Sabtu, 31 Agustus 2024

PRESS RELEASE

PEMDES JEMAWAN GELAR PESTA BERSAMA 2.000 WARGA

Masih dalam rangka memperingati Proklamasi Kemerdekaan RI ke-79, pagi ini, Ahad, September 2024, Pemerintah Desa Jemawan, Jatinom, Klaten menggelar acara SENAM & JALAN SEHAT "Jemawan Bersatu". Sebanyak 2.000 warga dari balita hingga manula telah terdaftar sebagai calon peserta. Acara yang digelar di Lapangan Desa Jewawan akan dimulai pukul 06.00 WIB, diawali dengan senam bersama, lalu dilanjutkan jalan santai menyusuri jalan desa sekitar 2 kilomater dengan start dan finish di lapangan Jemawan.

"Ternyata animo warga mengikuti acara ini luar biasa. Sungguh di luar ekspektasi," kata Joko Purnomo, Kades Jemawan. Dikatakannya bahwa sebenarnya panitia hanya mentargetkan 1.000 peserta, tapi rupanya event kumpul ramai-ramai dan olah raga bareng seperti ini disukai warga. "Apalagi akan ada doorprise menarik berupa TV 24 Inchi, Kulkas, Sepeda, kambing, dan ratusan hadiah hiburan lainnya," imbuhnya.

Guna mengawal 2.000 warga dan mengantisipasi hal-hal yang kurang diinginkan, maka dua mobil ambulan relawan dari PKPU dan PKS akan membantu panitia yang dikoordinasi oleh ibu-ibu PKK pimpinan Ibu Rita Setyaningrum. "Ribuan air putih dan snack juga sudah kami siapkan guna menemani para peserta menunggu pengumuman doorprize nanti," kata Rita Setyaningrum. "Pokoknya warga Jemawan pagi ini akan olah raga dan happy-happy bersama," imbuhnya.

Joko Purnomo menambahkan bahwa acara ini digelar bukan semata-mata untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-49, tetapi juga sekaligus memperingati lahirnya Desa Jemawan yang ke-1.198. Kenapa bisa begitu? Bagaimana ceritanya?

Joko Purnomo meyakini, bahwa Desa Jemawan yang juga dikenal sebagai Bawan ini sesungguhnya keberadaannya sudah jauh lebib tua dari Indonesia, yakni sejak masa Mataram Kuno di abad ke-7 hingga ke-9 Masehi. Diyakini bahwa Rakai Bawan yang prasastinya ditemukan di dusun Mao yang terletak di sebelah timur Umbul Jolotundo itu dulu tinggalnya di Bawan yang kemudian disebut Desa Jemawan. Keyakinan itu didukung dengan banyaknya artefak seperti lingga, yoni, arca, watu gilang, dan batu bata ukuran besar ditemukan di dusun Kwaon dan Candirejo.

"Penanggalan yang tertulis di Prasasti Mao itu bila dikonfersi berangka tahun 826 M dan bulan Agustus. Artinya, usia Desa Jemawan saat ini paling tidak sudah berusia 1.198 tahun. Benar atau tidak, silakan para arkeolog melakukan penelitian," imbuh Joko Purnomo.

#pakbei
#pressrelease
#wahyudinasution


Rabu, 07 Agustus 2024

OMON-OMON SOAL TAMBANG

OMON-OMON SOAL TAMBANG

Sudah lama Pak Bei tidak kedatangan tamu rombongan mahasiswa seperti malam ini. Sesuai pesan Fauzi via WA tadi siang,  nanti malam sekitar isya' dia akan sowan bersama 10 temannya, mahasiswa Klaten yang kuliah pada beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Fauzi ini putra bungsu Kang Dayat, sahabat Pak Bei sejak jaman sekolah di SMP Muhammadiyah 2 Jatinom, Klaten awal 1980an, hingga saat ini. Jadi, sejak kecil Fauzi sudah kenal Pak Bei yang sering bertandang ke rumahnya.

Ternyata benar, Fauzi dan teman-temannya datang tepat waktu, di saat suara azan  terdengar bertalu-talu dari corong masjid-masjid sekitar kampung Pak Bei. Anak-anak muda itu pun langsung diajaknya ke masjid depan rumah untuk ikut sholat berjamaah. Seusai sholat, mereka diajak kembali ke nDalem Pak Bei, duduk lesehan di karpet yang sudah tergelar di teras. Dan tak lupa, Pak Bei order  ke Mas Cahya putra sulungnya, 11 gelas kopi untuk teman ngobrol dengan tamunya. 

Sambil menunggu kopi tersaji, obrolan ringan pun dimulai dengan ta'aruf. Fauzi memperkenalkan nama, rumah, dan asal kuliah teman-temannya. Ada yang dari UMY dan UAD Jogja, dari UMS Solo, dan Unimus Semarang. Ternyata, meski wajah-wajahnya tampak masih culun, mereka aktivis di kampusnya masing-masing. Beberapa aktif di IMM, dan ada juga yang aktif di HMI. 

Cahya keluar menyajikan 11 gelas kopi di nampan, lalu menyalami anak-anak muda tamu ayahnya itu satu-persatu.  

"Kalau gak ada kerjaan, sini ikut ngobrol, Le," kata Pak Bei pada Cahya.

"Waduh maaf, Yah, Cahya harus nyelesaikan editing video," jawab Cahya sambil mohon ijin undur diri. Pak Bei pun maklum, pekerjaan Cahya untuk urusan marketing online produk-produk Bundaco memang lebih banyak dilakukannya di malam hari.

"Ayo, Adik-Adik, silakan diminum kopinya, baru kita lanjut ngobrol," Pak Bei mempersilakan tamunya. Anak-anak muda itu pun nyeruput kopinya masing-masing.

"Pak Bei, kami sowan kemari ini untuk bincang-bincang soal keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang akhirnya menerima tawaran Izin Usaha Pertambangan dari Pemerintah Jokowi," Fauzi mulai membuka tema.

Pak Bei tidak terkejut. Tema itu memang masih hangat di kalangan kader Muhammadiyah sejak di tingkat Pusat hingga Ranting, di kalangan mahasiswa sambil ngopi di cafe hingga pemuda-pemuda kampung di gardu ronda.

"Kami ini tidak habis pikir, Pak Bei, kenapa PP Muhammadiyah akhirnya menerima juga tawaran IUP itu. Ada apa? Padahal selama ini sangat kritis terhadap kerusakan lingkungan dan dampak sosial dari usaha pertambangan," kata Doni.

"Benar, Pak Bei. Sungguh kami tidak rela kalau Muhammadiyah yang selama ini moderat, independen, dan bersahaja ternyata berubah menjadi sekelompok orang yang 'membawa kerusakan di muka bumi' gara-gara tergiur tambang," sambung Irfan. 

"Kami juga kecewa kalau gara-gara IUP ini Muhammadiyah yang kita banggakan ternyata berubah menjadi subordinat Pemerintah sehingga kehilangan daya kritis terhadap kemungkaran dan ketidakadilan. Bukankah ada pepatah Jawa mengatakan Ojo cedhak kebo gupak, jangan dekat-dekat kerbau yang sedang berkubang lumpur, karena bisa ikut terkena kotoran?" sambung Ihsan.

"Pak Bei, aktivitas pertambangan selama ini telah berdampak serius pada kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial-ekonomi, dan ketidakadilan sosial. Masyarakat yang berani protes bahkan diintimidasi dan dikriminalkan. Semestinya Muhammadiyah terjun di gerakan rehabilitasi bekas tambang, advokasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar area tambang. Lha kok malah mau ikut-ikutan nambang," sambung Arhan.

"Pak Bei ini termasuk pengurus di PP Muhammadiyah, kan? Tentu Pak Bei tahu dan pasti bisa membantu kami memahami masalah ini, syukur bisa menyalurkan aspirasi kami ke PP," kata Fauzi.

"Iya, Pak Bei. Kami sangat malu setiap kali diskusi dengan teman-teman kampus atau membaca kritik dari para aktivis lingkungan di media sosial. Kali ini Muhammadiyah seakan jadi bulan-bulanan gara-gara tambang. Mereka sangat kecewa pada Muhammadiyah yang ikut tergiur dengan iming-iming lezatnya tambang," kata Arya.

Semua mata memandang Pak Bei, menunggu respon atas 'gugatan' yang mereka lancarkan bertubi-tubi. Tapi tentu bukan Pak Bei kalau fast-respon apalagi emosi menghadapi protes anak-anak muda. Tetap saja Pak Bei slow, santai, bahkan senyum-senyum memandang wajah mereka satu-persatu, memberi kesempatan kalau masih ada yang mau menumpahkan kritik dan kekecewaannya. Pak Bei sadar, mahasiswa memang harus kritis, peka, dan tidak takut menyampaikan pendapat. Mereka pemimpin di masa depan.

"Masih ada lagi, Adik-Adik?," Pak Bei mulai merespon.

"Cukup itu dulu, Pak Bei," jawab Fauzi.

 "Baiklah. Sungguh saya sangat senang Kalian datang kemari untuk ngobrol soal tambang. Mohon maaf saya memakai istilah ngobrol, bukan tabayyun. Pertama, karena posisi saya memang bukan pada kapasitas memberi penjelasan terkait keputusan Konsolidasi Nasional PP Muhammadiyah. Maqam saya ini hanyalah sebatas teman Kalian omon-omon atau rasan-rasan. Kedua, kalau istilahnya tabayyun, itu membutuhkan prasyarat kedua belah pihak siap berlapang dada untuk mencari kejelasan, titik-temu, dan kesepahaman bersama. Sementara saya ini belum tahu apakah Adik-Adik  siap untuk tabayyun."

"Njih, Pak Bei. Kita sekedar pengin ngobrol santai saja. Iya to, Bro?," Fauzi minta persetujuan teman-temannya.

"Siap," jawab anak-anak muda kompak.

"Baiklah. Tolong Kalian jawab dulu pertanyaan saya. Seandainya ormas NU dan Muhammadiyah menolak tawaran IUP dari Pemerintah, kira-kira aktivitas pertambangan batu bara dan lainnya yang sudah berlangsung puluhan tahun itu akan berhenti dan menutup usahanya atau terus berlanjut?"

"Tentu saja terus berlanjut, Pak Bei."

"Kenapa?"

"Karena hidup kita sehari-hari memang butuh batu bara yang sangat besar sebagai sumber energi," jawab Ihsan.

"Masa iya?"

"Lampu-lampu ini tidak bisa menyala kalau tidak ada batu bara dipasok ke PLTU. Kita akan gelap-gulita. Kantor-kantor, sekolah, dan kampus-kampus akan tutup. Pabrik-pabrik, termasuk pabrik logam dan besi baja tidak bisa produksi sehingga pembangunan akan terhenti," jawab Ihsan dengan yakin.

"Jadi pertambangan batu bara harus terus berlangsung, ya? Lalu, siapa yang boleh melakukan aktivitas pertambangan? Apakah hanya para konglomerat dan perusahaan multinasional seperti yang terjadi selama ini?"

"Ya memang mereka yang punya semua sumber daya, Pak Bei. Mereka yang punya modal, mereka yang punya keahlian dan pengalaman," jawab Arya.

"Jadi yang lain, termasuk ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah, tidak boleh masuk ke sektor pertambangan, begitu?"

"Masalahnya bukan boleh atau tidak boleh, Pak Bei, tapi yang namanya organisasi dakwah kan urusannya amar makruf nahy munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Lha kalau ikut masuk ke bisnis tambang, itu kan sama saja masuk dan menyeru ke wilayah yang sarat kemungkaran."

"Sebagai aktivis IMM, tentu Kalian pernah membaca sejarah Muhammadiyah sejak awal berdiri di Kauman, Yogyakarta. Benar?"

"Iya benar, Pak Bei."

"Tentu kalian pernah baca, dulu ketika KHA Dahlan merintis sekolah modern alias sekolah model Belanda, banyak orang dan Kyai mencibir dan mencelanya. KHA Dahlan dianggap akan menjerumuskan anak-anak menjadi kafir. Karena persepsi orang pada waktu itu, yang namanya sekolah bagi anak-anak Islam ya di langgar atau mushala, atau di madrasah dan pondok pesantren, mengkaji Al-Quran, Hadits, dan Kitab-Kitab Ulama terdahulu dengan sistem sorogan. Begitu kan sejarahnya?"

"Iya benar, Pak Bei."

"Di awal 1920-an, Kyai Sujak mengajak masyarakat Kauman dan sekitarnya merintis usaha Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), berupa klinik kesehatan/pengobatan. Karena  belum punya dokter dan ahli kesehatan modern, maka Kyai Sujak pun mengajak kerjasama dokter-dokter Belanda yang ada di RS Panti Rapih dan Bethesda Yogyakarta. Aneh, kan?" 

"Jelas aneh, Pak Bei. Masyarakat kita waktu itu kalau sakit larinya ke dukun dan Kyai, bukan ke dokter seperti sekarang."

"Tepat sekali. Tapi lihatlah sekarang, ada berapa banyak Amal Usaha Muhammadiyah tersebar di seluruh pelosok negeri, bahkan ada beberapa di Luar Negeri. Paling tidak, saat ini ada 122 Rumah Sakit PKU Muhammadiyah/Aisyiyah, ditambah 20 RS PKU yang masih dalam proses pembangunan, dan 231 Klinik. Di bidang Pendidikan ada 5.345 Sekolah/Madrasah, 172 Perguruan Tinggi Muhammadiyah/'Asyiyah, dan 440 Pondok Pesantren. Itu belum termasuk ribuan TK ABA dan Panti Asuhan Yatim."

"Luar biasa ya, Pak Bei."

"Di usianya yang lebih dari satu abad ini, apakah terbukti bahwa sekolah yang dibangun Muhammadiyah melahirkan generasi kafir? Tidak, kan?"

"Jelas tidak, Pak Bei."

"Apakah dengan Klinik PKO yang dirintis bersama para dokter-dokter Belanda menjadikan Umat Islam menjadi murtad?"

"Nyatanya tidak, Pak Bei."

"Lalu kenapa Kalian meragukan kemampuan Muhammadiyah memasuki bisnis pertambangan? Padahal kalian pasti tahu betapa saat ini Muhammadiyah sudah punya banyak pakar dari kampus-kampus PTMA dan PTN, juga punya banyak tenaga ahli berpengalaman di bidang pertambangan. Kalau soal modal gak usah dibahaslah."

"Kami hanya khawatir Muhammadiyah akan ikut merusak lingkungan dan membuat semakin banyak orang sekitar tambang terpinggirkan hingga banyak fakir-miskin, Pak Bei."

"Apakah itu berarti Kalian masih meragukan kualitas keislaman dan kemuhammadiyahan para pimpinan Persyarikatan kita?" 

"Ya bukan begitu, Pak Bei. Kami sangat percaya para pimpinan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo yang luar biasa itu. Mereka para ulama yang ikhlas yang tidak mudah tergiur oleh jabatan dan kemewahan duniawi."

"Tapi kenapa Kalian ragu dengan keputusan Konsolidasi Nasional Muhammadiyah yang melibatkan semua Pimpinan Wilayah serta para ahli di bidang pertambangan, sosial, ekonomi, juga para Ulama Tarjih?"

"Baiklah, Pak Bei. Tampaknya akhir-akhir ini kami memang terpengaruh pihak luar sehingga kami pun ikut shu'udhan pada pimpinan kita. Terima kasih atas pencerahannya."

"Sama-sama, Dik. Aku minta maaf kalau ada kata-kataku yang salah. Kita harus ingat bahwa kita ini berorganisasi, berjamaah. Tidak ada jamaah kalau tidak ada ketaatan pada imam. Bukan organisasi kalau anggotanya tidak taat pada pimpinan."

"Njih, Pak Bei. Insya Allah kami akan menjadi makmum yang baik dalam jamaah Muhammadiyah. Kami pamit dulu, Pak Bei. Sekali lagi, terima kasih atas kesediaan Pak Bei menerima kami. Mohon dimaafkan bila ada kesalahan kami," Fauzi pamitan mewakili teman-temannya.

Setelah bersalam-salaman, Pak Bei melepas tamu-tamunya di halaman. Rona kebahagiaan terpancar di wajah Pak Bei.
"Di tengah iklim Perguruan Tinggi yang cenderung memacu mahasiswanya berlomba agar cepat lulus,  masih ada mahasiswa yang mau aktif berorganisasi. Alhamdulillaah," kata Pak Bei dalam hati.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten












Jumat, 03 Mei 2024

BELAJARLAH KE MADURA

BELAJARLAH KE MADURA

"Pak Bei, seandainya dulu Kanjeng Nabi Muhammad SAW hidupnya bukan di Arab tapi di Nusantara, di Jawa dan sekitarnya, tentu beliau dhawuh supaya kita menuntut ilmu hingga ke Madura, uthlubul'ilmawalaufil-madura."

"Kenapa begitu, Kang?," tanya Pak Bei.

"Orang Madura itu istimewa, Pak Bei. Mereka cerdik, cerdas, pekerja keras, bersahaja, jujur, serta menjunjung tinggi persatuan dan solidaritas di antara mereka."

Pak Bei belum paham ke mana arah obrolan Kang Narjo yang tiba-tiba turun dari motornya, lalu nglesot di lantai dan nyerocos tentang orang Madura. Tapi Pak Bei paham kelakuan sahabatnya itu, pasti pengin ngopi sambil istirahat sejenak sebelum melanjutkan tugasnya ngantar koran ke pelanggan. Memang, beruntung sekali Pak Bei punya sahabat Kang Narjo. Loper koran senior satu ini meski tutur bahasa dan gayanya sederhana, bahkan sering terkesan  ndesit  alias wong ndesa banget, tapi omongannya sering menjadi pemantik ide dan inspirasi bagi Pak Bei. 

"Tapi rupanya jaman Kanjeng Nabi dulu belum ada orang Madura berdagang sampai ke Arab. Yang sudah sampai ke sana waktu itu orang-orang China. Maka dhawuh beliau, uthlubul'ilmawalaufishiin, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China."

"Dulu sudah ada Jalur Sutra, Kang, rute perdagangan dari China hingga Romawi. Jadinorang Arab sudah biasa ketemu orang-orang China. Kalau Madura kan jauh sekali, harus perjalanan lewat laut juga."

"Bener, Pak Bei. Wajar bila Kanjeng Nabi belum pernah ketemu orang Madura," Kang Narjo nyeruput kopinya lalu ambil sebatang kretek dan menyulutnya.

"Pak Bei tentu ingat, dua pendiri organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia, yakni Kyai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Kyai Hasyim Asy'ari pendiri Nahdhatul Ulama, dulu masa mudanya belajar dan berguru pada Kyai Cholil di Bangkalan, Madura," Kang Narjo melanjutkan obrolannya sambil klepas-klepus menikmati kretek.

"Iya bener, Kang. Beberapa tahun keduanya nyantri pada Kyai Cholil hingga dinyatakan lulus," jawab Pak Bei.

"Lalu keduanya diarahkan supaya meneruskan belajar pada Kyai Saleh Darat di Semarang sebelum melanjutkan belajar ke Mekah hingga beberapa tahun."

"Iya betul itu, Kang."

"Tapi aku bukan mau ngobrol soal belajar ngaji atau ilmu agama kedua orang hebat itu, Pak Bei."

"Terus soal apa, Kang?"

"Aku cuma mau menunjukkan betapa orang Madura itu hebat-hebat, tapi tidak semua orang bisa memahaminya."

"Maksudnya?"

"Pak Bei ngikuti gak fenomena warung kelontong milik orang-orang Madura yang lagi heboh?"

"Madura-Mart?"

"Iya betul. Itu salah satu contoh kecerdasan orang Madura dalam berdagang."

"Maksudnya?"

"Orang Madura selalu punya cara mencari rejeki di tengah gencarnya ekspansi  jaringan raksasa retail modern ke seluruh pelosok kota dan desa."

Rupanya Kang Narjo aktif mengikuti  berita tentang banyaknya usaha kelontong milik rakyat yang tidak berkembang bahkan bangkrut menghadapi maraknya pertumbuhan toko-toko kelontong modern hingga ke desa-desa. Beberapa ormas sudah mencoba melakukan perlawanan, membentuk usaha bersama atau koperasi, lalu masuk ke bisnis retail toko swalayan. 

"Ya jalan, tapi perkembangannya lambat, Pak Bei. Raksana kok dilawan. Jelas berat. "

"Iya, Kang. Jelas berat."

"Makanya, tuntutlah ilmu walau sampai Madura, Pak Bei," Kang Narjo mulai membeberkan kekuatan Madura-Mart. Meski dengan modal kecil, tapi keberadaannya bisa ngosak-asik hegemoni raksasa retail.

Diceritkannya betapa orang Madura punya cara sendiri dalam berdagang. Mereka tidak perlu meniru cara berdagang para raksasa ekonomi dengan membuat toko swalayan dengan manajemen modern, tampilan dan branding modern, lalu menawarkan kerjasama franchise ke orang-orang yang ingin punya toko. 

"Tidak, Pak Bei. Mereka cukup menyewa tempat ukuran 4x4 meter di jalan dekat perumahan. Ruang sekecil itu disekat jadi dua bagian. Yang depan untuk jualan, dan yang belakang untuk istirahat penjaga warung dan keluarganya. Hampir semua barang kelontong yang dibutuhkan masyarakat dijual di sana. Penunggu toko yang juga orang Madura itu siap melayani pembeli 24 jam/hari. Dan satu hal lagi, harga di Madura-Mart juga lebih murah dari toko-toko modern karena mereka ambil margin hanya sekadarnya. Mereka bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan dan melipat-gandakan modal. Bukan, Pak Bei. Mereka bekerja untuk hidup, untuk berbagi pekerjaan dan rejeki dengan tetangga serta handai taulan sesama orang desa dari Madura."

"Kemarin sempat ada isu jam buka toko Madura-Mart mau dibatasi ya, Kang? Katanya ada protes dadi toko-toko swalayan. "

"Itulah, Pak Bei, betapa kalang-kabutnya raksasa ekonomi menghadapi etos kerja orang Madura."

"Tapi untung banyak yang bela Madura-Mart, ya."

"Iya, Pak Bei. Masih banyak orang waras di negeri ini. Masih banyak orang ingin melindungi nasib rakyatnya. Tapi memang jaman sekarang rupanya banyak juga orang bodoh yang memegang kekuasaan. Kebijakannya disetir para pemilik modal besar."

"Ya sudah, Kang, kapan-kapan kita lanjut lagi ngobrolnya. Saya mau keluar ini," Pak Bei mempersilakan sahabatnya melanjutkan tugasnya mengantar koran ke pelanggan.

Kang Narjo segera mengidupkan motor setelah menghabiskan kopinya. Entah masih ada berapa pelanggan yang harus didatanginya setiap pagi. Jaman sudah berganti digital, tapi Kang Narjo masih setia dengan pekerjaannya.

#seriappakbei
#wahyudinasution
#lpumkmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat


Rabu, 06 Maret 2024

SERTIFIKAT HALAL

SERTIFIKAT HALAL

"Pak Bei pernah naik haji atau umroh?," tanya Narjo sambil mematikan mesin motornya, lalu turun dan duduk nglesot di lantai.

"Pernah, Kang. Alhamdulillaah."

Pak Bei paham betul, loper koran sahabatnya itu pasti ingin ngobrol sambil istirahat dan ngopi. Maka tanpa ba-bi-bu, Pak Bei pun langsung ke dapur menyalakan kompor, dan tak lama kemudian sudah kembali ke teras menyodorkan segelas Kopi Semendo kesukaan Narjo.

"Jadi Pak Bei pernah merasakan hidup di negara lain yang penduduknya mayoritas muslim, ya?," tanya Narjo sambil menuangkan kopi panas ke lepek, piring tak-takan gelas.

"Iya, Kang. Tinggal di Mekah 30 hari, di Madinah 8 hari. Pernah juga ke Mesir."

"Wah, pernah ke negerinya Raja Firaun juga?"

"Pernah, Kang. Tapi cuma 10 hari di sana."

"Kalau ke negara yang mayoritas non-Muslim pernah belum, Pak Bei?"

"Pernah juga ke Beijing dan Sanghai."

"China?"

"Iya, Kang."

"Berapa hari di sana?"

"Di Beijing 4 hari, di Shanghai 3 hari. Kenapa to, Kang?"

"Pengin tanya saja. Menurut pengalaman Pak Bei, apa bedanya tinggal di negara yang penduduknya mayoritas Muslim dengan yang mayoritas non-Muslim?"

"Ya banyak, Kang?"

"Contohnya?"

"Waktu di China, saya merasa repot kalau mau sholat. Pertama, karena tidak pernah terdengar suara azan. Kedua, di kamar hotel tidak ada tanda arah  kiblat."

"Terus gak pernah sholat?"

"Ya tetap sholat, Kang. Soal waktu dan arah kiblatnya menggunakan feeling."

"Cuma kira-kira?"

"Iya. Dengan teman sekamar saja kami berbeda arah kiblat kok. Masing-masing sesuai kemantapan hatinya."

"Soal makan bagaimana, Pak Bei?"

"Alhamdulillaah tour-guide-nya paham tamunya mayoritas muslim. Jadi setiap jam makan kami selalu diantar ke restoran Muslim yang jelas Halal."

"Ada juga, ya?"

"Ada, Kang. Coba kalau gak ada, betapa repotnya kita di sana. Gak paham peta, gak paham bahasa, gak paham tulisan. Betul-betul merasa gelap-gulita selama di sana."

"Kalau di Arab Saudi dan Mesir bagaimana, Pak Bei?"

"Aman, Kang. Ada banyak mesjid dan suara azan. Mau makan di sembarang tempat, kita juga tidak ada rasa was-was."

"Yakin semua makanan pasti halal, ya?"

"Iya, Kang. Seperti hidup di negeri kita sendiri."

"Lha itu lho yang ingin kutanyakan, Pak Bei."

"Apa, Kang?"

"Pemerintah kok nganeh-anehi."

"Maksudnya?"

"Lha sudah jelas Indonesia ini mayoritas penduduknya Muslim. Konon ada 85%. Tapi kenapa bikin kebijakan semua pengusaha makanan-minuman harus mengurus sertifikat halal?"

"Itu untuk menjamin bahwa semua makanan dan minuman yang beredar di pasaran halal dan baik, Kang." 

"Apakah selama ini masyarakat ragu dengan kehalalan makanan dan minuman yang dijual saudaranya sendiri?"

"Sebenarnya gak juga, Kang. Tapi kan Pemerintah harus menjamin kehalalannya."

"Itu cacat logika namanya."

"Cacat logika bagaimana?"

"Di negeri kita yang mayoritas Muslim ini, sebenarnya yang dibutuhkan justru Sertifikat Haram, Pak Bei. Bukan Sertifikat Halal."

"Kok gitu, Kang?"

"Iyalah. Pertama, di negeri kita ini, makanan-minuman halal itu sudah menjadi darah-daging dan irama hidup masyarakat. Sudah otomatis. Orang jualan sate kambing, ayam goreng, soto ayam, mie ayam, dsb tidak akan menggunakan daging busuk atau bangkai. Mereka pasti pakai daging segar yang diyakini baik. Orang jualan makanan haram juga tahu diri, kok. Yang jualan makanan berbahan daging anjing, misalnya, mereka biasa pasang tulisan "Sate dan Rica-Rica Jamu" atau "Sate Guk-Guk" dan dikasih gambar kepala anjing. Orang jualan ciu, minuman keras, pasti juga sembunyi-sembuyi. Hanya orang tertentu yang jadi konsumennya. Itulah yang kumaksud Pemerintah nganeh-anehi. Begitu juga yang jualan berbahan mengandung babi."

"Maksud Pemerintah itu baik lho, Kang, ingin menjadikan Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia."

"Saya setuju, Pak Bei. Bagus itu. Indonesia menjadi Pusat Halal Dunia. Tapi karena cacat logika, jadi cara eksekusinya agak kurang objektif-rasional."

Edan tenan Narjo. Pagi-pagi sudah ngomyang, ngomong di luar kendali. Kerasukan dari mana tadi? 

"Memang, Kang, sebenarnya aku juga merasa aneh dengan kebijakan Pemerintah terkait Sertifikat Halal ini. Sosialisasinya sangat minim. Padahal, semua pelaku usaha makanan-minuman diwajibkan mengurus Sertifikat Halal paling lambat tanggal 17 Oktober 2024. Tinggal beberapa bulam lagi. Bila tidak, ada tiga jenis sanksi yang sudah disiapkan, sejak sanksi teguran, sanksi administratif/denda, hingga larangan edar atau penutupan usaha."

"Itu ngoyo-woro namanya. Kebijakan yang tidak realistis dan berlebihan."

"Masalahnya itu sudah jadi Peraturan Pemerintah, turunan dari Undang-Undang, yang mesti dijalankan, Kang. Jadi mau tidak mau para pelaku usaha harus menyesuaikan, mengikuti. Kalau tidak, bisa kena sanksi."

"Itu yang bahaya, Pak Bei."

"Bahayanya di mana?"

"Lihat saja. Nanti setelah 17 Oktober 2024, akan sering ada Operasi Halal. Semua perajin makanan-minuman dan warung makan, termasuk warteg, warung Angkringan, warung Lamongan, sate Madura, bahkan mbok-mbok pembuat gorengan di pinggir japan akan disasar."

"Peraturan memang harus ditegakkan, Kang. Hukum harus ditaati."

"Nanti akan banyak orang mengaku Petugas melakuka noperasi, mendatangi usaha-usaha makanan-minuman menanyakan Sertifikat Halal sambil menakut-nakuti, mengancam. Akhirnya, para pelaku usaha hanya dijadikan ATM oleh Petugas. Ngeri, kan?"

Jinguk tenan Narjo. Pikirannya sudah jauh ke depan dengan segudang kekhawatiran. Berawal dari cacat logika dan lemah konsep, eksekusinya akan rusak-rusakan, katanya.
Narjo-Narjo, untung Kamu cuma jadi loper koran. Kalau jadi anggota Dewan, bisah-bisa jadi bintang Senayan karena sering bikin heboh persidangan. Lalu jadi langganan wawancara wartawan, bahkan sering diundang di acara ILC atau potcast Refly Harun, Abraham Samad, Kick Andy, dll. Untunglah Narjo cuma loper koran dan hidup di desa.

#serialpakbei
#lpumkmpdmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat












 





"


Kamis, 22 Februari 2024

Press Release: LP-UMKM PDM KLATEN KEMBALI MENGINISASI PROGRAM KOLABORASI

Press Release

LP-UMKM PDM KLATEN KEMBALI MENGINISIASI PROGRAM KOLABORASI

Masih segar dalam ingatan publik, Lembaga Pengembangan UMKM PDM Klaten telah sukses menginiasi kerja kolaboratif bersama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PDM Klaten dalam program Pelatihan Budidaya Pepaya Hawai bagi Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Kab. Klaten pada Selasa, 6 Februari 2024. Pelatihan di Gedung Dakwah PRM Gading dan diikuti tidak kurang dari 165 petani itu menghadirkan dua narasumber yang kompetan di bidangnya. Para peserta pun sangat antusias mengikuti paparan dari narasumber pertama, Cipto Legowo dari PT Tunas Agro Persada, yang expert di bidang perbenihan dan budidaya hortikultura. Narasumber kedua Edi Suyitno dari Somok Fruits menyampaikan paparan terkait potensi pasar pepaya hawai yang prospektif bagi peningkatan kesejahteraan petani. Pada kesempatan itu sekaligus dilakukan penandatangan MoU antara Koperasi Jatam Klaten yang akan melakukan pendampingan budidaya papaya hawai dengan Somok Fruit yang akan bertindak sebagai off-taker/buyer pepaya hawai hasil panen Jatam Klaten.

Seminggu usai Pemilu, tepatnya 22 Februari 2024, Wahyudi Nasution selaku Ketua LPUMKM PDM Klaten kembali menginiasi program kolaboratif, kali ini dengan Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) PD Aisyiyah Klaten. Program kolaboratif ini berupa pendampingan Sertifikasi Halal bagi pelaku usaha kuliner se-Kab. Klaten. Program akan dimulai pada 25 Februari 2024, diawali dengan sosialisasi program Sertifikasi Halal kepada perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Acara tersebut akan digelar di Aula Gedung PD 'Aisyiyah dan akan diikuti oleh sekitar 150 peserta perwakilan dari 26 PCM dan 26 PCA se-Kab. Klaten, masing-masing mengirimkan 2 peserta.

Mengawali diskusi pada rapat koordinasi LPUMKM PDM Klaten dan MEK PDA Klaten, Wahyudi Nasution memaparkan urgensi Muhammadiyah hadir dan turun tangan membantu UMKM kuliner dalam menghadapi kebijakan Pemerintah. Sebagaimana diketahui, Peraturan Pemerintah No. 39/2021 telah menetapkan tanggal 17 Oktober 2024 sebagai batas terakhir UMKM Kuliner mengurus sertifikat halal. Bagi yang belum bersertifikat halal hingga batas waktu tersebut akan dikenakan sangsi, dari berupa teguran, sangsi administratif, hingga penarikan produk dari peredaran.

"Kita tahu, ada ribuan warga Muhammadiyah menjadi pelaku usaha kuliner skala mikro-kecil. Pada umumnya, mereka belum tahu adanya peraturan Pemerintah tersebut. Kalau pun sudah tahu, mereka tidak tahu bagaimana cara mengurusnya," kata Wahyudi Nasution. "Di sinilah urgensi Muhammadiyah turun tangan, memanfaatkan waktu yang tinggal beberapa bulan ini. Maka, mari kita bantu saudara-saudara kita pelaku usaha kuliner mengurus sertifikat halal," imbuhnya memberi semangat kolaganya.

Dijelaskannya juga bahwa LPUMKM telah membangun komunikasi dengan Pusat Studi Halal (PSH) Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pada acara di PD 'Aisyiyah besok Ahad, PSH UMS dihadir sebagai narasumber. Pada kesempatan itu juga akan dilakukan penandatangan MoU Kerjasama LPUMKM PDM Klaten dengan PSH UMS terkait sertifikasi halal, pelatihan calon Pendamping Halal, hingga pelatihan Juru Sembelih Halal (JULEHA).

Slamet Jubaedi, Ketua Bidang Legalitas Usaha LPUMKM PDM Klaten, menambahkan bahwa sebenarnya di Kab. Klaten ini sudah banyak Pendamping Halal yang bersertifikat. Tidak kurang dari 300 orang. 

"Tetapi masalahnya, kita belum tahu ada berapa dan siapa saja yang warga Muhammadiyah," kata Jubaidi. "Maka, kita akan mendata dan mengajak teman-teman Pendamping Halal yang warga Muhammadiyah untuk bergabung di program sertifikasi halal bersama LPUMKM dan MEK PDA ini. Di samping itu, kita juga akan merekrut calon Pendamping Halal untuk mengikuti pelatihan bersama PSH UMS. Ini karena sedemikian banyaknya pelaku usaha dan luasnya wilayah kerja kita," imbuh Jubaidi.

Hj. Fatimah, Ketua MEK PD 'Aisyiyah Klaten, menyambut gembira adanya kolaborasi program ini. Disadarinya bahwa mayoritas pelaku usaha kuliner skala mikro-kecil adalah kaum perempuan. 'Aisyiyah sangat berkepentingan dengan program sertifikasi halal ini.

"Insya Allah kami akan memobilisir teman-teman MEK Cabang untuk berpartisipasi aktif, baik menjadi calon Pendamping Halal maupun mencari pelaku-pelaku usaha kuliner di Ranting untuk kita dampingi," kata Hj. Fatimah.

Rapat koordinasi di RM Ayam & Bebek Brontak milik Wakil Ketua LPUMKM Klaten pun dikhiri dengan menyantap menu pilihan masing-masing.

#pakbei
#ketualpumkmpdmklaten


Minggu, 18 Februari 2024

CINTA NKRI

CINTA NKRI

"Sebenarnya gak papa jagoku kalah, Pak Bei, asal pertandingannya fair, panitia dan jurinya adil," kata Kang Narjo usai nyeruput kopi panas. "Ndelalah berkali-kali nyoblos Pilpres jagoku selalu kalah, berkali-kali nyoblos DPR, DPD, dan DPRD juga sering gak lolos. Sudah biasa," lanjutnya dengan nada terdengar nggrantes.

"Karena Kang Narjo gak titis milih jago, kan?"

"Ya mungkin, Pak Bei. Tapi yang pasti aku punya kriteria jago yang layak kupilih."

"Yang kelihatan alim, shalih, dan pinter, ya?"

"Itu salah satunya."

"Kang, masyarakat tidak butuh orang alim, shalih, dan pinter. Yang dibutuhkan hanya orang yang mau memberi amplop atau sembako menjelang pemilihan."

"Maaf saja, Pak Bei, aku bukan seperti itu. Meski ekonomiku tergolong pas-pasan, aku tidak mau kok didaftar sebagai penerima Bansos, PKH, atau BLT. Sampai aku dibilang sombong oleh Pak RT dan Pak Kadus. Apalagi cuma amplop 50ribuan. Sorry yee....."

"Tapi kemarin nerima amplop juga, kan?"

"Ndelalah gak ada yang nawari aku, Pak Bei. Sorry yee...."

"Makanya jagomu kalah terus, Kang."

"Gak papa. Itulah caraku mencintai NKRI."

"Maksudmu?"

"Aku memilih Caleg dan Capres-Cawapres bukan karena nerima amplop atau sembako."

"Memangnya yang kemarin nerima amplop dan sembako tidak mencintai NKRI, Kang?"

"Jelas, Pak Bei. Itu sama saja merusak NKRI."

"Kok bisa, Kang?"

"Pak Bei, aku masih ingat dulu ustad  dalam satu pengajian yang kuikuti pernah mengingatkan satu ayat dari Allah SWT."

"Apa pesannya?"

"Beliau membacakan satu ayat Al-Quran, tapi aku lupa surah apa ayat berapa, yang artinya "Janganlah kalian seperti perempuan yang mengurai benang yang sudah dipintal dengan kuat menjadi tercerai-berai kembali. Kalian menjadikan janji dan sumpah hanya sebagai alat menipu di antara kalian, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain." Ayat itu jelas sekali kan, Pak Bei?"

"Maksudnya bagaimana itu, Kang?"

"NKRI kita ini terdiri dari 1.240 suku bangsa dan 780 bahasa daerah. Iya, kan?"

"Iya benar."

"Ribuan pulau, suku bangsa, dan ratusan bahasa itu ibarat kapas, lalu oleh para pahlawan pendiri bangsa dipintal menjadi benang yang kuat dan dianyam menjadi lembaran kain yang indah bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia."

"Wah benar juga itu, Kang. Terus..."

"Sayang sekali bila ternyata kita justru menjadi seperti perempuan yang merusak kain indah dengan benang yang telah dipintal kuat hingga kembali menjadi kapas yang tercerai-berai. Dan, itu hanya karena kita terperdaya oleh janji-janji manis para politisi yang disponsori para cukong dan oligarki."

"Edan. Elok tenan, Kang Narjo," Pak Bei diam-diam mengagumi kemampuan Kang Narjo menafsirkan ayat Al-Quran dan menghubungkannya dengan situasi nyata. Dia bukan mufasir, bukan ahli tafsir, hanya seorang loper koran. Tapi mungkin karena rajin menghadiri pengajian dan budaya literasinya cukup bagus dengan membaca berita setiap pagi, dia jadi bisa menafsirkan satu ayat Al-Quran secara kontekstual. Edan Kang Narjo, pagi-pagi sudah nguliahi aku," Pak Bei tak habis pikir, tapi juga bersyukur punya sahabat loper koran satu ini.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#lpumkmpdmklaten










Selasa, 06 Februari 2024

JATAM Klaten dan Komisi VI DPR RI Kolaborasi Budidaya Pepaya Hawai

JATAM KLATEN dan Komisi VI DPR RI Kolaborasi Budidaya Pepaya Hawai

Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Kabupaten Klaten berhasil menyelenggarakan Pelatihan Budidaya Pepaya Hawai  pada Selasa, 6 Februari 2024, bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah PRM Gading, Klaten Utara.  Acara yang diiniasi oleh Lembaga Pengembangan UMKM (LPUMKM) dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PDM Klaten ini diikuti oleh 165 petani yang berasal dari 26 Kecamatan se-Kabupaten Klaten. 

Dalam sambutannya, Ketua MPM PDM Klaten, Agung Zulianto, memaparkan bahwa MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah membentuk JATAM sebagai wadah pengorganisasian dan pemberdayaan petani, pelaku utama produksi pangan yang sangat dibutuhkan manusia. Jatam Klaten yang sudah terbentuk pada Juli 2023 pun terus mengajak para petani untuk bergabung. 

"Agar petani punya posisi tawar yang kuat, baik terhadap pelaku ekonomi pasar bebas maupun para pengambil kebijakan, maka tidak ada pilihan lain kecuali para petani harus mau berjamaah, berjuang bersama-sama mencapai kesejahteraan," kata Agung membakar semangat peserta.

Tak lupa Agung menyampaikan terimakasih kepada dua mitra yang akan menyampaikan materi pelatihan, Ir. Cipto Legowo dari PT Tunas Agro penyedia aneka benih buah-buahan dan Edi Suyitno dari Lamongan yang akan menjadi off-taker hasil budidaya Pepaya Hawai dan buah lainnya. Agung juga menyampaikan terima kasih kepada Bp. Singgih Januratmoko, Anggota Komisi VI DPR RI, yang telah mensponsori pelaksanaan pelatihan bagi anggota Jatam.

Wahyudi Nasution, Ketua LPUMKM PDM Klaten yang juga Wakil Ketua Jatam Pusat, dalam sambutannya menyampaikan tentang perlunya kolaborasi kegiatan antar-Majelis, Lembaga, Ortom, dan Amal Usaha Muhammdiyah. Di samping itu, Muhammadiyah juga harus siap bersinergi-kolaborasi dengan pihak eksternal seperti Pemerintah, DPR, Ormas lain, LSM, dan sebagainya guna memaksimalkan peran dakwahnya.

"Pelatihan Budidaya Pepaya Hawai pagi ini adalah contoh konkrit sinergi-kolaborasi antara LPUMKM dan MPM PDM Klaten, Bapak Singgih Januratmoko selaku Anggota Komisi VI DPR RI, PT Tunas Agro perusahaan Nasional di bidang Hortikultura, dan Bapak Edi Suyitno anggota MPM PDM Lamongan yang menekuni bisnis buah-buahan premium," kata Wahyudi Nasution. 

Singgih Januratmoko dalam sambutannya menyampaikan bahwa sesungguhnya banyak program kementerian yang dapat diakses untuk pemberdayaan masyarakat.  Terkait Koperasi Jatam, misalnya, Singgih siap membantu akses ke Kementerian Koperasi dan UMKM, salah satu mitra kerjanya di Komisi VI DPR RI, yang punya banyak program bagus.

"Demikian juga Kementerian BUMN. Setiap BUMN punya program CSR yang dapat diakses untuk pengembangan Jamaah Tani Muhammadiyah dan UMKM," imbuh Singgih.

Acara pelatihan dibuka secara resmi oleh Drs. H. Mochtar Anshori, M.Pd.I. selaku Wakil Ketua PDM Klaten. Dalam sambutannya, Mochtar Anshori menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program kolaborasi untuk pemberdayaan petani. Mochtar mengharapkan program kolaborasi seperti ini akan diikuti oleh semua Majelis, Lembaga, Ortom, dan AUM di lingkungan PDM Klaten.

Sebelum memasuki sessi Pelatihan, dilakukan penyerahan bantuan benih Pepaya Hawai dari Singgih Januratmoko kepada peserta pelatihan yang diwakili oleh Ketua Jatam Klaten, Nusanta Herlambang. Selanjutnya, dilakukan Penandatangan Naskah Kerjasama antara Ketua Koperasi Jatam, Kabul Subahid, dengan Edi Suyitno pemilik Somok Fruits. Pepaya Hawai hasil panen petani Jatam Klaten nanti akan dibeli oleh Somok Fruits melalui Koperasi Jatam Klaten.

Setelah sessi Pembukaan usai, acara berikutnya adalah acara Inti, Pelatihan Budidaya Hawai. Tampak semua peserta antusias mengikuti pelatihan. Sessi pelatihan yang dipandu oleh Kabul Subahid itu diawali pemaparan tentang seluk-beluk budidaya Pepaya Hawai oleh Cipto Legowo, sejak pembenihan, penyiapan lahan, penanaman, perawatan, penanganan hama, hingga teknik memanen buah pepaya. Ketika dibuka sessi tanya-jawab, peserta pun berebut mangajukan pertanyaan, dan semua dijawab dengan baik oleh Cipto Legowo.

Giliran terakhir, Edi Suyitno menjelaskan alasan kenapa berbisnis Pepaya Hawai dan bukan jenis pepaya lainnya. Pepaya Hawai ini sesuai dengan target marketnya, yaitu pasar modern dan konsumen klas menengah-atas. Mereka sangat peka terhadap kualitas dan kemasan, harga dan pembayarannya juga bagus.

"Itulah makanya saya menyambut gembira tawaran kerjasama dari teman-teman Jatam Klaten," kata Edi. "Jatam Klaten yang akan mendamping Bapak-Ibu dalam budidaya, Koperasi Jatam yang akan menangani pasca-panen, dan kami yang akan membelinya dengan harga dan pola pembayaran sesuai perjanjian kerjasama. Inilah yang disebut contract farming. Petani melakukan budidaya dengan sebaik-baiknya, sudah ada jaminan hasil panennya pasti dibeli dengan harga yang bagus dan menguntungkan," sambung Edi.

Acara pun ditutup tepat pukul 12.30 WIB. Semua peserta yang berseragam T-Shirt Jatam warna hijau dengan tag-line PETANI BERDAYA INDONESIA JAYA itu pulang dengan membawa bantuan benih serta media tanam dan cendera mata dari dari Singgih Januratmoko.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah