Minggu, 31 Desember 2023

JANGAN PILIH POLITISI BUSUK

JANGAN PILIH POLITISI BUSUK


"Pak Bei, jamaah di masjid kami kemarin tanya,  Pemilu bulan depan kita mau milih siapa? Aku belum bisa jawab," kata Kang Narjo setelah melemparkan koran di lantai. 

"Mereka belum punya pilihan, Kang?"

"Belum, Pak Bei. Kita kan harus mencoblos 5 nama, caleg DPR Kabupaten, DPRD Provinsi, DPR RI, DPD, dan Capres-Cawapres. Betul-betul repot. Sampai sekarang aku sendiri belum bisa menentukan pilihan. Masih bingung."

Pak Bei maklum bila Kang Narjo masih kesulitan menentukan pilihan, apalagi jamaahnya. Sebagai calon pemilih, sejauh ini rakyat hanya disuguhi foto-foto caleg terpasang bertebaran di pinggir-pinggir jalan dan pojok perkampungan. Ada yang dipaku di pepohonan, ada juga yang dipajang menggunakan tiang bambu.

"Kita belum tahu mana caleg yang benar-benar layak dipilih jadi wakil di lembaga legislatif. Minim informasi, Pak Bei."

"Kalau untuk Capres-Cawapres bagaimana, Kang?"

"Kalau itu lumayan. Kita bisa cari informasi tentang ketiga pasangan itu kapan saja di koran dan internet. Yang repot untuk memilih caleg, Pak Bei."

Mendengar kesulitan sahabatnya itu, Pak Bei jadi teringat isi khotbah Jumat yang diikutinya tempo hari di mesjid rest area tol menuju Semarang. Diceritakannya bahwa Pak Bei  sampai di masjid rest area ketika azan hampir selesai dikumandangkan. Pak Bei pun tetap melakukan sholat tahiyyatul-masjid meski khotib sudah mulai menyampaikan khotbahnya.  

"Jamaah yang dirahmati Allah," khotib menyapa jamaah, "Sebentar lagi kita akan Pemilu, tepatnya besok tanggal 14 Februari 2024. Khotib berwasiat, marilah kita pergunakan hak pilih kita dengan sebaik-baiknya. Pilihan kita akan menentukan masa depan negara ini, apakah akan semakin rusak-rusakan ataukah akan menjadi lebih baik. Maka jangan ada yang golput," kata khotib dengan suaranya yang serak-serak basah namun cukup menggelegar itu.  

"Tema yang kontekstual. Up to date," batin Pak Bei.

"Apa inti pesan khotib, Pak Bei?," tanya Kang Narjo.

"Kang Narjo tentu masih ingat kisah Nabi Ibrahim AS yang ditangkap dan dibakar oleh Raja Namrud karena telah menghacurkan patung-patung sesembahannya."

"Ooh iya ingat. Api yang berkobar-kobar itu menjadi terasa dingin sehingga tidak bisa membakar Nabi Ibrahim, atas diperintah oleh Allah SWT."

"Betul, Kang. Tapi bukan itu pesan khotib kemarin."

"Apa pesannya?"

"Khotib mengajak jamaah mencontoh perjuangan burung emprit."

"Maksudnya?"

"Melihat Nabi Ibrahim Khalilullah yang dizalimi dan dibakar, burung-burung emprit beramai-ramai berjuang memadamkan api yang berkobar-kobar. Mereka mengambil air dari sungai dengan paruhnya yang kecil-kecil untuk diteteskan di nyala api yang berkobar."

"Terus, Pak Bei.."

"Di sisi lain, ada gerombolan cicak yang menjulur-julurkan lidahnya, berjuang meniup-niup nyala api agar semakin besar dan menghabisi Nabi Ibrahim. Melihat  tingkah burung-burung emprit, cicak-cicak itu tertawa terbahak-bahak mengejeknya. 

"Hei, kalian ini ngapain? Bodih sekali. Mana bisa air sak uprit yang kalian teteskan itu mampu memadamkan kobaran api ini," kata para cicak.

"Biarin saja, weeeek," jawab burung emprit sambil terus hilir-mudik mengambil air untuk memadamkan api.

"Silahkan saja kalian menganggap usaha kami sia-sia. Tapi kami yakin, Allah SWT pasti melihat betapa kami ini berpihak pada orang baik, pada orang yang jelas amanah dan jujur, hamba yang sangat taat pada perintahNya, hamba yang selalu berbelas-kasih pada sesama dan seluruh alam, hamba yang tidak pernah berbuat kerusakan di muka bumi," jawab burung-burung emprit.

"Maknanya bagaimana itu, Pak Bei? Apa hubungannya dengan Pemilu nanti?"

"Menurut khotib kemarin, Raja Namrud dan hulu-balangnya adalah simbol dari politisi busuk. Yaitu, para politisi yang berani melakukan apapun demi mencapai ambisinya, politisi yang tega mengambil harta rakyatnya dengan cara apapun, politisi yang bermain proyek dengan dana APBN dan APBD lalu dikorupsi ramai-ramai, politisi yang suka kongkalingkong membuat peraturan-peraturan guna melanggengkan kekuasannya, penguasa yang hanya memikirkan kemakmuran keluarga dan kelompoknya, penguasa yang membayar mahal para buzzer dan pendukungnya untuk terus memfitnah, menyerang, menyebarkan permusuhan dan mencelakakan orang-orang yang berbeda pendapat dengannya."

"Kalau Nabi Ibrahim simbol apa, Pak Bei?" 

"Dialah simbol politisi dan negarawan sejati, yang selalu berpikir dan berjuang demi kebaikan bangsa dan negaranya, yang selalu berupaya mewujudkan kehidupan yang penuh kasih-sayang, yang selalu menjaga ketertiban, memegakkan hukum demi keadilan, yang selalu menjaga akhlak masyarakatnya, yang tegas terhadap ketimpangan dan segala bentuk kemungkaran."

"Jadi kita disuruh mencontoh burung emprit, Pak Bei?"

"Begitulah, Kang."

"Tapi bagaimana cara agar kita tahu mana politisi busuk dan mana politisi sejati?"

"Kita harus berupaya mengetahui rekam jejak para Caleg dan 3 pasangan Capres-Cawapres, Kang. Dari rekam jejaknya akan kelihatan kejujurannya, akan kelihatan juga apakah selama ini dia berposisi membela kepentingan rakyat atau justru menindas rakyat. Lalu, simak baik-baik pidato-pidatonya, cermati visi-misi dan pandanganya tentang kondisi negara kita, tentang rencana dan janji-janjinya, juga sikap dan tutur bahasanya terhadap orang lain. Bandingkan mereka satu-persatu dengan hati dan pikiran jernih. Dengan cara itu Insya Allah kita akan menemukan mana politisi dan negarawan sejati yang pantas kita dukung dan kita pilih."

"Wah berat juga ya, Pak Bei. Tapi bagaimana kalau pilihan yang kita yakini baik itu nanti ternyata kalah di Pemilu?"

"Ya tidak masalah, Kang. Ingatlah burung emprit. Tetesan air dari paruhnya yang kecil itu memangnya bisa memadamkan api? Tidak, Kang. Tapi atas kehendak Allah SWT, kobaran api yang menyala berkobar itu jadi terasa dingin dan tidak membakar Nabi Ibrahim. Kang, sesungguhnya siapa pemenangnya nanti sudah tertulis di lauhul-mahfudz. Cuma Allah SWT menguji kita, di Pemilu nanti kita berada di pihak para politisi busuk atau politisi yang berbudi luhur."

"Semestinya kita berpihak pada politisi yang kita yakini baik dan berbudi luhur kan, Pak Bei?"

"Tepat, Kang. 

"Baiklah, Pak Bei. Jangan pilih politisi busuk. Terima kasih. Sing penting yakin."

Obrolan pagi pun berakhir. Kang Narjo meneruskan tugasnya mengantar koran ke pelanggan yang tinggal sedikit. Loper koran yang  masih setia hingga empat dasawarsa. Zaman sudah mulai berganti, orang-orang beralih membaca berita online, tapi Kang Narjo masih itiqamah dan bersahaja.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten
#selamattahunbaru2024




Selasa, 19 Desember 2023

AYAM FUNGSIONAL TELURMOE

AYAM FUNGSIONAL TELURMOE

Sebenarnya niat Pak Bei dan Bu Bei cuma mau transit sebentar di rest area Masaran, Sragen untuk sholat ashar dan ngopi. Perjalanan via tol menuju  Mantingan, Ngawi tinggal sekitar 20 menit lagi.  Si bungsu Alya yang saat ini kelas 5 di Pondok Gontor Putri 1 pasti sudah menunggu-nunggu. 

Segelas kopi dan teh manis baru saja disajikan pelayan cafetaria ketika sepasang suami istri menyapa Pak Bei dengan sikap dan tutur bahasanya yang sopan. Pak Bei menjawab salamnya dengan sopan juga, sambil berusaha mengingat-ingat siapa orang itu.

"Saya Ikhwan dari Lumajang, Pak Bei. Dan ini istri saya Latifah, aktif di 'Aisyiyah Lumajang. Kami mau pulang dari nengok anak yang kuliah di UMS.

"Oh iya, Pak Ikhwan. Saya ingat, tahun lalu kita ketemu di Muktamar 48 Solo, kan? Kenalkan juga ini istri saya, Erwina, biasa dipanggil Bu Bei."

Bu Bei segera beranjak memesankan minuman untuk teman barunya. Tak lama dua gelas minuman yang dipesan pun datang. Dua pasang suami-istri paroh baya itu pun tampak akrab dan asyik ngobrol sambil sesekali nyeruput minumannya.

"Mumpung ketemu, Pak Bei, kami ingin tanya beberapa hal," kata Pak Ikhwan.

"Monggo, Pak Ikhwan. Kita ngobrol santai saja," jawab Pak Bei.

"Kami ingin tanya seputar program Jatam, Pak Bei, Jamaah Tani Muhammadiyah. Pak Bei kan Pengurus di Pusat."

"Benar, Pak Ikhwan?"

"Begini, Pak Bei. Istri saya ini dan teman-temannya di Aisyiyah Lumajang ingin sekali berkontribusi membantu Pemerintah dalam percepatan penanggulangan kemiskinan dan stunting."

"Wah bagus itu, Pak Ikhwan. Apa yang bisa kami bantu, Bu Latifah?"

"Begini, Pak Bei. Menurut data Pemerintah, ada banyak sekali kasus kemiskinan ekstrem dan stunting di daerah kami. Tapi anehnya, solusi yang diprogramkan menurut kami kurang mengena. Padahal anggarannya sangat besar."

"Programnya apa yang kurang mengena, Bu?"

"Kemiskinan ekstrem dan stunting masa diatasi dengan Jambanisasi, RTLH, dan Sambungan Listrik PLN? Itu kan gak mengena. Aneh, Pak Bei."

"Lha terus kira-kira program apa yang lebih mengena menurut Pak Bu Latifah?"

"Pak Bei, kami pernah dengar dari teman-teman MPM Jawa Timur bahwa Jatam Pusat punya program Ayam Fungsional TELURMOE skala rumah tangga," Pak Ikhwan menyahut.

"Iya, Pak Bei. Katanya itu efektif untuk penanggulangan kemiskinan ekstrem dan stunting. Bagaimana jelasnya, Pak Bei?," sambung Bu Latifah.

"Ooh itu. Memang waktu Rakernas MPM di UM Purwokerto akhir Juli lalu sempat kami sampaikan, namun baru sepintas kilas, belum detil."

"Ya itulah, makanya ini mumpung ketemu tolong dijelaskan, Pak Bei," desak Bu Latifah.

"Baiklah, Bu. Tapi garis besarnya saja, ya."

"Iya gak papa."

"Program Ayam Fungsional TELURMOE ini berawal dari inovasi nutrisi ayam dengan serangkaian ujicoba yang cukup panjang dilakukan oleh Dewan Pakar MPM PP Muhammadiyah yang juga Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ali Agus. Ayam petelor ini dipelihara secara umbaran, bukan di kandang model batrei, dan makanannya ditambahi nutrisi inovasi beliau."

"Apa kelebihannya?"

"Berdasarkan hasil uji lab, TELURMOE memiliki kandungan nutrisi yang sangat bagus untuk kesehatan, a.l.: 
1. Protein Albumen 30% lebih tinggi dari telur ayam ras yang biasa kita konsumsi; 
2. Mineral Fe, Se, dan Zinc juga lebih tinggi;
3. Kolesterolnya 35% lebih rendah;
4. Kandungan Omega-3, Omega-6, dan Omega-9 juga tinggi."

"Wah hebat itu. Sudah pernah diujicoba belum, Pak Bei?" 

"Sudah diujicoba pada anak-anak balita penderita stunting. Dengan makan satu butir telor per hari, dalam tempo 42 hari terjadi kenaikan hemoglobin 31%, padahal bila konsumsi telur biasa hanya naik 4%.  Juga terjadi penambahan berat dan tinggi badan 6%, padahal dengan telur biasa hanya naik 3%."

"Nah ini lho, Pak. Ini baru solusi," kata Bu Latifah pada Pak Ikhsan. "Bayangkan kalau setiap hari anak-anak kita makan makanan yang sehat dan terjaga nutrisinya seperti itu. Tentu masyarakat secara umum akan lebih sehat dan tidak mudah sakit-sakitan. Iya kan, Bu Bei?," Bu Latifah minta dukungan Bu Bei.

"Cara beternaknya bagaimana, Pak Bei?," tanya Pak Ikhwan.

"Ayam petelor dilepas di kandang yang dipagari keliling. Ayam-ayam itu diumbar saja. Jadi kita tidak perlu investasi kandang baterei seperti umumnya ternak ayam petelur yang kita kenal selama ini. 

"Seperti apa kandangnya, Pak Bei?"

"Sangat sederhana, Pak Ikhsan. Per meter persegi bisa untuk 3-5 ekor ayam. Sepertiga kandang pakai atap. Di situ tempat ayam makan, minum, berteduh, dan bertelur. Yang dua pertiga terbuka tanpa atap agar ayam-ayam bisa berjemur, bermain tanah atau pasir, dan nongkrong di tempat yang disediakan."

"Kenapa dilepas, Pak Bei? Kenapa tidak di kandang batrei seperti umumya peternakan ayam?," tanya Bu Latifah.

"Bu Latifah, ayam kan juga makhluk hidup. Mereka butuh penyaluran naluri behavior. Butuh lompat-lompat, mengepakkan sayap, mandi pasir, dan sebagainya. Cara memeliharanya sangat memperhatikan kesejahteraan hewan, bahasa kerennya "animal welfare". Jadi hidupnya bahagia. 

"Terus, Pak Bei. Yang dimaksud dengan ternak skala rumah tangga tadi bagaimana?," tanya Bu Latifah penasaran.

"Setiap keluarga yang tergolong miskin ekstrem cukup beternak 50 ekor. Ayam dipelihara mulai umur 17 minggu. Mulai umur 20 minggu, ayam sudah mulai bertelur, dan mulai umur 29 atau 30 minggu sudah produksi standar, 80% bertelur, alias 40 butir dihasilkan setiap hari, sama dengan 1.200 butir per bulan."

"Terus, Pak Bei. Saya catat lho ini," kata Bu Latifah sambil asyik mencatat di HaPe-nya.

"Dari 40 butir itu, yang 5 wajib dimakan keluarga peternak untuk perbaikan gizi. Selebihnya baru disetorkan ke Pendamping dari Jatam dengan harga antara Rp 2.300 - 2. 500/butir. Hasil produksi per bulan setelah di kurangi biaya pakan, peternak akan mendapatkan hasil antara 800ribu sampai 1 juta/bulan."

"Wah, jadi ada dua keuntungan sekaligus bagi peternak ya, Pak Bei. Pertama tercukupi gizi keluarga, dan kedua ada pemasukan sekitar 1 juta setiap bulan. Itu bagus sekali."

"Maaf, Pak Bei, program ini kan diharapkan dapat dilaksanakan oleh semua Pengurus Daerah Jatam. Terus telur-telur yang disetorkan ke Pendamping dari Jatam itu nanti mau dikemanakan?," tanya Pak Ikhwan.

"Pak Ikhwan, Muhammdiyah di hampir  setiap Daerah punya banyak sekolah sejak Paud, TK, SD hingga SMA/SMK. Beberapa Daerah juga punya Perguruan Tinggi dan Rumah Sakit. Insya Allah semuanya siap mendukung gerakan MPM sesuai arahan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Semua Amal Usaha siap membeli hasil produksi anggota Jatam, baik produk pertanian maupun peternakan. TELURMOE ini sangat bagus untuk konsumsi anak-sekolah dan recovery pasien rawat inap di Rumah Sakit atau PKU."

"Lha terus bagaimana pengadaan pakannya, Pak Bei? Kan tidak mungkin setiap peternak bikin pakan sendiri-sendiri karena kualitasnya pasti akan berbeda, tidak sesuai standar."

"Itu benar, Pak Ikhwan. Pakan akan disediakan oleh PT LUKU, Badan Usaha Milik Muhammadiyah, yang sudah didirikan oleh MPM PP. PT LUKU akan bikin pabrik pakannya."

"Pakannya beda juga, Pak Bei?"

"Beda, Bu Latifah. Perbedannya: 1. pakan ini full nabati, tanpa tepung darah, bulu, atau tulang;
2. ⁠pakan ini bebas dari tepung ikan;
3. ⁠sumber hewani ini potensi jd alergen bagi manusia;
4. ⁠bebas antibiotik;
5. ⁠ada 12 komponen jamu seperti temulawak, jahe, kunyit, bawang putih, kelor, dll;
6. ⁠ekstrak herbal sama mineral organik masuk semua;

"Satu lagi, Pak Ikhsan, nanti bila Jatam Daerah tidak mampu menjual sendiri TELURMOE di Daerahnya, PT LUKU juga siap membelinya. Insya Allah semua akan berjalan dengan baik dan berkeadilan."

"Iya, Pak Bei. Bagus sekali kalau bisa dibangun kolaborasi antar Majelis, Lembaga, Ortom, dan AUM. Kami yakin, kita pasti bisa."

"Insya Allah, Pak Ikhsan."

"Baiklah, Pak Bei. Sudah cukup jelas. Akan segera kami kabarkan ke teman-teman. Insya Allah semua Jatam Daerah akan mendukung program ini. Semoga Pemerintah juga mau mendukung dan bersinergi untuk mensejahterakan rakyatnya," kata Pak Ikhwan mantap.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, Pak. Masih jauh kita ini," Bu Latifah mengajak suaminya. "Kami pamit dulu ya, Pak Bei. Terima kasih atas waktu dan ilmunya."

"Sama-sama, Bu Latifah. Hati-hati di jalan, Pak Ikhwan.""

Kedua pasang suami istri itu menuju mobilnya untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing. Pak Bei dan Bu Bei ke Mantingan mudifah anaknya, Pak Ikhwan dan Bu Latifah pulang ke Lumajang. Semoga semua dilancarkan...aamiin.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#pengurusjatampusat
#lpumkmpdmklaten







Senin, 11 Desember 2023

IMAM SADAR TUPOKSI

IMAM SADAR TUPOKSI

Tamu Pak Bei malam ini namanya Suwarno, biasa dipanggil Mas Warno. Rumahnya masih satu kecamatan dengan Pak Bei, di Kecamatan Jatinom, Klaten, sekitar 3 km dari nDalem Pak Bei. Perawakannya sedang. Meski berprofesi sebagai tukang bangunan, biasa kerja fisik, tapi penampilannya cukup bersih terawat. Tutur bahasanya juga sopan. Itu mungkin karena dia biasa menjadi imam sholat rawatib di mesjid kampungnya, terutama maghrib, isya', dan shubuh. Bahkan, sesekali dia juga menjadi khatib Jumat meski statusnya hanya cadangan. Begitu ceritanya.

"Sebenarnya bukan karena saya lebih paham ilmu agama dan fasih mengaji, Pak Bei. Bukan. Tapi jamaah yang minta supaya saya menjadi imam. Saya anggap itu sebagai amanah dan tidak boleh ditolak," kata Mas Warno.

"Betul itu, Mas. Syarat sholat jamaah memang harus ada imam dan makmum. Imam tidak perlu diperebutkan, jadi tidak perlu pakai pemilihan umum. Cukuplah bila jamaah menyepakati salah seorang menjadi imam untuk diikuti. Kebetulan Mas Warno yang dituakan dan diamanahi menjadi imam," Pak Bei merespon.

"Iya, Pak Bei. Tapi setiap mau Pemilu seperti sekarang ini saya jadi merasa repot."

"Kenapa repot? Kan sudah biasa ada Pemilu, Pilpres, Pilgub, Pilkada, Pilkades?"

"Ya itulah, Pak Bei. Menjelang Pemilu kali ini, jamaah bertanya besok kita mau milih siapa untuk Capres-Cawapres, untuk DPD, DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten."

"Wah bagus itu jamaahmu. Terus bagaimana jawabmu, Mas?"

"Kemarin saya jawab bahwa saya harus cari informasi yang agak lengkap dulu, terutama tentang ketiga pasangan Capres-Cawapres."

"Lha yang untuk DPD, DPR, dan DPRD bagaimana?"

"Yang itu tidak terlalu penting, Pak Bei."

"Tidak terlalu penting bagaimana, Mas?"

"Selama ini kita tidak tahu apa kerja mereka di gedung Dewan, Pak Bei. Kita tidak tahu apa yang mereka perjuangkan. Yang kita tahu, justru banyak anggota Dewan ditangkap KPK karena korupsi."

"Kan  cuma sedikit di antara sekian ratus anggota Dewan, Mas Warno. Jangan terus gebyah uyah seolah semua anggota Dewan jadi maling."

"Saya masih ingat pelajaran jaman sekolah dulu, Pak Bei. Ada 3 tugas dan fungsi DPR, yaitu legislasi, budgeting, dan pengawasan. Kalau tiga fungsi itu dilakukan dengan baik dan benar, pasti negara kita jadi adil-makmur. Tapi ternyata yang terjadi justru rusak-rusakan. Korupsi merajalela di mana-mana, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas alias tebang pilih, terjadi krisis pangan dan beras, harga-harga kebutuhan hidup naik terus, banyak terjadi penggusuran tanah milik rakyat atas nama Proyek Strategis Nasional, juga terjadi PHK massal karena pabrik-pabrik bangkrut, kasus kriminalitas juga semakin meningkat, dan sebagainya. Itu jelas biangnya karena anggota Dewan tidak melaksanakan tupoksinya dengan benar, bahkan mungkin ikut kongkalingkong melanggar hukum dan konstitusi."

Wah berat. Seorang imam masjid kampung dan tukang bangunan sudah punya kesan yang buruk terhadap kondisi negara. Parahnya lagi, dia punya kesimpulan anggota Dewan yang menjadi biangnya.

"Jadi kayaknya besok kita cukup milih Capres-Cawapres saja, Pak Bei."

"Kenapa begitu?"

"Belajar dari pengalaman, Pak Bei. Negara ini mau terus rusak-rusakan begini atau mau berubah menjadi lebih baik, menjadi lebih adil-makmur dan maju atau mundur, itu tergantung siapa Presidennya. Ini yang kukatakan pada jamaah kemarin, bahwa saya mau mencari dulu informasi yang jangkep agar nanti bisa memilih Calon Presiden yang terbaik."

"Caranya, Mas?"

"Sejauh ini saya memang belum nggagas soal pilihan, Pak Bei. Masih suntuk dengan kerjaan saya di proyek. Tapi karena jawaban saya sudah ditunggu jamaah, terpaksa saya harus cari-cari info ke sana-sini, termasuk buka-buka internet."

"Terus, Mas...."

"Saya akan membandingkan ketiga pasangan yang ada."

"Membandingkan apanya?"

"Terutama rekam-jejaknya, Pak Bei. Mereka kan sudah pernah jadi Gubernur, jadi Pimpinan DPR, bahkan ada yang masih menjabat sebagai Menteri dan Walikota. Akan saya simak satu-persatu apakah omongannya yang manis-manis saat kampanye sesuai dengan perilaku politiknya selama ini. Kalau omongannya sih semua pasti menawarkan yang terbaik untuk rakyat. Namanya juga kampanye. Jualan jamu, jualan kecap. Selama ini mereka sudah ngapain saja? Itu penting, Pak Bei."

"Senang sekali bisa ngobrol dengan Mas Warno malam ini. Luar biasa. Semoga Mas Warno segera menemukan pilihan yang terbaik sehingga bisa menjawab pertanyaan jamaah."

"Njih, Pak Bei. Terima kasih sudah mau mendengarkan uneg-uneg saya. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan."

"Santai saja, Mas Warno. Slow wae."

"Saya nyuwun pamit dulu, Pak Bei. Sudah larut malam. Sugeng dalu, selamat istirahat."

Pak Bei melepas Mas Warno meninggalkan  halaman dengan sepeda motornya. Luar biasa. Imam masjid kampung yang menyadari tupoksinya sebagai pemandu jamaah, bukan hanya dalam sholat rawatib, tetapi juga dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#lpumkmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah







Minggu, 03 Desember 2023

MILLENIAL SOCIO-PREUNEUR

MILLENIAL SOCIO-PRENUER

Minggu siang ini Pak Bei kedatangan tamu agak istimewa. Anak-anak muda Klaten kelahiran 90an, datang memperkenalkan diri sebagai Klaten Millenial Sociopreneur. Keren, kata Pak Bei dalam hati. Enam pemuda berpendidikan sarjana S1 dari berbagai Universitas dan jurusan itu berani memilih jalan hidup sebagai pengusaha. Bukan pengusaha biasa, tapi pengusaha yang punya visi pemberdayaan masyarakat. Mereka sadar memilih jalan terjal, bukan memilih jalan lempang dan nyaman sebagai pegawai atau karyawan. Dan hebatnya lagi, mereka pun bangga menyebutkan identitasnya yang keren, Klaten Millenial Sociopreneur. Mereka sengaja bareng-bareng datang ke Pak Bei untuk kenalan dan ngobrol. Begitu katanya.

Pilihan usaha anak-anak muda itu bermacam-macam. Faqih, misalnya, dia menekuni dunia digital-marketing, khusus menjual aneka produk pengecoran logam dari Batur, Ceper. Dia tidak mempunyai pabrik pengecoran sendiri, tapi kinerja marketingnya ditunggu-tunggu mitra pabriknya. Konon omsetnya bisa mencapai milyaran. Pemilik pabrik pun menjadi sangat tergantung order dari Faqih. 

Begitu juga Hasan yang menekuni marketing produk-produk furniture dari Serenan, Juwiring kampung halamannya. Pasarnya ekspor. Ada beberapa buyer dari Jepang, Korea, Canada, Itali, dan Spanyol. Order yang masuk dia bagi-bagi ke beberapa pengrajin dan bengkel. Anak muda yang hebat itu menjadi pintu rejeki bagi banyak pemilik bengkel furnitur dan karyawannya.

Hendy yang dari Wedi memilih melanjutkan usaha konveksi almarhum bapaknya. Bedanya, dia memilih produksi kaos dan jersey sesuai selera kekinian, bukan produksi seragam sekolah seperti bapaknya dulu.
Pasarnya pun tidak mengandalkan penjualan di Pasar Klewer Solo. Sesuai dengan segmentasinya, dia mengandalkan pemasaran online melalui medsos dan E-commers. Jadi skalanya lebih luas ke berbagai kota.

Yusuf dari Cawas memilih mendampingi para perajin lurik ATBM di kampungnya dan membantu penjualan produk secara online. Menurut Yusuf, sebenarnya peluang pasar lurik masih cukup bagus, baik lokal maupun Nasional. Tapi masalahnya pada kemampuan produksi para perajin. Mereka sering tidak mampu melayani tingginya permintaan pasar. Maklum, namanya saja ATBM, Alat Tenun Bukan Mesin. Proses produksi dikerjakan secara manual, dengan tangan dan kaki. Tenaga kerjanya mayoritas ibu-ibu yang sudah berumur, sebagai pekerjaan sambilan di sela-sela tugasnya mengurus anak dan membantu suami bekerja di sawah.

Irfan dari Karangpoh, Jatinom memilih usaha jualan aneka alat pertanian dan alat dapur seperti cangkul, cengkek, sabit, pisau, dan sebagainya. Maklum, desanya memang terkenal sebagai sentra pandai besi di Klaten. Dengan ketrampilannya digital-marketing, Irfan tampak cukup sukses memasarkan aneka produksi pandai besi tetangganya.  Agen dan reseller ada di berbagai daerah terutama di daerah perkebunan dan transmigran di luar Jawa.

Didik dari Delanggu memilih masuk bisnis di sektor beras. Dia tidak punya sawah, juga tidak membina langsung para petani dalam budidaya. Tapi, dia menggalang beberapa pemilih usaha penggilingan padi kecil di Delanggu dan sekitarnya, menggarap pemasaran Beras Delanggu via online. Dengan cara itu, Didik dapat menuhi permintaan pasar di berbagai kota.

"Tapi sudah beberapa bulan ini pasar lesu, Pak Bei. Tidak ada lagi permintaan dari luar Jawa," kata Rifan si pedagang senjata tajam.  "Mungkin karena semua orang sedang sibuk urusan politik mau Pemilu. Atau mungkin juga karena peralatan pertanian dari China sudah membanjiri pasar kita, Pak Bei. Produk kita juga kalah bersaing di harga," sambungnya. 

"Produksi kaosmu bagaimana, Mas Hendy? Banyak pesanan kaos kampanye, kan?" tanya Pak Bei.

"Enggak, Pak Bei. Sama saja, kami juga sedang sepi order. Kabarnya para politisi sekarang pesan Alat Peraga Kampanye seperti kaos dan banner langsung ke China. Konon harganya jauh lebih murah," jawab Hendy.

"Kalau bisnis berasmu bagaimana, Mas Didik? Ikut merasakan dampak gonjang-ganjing harga gak?"

"Ya jelas, Pak Bei," jawab Didik. "Sampai sekarang pun saya masih kesulitan mendapatkan barang. Teman-teman penggilingan padi skala kecil banyak yang terpaksa tutup usaha karena tidak ada pasokan gabah dari petani. Semua gabah tersedot ke pabrik besar. Dengan mesin-mesin canggih dan bermodal besar, mereka bisa memonopoli gabah dari petani se-Solo Raya," sambungnya.

"Terjadinya krisis beras kan karena faktor kekeringan dan gagal panen di tingkat petani to, Mas? Itulah sebabnya Pemerintah mengimpor berjuta ton beras dari Vietnam dan sebagainya demi menjaga stok pangan kita."

"Mungkin itu benar, Pak Bei, tapi tidak sepenuhnya benar," kata Didik.

"Maksudmu?"

"Menurut saya, kebijakan Pemerintah di sektor on-farm atau budidaya harus diperbaiki. Petani sebagai produsen beras harus dimuliakan dan dipihaki. Jangan hanya dijadikan objek pasar dari produsen benih, pupuk, dan obat-obatan, juga proyek ujicoba alsintan. Off-farm dan tata niaga beras juga harus dipebaiki, Pak Bei. Jangan sampai pangan kita dikendalikan oleh kartel."

"Untuk Mas Faqih dan Mas Hasan, tampaknya saya tidak perlu bertanya karena saya percaya jenis komoditas kalian masih aman, setidaknya untuk saat ini," kata Pak Bei pada juragan muda cor logam dan furnitur.

"Benar, Pak Bei. Alhamdulillah untuk saat ini memang masih aman, masih jalan terus," kata Faqih. 

"Tapi kami pun mulai menghadapi ancaman serius dari kompetitor luar lho, Pak Bei," Hasan menyahut. "Entah bagaimana caranya, mereka bisa menjual barang yang sama dengan kami tapi dengan harga yang sangat murah, bahkan tidak masuk akal," lanjut Hasan.

Obrolan masih seru, tapi azan ashar mulai terdengar bersahutan dari Toa-toa masjid sekitar nDalem Pak Bei. Tampak Bu Bei yang sudah mengenakan mukena memberi kode agar Pak Bei bersiap ke masjid. Tamu-tamu millenial itu pun paham. Mereka beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju ke masjid di samping nDalem Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#lpumkmpdmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah