BLANTIK
Hari masih pagi. Matahari merah mulai menyapa dunia dari arah timur. Beberapa ibu-ibu tetangga tampak wira-wiri di jalan depan rumah untuk urusan membeli jenang lemu di warung Budhe Wur untuk sarapan anak-anaknya. Beberapa petani tampak sudah asyik mencangkul dan mengolah sawahnya. Seperti biasa, Pak Bei menggerakkan badannya dengan menyapu halaman, membersihkan daun-daun kering dari pohon alpukat yang rimbun. Sampah daun kering itu lalu dibakar di jogangan di sudut halaman. Bu Bei asyik menyirami pot-pot bunga dan tanaman sayur di polibek hitam yang terjajar rapi di sudut halaman.
"Assalaamu'alaikum....," terdengar uluk salam perempuan yang suaranya tidak asing bagi Bu Bei. Itu suara Yu Mur, kitcen staf alias asisten dapur Bu Bei.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Bei. "Kok tumben mruput, Yu? Masih jam segini sudah datang."
"Injih, Bu Bei. Ada perlu sedikit dengan Pak Bei. Mau matur."
"Dengan Pak Bei?"
"Injih."
"Wah tampaknya kok penting baget to, Yu. Pak Bei, ini lho Yu Mur mau matur," Bu Bei memanggil Pak Bei.
Pak Bei yang sedang asyik membakar sampah pun beranjak untuk bergabung dengan Bu Bei dan Yu Mur.
"Ada apa, Yu? Mau pamit gak kerja?"
"Bukan, Pak Bei. Saya disuruh Pakne supaya matur Pak Bei."
"Loh kok bukan bojomu sendiri yang ke sini?" tanya Pak Bei.
"Tadi saya ajak gak mau, malu katanya."
"Walah kok ndadak isin. Mau ngomong apa, to?"
"Begini....katanya sekarang Pak Bei jadi blantik sapi, ya?"
"Haah....kata siapa, Yu?,"
"Kemarin Bu Bei cerita katanya setiap menjelang Idul Adha Pak Bei jualan sapi kurban."
Tidak pernah terpikir di benak Pak Bei bahwa kegiatannya membantu ponakan menjual sapi kurban ternyata disebut blantik oleh asisten dapurnya.
"Hiyo, Yu. Sekarang aku jadi blantik. Terus piye, Yu?," tanya Pak Bei.
"Kami mau nyuwun tulung Pak Bei."
"Minta tolong apa?"
"Minta tolong Pak Bei jualkan sapi-sapi kami."
"Loh...Yu Mur punya sapi, to? Elok tenan. Ada berapa ekor?"
"Celengan kok, Pak Bei. Cuma dua ekor," jawab Yu Mur dengan malu-malu.
"Wah hebat ...alhamdulillah Yu Mur bisa punya tabungan dua ekor sapi," Bu Bei tampak senang.
"Jebul nyait Kowe, Yu. Kaya. Punya celengan dua sapi."
"Alhamdulillah, Pak Bei. Untuk kerja sambilan Pakne setiap pagi dan sore."
"Mau dijual berapa sapimu, Yu?"
"Pak Bei mirsani ke kandang dulu saja. Kalau sudah pirsa, pasti Pak Bei bisa naksir harganya, pantasnya dijual berapa."
"Yho wis. Bilang sama bojomu, Insya Allah tak bantu. Nanti aku ke kandang jam 9nan, ya."
"Njih, Pak Bei. Matur nuwun sanget."
Yu Mur pamit pulang. Dia nanti akan kembali lagi sebelum jam 8 untuk bekerja seperti biasanya, memasak makanan untuk 30an karyawan Bundaco, membersihkan rumah, dan mencuci pakaian keluarga Bu Bei. Suami Yu Mur, Kang Suhar namanya, biasa bekerja sebagai buruh bangunan. Sebagaimana orang desa pada umumnya, Kang Suhar juga menggarap sepetak sawah warisan untuk ditanami padi atau sayuran. Ternyata hasil kerja mereka bisa ditabung dalam wujud 2 ekor pedet, anakan sapi, lalu dipelihara selama beberapa bulan untuk dijual pas menjelang Idul Adha. Begitulah umumnya wong ndesa, menjalani hidup dengan bersahaja, prasojo, apa adanya, ayem-tentrem dan tidak ngoyo.
#serialpakbeibubei
#3/7/20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar