Jumat, 20 November 2020

PANDEMI BELUM BERLALU

PANDEMI BELUM BERLALU

Nama lengkapnya Sugiat, biasa dipanggil Giat atau Yat. Tinggalnya sekampung dengan Pak Bei, tapi beda RT. Dia anak mbarep Yu Semi, teman main dan mengaji Pak Bei di madrasah sejak anak-anak hingga remaja dulu. Karena selepas SMA melanjutkan kuliah dan ngekos di Jogja, Pak Bei jadi tidak tahu persis kapan Yu Semi nikah dan melahirkan anak pertamanya si Giat itu. Kalau dilihat dari fisiknya yang gothot itu, usia Giat masih sekitar 25-27 tahun.

Sesuai dengan namanya, Giat sangat rajin bekerja. Cekatan. Pak Bei memang diam-diam suka memperhatikan etos kerja para pekerja bangunan yang sejak tiga bulan lalu terlibat dalam pembangunan nDalem  Pak Bei. Giat, salah satu pekerja yang bertugas sebagai asisten alias laden tukang itu, juga tak luput dari pantauan Pak Bei. Anak itu sangat rajin dan disiplin. Bila teman-temannya baru datang menjelang pukul 08.00, Giat sudah datang sejak setengah jam sebelumnya. Dia langsung cari-cari kesibukan, seperti menyiapkan adonan pasir-semen, mendekatkan material ke tempat yang mau digarap tukang, atau bahkan sekadar menyapu halaman rumah Pak Bei yang cukup luas itu. Bila halaman sudah bersih, dia lalu mengambil air dari blumbang untuk menyirami tanaman di polibek milik Bu Bei.

Tumben pagi ini Giat tidak seperti biasanya, tapi justru mendekati Pak Bei dan ikut duduk di meja batu di bawah pohon alpukat. Melihat gelagatnya, tampak ada hal yang ingin disampaikannya.

"Kok gak nyapu, Yat," tanya Pak Bei sambil meletakkan HPnya.

" Mboten, Pak Bei. Ini kok tumben halaman tidak banyak sampah seperti biasanya. Masih bersih. Apa kemarin sore sudah ada yang menyapu, ya?"

"Iya, kemarin sore aku sendiri yang nyapu, Yat. Idhep-idhep ngobahke awak," jawab Pak Bei sambil mengepulkan asap kretek dari mulutnya.

"Mohon maaf, Pak Bei. Saya mau tanya sedikit," kata Giat dengan wajahnya menunduk, entah malu entah takut.

"Tanya apa, Yat?"

"Begini. Usaha Pak Bei dan Bu Bei ini kan di tengah kampung, bukan di pinggir jalan raya,"

"Iya memang. Kenapa, Yat?"

"Tapi kok bisa ramai, ya? Tiap hari banyak tamu datang ke sini. Ada yang motoran, banyak juga yang mobilan. Kalau kulihat plat nomornya, banyak juga yang plat luar kota. Kok bisa, Pak Bei? Mereka beli atau cari apa, to?" tanya Giat. 

"Ya macam-macam, Yat. Ada yang beli jilbab, mukena, gamis, atau daster. Ada juga yang pesan seragam sekolah, madrasah, majelis taklim, seragam kantor, dan sebagainya."

"Lha kalau yang pakai mobil-mobil plat merah dan ada tulisan Rumah Sakit atau ada yang pakai ambulan itu cari apa, Pak Bei?"

"Ooh, itu biasanya rombongan dari Rumah Sakit atau Dinas Kesehatan mencari baju APD, Yat."

"Baju APD itu apa to, Pak Bei?"

"Baju APD itu baju Alat Pelindung Diri, biasa dipakai petugas kesehatan ketika menangani pasien yang kena Corona. Biasa juga dipakai oleh relawan atau tenaga pemulasaraan jenazah covid-19 di Rumah Sakit hingga prosesi pemakamannya."

"Ooh maksudnya baju yang brukut nutupi kepala hingga kaki itu, ya? Sering saya lihat di tivi."

"Iya, Yat. Biasanya masih dilengkapi sepatu boot, sarung tangan, masker, penutup wajah, dan kaca mata. Jadi rapat gak gampang kemasukan virus covid-19."

"Lha kok nyarinya ke sini, Pak Bei? Kan sudah ada dun-dunan APD dari Pemerintah, to?"

"Ya memang sudah ada paket APD dari Pemerintah untuk Rumah-Rumah Sakit, Yat. Tapi kan jumlahnya juga terbatas. Kalau APD dipakai setiap hari sejak awal pandemi beberapa bulan lalu, pasti sekarang juga sudah pada rusak. Perlu ganti. Kalau minta dun-dunan paket lagi dari Kementerian Kesehatan juga harus pakai prosedur dan butuh waktu, sedangkan APD harus siap saat ini juga demi menjaga keselamatan. Lha wong korban covid-19 di mana-mana malah semakin banyak kok, Yat."

"Jadi begitu ya, Pak Bei. Untung Njenengan dan Bu Bei buat APD. Jadi bisa bantu kahanan yang nggegirisi ini."

"Ya alhamdulillah, Yat. Waktu kami mulai buat APD di awal pandemi dulu memang niatnya bantu kahanan. Waktu itu kami trenyuh melihat berita viral para petugas medis terpaksa pakai jas hujan karena tidak punya APD. Aku juga gak nyangka APD kami jadi laris-manis, banyak yang pesan dari Sabang sampai Merauke. Itu di awal-awal pandemi dulu."

"Saya heran lho, Pak Bei, lha kok sekarang malah semakin banyak orang yang kena covid-19, ya. Kalau dulu kan cuma dengar kabar kejadian di tempat-tempat jauh dari sini. Lah sekarang kejadian malah di sekitar kita, tetangga kampung, dan bajkan orang-orang yang kita kenal sudah jadi korban."

"Makanya kita harus waspada, Yat. Tidak boleh lengah atau bahkan menganggap remeh, nyepelekke. Gak boleh, Yat. Makanya hindari kerumunan atau kumpul-kumpul banyak orang. Usahakan terus pakai masker, dan rajin cuci tangan."

"Wah lha kalau kerja bangunan seperti saya harus terus pakai masker ya sumpek, Pak Bei. Kalau sebentar-sebentar harus cuci tangan, ya malah gak jadi kerja, dimarahi Mas Mandor, gak ada bayaran...."

"Yho wis sing penting ati-ati lan waspada, Yat. Kerja yang baik. Sepulang kerja istirahat di rumah, gak usah begadang atau keluyuran yang tidak perlu."

Teman-teman kerja Giat sudah berdatangan. Mereka tampak langsung menuju tempat kerjanya masing-masing, tidak ada yang berani mendekat ke Pak Bei seperti Giat. 

"Ya sudah sana kerja dulu, Yat. Temanmu sudah datang semua itu."

"Njih, Pak Bei. Matur nuwun sampun maringi wekdal lan ilmu." Giat langsung berlari dan bergabung denga teman-temannya, mengaduk pasir-semen dan mendekatkannya ke tukang untuk memasang granit lantai. 

Seperti pagi biasanya, Pak Bei memperhatikan proses pembangunan rumah Limasan berbahan lawasan itu sejak awal hingga hampir rampung. Alhamdulillah sekarang bentuknya sudah kelihatan, tinggal finishing, dan tak lama lagi sudah bisa ditempati sebagai nDalem Pak Bei.

#serialpakbeibubei
#semogapandemisegeraberlalu




Tidak ada komentar:

Posting Komentar