MILLENIAL SOCIO-PRENUER
Pilihan usaha anak-anak muda itu bermacam-macam. Faqih, misalnya, dia menekuni dunia digital-marketing, khusus menjual aneka produk pengecoran logam dari Batur, Ceper. Dia tidak mempunyai pabrik pengecoran sendiri, tapi kinerja marketingnya ditunggu-tunggu mitra pabriknya. Konon omsetnya bisa mencapai milyaran. Pemilik pabrik pun menjadi sangat tergantung order dari Faqih.
Begitu juga Hasan yang menekuni marketing produk-produk furniture dari Serenan, Juwiring kampung halamannya. Pasarnya ekspor. Ada beberapa buyer dari Jepang, Korea, Canada, Itali, dan Spanyol. Order yang masuk dia bagi-bagi ke beberapa pengrajin dan bengkel. Anak muda yang hebat itu menjadi pintu rejeki bagi banyak pemilik bengkel furnitur dan karyawannya.
Hendy yang dari Wedi memilih melanjutkan usaha konveksi almarhum bapaknya. Bedanya, dia memilih produksi kaos dan jersey sesuai selera kekinian, bukan produksi seragam sekolah seperti bapaknya dulu.
Pasarnya pun tidak mengandalkan penjualan di Pasar Klewer Solo. Sesuai dengan segmentasinya, dia mengandalkan pemasaran online melalui medsos dan E-commers. Jadi skalanya lebih luas ke berbagai kota.
Yusuf dari Cawas memilih mendampingi para perajin lurik ATBM di kampungnya dan membantu penjualan produk secara online. Menurut Yusuf, sebenarnya peluang pasar lurik masih cukup bagus, baik lokal maupun Nasional. Tapi masalahnya pada kemampuan produksi para perajin. Mereka sering tidak mampu melayani tingginya permintaan pasar. Maklum, namanya saja ATBM, Alat Tenun Bukan Mesin. Proses produksi dikerjakan secara manual, dengan tangan dan kaki. Tenaga kerjanya mayoritas ibu-ibu yang sudah berumur, sebagai pekerjaan sambilan di sela-sela tugasnya mengurus anak dan membantu suami bekerja di sawah.
Irfan dari Karangpoh, Jatinom memilih usaha jualan aneka alat pertanian dan alat dapur seperti cangkul, cengkek, sabit, pisau, dan sebagainya. Maklum, desanya memang terkenal sebagai sentra pandai besi di Klaten. Dengan ketrampilannya digital-marketing, Irfan tampak cukup sukses memasarkan aneka produksi pandai besi tetangganya. Agen dan reseller ada di berbagai daerah terutama di daerah perkebunan dan transmigran di luar Jawa.
Didik dari Delanggu memilih masuk bisnis di sektor beras. Dia tidak punya sawah, juga tidak membina langsung para petani dalam budidaya. Tapi, dia menggalang beberapa pemilih usaha penggilingan padi kecil di Delanggu dan sekitarnya, menggarap pemasaran Beras Delanggu via online. Dengan cara itu, Didik dapat menuhi permintaan pasar di berbagai kota.
"Tapi sudah beberapa bulan ini pasar lesu, Pak Bei. Tidak ada lagi permintaan dari luar Jawa," kata Rifan si pedagang senjata tajam. "Mungkin karena semua orang sedang sibuk urusan politik mau Pemilu. Atau mungkin juga karena peralatan pertanian dari China sudah membanjiri pasar kita, Pak Bei. Produk kita juga kalah bersaing di harga," sambungnya.
"Produksi kaosmu bagaimana, Mas Hendy? Banyak pesanan kaos kampanye, kan?" tanya Pak Bei.
"Enggak, Pak Bei. Sama saja, kami juga sedang sepi order. Kabarnya para politisi sekarang pesan Alat Peraga Kampanye seperti kaos dan banner langsung ke China. Konon harganya jauh lebih murah," jawab Hendy.
"Kalau bisnis berasmu bagaimana, Mas Didik? Ikut merasakan dampak gonjang-ganjing harga gak?"
"Ya jelas, Pak Bei," jawab Didik. "Sampai sekarang pun saya masih kesulitan mendapatkan barang. Teman-teman penggilingan padi skala kecil banyak yang terpaksa tutup usaha karena tidak ada pasokan gabah dari petani. Semua gabah tersedot ke pabrik besar. Dengan mesin-mesin canggih dan bermodal besar, mereka bisa memonopoli gabah dari petani se-Solo Raya," sambungnya.
"Terjadinya krisis beras kan karena faktor kekeringan dan gagal panen di tingkat petani to, Mas? Itulah sebabnya Pemerintah mengimpor berjuta ton beras dari Vietnam dan sebagainya demi menjaga stok pangan kita."
"Mungkin itu benar, Pak Bei, tapi tidak sepenuhnya benar," kata Didik.
"Maksudmu?"
"Menurut saya, kebijakan Pemerintah di sektor on-farm atau budidaya harus diperbaiki. Petani sebagai produsen beras harus dimuliakan dan dipihaki. Jangan hanya dijadikan objek pasar dari produsen benih, pupuk, dan obat-obatan, juga proyek ujicoba alsintan. Off-farm dan tata niaga beras juga harus dipebaiki, Pak Bei. Jangan sampai pangan kita dikendalikan oleh kartel."
"Untuk Mas Faqih dan Mas Hasan, tampaknya saya tidak perlu bertanya karena saya percaya jenis komoditas kalian masih aman, setidaknya untuk saat ini," kata Pak Bei pada juragan muda cor logam dan furnitur.
"Benar, Pak Bei. Alhamdulillah untuk saat ini memang masih aman, masih jalan terus," kata Faqih.
"Tapi kami pun mulai menghadapi ancaman serius dari kompetitor luar lho, Pak Bei," Hasan menyahut. "Entah bagaimana caranya, mereka bisa menjual barang yang sama dengan kami tapi dengan harga yang sangat murah, bahkan tidak masuk akal," lanjut Hasan.
Obrolan masih seru, tapi azan ashar mulai terdengar bersahutan dari Toa-toa masjid sekitar nDalem Pak Bei. Tampak Bu Bei yang sudah mengenakan mukena memberi kode agar Pak Bei bersiap ke masjid. Tamu-tamu millenial itu pun paham. Mereka beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju ke masjid di samping nDalem Pak Bei.
#serialpakbei
#wahyudinasution
#lpumkmpdmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar