Minggu, 26 Mei 2019

WINGIT

WINGIT

Upayaku menghindari ketemu Sasa di bulan puasa ini akhirnya gagal total. Sebenarnya kami sudah janji untuk tidak ketemu dulu selama sebulan. Kami sepakat akan menjalani puasa tanpa terganggu pikiran-pikiran politik yang bisa bikin hati tidak nyaman. Tapi dasar Sasa, tanpa ekspresi bersalah, tiba-tiba dia datang tadi sore menjelang waktu buka.

"Loh, Sa, belum lebaran kok sudah ke sini?," tanyaku setelah mempersilakannya duduk.

"Iya, Om, mau ikut buka di sini," jawab Sasa dengan santainya.

"Ya mari kita ikut takjilan di masjid," jawabku.

Kami pun menuju masjid bergabung dengan semua tetangga yang sudah duduk di teras masjid menghadap piring-piring nasi dan teh nasgithel yang sudah terjajar rapi. Begitulah masyarakat di kampungku setiap sore di bulan Ramadhan, semua  berkumpul di masjid untuk takjilan, buka bersama, dengan menu berbeda-beda tergantung jadwal penyedia buka. Kadang menu sate ayam, kadang menung lodeh terong dan tempe goreng,  kadang soto ayam, kadang sambal goreng tahu kentang dan ayam bakar, dan kadang juga sekadar ayam goreng dan sambal tomat. Saat-saat seperti ini sungguh sangat ngangeni, makan bersama dilanjut sholat maghrib berjamaah. Pulang dari masjid perut sudah kenyang, tinggal nyantai dengan keluarga sambil ngopi dan makan camilan seadanya.

Sore ini jadi agak beda karena ada Sasa. Seperti biasanya, kami ngobrol di depan sambil menunggu Zika, anak gadisku  yang baru lulus dari Gontor Putri dan menunggu waktu mulai setahun pengabdian setelah lebaran nanti, menyuguhkan dua gelas kopi pesananku.

"Monggo diunjuk, Pakdhe," kata Zika sambil meletakkan kopi di meja.

"Njih, Mbak, matur nuwun," jawab Sasa. "Itu tadi anak nomor dua, Om?," tanya Sasa sambil menuang kopi di lepek.

"Iya, Sa. Biasanya di pondok, tapi ini lagi libur Ramadhan dan Idul Fitri."

"Om, situasainya kok jadi soyo wingit, ya?, Sasa membuka obrolan setelah minum kopi dan menyalakan rokok.

"Wingit bagaimana?"

"Pemilu dan Pilpres sudah usai, tapi kok usreg tidak rampung-rampung."

Sudah kuduga, pasti Sasa sudah gatel pengin ngobrol tentang situasi politik, tema yang sebenarnya ingin kuhindari karena bisa bikin mules di perut. Tapi bagaimana mungkin kularang Sasa ngomong soal itu? Lha wong dia juga rakyat yang telah menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara. Apapun pilihannya,  dia berhak tahu perkembangan informasi, juga berhak komentar sesuai kapasitasnya. Tapi yang pasti aku harus hati-hati meladeni obrolan Sasa. Toh dia juga tahu situasinya memang lagi wingit. Meminjam istilah Sasa, kriwikan isoh dadi grojogan, salah omong sedikit saja bisa jadi masalah besar."

"Aku tidak habis pikir tenan, Om."

"Soal apa?"

"Orang sudah lupa cita-cita reformasi dulu."

"Lha piye, to?"

"Tentu Sampeyan juga masih ingat semua kejadian di tahun 90an, ketika di mana-mana Pak Amien Rais meneriakkan pentingnya suksesi, mengganti Presiden Soeharto yang sudah lama berkuasa."

"Ya masih ingat banget, Sa. Waktu itu aku masih di Jogja, juga ikut hingar-bingar reformasi."

"Lha iya ya, Om. Dulu orang pada takut-takut mendukung Pak Amien, tapi mahasiswa di mana-mana mengelu-elukan Pak Amien yang berani kritis pada Pemerintah dan lantang menyuarakan reformasi. Lalu terjadi demonstrasi di mana-mana, terjadi gegeran di berbagai kota. Obong-obongan. Lalu Pak Harto pun jatuh."

"Jangan lupa, dulu juga terjadi krisis moneter, Sa. Itu yang membuat Pak Harto jadi lemah."

"Iya, Om, aku masih ingat itu. Ada beberapa menteri mundur dan berbalik mendukung reformasi. Itu yang semakin melemahkan Pak Harto."

"Mereka pintar membaca situasi kok, Sa. Cepat-cepat menyelamatkan diri, mendadak jadi pro-reformasi."

"Dulu kan banyak mahasiswa yang meninggal karena ditembak tentara ya, Om. Itu terus bagaimana jluntrungannya?"

"Sudah gak jelas, Sa."

"Aneh, ya?"

"Apanya yang aneh?"

"Orang-orang yang harusnya tersingkir karena reformasi itu kok malah jadi aman sentosa,  bisa kembali berkuasa, ya? Lha kok Pak Amien sekarang malah seperti dikuyo-kuyo?"

"Dikuyo-kuyo piye, Sa?"

"Sekarang kok jadi semua orang seperti memusuhi Pak Amien, Om? Jasmerah- nya mana coba? Lha kok dho ora nitik? Berkat reformasi kan banyak orang yang jadi panen, tiba-tiba jadi politisi, jadi pejabat, jadi bupati, gubernur, presiden. Hiya to, Om? Lha kok sekarang mereka jadi memusuhi Pak Amien. Mestinya mereka matur nuwun."

"Mungkin memang Pak Amien yang salah kok, Sa?"

"Salah pripun?"

"Beliau terlalu jujur. Dulu setelah Pak Harto jatuh lalu diganti Pak Habibie sampai Pemilu dan Sidang Umum MPR 1999. Nah, di SU MPR itu beliau cuma memilih jadi Ketua MPR, tidak mau dipilih jadi Calon Presiden. Namanya Ketua MPR ya tidak bisa mengatur jalannya reformasi, Sa, sampai hari ini."

"Iya ya, Om. Ibarat bus disopiri orang lain, dan beliau hanya jadi pengurusnya."

"Wislah, Sa. Namanya juga politik. Wis bejane Pak Amien dimusuhi para penguasa."

"Wah tapi kok ya kebangetan to, Om?

"Kebangetan piye?"

"Orang-orang itu, lho. Kok tega-teganya pada Pak Amien, difitnah terus, bahkan beliau dituduh makar lalu diperiksa polisi. Mosok Pak Amien makar ya, Om? Dan amehnya, kok ya belum tampak ada gerakan membela Pak Amien?"

Azan isya' terdengar bersahutan dari masjid-masjid sekitar. "Slamet-slamet," batinku.

"Sasa mau ikut tarawih di sini atau mau pulang?"

"Pulang saja, Om. Pangapunten sudah ganggu waktinya."

"Slow wae, Sa. Kapan-kapan kita lanjut lagi obrolannya, ya."

Sasa pun pamit pulang naik sepeda jengkinya. Aku pun langsung bersiap ke masjid.























Minggu, 12 Mei 2019

TAKJILAN

TAKJILAN

Aku baru bangun tidur ketika anakku memberitahu bahwa ada Pakdhe Sasa nunggu di kursi depan. Entah ada isu apa puasa-puasa begini sahabatku datang. Mudah-mudahan tidak ngajak ngobrol politik. Tapi biarlah dia nunggu dulu. Aku mau mandi dan siap-siap ke mesjid ikut buka puasa bersama, takjilan bersama seluruh jamaah.

"Pangapunten, Om, aku mau ikut buka di sini," kata Sasa setelah aku duduk di sampingnya.

"Kita takjilan di mesjid ya, Sa."

"Ya itu maksudku, Om. Kudengar di sini setiap sore ada takjilan. Aku ingin ikut sekali-sekali. Katanya nikmat banget."

Memang, sejak puluhan tahun lalu di masjid-masjid kampungku ada tradisi takjilan setiap bulan Ramadhan. Semua orang, besar-kecil tua-muda, ikut buka bersama di masjid. Setiap keluarga mendapatkan giliran menyiapkan makanan dan minuman, minimal sekali dalam sebulan. Menu dan kualitas masakannya juga beda-beda tergantung kemampuan keluarga itu. Kadang ada yang masak sambal-goreng dan lauk ayam, ada yang masak sop ayam dan tempe goreng, ada yang masak pecel, dan ada juga yang tidak mau repot masak dan milih ngundang warung soto. Tapi apapun menunya, semua orang tampak gembira mengikuti takjilan.

"Agak aneh juga ya, Om," kata Sasa sepulang dari masjid tadi.

"Apa yang aneh?"

"Begitu terdengar azan, semua langsung makan nasi. Kelas berat. Lauknya sambal-goreng dan ayam lagi...."

Sasa pun menceritakan kebiasaannya buka puasa di rumahnya hanya dengan segelas teh dan kue-kue ringan seadanya, makan nasi setelah sholat maghrib. Tadi sempat kaget ketika ikut ke masjid dan duduk menghadap piring-piring nasi dan segelas teh.

"Wah ternyata memang nikmat banget ya, Om. Kubayangkan orang di sini jadi ngirit di bulan puasa."

"Ngirit piye, Sa?"

"Pasti ibu-ibu gak perlu masak tiap sore dan nyiapke makanan neko-neko di rumahnya, Om. Kalau sudah buka di masjid dengan nasi, perut sudah tenang, tak perlu lagi makan di rumah. Anak-anak kecil pun tampak menikmati menu takjilan."

"Ya memang, Sa. Ibu-ibu tinggal masak yang untuk sahur besok pagi."

"Makanya pasti jadi ngirit, Om. Beda dengan di kampungku yang justru boros di bulan puasa. Macam-macam makanan disiapkan untuk buka di rumah, padahal perut ini cuma butuh sepiring nasi dan segelas teh."

"Asyiknya itu di makan bersama itu kok, Sa. Jadi gak penting lagi menunya apa. Kita belajar saling menghargai sedekah tiap penyedia takjilan."

"Akan kucoba ngajak jamaah di kampungku bikin takjilan model di sini, Om."



Jumat, 03 Mei 2019

BERAS FITRAH

BERAS FITRAH

Aku lagi asyik melihat-lihat desain kemasan beras di google ketika sahabatku Sasa mak-bedunduk sudah berada di depanku.

"Assalaamu'alaikum.....," ucapnya sambil menyodorkan tangan ngajak salaman. Langsung kujawab salamnya dan kuraih tangannya. Kami bersalaman.

"Lagi sibuk apa, Om?"

"Ini lagi cari-cari inspirasi desain kemasan beras, Sa. Mau kopi?"

"Siap, Om. Memang ke sini aku mau ngopi....hahahaa."

Anakku lanang yang kebetulan lagi di rumah sudah tahu tugasnya. Tak berapa lama, dua gelas kopi sudah dibuatnya dan diantar ke meja tempat kami biasa ngobrol.

"Monggo diunjuk, Pakdhe," anakku mempersilkan.

"Yho, Cah bagus. Ini lagi libur to, Le?"

"Njih, Pakdhe. Mulai libur awal Ramadhan. Monggo disekecakke, Pakdhe," kata anakku lalu pamit undur diri.

Seperti biasanya, kami minum kopi yang masih panas dengan manfaatkan piring kecil yang disebut lepek. Kopi dituang ke lepek sedikit-sedikit, ditunggu beberapa detik, lalu dimimun dengan penuh penghayatan. "Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?," begitu pertanyaan Gusti Allah dengan gaya repetitif. 

"Mau buat kemasan beras lagi to, Om? Buat apa?," Sasa mulai membuka obrolan.

"Tadi aku dihubungi Pengurus Lazismu Pusat supaya nyiapkan beras fitrah untuk para muzakki."

"Berapa ton, Om?"

"Ya belum tahu, Sa. Mestinya banyak. Kalau ngirim ke Jakarta kan minimal 1 truk, bisa muat 7,5 ton. Kalau kurang dari itu jadi mahal di ongkos kirim."

"Sudah mulai nyiapkan berasnya, Om?"

"Belum, Sa. Perlu buat desain kemasannya dulu untuk ditawarkan ke para muzakki dan masyarakat umum."

"Beras dari mana itu nanti?"

"Ya dari petani-petani dampingan kita. Kalau masih kurang bisa kita minta tambahan dari dampingan teman-teman di Sragen atau Karanganyar."

"Berarti bukan hanya beras Rojolele, Om?"

"Beras C4 super, Sa. Tapi yang Rojolele juga kita siapkan."

"Harusnya memang begitu, Om."

"Maksudnya?"

"Beras untuk fitrah kan mesti sama dengan yang dimakan sehari-hari. Yang biasa makan beras medium, zakat fitrahnya cukup dengan beras medium seperti C4. Kalau orang biasa makan beras premium seperti Rojolele, zakat fitrahnya juga beras Rojolele. Jangan C4. Malu sama Gusti Allah, kan?"

"Iya ya, Sa. Harusnya malu, ya?

"Tapi, Om, kita kan baru besok lusa akan mulai puasa. Kok Sampeyan ini sudah mikir zakat fitrah? Kok jadi seperti bakul beras, to?"

"Hahaha.....iya ya, Sa?  Aku kadang juga bertanya seperti itu."

"Lha iya, saat-saat seperti ini Sampeyan kan lagi prepegan. Pasti Bunda Collection lagi banyak pesanan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.  Lha kok malah suntuk ngutusi beras...."

Mak-jleb rasanya mendengar omongan Sasa. Bukan salah. Masuk akal. Memang sejak dulu di mana-mana semua pelaku usaha konveksi pasti sangat sibuk tiap menjelang Ramadhan. Kami pun begitu.

"Alhamdulillah bisa jalan semua kok, Sa. Usaha kami kan sudah berjalan bertahun-tahun, jadi sudah bisa menemukan iramanya. Jadi gak masalah kusambil ngurusi petani dan  beras fitrah ini. Kalau mau, kusambi mancing atau jalan-jalan pun tidak masalah."

"Nah itu, aku gumun dengan Sampeyan ini."

"Gumun apa? Jangan gumunan, to."

"Lha kok mau-maunya Sampeyan ngurusi petani? Mestinya kan bisa jalan-jalan sambil ngembangkan bisnisnya sendiri."

"Iya ya, Sa."

"Seharusnya yang ngurusi petani itu Pemerintah, Om. Mereka kan digaji negara untuk ngurusi kepentingan rakyat. Lah Sampeyan ini pejabat bukan, politisi juga bukan. Nuwun sewu, Sampeyan ini hanya rakyat biasa seperti saya. Lha mbok sudah, urusan pertanian dan perberasan itu biar diurusi Pemerintah dan orang-orang politik yang suka umbar janji itu."

"Seharusnya juga begitu, Sa. Wislah, gak usah ngomong politik. Bikin mumet dhewe."

"Ya memang, Om. Bagaimana tidak mumet melihat Pemerintah nyambi jadi makelar."

"Makelar piye, maksudmu?"

"Kalau ngurusi petani kan gak dapat apa-apa, kan mending impor beras bisa dapat persenan, Om."

"Persenan dari mana?"

"Ya dari pelaku impornya to, Om. Mosok dari Sasa....hahahaa..."

"Wislah, Sa. Kita ini rakyat biasa yanv butuh sesrawungan, butuh kekancan, butuh berbuat baik, butuh tolong-menolong. Makanya kita mau srawung dengan siapa saja, termasuk dengan para petani. Biarkan saja kalau ada orang masih kadonyan, hanya ngejar urusan dunia. Kita doakan saja mereka segera bertobat sehingga husnul-khotimah."

"Aamiin.... Ya sudah, Om. Aku pamit dulu, ya. Mau mampir mandi di umbul Gedaren biar seger," Sasa pun pamit pulang, nyengklak sepeda jengki tuanya yang tampak jarang dirawat. 

Senin, 29 April 2019

SUSU TETANGGA

SUSU TETANGGA

Jinguk tenan Sasa. Kali ini guyonannya ekstrem banget. Radikal. Jorok. Guyonan semacam ini perlu diwaspadai, karena bisa dianggap mengancam persatuan dan kesatuan, tidak pro-NKRI. Bisa kena pasal menyebarkan kebencian. Wah gawat. Aku harus hati-hati ngobrol dengannya. Tidak boleh terpancing biar selamat.

"Jaman sekarang memang aneh ya, Om," kata Sasa menyambutku di parkiran tadi pagi.

"Aneh bagaimana? Ayo kita duduk dulu di dalam. Sekali-sekali kita nyoto bareng, Sa," Sasa pun nurut, mengikutiku masuk ke ruang dekat dapur yang lebih sepi. Dalam tempo singkat, dua mengkok soto dan dua gelas teh nasgithel telah tersaji di meja kami. Harus kuakui, meski warung ini tradisional, tapi pelayanannya cepat dan profesional. Sayang sekali, dalam kategori bisnis kuliner, istilah fast-food hanya untuk jenis makanan impor. Sasa menyebutnya 'panganan Londo'. Soto Kartongali tidak termasuk.

Sambil menyantap soto, kuulang lagi pertnyaanku tadi, "Sing aneh opo, Sa?"

"Begini, Om. Kita ini dari dulu kok cuma diiming-imingi, dipameri, disuguhi susu tetangga, ya."

"Apa? Susu tetangga? Wahh...tenane, Sa? Asyik itu...."

"Asyik apanya? Lha wong cuma dipameri thok, je....."

"Maksudnya?"

"Ya namanya susu tetangga, Om, meski tampaknya montok, ranum-ranum, empuk, menthul-menthul, tapi gak bisa kita pegang. Cuma bisa nyawang thok."

"Gak boleh dipegang-pegang ya, Sa?"

"Jelas gak boleh, Om. Edan, po?"

"Ya sudah gak usah disawang, Sa. Biar saja dibuka-buka, digleh-glehke, diumbar-umbar di depan mata. Nanti dia juga capek sendiri kalau kita cuekin...."

"Eman-eman, Om. Lumayan masih bisa nyawang..."

"Nyawang sambil ngeleg ludah? Mesakke....."

" Tapi masih mending susu tetangga daripada....."

"Daripada apa?"

"Daripada janji-janji para politisi yang empuk-eyup setiap musim kampanye, yang akan nurunkan harga-harga sembako, akan nurunkan biaya pendidikan, pajak listrik, bbm, biaya kesehatan, dan sebagainya."

"Sik to, Sa, kamu ini ngomong susu tetangga kok tekan janji politisi?"

"Lah apa bedanya, Om?"

"Ya beda...."

"Sama saja."

"Kok sama?"

"Ya kan sama-sama gak bisa dipegang to, Om? Apa Sampeyan berani pegang susu tetangga? Tidak, kan? Takut kena pasal pelecehan seksual, kan?"

"Ya jelas, Sa. Ngapain lihat-lihat punyanya tetangga? Tiwas ngelu ndase, Sa. Makanya haram, Sa."

"Janji politik juga begitu."

"Begitu, piye?"

"Ada sekian banyak janji waktu kampanye dulu. Coba mana yang sudah dilaksanakan? Gak bisa dipegang, Om."

"Aku juga gak hafal janji-janji kampanye, Sa. Sudah lupa semua. Jadi gak ngeh juga apa yang sudah dilaksanakan dan yang belum."

"Ya itu masalahnya."

"Maksudmu?"

"Karena orang gampang lupa, makanya negara gak maju-maju. Dipameri susu tetangga saja wis dho mbanyaki, kesenengen. Apalagi ditambahi amplop nyeket ewu,  langsung semrinthil, klepek-klepek. Terus lupa segalannya. Diapusi terus kok dho seneng. Jiaannn....."

Soto di mangkok sudah tandas. Teh nasgithel juga sudah habis. Rokok sebatang pun hampir tuntas. Saatnya Sasa harus kembali ke tepi jalan melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara Soto Karto Ngali. Tak perlu lagi kulayani omongannya yang mulai ngkantur seperti orang ngomyang.

"Wis yho, Sa, kapan-kapan dilanjut ngobrolnya. Aku mau pulang dulu."

"Nggih, Om. Matur nuwun sudah ditraktir sarapan...."

"Aku sing matur nuwun, kali ini Sasa mau nemani makan. Sudah sana kerja lagi."

"Siap, Ndan," jawab Sasa dan langsung berlari sambil masang sempritan di bibirnya.

Aku pun menuju kasir, antri. Lagi-lagi kunikmati cara hitung quick-count ala Kang Panut dan respon pembeli yang beda-beda.

#serialsasa

Selasa, 23 April 2019

QUICK COUNT

QUICK COUNT

Jam 6.30 pagi, warung masih sepi, baru ada dua mobil plat H dan AB di parkiran. Sasa pun belum tampak bertugas. Aku langsung duduk di meja favoritku, meja yang berada tepat di depan meja tempat Kang Panut meracik soto sekaligus sebagai kasir pelayanan pembayaran. Memang dari dulu aku suka duduk di sana karena sangat strategis bisa melihat semua pengunjung. Mana tahu ada tetangga, teman, atau kenalan yang bisa kutraktir, atau bila sedang beruntung justru aku yang ditraktir. Dari tempat itu juga, aku suka memperhatikan cara Kang Panut menghitung pembayaran tanpa menggunakan kalkulator, alias mencongak, teknik hitung cepat yang diajarkan waktu SD. Kadang Kang Panut tampak pakai menulis di buku tulis, seolah-olah menulis angka-angka dan menjumlahnya, tapi sesungguhnya cuma akting. Lha wong belum menjumlah kok sudah bisa menyebut angka yang harus dibayar konsumen. Pasti hanya kasir cerdas yang melakukannya.

"Soto dua, teh dua, kepala satu, dada-menthok satu, perkedel dua, tempe empat," kata pembeli sambil membuka dompetnya.

"Seket, Mas."

"Eh, tambah karak 6, Pak " kata pembeli lagi.

"Nggih, Mas, seket mawon," jawab Kang Panut tanpa memandang pelanggannya sambil tangannya tetap asyik mengisi mangkok-mangkok di depannya.

Di waktu yang lain, salah satu dari rombongan gowes menuju kasir, "Sampun, Pak."

"Nggih, Mas. Tambah apa saja?" tanya Kang Panut.

" Soto enam belas, teh panas enam, es-teh sepuluh, tahu sepuluh, tempe dua belas, karak tiga puluh lima," kata pegowes mewakili teman-temannya.

"Nggih, Mas, dua ratus mawon."

Sering kulihat orang senyum-senyum setelah mambayar makanan, mungkin merasa murah sekali. Kadang juga ada ibu-ibu yang cemberut, mungkin merasa kemahalan dan menganggap mencongak Kang Panut asal-asalan.

Aku jadi teringat, Sasa pernah cerita tentang Kang Panut yang dalam bisnisnya menganut prinsip tuna sathak bathi sanak. Laba sedikit atau bahkan rugi pun gak masalah, yang penting teman dan pelanggannya banyak. "Jangan sampai ada pelanggan kapok makan di sini," begitu pesan Kang Panut pada semua karyawannya, termasuk Sasa yang bertugas mengatur parkir. Logika Kang Panut sederhana, tetapi cukup jitu sebagai kiat bisnis. Bila pelanggannya banyak, orang jualan apapun pasti tidak akan rugi. "Dan jangan pelit pada pelanggan agar pelanggan tidak pelit pada kita," pesan Kang Panut di waktu lain.

Dengan naluri dan prinsip bisnis yang diterapkannya itulah soto Kartongali bisa berkembang pesat dan banyak pelanggannya hingga kini. Mereka tuman karena memang sotonya bukan hanya enak di lidah dan nyaman di perut, tapi juga bikin gobyos dan gedhek-gedhek karena murah harganya.

"Tapi itu kan cuma urusan jualan soto, Om. Punya Kang Panut sendiri. Kalau salah hitungan, yang rugi juga cuma Kang Panut atau hanya satu-dua pembeli yang merasa dirugikan," kata Sasa.

"Maksudmu?," tanyaku.

"Lha kalau hitungan ratusan juta suara hasil Pilpres dan Pemilu, lha kok cuma ngandalkan mencongak, ya pasti awur-awuran to, Om? Beresiko tinggi. Bisa kacau, bisa bikin rakyat protes, atau malah gegeran."

Jindul tenan. Ternyata Sasa menghubungkan mencongak ala Kang Panut tadi dengan    quick-count lembaga-lembaga survey Pemilu/Pilpres yang konon sangat ilmiah. "Tapi benar juga Sasa," pikirku, "Nyatanya memang hasil QC justru meresahkan masyarakat sehingga dilarang tayang di tivi."

"Menurut Sampeyan, kenapa lembaga-lembaga ahlul-mencongak itu seperti berlomba mengumumkan hasil hitungannya?"

"Apa ya, Sa? Gak tahu aku."

"Menggiring hati dan pikiran rakyat, Om."

"Maksudmu?"

"Inilah politik, bukan jualan soto."

"Lha iya. Tapi apa maksudmu menggiring hati dan pikiran rakyat tadi?"

"Ya ini cuma dugaanku lho, Om. Mungkin salah."

"Iya, tolong jelaskan apa maksudmu."

"Ada orang pintar, baik, dan jujur. Ada orang pintar, tapi tidak baik dan tidak jujur."

"Iya tahu...."

"Ada orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk berbuat kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya. Tapi juga banyak orang pintar yang menjual kepintarannya justru untuk membantu kejahatan."

"Wah kok jadi mbulet omonganmu, Sa."

"Makanya jangan mudah percaya pada orang yang kelihatan pintar, Om. Wah kalau omong di tivi koyo yak-yako, seakan-akan paling pintar agar penonton percaya. Padahal sesungguhnya hanya tukang sihir, Om."

"Tukang sihir piye?"

"Ya menyihir rakyat agar percaya siapa pemenangnya. Namanya juga sihir, Om, maunya pemenang sesuai maunya si tukang sihir atau para botoh pengguna jasanya."

Tak terasa pagi sudah beranjak siang, hampir pukul 8.00. Aku harus pulang membuka pintu rumah. Pasti karyawan Bunda Collection sudah pada datang dan belum bisa masuk ke workshop.

"Bali sik yho, Sa," aku pun beegegas pamit. Tanpa menunggu jawaban Sasa, langsung kutancap gas supaya cepat sampai di rumah.










Minggu, 21 April 2019

USREG

USREG

Ngobrol dengan Sasa selalu jadi asyik karena sering terlontar kosa kata lama yang sudah jarang terdengar. Kadang dia terkesan seperti seorang penyair, teliti memilih diksi untuk menyatakan pikiran dan perasaannya. Kadang juga seperti seorang lawyer yang pilihan diksinya tidak mengundang tafsir ganda.

Seperti malam ini, dia datang selepas isya' sesuai janjinya tadi pagi untuk ngopi-ngopi. Tapi bukan Sasa kalau obrolannya yang ngalor-ngidul tidak nyrempet-nyrempet situasi politik terkini, seputar Pemilu/Pilpres 2019 beberapa hari lalu, sejak masa kampanye yang berbulan-bulan hingga proses penghitungan suara yang terkesan tidak rofesional dan amburadul. Seperti biasa, aku pun lebih sering menjadi pendengar yang baik, yang hanya sesekali nyenggaki untuk sekedar menjaga agar omongannya tidak nggladrah ke mana-mana.

"Ibarat pertandingan sepakbola, Om, wasit kok tidak kunjung niup peluit panjang tanda permainan sudah usai, ya. Tim sukses, pemilik klub, para wasit, dan PSSI malah usreg sendiri. Rakyat yang jadi penonton ini jadi capek to, Om?"

"Ini politik kok, Sa. Bukan sepakbola."

"Aku cuma khawatir kalau penonton jadi gak sabar lalu ngamuk."

"Ngamuk piye?"

"Om, penonton juga tahu ada yang tidak beres dalam pertandingan ini? Kalau dalam sepakbola, para pemain dan pemilik klub bisa disogok supaya mau mengalah. Wasit juga disogok supaya mau kerjasama ngatur pertandingan agar pemenangnya sesuai maunya para mafioso sepakbola."

"Ini bukan sepakbola kok, Sa."

"Lha ya itulah masalahnya, Om. Ini memang bukan sepakbola yang penontonnya tidak terlibat. Tapi ini politik. Pemilu dan Pilpres. Semua rakyat dilibatkan dalam pertandingan untuk memilih penyelenggara negara. Kalau ada yang tidak beres, misalnya panitia Pemilu melakukan manipulasi suara, tentu rakyat bisa ngamuk karena diapusi."

"Sa, bagaimana kalau kita mencoba bersabar dan percaya saja pada panitia yang tentu juga mumet menghitung suara sampai selesai?"

"Rakyat ini kurang sabar apa to, Om? Sudah berbulan-bulan diberondong kampanye para Caleg dan Capres-Cawapres. Sudah berbulan-bulan kita diiming-imingi, bahkan ada yang diancam-ancam supaya milih ini milih itu. Berulang-ulang rakyat ikut pemilihan-pemilihan, tapi ternyata cuma kapusan terus. Meski begitu, Om, rakyat masih berharap akan ada perubahan, berharap akan ada perbaikan pengelolaan negara.  Makanya kita kemarin mau ikut Pemilu-Pilpres."

"Rakyat juga seneng disogok to, Sa? Ayo ngaku saja, kemarin kamu dapat amplop berapa, lalu milih siapa? Wkkk....."

"Weelha malah diece."

"Tentu Sasa ingin pemenangnya yang kemarin ngasih amplop, to? Hayo ngaku saja....."

"Jindul ik..."

"Ngene lho, Sa. Siapapun Calegnya, siapapun Capres-Cawapresnya, yang kemarin sudah mengeluarkan duit banyak tentu ingin terpilih dan menjadi pemenang. Apalagi yang sedang berkuasa, tentu akan menggunakan kekuasaannya agar bisa menang dan kembali berkuasa."

"Ya pasti, Om."

"Yang belum berkuasa dan ingin berkuasa tentu juga berjuang keras mengerahkan segala daya agar bisa memenangkan pertandingan. Bener gak, Sa?"

"Iya ya, Om. Makanya usreg. Mbokya ada yang mau mengalah saja biar segera rampung masalahnya, ya."

"Kalau mengalah dalam pertandingan, itu namanya tidak sportif, Sa. Ngapusi pendukung dan pemilihnya."

"Iya ya, Om. Jadi biarkan saja mereka usreg terus, ya?"

"Lha kan sudah ada jadwalnya kapan penghitungan suara ini harus selesai dan diumumkan siapa pemenangnya. Sabar sik to, Sa."

"Ah sudahlah, Om. Aku mau pulang dulu. Mudah-mudahan masalah tidak semakin ngombro-ombro sehingga rakyat bisa sabar dan tidak ngamuk. Kalau harus ngamuk, aku juga masih siap kok, Om. Sudah lama tidak ngantemi orang....hahahaa."

Sasa pun langsung pulang, nggenjot sepeda jengki andalannya. Malam sudah cukup larut, saatnya menuju peraduan.











Jumat, 19 April 2019

COBLOSAN

COBLOSAN

Jam 6 pagi, warung baru buka dan masih sepi. Sasa belum tampak batang hidungnya. Memang, bila pas hari libur, biasanya setelah jam 7 baru banyak pembeli. Dimulai para pegowes dari berbagai penjuru yang mampir untuk sekedar istirahat dan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan, lalu datang juga beberapa rombongan keluarga dari luar kota yang sengaja datang menikmati sarapan soto klangenan. Begitulah, warung Soto Kartongali biasa jadi jujukan bagi orang yang ingin sarapan pagi sambil istirahat, lalu mereka tuman kembali lagi di lain waktu karena rasa soto yang khas dan bikin gedhek-gedhek.

Karena masih sepi, kulihat Yu Semi yang biasa bertugas menggoreng tahu-tempe masih  bisa ngobrol dan gojegan dengan teman-temannya. Tanpa sangaja nguping, aku yang kebetulan duduk di ruangan dekat dapur bisa mendengar dengan jelas obrolan mereka. Walaah, ternyata emak-emak dapur sedang me-review Pemilu dan Pilpres dua hari lalu. Kudengarkan obrolan mereka sampil menikmati soto dan teh nasgithel.

"Kemarin kamu dapat amplop berapa, Mar?," tanya Yu Semi pada Yu Marni.

"Lumayan, Yu. Dapat lima," jawab Yu Marni.

"Isinya berapa?"

"Ada yang 20, 25, 30, dan ada yang 50. Lumayan bisa buat nyangoni sekolah anakku."

"Kalau kamu dapat berapa, Sri?,"  Yu Semi tanya pada si Sri yang biasa bertugas nyuci mangkok, sendok-garpu, dan gelas.

"Dapat tiga, Lek. Yang satu isi 30ribu, yang dua isi 50rb. Lumayan," jawab si Sri.

"Kalau kamu dapat berapa, Tin?" Yu Semi tanya lagi ke Tini pelayan yang paling muda usia.

"Di desaku semua cuma dapat satu amplop, Mbokde. Isinya 50ribu. Tapi mesjid kami sudah dibelikan karpet bagus sebelum coblosan," jawab Tini sambil tangannya ngelap sendok dan garpu.

"Lumayan itu, Tin. Bisa dipakai bersama-sama dan pasti awet."

"Iya, memang selama ini masjid kami masih anyep karena belum ada karpetnya. "Kalau di tempat Mbokdhe bagaimana?," Tini balas bertanya.

"Di tempatku gak ada amplop, Tin. Tapi ada satu caleg yang janji mau belikan tenda setangkep. Celag lainnya janji mau belikan kursi lipat 50 buah."

"Masih janji semua to, Mbokdhe?"

"Ya masih janji, tapi karena bapak-bapak pengurus RT sudah percaya dan mantap, ya semua warga mendukung."

"Kalau nanti calegnya gagal bagaimana, Mbokdhe? Kan gak jadi dapat tenda-kursi?"

"Ya gak apa-apa, Tin. Sebenarnya kami juga tidak minta kok. Kalau mereka tidak jadi, tidak terpilih, ya mending gak usah ngasih saja. Mesakke, Tin. Caleg-caleg itu pasti sudah habis banyak duitnya."

"Iya ya, Yu," Yu Marni menyahut, "Mesakke. Apalagi kita ini tiap bulan sudah dapat beras dan tekur PKH. Banyak juga yang masih dapat bantuan pendidikan dan kesehatan. Bantuan PKH yang biasanya dibagikan akhir bulan, kemarin sudah kita terima sebelum Pemilu."

"Lha iya, Mar. Makanya kita ini harus manut sama Pak Kades dan mas-mas pendamping PKH. Disuruh milih ini ya milih ini, disuruh milih itu ya milih itu.  Daripada nanti gak dapat PKH lagi, to?"

"Kalau di tempat Pakdheku malah lebih enak lagi, Mbokdhe."

"Lebih enak bagaimana, Tin?"

"Sebelum coblosan sudah dapat PKH dan dibagi amplop 50ribuan. Pas coblosan semua datang ke TPS hanya untuk duduk, makan-makan, dan ngobrol. Para petugas TPS yang bekerja nyobloske."

"Wah, itu namanya bukan Pemilu, Tin. Itu andrawina, resepsi, pesta." Terdengar gelak-tawa orang-orang dapur. 

"Lha katanya memang pesta, Mbokdhe? Pesta demokrasi. Semua diundang ke TPS. Kita pun meluangkan waktu untuk datang. Lumrah kalau ada makan-makan." Kembali terdengar gela-tawa emak-emak dapur Kartongali.

Kulihat di ruang sebelah sudah penuh pembeli. Aku pun teringat harus segera pulang karena ada kerjaan menunggu. Setelah bayar ke Kang Panut di ruang depan, aku langsung ambil sepeda dan siap pulang dalam kondisi perut hangat dan badan masih gobyos bersimbah keringat.

"Loh, Om, kok tumben mruput pagi-pagi ke sini? Kok naik sepeda?" Rupanya Sasa sudah bertugas di tempatnya sejak tadi. Untung dia gak tahu aku ada di dalam.

"Iya, Sa. Ethok-ethoke olah raga gowes sambil nyoto," jawabku sambil lalu.

"Nanti malam aku sowan ke rumah ya, Om. Tolong disiapkan kopinya...hahahaa."

"Siap, Sa. Tenan, lho, kutunggu bakda isya'," jawabku sambil mancal sepeda meninggalkan Sasa.