Senin, 30 September 2024

Esai Tentang Lautan Jilbab

Pementasan "Lautan Jilbab": Tonggak Sejarah Perubahan Budaya Busana Muslimah Indonesia

(Wahyudi Nasution)

Pementasan "Lautan Jilbab" merupakan momen penting dalam sejarah perubahan budaya busana muslimah di Indonesia. Karya ini, yang awalnya adalah puisi panjang karya Emha Ainun Nadjib, pertama kali dibacakan pada acara Ramadhan di Kampus UGM tahun 1987. Puisi ini kemudian ditulis menjadi naskah drama berjudul Teaterikalisasi Puisi Lautan Jilbab, yang dipentaskan pertama kali oleh Sanggar Shalahuddin UGM di Gelanggang Mahasiswa UGM pada 10-11 September 1988. Pementasan tersebut tak hanya menggugah kesadaran masyarakat, tetapi juga menjadi simbol penting dalam normalisasi jilbab dan busana muslimah di Indonesia.

1. Latar Belakang dan Pesan Utama "Lautan Jilbab"

Puisi panjang Lautan Jilbab menyoroti perjuangan spiritual dan sosial perempuan muslim dalam mempertahankan identitas mereka melalui simbol jilbab. Pada masa itu, penggunaan jilbab masih dianggap sebagai hal yang kontroversial dan belum diterima luas di kalangan masyarakat maupun institusi. Emha Ainun Nadjib menyampaikan pesan kuat tentang kemandirian, kebebasan beragama, dan hak perempuan untuk mengekspresikan keyakinan mereka melalui jilbab. Pementasan dramatisasi puisi ini menjadi cerminan dari semangat perubahan dan dorongan untuk menerima jilbab sebagai bagian dari budaya busana sehari-hari.

2. Teaterikalisasi Puisi dan Perubahan Persepsi Jilbab

Ketika Teaterikalisasi Puisi Lautan Jilbab dipentaskan, masyarakat Indonesia masih dalam masa transisi dalam menerima jilbab sebagai bagian dari busana publik. Pementasan ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi seni, tetapi juga sebagai medium untuk menyuarakan isu-isu sosial terkait kebebasan beragama dan identitas perempuan muslim. Pertunjukan ini mampu membuka dialog di ruang publik mengenai hak perempuan muslimah untuk mengenakan jilbab, dan perlahan mengubah persepsi masyarakat yang sebelumnya penuh skeptisisme terhadap busana muslimah.

3. Gerakan Jilbab dan Pengaruh Sosial di Era 1980-an dan 1990-an

Pementasan Lautan Jilbab terjadi pada saat gerakan jilbab mulai muncul di kalangan mahasiswa dan pelajar muslimah. Pada era 1980-an, jilbab masih dianggap tabu di banyak sekolah dan universitas, bahkan beberapa lembaga pendidikan melarang penggunaannya. Namun, dengan adanya pementasan ini dan gerakan sosial yang semakin kuat, jilbab mulai mendapat tempat yang lebih luas di ruang publik, khususnya di dunia pendidikan. Pementasan ini menjadi katalis penting dalam memperkuat gerakan jilbab yang kemudian diakui secara formal dalam kehidupan sosial di Indonesia.

4. Dampak pada Budaya Busana dan Industri Fashion Muslim

Lautan Jilbab tidak hanya menjadi pementasan yang berpengaruh dalam konteks sosial dan politik, tetapi juga turut membentuk tren busana muslimah di Indonesia. Dengan meningkatnya penerimaan jilbab di ruang publik, para desainer mulai menciptakan inovasi dalam busana muslim yang modis namun tetap memenuhi standar syariah. Hal ini memicu pertumbuhan industri fashion muslim, yang hingga kini berkembang pesat di Indonesia sebagai salah satu pusat mode busana muslim dunia. Pementasan Lautan Jilbab adalah salah satu titik balik dalam perubahan budaya busana muslimah, di mana jilbab menjadi simbol keagamaan sekaligus mode.

5. Kesimpulan: Warisan Pementasan Lautan Jilbab

Pementasan Teaterikalisasi Puisi Lautan Jilbab oleh Sanggar Shalahuddin UGM menjadi tonggak sejarah dalam perubahan budaya busana muslimah di Indonesia. Ini menandai awal dari penerimaan sosial terhadap jilbab sebagai bagian dari identitas muslimah yang dihormati dan dijaga. Karya ini tidak hanya berdampak pada perubahan persepsi masyarakat terhadap jilbab, tetapi juga berkontribusi dalam memicu perkembangan industri fashion muslim di Indonesia. Hingga saat ini, warisan Lautan Jilbab terus bergaung dalam kehidupan muslimah Indonesia, menjadikannya simbol keberanian, identitas, dan kebebasan berekspresi dalam bingkai agama.

Klaten, 30 September 2024

Jumat, 27 September 2024

TAMU ISTIMEWA

TAMU ISTIMEWA

Lagi-lagi Pak Bei kedatangan tamu istimewa. Pak Suparman,  Kepala Sekolah Dasar di Kecamatan sebelah yang datang tepat menjelang azan isya'. Meski jarang bertemu, Pak Bei mengenalnya sebagai salah satu tokoh masyarakat dan penggerak dakwah di kampungnya. Memang begitulah umumnya di desa. Sebelum berbincang, Pak Bei mengajaknya ikut sholat berjamaah dulu di mushola depan rumah. 

Pak Parman, begitu Pak Bei memanggilnya, bercerita bahwa ternyata dia baru saja pensiun awal tahun kemarin. Mungkin karena pekerjaan sampingannya bertani, ke sawah setiap hari, badannya jadi tampak masih sehat bugar. Raut wajahnya juga tampak sumeleh, rileks, bersih, dan ikhlas. Kedatangannya ke nDalem Pak Bei malam ini untuk bertanya-tanya, konsultasi tentang berbagai hal terkait persiapan berangkat Haji tahun depan. Beliau memang termasuk calon Haji Kecamatan Jatinom tahun 2025 yang beberapa hari lalu diundang silaturahmi di  Kantor KUA. 

Sebagaimana semua calon jamaah Haji, mulai bulan-bulan ini sudah mulai sibuk melakukan berbagai persiapan, baik mental, fisik, serta finansial untuk pelunasan ONH, bekal perjalanan, dan nafkah bagi keluarga yang akan ditinggal di rumah.

"Pak Bei, kemarin saya dan istri sudah mendaftar ikut bimbingan Haji di KBIHU Arafah di Cabang Jatinom," kata Pak Parman.

"Ooh njih, Pak Parman. Matur nuwun," jawab Pak Bei. "Lalu bagaimana, apa yang masih bisa saya bantu?."

"Itulah yang ingin saya konsultasikan ke Pak Bei. Apa saja yang harus kami lakukan selanjutnya?"

"Syarat-syarat untuk pengurusan paspor sudah dikumpulkan ke KUA?"

"Sampun, Pak Bei. Sudah lengkap."

"Baik, selanjutnya kita tunggu saja kabar dari KUA kapan kita akan bersama-sama ke Kantor Imigrasi Solo."

"Lalu apalagi, Pak Bei?"

"Jangan lupa, Pak Parman dan Ibu harus mulai banyak melakukan olah raga jalan kaki. Ibadah Haji itu banyak aktivitas jalan kaki. Kita dari hotel mau ke Masjidil Haram harus jalan kaki dulu untuk mendapatkan bus. Kadang cukup jauh jaraknya. Turun di terminal menuju Masjid juga harus jalan kaki. Dari pelataran Masjid masuk ke area Thawaf juga jalan kaki agak jauh. Kita Thawaf, mengelilingi Ka'bah sampai 7 putaran, juga jalan kaki dan berdesak-desakan. Ketika Sa'i, wira-wiri 7 kali antara bukit Shafa dan Marwah juga jalan kaki. Nanti pas puncak Haji, kita juga akan banyak jalan kaki, baik ketika di Arafah untuk Wukuf, di Muzdalifah untuk Mabit, apalagi untuk Lempar Jumrah di Mina. Jarak antara tenda dengan Jamarat bisa berkilo-kilo jauhnya. Pulang-pergi jalan kaki."

"Wah berat juga ya, Pak Bei. Jadi harus benar-benar siap fisik kita. Terus bagaimana bagi jamaah yang kebetulan fisiknya sudah lemah atau sakit dan tidak mampu berjalan kaki? Sudah kena stroke, misalnya."

"Itulah pentingnya setiap calon jamaah Haji ikut bimbingan di KBIHU, Pak Parman. Penjenengan sudah mendaftar di KBIHU Arafah Klaten. Itu sudah benar. Pengalaman saya, manajemen dan bimbingan di KBIHU Arafah itu sangat bagus dan profesional."

"Nah itu yang saya ingin tahu, Pak Bei."

"Semua calon Haji akan mendapatkan fasilitas dan pendampingan sejak jauh hari sebelum keberangkatan, selama berada di Tanah Suci, hingga pasca-Haji di Tanah Air."

"Sebelum keberangkatan, kami akan mendapatkan apa saja, Pak Bei?"

"Begini, Pak Parman. Semua jamaah nanti akan dibagi menjadi beberapa kelompok atau rombongan dan didampingi oleh seorang Karom atau Ketua Rombongan. Setiap rombongan ada 40 jamaah, akan dibagi lagi ke dalam 4 regu yang masing-masing dikoordinir oleh seorang Ketua Regu. Setiap jamaah di setiap regu akan kita tanamkan sikap ta'awun, tolong-menolong. Yang kuat harus menolong yang lemah, termasuk dalam hal problem fisik seperti yang Pak Parman tanyakan tadi."

"Terus apalagi, Pak Bei?"

"Mulai tanggal 10 November nanti, program Manasik akan kita mulai yang diikuti semua calon jamaah. Di Manasik ini, jamaah akan mendapatkan pembinaan berbagai hal, sejak  ibadah yang bersifat elementer seperti doa-doa, bersuci atau thaharah, sholat sunnah dan wajib, sholat jama'-qashar, dan sebagainya, hingga cara berihram, miqat, thawaf, sa'i, tahalul, hingga hal-hal terkait ibadah Armina di puncak Haji."

"Wah lengkap sekali, ya."

"Itu baru yang bersifat teori, Pak Parman. Nanti kita akan bersama-sama praktek manasik juga, seakan kita benar-benar sedang melakukan ibadah Haji. Setiap rombongan naik satu bus. Kita seolah turun dari Bandara Jedah atau Madinah menuju Mekah, memakai ihram dan mengambil miqat untuk melaksanakan umrah. Kita praktek thawaf, shalat di maqam Ibrahim, minum air zam-zam, sa'i, dan tahalul. Lalu, kita juga akan diajak praktek Armina, wukuf di Arafah, singgah dan ambil kerikil di Muzdalifah, lalu melempar Jamarat di Mina."

"Berarti kita akan sering ketemu sejak jauh hari sebelum keberangkatan ke Tanah Suci ya, Pak Bei."

"Iya, Pak Parman. Yang saya jelaskan tadi baru yang melibatkan seluruh calon jamaah Arafah se-Kabupaten Klaten. Masih ada lagi pertemuan-pertemuan setiap rombongan yang terdiri 40 orang yang dipandu oleh seorang Karom mendalami hal-hal yang sudah diajarkan di pertemuan besar. Kita akan bersama-bersama menghafal doa-doa yang utama, memperbaiki bacaannya, dan sebagainya. Maklumlah, nyatanya memang belum semua orang bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar, fasih."

"Alhamdulillaah, semakin tidak sabar saya ingin segera mengikuti manasik Haji. Terima kasih penjelasannya, Pak Bei."

"Pak Parman, tanggal 27 Oktober nanti KBIHU Arafah akan mengundang seluruh calon jamaah Haji 2025 se-Kab. Klaten di Pendopo Kabupaten, baik yang sudah mendaftar maupun yang belum. Semua akan diberi penjelasan yang komprehensif terkait ibadah Haji."

"Wah bagus banget. Insya Allah kami akan hadir."

"Ajaklah teman-teman, Pak Parman. Kita ini akan menjadi Tamu Allah di Tanah Suci. Pemerintah Arab Saudi sebagai Pelayan Dua Tanah Suci juga terus melakukan persiapan guna melayani Tamu-Tamu Allah dengan baik. Pemerintah kita pun terus berupaya melakukan perbaikan agar perjalanan 200an ribu jamaah Haji Indonesia berjalan lancar. Maka, sudah sepantasnya bila jamaah dari Kab. Klaten juga dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai jamamah Haji dari Klaten ngisin-isini, memalukan, karena belum memahami ilmunya. Untuk itulah KBIHU Arafah didirikan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Klaten sejak tahun 2002."

"Sekali lagi, terima kasih, Pak Bei. Penjelasan tadi sangat penting bagi saya. Nyuwun pamit dulu, ya."

Pak Parman yang pensiunan Kepala Sekolah SD itu pun pulang menembus malam dan udara dingin yang mulai datang.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten












Senin, 23 September 2024

SELAMAT HARI TANI 2024

SELAMAT HARI TANI 2024

Bukan Lek Nardi kalau omongannya tidak gemblung dan kementhus. Suaranya keras dan isinya kritis, namun diksinya sederhana bahkan terkesan ndesit. Tapi gak apa-apa, ora masalah. Pak Bei malah suka ngobrol dengan model petani yang natural begini. Gak mriyayeni babar blas, tanpa suba-sita. Apa adanya.

Kedatangan Lek Nardi malam ini tanpa janjian sebelumnya, tanpa kangsenan. Tiba-tiba mak-bedunduk sudah ada di depan teras nDalem Pak Bei sambil uluk salam dengan suaranya yang khas, keras. Tentu saja Pak Bei yang sedang asyik membalas pesan-pesan WA di hpnya agak kaget juga. Suara Lek Nardi hampir seperti petir tadi sore yang tetiba menggelegar mengantar turunnya gerimis dan hujan hingga membubarkan anak-anak yang sedang bermain kasti di halaman.

"Aku mau minta kopi, Pak Bei. Biar perut agak hangat," kata Lek Nardi sambil ikut duduk di kursi sedan.

Pak Bei sudah hafal, itu memang gaya Lek Nardi. Awalnya minta kopi, tapi terus minta rokok, lalu ngobrol ngalor-ngidul sambil klepas-klepus menghisap kretek sebatang demi sebatang. Pak Bei pun langsung ke dapur. Tak berapa lama kemudian, dua gelas kopi sudah tersaji di kursi. Obrolan dengan Lek Nardi di teras nDalem Pak Bei pun dimulai.

"Aku mau tanya, Pak Bei."

"Tanya apa, Lek?"

"Sebagai aktivis gerakan petani, kenapa belum pernah kudengar Pak Bei ngajak para petani ngibarkan bendera setengah tiang?," tanya Lek Nardi.

"Loh, kenapa harus mengibarkan bendera setengah tiang?," tanya balik Pak Bei sambil menyembunyikan rasa kagetnya.

"Wah lha ini, ini contoh aktivis yang kurang kritis dan kurang berani. Pantas saja petani-petani juga jirih, takut, tidak berani mencoba hal-hal baru untuk meningkatkan taraf hidupnya."

"Jindul tenan Lek Nardi ini. Ngece," kata Pak Bei dalam hati.

"Memangnya ada masalah apa to, Lek?," tanya Pak Bei.

"Pak Bei pasti tahu, besok Selasa tanggal 24 September itu Hari Tani." 

"Lah iya, terus apa masalahnya?"

"Namanya hari raya petani kan seharusnya istimewa bagi para petani. Tapi nyatanya tidak, Pak Bei."

"Maksudmu bagaimana, Lek Nardi?"

"Petani tetap saja ngenes, susah hidupnya. Kerjanya berat, tapi hasilnya tidak dihargai dengan layak. Harga gabah agak bagus sebentar saja, Pemerintah langsung datangkan beras impor. Alasannya demi menjaga stok pangan. Itu baru beras, Pak Bei. Belum yang lain," Lek Nardi menghisap kretek di tangannya. "Coba sesekali lihatlah di pasar-pasar, Pak Bei, " Lek Nardi melanjutkan, "betapa bawang merah impor, bawang putih impor, kedelai impor, gandum impor, dan kacang impor memenuhi lapak-lapak pasar tradisional." 

"Lek Nardi, nyatanya hasil pertanian kita kan memang belum bisa mencukupi kebutuhan makan 230-an juta penduduk Indonesia? Maka solusinya harus impor, impor dari India, Vietnam, Kamboja, Thailand, Ukraina, Amerika, dan sebagainya."

"Itu karena tidak ada yang sungguh-sungguh mencari solusi, Pak Bei."

"Maksudmu bagaimana, Lek?"

"Impor itu kan solusi jangka pendek saja, Pak Bei. Sekedar mengatasi masalah saat ini. Kulihat belum ada yang sungguh-sungguh berupaya menemukan solusi soal pangan untuk jangka panjang, solusi yang adil yang tidak merugikan petani. Kalau lagi kampanye saja walaah dho koyo yak-yako ngumbar janji. Sudah dapat kursi, lupa semua janjinya."

"Lek Nardi ini mbokya agak sabar, to. Pemilu memang sudah selesai. Pilpres sudah ada pemenangnya. Tapi serah-terima jabatan Presiden kan belum terjadi. Pemerintahan sekarang ini masih yang lama. Tunggu sik."

"Dugaanku besok juga masih sama saja, Pak Bei. Para pedagang atau importir yang ngawu-awu, semakin berjaya. Petani kita semakin menderita. Maka mestinya besok pagi, pas Hari Tani 2024, seluruh petani kita ajak mengibarkan bendera merah putih setengah tiang, sebagai tanda bahwa petani sedang berduka."

Pak Bei sadar, ngobrol dengan Lek Nardi memang harus banyak mengalah. Ngomong dengan siapapun, dia memang selalu harus menang. Meski kadang tidak bermutu, tapi minimal dia menang banter suarane, keras suaranya. Mungkin itu karena terbawa kebiasaan ngobrol dengan sesama petani yang berjarak antar petak sawah, saling berjauhan, saling berteriak.

Obrolan pun berakhir karena Lek Nardi ternyata pas jadwal ronda. Teman-temannya seregu tampak sudah mulai keliling dari rumah ke rumah mengambil jimpitan berupa koin 500 rupiah. Lek Nardi pun pamitan dan bergabung dengan teman-temannya.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten










Minggu, 15 September 2024

HORMATI TETANGGA, MULIAKAN TAMU

HORMATI TETANGGA, MULIAKAN TAMU

Doso, begitu nama panggilan teman ngobrol Pak Bei kali ini. Nama lengkapnya Tri Doso. Usianya baru sekitar 30an tahun, jauh lebih muda dari Pak Bei yang hampir kepala 6. Dilihat dari namanya saja sudah dapat dipastikan dia asli wong Jawa. Tri berarti telu, 3. Doso berarti sepuluh, 10.  Maka pantas diduga dia lahir tanggal telung puluh, 30, entah di bulan Sapar atau Maulud, Rejeb atau Ruwah, entah di tahun Dal, tahun Alif, atau tahun Ehe. Pak Bei belum pernah bertanya soal itu.

Dari beberapa kali ngobrol dengannya menjelang Yasinan --ini nama pengajian tilawatil-Qur'an di kampung Pak Bei setiap malam Jumat--  tampak bahwa Doso pernah jadi aktivis mahasiswa. Literasinya tampak cukup bagus. Komentar-komentarnya atas berbagai peristiwa aktual sangat kritis, apalagi yang berbau politik. Khas mantan aktivis. Diksinya bagus dan penalarannya terkesan tidak ndesit, kampungan.

"Pak Bei siang ini longgar enggak? Saya mau sowan. Pengin ngobrol," begitu pesan WA Doso saat Pak Bei baru saja masuk rumah dari Jumatan mau ganti baju.

"Longgar, Nda. Monggo silakan. Ayo kita ngopi siang," jawab Pak Bei.

"Siap," balas Doso singkat.

Tak sampai sepuluh menit, Doso sudah sampai di nDalem Pak Bei. Dua gelas kopi buatan Yu Mur, asisten Bu Bei khusus urusan dapur yang sangat setia itu, sudah tersaji di meja sesuai pesanan Pak Bei.

"Kok tumben siang-siang pengin ngobrol, Nda?" tanya Pak Bei. "Ada tema apa ini?"

"Saya sangat terkesan dengan tema yang disampaikan khotib Jumatan tadi, Pak Bei," jawab Doso.

"Ooh...soal Tamu Agung Paus Fransiskus yang disampaikan Kang Mashudi tadi?" Pak Bei menyebut nama koleganya yang giliran khotib hari ini.

"Iya, Pak Bei. Sangat mencerahkan. Begitu seharusnya khotib Jumat menasehati jamaah."

"Temanya aktual, ya?"

"Ya betul. Perspektifnya juga unik. Di luar dugaan saya."

"Kok di luar dugaan?"

"Jamaah diajak mengingat dhawuh Kanjeng Nabi supaya menghormati tetangga dan memuliakan tamu."

"Itu hadits sahih kok, Nda."

"Itulah, Pak Bei. Biasanya hadits itu disampaikan dalam konteks hidup bermasyarakat di kampung, srawung atau bergaul dengan tetangga dan tamu-tamu yang datang ke rumah kita. Skalanya kecil dan sehari-hari. Tapi tadi konteksnya menyambut Paus Fransiskus, Tamu Negara dan tamu saudara-saudara kita umat Katolik. Skala berbangsa dan bernegara."

"Ya memang begitu kan seharusnya? Paus dari Vatikan itu resmi Tamu Negara. Maka sudah seharusnya Pemerintah sibuk menyambutnya dengan sepenuh penghormatan . Sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik, wajar juga bila para tokoh agama Islam seperti MUI, Muhammadiyah, PBNU, dan sebagainya pun ikut sibuk menyambutnya. Wajar juga bila Paus juga memimpin Misa umatnya, ibadah saudara-saudara kita, di Gelora Bung Karno dan ditayangkan live streamingnya. Kita harus menghormati itu, Nda."

"Nah itu lho, Pak Bei. Saya tidak menduga sama sekali bahwa khotib kita tadi memberi pemahaman yang sangat bagus kepada jamaah. Jamaah juga diajak memaklumi bila azan maghrib di tv saat itu diganti running tex demi menghormati umat Katolik yang mengikuti Misa melalui TV."

"Iyalah, Nda, wong ya cuma sekali itu saja kok."

"Khotib tadi juga  mengutip Sirah Nabawiyah, membacakan terjemahan surat Kanjeng Nabi kepada Kaisar Heraklius di Bisantium, pemimpin tertinggi umat Nasrani pada waktu itu. Hebat itu."

"Surat itu yang telah membikin Kaisar Heraklius tergetar hatinya dan sangat gelisah, ya."

"Saya juga pernah baca itu, Pak Bei."

"Tapi sebenarnya yang lebih menarik justru episode sesudah itu, Nda."

"Episode yang mana, Pak Bei?" 

"Karena gelisah sesudah membaca surat dari Muhammad itu, maka Kaisar Heraklius mengumpulkan semua pembesar Bisantium dan diundanglah kabilah dagang dari Arab yang sedang berada di Syam. Kabilah Arab waktu itu dipimpin oleh Abu Sofyan, paman Rasulullah SAW yang masih kafir bahkan memusuhi Kanjeng Nabi dan kaum Muslimin. Dialognya sangat menarik."

"Menariknya di mana, Pak Bei?"

"Kaisar Heraklius meminta konfirmasi kepada Abu Sofyan tentang orang bernama Muhammad yang mengaku-aku sebagai Nabi dan Rasul terakhir dan telah berani berkirim surat kepadanya untuk masuk Islam. Berbagai indikator kenabian pun ditanyakannya kepada Abu Sofyan. Ternyata semua indikator kenabian yang diperolehnya dari Taurat, Zabur, dan Injil ada semua pada diri Muhammad."

"Lalu bagaimana, Pak Bei?"

"Yang jadi masalah cuma satu hal."

"Apa itu?"

"Nabi dan Rasul terakhir itu kenapa dari bangsa Arab, bukan dari Bani Israil? Padahal semua nabi sebelumnya sejak Ishaq, Yaqub, Yusuf, Ayub, Musa, Dawud, Sulaiman, hingga Isa a.s., semua dari Bani Israil. Ini kok dari bangsa Arab, Muhammad keturunan Ibrahim dari jalur Ismail?"

"Lalu bagaimana, Pak Bei?"

"Di akhir dialognya dengan Abu Sofyan, Kaisar Heraklius berkata, "Ingin sekali aku dapat bertemu dengan Nabi Muhammad, SAW. Meski dengan susah payah, aku akan berusaha untuk menemuinya. Bila aku berhasil berada di dekatnya, aku akan mencuci kedua telapak kakinya."

"Subhanallah. Apakah itu berarti Kaisar Heraklius sebenarnya sudah mengakui kenabian Muhammad SAW ya, Pak Bei?"

"Menurutku iya, Nda. Tapi situasinya sangat dilematis."

"Kenapa dilematis"

"Pertama, konon pada waktu itu Bisantium baru saja berhasil mengalahkan Kerajaan Persia, musuh bebuyutannya. Seluruh pembesar dan rakyat Bisantium sedang euforia karena banyak ghanimah yang diperoleh dari sana."

"Yang kedua apa, Pak Bei?"

"Yang kedua menyangkut hak prerogratif Allah SWT. Soal hidayah, Nda. Tentu Heraklius tidak gampang mengajak para pejabatnya untuk mengimani kenabian Muhammad bila Allah SWT tidak menghendaki. Bahkan Heraklius pun akhirnya tidak jadi beriman kepada Nabi Muhammad SAW."

"Sayangnya cerita itu tadi tidak disinggung khatib ya, Pak Bei? Padahal sangat menarik."

"Kalau sampai ke situ ya pasti khotbahnya jadi terlalu panjang, Nda. Sudah benar tadi beliau cuma menyinggung sekilas saja. Yang penting jamaah sudah paham tentang pentingnya tasamuh, berlapang dada, menghormati tetangga, dan memuliakan tamunya. Itu sudah cukup sebagai khotbah Jumat."

"Terima kasih atas tambahan wawasan dari Pak Bei. Saya jadi penasaran ini, harus membaca-baca lagi Sirah Nabawiyah."

"Itu bacaan wajib, Nda. Bila kita tidak mengenal sejarahnya, bagaimana kita dapat meneladaninya? Bila kita tidak memahami cara dakwahnya, bagaimana kita akan meneruskan risalahnya?"

Njih, Pak Bei. Insya Allah saya akan baca-baca lagi. Terima kasih, Pak Bei. Saya pamit dulu, njih."

Tri Doso pun pulang diantar Pak Bei hingga di pintu gerbang. Anak muda yang kritis, peka, dan ingin terus belajar.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten






Selasa, 10 September 2024

BIMBINGAN HAJI ITU PERLU


BIMBINGAN HAJI ITU PERLU

Namanya Mulyono, orang biasa memanggilnya Kang Mul atau Lek Mul. Rumahnya di kampung sebelah. Usianya hampir kepala tujuh, tapi badannya tampak masih bugar. Pak Bei tahu Kang Mul dan Yu Kamirah istrinya ini sejak dulu profesinya pedagang sayur-mayur. Mereka biasa kulakan ke Pasar Cepogo, Boyolali pada sore hari. Lalu, sayuran dari lereng Gunung Merapi itu malam jam 23nan dijualnya di Pasar Gedhe Klaten. Menjelang shubuh, dagangannya sudah terjual habis, dibeli pelanggannya para pedagang eceran dan warung-warung makan atau catering. Maka di kampungnya, mereka tergolong keluarga nyait, berkecukupan secara ekonomi.

Pak Bei jarang sekali bergaul dengan suami-istri itu. Kebetulan saja Jumat sore kemarin ketemu di Masjid Al Hidayah Jatinom, Klaten, karena sama-sama menghadiri undangan dari Kantor Urusan Agama  untuk calon jamaah Haji Jatinom 2025. Seperti tahun-tahun sebelumnya, KUA Jatinom memang selalu mengundang para calon jamaah Haji untuk ta'aruf dan diberi penjelasan tentang pengurusan paspor ke Kantor Imigrasi Solo serta pemeriksanaan kesehatan di Puskesmas. Itu memang salah satu tupoksi Kantor Kementerian Agama.

Sebelum pertemuan diakhiri, ndilalah Pak Bei ketiban sampur, ditunjuk menjadi koordinator 30 calon jamaah Haji dari Kecamatan Jatinom. Sebagai Kepala KUA, Pak Yusuf punya alasan penunjukan itu, bahwa Pak Bei pernah punya pengalaman naik Haji. Sebenarnya itu juga sudah lama, tahun 2011, tapi karena semua jamaah sudah setuju, ya apa boleh buat. Pak Bei pun tidak bisa menolak.

"Pak Bei, kami ini orang-orang bodoh dan buta huruf," kata Kang Mul mengawali penyampaian maksud kedatangannya malam ini. "Sejak kecil saya harus menggembala kambing dan mencari rumput, atau membantu bapak saya bekerja di ladang," sambungnya. 

Pak Bei tahu, memang dulu di kampung Kang Mul hampir tidak ada anak sekolah apalagi sampai kuliah. Hanya satu-dua yang sempat lulus SD. 

"Tapi beruntung sekali dulu setiap maghrib sampai isya' saya dan beberapa teman sempat ikut belajar mengaji di langgar peninggalan kakek Pak Bei itu," kata Kang Mul sambil menunjuk Masjid Al-Muttaqin di depan rumah, masjid cikal-bakal alias yang pertama dibangun di kampung Pak Bei.

"Lha terus kersane Kang Mul bagaimana? Apa yang bisa saya bantu?," tanya Pak Bei.

"Pak Bei kan jadi koordinator. Maka, tolong kami dibantu belajar cara melakukan ibadah Haji, Pak Bei," pinta Kang Mul.

"Ooh iya, Kang Mul. Insya Allah saya akan bantu. Tapi seperti yang saya sampaikan di pertemuan kemarin, setiap calon jamaah haji sebaiknya ikut bimbingan yang diselengggarakan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh. Segeralah Kang Mul mendaftar di KBIHU. Ada beberapa di Klaten ini, silakan pilih mana yang sekiranya paling cocok."

"Ya itulah, Pak Bei, makanya kami ke sini untuk minta saran, eguh-pertikel, sebaiknya kami ini ikut bimbingan KBIHU yang mana. Kami percaya pada Pak Bei, mana yang paling baik untuk kami ikuti."

"Kang Mul, rasanya kurang elok kalau saya membanding-bandingkan. Kebetulan juga waktu berangkat Haji tahun 2011, kami ikut bimbingan di KBIHU Arafah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Klaten. Jadi yang saya tahu bagaimana bimbingan dan pelayanannya hanya KBIHU Arafah Klaten."

"Ada berapa jamaah yang ikut Arafah waktu itu?'

"Seingat saya, dulu jamaah Haji Kab. Klaten semua ada sekitar 1.200an orang. Yang ikut bimbingan di KBIHU Arafah ada sekitar 850 orang."

"Wah berarti mayoritas ikut KBIHU Arafah ya, Pak Bei."

"Ya betul, Kang. Umat Islam di Klaten lebih percaya pada KBIHU Arafah."

"Pak Bei, kenapa kita perlu ikut bimbingan di KBIHU? Bukankah kemarin Pak Yusuf sudah menyampaikan bahwa sebelum Ramadhan nanti Kemenag akan menyelenggarakan Manasik Haji dua kali? Apakah itu belum cukup?"

"Itu sangat tidak cukup, Kang Mul, terutama bagi jamaah yang baru pertama mau ibadah Haji."

"Kenapa begitu, Pak Bei?"

"Kang Mul, ada beberapa alasan kenapa kita perlu ikut bimbingan ibadah Haji. Pertama, ibadah Haji itu termasuk ibadah mahdhoh, ibadah yang tata cara pelaksanaannya harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Makanya, sebelum berangkat Haji, kita perlu belajar, manasik, hingga benar-benar paham agar nanti di sana dapat beribadah dengan benar dan khusyuk."

"Yang kedua, Pak Bei?"

"Yang kedua, ibadah Haji itu diikuti oleh berjuta-juta umat Islam dari seluruh dunia di tempat dan waktu yang bersamaan. Kalau kita tidak ikut KBIHU, nanti kita tidak punya teman, tidak punya rombongan yang sama-sama paham bahasa dan kebiasaan kita. Kita akan jadi seperti gelandangan, seperti orang hilang di tengah-tengah berjuta orang. Bahkan, kita bisa benar-benar hilang karena bingung tak tahu arah, tak paham bahasa, tak bisa baca tulisan Arab, dan seterusnya."

"Yang ketiga?"

"Yang ketiga, keuntungan ikut bimbingan KBIHU Arafah itu kita jadi tambah sedulur, minimal yang satu rombongan sekitar 40 jamaah. Sejak berbulan-bulan ikut manasik di sini dan selama hidup dan beribadah di sana 40 hari, kita akan selalu bersama rombongan kita. Setelah kembali ke Tanah Air, kita akan merasa mereka jadi sedulur."

"Begitu ya, Pak Bei?"

"Rombongan kami sejak tahun 2011 hingga sekarang pun masih rutin pertemuan silaturahmi selapan pisan, 35 hari sekali, di hari Sabtu Pahing. Kami kangen-kangenan, gojekan, dan ngaji bersama untuk merawat kemabruran Haji. Kalau tidak datang sekali saja, kami akan merasa rugi. Eman-eman."

"Wah jadi memang penting ikut bimbingan ibadah Haji di KBIHU Arafah ya, Pak Bei?"

"Menurut saya penting sekali, Kang Mul. Memang ada biayanya, alias bukan gratisan. Jer basuki mawa bea."

"Iyalah, Pak Bei. Jaman sekarang mana ada makan siang gratis. Apalagi ini soal ilmu ibadah yang sangat penting dan sudah lama kita antri menunggu giliran. Ya wajar kalau berbayar."

"Kang Mul dan Yu Kamirah sudah paham, nggih?"

"Sampun, Pak Bei. Insya Allah kami akan segara mendaftar di KBIHU Arafah. Matur nuwun atas sarannya. Ini sangat penting bagi kami."

"Dhawah sami-sami, Kang Mul. Saya juga matur nuwun Njenengan sekalian sudah keraya-raya ke sini."

"Kami pamit dulu, Pak Bei. Kalau ada yang perlu kami tanyakan lagi, masih boleh kami sowan ke sini, kan?"

"Ooh boleh banget. Monggo silakan kapan saja."

Kang Mulyono dan Yu Kamirah pulang dengan lega hatinya. Pak Bei nguntapke kepulangan mereka hingga ke pintu gerbang.

#serialpakbei
#mpmppmuhammadiyah
#lpumkmpdmklaten
#jatampusat
#kbihuarafahpdmklaten



 


Sabtu, 31 Agustus 2024

PRESS RELEASE

PEMDES JEMAWAN GELAR PESTA BERSAMA 2.000 WARGA

Masih dalam rangka memperingati Proklamasi Kemerdekaan RI ke-79, pagi ini, Ahad, September 2024, Pemerintah Desa Jemawan, Jatinom, Klaten menggelar acara SENAM & JALAN SEHAT "Jemawan Bersatu". Sebanyak 2.000 warga dari balita hingga manula telah terdaftar sebagai calon peserta. Acara yang digelar di Lapangan Desa Jewawan akan dimulai pukul 06.00 WIB, diawali dengan senam bersama, lalu dilanjutkan jalan santai menyusuri jalan desa sekitar 2 kilomater dengan start dan finish di lapangan Jemawan.

"Ternyata animo warga mengikuti acara ini luar biasa. Sungguh di luar ekspektasi," kata Joko Purnomo, Kades Jemawan. Dikatakannya bahwa sebenarnya panitia hanya mentargetkan 1.000 peserta, tapi rupanya event kumpul ramai-ramai dan olah raga bareng seperti ini disukai warga. "Apalagi akan ada doorprise menarik berupa TV 24 Inchi, Kulkas, Sepeda, kambing, dan ratusan hadiah hiburan lainnya," imbuhnya.

Guna mengawal 2.000 warga dan mengantisipasi hal-hal yang kurang diinginkan, maka dua mobil ambulan relawan dari PKPU dan PKS akan membantu panitia yang dikoordinasi oleh ibu-ibu PKK pimpinan Ibu Rita Setyaningrum. "Ribuan air putih dan snack juga sudah kami siapkan guna menemani para peserta menunggu pengumuman doorprize nanti," kata Rita Setyaningrum. "Pokoknya warga Jemawan pagi ini akan olah raga dan happy-happy bersama," imbuhnya.

Joko Purnomo menambahkan bahwa acara ini digelar bukan semata-mata untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-49, tetapi juga sekaligus memperingati lahirnya Desa Jemawan yang ke-1.198. Kenapa bisa begitu? Bagaimana ceritanya?

Joko Purnomo meyakini, bahwa Desa Jemawan yang juga dikenal sebagai Bawan ini sesungguhnya keberadaannya sudah jauh lebib tua dari Indonesia, yakni sejak masa Mataram Kuno di abad ke-7 hingga ke-9 Masehi. Diyakini bahwa Rakai Bawan yang prasastinya ditemukan di dusun Mao yang terletak di sebelah timur Umbul Jolotundo itu dulu tinggalnya di Bawan yang kemudian disebut Desa Jemawan. Keyakinan itu didukung dengan banyaknya artefak seperti lingga, yoni, arca, watu gilang, dan batu bata ukuran besar ditemukan di dusun Kwaon dan Candirejo.

"Penanggalan yang tertulis di Prasasti Mao itu bila dikonfersi berangka tahun 826 M dan bulan Agustus. Artinya, usia Desa Jemawan saat ini paling tidak sudah berusia 1.198 tahun. Benar atau tidak, silakan para arkeolog melakukan penelitian," imbuh Joko Purnomo.

#pakbei
#pressrelease
#wahyudinasution


Rabu, 07 Agustus 2024

OMON-OMON SOAL TAMBANG

OMON-OMON SOAL TAMBANG

Sudah lama Pak Bei tidak kedatangan tamu rombongan mahasiswa seperti malam ini. Sesuai pesan Fauzi via WA tadi siang,  nanti malam sekitar isya' dia akan sowan bersama 10 temannya, mahasiswa Klaten yang kuliah pada beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Fauzi ini putra bungsu Kang Dayat, sahabat Pak Bei sejak jaman sekolah di SMP Muhammadiyah 2 Jatinom, Klaten awal 1980an, hingga saat ini. Jadi, sejak kecil Fauzi sudah kenal Pak Bei yang sering bertandang ke rumahnya.

Ternyata benar, Fauzi dan teman-temannya datang tepat waktu, di saat suara azan  terdengar bertalu-talu dari corong masjid-masjid sekitar kampung Pak Bei. Anak-anak muda itu pun langsung diajaknya ke masjid depan rumah untuk ikut sholat berjamaah. Seusai sholat, mereka diajak kembali ke nDalem Pak Bei, duduk lesehan di karpet yang sudah tergelar di teras. Dan tak lupa, Pak Bei order  ke Mas Cahya putra sulungnya, 11 gelas kopi untuk teman ngobrol dengan tamunya. 

Sambil menunggu kopi tersaji, obrolan ringan pun dimulai dengan ta'aruf. Fauzi memperkenalkan nama, rumah, dan asal kuliah teman-temannya. Ada yang dari UMY dan UAD Jogja, dari UMS Solo, dan Unimus Semarang. Ternyata, meski wajah-wajahnya tampak masih culun, mereka aktivis di kampusnya masing-masing. Beberapa aktif di IMM, dan ada juga yang aktif di HMI. 

Cahya keluar menyajikan 11 gelas kopi di nampan, lalu menyalami anak-anak muda tamu ayahnya itu satu-persatu.  

"Kalau gak ada kerjaan, sini ikut ngobrol, Le," kata Pak Bei pada Cahya.

"Waduh maaf, Yah, Cahya harus nyelesaikan editing video," jawab Cahya sambil mohon ijin undur diri. Pak Bei pun maklum, pekerjaan Cahya untuk urusan marketing online produk-produk Bundaco memang lebih banyak dilakukannya di malam hari.

"Ayo, Adik-Adik, silakan diminum kopinya, baru kita lanjut ngobrol," Pak Bei mempersilakan tamunya. Anak-anak muda itu pun nyeruput kopinya masing-masing.

"Pak Bei, kami sowan kemari ini untuk bincang-bincang soal keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang akhirnya menerima tawaran Izin Usaha Pertambangan dari Pemerintah Jokowi," Fauzi mulai membuka tema.

Pak Bei tidak terkejut. Tema itu memang masih hangat di kalangan kader Muhammadiyah sejak di tingkat Pusat hingga Ranting, di kalangan mahasiswa sambil ngopi di cafe hingga pemuda-pemuda kampung di gardu ronda.

"Kami ini tidak habis pikir, Pak Bei, kenapa PP Muhammadiyah akhirnya menerima juga tawaran IUP itu. Ada apa? Padahal selama ini sangat kritis terhadap kerusakan lingkungan dan dampak sosial dari usaha pertambangan," kata Doni.

"Benar, Pak Bei. Sungguh kami tidak rela kalau Muhammadiyah yang selama ini moderat, independen, dan bersahaja ternyata berubah menjadi sekelompok orang yang 'membawa kerusakan di muka bumi' gara-gara tergiur tambang," sambung Irfan. 

"Kami juga kecewa kalau gara-gara IUP ini Muhammadiyah yang kita banggakan ternyata berubah menjadi subordinat Pemerintah sehingga kehilangan daya kritis terhadap kemungkaran dan ketidakadilan. Bukankah ada pepatah Jawa mengatakan Ojo cedhak kebo gupak, jangan dekat-dekat kerbau yang sedang berkubang lumpur, karena bisa ikut terkena kotoran?" sambung Ihsan.

"Pak Bei, aktivitas pertambangan selama ini telah berdampak serius pada kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial-ekonomi, dan ketidakadilan sosial. Masyarakat yang berani protes bahkan diintimidasi dan dikriminalkan. Semestinya Muhammadiyah terjun di gerakan rehabilitasi bekas tambang, advokasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar area tambang. Lha kok malah mau ikut-ikutan nambang," sambung Arhan.

"Pak Bei ini termasuk pengurus di PP Muhammadiyah, kan? Tentu Pak Bei tahu dan pasti bisa membantu kami memahami masalah ini, syukur bisa menyalurkan aspirasi kami ke PP," kata Fauzi.

"Iya, Pak Bei. Kami sangat malu setiap kali diskusi dengan teman-teman kampus atau membaca kritik dari para aktivis lingkungan di media sosial. Kali ini Muhammadiyah seakan jadi bulan-bulanan gara-gara tambang. Mereka sangat kecewa pada Muhammadiyah yang ikut tergiur dengan iming-iming lezatnya tambang," kata Arya.

Semua mata memandang Pak Bei, menunggu respon atas 'gugatan' yang mereka lancarkan bertubi-tubi. Tapi tentu bukan Pak Bei kalau fast-respon apalagi emosi menghadapi protes anak-anak muda. Tetap saja Pak Bei slow, santai, bahkan senyum-senyum memandang wajah mereka satu-persatu, memberi kesempatan kalau masih ada yang mau menumpahkan kritik dan kekecewaannya. Pak Bei sadar, mahasiswa memang harus kritis, peka, dan tidak takut menyampaikan pendapat. Mereka pemimpin di masa depan.

"Masih ada lagi, Adik-Adik?," Pak Bei mulai merespon.

"Cukup itu dulu, Pak Bei," jawab Fauzi.

 "Baiklah. Sungguh saya sangat senang Kalian datang kemari untuk ngobrol soal tambang. Mohon maaf saya memakai istilah ngobrol, bukan tabayyun. Pertama, karena posisi saya memang bukan pada kapasitas memberi penjelasan terkait keputusan Konsolidasi Nasional PP Muhammadiyah. Maqam saya ini hanyalah sebatas teman Kalian omon-omon atau rasan-rasan. Kedua, kalau istilahnya tabayyun, itu membutuhkan prasyarat kedua belah pihak siap berlapang dada untuk mencari kejelasan, titik-temu, dan kesepahaman bersama. Sementara saya ini belum tahu apakah Adik-Adik  siap untuk tabayyun."

"Njih, Pak Bei. Kita sekedar pengin ngobrol santai saja. Iya to, Bro?," Fauzi minta persetujuan teman-temannya.

"Siap," jawab anak-anak muda kompak.

"Baiklah. Tolong Kalian jawab dulu pertanyaan saya. Seandainya ormas NU dan Muhammadiyah menolak tawaran IUP dari Pemerintah, kira-kira aktivitas pertambangan batu bara dan lainnya yang sudah berlangsung puluhan tahun itu akan berhenti dan menutup usahanya atau terus berlanjut?"

"Tentu saja terus berlanjut, Pak Bei."

"Kenapa?"

"Karena hidup kita sehari-hari memang butuh batu bara yang sangat besar sebagai sumber energi," jawab Ihsan.

"Masa iya?"

"Lampu-lampu ini tidak bisa menyala kalau tidak ada batu bara dipasok ke PLTU. Kita akan gelap-gulita. Kantor-kantor, sekolah, dan kampus-kampus akan tutup. Pabrik-pabrik, termasuk pabrik logam dan besi baja tidak bisa produksi sehingga pembangunan akan terhenti," jawab Ihsan dengan yakin.

"Jadi pertambangan batu bara harus terus berlangsung, ya? Lalu, siapa yang boleh melakukan aktivitas pertambangan? Apakah hanya para konglomerat dan perusahaan multinasional seperti yang terjadi selama ini?"

"Ya memang mereka yang punya semua sumber daya, Pak Bei. Mereka yang punya modal, mereka yang punya keahlian dan pengalaman," jawab Arya.

"Jadi yang lain, termasuk ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah, tidak boleh masuk ke sektor pertambangan, begitu?"

"Masalahnya bukan boleh atau tidak boleh, Pak Bei, tapi yang namanya organisasi dakwah kan urusannya amar makruf nahy munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Lha kalau ikut masuk ke bisnis tambang, itu kan sama saja masuk dan menyeru ke wilayah yang sarat kemungkaran."

"Sebagai aktivis IMM, tentu Kalian pernah membaca sejarah Muhammadiyah sejak awal berdiri di Kauman, Yogyakarta. Benar?"

"Iya benar, Pak Bei."

"Tentu kalian pernah baca, dulu ketika KHA Dahlan merintis sekolah modern alias sekolah model Belanda, banyak orang dan Kyai mencibir dan mencelanya. KHA Dahlan dianggap akan menjerumuskan anak-anak menjadi kafir. Karena persepsi orang pada waktu itu, yang namanya sekolah bagi anak-anak Islam ya di langgar atau mushala, atau di madrasah dan pondok pesantren, mengkaji Al-Quran, Hadits, dan Kitab-Kitab Ulama terdahulu dengan sistem sorogan. Begitu kan sejarahnya?"

"Iya benar, Pak Bei."

"Di awal 1920-an, Kyai Sujak mengajak masyarakat Kauman dan sekitarnya merintis usaha Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), berupa klinik kesehatan/pengobatan. Karena  belum punya dokter dan ahli kesehatan modern, maka Kyai Sujak pun mengajak kerjasama dokter-dokter Belanda yang ada di RS Panti Rapih dan Bethesda Yogyakarta. Aneh, kan?" 

"Jelas aneh, Pak Bei. Masyarakat kita waktu itu kalau sakit larinya ke dukun dan Kyai, bukan ke dokter seperti sekarang."

"Tepat sekali. Tapi lihatlah sekarang, ada berapa banyak Amal Usaha Muhammadiyah tersebar di seluruh pelosok negeri, bahkan ada beberapa di Luar Negeri. Paling tidak, saat ini ada 122 Rumah Sakit PKU Muhammadiyah/Aisyiyah, ditambah 20 RS PKU yang masih dalam proses pembangunan, dan 231 Klinik. Di bidang Pendidikan ada 5.345 Sekolah/Madrasah, 172 Perguruan Tinggi Muhammadiyah/'Asyiyah, dan 440 Pondok Pesantren. Itu belum termasuk ribuan TK ABA dan Panti Asuhan Yatim."

"Luar biasa ya, Pak Bei."

"Di usianya yang lebih dari satu abad ini, apakah terbukti bahwa sekolah yang dibangun Muhammadiyah melahirkan generasi kafir? Tidak, kan?"

"Jelas tidak, Pak Bei."

"Apakah dengan Klinik PKO yang dirintis bersama para dokter-dokter Belanda menjadikan Umat Islam menjadi murtad?"

"Nyatanya tidak, Pak Bei."

"Lalu kenapa Kalian meragukan kemampuan Muhammadiyah memasuki bisnis pertambangan? Padahal kalian pasti tahu betapa saat ini Muhammadiyah sudah punya banyak pakar dari kampus-kampus PTMA dan PTN, juga punya banyak tenaga ahli berpengalaman di bidang pertambangan. Kalau soal modal gak usah dibahaslah."

"Kami hanya khawatir Muhammadiyah akan ikut merusak lingkungan dan membuat semakin banyak orang sekitar tambang terpinggirkan hingga banyak fakir-miskin, Pak Bei."

"Apakah itu berarti Kalian masih meragukan kualitas keislaman dan kemuhammadiyahan para pimpinan Persyarikatan kita?" 

"Ya bukan begitu, Pak Bei. Kami sangat percaya para pimpinan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo yang luar biasa itu. Mereka para ulama yang ikhlas yang tidak mudah tergiur oleh jabatan dan kemewahan duniawi."

"Tapi kenapa Kalian ragu dengan keputusan Konsolidasi Nasional Muhammadiyah yang melibatkan semua Pimpinan Wilayah serta para ahli di bidang pertambangan, sosial, ekonomi, juga para Ulama Tarjih?"

"Baiklah, Pak Bei. Tampaknya akhir-akhir ini kami memang terpengaruh pihak luar sehingga kami pun ikut shu'udhan pada pimpinan kita. Terima kasih atas pencerahannya."

"Sama-sama, Dik. Aku minta maaf kalau ada kata-kataku yang salah. Kita harus ingat bahwa kita ini berorganisasi, berjamaah. Tidak ada jamaah kalau tidak ada ketaatan pada imam. Bukan organisasi kalau anggotanya tidak taat pada pimpinan."

"Njih, Pak Bei. Insya Allah kami akan menjadi makmum yang baik dalam jamaah Muhammadiyah. Kami pamit dulu, Pak Bei. Sekali lagi, terima kasih atas kesediaan Pak Bei menerima kami. Mohon dimaafkan bila ada kesalahan kami," Fauzi pamitan mewakili teman-temannya.

Setelah bersalam-salaman, Pak Bei melepas tamu-tamunya di halaman. Rona kebahagiaan terpancar di wajah Pak Bei.
"Di tengah iklim Perguruan Tinggi yang cenderung memacu mahasiswanya berlomba agar cepat lulus,  masih ada mahasiswa yang mau aktif berorganisasi. Alhamdulillaah," kata Pak Bei dalam hati.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten