WEDANG UWUH
Jam 9 malam, hujan sesorean baru saja mereda, tinggal menyisakan gerimis tipis dan udara yang terasa dingin. Pak Bei sedang menyalakan kompor hendak memasak air mau membuat minuman Wedang Uwuh untuk menghangatkan badan ketika tiba-tiba terdengar ada pesan WA masuk ke hpnya. Segera diambil hp di kamar dan dibukanya pesan WA. Dari Ustad Musthofa.
"Ngopi, Om?" demikian pesan pendek dari Ustad Musthofa, persis seperti biasanya. Pak Bei pun paham betul maksud saudara sepupu yang juga teman mainnya sejak masa kecil itu. Dia pengin ngobrol. Ngobrol apa saja sambil wedangan.
"Siap, Mas," jawab Pak Bei singkat.
"Otw....," balas Ustad Mustofa.
Pak Bei pun kembali ke dapur. Air yang hampir matang di atas nyala kompor ditambahinya lagi air biar cukup untuk 2 gelas, lalu dibukanya dua bungkus racikan wedang uwuh dan dituangkannya ke dalam gelas. Tak sampai dua menit, kedua gelas racikan wedang uwuh itu pun dicor dengan air mendidih. Minuman berwarna merah dengan aroma rempah yang sedap pun siap disajikan sebagai teman berbincang.
"Assalaamu'alaikum....," terdengar suara Ustad Mustofa uluk salam.
"Wa'alaikumsalam....duduk, Mas," jawab Pak Bei sambil berjalan keluar dengan kedua tangannya membawa gelas di atas lepeknya.
"Udara dingin mata juga belum ngantuk, jadi pengin wedangan, Om," kata Ustad Mustofa.
"Iya, Mas. Sama, aku juga belum ngantuk. Kita ini terlanjur gak biasa tidur sore sejak muda. Ayo diminum, Mas," jawab Pak Bei sambil menyilakan kakak sepupunya itu nyeruput minuman yang masih panas.
Usia kedua kerabat itu sudah tak lagi muda. Ustad Mustofa yang berprofesi sebagai guru agama di sebuah SMKN di Klaten itu akan pensiun sekitar 2 tahun lagi, sedang Pak Bei yang memilih dunia wirausaha usianya lebih muda 4 tahun.
"Om, pembangunan relokasi tempat wudhu masjid kita masih kekurangan dana cukup banyak," kata Ustad Mustofa yang juga ketua penitia pembangunan itu setelah nyeruput minuman dan menyulut kreteknya.
"Masih kurang banyak ya, Mas?" tanya Pak Bei.
"Lumayan, Om. Tapi masalahnya saat ini kita belum bisa njagakke ada tambahan infak atau shodaqoh dari masyarkat."
"Kenapa, Mas?"
"Ya kan perhatian masyarakat sudah sudah ganti ke ibadah kurban pada Idul Adha nanti, Om. Calon peserta kurban sapi hingga hari ini sudah terdaftar 75 orang. Itu sama dengan sudah sapi ke-9. Tahun lalu kita nyembelih 10 sapi dari 70 peserta."
"Wah iya ya, Mas. Repot juga. Tampaknya memang panitia dan Takmir Masjid ke dapan harus kreatif-inovatif, Mas."
"Maksudnya, Om?"
"Begini lho, Mas. Sejak kita masih anak-anak dulu, semua program pembangunan kampung ini swadaya murni, hanya mengandalkan infak dan sedekah masyarakat. Tiap tahun ada saja program menarik iuran masyarakat, baik untuk membangun dan memugar masjid, maupun untuk pengerasan dan pengaspalan jalan-jalan kampung. Juga masih harus kerja bakti gak kenal waktu, dari mencetak dan membakar batu bata, mencari pasir dan batu di sungai, hingga ibu-ibu bergiliran menyediakan konsumsi."
"Iya benar, Om. Itu sudah tradisi kita dari dulu."
"Di sisi lain, Takmir Masjid dan tokoh masyarakat tidak pernah memikirkan cara agar ekonomi masyarakat/jamaah semakin baik dan maju. Mereka kerja sendiri-sendiri lillaahita'ala tanpa bantuan modal dan pendampingan manajemen dari Takmir Masiid."
'Ya memang, Om. Kita belum berpikir ke sana."
"Ayo coba kita cari ide kegiatan ekonomi untuk sumber dana masjid sekaligus memakmurkan jamaah, Mas."
"Misalnya bikin toko kelontong atau sembako begitu ya, Om?"
"Wah ya jangan, Mas. Itu sama saja dengan mematikan usaha jamaah. Kan ada beberapa yang punya usaha kelontong dan sembako, Mas."
"Aku belum punya ide, Om," kata Ustad Mustofa.
"Misalnya begini, Mas. Di kampung kita ini hampir setiap tahun peserta kurban ada 70 orang, dengan iuran sebesar @ Rp 3 juta yang biasanya dibayarkan pada setengah bulan sebelum hari H. Lalu, panitia membelikan sapi ke pedagang atau peternak sapi dengan harga pasaran."
"Iya benar, Om."
"Kira-kira, mungkin gak misalnya Takmir Masjid membuat program peternakan sapi, Mas?"
"Caranya bagaimana, Om? Modalnya juga dari mana?"
"Bagaimana kalau para peserta kurban tahun ini kita ajak segera daftar lagi untuk kurban tahun depan dengan cara membayar iuran sebesar 50% di muka? Kalau 70 orang itu mau semua, kan lumayan ada dana terkumpul Rp 105juta, cukup untuk membeli 10 ekor pedet atau bakalan sapi, @ Rp 10,5 juta."
"Terus, Om...."
"Ada beberapa jamaah kita yang petani dan biasa memelihara sapi. Aku yakin mereka mau bila kita minta masing-masing memelihara 2 ekor, misalnya, dengan sistem gadhuh."
"Wah menarik ini, Om. Terus..."
"Nah, pada Idul Adha tahun depan, panitia kurban membeli sapi-sapi itu dengan harga pasar. Kita asumsikan harga @ Rp 21juta. Para peserta tinggal menambah iuran 50%, Rp 1,5 juta. Keuntungan per sapi Rp 10,5 juta dibagi 2 antara Takmir Masjid dengan petani penggaduh, masing-masih dapat bagian Rp 5,250 juta. Dengan memelihara 2 ekor, petani akan mendapatkan bagi hasil Rp 10,5 juta , sedangkan Takmir Masjid mendapatkan total bagi hasil Rp 52.500.000 dari 10 ekor sapi. Lumayan to, Mas."
"Ya lumayan banget, Om. Perlu dicoba itu. Bahkan mungkin nanti bisa dikembangkan skalanya agar dapat melayani kebutuhan kurban tetangga kampung atau para aghniya' di kota-kota."
"Sipp itu, Mas. Mungkin ini bisa jadi alternatif membangun ekonomi jamaah sekaligus kemandirian masjid."
"Coba wacana ini kita kembangkan dan share ke teman-teman Takmir, Om. Mudah-mudahan responnya positif."
Udara malam sudah terasa anyep. Dua gelas wedang uwuh juga sudah tuntas diminum. Entah sudah berapa batang kretek disulut Pak Bei dan Ustad Mustofa sambil ngobrol tadi. Jam di hp Pak Bei sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB.
Ustad Mustofa segera pamit pulang untuk istirahat. Pak Bei nguntapke, melepas kepulangan kakak sepupunya itu di halaman.
#serialpakbei