwodadi, dan sekitarnya.
Setiba di depan Soto Kartongali, seperti biasa setiap mobil atau motor yang memberi sign mau parkir langsung disambut Sasa, si juru parkir teladan nasional. Dengan sigapnya, Sasa berlari dan memberi aba-aba agar mobil Pak Bei merapat parkir di sebelah kiri jalan yang kebetulan masih longgar. Badannya membungkuk-bungkuk, kedua tangannya seperti menari sambil menuding-nuding, dan mulutnya teriak-teriak kiri-kiri, terus-terus, hoop. Setelah roda depannya lurus, Sasa lari ke kanan mobil untuk membukakan pintu sopir.
"Walaah....jebul Pak Bei-Bu Bei to ini. Alhamdulillah. Sebentar-sebentar....," kata Sasa sambil cepat pasang badan menghentikan laju kendaraan dari arah kiri-kanan dengan bendera dan sempritannya. "Monggo-monggo....," Sasa mempersilakan Pak Bei-Bu Bei menyebrang jalan dengan aman.
Sampai di depan warung, ternyata Sasa masih mendampingi sahabatnya itu. "Nyuwun pangapunten, monggo wijik dulu sebelum masuk, "katanya mempersilakan Pak Bei-Bu Bei cuci tangan di washtafel.
"Wah anyar ini, Sa?" tanya Pak Bei mengomentari washtafel yang tampak masih baru dipasang.
"Injih, Pak Bei. Nyu normal katanya ..."
"Maksude piye kuwi?"
"Jaman sekarang kita diajak kembali seperti jaman kita kecil dulu, Pak Bei. Kalau mau makan harus wijik dulu. Cuci tangan pakai sabun. Jadi Kang Panut ya harus memasang kran air dan sabun ini di depan warung."
"Ini namanya protokol kesehatan, Sa."
"Iya ya, Pak Bei. Kalau jaman kita sekolah dulu setiap upacara bendera Senin pagi ada yang bertugas jadi protokol upacara. Sekarang kok ada protokol kesehatan...hahahaa....ada-ada saja ya."
Pak Bei-Bu Bei langsung masuk dan memilih tempat duduk yang masih longgar di dekat dapur, sedangkan Sasa kembali bertugas di parkiran. Dari tempat itu Pak Bei-Bu Bei bisa memperhatikan cara kerja Yu Siti, si koki warung, yang sedang menggoreng tempe dan pisang raja. Dapur warung itu tentu saja jauh dari kesan bersih karena masaknya masih menggunakan keren dan kayu bakar yang asapnya memenuhi ruangan. Beberapa pelayan tampak wira-wiri membuat teh nasgithel di meja dapur. Penggemar teh nasgithel tentu paham bahwa teh yang benar-benar terasa nyamleng itu bila airnya dimasak pakai arang atau kayu bakar, bukan pakai kompor gas apalagi kompor minyak.
Dua mangkok soto dan dua gelas teh nasgithel sudah tersaji. Sambal dan kecap kental manis yang khas telah terjajar di meja bersama piring-piring berisi tempe, tahu, dan pisang goreng. Kaleng karak, alias krupuk berbahan beras, tampak masib penuh. Pagi itu, Pak Bei benar-benar ketemu karemannya. Bu Bei pun tampak bahagia menemani.
Tak berapa lama, Pak Bei-Bu Bei tampak sudah selesai menyantap sotonya. Sasa pun segera mendekat dan bergabung duduk di depan Pak Bei.
"Sekarang semua orang harus rajin cuci tangan ya, Pak Bei," kata Sasa.
"Iya, Sa. Demi menjaga kebersihan dan kesehatan, agar terhindar dari pendemi virus corona," jawab Pak Bei sambil tangannya meraih gelas teh nasgithel.
"Saya kok agak khawatir akan salah kedaden, Pak Bei."
"Salah kedaden bagaimana?"
"Seperti kata Pak Bei tadi, maksud rajin wijik itu kan supaya orang terjaga kebersihan dan kesehatannya, to?"
"Ya betul itu."
"Saya khawatir nanti akan terjadi orang suka cuci tangan dari masalah yang dibuatnya. Tidak mau bertanggung jawab. Sok bersih. Kemresik."
"Walah Sa, maksudmu itu, to? Ya mudah-mudah tidak terjadi. Mbokya berpikir positif saja."
"Orang sekarang juga disuruh tutup mulut ya, Bu Bei?"
"Pakai masker, Mas Sa."
"Iya. Benar-benar wolak-waliking jaman."
"Maksudnya?"
"Lha kemarin-kemarin kita suka sinis pada wanita yang pakai jubah dan cadar yang kelihatan cuma matanya. Dibilang kayak ninja, radikal, dan sebagainya. Iya to, Bu Bei? Sekarang semua orang gak perempuan gak laki-laki, gak orang-tua gak anak-anak, semua harus pakai masker hingga yang kelihatan cuma matanya."
"Iya juga ya, Mas Sa."
"Makanya, kalau tidak menyukai sesuatu itu mbok jangan kebangetan ya, Bu Bei. Bisa keweleh, kata simbah. Sekarang kita jadi tahu bahwa ternyata pakai cadar itu baik juga,. Iya to, Bu Bei?"
"Iya ya, Sa. Benar juga katamu, kata Pak Bei. "Gething nyadhing, kata orang tua dulu. Yang kita benci setengah mati, ternyata sekarang harus kita lakukan juga. Yang kita sangka buruk, ternyata baik," lanjutnya.
Bu Bei beranjak ke kasir untuk membayar makanannya. Pak Bei berjalan ke depan bersama Sasa sambil terus ngobrol, entah apa lagi yang diobrolkannya. Tidak langsung nyebrang jalan, tapi Pak Bei menunggu Bu Bei sambil berdiri bersama Sasa di depan warung. Baru setelah Bu Bei datang, Sasa langsung pasang badan mengamankan sahabatnya itu menyebrang jalan, lalu memberi aba-aba mobilnya keluar dari parkiran dengan aman.
#serialpakbei-bubei
#6/7/20