Lumayan lama Pak Bei seperti puasa ngebleng, manarik diri dari hingat-bingar dunia, ngempet dari berbagai keinginan, membisu dari pembicaraan yang penuh gerundelan, perdebatan, dan caci-maki. Paling tidak sudah tiga bulan, sejak sebulan sebelum Ramadhan lalu hingga menjelang berakhir bulan Syawal ini, Pak Bei berhasil menahan diri dari bicara politik yang dirasanya semakin nggegirisi dan ngemar-emari.
Tapi pagi ini Pak Bei terpaksa berbuka gara-gara kedatangan tamu dari Semarang, ibu-ibu yang ingin melihat-lihat workshop dan produk Bundaco, usaha konveksi kami. Seperti biasanya, tamu Bundaco dilayani oleh karyawan, dan bila perlu Bu Bei sendiri yang terjun langsung melayani. Pak Bei biasa bertugas menemani pengantarnya, mungkin suami atau bahkan sopirnya. Dan tak lupa, tamunya disuguhi minuman andalannya, Kopi Pak Bei, sehingga mereka betah berlama-lama.
Tamu Bundaco pagi ini diantar sopirnya, Anwar namanya. Sambil ngopi bersama Pak Bei, Anwar cerita bahwa dia hanya sopir pocokan alias freelance, biasa melayani siapa pun yang membutuhkannya. Tidak punya juragan tetap, tapi biasa melayani juragan-juragan yang ingin bepergian keluar kota. Tidak jarang juga Anwar diminta nyopiri keluarga pejabat Pemprof atau tokoh politik Jateng untuk urusan dinas ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagainya.
"Jadinya saya bisa dapat banyak informasi, Pak. Macam-macam. Dari soal bisnis, isu rumah tangga, sampai politik lokal dan nasional pun saya jadi agak paham," kata Anwar setelah nyeruput kopinya.
"Soal politik ada isu apa saja, Mas Anwar?" tanya Pak Bei memancing obrolan.
"Wah banyak, Pak," jawab Anwar. "Tapi kesimpulannya cuma satu."
"Apa itu?"
"Remuk-remukan," jawab Anwar mantap.
"Remuk-remukan bagaimana, Mas? Menurutku biasa-biasa saja, baik-baik saja semua. Nyatanya rakyat dan mahasiswa juga adem-ayem, tidak ada yang demo-demo," pancing Pak Bei.
"Coba Pak Bei amati dan perhatikan dengan seksama. Apakah kondisi negara kita di semua sektor saat ini dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Anwar.
Belum sempat Pak Bei merespon, Anwar melanjutkan, "Remuk-remukan, Pak. Politik sudah dikuasai para cukong dan maling. Rakyat dibuat tak berdaya. Lawan politik digebuki tiap hari di medsos. Ekonomi dikuasai para penjudi, perampok, dan mafioso. Penegak dan penegakan hukum hancur-hancuran dari level terendah hingga level tertinggi. Istilahnya tajam ke bawah, tumpul ke atas. Agama juga terus diadu-domba dan difitnah-fitnah sebagai sebagai ancaman NKRI. Pendidikan semakin tidak jelas ke mana arahnya. Anak-anak usia sekolah jadi lolak-lolok karena harus belajar di rumah dan tak kunjung bisa kembali belajar di sekolah. Dan masih banyak lagi, Pak Bei. Lengkap sudah penderitaan rakyat kali ini,' kata Anwar panjang lebar.
Pak Bei agak terkejut. Ini bukan kelas sopir pocokan, tapi seperti politisi oposan yang selalu mencari kekurangan lawan politik yang sedang berkuasa. Bagi Pak Bei, menghadapi orang seperti ini harus berhati-hati bila tidak ingin terseret masuk ke dalam keruwetan politik yang semakin absurd.
"Ada satu hal yang membuat saya sangat prihatin, Pak Bei," kata Anwar lagi.
"Apa itu, Mas Anwar?"
"Para cerdik pandai yang bergelar Profesor, Doktor, dan Kyai Haji seakan tidak ada yang peduli pada nasib rakyat. Semua sibuk ndlosor-ndlosor membela kebijakan Pemerintah, sibuk mencarikan pembenaran untuk Tuannya demi mendapatkan remah-remah kekuasaan. Apakah mereka masih layak disebut cendekiawan, ulama, atau Kyai, Pak Bei? Rakyat sudah tidak bisa lagi berharap pada mereka," lanjut Anwar dengan ekspresi wajah prihatin.
"Mas Anwar, mendengar cerita dan keluh-kesah Sampean, aku jadi teringat kisah Nabi Musa menghadapi Firaun," kata Pak Bei sambil menghisap pipa kreteknya.
"Kisah yang mana, Pak Bei?"
"Tentu Sampeyan masih ingat satu episode ketika tukang-tukang sihir Firaun minta dipertemukan dengan Musa, pemuda yang dibesarkan oleh keluarga Firaun tapi kemudian menjadi tokoh utama oposisi yang selalu merongrong kewibawaan Firaun?," tanya Pak Bei.
"Ya jelas ingat, Pak Bei. Pada pertemuan itu, Musa dibuat grogi dan ketakutan menghadapi ular-ular ganas buatan tukang-tukang sihir Firaun."
"Ya betul."
"Lalu Allah menyuruh Musa melemparkan tongkatnya."
"Yes betul itu.'
"Tongkat Musa berubah menjadi ular besar dan memangsa seluruh ular buatan para tukang sihir."
"Tepat sekali, Mas Anwar."
"Lalu apa hubungannya dengan situasi kita saat ini, Pak Bei?"
"Begini, Mas Anwar. Mari kita coba memahami kisah itu bukan seperti membaca dongeng orang-orang yang sedang adu kesaktian."
"Begaimana, Pak Bei?"
"Tukang-tukang sihir itu menurutku bukanlah seperti dukun santet atau tukang tenung seperti yang kita bayangkan. Mereka orang-orang cerdik pandai di masanya yang mengabdikan kepandaian dan hidupnya itu untuk kelanggengan kekuasaan Firaun. Mereka bertugas mencari dan membuat dalil agar rakyat percaya pada Firaun. Mungkin kalau jaman sekarang, mereka juga bergelar Profesor, Doktor, Insinyur, SH, MH, MM, atau Kyai Haji."
"Mereka semacam Staf Ahli atau Wantimpres ya, Pak Bei?"
"Ya, tapi ini cuma penafsiran lho, Mas Anwar. Bisa kita bayangkan, forum 'adu kesaktian' Musa melawan Tukang Sihir itu seperti acara ILC yang beberapa waktu lalu sering kita tonton di tv. Seru, kan? Ternyata logika dan argumentasi para tukang sihir dapat dikalahkan oleh Musa yang cerdas. Akhirnya para tukang sihir itu justru menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun, satu hal yang pasti membuat Firaun kecewa, malu, dan marah. Tapi sekali lagi, ini cuma penafsiran lho, Mas. Mungkin salah."
"Tapi ada benarnya juga itu, Pak Bei. Saya setuju dengan penafsiran Pak Bei. Nyatanya sekarang banyak sarjana, kaum cerdik-pandai, bahkan ulama dan kyai memilih jadi tukang sihir membantu Firaun menindas rakyatnya sendiri, kan?"
"Itu kan kesimpulan Sampean, Mas. Nyatanya banyak orang merasa tidak ada masalah, kok. Jadi ya santai sajalah. Gak usah serius nggagas politik dan negara ini. Slow wae, Mas Anwar."
Tampak Bu Bei mengantar tamunya kembali ke mobil. Mas Anwar pun segera berlari menyambut juragannya dan membukakan pintu mobil. Beberapa saat kemudian, mobil bagus dan masih mulus itu perlahan-lahan meninggalkan halaman nDalem Pak Bei. Bu Bei pun kembali ke pekerjaannya di worshop Bundaco. Pak Bei kembali ke meja bundar di teras sambil senyum-senyum mengingat obrolannya dengan Anwar, sopir pocokan dari Semarang yang pintar tadi.
#serialpakbei
Tidak ada komentar:
Posting Komentar