HARGA IKAN ARWANA
Sebenarnya Pak Bei sudah berencana mau keluar sepulang dari sholat isya' di mesjid. Sambil jalan kaki, Pak Bei sudah membayangkan betapa nyamleng minum teh jahe di angkringan Wahyono langganannya. Lalu, nanti sekitar jam 20.00, ikut berebut nasi kucing, nasi bungkus porsi kecil-kecil lauk sambel teri atau bandeng secuwil, yang baru disetor bapaknya Wahyono. Aahh, pasti nikmat sekali.
Tapi rencana Pak Bei gagal total. Lagi-lagi gara-gara Kang Narjo, sahabatnya yang loper koran senior itu, ternyata sudah duduk thenguk-thenguk di kursi tamu Ndalem Pak Bei. Tidak sendirian, tapi dengan Mursyid anak bungsunya.
"Mohon maaf tidak ngabari dulu," kata Kang Narjo setelah bersalaman dan Pak Bei pun ikut duduk.
"Ya gak papa, Kang," jawab Pak Bei. "Sebentar ya, biar dibuatkan kopi dulu," sambung Pak Bei sambil beranjak masuk rumah.
"Piye, Le, kabarmu? Kerja di mana sekarang?," tanya Pak Bei pada Mursyid.
"Sudah dua bulan ini saya nganggur, Pak Bei. Pabrik mengurangi banyak tenaga kerja, termasuk saya yang dirumahkan," jawab Mursyid.
"Ya itulah, Pak Bei. Makanya ragilku ini kuajak kemari, biar ikut ngobrol dengan Pak Bei, biar tambah wawasan," sahut Kang Narjo.
"Lha memangnya ada apa? Sudah dua-tiga tahun terakhir ini kan memang banyak perusahaan mem-PHK karyawannya. Banyak pabrik yang terpaksa menutup usaha karena tidak mampu bertahan menghadapi serbuan barang-barang impor yang sangat murah harganya. Apalagi usaha-usaha kecil, UMKM, sudah banyak yang kolap tidak mampu bertahan."
"Ya memang. Setiap hari juga kubaca berita soal itu."
"Sabar dulu ya, Le. Semoga keadaan ekonomi negara kita segera membaik," kata Pak Bei pada Mursyid.
"Ini yang jadi masalah bagi saya, Pak Bei."
"Masalahnya apa, Kang?"
"Mursyid ini pengin merantau cari kerja di Jakarta. Saya dan ibunya gak mengijinkan."
"Looh...iya to, Le?"
"Injih, Pak Bei," jawab Mursyid.
"Kakak-kakaknya sudah berumah tangga di Boyolali dan Sukoharjo. Pengin kami, Mursyid ini biar di rumah saja nemani kami yang sudah mulai menua. Lha kok malah mau pergi. Yang ngajar ngaji anak-anak di mesjid nanti siapa? Yang akan jadi imam dan khotib sholat Jumat nanti siapa kalau pas aku ini lagi kurang enak badan atau bahkan sudah tidak kuat naik mimbar dan jadi imam sholat?"
"Ooh itu to masalahnya, Kang?"
"Iya, Pak Bei. Tolong anak saya ini diparingi wawasan."
"Aku jadi teringat satu cerita, Kang. Mungkin Kang Narjo dan Mursyid juga belum pernah dengar cerita ini."
"Tentang apa, Pak Bei?" tanya Kang Narjo.
"Diminum dulu kopinya, Kang. Ayo diminum dulu, Le," Pak Bei memperilahkan Kang Narjo dan anaknya menikmati kopi yang barusan disuguhkan Cahya. "Ini cerita tentang seekor ikan arwana."
"Bagaimana ceritanya, Pak Bei?" Mursyid tampak penasaran.
"Alkisah, di sebuah desa ada seorang saudagar yang cukup kaya, Pak Hasan namanya. Rumahnya besar dan bagus, meubelernya mewah, mobilnya juga banyak dan bagus-bagus. Di rumah Pak Hasan ada satu aquarium cukup besar yang isinya seekor ikan arwana. Narto, sopir pribadi Pak Hasan, yang ditugasi merawat aquarium itu bila sedang tidak ada tugas keluar."
"Terus, Pak Bei...," Mursyid tampak antusias mendengarkan.
"Pagi itu Pak Hasan memanggil Narto yang sedang mengelap mobil. "Tolong Mas Narto kuras aquarium. Terus, arwana itu bawalah ke Pasar Lagi."
"Buat apa, Pak Hasan?" tanya Narto.
"Aku pengin jual arwanaku. Coba kamu tawarkan ke pedagang ikan hias di Pasar Legi. Dia berani nawar harga berapa?"
"Lha Pak Hasan mintanya berapa?"
"Aku pengin tahu dulu dia berani nawar berapa."
Narto yang sudah ikut Pak Hasan puluhan tahun itu pun dengan sigap melaksanakan perintah juragan. Dibawanya ikan arwana klangenan Pak Hasan ke Pasar Legi dan ditawarkan ke seorang pedagang ikan hias. Betapa kagetnya si Narto, si pedagang menawar arwana itu di harga 1 juta rupiah. "Waow mahal sekali. Bisa buat beli ikan lele 50 kg dan dibikin lauk untuk berhari-hari," kata Narto dalam hati. Cepat-cepat Narto pulang membawa kabar baik itu untuk bosnya.
"Ternyata bosnya tidak tertarik dengan tawaran pedagang pasar. Disuruhnya Narto tawarkan lagi ke toko aquarium dan ikan hias di kota.
Narto pun segera putar mobil dan meluncur ke kota. Kira-kira setengah jam kemudian, Narto sudah kembali pulang menghadap Pak Hasan, menyampaikan tawaran dari pemilik toko aquarium. "Ditawar 5 juta, Pak Hasan. Masya Allah...," Hasan tidak habis pikir.
Pak Bei nyeruput kopinya, lalu menyulut sebatang kretek di pipanya. Bulll.... gumpalan asap putih tampak berhamburan dari mulut Pak Bei dan terbang bersama angin malam.
"Terus bagaimana kelanjutannya, Pak Bei,?" Mursyid tampak tidak sabar menunggu Pak Bei melanjutkan ceritanya.
"Ternyata Pak Hasan tidak keget dengan tawaran yang kedua itu. Lalu disuruhnya Narto kembali ke kota, menawarkan ikan itu ke pemilik Toko Emas yang konon seorang kolektor ikan arwana. Coba kamu tawarkan ke Koh Candra dan tunjukkan surat ini," pesan Pak Hasan sambil menyerahkan amplop coklat.
"Sopir yang setia itu pun langsung meluncur ke kota. Setengah jam kemudian, Narto sudah kembali menghadap juragannya dan melaporkan tawaran dari Koh Chandra. "Ditawar 400 juta, Pak Hasan. Ya Allah...hanya seekor ikan saja ditawar seharga mobil Innova Reborn. Dilepas saja, Pak Hasan," Narto berharap juragannya senang dan mau melepas arwananya ke penawar ketiga.
"Dari cerita itu, apa hikmah yang kamu dapatkan, Le?," tanya Pak Bei pada Mursyid.
"Saya ikut penasaran saja, Pak Bei, kok ada ya seekor ikan dihargai semahal itu. Kalau burung seperti perkutut atau murai batu, misalnya, saya pernah dengar ada yang harganya sampai milyaran. Tapi kan jelas ada suara manggungnya yang 'koong' atau kicaunya sangat merdu dan banyak variasi. Lha kalau ikan, apanya yang bikin mahal?" Mursyid juga tidak habis pikir.
"Keindahan itu memang sifatnya subjektif,Le. Tapi, ada semacam kesepakatan umum tentang keindahan, tentang kesempurnaan. Sesuatu dianggap indah, lebih indah, atau paling indah, itu sudah ada semacam konsensus, ada ciri-ciri dan syarat yang sudah menjadi kesepakatan bersama namun tidak tertulis."
"Lha terus apa hikmah dari cerita tadi, Pak Bei?" Mursyid semakin penasaran.
"Begini, Le. Ikan arwana yang sama ditawarkan ke tiga orang berbeda, ternyata tadi hasilnya jauh berbeda. Iya, kan?"
"Iya, Pak Bei. Pedagang pasar menawar 1 juta, toko aquarium menawar 5 juta, kolektor menawar 400 juta."
"Kenapa bisa begitu?"
"Gak tahu, Pak Bei."
"Karena pengetahuan mereka tentang keindahan ikan arwana juga berbeda-beda. Pedagang pasar berani nawar 1 juta itu sudah hebat, karena dia biasa menjual ikan hias harganya cuma 5 ribu atau 10 ribu. Pemilik toko aquarium berani menawar 5 juta itu sudah berani sekali, karena dia biasa jual ikan hias paling mahal 1 juta. Sedangkan Koh Chandra, rupanya dia paham betul bahwa ikan arwana Pak Hasan itu jenis yang langka, arwana platinum, dan sangat mahal harganya. Di dalam amplop coklat tadi ada serifikat genetiknya sehingga arwana Pak Hasan itu jelas nasabnya. Dan, Koh Chandra paham soal itu. Makanya dia berani menawar di harga 400 juta, karena dia tahu betul harganya bisa sampai 2 milyar di tingkat kolektor."
"Masya Allah...harga 2 milyar?" Kang Narjo yang dari tadi cuma senyum-senyum melihat anaknya tampak enjoy ngobrol dengan Pak Bei, ternyata diam-diam juga kaget mendengar harga ikan arwana.
"Kang, Mursyid anakmu ini akan dihargai tinggi oleh orang yang paham kualitasnya. Mursyid akan dihormati bila dia berada dilingkungan yang kodusif dan paham kualitas Mursyid. Dulu, Kanjeng Nabi Muhammad SAW dimusuhi, disinisi, dicaci-maki, diperangi, bahkan mau dibunuh oleh kerabatnya sendiri kaum kafir Quraisy di Mekah. Ketika mencoba hijrah ke Thaif, ternyata masyarakat Thaif yang masih kafir juga menolaknya. Beliau diusir dan dilempari batu. Ingat cerita itu to, Kang?" tanya Pak Bei pada sahabatnya.
"Ingat, Pak Bei. Gigi Kanjeng Nabi ada yang patah kena lemparan batu itu. Gusinya berdarah. Di Mekah juga diboikot, diembargo ekonominya hampir 3 tahun. Harta beliau dan Ibu Khadijah sampai habis untuk menghidupi keluarga sahabat-sahabat yang mayoritas kaum miskin."
"Betul itu, Kang. Lalu beliau hijrah ke Madinah, atas permintaan para pedagang Madinah yang sudah beriman. Orang-orang Madinah yakin betul bahwa beliau memang Nabi dan Rasul terakhir yang sudah tertulias pada kitab-kitab terdahulu yang sering dibacakan oleh para Ahlul-Kitab."
"Iya, Pak Bei. Orang Madinah menyambut kedatangan Kanjeng Nabi dengan suka-cita. Itu karena mereka sudah tahu dan yakin dengan kualitas Muhammad, Nabi dan Rasul terakhir yang ditunggu-tunggu umat."
"Tepat sekali. Demikian juga kita ini, Kang."
"Maksud, Pak Bei?," tanya Mursyid penasaran.
"Tidak semua orang paham harga kita, Le. Itu sangat tergantung seberapa pemahaman mereka terhadap kita. Jadi, kita gak usah berkecil hati kalau ada orang tidak suka atau bahkan memusuhi. Juga tidak perlu sombong dan besar kepala bila ada orang memuji dan menyanjung kita. Biasa-biasa saja. Orang menilai kita bisa berbeda-beda, sesuai pemahaman mereka pada kualitas kita."
"Tapi, Pak Bei, orang-orang jaman pada berebut untuk menjadi orang terhormat, lho. Aneh, kan? Bahkan, banyak juga yang minta menikmati dipanggil dengan sebutan "Yang Mulia". Kalau tidak, mereka bisa marah. Kehormatan dan kemuliaan jaman sekarang ternyata bisa dibeli dengan uang."
"Ya biar saja orang melakukan itu, Kang. Orang yang masih waras pasti tidak akan mau seperti itu. Malu dengan Tuhan."
Saking asyiknya ngobrol, tahu-tahu angin malam yang berhembus sudah terasa anyep, dingin membelai kulit. Itu tandanya malam sudah cukup larut, sudah mendekati pergantian tanggal. Kang Narjo pun mengajak anaknya pulang.
Mereka bersalaman dengan Pak Bei, lalu pulang membawa kesannya masing-masing dari omon-omon malam ini.
Klaten, 13 November 2024
#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten
Tidak ada komentar:
Posting Komentar