Senin, 22 Februari 2021

BANJIR

BANJIR

Balai Desa Karang Kadempel mendadak gempar. Bermula dari Ki Lurah Bagong bersama Ki Petruk Ketua BPD yang siang itu mengundang tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, PKK, dan Katua2 RT-RW untuk mengikuti Musdes membahas draft Raperdes Lingkungan Hidup. Arah Raperdes itu untuk menjadikan Desa Karang Kadempel sebagai Desa yang bersih, sehat, dan rapi sehingga terhindar dari bencana, terutama bencana banjir dan penyakit menular, sebagaimana arahan dari sesepuh dan pepunden Desa, Ki Semar Bodronoyo.

Sebagai Ketua BPD, Ki Petruk bertindak selaku Pemimpin Sidang, memberikan pengantar dan kerangka jalannya Musdes. Tutur katanya lembut tapi tegas, diksi dan kalimatnya santun dan tertata. Semua hadirin pun manthuk-manthuk tanda memahami maksud diselenggarakannya Musdes.

Tiba giliran Ki Lurah Bagong memberikan sambutannya. Sebagai mantan preman, alias preman yang sudah insyaf, pidatonya tampak menggebu-gebu dan terkesan sangar. Bahasanya pun agak sasar-susur. Maklum, latar belakang pendidikan Ki Lurah Bagong memang pas-pasan, dan lebih banyak pengalamannya sekolah di jalanan. 

"Bapak-Ibu ingkang dahat kinurmatan," Ki Lurah Bagong mengawali sambutannya dangan sapaan lembut. "Apa to yang dimaksud dengan Musdes?" lanjutnya dengan pertanyaan retoris. "Mus itu Musyawarah. Des itu Desa. Jadi, Musdes itu Musyawarah Desa, Bapak-Ibu."

Hadirin memperhatikan dengan seksama, hanya tampak beberapa orang yang seolah cuek dan tetap asyik dengan gadgetnya. Ki Petruk paham bahwa di antara tokoh yang diundang itu memang ada yang pada Pilkades lalu bukan pemilih Ki Lurah Bagong. Mereka kader dan timses jago lawan, anak buah Patih Sengkuni. Tapi itu bukan masalah bagi Ki Petruk. Bagaimanapun mereka rakyat Karang Kadempel yang harus tetap dihormati dan di-uwongke. Yang penting sekarang mau bersama-sama berbuat untuk kebaikan Desa Karang Kadempel di bawah kepemimpinan Ki Lurah Bagong. 

"Bapak-Ibu, kita tahu akhir-akhir ini banyak terjadi musibah banjir di mana-mana. Situasinya nggegirisi. Wabah penyakit juga belum berakhir. Banyak korban harta benda dan nyawa melayang. Apa sebabnya bisa terjadi bencana banjir, Bapak-Ibu? Ada yang bisa menjawab?" Ki Lurah Bagong bertanya pada hadirin.

"Karena hujan deras dan lama, Ki Lurah," kata salah seorang.

"Karena saluran air mampet. Banyak gorong-gorong tersumbat sampah," kata hadirin yang lain.

"Karena banjir kiriman dari daerah atas," kata yang lain lagi.

"Karena air laut pasang sehingga air dari sungai tidak bisa masuk," jawab yang lain lagi.

"Maaf, Ki Lurah," terdengar suara perempuan dari belakang. Semua hadirin menoleh ke sumber suara. Ternyata si Cangik yang kenes. Dia hadir mewakili pengurus Dasa Wisma dan Posyandu. Semua tetangga tahu, dia sebenarnya kaki tangan Sengkuni yang disusupkan ke Desa Karang Kadempel.

"Njih, Mbakyu Cangik. Badhe ngendikan punapa? Sumangga....," Ki Lurah Bagong mempersilakan.

"Begini, Bapak-Ibu. Kalau banjir di Kalimantan itu jelas karena hujan lebat beberapa hari. Banjir di Semarang jelas karena kiriman air dari atas dan laut utara pasang. Kalau banjir di Betawi itu beda, Bapak-Ibu," kata Cangik.

"Bedanya apa, Mbakyu Cangik? tanya Ki Lurah.

"Banjir di Betawi itu karena Gubernurnya memang tidak jegos bekerja, tidak sigap, tidak mampu, bisanya hanya nggaya pidato di mana-mana. Iya, kan?"

"Jadi khusus yang Betawi bukan karena faktor alam, tapi faktor Gubernur yang gagal ya, Mbakyu Cangik?" tanya Ki Lurah.

"Ya jelas to, Ki Lurah. Beda dengan yang di Kalimantan, Jawa Tengah, dan daerah lainnya. Jangan digabyah-uyah karena faktor alam. Betawi itu daerah khusus, Ki Lurah. Beda sekali. Jangan salah baca," jawab Cangik menggebu-gebu dengan bibirnya yang sinis dan matanya lirak-lirik ke kiri-kanan.

"Interupsi, Pimpinan Sidang," salah seorang peserta berdiri minta waktu pada pimpinan sidang. Ki Petruk pun mempersilakan.

"Sesuai undangan, agenda kita ini kan Musdes terkait pengelolaan lingkungan hidup kita. Tapi kenapa dari tadi malah membicarakan banjir di daerah lain. Ini tidak relevan," kata orang tadi.

"Tidak relevan bagaimana?" Cangik menyahut. "Jelas sangat relevan. Kita jangan picik. Kalau mau maju, kita harus mau belajar membaca kegagalan orang lain, terutama belajar pada Gubernur yang gagal total itu," lanjut Cangik.

"Nuwun sewu, Yu Cangik. Pernyataan Sampeyan itu sangat tendensius. Tidak objektif dan tidak adil," yang lain mencoba menyanggah.

"Tidak adil bagaimana? Yu Cangik kan cuma mengajak kita berpikir kritis, memotret kahanan apa adanya," kata peserta yang lain lagi. 

"Jelas itu tidak adil dan tendensius. Untuk banjir di daerah lain dia nyalahkan alam, sedangkan untuk Betawi dia nyalahkan Gubernurnya. Itu namanya pekok. Hati dan pikirannya kotor. Perlu diruwat dia."

"Pimpinan Sidang dan para hadirin, mohon maaf sambutan ini saya akhiri saja. Waktu sepenuhnya saya kembalikan pada Ketua Sidang," kata Ki Lurah Bagong. Dia tampak bingung mau ngomong apa lagi. Dia tidak menyangka pertanyaannya tadi akan memicu kehebohan forum.

"Baiklah, Ki Lurah dan Hadirin sekalian," kata Ki Petruk. "Situasi agaknya sudah tidak kondusif untuk kita melanjutkan musyawarah," lanjutnya.

"Betul, Ki Petruk. Sebaiknya Musdes ini kita tunda saja. Minggu depan kita ketemu lagi," sahut peserta.

"Baiklah, tolong Bapak-Ibu nanti di rumah membaca dan mencermati seluruh isi Draft Raperdes. Kami pun akan minta arahan pada pepunden kita, Ki Semar Bodronoyo. Semoga Minggu depan kita semua sehat dan bisa merampungkan pembahasan Raperdes ini untuk kebaikan kita bersama. Sampai jumpa Minggu depan," Ki Petruk menutup sidang.

Hadirin pun bubar. Tampak beberapa menyalami Cangik dan menyatakan dukungan. Beberapa yang lain tampak kecewa karena Musdes harus ditunda karena ulah Cangik yang provokatif. Untunglah Cangik itu perempuan, kalau laki-laki, mungkin sudah dihajar oleh si Gareng kepala Hansip Desa Karang Kadempel.

#serialpakbei













Tidak ada komentar:

Posting Komentar