Minggu, 27 April 2025

REPORTASE PRAKTIK HAJI-UMRAH

Reportase;

Praktik Simulasi Haji dan Umrah KBIHU Arafah PDM Klaten: 581 Calon Jamaah Antusias Menjalani Rangkaian Ibadah

Ahad, 27 April 2025 menjadi hari yang istimewa bagi 581 calon jamaah haji Kabupaten Klaten. Sejak pukul 06.30 WIB, mereka berkumpul di SMK Muhammadiyah 3 Klaten Utara untuk mengikuti Praktik Simulasi Haji dan Umrah yang diselenggarakan oleh KBIHU Arafah PDM Klaten. Acara ini dihadiri oleh jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Klaten, pengurus KBIHU Arafah, Kementerian Agama Kabupaten Klaten, petugas haji dari Kemenag dan Kemenkes, serta Pimpinan Lembaga Bimbingan Haji dan Umrah PWM Jawa Tengah.

Acara diawali dengan Upacara Pembukaan yang berlangsung khidmat. Ketua KBIHU Arafah, Dr. dr. M. Husen Prabowo, MKM, memberikan sambutan pembuka, disusul sambutan dari Drs. H. Mochtar Anshori, MPd. mewakili Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten, dan sambutan dari Kementerian Agama Klaten yang diwakili oleh Kasi Haji dan Umrah, Ibu Faizah. Pada saat upacara ini, seluruh jamaah sudah mengenakan pakaian ihram sejak dari rumah masing-masing.

Usai upacara, jamaah menaiki 15 unit bus yang telah disiapkan, menggambarkan suasana perjalanan menggunakan pesawat dan bus di Tanah Suci. Dalam setiap bus, satu rombongan berisi 39-40 orang dipandu oleh seorang Karom. Sepanjang perjalanan, jamaah dipandu membaca doa safar, melaksanakan praktik tayamum, serta shalat Subuh berjamaah di kursi masing-masing.

Perjalanan berlanjut menuju Lapangan Kurung, Ceper, yang difungsikan sebagai Mekkah dan Masjidil Haram. Sebelumnya, bus melewati Perempatan Karangwuni yang diibaratkan sebagai Yalamlam, salah satu miqat makani. Di sana, seluruh jamaah mengambil miqat, menyatakan niat umrah, dan bersama-sama mengumandangkan talbiyah.

Setiba di Lapangan Kurung, para jamaah beristirahat sejenak di dalam bus yang difungsikan sebagai hotel. Kemudian, mereka memulai praktik pelaksanaan umrah. Panitia telah menyiapkan replika Ka'bah dan jalur Sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah. Dipandu oleh Karom, jamaah melakukan thawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran, dilanjutkan dengan shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, meminum air zamzam, lalu berjalan menuju Bukit Shafa untuk memulai Sa’i.

Di Bukit Shafa, jamaah memanjatkan doa bersama, kemudian berjalan menuju Bukit Marwah bolak-balik sebanyak tujuh kali, hingga akhirnya berdoa di Bukit Marwah. Setelah itu, dilaksanakan tahalul dengan memotong beberapa helai rambut sebagai tanda selesainya ibadah umrah. Usai rangkaian ini, jamaah beristirahat sambil menikmati makanan ringan di Warung Pethuk yang disediakan oleh Ibu-Ibu Aisyiyah Ceper.

Praktik haji berlanjut dengan perjalanan menuju Lapangan Jelobo, Wonosari, yang difungsikan sebagai Mina. Setibanya di Mina, jamaah melakukan praktik Tarwiyah, yaitu aktivitas pada tanggal 7-8 Dzulhijjah yang dijelaskan secara pre-memory oleh Karom.

Esok harinya, tanggal 9 Dzulhijah, perjalanan berlanjut ke Lapangan Bulurejo, Juwiring yang difungsikan sebagai Arafah. Panitia telah menyiapkan tenda besar tempat jamaah melaksanakan praktik Wukuf di Arafah. Setelah mengambil wudhu, jamaah duduk di atas tikar di bawah tenda mendengarkan khutbah Wukuf yang disampaikan oleh Iskandar Fanani.

Karena waktu simulasi bertepatan dengan shalat Dhuhur, jamaah melaksanakan shalat Dhuhur berjamaah (4 rakaat) dengan imam Wahyudi Nasution, menggantikan shalat jamak-qashar seperti pada kondisi di Tanah Suci. Setelah itu, jamaah berdzikir bersama dipimpin oleh Fanani Nurhuda, lalu berdoa sendiri-sendiri, dan bermaaf-maafan dengan pasangan masing-masing maupun antar-jamaah. Praktik Wukuf ini diakhiri dengan makan siang bersama, menikmati Soto Ayam "Slamet Junior".

Perjalanan berlanjut menuju Mina melalui Muzdalifah. Di Muzdalifah, mabit/bermalam dilakukan secara pre-memory di atas bus (jamaah tidak turun dan diberi penjelasan oleh Karom). Sesampainya di Mina, jamaah melaksanakan praktik melempar jumrah. Pada tanggal 10 Dzulhijah, jamaah melempar Jumrah Aqabah. Pada tanggal 11 Dzulhijjah, jamaah melempar tiga jumrah: Ula, Wustha, dan Aqabah. Untuk lempar jumrah tanggal 12 dan 13 Dzulhijjah, praktik dilakukan secara pre-memory melalui penjelasan dari Karom.

Usai praktik melontar jumrah, jamaah beristirahat sejenak sambil menikmati hidangan ringan di Warung Pethuk, kemudian melaksanakan shalat Ashar berjamaah.

Selanjutnya, perjalanan berlanjut menuju Mekah untuk melaksanakan Thawaf Ifadhah. Jamaah kembali mengelilingi replika Ka'bah, shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, meminum air zamzam, dan melakukan Sa'i. Usai seluruh rangkaian Thawaf Ifadhah, jamaah beristirahat seolah berada di hotel.

Sebelum "kepulangan ke Tanah Air", jamaah diberi penjelasan tentang pelaksanaan Thawaf Wada' secara pre-memory. Kemudian, seluruh peserta bertolak kembali ke SMK Muhammadiyah 3 Klaten Utara, mengakhiri seluruh rangkaian praktik simulasi haji dan umrah dengan suasana yang penuh semangat, kebersamaan, dan kegembiraan. Cuaca yang cerah sepanjang hari menambah semarak dan kelancaran acara. Alhamdulillah, seluruh kegiatan berjalan sukses dan memberikan pengalaman berharga bagi seluruh calon tamu Allah.

#wahyudinasution

#karom2025

Kamis, 17 April 2025

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PENGESAHAN

Dulu, setelah berlarut-larut menikmati status sebagai mahasiswa UGM, aktivis Gelanggang, dan pegiat Sanggar Shalahuddin, akhirnya saya bisa lulus dari jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UGM. Menulis skripsi (bukan tesis) itu berat, tidak gampang, karena butuh energi khusus dan konsentrasi penuh. Uangel tenaan. Konon itu memang resiko jadi aktivis.

Saya meneliti naskah drama Perahu Retak karya Emha Ainun Nadjib, Tinjauan Strukturalisme Genetik. Sebelumnya, saya selama 2 tahun berusaha meneliti naskah Lautan Jilbab, tapi gagal dan buntu sampai di bab 2. Mungkin karena emosi saya terlalu terlibat dengan naskah itu gara-gara mementaskan teater Lautan Jilbab yang kami jalani bersama Sanggar Shalahuddin. Menyadari 'selak tuwa', keburu tua, akhirnya saya putuskan ganti objek penelitian, yakni naskah drama Perahu Retak, karya Cak Nun juga.

Singkat cerita, saya berhasil mempertahankan skripsi yang saya tulis dengan mesin ketik selama 3 bulan itu di depan tiga dosen penguji, yakni Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo, Dr. Imran T. Abdullah, dan Drs. Supriyadi. Alhamdulillaah dapat nilai A. Lumayan....

Proses selanjutnya, saya harus merevisi beberapa halaman yang ada salah ketik. Atas kebaikan sahabat, Erwin namanya, saya dipinjami komputer XT dan printer Epson LX....(lupa tipenya) untuk menulis ulang dengan program WS. Jadi ngirit gak perlu tip-ex dan hemat kertas hvs.

Proses berikutnya memfotokopi dan menjilid skripsi itu 4 eksemplar di foto copy Prima depan Mirota Kampus Bulaksumur. Kenapa harus 4 eks? Karena harus diserahkan ke jurusan 1, ke perpus Fakultas 1, ke Perpus Cak Nun 1, dan dokumen saya sendiri 1 eks.

Tapi jangan lupa, skripsi itu belum sah alias belum legal bila belum ada tanda tangan para penguji di lembar pengesahan. Maka, finishing proses selanjutnya adalah berburu tanda tangan para dosen penguji. Beruntung 3 dosenku waktu itu selalu stay di kampus, jarang tugas keluar. Jadinya mudah kuminta tanda tangan mereka.

Clear sudah. Aku pun bisa ikut wisuda sarjana S1 setelah jumlah Kartu Mahasiswa genap 18 buah.

#serialpakbei

Selasa, 01 April 2025

RISING STAR ITU

RISING STAR ITU 

Sebenarnya sejak awal Ramadhan kemarin Pak Bei sudah berhasil menghindari omon-omon atawa ngobrol tentang politik. Bukan karena Pak Bei berpandangan 'politik itu kotor'. Bukan. Tapi karena di samping dunia politik memang bukan habitatnya, Pak Bei menyadari bahwa di bulan Ramadhan sebaiknya menghindari pikiran dan obrolan yang tidak perlu. Kalau tidak bisa berpikir dan omong yang bermanfaat, lebih baik diam. Begitu Pak Bei memahami dhawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Pak Bei bersyukur, di hari pertama Lebaran pun masih bisa terjaga dari pikiran dan omongan politik.
Meskipun sejak pagi hingga sore banyak tamu berlebaran ke nDalem Pak Bei, tapi semua obrolannya masih terkendali, sebatas kabar keluarga, sekolah anak, cucu-cucu yang lucu, seputar kesehatan, atau seputar harga panenan ppadi dan sayuran para petani serta telor ayam para peternak yang sedang bagus di pasaran. Tidak ada yang nyinggung politik. Hati dan pikiran pun terasa nyaman.

Tapi suasana ayem-tentrem itu bubrah seketika gara-gara bakda isya' kedatangan tamu spesial: Kang Narjo. Dikira sabahatnya yang loper koran senior itu datang untuk sekedar berlebaran seperti tamu-tamu lainnya. Ternyata ada maksud lain. Seperti biasanya, dia datang membawa pikiran dan kegelisahan yang sudah dipendamnya berhari-hari. Soal politik. Aah Kang Narjo, sukanya bikin kepyoh pikiran orang.

"Situasi politik kita ngemar-emari lagi ya, Pak Bei," kata Kang Narjo membuka obrolan setelah saling bermaaf-maafan dan nyeruput kopi semendo yang disuguhkan Mas Cahya.

"Ngemar-emari bagaimana, Kang?," tanya Pak Bei.

"Revisi UU TNI yang seperti dipaksakan itu lho. Kesannya cepet-cepetan demi ngejar setoran."

"Wah aku tidak mengikuti soal itu, Kang."

"Berita sepenting ini masa Pak Bei gak ngikuti?"

"Enggak, Kang."

"Tapi minimal lihat di medsos video demonstrasi mahasiswa di berbagai kampus dan daerah yang menolak revisi itu, kan?."

"Baca judulnya saja, Kang. Tapi ora tak gagas. Juga gak  ikut komentar. Lha wong sama sekali tidak paham isi draft revisi itu kok. Tidak paham masalahnya."

"Tapi saya percaya, dari baca judul beritanya saja pasti Pak Bei sudah paham apa yang tengah terjadi."

"Ya enggaklah. Memangnya aku ini dukun?" 

"Waskita gitu, lho."

"Enggaklah, Kang. Sebenarnya apa to yang terjadi?"

"Intinya, Pemerintah perlu landasan hukum untuk memberi ruang yang lebih luas bagi TNI bisa berperan di pengelolaan negara. Maka UU TNI perlu direvisi, disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Begitu kira-kira, Pak Bei."

"Ooh jadi maksudnya akan semakin banyak ruang bagi TNI menduduki pos-pos pengelolaan negara yang seharusnya untuk sipil, begitu?"

"Ya begitulah kira-kira. Sayangnya, revisi itu tanpa melalui proses yang transparan, tanpa melalui uji publik. Kesannya tertutup, sembunyi-sembunyi. Bahkan, dalam tempo relatif singkat sudah disahkan menjadi Undang-Undang melalui Sidang Paripurna DPR."

"Tergantung tarifnya kali, Kang."

"Maksudnya?"

"Seperti kalau kita kirim paket, kan ada tarif biasa, ada tarif kilat, ada tarif kilat khusus, dan ada tarif express. Ana rega ana rupa, tariflah yang menentukan jenis pelayanan."

"Mestinya gak boleh seperti itu, Pak Bei. Urusan negara kok kesusu, grusah-grusuh. Mau jadi apa negara ini..."

"Kan tadi Kang Narjo bilang terjadi demo di mana-mana. Banyak yang keberatan, ya?"

"Ya jelas. Makanya orang jadi curiga, jangan-jangan UU TNI hasil revisi itu hanya akal-akalan untuk mengembalikan Dwi Fungsi ABRI seperti jaman Orde Baru dulu."

"Itu tidak mungkin, Kang. Jarum jam tidak mungkin diputar kembali ke belakang. Jamannya juga sudah beda."

"Panggraita-ku juga bukan soal Dwi Fungsi itu, Pak Bei." 

"Soal apa, Kang?"

"Revisi itu diperlukan untuk meredam gejolak di internal TNI. Makanya harus cepat diselesaikan, apapun yang terjadi.

"Gejolak di internal TNI? Memangnya ada apa, Kang?"

"Wah Pak Bei ini, lho. Mbokya agak cerdas sedikit kalau membaca kahanan. Ibarat permainan puzle, ada hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya."

"TNI kita solid kok, Kang. Tidak ada gejolak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Presidennya juga Jenderal, lho."

"Semua rakyat penginnya juga begitu, Pak Bei. Sebagai rakyat, aku melihat situasinya agak mengkhawatirkan. Jadi revisi UU TNI yang terkesan cepet-cepetan itu bisa dipahami. "

"Ada gelagat kurang solid, maksudmu? Memangnya ada apa, to?"

"Ini terkait dengan munculnya Rising Star di kalangan TNI, Pak Bei. Anak muda yang 
karirnya melejit secepat kilat dan dalam tempo yang sangat singkat itu potensial menimbulkan gejolak."
 
Pak Bei sudah paham ke mana arah obrolan Kang Narjo dan siapa yang dimaksud dengan Rising Star itu. Tapi sengaja dibiarkannya sahabatnya itu menumpahkan uneg-uneg.
"Rising Star gimana maksudmu, Kang?," Pak Bei memancing.

"Sedemikian hebatnya anak muda ini, hanya butuh waktu 14 tahun berkarir di militer, dia sudah berhasil dipercaya Presiden untuk menduduki jabatan dan posisi strategis di ring-1."

"Ampuh tenan ya, Kang. Mungkin memang istimewa orangnya."

'Usianya baru 36 tahun, lho. Masih sangat muda. Padahal, tradisi kepangkatan di militer kan sangat ketat dan profesional. Seorang alumni Akmil perlu proses 30-an tahun untuk bisa mencapai level perwira tinggi. Untuk bisa mendapatkan jabatan penting, apalagi di ring-1, mereka harus sudah teruji kemampuannya, dari bertugas sebagai komandan pleton, kompi, batalion, dan penugasan-penugasan strategis seperti operasi-operasi militer, misalnya."

"Itu kan standar, Kang. Ingat lho, dalam sejarah selalu ada orang-orang istimewa."

"Contohnya?"

"Ingat Sultan Mehmed II dari Dinasti Ustmaniyah di Turki. Ketika memimpin pasukan kaum Muslimin merebut dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1463, usia Sultan Mehmed II baru 21 tahun. Anak muda itu yang sangat cerdas dan ahli strategi perang itu berhasil memimpin pasukan Islam menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur yang sudah berkuasa di Konstantinopel selama 11 abad."

"Itu perbandingan yang tidak aple to aple, Pak Bei. Terlalu jomplang. Kejauhan. Anak ini kesannya kan dumadakan, sekonyong-konyong, langsung menyalip puluhan seniornya yang sudah berdarah-darah menjalankan tugas-tugas kemiliteran, Pak Bei."

"Aku cuma ingin menunjukkan bahwa di setiap masa ada orang-orang hebat dan istimewa, Kang."

"Iya paham. Tapi anak ini belum teruji, Pak Bei. Pengalamannya masih sebatas jadi Asisten Ajudan Presiden dan Ajudan Menteri Pertahanan. Menurutku belum cukup teruji kemampuannya. Pangkatnya juga baru Mayor. Potensial menimbulkan kecemburuan dan perasaan tidak adil."

"Ingat, Kang, wong pinter kuwi isih kalah karo wong bejo, orang pandai itu masih kalah sama orang beruntung. Mungkin anak itu memang termasuk wong bejo, Kang. Orang beruntung tidak harus pandai. Kebetulan dia berada pada lingkungan dan momentum yang tepat."

"Menurut Pak Bei, bejo atau keberuntungan itu murni hadiah dari Tuhan atau ada peran bahkan rekayasa manusia?"

"Bisa dua-duanya, Kang."

"Kalau dalam kasus yang obrolkan ini, itu hadiah alias takdir Tuhan atau rekayasa manusia?"

"Kang, yang kita bicarakan ini soal politik. Jadi jelas ada faktor rekayasa manusia. Orang bisa jadi Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Anggota DPR, Ketua MK, Ketua MA, Ketua KPK, Kapolri, Panglima TNI, Direktur BUMN, Komisaris dan Direksi BUMN, itu semua ada rekayasa manusia, tentu ada proses politik yang dilalui dengan berdarah-darah."

"Tepat sekali, Pak Bei."

"Iya, kan?"

"Rising Star yang kita bahas tadi juga hasil dari proses politik. Hak prerogratif Presiden."

"Nah jelas sekali, kan? Jadi rasah dho serik, jangan pada iri. Kita doakan saja semoga anak muda itu dapat mengemban amanah sebaik-baiknya, bisa menunjukkan kinerja yang luar biasa sebagai pembantu Presiden."

"Kembali ke laptop."

"Siap, Kang."

"Itulah makanya UU TNI perlu direvisi untuk memberi peluang senior-seniornya agar bisa berperan aktif di pos-pos pemerintahan. Dengan cara itu, gejolak dan kegelisahan di internal TNI bisa diminimalisir."

"Mudah-mudahan panggraita dan analisismu itu bener, Kang," kata Pak Bei sambil melihat jam di HP-nya. "Sudah jam 23.00, Kang. Saatnya istirahat. Kapan-kapan kita sambung lagi obrolan ini, ya."

"Baiklah, Pak Bei. Saya pamit dulu. Wassalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumsalam...," jawab Pak Bei sambil salaman dan berdiri melepas Kang Narjo menuju motornya di halaman.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#selamatberlebaran