Senin, 21 Juni 2021

WEDANG UWUH

WEDANG UWUH

Jam 9 malam, hujan sesorean baru saja mereda, tinggal menyisakan gerimis tipis dan udara yang terasa dingin. Pak Bei sedang menyalakan kompor hendak memasak air mau membuat minuman Wedang Uwuh untuk menghangatkan badan ketika tiba-tiba terdengar ada pesan WA masuk ke hpnya. Segera diambil hp di kamar dan dibukanya pesan WA. Dari Ustad Musthofa. 

"Ngopi, Om?" demikian pesan pendek dari Ustad Musthofa, persis seperti biasanya. Pak Bei pun paham betul maksud saudara sepupu yang juga teman mainnya sejak masa kecil itu. Dia pengin ngobrol. Ngobrol apa saja sambil wedangan.

"Siap, Mas," jawab Pak Bei singkat.

"Otw....," balas Ustad Mustofa.

Pak Bei pun kembali ke dapur. Air  yang hampir matang di atas nyala kompor ditambahinya lagi air biar cukup untuk 2 gelas, lalu dibukanya dua bungkus racikan wedang uwuh dan dituangkannya ke dalam gelas. Tak sampai dua menit, kedua gelas racikan wedang uwuh itu pun dicor dengan air mendidih. Minuman berwarna merah dengan aroma rempah yang sedap pun siap disajikan sebagai teman berbincang.

"Assalaamu'alaikum....," terdengar suara Ustad Mustofa uluk salam.

"Wa'alaikumsalam....duduk, Mas," jawab Pak Bei sambil berjalan keluar dengan kedua tangannya membawa gelas di atas lepeknya.

"Udara dingin mata juga belum ngantuk, jadi pengin wedangan, Om," kata Ustad Mustofa.

"Iya, Mas. Sama, aku juga belum ngantuk. Kita ini terlanjur gak biasa tidur sore sejak muda. Ayo diminum, Mas," jawab Pak Bei sambil menyilakan kakak sepupunya itu nyeruput minuman yang masih panas.

Usia kedua kerabat itu sudah tak lagi muda. Ustad Mustofa yang berprofesi sebagai guru agama di sebuah SMKN di Klaten itu akan pensiun sekitar 2 tahun lagi, sedang Pak Bei yang memilih dunia wirausaha usianya lebih muda 4 tahun. 

"Om, pembangunan relokasi tempat wudhu masjid kita masih kekurangan dana cukup banyak," kata Ustad Mustofa yang juga ketua penitia pembangunan itu setelah nyeruput minuman dan menyulut kreteknya.

"Masih kurang banyak ya, Mas?" tanya Pak Bei.

"Lumayan, Om. Tapi masalahnya saat ini kita belum bisa njagakke ada tambahan infak atau shodaqoh dari masyarkat."

"Kenapa, Mas?"

"Ya kan perhatian masyarakat sudah sudah ganti ke ibadah kurban pada Idul Adha nanti, Om. Calon peserta kurban sapi hingga hari ini sudah terdaftar 75 orang. Itu sama dengan sudah sapi ke-9. Tahun lalu kita nyembelih 10 sapi dari 70 peserta."

"Wah iya ya, Mas. Repot juga. Tampaknya memang panitia dan Takmir Masjid ke dapan harus kreatif-inovatif, Mas."

"Maksudnya, Om?"

"Begini lho, Mas. Sejak kita masih anak-anak dulu, semua program  pembangunan  kampung ini swadaya murni, hanya mengandalkan infak dan sedekah masyarakat. Tiap tahun ada saja program menarik iuran masyarakat, baik untuk membangun dan memugar masjid, maupun untuk pengerasan dan pengaspalan  jalan-jalan kampung. Juga masih harus kerja bakti gak kenal waktu, dari mencetak dan membakar batu bata, mencari pasir dan batu di sungai, hingga ibu-ibu bergiliran menyediakan konsumsi."

"Iya benar, Om. Itu sudah tradisi kita dari dulu."

"Di sisi lain, Takmir Masjid dan tokoh masyarakat tidak pernah memikirkan cara agar ekonomi masyarakat/jamaah semakin baik dan maju. Mereka kerja sendiri-sendiri lillaahita'ala tanpa bantuan modal dan pendampingan manajemen dari Takmir Masiid."

'Ya memang, Om. Kita belum berpikir ke sana."

"Ayo coba kita cari ide kegiatan ekonomi untuk sumber dana masjid sekaligus memakmurkan jamaah, Mas."

"Misalnya bikin toko kelontong atau sembako begitu ya, Om?"

"Wah ya jangan, Mas. Itu sama saja dengan mematikan usaha jamaah. Kan ada beberapa yang punya usaha kelontong dan sembako, Mas."

"Aku belum punya ide, Om," kata Ustad Mustofa.

"Misalnya begini, Mas. Di kampung kita ini hampir setiap tahun peserta kurban ada 70 orang, dengan iuran sebesar @ Rp 3 juta yang biasanya dibayarkan pada setengah bulan sebelum hari H. Lalu, panitia membelikan sapi ke pedagang atau peternak sapi dengan harga pasaran."

"Iya benar, Om."

"Kira-kira, mungkin gak misalnya Takmir Masjid membuat program peternakan sapi, Mas?"

"Caranya bagaimana, Om? Modalnya juga dari mana?"

"Bagaimana kalau para peserta kurban tahun ini kita ajak segera daftar lagi untuk kurban tahun depan dengan cara membayar iuran sebesar 50% di muka? Kalau 70 orang itu mau semua, kan lumayan ada dana terkumpul Rp 105juta, cukup untuk membeli 10 ekor pedet atau bakalan sapi, @ Rp 10,5 juta."

"Terus, Om...."

"Ada beberapa jamaah kita yang petani dan biasa memelihara sapi. Aku yakin mereka mau bila kita minta masing-masing memelihara 2 ekor, misalnya, dengan sistem  gadhuh."

"Wah menarik ini, Om. Terus..."

"Nah, pada Idul Adha tahun depan, panitia kurban membeli sapi-sapi itu dengan harga pasar. Kita asumsikan harga @ Rp 21juta. Para peserta tinggal menambah iuran 50%, Rp 1,5 juta. Keuntungan per sapi Rp 10,5 juta dibagi 2 antara Takmir Masjid dengan petani penggaduh, masing-masih dapat bagian Rp 5,250 juta. Dengan memelihara 2 ekor, petani akan mendapatkan bagi hasil Rp 10,5 juta , sedangkan Takmir Masjid mendapatkan total bagi hasil Rp 52.500.000 dari 10 ekor sapi. Lumayan to, Mas."

"Ya lumayan banget, Om. Perlu dicoba itu. Bahkan mungkin nanti bisa dikembangkan skalanya agar dapat melayani kebutuhan kurban tetangga kampung atau para aghniya' di kota-kota."

"Sipp itu, Mas. Mungkin ini bisa jadi alternatif membangun ekonomi jamaah sekaligus kemandirian masjid."

"Coba wacana ini kita kembangkan dan share ke teman-teman Takmir, Om. Mudah-mudahan responnya positif."

Udara malam sudah terasa anyep. Dua gelas wedang uwuh juga sudah tuntas diminum. Entah sudah berapa batang kretek disulut Pak Bei dan Ustad Mustofa sambil ngobrol tadi. Jam di hp Pak Bei sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB.
Ustad Mustofa segera pamit pulang untuk istirahat. Pak Bei nguntapke, melepas kepulangan kakak sepupunya itu di halaman.

#serialpakbei








Selasa, 01 Juni 2021

TUKANG-TUKANG SIHIR

TUKANG-TUKANG SIHIR

Lumayan lama Pak Bei seperti puasa ngebleng, manarik diri dari hingat-bingar dunia, ngempet dari berbagai keinginan, membisu dari pembicaraan yang penuh gerundelan, perdebatan, dan caci-maki. Paling tidak sudah tiga bulan, sejak sebulan sebelum Ramadhan lalu hingga menjelang berakhir bulan Syawal ini, Pak Bei berhasil menahan diri dari bicara politik yang dirasanya semakin nggegirisi dan ngemar-emari.

Tapi pagi ini Pak Bei terpaksa berbuka gara-gara kedatangan tamu dari Semarang, ibu-ibu yang ingin melihat-lihat workshop dan produk Bundaco, usaha konveksi kami. Seperti biasanya, tamu Bundaco dilayani oleh karyawan, dan bila perlu Bu Bei sendiri yang terjun langsung melayani. Pak Bei  biasa bertugas menemani pengantarnya, mungkin suami atau bahkan sopirnya. Dan tak lupa, tamunya disuguhi minuman andalannya, Kopi Pak Bei, sehingga mereka betah berlama-lama.

Tamu Bundaco pagi ini diantar sopirnya, Anwar namanya. Sambil ngopi bersama Pak Bei, Anwar cerita bahwa dia hanya sopir pocokan alias freelance, biasa melayani siapa pun yang membutuhkannya. Tidak punya juragan tetap, tapi biasa melayani juragan-juragan yang ingin bepergian keluar kota. Tidak jarang juga Anwar diminta nyopiri keluarga pejabat Pemprof atau tokoh politik Jateng untuk urusan dinas ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagainya.

"Jadinya saya bisa dapat banyak informasi, Pak. Macam-macam. Dari soal bisnis, isu rumah tangga, sampai politik lokal dan nasional pun saya jadi agak paham," kata Anwar setelah nyeruput kopinya.

"Soal politik ada isu apa saja, Mas Anwar?" tanya Pak Bei memancing obrolan.

"Wah banyak, Pak," jawab Anwar. "Tapi kesimpulannya cuma satu." 

"Apa itu?"

"Remuk-remukan," jawab Anwar mantap.

"Remuk-remukan bagaimana, Mas? Menurutku biasa-biasa saja, baik-baik saja semua. Nyatanya rakyat dan mahasiswa juga adem-ayem, tidak ada yang demo-demo," pancing Pak Bei.

"Coba Pak Bei amati dan perhatikan dengan seksama. Apakah kondisi negara kita di semua sektor saat ini dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Anwar.

Belum sempat Pak Bei merespon, Anwar melanjutkan, "Remuk-remukan, Pak. Politik sudah dikuasai para cukong dan maling. Rakyat dibuat tak berdaya. Lawan politik digebuki tiap hari di medsos. Ekonomi dikuasai para penjudi, perampok, dan mafioso. Penegak dan penegakan hukum hancur-hancuran dari level terendah hingga level tertinggi. Istilahnya tajam ke bawah, tumpul ke atas. Agama juga terus diadu-domba dan difitnah-fitnah sebagai sebagai ancaman NKRI. Pendidikan semakin tidak jelas ke mana arahnya. Anak-anak usia sekolah jadi lolak-lolok karena harus belajar di rumah dan tak kunjung bisa kembali belajar di sekolah. Dan masih banyak lagi, Pak Bei. Lengkap sudah penderitaan rakyat kali ini,' kata Anwar panjang lebar.

Pak Bei agak terkejut. Ini bukan  kelas sopir pocokan, tapi seperti politisi oposan yang selalu mencari kekurangan lawan politik yang sedang berkuasa. Bagi Pak Bei, menghadapi orang seperti ini harus berhati-hati bila tidak ingin terseret masuk ke dalam keruwetan politik yang semakin absurd. 

"Ada satu hal yang membuat saya sangat prihatin, Pak Bei," kata Anwar lagi.

"Apa itu, Mas Anwar?" 

"Para cerdik pandai yang bergelar Profesor, Doktor, dan Kyai Haji seakan tidak ada yang peduli pada nasib rakyat. Semua sibuk ndlosor-ndlosor membela kebijakan Pemerintah, sibuk mencarikan pembenaran  untuk Tuannya demi mendapatkan remah-remah kekuasaan. Apakah mereka masih layak disebut cendekiawan, ulama, atau Kyai, Pak Bei? Rakyat sudah tidak bisa lagi berharap pada mereka," lanjut Anwar dengan ekspresi wajah prihatin.

"Mas Anwar, mendengar cerita dan keluh-kesah Sampean, aku jadi teringat kisah Nabi Musa menghadapi Firaun," kata Pak Bei sambil menghisap pipa kreteknya.

"Kisah yang mana, Pak Bei?"

"Tentu Sampeyan masih ingat satu episode ketika tukang-tukang sihir Firaun minta dipertemukan dengan Musa, pemuda yang dibesarkan oleh keluarga Firaun tapi kemudian menjadi tokoh utama oposisi yang selalu merongrong kewibawaan Firaun?," tanya Pak Bei.

"Ya jelas ingat, Pak Bei. Pada pertemuan itu, Musa dibuat grogi dan ketakutan menghadapi ular-ular ganas buatan tukang-tukang sihir Firaun."

"Ya betul."

"Lalu Allah menyuruh Musa melemparkan tongkatnya."

"Yes betul itu.'

"Tongkat Musa berubah menjadi ular besar dan memangsa seluruh ular buatan para tukang sihir."

"Tepat sekali, Mas Anwar."

"Lalu apa hubungannya dengan situasi kita saat ini, Pak Bei?"

"Begini, Mas Anwar. Mari kita coba memahami kisah itu bukan seperti membaca dongeng orang-orang yang sedang adu kesaktian."

"Begaimana, Pak Bei?"

"Tukang-tukang sihir itu menurutku bukanlah seperti dukun santet atau tukang tenung seperti yang kita bayangkan. Mereka orang-orang cerdik pandai di masanya yang mengabdikan kepandaian dan hidupnya itu untuk kelanggengan kekuasaan Firaun. Mereka bertugas mencari dan membuat dalil agar rakyat percaya pada Firaun. Mungkin kalau jaman sekarang, mereka juga bergelar Profesor, Doktor, Insinyur, SH, MH, MM, atau Kyai Haji."

"Mereka semacam Staf Ahli atau Wantimpres ya, Pak Bei?"

"Ya, tapi ini cuma penafsiran lho, Mas Anwar. Bisa kita bayangkan, forum 'adu kesaktian' Musa melawan Tukang Sihir itu seperti acara ILC yang beberapa waktu lalu sering kita tonton di tv. Seru, kan? Ternyata logika dan argumentasi para tukang sihir dapat dikalahkan oleh Musa yang cerdas. Akhirnya para tukang sihir itu justru menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun, satu hal yang pasti membuat Firaun kecewa, malu, dan marah. Tapi sekali lagi, ini cuma penafsiran lho, Mas. Mungkin salah."

"Tapi ada benarnya juga itu, Pak Bei. Saya setuju dengan penafsiran Pak Bei. Nyatanya sekarang banyak sarjana, kaum cerdik-pandai, bahkan ulama dan kyai memilih jadi tukang sihir membantu Firaun menindas rakyatnya sendiri, kan?"

"Itu kan kesimpulan Sampean, Mas. Nyatanya banyak orang merasa tidak ada masalah, kok. Jadi ya santai sajalah.  Gak usah serius nggagas politik dan negara ini. Slow wae, Mas Anwar."

Tampak Bu Bei mengantar tamunya kembali ke mobil. Mas Anwar pun segera berlari menyambut juragannya dan membukakan pintu mobil. Beberapa saat kemudian, mobil bagus dan masih mulus itu perlahan-lahan meninggalkan halaman nDalem Pak Bei. Bu Bei pun kembali ke pekerjaannya di worshop Bundaco. Pak Bei kembali ke meja bundar di teras sambil senyum-senyum mengingat obrolannya dengan Anwar, sopir pocokan dari Semarang yang pintar tadi.


#serialpakbei