Jumat, 21 April 2017

MBAN CINDE MBAN SILADAN

MBAN CINDE MBAN SILADAN

Rasanya sudah dua windu aku tidak ketemu Sasa, tiba-tiba pagi ini kami bertemu di depan warung soto “Gito Birun” Pasar Legi Jatinom.  Kulihat Sasa sedang duduk di bawah pohon waru sambil tangannya memegang kiso berisi ayam jago. Rupanya dia mau menjual ayam jago bangkoknya lagi. Tetapi pasar masih sepi, belum tampak satu pun pedagang dan pengunjung di sana. Maklum, hari memang masih terlalu pagi untuk pasaran Legi yang bukan pas hari Minggu. Hanya tampak beberapa pemuda setempat sudah yang bertugas sebagai juru parkir dan beberapa pengunjung warung soto.

“Mau jual jago lagi, Sa?” tanyaku sambil menjabat tangannya.
“Iya, Om. Istriku butuh duit buat nyumbang nanti sore. Lagi musim orang hajatan…hehehee..”
“Ayo kita ngobrol di dalam, Sa, sambil sarapan. Sudah lama kita gak ngobrol, kan?”
Sasa tidak menolak ajakaku.

Sengaja kupilih tempat duduk di pojok agar obrolan kami tidak terganggu pengunjung yang pasti akan semakin ramai. Tanpa menunggu lama, pesanan dua piring soto dan dua gelas teh nasgithel sudah tersaji. Kami  pun menikmatinya setelah kami lengkapi dengan sambel dan kecap tradisional asli produksi Mbah Gito Birun yang khas.  

“Sebenarnya tadi malam saya mau ke rumah Sampeyan, Om, tapi hujan tidak reda sejak maghrib hingga malam. Jadi kebetulan sekali kita ketemu di sini,” kata Sasa setelah menghabiskan sotonya. 
“Ada cerita apa, Sa?”
“Politik, Om.”
“Weehh….kukira soal sepakbola elclasico antara Real Madrid vs Barcelona, atau MU vs Chelsea.”
“Walah Om, namanya sepakola ya gitu-gitu saja. Kadang menang kadang kalah, biasa. Ada yang lebih menarik dari sepakbola.”
“Politik, maksudmu?”
“Hehehee….iya, Om," jawabnya dengan nyengir, "Pilgub DKI kemarin betul-betul menguras tenaga. Dulu aku ikut Aksi 212 di Monas bersama jutaan Umat Islam dari berbagai penjuru. Berbulan-bulan aku juga kebat-kebit  karena khawatir perjuangan Umat Islam kalah. Makanya sepulang dari kerja parkiran kemarin aku pun ikut memantau perhitungan di KPU via tv. Untung tetap jagoku yang menang, alhamdulillah. Coba kalau samapai terjadi manipulasi data lalu jagoku dikalahkan. Apa jadinya, Om? ”
“Bisa geger ya, Sa.”
“Ya jelas geger, Om. Namanya kecurangan kan harus kita lawan. Asal Sampeyan tahu, kemarin aku sudah siap berangkat ke Jakarta kalau terjadi gegeran. Tapi jangan bilang-bilang lho, Om.”
“Siap ikut perang, maksudmu?”
“Ya jelas to, Om. Jayakarta harus kita rebut. Batavia harus kita bebaskan dari cengkeraman Kumpeni,” jawab Sasa semangat.

Aku jadi teringat ketika dia pamit mau ke Jakarta ikut Aksi 212 dulu. Dengan fasih dia bercerita tentang sejarah perjuangan Fatahillah/Sunan Gunungjati yang menggalang kekuatan umat untuk mengusir Portugis dari Jayakarta. Dia juga fasih bercerita tentang Raja Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang masa kanak-kanak hingga remajanya menjadi santri/anak murid Ki Ageng Gribik Jatinom itu menggalang kekuatan umat berperang melawan Belanda yang mengusai Batavia selama lima tahun. Dua peristiwa itulah rupanya yang telah menginspirasi Sasa hingga merasa terpanggil dan merasa terlibat dalam urusan Pilgub DKI. Dengan biaya sendiri, bahkan hanya dengan bekal seadanya dari hasil menjual 3 ekor ayam jagonya.

“Tapi kemarin aku betul-betul kecewa, Om,” kata Sasa sambil menghisap kretek di tangannya.
“Kecewa soal apa, Sa?”
“Tuntutan Jaksa di  pengadilan penista agama kemarin itu sangat tidak masuk akal dan tidak adil.”
“Loh kok bisa begitu, Sa?”
“Ini kesan saya. Proses pengadilan itu ternyata hanya main-main, bukan sungguh-sungguh menegakkan hukum dan menjaga keadilan. Sudah jelas penista agama dan meresahkan berjuta-juta umat, lha kok tidak dihukum. Tuntutan jaksa terlalu ringan, dan tampak sengaja ingin membebaskan terdakwa dari segala hukuman. Padahal kita tahu, orang-orang yang masih diduga makar saja langsung digerebek dan ditahan berbulan-bulan, bahkan banyak terduga teroris diculik dan yang langsung di-dor tanpa proses pengadilan.”

“Sa, bukankah sebaiknya kita husnudhon saja pada jaksa dan para hakim? Tentu mereka sudah dengan kajian mendalam dan pertimbangan matang berdasar fakta-fakta di pengadilan. Slow waelah, Sa. Apa Sasa tidak kasihan pada si-terdakwa? Sudah dia kalah di Pilgub, mosok masih mau dijebloskan ke penjara. Kasihanlah, Sa.”
“Om Om…Sampeyan ini bagaimana, to? Itu kan dua hal yang berbeda. Pilgub itu utusan politik. Peristiwa demokrasi. Sudah jelas pemenangnya. Selesai. Kita tinggal menunggu serah-terima jabatan lalu mengawal supaya gubernur baru itu nanti benar-benar amanah. Kalau soal pengadilan, ini kan soal hukum, Om. Kebetulan memang si-terdakwa masih menjabat gubernur dan kemarin masih mau maju Pilgub untuk jabatan berikutnya. Para penegak hukum tidak boleh “mban cinde mban siladan”, Om.”
“Artinya apa itu, Sa?”
“Penegak hukum harus adil, Om. Tidak boleh membeda-bedakan. Di negeri ini tidak boleh ada orang atau kelompok yang merasa paling hebat. Dumeh orang kaya boleh semena-mena, di pengadilan pun diistimewakan. Salah tidak dihukum, malah dipuja-puja, digendong dengan selendang. Sementara rakyat biasa yang miskin dan tidak punya jabatan diperlakukan semena-mena, digendong dengan siladan yang bisa membuat kulit dan tubuhnya terluka.”

Mban cinde mban siladan, alias tidak adil. Sudah lama aku tidak mendengar peribahasa Jawa itu. Sejak TVRI Yogyakarta berhenti menayangkan acara Kethoprak setiap malam Rabu tahun 70-80an, memang banyak ajaran, ungkapan, dan kearifan lokal yang hilang dari masyarakat. Untung masih ada Sasa.
“Jaman semakin rusak-rusakan,Om,” kata Sasa.
“Sudahlah, Sa. Kamu bikin mumet pagi-pagi. Itu pasar jago sudah ramai. Juallah ayammu, mudah-mudahan dapat harga bagus. Aku pulang dulu, ya…..”

Aku pun langsung pulang setelah membayar makanan ke Mbah Gito Putri yang bertindak sebagai kasir. Suwe ora jamu, jamu pisan godong duwet. Suwe ora ketemu, ketemu pisan gawe mumet. Sasa Sasa…….

21/4/2017

Sabtu, 01 April 2017

R E P U T A S I


R E P U T A S I

“Reputasi itu apa to, Mas?” tanya Huri tadi pagi ketika mampir ngopi di rumahku. Huri yang punya usaha toko pakan ternak itu bercerita bahwa kemarin dia menghadiri undangan makan siang dari distributor salah satu merk pakan ternak di sebuah rumah makan. Sekitar 50 agen yang diundang, Huri salah satunya. Acaranya sederhana, hanya makan siang dilanjut sambutan dari distributor. Dalam sambutannya, pihak distributor mengajak para agen agar lebih aktif terjun ke kandang-kandang peternak, mendengar dan mencatat setiap keluhan mereka, syukur bila kemudian bisa memberikan solusi. Bila agen mengalami kesulitan, distributor akan menerjukan tim ahlinya. Itulah salah satu cara menjaga reputasi agar para peternak tetap percaya dan setia menggunakan pakan merk mereka.
“Saya yang belum paham istilah reputasi itu, Mas. Mau tanya di forum juga malu.” Kata Huri sambil nyeruput kopinya.

Untuk menjawab pertanyaan Huri, tentu kurang bijak bila kusuruh dia membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau membaca Wikipedia via Mbah Google misalnya. Dia hanya butuh penjelasan sederhana yang mudah dicerna sambil ngobrol santai menikmati kopi Semendo. Maka kuceritakanlah pertemuanku dengan Sasa dan Kang Panut di warung opor ayam “Pak Dalimin” Kwaren tadi malam.

Aku sengaja datang ke warung Pak Dalimin untuk menghangatkan badan di tengah suasana dingin dan gerimis sisa hujan sesiangan. Rasa perut lapar sejak sore sengaja kutahan karena sudah kangen makan opor sambil mendengarkan wayang kulit yang setiap malam terpancar dari stasiun-stasiun radio di kota Klaten-Jogja-Solo dan sekitarnya. Maklumlah, sudah sekitar 2-3 bulan aku tidak ke sana gara-gara dibilangi dokter agar mengurangi makanan bersantan. Ketika aku datang, sudah ada dua orang yang sedang asyik makan. Aku pun langsung duduk di kursi depannya setelah memesan makanan pada Pak Dalimin.
“Kok sendirian, Mas?” tiba-tiba orang yang duduk di depanku manyapaku. Ya Allah, ternyata Kang Panut pemilik Soto Kartongali dan Sasa si-juru parkir teladan yang duduk di depanku itu.
“Weeh lha, juragane soto to ini,” kusalami Kang Panut dan Sasa sahabatku.
“Mas Panut ini memang sering ke sini kok, Mas,” kata Pak Dalimin sambil menyajikan menu pesananku.
“Hampir tiap malam, Mas,” Kang Panut menyahut.
“Sampeyan dari mana, Om, kok cuma sendirian?” Sasa ganti menanyaiku.
“Dari rumah, Sa. Sengaja ke sini sendiri. Anak-buah sudah pada tidur,” jawabku.

Aku pun mulai menyantap opor ayam yang sudah tersaji, juga Kang Panut dan Sasa meneruskan makannya. Pak Dalimin yang biasanya langsung kembali leyeh-leyeh di kusri panjang di depan warungnya sambil mendengarkan wayang kulit, kali ini ikut duduk di sebelahku. Mungkin maksudnya menghormati Kang Panut koleganya sesama pelaku bisnis kuliner tradisional. Mereka memang tampak akrab. Setelah makan, kami pun asyik ngobrol ngalor-ngidul, termasuk tentang lakon wayang yang sedang dibawakan oleh dalang Ki Tomo Pandoyo dari Randulanang, Jatinom.

“Sasa kok gak ikut Aksi 313 di Jakarta ?”
“Enggaklah, Om. Sudah cukup Aksi 212 dulu,” jawab Sasa.
“Kenapa, Sa?” tanyaku.
“Ya harus kerjalah, Om. Kan harus setia pada pekerjaan,” jawab Sasa.
“Bener Sasa itu, Mas,“ Pak Dalimin menyahut. “Kita memang harus setia pada pekerjaan. Biar pun warung cuma emplek-emplek begini, tapi soal tanggung jawab dan kesetiaan pada pelanggan tetap nomor satu.”
“Itulah kenapa warung Mas Dalimin ini buka 24 jam, Mas. Tidak pernah tutup,” Kang Panut nambahi.
“Warung Mas Panut juga harus buka jam 6 pagi setiap hari. Tidak boleh molor atau libur sesuka hati. Kasihan kalau orang kecele gara-gara kita malas-malasan,” Pak Dalimin balas memuji Kang Panut.
“Ya itulah, Om, makanya aku gak ikut ke Jakarta. Pengunjung Soto Kartongali pasti akan kerepotan parkir kalau Sasa tidak ada…..hahahaa…” Sasa menambahi dengan gayanya yang pede.

Memang, harus diakui warung opor ayam Pak Dalimin memang istimewa. Bukan hanya karena masakan opornya yang sangat enak dan stabil rasanya, tapi juga cara penyajiannya numani. Satu porsi berupa sepiring nasi panas dibubuhi daun singkong rebus, di atasnya satu tepong atau dada-menthok atau paha-atas ayam opor dengan kuahnya yang kental-manis, sambal bawang-lombok ijo tersaji bersama lemper batu ukuran besar, dan segelas teh manis gula batu nasgithel. Bagi orang yang suka mengukur kualitas sesuatu berdasarkan kondisi fisik dan kasat mata, tentu tidak akan pernah menoleh ke warung sempit di sebelah barat Pom Bensin Kwaren, Klaten itu. Tentu juga sulit percaya bahwa dari tangan laki-laki usia 70an tahun itu tersaji masakan opor ayam yang layak dikukuhkan sebagai Juara Dunia. Da, Pak Dalimin siap 24 jam melayani pembeli.

Harus juga diakui bahwa ketika pagi-pagi kita butuh sarapan yang seger, Soto Kartongali di dekat Pemandian Jolotundo yang cepat saji itu sudah siap melayani sejak jam 6 pagi dan tidak pernah molor. Rasa soto dan teh nasgithelnya juga tidak pernah berubah, stabil.

Juga tidak ada juru parkir sehebat Sasa dalam melayani pengendara. Dia bekerja dengan sepenuh jiwa-raganya sejak jam 6 pagi hingga tutup warung jam 2 siang, dengan liak-liuk tubuh dan teriakannya member aba-aba, dengan bendera merah-orange di tangan kiri dan balok pangganjal roda di tangan kanan, dengan senyum lebar dan ungkapan “matur nuwun” dan “ngatos-atos” pada pemberi uang parkir, dan seterusnya. begitulah Sasa si juru parkir teladan bekerja.

“Itulah reputasi, Nda. Pak Dalimin menjaga reputasi sebagai pejual opor ayam. Kang Panut mejaga reputasi Soto Kartongali yang legendaries. Sasa menjaga reputasi sebagai juru parkir teladan,” kataku pada Huri. “Kesan dan catatan baik masyarakat harus kita jaga jangan sampai rusak. Ingat, karena nila setitik bisa rusak susu sebelanga.”
“Ooh, jadi kalo ada pejabat atau politisi melakukan korupsi, atau seorang artis ditangkap polisi karena nyabu, itu sama saja merusak reputasinya sendiri ya, Mas?”
“Iyalah, Nda. Orang berjuang membangun karir hingga berhasil menduduki jabatan tinggi di instansinya, orang terjun ke dunia politik dan membangun citra hingga berhasil menjadi tokoh politik yang disegani, seorang artis bekerja keras hingga terkenal dan banyak job, seorang penyair produktif menulis puisi dengan ketajaman mata hati dan kelembutan jiwanya sehingga melahirkan karya-karya berkualitas, dan sebagainya. Itu semua bisa hancur dalam sekejap karena tergiur godaan harta-tahta-wanita dan kenikmatan sesaat. Bahkan bukan hanya karirnya yang hancur, tetapi juga seluruh bangunan rumah-tangganya. Itulah reputasi, Nda. Makanya jangan main-main. Kita harus menjaga reputasi, apapun pekerjaaan dan posisi kita.”

“Sudah paham aku sekarang. Ya sudah, Mas. Aku mau nengok kandang dulu. Menjaga reputasi….hahaha….” Huri langsung pamitan setelah menghabiskan kopinya.