Jumat, 22 November 2024

GENOSIDA UMKM

Genosida UMKM: Tantangan Eksistensi Pelaku Usaha Kecil di Tengah Gempuran Ekonomi

Oleh: Wahyudi Nasution
Pemerhati Sosial-Ekonomi-Budaya, tinggal di Klaten

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah lama menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja, UMKM adalah fondasi yang menggerakkan roda ekonomi bangsa. Namun, realitas saat ini menggambarkan sebuah ancaman serius bagi kelangsungan hidup UMKM, yang secara figuratif dapat disebut sebagai "genosida UMKM."

Apa yang Dimaksud dengan Genosida UMKM?

Istilah "genosida UMKM" merujuk pada penghancuran perlahan tapi pasti terhadap UMKM akibat berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Meski bersifat metaforis, dampak yang dialami para pelaku UMKM sangat nyata: kesulitan bertahan, kehilangan pasar, hingga bangkrut.

Faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap kondisi ini meliputi:

1. Persaingan Tak Seimbang dengan Raksasa Korporasi
Dalam banyak kasus, UMKM sulit bersaing dengan perusahaan besar, baik lokal maupun multinasional. Keunggulan modal, teknologi, dan jaringan distribusi membuat korporasi besar mendominasi pasar.

2. Digitalisasi yang Tak Merata
Percepatan transformasi digital membawa peluang besar, tetapi juga menciptakan kesenjangan bagi UMKM yang belum siap, baik karena keterbatasan dana, pengetahuan, maupun akses internet.

3. Regulasi yang Tidak Pro-Rakyat
Kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada ekonomi rakyat menjadi salah satu penyebab utama. Misalnya, aturan perpajakan yang memberatkan, birokrasi yang berbelit untuk perizinan, atau minimnya perlindungan terhadap produk lokal. Sebagai contoh, kebijakan impor produk murah yang masif mengancam keberlangsungan produk UMKM.

4. Serbuan Produk Impor Murah
Produk impor, terutama dari negara-negara dengan biaya produksi rendah, semakin membanjiri pasar domestik. Hal ini mempersulit UMKM untuk bersaing dari segi harga maupun kualitas.

5. Krisis Ekonomi Pascapandemi
Pandemi COVID-19 memberikan pukulan telak bagi UMKM. Banyak yang gulung tikar karena kehilangan pelanggan, terganggu rantai pasokan, dan tidak mampu bertahan dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil.


Tanggung Jawab Negara Melindungi UMKM

Konstitusi Indonesia, khususnya Pasal 33 UUD 1945, menyatakan bahwa perekonomian harus disusun berdasarkan asas kekeluargaan untuk kesejahteraan seluruh rakyat. Artinya, pemerintah memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi pelaku usaha kecil sebagai bagian dari ekonomi rakyat.

Beberapa langkah yang perlu dilakukan pemerintah untuk melindungi UMKM antara lain:

1. Revisi Kebijakan yang Tidak Pro-Rakyat
Pemerintah perlu mengevaluasi dan merevisi regulasi yang merugikan UMKM. Aturan yang memungkinkan impor produk murah secara masif, misalnya, harus dibatasi untuk memberikan ruang bagi produk lokal.

2. Peningkatan Insentif bagi UMKM
Pemerintah wajib memberikan dukungan nyata berupa insentif pajak, subsidi modal, dan pembiayaan berbunga rendah khusus bagi pelaku UMKM.

3. Perlindungan Pasar Domestik
Regulasi harus dirancang untuk memastikan produk UMKM memiliki tempat di pasar lokal. Misalnya, melalui kewajiban bagi instansi pemerintah dan korporasi untuk mengutamakan produk lokal dalam pengadaan barang dan jasa.

4. Pendampingan dan Pelatihan Teknis
Pemerintah harus menyediakan program pelatihan dan pendampingan berkelanjutan bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing, terutama dalam era digitalisasi.


Dampak Jika UMKM Tidak Dilindungi

Kegagalan melindungi UMKM dapat membawa dampak luas terhadap ekonomi dan sosial bangsa, antara lain:

Meningkatnya Pengangguran
Dengan banyaknya UMKM yang tutup, lapangan pekerjaan akan hilang, sehingga memperburuk tingkat pengangguran nasional.

Hilangnya Identitas Lokal
UMKM adalah representasi budaya dan kearifan lokal. Jika UMKM musnah, identitas lokal pun akan tergerus.

Ketergantungan pada Produk Impor
Tanpa UMKM yang kuat, pasar domestik akan semakin bergantung pada produk impor, melemahkan kemandirian ekonomi bangsa.


Langkah Penyelamatan UMKM

Menghindari "genosida UMKM" memerlukan kolaborasi dari semua pihak. Berikut beberapa solusi konkret:

1. Regulasi Pro-UMKM
Pemerintah harus menetapkan kebijakan yang melindungi ekonomi rakyat, seperti pembatasan impor, insentif pajak, dan kemudahan akses permodalan.

2. Akselerasi Digitalisasi
Pelaku UMKM perlu didorong untuk memasuki pasar digital melalui pelatihan, bantuan infrastruktur, dan pendampingan teknis.

3. Kampanye Belanja Produk Lokal
Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama mendukung gerakan cinta produk lokal untuk membantu UMKM bertahan.

4. Kemitraan dengan Korporasi
Korporasi besar dapat berperan dalam program kemitraan yang melibatkan UMKM, seperti pembinaan, transfer teknologi, hingga pemberian akses pasar.


Kesimpulan

Pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam melindungi UMKM sebagai fondasi ekonomi rakyat. Regulasi yang tidak berpihak pada pelaku usaha kecil harus segera direvisi untuk memastikan keberlangsungan ekonomi yang berkeadilan. Dengan langkah nyata dari semua pihak, UMKM dapat kembali menjadi pilar utama dalam membangun kemandirian ekonomi bangsa.

Klaten, 22 November 2024

Rabu, 13 November 2024

HARGA IKAN ARWANA

HARGA IKAN ARWANA

Sebenarnya Pak Bei sudah berencana mau keluar sepulang dari sholat isya' di mesjid. Sambil jalan kaki, Pak Bei sudah membayangkan betapa nyamleng minum teh jahe di angkringan Wahyono langganannya. Lalu, nanti sekitar jam 20.00, ikut berebut nasi kucing, nasi bungkus porsi kecil-kecil lauk sambel teri atau bandeng secuwil, yang baru disetor bapaknya Wahyono. Aahh, pasti nikmat sekali.

Tapi rencana Pak Bei gagal total. Lagi-lagi gara-gara Kang Narjo, sahabatnya yang loper koran senior itu, ternyata sudah duduk thenguk-thenguk di kursi tamu Ndalem Pak Bei. Tidak sendirian, tapi dengan Mursyid anak bungsunya.

"Mohon maaf tidak ngabari dulu," kata Kang Narjo setelah bersalaman dan Pak Bei pun ikut duduk.

"Ya gak papa, Kang," jawab Pak Bei. "Sebentar ya, biar dibuatkan kopi dulu," sambung Pak Bei sambil beranjak masuk rumah.

"Piye, Le, kabarmu? Kerja di mana sekarang?," tanya Pak Bei pada Mursyid.

"Sudah dua bulan ini saya nganggur, Pak Bei. Pabrik mengurangi banyak tenaga kerja, termasuk saya yang dirumahkan," jawab Mursyid.

"Ya itulah, Pak Bei. Makanya ragilku ini kuajak kemari, biar ikut ngobrol dengan Pak Bei,  biar tambah wawasan," sahut Kang Narjo.

"Lha memangnya ada apa? Sudah dua-tiga tahun terakhir ini kan memang banyak perusahaan mem-PHK karyawannya. Banyak pabrik yang terpaksa menutup usaha karena tidak mampu bertahan menghadapi serbuan barang-barang impor yang sangat murah harganya. Apalagi usaha-usaha kecil, UMKM, sudah banyak yang kolap tidak mampu bertahan."

"Ya memang. Setiap hari juga kubaca berita soal itu."

"Sabar dulu ya, Le. Semoga keadaan ekonomi negara kita segera membaik," kata Pak Bei pada Mursyid.

"Ini yang jadi masalah bagi saya, Pak Bei."

"Masalahnya apa, Kang?"

"Mursyid ini pengin merantau cari kerja di Jakarta. Saya dan ibunya gak mengijinkan."

"Looh...iya to, Le?"

"Injih, Pak Bei," jawab Mursyid.

"Kakak-kakaknya sudah berumah tangga di Boyolali dan Sukoharjo. Pengin kami, Mursyid ini biar di rumah saja nemani kami yang sudah mulai menua. Lha kok malah mau pergi. Yang ngajar ngaji anak-anak di mesjid nanti siapa? Yang akan jadi imam dan khotib sholat Jumat nanti siapa kalau pas aku ini lagi kurang enak badan atau bahkan sudah tidak kuat naik mimbar dan jadi imam sholat?"

"Ooh itu to masalahnya, Kang?"

"Iya, Pak Bei. Tolong anak saya ini diparingi wawasan."

"Aku jadi teringat satu cerita, Kang. Mungkin Kang Narjo dan Mursyid juga belum pernah dengar cerita ini."

"Tentang apa, Pak Bei?" tanya Kang Narjo.

"Diminum dulu kopinya, Kang. Ayo diminum dulu, Le," Pak Bei memperilahkan Kang Narjo dan anaknya menikmati kopi yang barusan disuguhkan Cahya. "Ini cerita tentang seekor ikan arwana."

"Bagaimana ceritanya, Pak Bei?" Mursyid tampak penasaran.

"Alkisah, di sebuah desa ada seorang saudagar yang cukup kaya, Pak Hasan namanya. Rumahnya besar dan bagus, meubelernya mewah, mobilnya juga banyak dan bagus-bagus. Di rumah Pak Hasan ada satu aquarium cukup besar yang isinya seekor ikan arwana. Narto, sopir pribadi Pak Hasan, yang ditugasi merawat aquarium itu bila sedang tidak ada tugas keluar."

"Terus, Pak Bei...," Mursyid tampak antusias mendengarkan.

"Pagi itu Pak Hasan memanggil Narto yang sedang mengelap mobil. "Tolong Mas Narto kuras aquarium. Terus, arwana itu bawalah ke Pasar Lagi."

"Buat apa, Pak Hasan?" tanya Narto.

"Aku pengin jual arwanaku. Coba kamu tawarkan ke pedagang ikan hias di Pasar Legi. Dia berani nawar harga berapa?"

"Lha Pak Hasan mintanya berapa?"

"Aku pengin tahu dulu dia berani nawar berapa."

Narto yang sudah ikut Pak Hasan puluhan tahun itu pun dengan sigap melaksanakan perintah juragan. Dibawanya ikan arwana klangenan Pak Hasan ke Pasar Legi dan ditawarkan ke seorang pedagang ikan hias. Betapa kagetnya si Narto, si pedagang menawar arwana itu di harga 1 juta rupiah. "Waow mahal sekali. Bisa buat beli ikan lele 50 kg dan dibikin lauk untuk berhari-hari," kata Narto dalam hati. Cepat-cepat Narto pulang membawa kabar baik itu untuk bosnya.

"Ternyata bosnya tidak tertarik dengan tawaran pedagang pasar. Disuruhnya Narto tawarkan lagi ke toko aquarium dan ikan hias di kota.
Narto pun segera putar mobil dan meluncur ke kota. Kira-kira setengah jam kemudian, Narto sudah kembali pulang menghadap Pak Hasan, menyampaikan tawaran dari pemilik toko aquarium. "Ditawar 5 juta, Pak Hasan. Masya Allah...," Hasan tidak habis pikir.

Pak Bei nyeruput kopinya, lalu menyulut sebatang kretek di pipanya. Bulll.... gumpalan asap putih tampak berhamburan dari mulut Pak Bei dan terbang bersama angin malam.

"Terus bagaimana kelanjutannya, Pak Bei,?" Mursyid tampak tidak sabar menunggu Pak Bei melanjutkan ceritanya.

"Ternyata Pak Hasan tidak keget dengan tawaran yang kedua itu. Lalu disuruhnya Narto kembali ke kota, menawarkan ikan itu ke pemilik Toko Emas yang konon seorang kolektor ikan arwana. Coba kamu tawarkan ke Koh Candra dan tunjukkan surat ini," pesan Pak Hasan sambil menyerahkan amplop coklat. 

"Sopir yang setia itu pun langsung meluncur ke kota. Setengah jam kemudian, Narto sudah kembali menghadap juragannya dan melaporkan tawaran dari Koh Chandra. "Ditawar 400 juta, Pak Hasan. Ya Allah...hanya seekor ikan saja ditawar seharga mobil Innova Reborn. Dilepas saja, Pak Hasan," Narto berharap juragannya senang dan mau melepas arwananya ke penawar ketiga.

"Dari cerita itu, apa hikmah yang kamu dapatkan, Le?," tanya Pak Bei pada Mursyid.

"Saya ikut penasaran saja, Pak Bei, kok ada ya seekor ikan dihargai semahal itu. Kalau burung seperti perkutut atau murai batu, misalnya, saya pernah dengar ada yang harganya sampai milyaran. Tapi kan jelas ada suara manggungnya yang 'koong' atau kicaunya sangat merdu dan banyak variasi. Lha kalau ikan, apanya yang bikin mahal?" Mursyid juga tidak habis pikir.

"Keindahan itu memang sifatnya subjektif,Le. Tapi, ada semacam kesepakatan umum tentang keindahan, tentang kesempurnaan. Sesuatu dianggap indah, lebih indah, atau paling indah, itu sudah ada semacam konsensus, ada ciri-ciri dan syarat yang sudah menjadi kesepakatan bersama namun tidak tertulis."

"Lha terus apa hikmah dari cerita tadi, Pak Bei?" Mursyid semakin penasaran.

"Begini, Le. Ikan arwana yang sama ditawarkan ke tiga orang berbeda, ternyata tadi hasilnya jauh berbeda. Iya, kan?"

"Iya, Pak Bei. Pedagang pasar menawar 1 juta, toko aquarium menawar 5 juta, kolektor menawar 400 juta."

"Kenapa bisa begitu?"

"Gak tahu, Pak Bei."

"Karena pengetahuan mereka tentang keindahan ikan arwana juga berbeda-beda. Pedagang pasar berani nawar 1 juta itu sudah hebat, karena dia biasa menjual ikan hias harganya cuma 5 ribu atau 10 ribu. Pemilik toko aquarium berani menawar 5 juta itu sudah berani sekali, karena dia biasa jual ikan hias paling mahal 1 juta. Sedangkan Koh Chandra, rupanya dia paham betul bahwa ikan arwana Pak Hasan itu jenis yang langka, arwana platinum, dan sangat mahal harganya. Di dalam amplop coklat tadi ada serifikat genetiknya sehingga arwana Pak Hasan itu jelas nasabnya. Dan, Koh Chandra paham soal itu. Makanya dia berani menawar di harga 400 juta, karena dia tahu betul harganya bisa sampai 2 milyar di tingkat kolektor."

"Masya Allah...harga 2 milyar?" Kang Narjo yang dari tadi cuma senyum-senyum melihat anaknya tampak enjoy ngobrol dengan Pak Bei, ternyata diam-diam juga kaget mendengar harga ikan arwana.

"Kang, Mursyid anakmu ini akan dihargai tinggi oleh orang yang paham kualitasnya. Mursyid akan dihormati bila dia berada dilingkungan yang kodusif dan  paham kualitas Mursyid. Dulu, Kanjeng Nabi Muhammad SAW dimusuhi, disinisi, dicaci-maki, diperangi, bahkan mau dibunuh oleh kerabatnya sendiri kaum kafir Quraisy di Mekah. Ketika mencoba hijrah ke Thaif, ternyata masyarakat Thaif yang masih kafir juga menolaknya. Beliau diusir dan dilempari batu. Ingat cerita itu to, Kang?" tanya Pak Bei pada sahabatnya.

"Ingat, Pak Bei. Gigi Kanjeng Nabi ada yang patah kena lemparan batu itu. Gusinya berdarah. Di Mekah juga diboikot, diembargo ekonominya hampir 3 tahun. Harta beliau dan Ibu Khadijah sampai habis untuk menghidupi keluarga sahabat-sahabat yang mayoritas kaum miskin."

"Betul itu, Kang. Lalu beliau hijrah ke Madinah, atas permintaan para pedagang Madinah yang sudah beriman. Orang-orang Madinah yakin betul bahwa beliau memang Nabi dan Rasul terakhir yang sudah tertulias pada kitab-kitab terdahulu yang sering dibacakan oleh para Ahlul-Kitab."

"Iya, Pak Bei. Orang Madinah menyambut kedatangan Kanjeng Nabi dengan suka-cita. Itu karena mereka sudah tahu dan yakin dengan kualitas Muhammad, Nabi dan Rasul terakhir yang ditunggu-tunggu umat."

"Tepat sekali. Demikian juga kita ini, Kang."

"Maksud, Pak Bei?," tanya Mursyid penasaran.

"Tidak semua orang paham harga kita, Le. Itu sangat tergantung seberapa pemahaman mereka terhadap kita. Jadi, kita gak usah berkecil hati kalau ada orang tidak suka atau bahkan memusuhi. Juga tidak perlu sombong dan besar kepala bila ada orang memuji dan menyanjung kita. Biasa-biasa saja. Orang menilai kita bisa berbeda-beda, sesuai pemahaman mereka pada kualitas kita."

"Tapi, Pak Bei, orang-orang jaman pada berebut untuk menjadi orang terhormat, lho. Aneh, kan? Bahkan, banyak juga yang minta  menikmati dipanggil dengan sebutan "Yang Mulia". Kalau tidak, mereka bisa marah. Kehormatan dan kemuliaan jaman sekarang ternyata bisa dibeli dengan uang."

"Ya biar saja orang melakukan itu, Kang. Orang yang masih waras pasti tidak akan mau seperti itu. Malu dengan Tuhan."

Saking asyiknya ngobrol, tahu-tahu angin malam yang berhembus sudah terasa anyep, dingin membelai kulit. Itu tandanya malam sudah cukup larut, sudah mendekati pergantian tanggal. Kang Narjo pun mengajak anaknya pulang.
Mereka bersalaman dengan Pak Bei, lalu pulang membawa kesannya masing-masing dari omon-omon malam ini.

Klaten, 13 November 2024

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten


















Selasa, 12 November 2024

Deep Learning

"Mindful, Meaningful, Joyful: Tiga Pilar Deep Learning untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia"

Dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto, Prof. Dr. Abdul Mukti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI memperkenalkan arah baru pendidikan yang berfokus pada konsep deep learning. Berbeda dari pendekatan konvensional yang sering mengedepankan hafalan, visi Prof. Mukti ini menitikberatkan pada pembelajaran mendalam yang mengasah keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan pemahaman bermakna dalam diri siswa.

Visi ini diwujudkan melalui tiga pilar utama yang dikenal sebagai mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Tiga pilar ini diharapkan dapat menghasilkan generasi pembelajar sejati yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan siap menghadapi tantangan dunia nyata. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing pilar dan dampaknya dalam dunia pendidikan.

1. Mindful Learning: Pembelajaran dengan Kesadaran Penuh

Pembelajaran dengan kesadaran penuh atau mindful learning adalah dasar dari konsep deep learning. Dalam pendekatan ini, siswa didorong untuk benar-benar hadir secara mental dan emosional selama proses belajar, fokus pada apa yang mereka pelajari, dan tidak terburu-buru dalam menyerap informasi.

Mengapa Mindful Learning Penting? 
Mindful learning membantu siswa memusatkan perhatian secara lebih efektif, mengelola stres, dan menghadapi tantangan dengan tenang. Dengan fokus penuh, siswa lebih siap memahami pelajaran secara mendalam, mengasah kemampuan konsentrasi, dan menumbuhkan kebiasaan belajar yang sehat.


2. Meaningful Learning: Pembelajaran yang Bermakna

Pilar kedua, meaningful learning, berfokus pada pemahaman yang mendalam dan aplikatif, sehingga ilmu yang diperoleh siswa bisa dihubungkan langsung dengan kehidupan nyata. Pembelajaran yang bermakna ini memungkinkan siswa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengerti kegunaan dan relevansi materi tersebut.

Mengapa Meaningful Learning Penting? 
Melalui pembelajaran yang bermakna, siswa lebih mampu mengingat dan memproses informasi dalam jangka panjang karena mereka memahami bagaimana konsep yang dipelajari dapat diterapkan di dunia nyata. Ini juga membangun keterampilan berpikir kritis karena siswa dilatih untuk mengaitkan ilmu dengan permasalahan yang ada di lingkungan mereka.


3. Joyful Learning: Pembelajaran yang Menyenangkan

Pilar ketiga adalah joyful learning, di mana siswa diajak untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan. Prof. Mukti menekankan bahwa suasana positif dalam proses belajar akan membuat siswa lebih antusias dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan.

Mengapa Joyful Learning Penting? 
Dengan suasana belajar yang menyenangkan, siswa akan lebih mudah terlibat dan termotivasi. Ini akan menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi serta kemampuan untuk berpikir kreatif. Ketika siswa menikmati proses belajar, mereka akan lebih terbuka terhadap pengetahuan baru dan mengembangkan kreativitas serta inovasi.


Membangun Masa Depan Pendidikan Melalui Deep Learning

Ketiga pilar ini—mindful, meaningful, dan joyful learning—adalah landasan kuat dari visi Prof. Dr. Abdul Mukti untuk mengarahkan pendidikan Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan menempatkan fokus pada pemahaman mendalam, relevansi nyata, dan kebahagiaan dalam belajar, konsep deep learning ini diharapkan bisa membentuk generasi yang tangguh, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global.

Dengan pendekatan deep learning yang berbasis pada tiga pilar ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencetak generasi pembelajar sejati yang akan memimpin kemajuan di berbagai bidang dan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah.

Klaten, 12 November 2024

Pak Bei

Minggu, 03 November 2024

BUKAN OTHAK-ATHIK GATHUK

BUKAN 'OTHAK-ATHIK-GATHUK'

Orang yang tidak mengenal bahasa dan budaya Jawa, tentu tidak paham istilah 'othak-athik-gathuk'. Bahkan, anak-anak Jawa Millenial dan Generasi-Z pun tidak memahaminya karena istilah itu sudah jarang terdengar. Pemahaman sederhananya, 'othak-athik' itu mencari-cari hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya sehingga terjadi hubungan yang seolah logis antara keduanya, dan 'gathuk' alias klop. Kadang, 'othak-athik gathuk' juga dipakai untuk 'sonji', menebak angka lotre dalam perjudian. Begitulah, orang Jawa memang terkenal kreatif menjalani hidup dan menghibur diri. Kepala kejedhuk tembok sampai benjut dan kesakitan pun dia bilang, "Aduh uenake, Rek." 

Siang ini tetiba Pak Bei kedatangan tamu, teman kost dan sahabat waktu kuliah di Jogja, Purnomo namanya. Sudah lama keduanya tidak ketemu. Kabarnya Purnomo kerja di Madiun dan beranak-pinak di sana, sedangkan Pak Bei pulang ke kampung halaman di Jatinom, Klaten, hidup rukun bersama istri dan tiga anaknya. Hanya sesekali dua bersahabat itu saling berkabar lewat pesan WA. 

Entah angin apa yang menggiringnya, tetiba Purnomo kirim pesan WA minta sharelok.  Mau mampir, katanya. Tak berapa lama, sebuah mobil sedan warna hitam plat AE pun masuk ke halaman nDalem Pak Bei. 

Purnomo masih tampak gagah dan sehat, sama seperti Pak Bei. Keduanya salaman lalu duduk di teras. Setelah berbasa-basi dan berkabar-kabari sejenak, Pak Bei pun ke dalam memesan 2 gelas kopi pada anak gadisnya, Zika.

"Tadi di tol menjelang pintu keluar Klaten, tiba-tiba aku terpikir kontak Sampeyan. Pengin mampir. Sudah lama kita tidak ketemu," kata Purnomo. 

"Iya, Mas Pur. Sudah lama sekali. Mari diminum dulu kopinya," Pak Bei mempersilakan sahabatnya.

Purnomo pun nyeruput kopinya lalu bercerita dia mau ke Prambanan menengok anak bungsunya yang mondok di MBS. Anaknya santri kelas 6, jadi sudah jarang ditengok. Itu sama dengan anak bungsu Pak Bei, Alya, juga klas 6 di Pondok Gontor Putri 1 Mantingan. Sudah jarang ditengok juga.

"Pak Bei mengikuti berita seputar program Makan Bergizi Gratis, gak?," tanya Purnomo setelah nyeruput kopinya lagi.

"Ya lumayan, Mas. Ramai juga ya rupanya."

"Jelas ramai. Banyak orang berkepentingan, kok. Tampak orang-orang secara atraktif menyodorkan gagasan kelompoknya untuk bisa terlibat di pelaksanaan program itu."

"Begitu ya, Mas?"

"Ini proyek besar sekali, Pak Bei. Program prioritas yang didanai bukan hanya 71 triliun dari APBN, tapi juga dana CSR semua BUMN dikerahkan untuk ikut mensukseskan. Makanya, semua Parpol Koalisi, Pengusaha, dan berbagai kelompok di Jakarta tampak saling bermanufer agar kebagian menggarap proyek itu."

"Wah aku malah belum terpikir sampai ke sana, Mas. Aku hanya terpikir program ini kok kesannya mengada-ada, ya. Di saat ekonomi sedang sulit seperti ini, kok malah bikin program nganeh-anehi. Seolah-olah pro ekonomi rakyat, mengatasi kemiskinan dan pemenuhan asupan gizi anak-anak, padahal ujungnya nanti hanya untuk memakmurkan kelompoknya. Seperti BLT dan Bansos selama ini, ternyata rakyat justru dibuat semakin tergantung dan tetap miskin. Dampaknya, rakyat hanya nurut saja kemauan Pemerintah, tidak berani protes."

"Sori, aku punya pandangan agak berbeda dengan Pak Bei. Dan ini bukan othak-athik-gathuk, lho. Pertama, boleh saja kita tidak suka pada Pemerintah yang belum lama ini dilantik. Boleh-boleh saja kita tidak setuju dengan program-programnya, termasuk program Makan Bergizi Gratis."

"Terus...."

"Bagaimanapun juga, program itu sudah ditetapkan sebagai program prioritas Pemerintah yang harus dilaksanakan mulai Januari 2025. Maka, pasti program itu akan dijalankan dan dibiayai besar-besar dengan APBN.

"Terus, Mas."

"Yang kedua, mari coba kita melihatnya dari perspektif lain yang lebih positif. Program prioritas itu menurutku sangat cerdas dan logis sebagai cara Pemerintah menggerakkan ekonomi rakyat."

"Kok bisa?"

"Pak Bei, sebagai sesama aktivis Muhammadiyah, mari coba kita buat simulasi. Misalnya di PDM Klaten tempat Pak Bei ini. Saya tahu ini PDM terbesar di Jawa Tengah"

"Ya, Mas. Terus gimana?"

"Misalnya Amal Usaha Pendidikan di Klaten ini dari PAUD hingga SMA ada 40.000 murid, ditambah 5.000 guru dan karyawan. Jadi akan ada 45.000 paket makan bergizi gratis yang harus disiapkan setiap hari. Bila harga per paket RP 15.000, misalnya, berarti ada perputaran uang Rp 675.000.000/hari. Bila per bulan ada 25 hari sekolah, maka perputarannya Rp 1.625.000.000/bulan."

"Wah ternyata besar sekali ya, Mas."

"Bila beras per-kg untuk 10 porsi, maka kebutuhan berasnya 4,5 ton/hari, sama dengan 112,5 ton/bulan. Bayangkan betapa besar dampaknya bagi petani. Dapur Umum bisa melakukann contrack farming dengan para petani, dengan kepastian harga dan pola pembayaran yang adil. Belum lagi kebutuhan sayur-mayur, telor, daging ayam, ikan, bumbu. Para peternak ayam pedaging, ayam petelor, dan ikan tentu akan gembira-ria."

"Tapi bisa juga petani kecelik lagi lho, Mas."

"Kecelik bagaimana?"

"Ah Mas Pur ini kayak gak tahu saja. Melihat cuan yang sangat besar itu, para politisi akan cepat-cepat menggandeng para importir beras, telor, daging, minyak, bumbu dan sebagainya, demi mendapatkan persenan buat menutup biaya politiknya. Mereka yang memasok bahan makanan untuk program itu."

"Justru itulah Pak Bei."

"Bagaimana, Mas Pur?"

"Muhammadiyah yang jelas punya sumberdaya lengkap, harus bisa mengelola program Makan Bergizi Gratis sendiri. Jangan sampai murid-murid sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah yang sangat banyak jumlahnya justru digarap dan diperebutkan orang lain."

"Saya setuju itu, Mas Pur. Tapi masalahnya bola ada di tangan Badan Gizi Nasional sebagai penanggungjawab program. Tentu banyak kepentingan yang bermain, kan?"

"Ya memang BGN penanggungjawab pelaksanaannya. Tapi Muhammadiyah yang sudah berdarah-darah membangun dan mengelola ribuan sekolah secara swadaya, harusnya bisa bergaining possition dengan Pemerintah. Untuk anak-anak Muhammadiyah, serahkan pada Muhammdiyah sendiri. Begitu. Untuk anak-anak kita ya harus kita sendiri yang menyediakan makan."

Obrolan dua bersahabat itu cukup seru, tapi harus terhenti karena terdengar azan ashar bersahutan dari masjid-masjid sekitar. Keduanya pun bergegas ke masjid untuk shalat berjamaah. 

Seusai shalat, Purnomo pamit mau meneruskan perjalanan ke Pondok MBS di Prambanan Sleman, sekitar 25 km dari nDalem Pak Bei. Mereka pun berpisah. Purnomo meninggalkan masalah di kepala Pak Bei, masalah baru yang sangat menantang, namun tidak gampang mewujudkannya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten

"













Sabtu, 02 November 2024

Program MBG dan Relevansinya dengan Muhammadiyah

Program Makan Bergizi Gratis dan Relevansinya Dengan Gerakan Muhammadiyah

Oleh: Wahyudi Nasution
Pemerhati dan Pegiat Sosial-Budaya


Program makan bergizi gratis merupakan inisiatif pemerintah untuk menyediakan akses makanan sehat bagi masyarakat, terutama kalangan anak-anak dan ibu hamil. Program ini menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo yang akan dimulai pada Januari 2025 dengan sasaran utama anak-anak sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA, serta balita dan ibu hamil. Tujuan utamanya adalah mengatasi masalah gizi dan kesehatan pada kelompok rentan, mengurangi kesenjangan sosial, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui asupan nutrisi yang memadai.

Bagi Muhammadiyah, program ini sejalan dengan visi dan misinya dalam meningkatkan kesejahteraan umat melalui pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912, Muhammadiyah berkomitmen dalam kegiatan-kegiatan amal yang memperjuangkan kesejahteraan sosial dan pendidikan yang merata. Oleh karena itu, Muhammadiyah berkepentingan agar amal usaha pendidikan dan sosialnya dapat terlibat aktif dalam program ini untuk mendukung tujuan yang lebih luas, yaitu menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Muhammadiyah dan Program Prioritas Pemerintah

Program makan bergizi gratis yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo juga sangat relevan bagi Muhammadiyah yang memiliki ribuan lembaga pendidikan dari tingkat PAUD/TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, hingga Pondok Pesantren dan Panti Asuhan. Dengan jangkauan amal usaha pendidikan yang begitu luas, Muhammadiyah berkepentingan agar seluruh lembaga pendidikannya dapat terlibat dalam program ini, serta memastikan agar tidak ada anak didik di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang luput dari akses makanan bergizi.

Kolaborasi ini dapat membawa dampak positif terutama dalam meningkatkan kualitas belajar anak-anak dari kalangan dhuafa yang seringkali menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Dengan dukungan pemerintah, Muhammadiyah dapat memainkan peran aktif dalam membantu anak-anak menerima makanan sehat secara rutin sehingga mampu mendukung perkembangan fisik dan kognitif mereka.

Menyelaraskan Nilai-Nilai Gerakan Muhammadiyah Dengan Program Peningkatan Gizi

Gerakan sosial-keagamaan Muhammadiyah berpegang pada prinsip utama dalam meningkatkan kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya kepedulian terhadap sesama, keadilan, dan kesejahteraan umat. Program makan bergizi gratis ini relevan dengan prinsip-prinsip tersebut, karena menjadi wujud nyata dari "amal usaha" Muhammadiyah yang memprioritaskan tolong-menolong, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat kurang mampu.

Dengan berpartisipasi dalam program ini, Muhammadiyah tidak hanya membantu dalam aspek kesehatan, tetapi juga mendukung pembangunan manusia secara menyeluruh. Pemberian makanan bergizi dapat membantu anak-anak menjadi lebih fokus dalam belajar, lebih sehat, dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk berkembang menjadi generasi yang berkualitas.

Peran Muhammadiyah dalam Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Selain bidang pendidikan, Muhammadiyah memiliki jaringan Rumah Sakit PKU dan Klinik Kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia dan telah berkontribusi besar dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Program makan bergizi gratis ini dapat memperkuat upaya Muhammadiyah dalam sektor kesehatan dengan menitikberatkan pada pencegahan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Fokus utamanya adalah kelompok rentan seperti anak-anak, balita, dan ibu hamil yang membutuhkan asupan nutrisi yang memadai.

Melalui kelengkapan jaringan organisasinya, Majelis-Lembaga-Ortom,  Muhammadiyah dapat menyelenggarakan dapur umum guna melayani sekolah-sekolah Muhammadiyah dengan menyajikan makanan bergizi. Upaya ini akan memberikan manfaat langsung bagi anak-anak, terutama dari keluarga kurang mampu, agar mereka dapat mengakses makanan sehat secara rutin.

Edukasi Gizi bagi Masyarakat

Selain menyediakan makanan bergizi, Muhammadiyah juga dapat memanfaatkan PTMA yang memiliki jurusan Gizi terlibat aktif dalam program ini dengan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat dan seimbang. Melalui PTMA, Muhammadiyah dapat mengadakan seminar, pelatihan, atau kelas khusus tentang nutrisi dan pentingnya konsumsi makanan sehat. Edukasi ini dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pola makan bergizi yang mudah dan terjangkau.

Langkah ini menjadi bagian dari misi Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak hanya dari sisi pendidikan, tetapi juga dalam menjaga kesehatan fisik dan mental masyarakat. Edukasi ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak dini, mengurangi angka malnutrisi, dan memperbaiki pola hidup sehat secara berkelanjutan.

Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Sosial

Muhammadiyah, melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pemberdayaan kaum dhuafa seperti masyarakat miskin kota, pemulung, kaum difabel, buruh, buruh migran, petani/buruh tani, serta nelayan dan masyarakat pesisir. Kaum petani dan buruh tani diberdayakan melalui wadah Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), sedangkan nelayan dan masyarakat pesisir dihimpun dalam Jamaah Nelayan Muhammadiyah (JALAMU).

Dalam program Makan Bergizi Gratis ini, JATAM dan JALAMU disiapkan sebagai pemasok utama bahan makanan bergizi seperti beras, sayuran, telur, daging, dan ikan untuk dapur-dapur umum dan pusat-pusat pelayanan makan bergizi gratis yang dikelola oleh jaringan Muhammadiyah dari pusat hingga daerah dan cabang. Dengan menjadikan JATAM dan JALAMU sebagai mitra penyedia bahan pangan, program ini tidak hanya mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi petani dan nelayan yang selama ini sering terpinggirkan.

Upaya ini menjadi solusi efektif untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta mengurangi ketergantungan pada pasokan pangan impor. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam membangun sistem pangan berkelanjutan yang mampu memberdayakan kelompok masyarakat rentan sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial.

Implementasi Program dan Dampaknya

Dalam pelaksanaannya, Muhammadiyah dapat mengimplementasikan program makan bergizi gratis ini dengan mendirikan Dapur Umum sesuai ketentuan yang diatur oleh Badan Gizi Nasional, melibatkan Ibu-Ibu Aisyiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah, serta Majelis dan lembaga yang relevan untuk itu.

Guna memastikan kadar nutrisi makanan serta monitoring dampaknya bagi kesehatan anak-anak, Muhammadiyah dapat memobilisasi dokter dan ahli gizi dari Rumah Sakit PKU yang tersebar di berbagai penjuru.

Di samping itu, Muhammadiyah dapat menyelenggarakan pelatihan dan penyuluhan di sekolah, panti asuhan, komunitas binaan, serta Ranting Muhammadiyah/Aisyiyah agar masyarakat memahami pentingnya pola makan sehat.

Program makan bergizi gratis ini berpotensi membawa dampak positif dalam jangka panjang, terutama dalam peningkatan kualitas kesehatan dan kemampuan belajar anak-anak Indonesia. Dengan partisipasi aktif Muhammadiyah, program ini diharapkan bisa menjangkau masyarakat luas, menciptakan generasi yang sehat, dan memperkuat ketahanan pangan Nasional.

Kesimpulan

Program makan bergizi gratis memiliki relevansi besar dengan visi dan misi Muhammadiyah dalam membangun masyarakat yang lebih sehat, cerdas, dan sejahtera. Melalui kolaborasi yang erat antara Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat, program ini berpotensi memberikan manfaat yang luas bagi kelompok rentan di Indonesia, khususnya anak-anak dan ibu hamil. Dengan dukungan penuh dari Pemerintah, Muhammadiyah berharap program ini mampu menjadi bagian penting dari solusi berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia, menciptakan generasi muda yang sehat dan siap menjadi penerus bangsa.

Klaten, 3 November 2024